JungSooHee: ga panjang biar greget :v wekawekaweka. Sabar dum, kan baru awal jadi belum deket -_-)v
Firdha858: ga selalu kok, emang males ribet aja jadi sekalian 2 ff gitu ^^ nah di chapter ini ada sedikit penjelasan kenapa Tao bias trauma :3
ZhieWu68: nih udah di lanjut, jadi mari penasaran lagi buat next chap xD
peachpetals: jangan cium gw pweaseeee, gw masih doyan Tao *eh loh?* xD cuekin aja hal2 kayak gitu mah, daripada Cuma bikin darah mendidih, di tanggapi santai aja
Ammi Gummy: sabar ya, ntar lama2 juga panjang sendiri(?)
meliarisky7: hai! Salam kenal~ nih udah lanjut ^^
LVenge: mirip! xD persis kayak bayi Panda yang mau di suntik xD #plak
BabyZi: jangan di bunuh dum, ntar siapa yang lanjutin nih ff? xD si Cabe(tiap nyebut pasti gw ngakak xD) ada kok, tapi ntar chap2 agak belakang, hehe. Nih fast update lagi :3
Kirei Thelittlethieves: iya ini flashback, jangan bingung dum dum :3
Dewi Lestari657: hai! Salam kenal~ tetep stay review juga ya~ :3
HyuieYunnie: baby Panda ga kenapa2 kok, Cuma butuh dragon di sisinya #eaaaa xD
BangMinKi: hai! Salam kenal~ nih udah lanjut ^^
celindazifan: jangan sedih *sodorin tisu*
WHO Yizi OsHztWyf: udah lanjut nih, silahkan di lahap(?)
Kim673: hai! Salam kenal~ baby Panda trauma berat ^^
Dandeliona96: nih fas update lagi, wwkwk (ga ada kerjaan sih). Di chap ini ada sedikit penjelasan tentang apa yang terjadi ma Tao ^^
Re-Panda68: update kilat lagi nih :3
Flywithbaek: do'a mu terkabul, nih fast update lagi xDd
aldif.63: udah lanjut ^^
pantao: udah apdet nih~
AmeChan95: udah nih ^^
shinigami ker: waduh, klo 5 chap di jadi'in 1 chap bias bangkrut mendadak gw -_-
ciiismine: halo juga, salam kenal! Yang penting udah review nih, next review trus ya xD love u too, wekekek
nah, gw update kilat lagi, haha, ga banyak bacot deh, silahkan di nikmati~
.
.
ADORE
By: Skylar.K
Pair: Fantao(maybe with other couple)
Cast in this chapter: Wu Yi Fan, Huang Zi Tao, Park Chanyeol, Kim Minseok, Kim Joonmyun, Kim Jongdae, Do Kyungsoo.
Genre: Drama, Romance, with little bit of Psychology
Rating: T
Warning: TYPO(S)!
Disclaimer: they are not mine, but this story its mine. Cerita ini mengandung unsur konten tertentu, dan fokus pada tema tersebut, jika merasa tidak cocok mohon segera tinggalkan cerita ini.
.
.
.
Like a rat trapped in a trap. Cannot die and didn't want to live. Like that yourself, always huddled in the corner of the room, against those who would come.
.
.
Srak!
Masih di hari yang sama. Yi Fan menghempaskan pantatnya diatas kursi ergonomic di ruang pribadinya, dengan ekspresi yang sulit di artikan, antara shock dan blank. Ya, seperti itulah wajah tampannya saat ini. Bahkan surai hitamnya yang tersisir rapih sedikit agak acak-acakan.
Ia pun mengangkat punggungnya dari sandaran kursi, hendak meraih gelas kaca berisi cairan putih bening yang selalu tersedia di mejanya, tapi urung di lakukannya saat matanya kembali melihat map berwarna magenta yang berada di dekat tumpukan buku.
Iris coklat gelapnya meredup, tangan kanannya yang terulur beralih meraih map tersebut. Map yang akan kembali membuatnya tercekat bahkan menahan nafas selama membaca tulisan di dalamnya. Meletakkan map tersebut di hadapannya dan membuka cover nya perlahan. Seperti hendak membuka kotak hadiah yang menakutkan.
Pria tampan berdarah campuran China-Kanada itu memejamkan matanya dengan tangan terkepal. Namun suara ketukan di pintu ruangannya membuatnya membuka matanya cepat, melihat kearah pintu yang tertutup.
"Masuk!" ucapnya agak lantang.
Pintu bercat putih itupun dibuka, tampak sosok tinggi Chanyeol yang masuk dan menutup pintu ruangan kembali dengan tergesa. Dokter murah senyum itu entah kenapa kali ini terlihat tegang dengan wajah serius, dan hal itu membuat Yi Fan cukup heran.
"Kenapa wajahmu?" tanyanya. Chanyeol mendudukkan diri di depan meja kerjanya dengan cepat, mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Aku melihatnya" kata Chanyeol.
"Lihat apa?"
"Pasien barumu, aku sempat melihatnya"
"Lalu kenapa?"
"Dia tidak gila 'kan? Aku tahu!"
Yi Fan menghela nafas samar, meraih map magenta yang terbuka di hadapannya dan melemparkannya di depan Chanyeol.
"Positif PTSD" ujarnya dengan wajah mendung. Chanyeol menyambar map tersebut, dan membukanya dengan tidak sabar.
Yi Fan meraih gelas air minumnya, menegak perlahan cairan bening itu dengan memaku tatapannya pada Chanyeol yang kini membaca data riwayat hidup pasien barunya. Dan terlihat jelas di wajahnya jika Dokter murah senyum itu terperanjat dengan mata membulat.
"Ini gila..." desisnya tercekat. Mengalihkan tatapannya dari kertas di dalam map pada Yi Fan.
"Perampokan yang berujung pembunuhan. Kedua Orangtua nya di bunuh di depan matanya, Kakak perempuannya di perkosa lalu di bunuh, dan dia di siksa, di sodomi, dan di tikam di perut. Dia beruntung tidak gila" Yi Fan mengambil kembali map miliknya dari tangan Chanyeol.
"Kurasa aku akan bunuh diri kalau menjadi dia" pria tampan bersurai coklat gelap itu termenung. Menggigil kecil karena terbayangkan hal mengerikan yang di alami pasien baru sahabatnya.
"Kau bisa melihat sorot matanya? Dia masih 19 tahun, bahkan sorot matanya itu mirip dengan anak seumuran Sophia. Demi Tuhan..." Yi Fan mengusap wajahnya kasar.
Post Traumatic Stress Disorder. Pasien barunya positif menderita gangguan trauma yang timbul karena peristiwa kejam yang telah di alaminya. Pasien jenis ini tidak menderita gangguan kejiwaan yang dibawa sejak lahir, namun meskipun begitu termasuk di dalam daftar salah satu penyakit kejiwaan.
Penderita PTSD akan berperilaku pasif, cenderung menarik diri, dan selalu ketakutan akan suasana di sekitarnya. Sesuai dengan peristiwa yang menimbulkan trauma, otaknya akan memperintahkan untuk menarik diri. Berteriak, meringkuk di sudut ruangan, melempar apapun, dan bahkan melukai diri sendiri karena rasa penyesalan yang sangat besar.
Dan percayalah, pasien dengan PTSD bahkan lebih menyulitkan dari pasien gangguan jiwa sejak lahir. Karena pada dasarnya pasien dengan gangguan PTSD adalah orang yang waras yang masih memiliki kesadaran penuh akan segala hal yang di lakukan. Hanya saja karena kenangan traumatis masa lalu yang membuat mereka terguncang.
"Mungkin saja perampokan itu sudah di rencanakan sebelumnya. Dia berasal dari keluarga kaya bukan? Yang ku dengar dari Kyungsoo-ah jika pasien baru mu itu anak dari salah satu pebisnis sukses di China"
"Kalau memang itu benar, orang yang merencanakannya benar-benar biadab. Manusia seperti apa yang bisa melakukan hal seperti itu?"
"Kurasa kau harus menyusun strategi untuk mengobatinya Yi Fan. Kau tahu hal itu tidak akan mudah"
"Yah. Waktu pemeriksaan mu sudah selesai?"
Chanyeol menggeleng pelan. "Kurang 1 pasien lagi, tadi saat akan ku hampiri dia malah mengejar ku"
Yi Fan mendengus kecil, menahan seringai gelinya. Ya, setidaknya hal itu sudah lumrah di Rumah Sakit jiwa seperti ini.
"Kalau begitu aku duluan" ucapnya seraya bangkit berdiri, meraih clipboard yang masih kosong yang sudah di siapkannya diatas meja. Chanyeol mengangguk kecil.
"Kau pasti bisa" ujarnya.
"Do'akan saja langkah pertama ku berjalan lancar" Yi Fan sudah bersiap mengantongi stetoskop di saku jas putihnya.
Chanyeol mengangkat satu ibu jarinya kearah Yi Fan, pria tinggi itupun melangkah keluar dari ruangannya. Meski terlihat tenang dan cuek, siapa yang tahu jika sebenarnya pria bermarga Wu itu sedang bingung.
Ya, bingung.
Kaki panjangnya melangkah lebar menyusuri lorong Rumah Sakit, menuju blok cinnamon yang letaknya agak ke belakang. Dengan tangan kanan berada di dalam saku jas, tangan kirinya membawa clipboard. Dan sesampainya ia di blok tersebut, telinganya si suguhi suara teriakan penolakan yang berasal dari salah satu kamar.
Ia mempercepat langkahnya, melihat seorang perawat laki-laki bertubuh mungil yang kewalahan menghindari serangan benda-benda yang terlempar kearahnya, sementara kedua tangannya membawa napan berisi makan siang si pasien.
"Ada apa ini?" tanya Yi Fan kebingungan. Perawat pria berpipi tembam itu terpaksa melangkah mundur dari ambang pintu, dan memiringkan tubuhnya agar tak menjadi korban benda-benda melayang.
"Saat saya akan masuk mengantar makan siang, dia sudah terbangun dan histeris euisa" kata si perawat. Yi Fan menghela nafas, lalu mengangguk paham.
"Berdiri di belakang ku Minseok-ssi" ucapnya, menepuk kecil pundak si perawat.
Perawat berpipi tembam bernama Kim Minseok itu mengangguk mengerti, membiarkan sang Dokter tampan mengambil posisinya di depan pintu kamar. Yi Fan menahan nafas spontan melihat sosok pasiennya yang masih muda duduk meringkuk di lekukan dinding, di pojok kamar dengan memeluk kedua lututnya erat.
Pemuda bersurai kelam itu menyembunyikan wajahnya di antara lututnya, tubuhnya gemetar. Dan Yi Fan melangkah masuk sepelan mungkin, dan menoleh ke balik punggungnya, memberi isyarat pada Minseok agar meletakkan napan makan siang diatas meja terdekat. Pria mungil itu melakukan tugasnya dengan cepat, lalu beranjak darisana.
Yi Fan masih berdiri di depan pintu, menatap sendu sang pasien yang tak berhenti bergerak. Seolah ingin masuk ke dalam lekukan dinding yang dingin. Menolak menatap, menolak di dekati, menolak untuk semuanya. Dan hal ini akan membuat pekerjaannya semakin sulit.
Yi Fan kembali melangkahkan kakinya, perlahan tapi pasti. Namun saat mendengar isakan dari sosok si pasien, ia refleks menghentikan kakinya.
"Tidak ada yang akan menyakiti mu. Namamu Huang bukan?" ia berujar sehangat mungkin.
Tidak ada reaksi. Tubuh kurus pemuda itu semakin gemetar hebat.
Yi Fan menghembuskan nafas kecil, kemudian mencabut pena yang tersemat di saku kemejanya, mulai berkutat dengan clipboard yang di bawanya.
"Nama mu Huang Zi Tao. Boleh aku memanggil mu Huang?" percakapan satu arah di lakukannya.
Tidak ada pilihan lain yang lebih tepat saat ini.
"Aku Wu Yi Fan, Dokter barumu" ia mencatat sesuatu, sambil melirik si pasien.
Pasiennya itu masih muda. 19 tahun. Dan di usia semuda itu dia sudah mengalami kejadian mengerikan. Sungguh sangat tidak adil.
Yi Fan selesai menulis sesuatu di notesnya, menyelipkan ujung pena ke papan tipis notes yang menjadi landasan, kemudian kembali memperhatikan sang pasien yang meringkuk di sudut kamar.
"Ku harap kita bisa menjadi teman baik, ne?"
"..."
"Ku harap menu makan siangnya sesuai dengan seleramu. Setelah itu istirahatlah. Nanti sore aku akan datang lagi"
Si pasien tak bergeming.
Yi Fan merasa jam tugasnya telah selesai. Dengan penolakan mentah-mentah si pasien, tak ingin bicara, tak ingin menatap. Dan sebagai Dokter dirinya tahu jika harus segera angkat kaki dari kamar tersebut. Ia harus memberikan waktu untuk pasiennya yang special itu, bagaimanapun juga pengobatan ini butuh waktu.
Pintu kamar rawat tersebut telah tertutup sempurna. Si pemuda bersurai sehitam arang yang meringkuk di sudut kamar mulai mengangkat wajah piasnya, basah oleh air mata, pucat, menatap pintu yang tertutup dengan torehan luka dalam di sepasang Onyx nya.
Tempat ini asing. Ia merasa telah jauh dari rumah, namun tak membuatnya merasa lebih baik. Ia takut. Semua hal yang berada di kepalanya membuatnya tak berdaya.
Tangisnya pun kembali pecah. Ia meraung, menarik-narik surainya yang sudah acak-acakan. Memuntahkan semua ketakutannya pada kamar yang hening. Dan akan terus seperti itu sampai ia teridur dengan sendirinya.
.
.
.
Keesokan harinya. Wu Yi Fan benar-benar dibuat kerepotan oleh ketiga pasien yang sudah di tanganinya sejak lama, dan bukan hal yang mengherankan jika sebagai Dokter ahli kejiwaan, baik ia maupun Chanyeol terkadang harus terlihat acak-acakan jika pasien-pasien mereka mengamuk dan menyerang.
Yah, setidaknya hal itu nantinya akan berubah menjadi cerita menarik yang mengundang seringai dan tawa. Bagaimana pun juga, hidup 'terpencil' di sebuah pulau dengan profesi sebagai Dokter ahli jiwa, membuat mereka yang bekerja di Rumah Sakit itu harus berbagi kehangatan agar tak penat dengan pekerjaan.
Chanyeol bahkan sampai harus menunda jam makan siangnya hari ini, karena salah satu pasiennya berulah dengan memberontak hebat ketika akan melalukan teraphy rutin. Sementara Yi Fan dibuat terburu-buru menikmati makan siangnya di kantin Rumah Sakit yang sederhanaーyang lebih mirip dengan rest area yang menyediakan sederet gerai makanan yang cukup lengkap namun sederhana.
Bahkan seorang Yi Fan yang selalu sigap dan cekatan pun sampai tak sengaja menumpahkan kopinya di jas putih yang di kenakannya. Alhasil ia harus menanggalkan jas Dokternya itu di ruang kerja, dan kembali melanjutkan tugasnya untuk memeriksa pasien yang tersisa. Belum lagi saat Kim Joonmyun meminta pertolongannya untuk menggantikan memeriksa satu pasiennya yang jatuh sakit.
Hari yang melelahkan, dan memang tidak pernah bersantai sedikit pun. Pria tampan itu sampai harus mempercepat langkah kaki panjangnya menyusuri lorong Rumah Sakit, tak peduli jika surai hitamnya ada yang mencuatーyang malah, kata para perawat wanita, membuat sosok tampan itu semakin seksi. Sambil melihat jam tangannya, ia mendesis lirih menyadari keterlambatannya untuk memeriksa pasien terakhir.
Yi Fan sempat mengatur nafasnya di depan pintu kamar rawat bermomor 4 di blok cinnamon tersebut, lalu meraih handle pintu dan membukanya perlahan. Ia meloloskan kepalanya di celah pintu yang sedikit ia buka, melihat ke dalam kamar. Iris coklat gelapnya menangkap sosok ringkih si pasien yang duduk di pinggir ranjang, memunggunginya.
Duduk diam menghadap jendela kamar yang tak tertutup tirai.
"Siang Huang" sapanya bersahabat. Membuka pintu lebih lebar dan masuk ke dalam.
Pemuda bersurai sehitam arang itu terlonjak, menengok ke belakang punggungnya seperti anak kunci. Keping Onyx nya melebar sempurna. Tubuh tinggi pemuda itu berjingkat, seperti kucing yang tertangkap basah mencuri ikan, ia melompat turun dari tempat tidur dan meringkuk di sudut kamar.
Tubuhnya gemetar hebat, meyembunyikan wajahnya diatas tumpukan tangannya yang berada diatas lututnya. Yi Fan tersenyum kaku, entah untuk reaksi si pasien atau karena kedatangannya yang di tolak mentah-mentah.
Tanpa harus menutup pintu kamar rawat, Yi Fan melangkah perlahan, sangat pelan, terkesan mengulur-ulur waktu, dan ia melihat napan makan siang diatas meja di sisi kanan kamar yang telah kosong, hanya menyisakan beberapa butir nasi dan tulang ikan.
"Bagaimana makan siang mu? Kau suka?" ia memulai obrolan satu arahnya.
"..."
"Aku datang untuk memeriksa mu, jangan takut padaku ne"
Huang Zi Tao bungkam. Yi Fan dapat melihat kedua tangan pemuda itu yang ada diatas lutut, mulai mencengkram celana piyama Rumah Sakit berwarna abu-abu muda yang di kenakannya.
Yi Fan menghela nafas, mengangkat clipboard nya seraya mengambil pena yang menggantung di saku kemeja hitamnya. Mulai menuliskan sesuatu disana.
"Sepertinya kau bukan anak yang pilih-pilih makanan ya? Itu bagus. Kau akan cepat sembuh" Yi Fan mengalihkan tatapannya pada notes.
"Aku kalah denganmu. Sampai sekarang pun aku masih menghindari bawang" ia kembali melirik si pasien.
Matanya dapat melihat tubuh ringkih si pasien Huang tak lagi gemetar hebat seperti kemarin dan saat dirinya masuk tadi pagi dan saat ini. Meski pundaknya masih terlihat bergetar, tapi hal itu adalah kemajuan kecil yang cukup bagus.
Ingat. Hanya kemajuan kecil. Sangat kecil.
"Aku benci bawang. Apa ada makanan yang tidak kau suka?" ia menghentikan tangannya yang belum selesai mencatat.
Huang Zi Tao. Pemuda bersurai sehitam arang itu menutup bibirnya rapat-rapat. Bibirnya tak bisa berhenti gemetar saat diam-diam mengintip di balik lipatan tangannya. Ragu-ragu keping Onyx miliknya menatap sosok si Dokter tampan yang berdiri di depan tempat tidur, tersenyum lembut padanya.
Tapi sayang. Tatapan penuh keraguan dan kewaspadaan itu lenyap seketika di gantikan gurat ketakutan dan amarah saat melihat si Dokter yang berpakaian serba hitam.
"PERGI! JANGAN! JANGAN MENDEKAT!" teriaknya ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat dan kembali menyembunyikan wajahnya diatas tumpukan tangannya.
Yi Fan mengernyit. Ia bingung. Kenapa tiba-tiba pasiennya itu histeris?
"Ada apa? Kau lihat aku? Aku tidak akan menyakiti mu" wajah tampannya berubah cemas.
Oh tidak. Dirinya tidak melakukan kesalahan apapun bukan?
"Pergi! Kumohon...jangan sakiti aku Tuan...kumohon..." ia merintih ketakutan. Tangisnya pecah dan sanggup menyayat hati Yi Fan.
"Kumohon...pergi..." sang Huang semakin erat memeluk tubuhnya, hingga kuku-kuku jemarinya menancap di lengannya.
"Aku disini untuk mengobatimu, aku tidak akan menyakitimu. Sungguh"
"Tidak...pergi...kumohon...jangan sakiti aku..."
Si Huang sangat ketakutan. Tangisnya terselubung namun sanggup menyayat hati siapapun yang mendengarnya, tak terkecuali Yi Fan. Dokter tampan berdarah campuran itu mendesah pelan. Pendekatannya gagal sudah, dan dirinya tidak tahu apa kesalahannya.
"Baiklah. Aku akan pergi, tapi nanti sore aku akan kembali lagi. Jangan takut, kau aman disini. Selamat tidur siang" kata Yi Fan.
Melemparkan senyum pada si pasien meski pemuda itu tidak menatapnya. Ia mengarahkan kakinya keluar dari kamar rawat tersebut, dan menutup pintu dengan perlahan. Bukannya segera beranjak darisana, ia malah berdiri diam dengan rasa kecewa.
Rasanya seperti di tolak oleh seorang wanita yang bahkan belum sempat di dekatinya.
"Yi Fan-euisanim? Sedang apa disini?" tanya seseorang heran.
Yi Fan menoleh ke balik bahu kirinya, kemudian membalikkan tubuhnya agar lebih leluasa. Dan Kyungsoo yang melihat keanehan Dokter muda itu hanya mengangkat satu alisnya samar.
"Hanya baru selesai memeriksa" jawab Yi Fan seadanya.
"Apakah ada perubahan euisa?"
Yi Fan menggeleng samar. "Tidak, belum. Ini masih hari kedua, kau ingat"
"Anda harus bersabar lebih lama euisa" Kyungsoo menatap prihatin pria tinggi itu.
"Aku tahu. Aku duluan Kyungsoo-ssi"
"Nde euisa"
Yi Fan melangkahkan kakinya yang panjang menjauh dari depan kamar rawat Huang Zi Tao. Sambil tak berhenti memikirkan kesalahan apa yang sekiranya telah ia lalukan tadi. Tapi sungguh, bahkan dirinya tidak tahu dimana letak kesalahannya. Bukankah ia hanya mengajak bicara si Huang itu seperti biasa? Dan sambil mencatat di papan notesnya?
Yi Fan menyisir surainya ke belakang yang mulai menjuntai. Membuat gestur seksi yang menggoda di mata para perawat wanita yang mengekori geraknya. Bukannya segera menuju ruang kerjanya, Dokter tampan itu malah mendudukkan tubuhnya di sebuah bangku kayu panjang yang berada di lorong terbuka Rumah Sakit, tepat di samping Joonmyun yang sedang menikmati segelas kopi hangat.
Pria berwajah angelic itu menoleh dan menatap Yi Fan dengan mengangkat satu alisnya melihat ekspresi teman satu profesinya yang tampak murung.
"Terjadi sesuatu?" tanyanya, kemudian menyesap kembali kopinya. Yi Fan meletakkan clipboard di samping kanannya.
"Tidak. Aku hanya sedang bingung" sahut Yi Fan, memandang lurus ke depan. Pada sebuah taman kecil yang terdapat kolam ikan serta jembatan mini sebagai hiasan.
Memang meskipun Joonmyun menjabat sebagai Wakil Kepala Rumah Sakit, mereka masih seumuran dan membuat keduanya cukup dekat tanpa harus melihat kedudukan masing-masing.
"Bingung kenapa?" Joonmyun memperhatikan Yi Fan.
"Pasien di kamar nomor 4 blok cinnamon. Kunjungan siang, dia baik-baik saja meski gemetar, tapi tiba-tiba jadi histeris dan memohon padaku sambil menangis"
"Oh, pasien PTSD asal China itu?" Yi Fan mengangguk. "Bukankah itu wajar? Dia spesial"
"Aku masih belum menemukan cara yang jitu untuk mendekatinya"
"Mungkin ada hal yang kau lewatkan di daftar riwayat hidupnya? Kau sudah membaca semua datanya bukan?"
Yi Fan terdiam. Dirinya mengingat sesuatu.
"Aku tidak sanggup membaca semuanya sampai akhir. Di lembar pertama datanya, aku langsung menutupnya"
"Kalau begitu bacalah lagi, siapa tahu kau melewatkan sesuatu yang penting, yang membuat dia tiba-tiba histeris"
"Kurasa juga begitu" ー "Ah, bukankah Hyde-euisanim berangkat ke Jepang pagi tadi?" Yi Fan menoleh, menatap Joonmyun. Pria itu mengangguk.
"Ya tadi pagi. Tugas ku semakin banyak saja"
Yi Fan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya samar, tak harus mengatakan sesuatu. Baik Joonmyun dan Yi Fan lebih tertarik untuk menikmati keheningan lorong Rumah Sakit, meski sayup-sayup terdengar suara ribut yang berasal dari dalam bangunan. Namun saat Joonmyun hendak menyesap kembali kopinya, matanya menangkap sosok tinggi berdimple yang melintas di lorong sebrangーyang di pisahkan oleh taman kecil, tepat di depan mereka.
Joonmyun menepuk kecil paha Yi Fan, "Aku duluan" ucapnya seraya bangkit.
Yi Fan hanya bisa mengangguk, memperhatikan si Wakil Kepala Rumah Sakit yang berjalan keluar dari lorong melintasi taman kecil di bagian tengah dan menghampiri sosok tinggi berdimple itu yang tengah berjalan beriringan dengan Kyungsoo.
Aubrun coklat gelap miliknya memperhatikan ketiga orang tersebut, dimana Kyungsoo terlihat seperti obat nyamuk ketika Joonmyun tiba-tiba hadir dan mengobrol dengan Zhang Yixing. Salah satu perawat senior yang kabarnya di sukai oleh Joonmyun. Dan hal ini sudah menjadi rahasia umum para pekerja di Rumah Sakit.
Saat memperhatikan ketiga orang yang telah berada di ujung lorong itulah, ia melihat si tinggi Chanyeol dan Dokter muda bersurai ebony bernama Kim Jongdae. Mereka tampak membawa gelas kertas berisi kopi, sambil berbincang entah apa, dan kedua orang itu kini telah duduk di bangku yang di tempatinya.
"Jadi, bagaimana pasien spesial mu Yi Fan?" tanya Jongdae. Yang duduk di samping kanan Chanyeol.
"Aku belum melakukan apapun" ia mengangkat bahu kecil. Chanyeol yang sedang menyeruput kopinya pun menoleh, dengan pinggiran gelas yang masih menempel di bibirnya.
"Cepatlah mengambil tindakan, kau harus memberi laporan pada Hyde-euisanim" Chanyeol menyahut.
"Ck. Aku tahu" Yi Fan melengos.
"Mau ku bantu?"
Yi Fan melirik tajam, Jongdae menyesap kopinya perlahan.
"Yang ada dia akan semakin ketakutan melihat senyum sejuta watt mu yang melebihi orang gila Yeol" komentar si Dokter, kemudian terkekeh. Chanyeol mencibir, kemudian menendang pelan kaki Jongdae.
"Senyum mu bahkan lebih mengerikan dari pasien-pasien disini" tambah Yi Fan. Alhasil Dokter berjuluk Happy Virus itu harus melayangkan death glare pada si Dokter blasteran.
"Omo! Bukankah itu Minseok-ssi? Sedang jalan bersama siapa dia?" Chanyeol tiba-tiba memandang kearah lain, dengan tatapan ingin tahu. Jongdae langsung menatap ke sekitar, mencari sosok mungil yang tadi namanya di sebutkan oleh si Happy Virus.
Persis seperti seorang anak yang sedang mencari keberadaan Ibu nya. Chanyeol langsung terbahak melihat reaksi sahabatnya itu, dan Yi Fan hanya diam tanpa ingin ikut menggoda Jongdae. Meskipun begitu tetap memperhatikan tingkah kedua sahabatnya yang saat ini saling mengolok seperti remaja berseragam.
Tingkah kekanakan para sahabatnya memang tidak pernah membuat suasana menjadi kosong. Setidaknya meski semua orang sedang penat dengan dengan pekerjaan masing-masing, selalu ada oase kecil untuk menyegarkan pikiran. Termasuk mengobrol di antara waktu istirahat seusai memeriksa pasien seperti saat ini.
Karena Yi Fan harus kembali berpikir keras setelah ini, untuk kesembuhan si Huang yang sangat menyita perhatiannya hanya dengan mempelajari data riwayat hidupnya.
To be continue
