Pesan : saya menulis fic ini berdasarakan inspirasi dari macam-macam cerita vampir, dari yang terkenal sampai yang kurang terkenal. Jadi mohon jangan mencap saya sebagai plagiat. Karena saya juga menyumbangkan ide saya dalam membuat cerita ini.

3. SENYUM

Hari ini hari Minggu, dan juga merupakan hari santai bagi kebanyakan orang. Namun tidak bagi Xion, karena dia harus menyelesaikan pekerjaan rumahnya yang sangat menumpuk. Apalagi makalah yang minimal harus berjumlah enam puluh lembar itu, ditambah dengan mengerjakannya sendirian, maka semakin bertambahlah beban Xion. Sambil melihat beberapa web yang dimasukinya melalui internet, Xion hanya menopang dagu sambil mencari-cari artikel yang isinya sesuai. Entah sudah dari jam berapa dia melakukan kegiatan ini, kalau tidak salah sudah dari pagi.

Begitu banyak web yang tersedia, namun tidak banyak yang menyediakan bahan untuk tugas Xion. Menyerah, Xion segera menutup web browser dan berniat mematikan komputernya. Dia sudah mengumpulkan sekitar empat puluh halaman untuk makalahnya, mungkin dia akan mencari lagi besok. Tetapi ketika ia membuka halaman sebelumnya, tiba-tiba saja dia melihat ada sebuah artikel berita yang berjudul 'DOKTER STRIFE BERHASIL MENYELAMATKAN OBLIVION' yang ditulis besar-besar. Strife? Kalau tak salah itu nama ayah angkat Vanitas kan? Apakah dia sebegitu terkenalnya sampai dimuat di berita internet. Penasaran, Xion mengklik web itu dan membaca isi beritanya.

Saat Oblivion dilanda penyakit demam berdarah yang hebat, kota itu seakan-akan berubah menjadi kota mati. Hampir setengah dari jumlah populasi warga terjangkit penyakit itu dan membuat gempar seluruh warga (populasi Oblivion adalah sekitar 2000 jiwa). Seluruh rumah sakit penuh dan hal itu menyebabkan banyak sekali pasien yang terbengkalai dan tak bisa dirawat dengan baik. Hujan yang terus membasahi Oblivion juga membuat keadaan semakin parah dengan berkembang biaknya nyamuk-nyamuk. Meskipun presiden Kingdom Hearts telah mengirimkan bantuan berupa tenaga medis, obat-obatan, peralatan rumah sakit, dan tenda darurat, sayangnya bantuan ini tidak membantu banyak. Disamping itu, penderita demam berdarah semakin bertambah. Kota Oblivionpun nyaris lumpuh dan sempat diisolasi.

Saat itulah, dr. Cloud Strife datang bersama dengan seratus rekan medisnya yang terdiri dari dokter dan perawat. Berbeda dengan dokter lain, dr. Cloud Strife begitu cekatan dalam mengobati dan merawat pasien-pasiennya. Dalam waktu lima hari, dia mampu mengobati sekitar ratusan pasien dengan cepat nyaris tanpa bantuan tenaga medis. Pasien yang tadinya sempat kritis, bagaikan terkena sihir langsung membaik beberapa saat kemudian. Keadaan ini terus berlanjut hingga dua bulan kemudian tepat saat wabah penyakit ini mereda.

Meskipun banyak sekali pihak yang berperan dalam memberantas wabah penyakit ini, namun hampir seluruh masyarakat berterima kasih pada dr. Cloud Strife. Karena sejak kedatangannya lah kota mereka menjadi bangkit kembali setelah terancam hancur akibat penyakit yang bisa dibilang mematikan itu. Dan tak hanya masyarakat, bahkan presiden pun memuji dan ikut berterima kasih padanya. dr. Cloud Strife sempat akan diberi hadiah sebesar lima puluh juta munny sebagai balas jasa dari presiden. Namun dengan rendah hati, dr. Cloud Strife menolaknya dengan halus dan mengatakan bahwa lebih baik uang itu disumbangkan saja untuk kota ini. Berhubung Oblivion adalah kota kecil, dia rasa uang itu akan sangat membantu dalam membangun kembali perekonomian Oblivion. Terima kasih dr. Cloud Strife, selamanya kami akan selalu berhutang budi padamu.

Berita itu selesai setelah akhir paragraf ketiga, dan hasilnya, Xion berhasil dibuat berdecak kagum. Apakah keluarga mereka memang sehebat itu? Mulai dari ayah sampai anak, rasanya yang selalu dia lihat atau dengar adalah deretan pujian dan prestasi. Dan berkat berita tadi, Xion membatalkan niatnya untuk mematikan komputernya dan kembali melanjutkan tugas makalahnya. Dan untungnya, dia langsung menemukan bahan-bahan yang tepat tak lama kemudian. Mungkin berita tadi juga bisa dijadikan bahan makalah, tetapi karena takut dikira promosi, Xion mengurungkan niatnya.

Ketika jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, Xion sudah berhasil menyelesaikan tugas makalahnya. Aqua hari ini ada pekerjaan, jadi dia sendirian sampai waktu makan malam nanti. Dan meski waktu makan siang sudah dekat, tetapi Xion sama sekali tidak merasa lapar sedikitpun. Ketika Xion baru saja turun dari lantai atas, dia mendengar telepon rumahnya berdering. Siapa yang menelpon? Sambil menjawab rasa penasarannya, Xion segera menghampiri dan menjawabnya.

"Ya, kediaman Yukihime," kata Xion.

"Hai Xion."

Suara yang lembut ini... suara Kairi?

"Kairi?"

"Yep, kau memang hebat sampai bisa menabak suaraku."

"Suaramu itu mudah dikenal sih," kata Xion. "Kok kau bisa tahu nomor teleponku?"

"Untuk soal ini, aku agak menyalahgunakan jabatanku. Yah, kau tahu sendiri kan maksudnya?"

Oh, benar juga ya. Waktu pertama kali Xion datang ke sekolah inipun, Kairi bisa langsung mengenalnya lewat formulir pendaftaran. Mungkin dia juga mencatat nomor teleponnya, benar-benar teliti sekali.

"Lalu, ada apa?"

"Begini, seharusnya hari ini aku pergi nonton bersama Sora, tetapi tiba-tiba ada urusan mendadak sehingga kami berdua harus membatalkannya."

Xion diam sampai Kairi mengucapkan kalimat selanjutnya. Tak disangka juga dia bakal langsung bersikap akrab dengannya. Padahal mereka belum lama berkenalan.

"Namine dan Roxas malas untuk pergi, begitu juga dengan kedua orang tuaku. Jadi, apa kau mau pergi? Dengan Vani."

Dengan Vanitas? Pergi nonton dengan Vanitas?

"Em, yah aku memang senggang sih," kata Xion. "Kapan?"

Meski lewat telepon, tetapi entah kenapa Xion tahu kalau Kairi tersenyum. "Nanti jam dua belas, kalau filmnya mulai jam satu."

Xion mengangguk-angguk, dan berhubung dia memang senggang, jadi ini kegiatan yang lumayan untuk menghabiskan waktu. "Baiklah."

"Oke, kau tunggu saja ya sampai Vani menjemputmu, dah!"

Kairi memutuskan telepon. Tak lama setelah itu, Xion segera ke kamarnya untuk berganti pakaian. Untuk pergi nanti, Xion memilih untuk mengenakan strapless dress berwarna kuning polos dengan panjang sepaha, lalu dia juga mengenakan vest berwarna putih sebagai tambahan. Untuk alas kaki, dia akan memakai wedges berwarna krem dengan pita berwarna putih yang ditaruh di rak bawah. Sebenarnya semua ini bukan dandanan ala dirinya jika ingin jalan-jalan, namun Aqua selalu mengajarkannya untuk menjadi lebih feminin (apalagi sekarang Xion serumah dengannya).

Tak begitu lama sampai akhirnya jarum pendek dan panjang menunjuk ke angka dua belas. Dari luar, sudah terdengar suara klakson mobil yang ditekan sebanyak dua kali, pasti itu Vanitas. Setelah mengirim pesan singkat kepada kakaknya, Xion mengambil tas kecil miliknya dan segera berjalan keluar tanpa lupa mengunci pintu. Untuk ukuran gadis tomboi, sulit sekali berjalan cepat dengan wedges.

Mobil yang ada di hadapan Xion bukanlah mobil biasa yang dimiliki seorang remaja tujuh belas tahun. Xion memang tak tahu apa-apa soal mobil, tapi dia tahu kalau ini adalah mobil mewah. Sementara Xion memandangi mobil itu dengan kagum, Vanitas menurunkan kaca mobilnya.

"Hei," sapanya, membuat Xion kaget.

"Oh, hei."

"Masuklah," ajak Vanitas. "Diluar cukup panas."

"Em, tak juga kok," kata Xion yang setelah itu memasuki mobil. Hawa di dalam lebih sejuk berkat AC. "Kita mau kemana?"

"Kairi tak memberitahumu?" tanya Vanitas.

"Dia tidak memberitahukan tempatnya, filmnya juga tidak."

Vanitas menjalankan mobilnya. Kali ini, dia mengenakan kaus berlengan panjang berwarna putih yang serasi dengan warna kulit pucatnya. Untuk celananya, dia memakai jeans berwarna hitam, dan sneaker berukuran besar untuk alas kaki. Dia juga memakai kalung berbentuk salib sebagai aksesoris.

...

Lima belas menit kemudian, mereka berdua tiba di tempat tujuan mereka. Ternyata tempat yang dimaksud Kairi adalah LoD Mall, atau tempat yang paling terkenal di kota ini. Ketika mereka turun dari mobil, matahari semakin menyengat karena matahari sudah bertambah tinggi. Xion sampai harus melindungi wajahnya dengan tangan kanannya, sementara Vanitas seperti tidak terpengaruh sama sekali. Kulitnya yang pucat itu bagaikan transparan ketika terkena cahaya matahari. Andai saja Vanitas diam, mungkin dia tak ada bedanya dengan patung.

"Ini," kata Vanitas sambil menyerahkan sesuatu dari kantongnya, selembar kertas berwarna putih.

"Apa?"

"Tiketnya, pegang."

Xion mengambil tiket itu dengan sikap ragu-ragu sambil mengamati pakaian Vanitas. Memangnya dia tidak kepanasan ya?

"Ayo kita masuk, soalnya filmnya akan mulai sekitar sepuluh menit lagi."

"Em, oke."

Vanitas berjalan sedikit lebih cepat daripada Xion. Sebenarnya Xion ingin sekali menyusulnya, hanya saja alas kakinya itu bagaikan pemberat. Dengan sedikit kesal, dia berusaha berjalan dengan hati-hati agar dia tidak jatuh (soalnya pasti akan sangat memalukan). Vanitas yang menyadari itu, segera menghentikan langkahnya dan berjalan ke arah Xion.

"Kau kenapa?"

"Tidak apa-apa, hanya belum terbiasa saja."

Vanitas tersenyum kecil mendengarnya. Wow, senyum?

"Harusnya kau tak perlu pakai sepatu seperti itu."

"Nee-chan yang menyuruhku, dan aku akan merasa bersalah jika tidak memakainya," kata Xion. "Yah, tidak jelek kan?"

"Memangnya bajumu dulu seperti apa?"

"Kurang lebih mungkin sama denganmu."

Vanitas kembali memamerkan senyumnya. Dengan tangan kanannya, dia memegang punggung Xion agar bisa berjalan sejajar dengannya, sembari menjaganya agar tidak jatuh.

"Kau benar-benar berbeda dengan Kairi, Namine, dan Tifa. Mereka begitu feminin sampai-sampai nyaris tidak pernah memakai celana. Terkadang Sora, Roxas, dan Cloud sampai harus meyakinkan mereka berkali-kali."

"Kalau mereka sih, aku tidak heran."

"Tapi jujur saja, kau cukup cantik dengan penampilan itu," kata Vanitas. Ternyata dia bisa memuji juga ya?

"Aduh Vanitas, aku masih kalah jauh jika dibandingkan dengan kedua saudarimu dan ibumu!"

Tawa kecil serta senyumannya membuyarkan anggapan Xion bahwa pria yang ada disampingnya ini memiliki sikap yang dingin dan cuek. Mungkin lebih tepatnya, Xion tak menyangka dia bisa menyunggingkan senyum.

Film yang mereka tonton ternyata adalah film fantasi yang berjudul 'Chain of Memories', film yang menceritakan mengenai seorang anak laki-laki yang berjuang untuk mendapatkan ingatannya kembali. Xion menonton film itu dengan ekspresi datar dan perasaan biasa saja. Selain karena dia jarang pergi-pergi, dia juga tidak suka nonton bioskop. Jadinya ketimbang menikmati filmnya, Xion malah lebih menikmati popcorn dan soda yang dibeli oleh Vanitas tadi. Sementara Vanitas, dia juga menonton film itu dengan diam.

Setelah waktu berlalu satu setengah jam, film itu selesai dan mereka berdua keluar. Karena tadi Xion menonton setengah-setengah, dia tidak begitu mengerti film itu. Kalau Vanitas? Dia terlihat anteng sejak film dimulai, tapi tidak tahu apa dia menyimak atau tidak.

"Kau suka filmnya?" tanya Vanitas.

"Yah, jujur aku tidak begitu menyimak," jawab Xion. "Kau sendiri?"

"Lumayan, terutama saat tokoh utama berusaha untuk memperoleh ingatannya demi bertemu wanita yang ternyata adalah kekasihnya."

Vanitas merogoh sesuatu dari kantongnya, sebuah kotak yang berbentuk seperti susu kemasan. Hanya saja, tidak tertulis merek apapun di sana, hanya warna putih polos dengan tempelan sedotan.

"Apa itu?" tanya Xion.

Vanitas mencolok sedotan itu terlebih dulu. "Susu."

Xion mengangguk-angguk. Dia jadi merasa bodoh karena telah menanyakan itu, padahal sudah jelas yang diminumnya adalah susu.

"Kau mau makan apa?"

Xion menggeleng. "Tidak usah Vanitas, aku tidak lapar. Apalagi, kan aku sendiri yang menghabiskan popcorn."

"Tak usah sungkan," kata Vanitas. "Waktu itu aku belum sempat mengobrol banyak denganmu, jadi bisa sekalian."

"Mengobrol denganku?" tanya Xion heran. "Kusangka kau orang yang dingin."

Vanitas tertawa kecil mendengarnya. "Aku tidak dingin-dingin amat kok. Aku masih bisa tersenyum dan tertawa meski tidak segila Sora."

Kali ini Xion memutuskan untuk tidak menjawab. Dan setelah itu, mereka berdua berjalan menuju ke restoran sushi yang berada di lantai tiga. Xion memesan sushi tamago, inarizushi, dan segelas teh hangat. Sementara Vanitas, dia memesan sepiring sashimi saja. Dia bilang, susu yang dia minum tadi sudah membuatnya cukup kenyang. Selama makan, Xion sesekali melirik Vanitas yang kelihatannya tidak begitu menikmati sashiminya. Cara dan ekspresi yang dia pasang saat makan... tidak sama dengan orang kebanyakan. Obrolan yang mereka ungkit juga bukan hal yang spesial.

Makan di restoran tidak memakan waktu lama, mungkin hanya lima belas menit. Uniknya, saat mereka berdua keluar dari restoran, mereka sama-sama mendapat telepon. Vanitas ditelepon ibu angkatnya, Tifa, sementara Xion tentu saja oleh Aqua. Terkadang berusia tujuh belas tahun tidak membuatmu merasa sudah dewasa. Yah, seperti ini salah satunya.

"Terima kasih sudah mengajakku, aku sangat senang," kata Xion.

"Sama-sama," jawab Vanitas sambil tersenyum. "Kau ada kesulitan dengan PR-mu?"

"Tidak, malah sudah hampir selesai semuanya."

Tanpa mereka sadari, tahu-tahu mereka sudah tiba di tempat mobil Vanitas diparkir.

"Oh ya, kau sempat melihat-lihat mobil ini kan?"

"Ha? Em, iya."

"Kalau begitu kuberitahu sesuatu," kata Vanitas. "Namanya rx 8."

Lagi-lagi, Vanitas memamerkan senyumnya. Di luar ekspresi mukanya yang cool dan pendiam, ternyata dia memiliki hati sehangat senyumannya.


Oke, akhirnya selesai! Mohon read and review ya, maaf kalau kurang bagus.