"Upan nggak mau topi yang ituu! Upan maunya yang biluuu!"
Taufan merengek sambil melompat-lompat dengan berisik di atas tempat tidur, sementara Kaizo kebingungan mencari-cari topi yang diinginkan Taufan di lemarinya.
"Tapi cuma ada topi yang warna hitam ini, Taufan. Nggak ada yang warna biru," kata Kaizo lelah. Sudah setengah jam ia mencari, namun tak kunjung juga menemukan topi biru yang dikatakan Taufan. Kalau begini, bisa-bisa mereka tidak jadi pergi ke kebun binatang hanya karena sibuk mencari topi untuk si kembaran kedua.
"Pasti ada, kak Ijooo. Mama beli banyak topi bilu buat Upan, kok. Kalna Upan cukanya walna bilu, nggak cuka walna itam kayak kak Hali," celoteh Taufan.
"Iiihh, Upan celewet banget, sih. Pake aja topi itamnya kayak Hali cama Gempa. Nggak ucah cali-cali topi bilunya telus," Halilintar mengeluh kesal. Ia dan Gempa sudah tak sabar ingin pergi ke kebun binatang, namun gara-gara Taufan yang terus rewel dengan topinya, acara jalan-jalan mereka jadi terhambat.
"Nggak mauuu! Upan maunya yang walna biluu!" tukas Taufan. Ia lalu melompat dari tempat tidur dan mendekati Kaizo yang masih sibuk membongkar-bongkar isi lemari. "Cini bial Upan yang cali aja. Kak Ijo gimana cih, maca' cali topi aja nggak bica?" sungut Taufan.
Kaizo berusaha menahan sabar diomeli oleh anak berumur empat tahun. Bagaimanapun, mereka adalah sumber penghasilannya selama dua bulan ke depan.
Taufan tiba-tiba saja memanjat lemari, berniat mencari topinya sendiri karena Kaizo tak kunjung menemukannya. Tapi Kaizo segera menariknya turun kembali.
"Taufan, 'kan udah dibilangin jangan manjat. Kalau nanti jatuh, gimana?" omel Kaizo seraya mendudukkan Taufan kembali di pinggir tempat tidur.
"Nggak bakal jatoh, kok. Upan biasanya juga seling manjat kalau mau ambil cesuatu," kata Taufan.
"Ya mulai sekarang nggak boleh manjat lagi pokoknya, mengerti? Kalau mau ambil sesuatu dari tempat tinggi, bilang aja sama kak Ijo. Biar kak Ijo ambilin."
"Iya deehh," Taufan menggembungkan pipi dan melipat lengan di depan dada, cemberut.
"Umm ... mungkin topi kak Upan ada di kelanjang baju yang dicuci mama," ujar Gempa. Sedari tadi hanya Gempa yang menunggu sambil duduk manis dalam diam tanpa membuat keributan seperti kedua kakaknya. "Kak Upan 'kan seling pake topi bilunya kemalin-kemalin. Mungkin udah dicuci cama mama."
"Aaaaaah! Kenapa Gempa nggak bilang dali tadi, cih?" Taufan melompat turun kembali dari tempat tidur dan secepat kilat berlari keluar, sementara Kaizo bergegas mengejarnya.
"Taufan! Jangan lari-lari di tangga, nanti jatuh!"
Halilintar dan Gempa yang ditinggalkan berdua di kamar hanya saling tatap bingung.
"Kita ikut tulun juga?" tanya Halilintar pada adik kembarnya.
"Iya deh, tulun aja. Nanti kak Ijo sama kak Upan malah pelgi duluan ninggalin kita ," sahut Gempa.
Halilintar mengangguk. Ia juga melompat turun dari tempat tidur dan menarik tangan Gempa, kemudian sama-sama berlari keluar dari kamar.
.
.
.
"Babys(h)it"
Chapter 3 : Di Kebun Binatang (Part 1)
A BoBoiBoy Fanfiction by Fanlady
Disclaimer : BoBoiBoy © Monsta. Tidak ada keuntungan material apapun yang diambil dari fanfiksi ini.
Warnings : AU, no alien, no super-power, OOC akut, bahasa dialog non-baku, mahasiswa!Kaizo, balita!HaliTauGem, miss typo. Di sini Kaizo berumur 19 tahun, dan si kembar HaliTaugem berumur 4 tahun.
Selamat membaca ^^
.
.
.
"AAAAAHHH! PINGUIINN!"
Gempa melepaskan diri dari pegangan Kaizo dan berlari dengan antusias ke kandang penguin yang pertama mereka jumpai setelah masuk melewati gerbang.
"Gempa, tunggu! Jangan pergi sendirian!" seru Kaizo, namun Gempa sudah menghilang tertelan kerumunan pengunjung.
"Gempa, tungguiinn!"
Halilintar dan Taufan bergegas menyusul adik kembar mereka tak lama kemudian, mengabaikan ucapan Kaizo yang berteriak melarang mereka pergi sendirian tanpanya.
"Astaga, anak-anak ini ... apa mereka pernah mendengarkan perkataan orang dewasa, ya? Selalu saja bertindak semaunya," desah Kaizo lelah. Ia sedikit menyesali keputusannya menerima ajakan mereka ke kebun binatang.
Kaizo menghela napas dan menghitung satu sampai sepuluh di dalam hati untuk menenangkan diri. Barulah kemudian ia menyusul ketiga anak asuhnya. Kaizo mendesah lega melihat mereka bertiga tengah berdiri bersisian di bagian depan kandang, menonton penguin dengan mata berbinar senang.
"Halilintar, Taufan, Gempa," pangil Kaizo. Ketiganya menoleh dan tersenyum lebar melihat Kaizo berjalan menghampiri mereka.
"Kak Ijo, kak Ijo, sini, deh! Liat, pinguinnya lagi makan!" seru Gempa riang.
"Kalian bertiga tadi janji apa sama kak Ijo sebelum pergi ke kebun binatang?" tanya Kaizo seraya berjongkok di antara ketiga bocah kembarnya.
"Um, janji mau main sepuasnya?" ucap Taufan asal.
"Janji mau liat pinguin!" Gempa berseru keras.
"Bukaan! Kita 'kan janji sama kak Ijo nggak boleh pelgi ke mana-mana kalau nggak sama kak Ijo. Iya 'kan, kak Ijo?" kata Halilintar.
"Nah, Hali pintar," ucap Kaizo seraya tersenyum tipis dan mengusap kepala Halilintar yang tertutup topi hitamnya.
"Ehehe," Halilintar tersenyum senang mendapat pujian dari Kaizo.
"Um, telus kenapa sama janjinya?" tanya Taufan bingung.
"Kalian 'kan udah janji nggak akan pergi sendiri tanpa kak Ijo. Terus kenapa tadi malah lari-larian tanpa nunggu kak Ijo dulu?"
"Abis kak Ijo lama, ciih. Nanti kalau pinguinnya kabul, gimana? Gempa 'kan mau liat pinguiin ..." ucap Gempa dengan kepala tertunduk.
"Penguinnya nggak bakal ke mana-mana, kok. Lihat, mereka tetap di sini, 'kan?" Kaizo menunjuk gerombolan penguin yang tengah menikmati santapan ikan segar sebagai makan siang mereka.
"Pinguinnya nggak bica kabul, ya?" tanya Taufan.
"Iya, mereka nggak akan ke mana-mana, kok."
"Kenapa? Meleka nggak mau pulang ke lumahnya cendili?" Gempa ikut bertanya.
"Mereka nggak bisa pulang, soalnya rumahnya jauh. Jadi sekarang mereka tinggalnya di sini," jelas Kaizo.
"Di mana lumah pinguin?" kali ini Halilintar yang bertanya.
"Jauh. Di kutub selatan sana."
"Kutub celatan itu ... di mana, kak Ijo?"
"Pokoknya jauh, deh. Jauuuhh banget dari sini," kata Kaizo.
Ketiga anak kembar itu saling tatap kemudian sama-sama berjalan mendekat ke kandang penguin. Mereka menempelkan kepala di antara celah jeruji besi yang memagari kolam besar dengan beberapa bonngkah es yang sedikit mencair tempat para penguin tengah bermain.
"Kacian, ya, meleka nggak bica pulang ke lumah ..." gumam Gempa sedih.
"Iya ... pasti meleka kangen cama mama cama papanya ..." Taufan ikut berceletuk.
"Mungkin meleka bica pulang ke lumah waktu lebalan nanti," ujar Halilintar.
"Oiya, kalau lebalan halus pulang kampung, ya?"
"Ha ah. Nanti pasti mama cama papa meleka jemput ke cini, telus meleka pulang cama-cama, deh ..."
"Tapi kalau cama mama papanya nggak datang jemput, gimana?"
"Ya udah, meleka pulang cendili naik mobil."
"Emang meleka punya mobil?"
"Kalau nggak punya, kita minta cama papa aja buat pinjemin mobil ke pinguinnya!"
"Ah, benel! Pasti papa bilang boleh! Papa 'kan baik, nggak galang kayak mama!"
Kaizo hanya mendengarkan celotehan ketiga bocah itu sambil geleng-geleng kepala. Suara mereka yang berisik menarik perhatian beberapa pengunjung dan Kaizo yang menyadari bahwa beberapa pasang mata tengah memperhatikan mereka, hanya bisa meringis minta maaf. Para orangtua yang juga membawa anak-anak mereka tersenyum maklum, sementara dua gadis yang berdiri tak jauh dari Kaizo cekikikan sambil saling berbisik dan sesekali melirik ke arahnya dengan wajah bersemu merah.
Kaizo kembali memfokuskan perhatiannya pada Halilintar, Taufan, dan Gempa yang masih sibuk membahas cara membantu para penguin kembali ke kampung halamannya saat lebaran nanti.
"Hali, Taufan, Gempa, kalian nggak mau lihat hewan-hewan yang lain?" tanya Kaizo.
"Maauu! Upan mau liat singa!" seru Taufan nyaring.
"Hali mau liat beluang!"
"Gempa mau ketemu gajah!"
"Iya, iya, ayo kita lihat semuanya," kata Kaizo. Ia lalu bangkit berdiri dan menggandeng ketiganya pergi.
"Dadah, pinguiin!" Ketiga anak kembar itu melambai riang ke arah para penguin sebelum berjalan mengikuti Kaizo sambil melompat-lompat riang.
.
.
.
"Kak Ijo, mau es klim." Taufan menarik-narik kaus Kaizo dan menunjuk gerai es krim tak jauh di depan mereka.
"Mau es krim? Kalian 'kan baru aja jajan pisang cokelat," kata Kaizo, melirik Halilintar dan Gempa yang masih menikmati pisang cokelat-keju mereka.
"Iya, itu 'kan picang, kak Ijo. Sekalang Upan maunya es klim," rengek Taufan.
"Iya, deh, iya. Tapi habis ini nggak boleh jajan lagi, lho. Nanti sakit gigi kalau kebanyakan makan manis," Kaizo berujar.
"Kalau jajan yang nggak manis, boleh?" tanya Gempa.
"Nggak boleh juga. Nanti sakit perut kebanyakan jajan," kata Kaizo datar.
"Kak Ijo nggak acik, ih," ucap Taufan cemberut.
"Sekarang gimana, jadi nggak beli es krimnya?" tanya kaizo.
"Jadi!" ketiga anak kembar itu berseru serempak.
"Hali mau yang laca tobeli!" seru Halilintar.
"Panila, panila! Upan mau yang panila, kak Ijo!
"Gempa mau coklat!"
"Iya, iya. Nggak usah pakai teriak-teriak segala, kak Ijo bisa dengar, kok," gerutu Kaizo. Ia mungkin harus memeriksakan telinganya ke dokter THT selesai bekerja nanti karena harus terus mendengarkan suara berisik ketiga bocah ini seharian.
Kaizo lalu mengajak mereka ke gerai es krim dan membelikan ketiganya masing-masing satu scone es krim yang mereka inginkan.
"Hali sama Gempa habisin dulu pisang cokelatnya, ya. Baru makan es krim," kata Kaizo seraya menyerahkan es krim pada keduanya. Sementara Taufan yang sudah menghabiskan makanannya sejak tadi langsung menikmati es krim vanilanya dengan riang.
"Gempa nggak mau lagi picangnya. Buat kak Ijo aja," ucap Gempa. Ia memberikan jajanannya yang baru dimakan separuh pada Kaizo.
"Hali juga nggak mau. Hali mau makan es klim aja."
Kaizo lagi-lagi menghela napas panjang. Mau tak mau ia harus menghabiskan dua porsi pisang cokelat-keju milik Halilintar dan Gempa agar tidak mubazir. Kaizo mengajak para anak asuhnya untuk duduk di kursi taman di bawah pohon yang cukup teduh sambil menikmati es krim yang baru dibelinya.
"Kak Ijo, kak Ijo, kenapa gajah idungnya panjang?" tanya Gempa sambil menunjuk sepasang gajah di dalam kandang beberapa meter jauhnya dari mereka.
"Kalena gajahnya cuka boong, makanya idungnya panjang. Kayak pinokio," sahut Taufan dengan gaya sok tahunya.
"Bukan. Hidung gajah memang sejak lahir sudah seperti itu, dan bukan memanjang karena dia suka berbohong," jelas Kaizo.
"Eeeh, yang benel? Kak Ijo tau dali mana?" tanya Gempa penasaran.
"Tuh, lihat gajah yang kecil itu. Dia masih bayi, tapi hidungnya sudah panjang, 'kan? Jadi gajah memang punya hidung yang panjang sejak kecil," Kaizo kembali menerangkan dengan sabar.
"Kenapa bica gitu?"
"Yah ... memang begitu ..." Kaizo menggaruk pipinya, bingung harus menjawab apa. "Gajah memang diciptakan punya hidung yang panjang. Dan hidungnya itu biasanya disebut belalai."
"Belalang?" Halilintar mengerutkan dahi bingung.
"Bukan, bukan belalang. Be-la-lai," terang Kaizo.
"Oooohh ..." Halilintar, Taufan, dan Gempa mengangguk-angguk paham.
Mereka lalu menghabiskan es krim masing-masing dalam diam, sambil mengitari sekeliling dengan ketiga pasang manik karamel mereka yang bundar menggemaskan. Kaizo merasa bisa sedikit bernapas lega karena tak perlu menanggapi banyaknya celotehan berisik lagi.
"Nah, sekarang kita mau ke mana?" tanya Kaizo setelah ketiga scone es krim telah dilahap habis tak bersisa.
"Mau liat lumba-lumba!" kata Halilintar antusias.
"Hm, pertunjukan lumba-lumba ada jam setengah lima sore tepat," kata Kaizo, mengamati brosur kebun binatang yang baru dikeluarkannya dari saku. Ia kemudian melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sekarang baru jam 4 lebih sedikit. Mau langsung ke sana atau jalan-jalan lihat yang lain dulu?" tanyanya.
"Liat yang lain dulu aja, kak Ijo! Kita 'kan macih belum liat singa," kata Taufan yang masih belum kehilangan antusiasmenya untuk melihat langsung sang raja hutan itu.
"Ah, benar juga. Ayo kita ke kandang singa dulu kalau begitu," kata Kaizo. Ia baru hendak menggandneg ketiganya pergi saat Gempa menarik-narik bagian bawah kausnya. "Kenapa, Gempa?"
"Kak Ijo ... Gempa ngantuk ..." Gempa bergumam kecil seraya menggosok-gosok matanya.
"Lho, udah ngantuk? Mau langsung pulang aja kalau gitu?"
"Jangan, doongg! Upan nggak mau pulang cebelum liat singa pokoknya!" Taufan memanyunkan bibir cemberut.
"Yah, tapi Gempa udah ngantuk gimana, dong ..." Kaizo berujar bimbang.
"Ya udah, Gempa pulang aja cendili bial bica bobo' di lumah. Kak Ijo tetap temenin Upan cama kak Hali di cini!" kata Taufan.
"Ya nggak bisa begitu, dong. Masa' Gempa disuruh pulang sendiri? Nanti kalau diculik, gimana?"
"Kak Ijo ... gendong ..." Gempa mengulurkan kedua tangannya ke arah Kaizo. Sepasang manik karamel yang beberapa menit lalu masih bersinar cerah kini terlihat redup dengan sorot mengantuk.
"Ya udah, sini kak Ijo gendong ..." desah Kaizo. Ia membungkuk dan meraih Gempa ke dalam gendongannya. Dalam beberapa detik, bocah itu sudah terlelap pulas di bahunya.
"Gempa nggak acik, ih. Maca' lagi jalan-jalan malah bobo'?" keluh Taufan.
"Mungkin Gempanya capek. Kalian nggak capek?" tanya Kaizo pada Halilintar dan Taufan. Keduanya menggeleng serentak.
"Hali nggak capek, tapi haus," kata Halilintar.
"Haus? Bukannya tadi baru aja makan es krim?" ucap Kaizo heran.
"Iiih es krim 'kan dimakan, kak Ijo. Kalau haus itu halus minum, bukan makan," gerutu Halilintar.
"Iya juga, sih," Kaizo berujar setelah berpikir sejenak. "Ya udah. Kalian tunggu di sini biar kak Ijo beliin minum."
"Upan mau jus jeluk ya, kak Ijo!" seru Taufan pada Kaizo yang berjalan menjauh.
"Hali mau ail putih aja!"
"Iya. Kalian tunggu di situ aja, jangan ke mana-mana!" Kaizo balas berseru.
"Okee!"
Kaizo berjalan menghampiri mesin penjual minuman dengan Gempa yang masih tertidur lelap dalam gendongannya. Ia baru menyadari tulisan 'rusak' di bagian kaca display-nya begitu sudah cukup dekat. Kaizo menggerutu pelan dan mau tak mau terpaksa mencari mesin penjual minuman yang lain.
Kaizo kembali setelah sepuluh menit menyusuri kebun binatang mencari mesin penjual yang masih berfungsi. Ia menenteng kantung plastik berisi dua kaleng jus jeruk dan dua botol air mineral. Gempa masih terlelap di bahunya meski si bungsu itu sesekali menggeliat sambil bergumam tak jelas dalam tidurnya.
"Halilintar, Taufan, maaf kak Ijo lama—"
Langkah Kaizo berhenti mendadak di depan kursi taman tempat ia meninggalkan Halilintar dan Taufan beberapa menit lalu, yang kini hanya didiami oleh seekor merpati putih yang tengah mematuk remah-remah makanan yang berserakan di kursi.
Mungkin karena cuaca yang memang cukup panas, atau mungkin Kaizo memang sudah lelah setelah berjalan ke sana-kemari sejak dua jam lalu di kebun binatang sambil menjaga tiga bocah kembar hiperaktif yang tidak bisa diam, pikiran Kaizo membutuhkan waktu beberapa detik untuk mencerna apa yang sedang terjadi.
Kepanikan merayap perlahan dalam benaknya begitu Kaizo menyadari masalah baru yang harus dihadapinya.
Halilintar dan Taufan menghilang!
.
.
.
to be continued
A/N :
Maaf aku bikin endingnya menggantung lagi. Harusnya bagian ini selesai di satu chapter aja sih. Tapi aku kepikiran utang ff-ff lain yang harus kukerjain. Mana mingu depan ada event Kaizo Week, dan pikiranku terpecah bingung harus ngerjain yang mana dulu.
Oh iya, ada yang udah tau soal Kaizo Week? Jadi minggu depan, mulai hari senin tanggal 30 Oktober, bakal ada event selama seminggu penuh khusus buat Kaizo (kebetulan hari Sabtu depan juga ulang tahunnya). Aku udah nyiapin prompt yang bisa dipake buat nulis fanfic, drabble, atau bikin fanart tentang Kaizo. Kalau ada yang tertarik mau ikutan, bisa langsung PM aku buat nanya-nanya. Atau bisa langsung cek infonya di akun tumblr-ku : .com (dotnya diganti dengan tanda titik ya).
Makasih banyak yang udah mau baca fanfic ini, dan juga mau baca celotehan nggak jelasku. Sampai jumpa di chapter berikutnya! Ditunggu reviewnya, manteman~
