Jimin memerah. Benar-benar memerah, percampuran antara kesal dan malu berdebar. Sunbae di depannya ini jelas sedang mencoba menggodanya. Jimin merasa sudah salah langkah karena sudah mencari gara-gara. Harusnya dia menuruti Taehyung dan berterimakasih pada yang Mahaesa karena tadi Yoongi sudah biasa saja padanya. Dan disinilah Jimin dengan segala tingkahnya menantang seniornya sendirian!.

"Mati saja kau!" geram Jimin dan mendorong dada Yoongi dengan keras kemudian berlari menaiki tangga.

"Aku akan memasukan nomor ponselku di lokermu, kalau kau setuju, hubungi aku" teriak Yoongi dan kemudian tertawa kencang seperti orang gila.

.

.

.

SASSY BOSSY BOYFRIEND

.

.

.

Jimin menyeringai dengan nomor ponsel Yoongi ditangannya. Setelah sempat syok beberapa jam saat mendapati secarik kertas yang bertuliskan nomor ponsel di lokernya, Jimin akhirnya sudah tahu harus dia apakan nomor ini. Iseng, Jimin mencari-cari teman dan juniornya yang merupakan 'Fans Yoongi garis keras' disekolah.

Jimin jelas tau sekarang kalau Yoongi punya banyak penggemar tak terlihat disekolah- terimakasih pada teman-teman perempuan dikelasnya yang suka sekali bergosip soal senior-. Dia kapten basket. Mana mungkin dia tidak punya fans. Hanya saja kebanyakan fans Yoongi rata-rata adalah pengecut, mereka tidak akan berani berteriak histeris saat menonton anak basket sedang latihan di lapangan. Yoongi punya citra menyeramkan ngomong-ngomong.

Disinilah Jimin berada, diantara kerumunan siswa-siswi yang sedang menyemut menonton latihan basket di pinggir lapangan, bersama Taehyung, sahabat sehidup tak sematinya. Jimin mulai melancarkan aksinya.

"Namjoon sunbae keren sekali" Komentar Jimin dramatis.

Beberapa kepala melirik kearah Jimin dan Taehyung karena mendengar komentar tak penting Jimin yang cukup kuat.

"Bukan, Yoongi sunbae yang paling keren. Lihat, kulitnya pucat, wajahnya seram" Taehyung menambahi dan sukses mengundang decakan tak suka dari orang-orang yang duduk didepan mereka.

"Ya, Kim Taehyung, berani berkata jelek lagi soal Yoongi sunbae, aku akan mematahkan lehermu" ancam Byungchan, temen sekelas Taehyung dan Jimin yang sedari tadi mulai terganggung dengan komentar tak penting Jimin dan Taehyung.

"Apa maksudmu? Aku sedang memuji kakak iparku! Telingamu dan perasaanmu saja yang bermasalah, benarkan, Jim?" Taehyung menyiku Jimin yang mengangguk setuju.

"Benar. Ya, Byungchan, jangan terlalu sensitive, Taehyung bermaksud memuji Yoongi sunbae. Kau saja yang salah mengartikan ucapannya" Jimin menambahi.

"Benar, lagian kami dan Yoongi sunbae itu saling kenal" pamer Taehyung.

"Ya, tentu saja. Dia hampir menghajar kalian berdua saat kau menyatakan cinta super kampunganmu pada junior kita, Jungkook" Byungchan memutar bola matanya dan kembali menghadap ke lapangan. Buang waktu saja meladeni Jimin dan Taehyung.

"Ya!"

"Sudahlah…" Jimin menahan Taehyung yang sudah bersiap akan bertengkar dengan tangannya.

"Sepertinya disini tipe fans macan tutul, lebih baik kita cari tempat lain" Jimin berkomentar lagi. "Sepertinya kita harus ke dekat ring sana, disana kebanyakan para junior, mereka jelas tidak akan berani pada kita" Jimin menatap lurus kearah kumpulan bocah yang duduk dengan mata berbinar dekat ring basket. Dasar pengecut, beraninya sama junior.

"Kau benar, ayo" Taehyung berjalan lebih dulu dengan Jimin yang ikut mengekori di belakang.

Sampai didekat ring, Jimin dan Taehyung kembali lagi merusak kebahagiaan orang-orang dengan komentar-komentar tidak penting yang mereka lontarkan. Jimin yang mulai lebih dulu dengan memuji jika permainan Hoseok sangat keren disambut dengan Taehyung yang berkomentar menambahi kalau Hoseoklah yang lebih pantas jadi kapten dan sukses membuat para junior mengalihkan pandangan pada Jimin dan Taehyung.

Ini dia, si pencari perhatian, sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan..

"Permainan Hoseok sunbae masih berada dibawah Yoongi sunbae" Jihoon, junior yang Taehyung ketahui berada dikelas yang sama dengan Jungkook memberi reaksi.

"Jinja? Yang kulihat tidak seperti itu" Jimin membalas ucapan Jihoon. Dalam hati sudah menyeringai setan karena ada yang terpancing dengan komentar tak penting mereka.

"Subae harusnya lihat dari awal, Yoongi sunbae sangat keren" Jihoon berucap bangga.

"Biarkan aku memeliharanya, Tae. Dia sangat imut" ucap Jimin sambil berbisik pelan. Siswa dengan nametag Park Jihoon ini memang sangat menggemaskan.

"Kau pikir dia anak anjing" Taehyung balas berbisik. "Ingat tujuan kita"

"Oh, kau benar" Jimin menaikkan dagunya, kembali bersikap congkak.

"Jadi, kalian disini untuk mendukung Yoongi sunbae?" pertanyaan Taehyung menarik perhatian tujuh kepala junior yang duduk manis didekat ring.

"Ne sunbae" mereka mengangguk antusias dan Jimin ingin memelihara ketujuhnya sekarang.

"Kalian fansnya?" Jimin bertanya penasaran.

Beberapa dari mereka mengangguk malu-malu dan ada juga yang hanya tersenyum.

"Woah, daebak. Padahal bukan artis, tampangnya juga biasa saja, tapi dia punya fans" Jimin berucap tak percaya. Kepalanya menggeleng dengan dramatis, menatap iba pada tujuh anjing kecil yang menatap polos padanya.

"Yoongi sunbae sangat tampan kalau sedang bermain basket. Sunbae saja yang tidak memperhatikannya" siswa yang duduk disebelah Jihoon menyahut membela Yoongi.

"Ya, ya. Dia sangat keren, aku setuju" Jimin berucap sarkas.

"Jimin, bukannya kau punya nomor Yoongi sunbae?" Taehyung memulai tujuan awal mereka berkeliling lapangan basket. Ini saatnya.

"Kau benar!" Jimin menimpali dengan dramatis.

"Kalian sudah punya nomor Yoongi sunbae?" Taehyung sedikit menunduk untuk memperhatikan tujuh wajah polos yang duduk didepan mereka.

"Belum…" koor ketujuhnya kompak.

"Katanya fans, masa nomor ponsel idola saja tidak punya" Jimin mencibir.

"Sangat sulit untuk mendapatkan nomor Yoongi sunbae. Kata senior yang juga fans Yoongi sunbae, Yoongi sunbae tidak memberikan nomor ponselnya pada sembarang orang" jelas Jihoon.

"Tidak memberikan pada sembarang orang my ass. Dia memberikan nomor ponselnya padaku dengan Cuma-Cuma" batin Jimin

"Kami punya" Taehyung tersenyum hangat.

Ketujuh wajah polos tanpa dosa itu menatap Taehyung seolah Taehyung adalah malaikat penjaga Yoongi's FC.

"Kalian mau?" Taehyung makin tersenyum lebar.

Ketujuh siswa yang duduk disana terlihat berbisik satu sama lain, mereka ribut antara harus menerima atau menolak tawaran menggiurkan dari Taehyung.

"Gratis" Jimin menambahi.

"Itu benar nomor ponsel Yoongi sunbae, kan?" Jihoon yang sepertinya sudah berubah jadi juru bicara, bertanya memastikan.

"Mau coba?" Jimin balas menantang.

Jimin mengambil ponselnya, mengetik nomor ponsel Yoongi di layar ponselnya dan mendial nomor Yoongi didepan mereka. Ketujuh junior itu menatap lurus kearah pinggir lapangan.

Di pinggir lapangan, dimana anak-anak tim basket sedang beristirahat, terlihat Yoongi yang sedang mengambil minum dari tas ranselnya.

Didekat ring, tujuh pasang mata terlihat begitu antusias melihat bergantian antara Jimin dan Yoongi.

Tidak sampai semenit, Yoongi terlihat sedang merogoh tasnya lagi, mengambil ponsel dari dalam dan mengernyit melihat ada nomor baru yang masuk ke ponselnya, tanpa ragu, Yoongi menekan tombol hijau dan menempelkannya ketelinga.

Disudut dekat ring, ketujuh junior itu sedang menatap makin antusias kearah Jimin yang sudah mematikan sambungan telepon tepat sebelum telepon itu diangkat.

"Bagaimana?" Jimin menaikkan alisnya, wajahnya terlihat sombong bukan main.

"Eum, apa kami boleh minta nomor ponsel Yoongi sunbae?" Jihoon, sang juru bicara menatap ragu tapi penuh harapan.

"Kami sudah menawarkan, kan? Kalian boleh memiliki nomornya. Ini " Jimin menyerahkan secarik kertas pada Jihoon yang berisi nomor ponsel Yoongi.

"Sesama fans anak basket, kita harus saling membantu, kan?" Taehyung lagi-lagi tersenyum hangat.

"Benar, kami boleh menyimpan ini?" Jihoon menatap dengan mata berbinar pada Jimin dan Taehyung.

"Boleh tentu saja. Tapi ingat, ini hanya untuk kalian, jangan disebarkan. Mengerti?" Jimin member syarat.

Ketujuhnya mengangguk bersamaan.

"Kami permisi dulu kalau begitu" Jimin menarik Taehyung yang sedang mengernyit kearahnya. Setelah agak jauh dari lapangan, Taehyung berjalan cepat dan menghadang Jimin didepan.

"Kenapa kau bilang jangan disebar?" Taehyung mengernyit heran.

"Ya! Anak seumur mereka, makin dilarang makin dikerjakan. Percaya padaku, tidak sampai satu jam, seluruh fans sunbae sialan itu pasti sudah punya nomor ponselnya" Jimin memutar bola matanya.

"Teori darimana itu?" Taehyung mengernyit.

"Ya, memangnya kalau ibumu melarangmu agar tidak mendekati Jungkook, kau akan menurut?"

"Tentu saja tidak. Aku sangat suka pada Jung… benar juga ya" Taehyung akhirnya mengerti maksud Jimin. Diusia belasan seperti mereka, sesuatu yang dilarang untuk dikerjakan justru malah makin menantang.

"Baguslah kau tidak terlalu bodoh" Jimin berjalan santai kearah parkiran. Hari sudah sore dan dia harus pulang sekarang.

.

.

.

"Ponselku tidak berhenti berbunyi dari tadi" Yoongi mengernyit heran. Tangannya meraba ke ranselnya yang terasa bergetar karena ponselnya yang sudah pasti menyala.

"Ada yang penting mungkin" Namjoon berjalan lebih cepat untuk mensejajarkan langkahnya dengan Hoseok dan Yoongi.

"Sejak selesai latihan sudah ada lima nomor baru yang menghubungiku" Yoongi menatap lagi pada Namjoon.

"Nomor iseng mungkin. Biarkan saja" Hoseok mengangkat bahu tak peduli.

"Mungkin.." ucap Yoongi tak yakin.

.

.

.

"Kenapa ponselmu tak aktif?" Hoseok meletakkan tasnya diatas meja, tepat disamping Yoongi yang sudah duduk dikursi dengan wajah tertekuk.

Sejak semalam Yoongi memang sengaja mematikan ponselnya, sudah benar-benar terganggu dengan nomor-nomor baru yang masuk keponselnya nyaris setiap jam dan itu benar-benar membuat Yoongi kesal. Bagaimana tidak kesal? Setiap Yoongi menjawab, Yoongi hanya akan mendengar pekikan tertahan diujung sambungan telepon. Kalau masih sekali dua kali sih masih bisa dimaklumi, kalau sudah berkali-kali? Yoongi merasa ngeri.

"Ada yang meneleponku berkali-kali dengan nomor yang berbeda-beda" Yoongi mendengus kesal.

"Siapa?" Hoseok penasaran.

"Kalau aku tau, mungkin aku tidak akan sefrustasi ini" Yoongi memutar bola matanya..

"Fans mungkin?" Hoseok tertawa.

"Seingatku aku bukan artis"

"Ganti kartu saja kalau benar-benar sudah mengganggu" nasehat Hoseok.

"Maunya begitu, tapi Appaku bisa-bisa menjitak kepalaku kalau aku ganti nomor ponsel lagi"

"Ya sudah, bersabar saja kalau begitu" Hoseok tertawa lagi. "Nanti sore ada latihan lagi, ya?"

"Ne. Ada ujian untuk junior-junior. Kita kan sudah tingkat akhir, bulan depan kita sudah tidak bisa mengikuti basket lagi, jadi akan dipilih kapten tim basket yang baru" jelas Yoongi.

"Hahh… padahal hanya basket yang bisa membuatku kabur di jam pelajaran" Hoseok mendesah putus asa.

Yoongi memilih tidak menanggapi.

Pulang sekolah, ujian untuk menentukan kapten tim basket yang baru dimulai. Junior terlihat tengah bertanding sengit untuk memperebutkan bola demi bisa menduduki posisi kapten. Mereka harus unjuk diri dihadapan pelatih agar bisa dicalonkan menjadi kapten tim basket yang baru.

Yoongi sedang berjalan menuju lapangan setelah kembali dari kantin membeli minuman dingin. Didepannya, terlihat Jimin yang sedang berjalan sendiri dengan wajah menatap kesamping, kearah lapangan basket berada. Terdengar sorak heboh dari siswa yang menonton dipinggir lapangan. Jimin menajamkan pandangannya kearah lapangan bahkan menghentikan langkahnya hanya untuk mencari seseorang.

"Mencariku?"

Jimin tersentak mundur saat suara berat yang cukup familiar ditelinganya terdengar. Didepan Jimin sedang berdiri Min Yoongi dengan wajah super menyebalkannya.

"Ya! Kau mau membuatku mati jantungan?" Jimin mengusap dadanya yang berdebar karena terkejut.

"Hanya begitu saja sudah mau mati" Yoongi tersenyum remeh. "Kenapa tidak menghubungiku?" Yoongi menatap lurus pada Jimin yang sedang menatap sangat kesal padanya.

"Buat apa aku menghubungimu, Yoongi sunbaenim?" Jimin balas bertanya dengan wajah sama menyebalkannya.

"Katanya ingin penjelasan" Yoongi menaikan satu alisnya.

"Sudah tidak berminat" Jimin mendengus dan berjalan melewati Yoongi

"Tidak berminat apa karena takut?" pertanyaan Yoongi membuat Jimin berhenti dan memundurkan langkahnya hanya untuk melihat Yoongi yang sedang menyeringai padanya.

"Aku? Takut?" Jimin mendengus dan tertawa sinis.

"Iya" Yoongi balas menatap tatapan tajam Jimin.

"Ya, Min Yoongi sunbaenim, kenapa juga aku harus takut padamu" Jimin menggelengkan kepalanya tak percaya.

"Kalau tidak takut, kenapa tidak menghubungiku?"

"Aku sudah tidak berminat. Ada yang tidak kau mengerti dari ucapanku?" Jimin berkacak pinggang, mulai kesal dengan tingkah Yoongi yang sembarangan menuduhnya.

"Kau hanya takut berduaan denganku" Yoongi menaikan alisnya, menatap remeh pada Jimin. "Kita ganti tempatnya, bagaimana kalau di café? Aku akan menjawab semua pertanyaanmu tanpa terkecuali" Yoongi menawarkan lagi, kepalanya bergerak miring seolah sedang melakukan scaning pada Jimin.

"Di apartemen, di café, di rumah, bahkan di surga sekalipun, aku tetap tidak berminat lagi"

"Well, pengecut ternyata" Yoongi terkekeh dan berjalan meninggalkan Jimin yang kepalanya terasa sudah berasap.

"Di café! Kau pikir aku takut apa?" Jimin berteriak kesal.

Yoongi berhenti. Wajahnya menyeringai. Dia menang.

Yoongi berbalik kearah Jimin yang masih berdiri dikoridor dan menatap Jimin lekat, perlahan kembali berjalan kearah Jimin. Yoongi menyerahkan pulpen pada Jimin yang diterima Jimin dengan kebingungan diwajahnya.

"Apa?" Jimin bertanya bingung.

"Tulis nomor ponselmu" Yoongi memajukan tangannya kedepan Jimin. "Tulis ditanganku" Yoongi menatap lekat pada Jimin.

Jimin tersenyum remeh. Menggeser telapak tangan Yoongi dan menarik lengan Yoongi untuk lebih dekat dengannya. Jimin menuliskan nomor ponselnya besar-besar di lengan Yoongi. Dilengan! Bukan ditelapak tangan.

"Menarik" Yoongi terkekeh saat Jimin menuliskan nomor ponselnya di sepanjang pergelangan tangannya sampai siku.

"Siapa tau matamu rabun, jadi aku menuliskan nomor ponselku cukup besar ditanganmu" Jimin tersenyum miring.

Yoongi tertawa kecil.

"Akan ku hubungi segera" Yoongi menarik pulpen ditangan Jimin dan berjalan kearah lapangan, meninggalkan Jimin yang sudah mencebik kesal dibelakang punggung Yoongi.

"Sok keren!" Jimin bersungut-sungut.

.

.

.

"Apa ini?" Namjoon mengernyit bingung dengan deretan angka ditangan Yoongi.

"Apa?" Yoongi balik bertanya.

"Ini nomor ponsel? Milik siapa?" Namjoon menarik tangan Yoongi untuk memastikan kalau deretan angka ditangan Yoongi memang benar merupakan nomor ponsel.

"Calon kakak iparmu" Yoongi terkekeh sendiri dan berjalan meninggalkan Namjoon yang masih saja kebingungan di pinggir lapangan.

.

.

.

TBC

Masih ada yang ingat ff ini ga si, kakak yorobun?