Ambu : Iya nih, Mbu... kayaknya gak ada konfliknya... Aih, mau dong ramuan penghilang WB-nya... Bilangin ke Sevvie ya! hihi..
Blacklicious : hahaha... iya, aku juga seneng ketemu yang sealmamater.. Aih, dirimu anak BEM ya, ikutan demo kemaren?? Aku seumur-umur jadi mahasiswa, baru sekali ikutan aksi. Sama anak Farmasi, lagi... Jangan2 waktu itu ketemu... Aku ngekost di ciseke kecil, belakang Le Qundil. Tau kan?? Dirimu ngekost juga jeng?? Suka nyusup di antara FIK dan FIKOM yah? Udah pernah nyobain makan di kantin FIK belum? Terkenal lho baksonya... hihi... malah tambah panjang ngobrolnya. dikepruks
Buat yang lain, makasih udah mereview...
Nih, chap yang agak panjangan. Enjoy!!
Disclaimer : Masashi Kishimoto. Duh!
--
A HinataNejiHanabi fic
AU, Very OOC
--
Family Love
--
3
"Baik-baik saja, Hinata? Kok mukanya ditekuk begitu?" Neji menanyai sepupunya khawatir ketika mereka sudah sampai di parkiran Konoha Land. Hanabi sudah berlari lebih dulu ke gerbang utama untuk mengantri.
"Enggak apa-apa kok, Nii-san," Hinata memaksakan senyum.
"Marah sama Hanabi?" tanya Neji sambil mengunci mobil tuanya.
Hinata menghela napas. "Hanabi terus saja memperolok Naruto-kun sejak dua hari yang lalu, Nii-san," katanya muram. "Padahal dia belum pernah bertemu dengannya. Menyebalkan. Kurasa Hanabi tidak suka aku berkencan."
Neji menaikkan alisnya sedikit, kemudian mendekati adik sepupunya itu dan merangkulnya sekilas, menepuk lengannya. "Mungkin Hanabi hanya cemburu, makanya jadi begitu. Dia tidak—maksudku, belum mau berbagi kakaknya dengan orang lain dan pastinya kesal ketika tahu ada orang lain selain dia dan Hiashi Ji-sama yang kau perhatikan. Um... lihat positifnya saja deh, itu berarti Hanabi sayang padamu," ucapnya bijak.
Hinata menatap sepupunya sejenak, kemudian tersenyum. "Benar juga, ya. Neji nii-san memang pinter."
"Iya dong. Kalau gak pintar mana mungkin terpilih jadi ketua senat," sahut Neji sambil menepuk dadanya sendiri, nyengir.
"Dasar!" Hinata meninju lengan sepupunya main-main sambil tertawa. "Er... maafin juga ya, Hanabi mengolok-olok mobil Nii-san," ucapnya kemudian.
"Tak apa."
"Memangnya gak kesel?"
Neji memasukkan kedua tangan ke saku jeansnya. "Yeah, kesel juga sih. Kan bagi cowok mobil itu punya arti tersendiri, seperti pacar kedua. Sakit hati juga kalau ada yang menghina. Tapi ya sudahlah. Mau gimana lagi. Kalau dibalas, bisa-bisa nangis dia."
Hinata mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian ia berjalan di samping sepupunya menuju gerbang utama. Namun tiba-tiba gadis itu menghentikan langkahnya, tangannya menahan lengan Neji. "Tunggu dulu," katanya sambil mengernyit. "Tadi Nii-san bilang 'seperti pacar kedua', berarti ada yang pertama dong."
Ekspresi wajah Neji mendadak berubah gugup dan ia melihat ke arah lain untuk menutupinya. "Memangnya aku ngomong begitu ya, tadi?"
"Berarti ada yang pertama, kan, Neji nii-san?" ulang Hinata bersemangat sambil menarik-narik lengan jaket Neji. "Siapa? Siapa?"
"Apaan sih, Hinata. Gak ada..." Neji mengelak, melepaskan tangan Hinata yang mencengkeram lengan jaketnya dan berjalan cepat-cepat ke arah Hanabi yang memang tengah melambai ke arah mereka di gerbang utama KoLand.
"Oh... ayolah Nii-san. Kan aku sudah cerita soal Naruto-kun padamu. Sekarang giliranmu memberitahuku. Siapa gadis itu? Teman kampusmu?" cecar Hinata sambil tertawa-tawa mengejar sepupunya.
"Enggak adaaa..."
"Ayolaaah... aku gak akan memperolokmu," bujuk Hinata lagi.
Neji berbalik menghadapi sepupunya. Kesalahan besar, karena Hinata langsung pasang tampang puppy-doy-eyes andalannya. Adik sepupunya itu memang ahli dalam hal seperti ini. Neji mengeluh pelan, menyerah.
"Yeah... sejujurnya memang... yah, teman kampus," ujarnya akhirnya. Hinata nyengir lebar. "Tapi dia bukan pacarku," ia menambahkan cepat-cepat. "Belum... tepatnya belum resmi jadi pacarku. Kami berteman. Yeah... seperti itulah."
Dan sebelum Hinata bertanya macam-macam lagi, Neji buru-buru kabur menghampiri adik sepupunya yang lain. Hanabi tampak kesal. Kedua lengannya terlipat di depan dada.
"Kalian lama banget sih? Lelet deh!" omelnya.
KoLand terletak di daerah dataran tinggi, tidak jauh dari Hi's Peak, gunung api yang terkenal keindahannya itu. Kalau kau memandang dari tepi tebing berpagar di dekat pintu masuk KoLand ke arah Utara menggunakan teropong koin yang sengaja disediakan, kau bisa melihat ke puncak Hi's Peak yang ditutupi salju dengan sangat jelas. Dan di sanalah sekarang Neji bersama kedua adiknya.
Hinata tengah duduk bersama adiknya di bangku taman, minum sari jahe yang mengepul sementara Neji mengintip lewat teropong ke arah Hi's Peak. Di sanalah teman-temannya berada. Bersenang-senang mendaki gunung. Atau berarung jeram? Ah, seandainya saja ia bisa ikut, bisa jadi kesempatan bagus...
"Nii-san ngapain sih ngeliatin ke sana terus dari tadi?" tanya Hanabi.
Neji menoleh pada kedua gadis itu. "Ah, tidak lihat apa-apa," sahutnya. Pemuda itu menjauhi teropong, mengambil gelas jahe hangatnya yang diletakkan di bangku dan menghirupnya sedikit. "Kalian mau makan sesuatu?"
"Gak ah, belum lapar," sahut Hanabi seraya meremas gelas plastiknya yang sudah kosong dan melemparnya ke tempat sampah. "Gimana kalau kita naik permainan saja? Nee-san kalau takut tunggu saja di sini," tambahnya pada Hinata.
Kekesalan Hinata terhadap adiknya meletup lagi. Memang biasanya kalau mereka pergi ke KoLand, Hinata lebih memilih menonton kedua saudaranya itu naik permainan menantang daripada ikut serta. Gadis itu memang agak takut, tapi tidak pernah mengakuinya, setidaknya tidak di depan adiknya. Tapi kali ini tidak. Hinata ingin membuktikan pada adiknya kalau ia bukan penakut.
"Tidak. Aku ikut," sahutnya sambil melempar gelasnya yang juga sudah kosong ke tempat sampah.
Hanabi memandang kakaknya dengan agak terkejut selama beberapa saat, kemudian mengangkat bahu dan berlari menuju wahana terdekat.
Neji melirik sepupunya, mengernyit. "Serius mau ikut? Tumben?"
Hinata membelalakkan mata. "Jangan meremehkanku, Neji nii-san! Aku suka tantangan. Ayo!" gadis itu menyusul adiknya. Neji menyusul di belakangnya, agak khawatir.
Selama beberapa saat Hinata menatap replika kapal besar itu dengan ngeri. Sebenarnya ia sudah puluhan kali melihat benda itu. Tapi rasanya lain kalau kau mau menaikinya, bukannya hanya menonton saja. Gadis itu menelan ludah.
"Gak apa-apa kalau kamu gak jadi naik," kata Neji, mengagetkannya.
"Oi Onee-san, Onii-san! Jangan berdiri saja di situ. Ayo naik, keburu penuh!" teriak Hanabi yang rupanya sudah bertengger nyaman di bangku paling belakang pada kedua kakaknya.
"Siapa takut!" sahut Hinata dengan suara melengking, lalu menyusul duduk di sebelah adiknya yang nyengir lebar di bangku belakang. Neji menyusul dan duduk di samping Hinata. Pemuda itu menahan tawa ketika melihat sepupunya itu mencengkeram pengaman dan tampak tegang, padahal belum dimulai.
"Santai saja, 'kay?" bisiknya menenangkan.
Gadis itu mengangguk tegang. Sementara itu di sebelah Hinata, Hanabi tampak sangat bergairah.
Hinata menahan napas ketika kapal mulai bergerak. Mula-mula lambat, tapi semakin lama semakin cepat. Gadis itu mual ketika tubuhnya meluncur ke bawah ketika kapal berayun mengerikan. Rasanya nyawanya masih tertinggal di atas. Ia menjerit keras-keras, memejamkan mata. Hanabi juga menjerit, tapi berbeda dengannya, jeritannya terdengar riang gembira, bukannya ngeri. Neji tertawa-tawa di sisinya yang lain.
"Hinata, coba lepaskan tanganmu! Angkat ketika kapalnya meluncur ke bawah!" teriak Neji di sela-sela suara gemuruh mesin.
Hinata membelalak ngeri menatap sepupunya seakan ia sudah gila. Bagaimana kalau jatuh?
"Gak apa-apa!" Neji meyakinkan. "Asyik kok!"
Takut-takut, Hinata melepaskan pegangannya dan mengikuti semua orang—orang-orang yang menurutnya sudah sinting karena menyukai permainan macam ini—mengangkat tangannya dan berteriak ketika kapal berayun.
"Aaaaargh!!"
Sebagai ganti pegangan pengaman, Hinata menangkap lengan Neji dan Hanabi, mencengkeramnya erat-erat.
"Nee-san apaan sih? Tanganku kan sakit," Hanabi memprotes beberapa menit kemudian setelah kapal gila itu akhirnya berhenti dan orang-orang mulai beranjak. Gadis itu mengusap-usap lengannya (ada bekas kuku di sana) dan menatap kakak perempuannya dengan jengkel.
"Udah... jangan memarahi kakakmu terus, Hanabi," tegur Neji sabar. Di lengannya juga tampak bekas kuku hasil cengkeraman Hinata. "Ayo turun."
Hinata beranjak dari sana tanpa protes, sementara adiknya sudah melesat menuju wahana permainan lain.
"Selanjutnya apa?" tanya Hinata setengah berbisik.
Neji mengangkat alis. "Jangan maksain diri. Mukamu sudah pucat begitu."
Hinata menggeleng kuat-kuat. "Enggak! Aku mau coba yang lain juga. Yang tadi itu... lumayan juga," ujarnya sebelum menyusul adiknya. Suaranya agak bergetar ketika mengatakannya tadi. Neji memutar bola matanya, lalu mengejar kedua adiknya.
Rupanya Hanabi sedang kelewat bersemangat hari itu. Ia melesat ke sana kemari dari satu permainan ke permainan lain tanpa henti. Menjerit senang saat permainan gila itu memutar-mutar, menjungkir balik, membanting, membanjur tubuh mereka. Dan menguap lebar ketika kakak perempuannya mengajaknya masuk istana boneka. Sementara Hinata sudah terengah-engah karena pusing dan mual, otot-otot kakinya menjerit minta istirahat. Neji hanya mengikuti mereka saja dengan santai, seakan tidak terpengaruh sama sekali dengan kegilaan di setiap permainan yang ia naiki.
Dua jam kemudian, Hinata sudah menghenyakkan diri di bangku taman tak jauh dari permainan terakhir yang mereka naiki, terengah-engah. Matanya berair. Rambutnya berantakan.
"Baik-baik saja, Hinata?" tanya Neji khawatir sambil duduk di sebelahnya.
Hinata mengangguk sambil mengatur napasnya.
"Haus nih!" kata Hanabi, mengibas-ngibaskan tangannya. "Mau beli minum gak?"
"Boleh juga," sahut Neji.
"Hinata nee-san mau gak? Biar kubelikan," Hanabi menanyai kakaknya. Hinata mengangguk lagi.
Hanabi mengulurkan tangannya.
"Eh? Apa?"
"Jangan lupa ya, kalau hari ini aku yang jadi tokoh utama. Jadi kalian harus bayar semuanya!" cetusnya.
"Kirain..." Neji mulai mengeluarkan dompet dari saku belakang jeansnya, tapi dihentikan Hinata.
"Biar aku saja. Neji nii-san kan sudah membayari tiket masuk. Aku yang bayar makanannya. Ingat?"
Neji memasukkan kembali dompetnya sementara Hinata merogoh ke dalam tas mungilnya, mencari dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Gadis itu mengulurkannya pada adiknya yang langsung melesat pergi tanpa mengucapkan terimakasih.
Neji menghela napas. "Dasar anak itu!"
Hinata hanya tertawa kecil sembari memasukkan kembali dompetnya dan mengeluarkan ikat rambut. "Aku gak nyangka secapek ini. Selama ini cuma menonton saja sih," katanya seraya mengikat rambutnya yang panjang. "Neji nii-san sepertinya sudah terbiasa, ya?"
"Yah, gimana gak terbiasa kalau setiap temanmu mengajak main kemari, kerjaannya menyeret-nyeretmu menaiki setiap permainan setidaknya masing-masing lima kali," jawab Neji santai.
Mata Hinata melebar. "Benarkah? Wah... hebat sekali temanmu itu."
"Yeah... Lee kadang-kadang kelebihan energi. Katanya mumpung masih muda. Kalau sudah bangkotan kan gak bisa menikmati permainan lagi. Terlalu sibuk dengan encok dan pegel linu," Neji tertawa. "Ya sudah, sekarang sebaiknya istirahat saja dulu," katanya sambil tersenyum.
Lima menit kemudian Neji mengangkat alisnya tinggi-tinggi ketika melihat seorang pemuda berambut pirang berantakan yang memakai tas punggung superbesar mengendap-endap mendekat dari arah belakang bangku. Pemuda pirang itu meletakkan telunjuk di bibirnya, memberi isyarat pada Neji agar diam. Neji yang bisa mengenali tanda garis-garis di pipi pemuda pirang itu, menahan keinginan untuk nyengir.
Kemudian pemuda itu mengatupkan tangannya, menutupi mata Hinata. Membuat gadis itu terkejut.
"Eee... siapa ini?" jeritnya gelagapan sembari berusaha melepaskan tangan pemuda itu yang menutupi kedua matanya, tapi tangan itu terlalu kuat.
Pemuda pirang itu terkekeh-kekeh tanpa suara di belakangnya.
"N-Neji Nii-san... ini siapa sih?" tanyanya. Yang ditanya tidak menjawab, malah memandangi kedua orang yang tengah berkutat itu dengan pandangan geli. Hinata dengan putus asa meraba-raba tangan itu, mencoba mengenali. Hanabi? Gak mungkin. Tangan Hanabi gak sekasar ini... Neji nii-san? Gak mungkin. Dia kan duduk di sampingku dari tadi... Sebelum akhirnya mencubit tangan itu sekuat tenaga.
"Aadaawwww!!" si pemuda pirang mendengkik keras, melepaskan cengkeramannya dan mengibas-ngibaskan tangannya yang baru dicubit Hinata, meringis kesakitan. "Sakit, Hinata-chaaaan..."
"N-Naruto-kun?!" Hinata berseru kaget.
"Halo, Sweetheart..." ucap Naruto sambil nyengir lebar, praktis membuat wajah Hinata merah padam. Ia menghenyakkan diri di samping gadis itu, melepaskan tas punggungnya yang kelihatannya berat. "Surprise lho ketemu kamu di sini."
"Aku juga," sahut Hinata. "Naruto-kun sedang apa di sini? Aku kira ada latihan karate hari ini."
Naruto menghela napas panjang. "Tadinya memang seperti itu. Tapi berhubung Kakashi-sensei iseng banget nonton bola sampai pagi, meriang deh dia sekarang, gak bisa ngelatih. Dojo diliburin."
"Ooh... Terus sekarang sendirian aja?"
Naruto menggeleng pelan sambil pura-pura meregangkan tubuh, kemudian meletakkan lengannya ke punggung bangku sehingga tampak seperti merangkul Hinata. "Gak juga. Tadinya bareng yang lain. Biasalah, Sasuke, Sakura dan Ino juga. Aku ketemu mereka di jalan waktu habis belanja titipannya Kakashi sensei, si Chouji dan Kiba. Kayaknya sih si Teme sama Sakura mau kencan tapi ada si Ino, jadinya mereka ngajakin aku deh, biar Ino gak jadi kambing congek. Dari pada ngurusin orang pada sekarat di kosan bareng si Shino yang pundungan itu, mending aku ikut mereka aja, mumpung gratisan. Eh, gak taunya pas nyampe di sini ketemu Sai. Jadilah aku sendirian sekarang..."
Meanwhile... di kos-kosan milik Kakashi...
"ACHHOOOO!!"
Shino menggosok-gosok hidungnya, kemudian memperbaiki posisi kacamatanya yang miring gara-gara bersin.
"Kemana si Naruto sial itu? Katanya belanja, tapi belum balik-balik juga," ia melirik jam dinding di dapur dengan sebal.
"Oi, Shino!! Cepetan pepayanya!!" teriak Kiba dari kamarnya.
"Bentar!!" sahut Shino. "Berisik banget sih… seenaknya saja main perintah.." gerutunya sambil mengambil pisaunya lagi dan mulai mengupas pepaya yang baru dibelinya dari tukang pepaya yang kebetulan lewat.
"Si Naruto kemana sih? Udah jamnya Akamaru makan nih!!" teriak Kiba lagi. Dia memang tadi nitip makanan anjing pada Naruto.
Shino tidak menjawab, masih tekun mengupasi pepaya sambil menggerutu pelan, "Masih mikirin Akamaru saja. Bukannya mikirin pencernaannya yang macet."
"Oi, Chouji!! Daging bistik yang di kulkas itu punyamu, kan? Boleh buat Akamaru, ya.."
"Enak aja. Gak boleh!!" Chouji balas teriak dari kamarnya sendiri, yang berseberangan dengan kamar Kiba.
Akamaru menyalak riang dari luar. Dia sedang main dengan anjing tetangga. Sepertinya dia baik-baik saja.
Lalu terdengar erangan keras. Chouji melesat tergopoh-gopoh melewati Shino menuju kamar mandi yang letaknya memang di dekat dapur sambil memegangi perutnya yang bergejolak. Mukanya meringis.
Tujuh kali… Shino menghitung dalam hati sambil geleng-geleng kepala. Siapa suruh kebanyakan makan sambel?
"Shino, tar kamu beliin diapet di warung sebelah ya. Naruto kelamaan nih!" rintih Chouji sebelum menutup pintu kamar mandi.
Sebelum Shino sempat menjawab, Kakashi muncul dari pintu dapur. Tampangnya pucat dan lemas.
"Kamu masih punya balsem kan? Setelah ini kamu kerokin saya, ya..." katanya. Lalu berbalik tanpa menunggu jawaban salah satu anak kost-nya itu.
Shino langsung bersungut-sungut. "Shino, beliin pepaya. Shino, kupasin pepayanya. Shino, beliin diapet. Shino, tolong kerokin… Shino Shino Shino… Aaakh… Cepetan pulang, Narutoooo…"
"Shino, pepayanya manaaaaa??"
"BERISIK!!"
"Ooh... memangnya Chouji-kun sama Kiba-kun kenapa? Kok bisa sekarat?" tanya Hinata lagi.
Naruto menyeringai lebar. "Chouji kena menwa (menwa; mencret wae, bukan resimen mahasiswa XD) gara-gara salah makan. Kalau Kiba kena YNP."
"YNP?" Hinata bingung.
Naruto meledak tertawa. "YNP, You No Poo alias konstipasi alias sembelit. Emang enak. Gitu tuh akibatnya kalo dapet makanan gratis gak bagi-bagi..." (Yang suka Harry Potter pasti tahu You No Poo! (mendadak mojok, nangisin Fred)).
Hinata tersenyum simpul. Bertemu Naruto membuat rasa lelahnya mendadak hilang. Tapi kemudian ia tampak terkejut, seolah baru teringat sesuatu. ('Kasihan sekali aku ini. Dilupakan begitu saja...' batin Neji) "Oh iya, Naruto-kun. Sampai lupa. Kenalin, ini kakak sepupuku, Hyuuga Neji," ia memperkenalkan Naruto pada sepupunya. "Neji nii-san, ini Naruto, Uzumaki Naruto."
"Yo, Neji!" sapa Naruto sok akrab, seolah mereka sudah saling kenal lama, sambil mengulurkan tangan. "Hinata sering cerita tentangmu. Dia sering membangga-banggakanmu lho..."
"Salam kenal, Naruto. Hinata juga sering bercerita tentangmu," Neji menyambut uluran tangan Naruto. Mereka bersalaman.
"OOIII... NEJI-KUUUUN!!"
Neji terlonjak demi mendengar teriakan yang sudah sangat akrab di telinganya itu. Ia dan dua yang lain menoleh ke arah suara berasal. Neji agak terkejut mendapati manusia berpakaian serba hijau kecuali celana PDL hitamnya, Lee, dan teman-temannya yang lain berkumpul tak jauh dari tempat mereka, melambaikan tangan. Bukannya mereka sedang di Hi's Peak? Ngapain mereka di sini?
"Hai!" Neji balas melambai sementara teman-temannya mendekat. "Aku kira kalian mendaki di Hi's Peak."
"Yah, maunya sih begitu," jawab seorang gadis berambut cokelat ala Sailor Moon sambil tersenyum. "Tapi ternyata gak dibolehin sama kuncennya, katanya lagi banyak awan. Jadinya kami hanya melihat-lihat air terjun deh," ia menunjukkan bagian ujung jeansnya yang agak basah. "Terus dari pada pulang gak ngapa-ngapain, jadi kami memutuskan main kemari. Lee tuh semangat banget. Oh, halo, kamu pasti Hinata," sapanya pada Hinata seraya mengulurkan tangan.
Hinata menyambut uluran tangan gadis itu, menatapnya agak bingung.
"Neji pernah memperlihatkan fotomu," lanjut si gadis bercepol menjawab kebingungan Hinata. "Ternyata lebih cantik aslinya, ya," ucapnya membuat wajah Hinata merona.
"Sudah kubilang kan, keluarga Hyuuga tuh terkenal cantik-cantik dan ganteng-ganteng!" seru Lee sambil sedikit menyikut si gadis bercepol untuk mendekati Hinata. "Yo! Namaku Rock Lee. Masih saudara sama Bruce Lee dan Jet Lee. Hehehe... bercanda ding! Salam kenal, Hinata-chan!" ia meraih tangan Hinata sok akrab, menjabatnya agak terlalu bersemangat sehingga tubuh Hinata ikut berguncang-guncang. "Kita semua teman-teman sekampus sepupumu. Yang bercepol itu namanya Tenten, yang rambutnya pirang di sana namanya Temari, cowok yang pake bandana itu senior kami, Izumo senpai dan yang di sebelahnya Kotetsu senpai, senior juga. Yang lainnya masih banyak, tapi udah pada mencar. Masih ada Gaara, adiknya Temari, Shikamaru dan banyak deh!"
"Eeeh... udah-udah! Kelamaan!" seru Naruto sambil melepaskan paksa tangan Lee yang masih memegang tangan Hinata.
"Kamu Uzumaki Naruto, kan? Muridnya Hatake Kakashi?" tanya Lee padanya.
Naruto mengangakat alis. "Benar. Kenapa memangnya?"
"Ooooh... gurumu saingan berat guruku, Gai-sensei. Tapi tentu saja Gai-sensei lebih hebat..." koar Lee.
"Eeeeh... enak aja. Kakashi-sensei lebih hebat!" Naruto tak mau kalah.
Sementara Lee dan Naruto mulai beradu argumen tentang siapa yang lebih kuat di antara kedua guru karate itu, Neji menoleh pada yang lain.
"Temari, Kankuro tidak ikut?" tanyanya sementara matanya mengikuti Tenten yang sedang bicara dengan Izumo dan Kotetsu.
"Hei, kalau ngajak orang ngomong, ngeliatnya jangan kemana-mana dong. Kebiasaan. Tersinggung nih," kata Temari sambil menggelengkan kepala. Neji buru-buru mengalihkan matanya dan menggumamkan maaf. "Gak, dia gak ikut. Lagi sibuk dia. Baru dapet pesanan boneka besar-besaran dari TK Harapan Konoha, sekalian nyiapin proposal sponsor buat diajuin ke Sasori Corps. Tahu kan, perusahaan boneka? Buat acara Kosmik nanti."
"Hn," Neji mengangguk-anggukkan kepala. "Nah, terus kenapa si Gaara ikut? Katanya yang udah senior aja yang ikut."
Temari memutar bola matanya. "Kaya gak tau aja kelakuan adik-adikku itu. Begitu tahu Shikamaru ikut, Kankuro langsung nyuruh Gaara ikut juga. Tuh sekarang Gaara lagi nempel Shikamaru kemana-mana, mastiin dia gak dekat-dekat aku."
"Neji?" sela Tenten. Izumo dan Kotetsu sudah menghilang entah kemana. Neji otomatis menoleh padanya. "Biasanya bertiga kan? Mana sepupumu yang satu lagi?" tanyanya tepat ketika Hanabi muncul. Tangannya memeluk tiga kaleng soda. Gadis itu melongo ketika mendapati banyak orang nambah di tempat kedua kakaknya duduk tadi.
Mata Hanabi dengan cepat mengenali pemuda pirang yang duduk di sebelah kakak perempuannya, yang tangannya setengah merangkul Hinata sementara ia mengobrol dengan pemuda berambut ngebob abis berjaket hijau cerah. Gadis itu berjalan cepat menuju kakaknya.
"Aduh, capek nih! Geser geser geser..." ia menyelip duduk di antara Naruto dan Hinata dengan kasarnya. Memaksa Hinata berseger ke samping Neji sementara Naruto nyaris terjengkang dari bangku.
"Oi, hati-hati dong!" dengking Naruto, berpegangan pada punggung bangku supaya tidak jatuh.
"Hanabi-chan!" seru Hinata kaget.
Hanabi menyeringai pada kakaknya sebelum kemudian mendelik galak pada Naruto. "Kamu pasti yang namanya Uzumaki, kan?"
"Dan kamu pasti adiknya Hinata-chan, kan? Hanabi?" balas Naruto. "Kok gak mirip ya?"
Hanabi mencibir, menoleh kembali pada kedua kakaknya sambil menyerahkan minuman mereka. Kemudian mengalihkan perhatiannya pada teman-teman Neji sambil mengangkat alis.
"Mereka teman-temanku," kata Neji memperkenalkan. "Temari, Tenten dan Lee. Teman-teman, ini Hanabi, sepupuku, adiknya Hinata."
Ketiga orang itu tersenyum, yang dibalas Hanabi dengan anggukan angkuh. Mereka sweatdrops.
"Mirip Neji kalau lagi di kampus, ya?" bisik Temari pada Tenten. Mereka mengikik tertahan.
"Nee-san, Nii-san, main lagi yuk. Kita belum naik yang itu!" seru Hanabi beberapa menit kemudian, setelah ketiga kaleng soda tandas, seraya menunjuk ke arah benda meliuk-liuk tinggi tak jauh dari tempat mereka. Yang antriannya paling panjang. Hinata menelan ludah. Jet coaster.
"Oooh! Kami juga belum naik itu!" teriak Lee paling semangat. "Bagaimana kalau bareng saja?"
Hanabi mengacuhkannya. Ia melompat berdiri sambil menarik tangan Hinata dan Neji. Tampang keduanya pasrah.
"Aku boleh ikut, kan?" tanya Naruto.
Hanabi langsung mendelik padanya sebelum menyeret kedua kakaknya untuk mengantri. Naruto sweatdropped. Tapi dengan cuek mengikuti mereka.
"Ayo, cewek-cewek! Kalian juga harus ikut!" seru Lee gak peka sambil merangkul kedua gadis lainnya, membawa mereka mengikuti ketiga Hyuuga dan Naruto.
--
TBC…
Gomen kalau mengecewakan, yah...
Review, please...
