MASUK READINGLIST-DAFTAR BACAAN WAJIB VOTE SEMUA CHAPTER!

STUN OF LOVE

Warning: OOC, TYPOS, CRACKED- PAIR, etc

Pair : SASUHINA

Rate: T+/M

Genre : Romance, Hurt/comfort

Disclaimer: Naruto © Belonging Masashi Kishimoto

DON'T LIKE DON'T FLAME

DON'T LIKE DON'T READ

DON'T LIKE DON'T COMMENT


Two


Brak!

Sasuke melemparkan berkas yang tadi diberikan Hinata pada Itachi. "Kenapa kau tidak mengatakan jika Power Plant Manager itu seorang perempuan!?" tanya Sasuke dengan kesal. Sasuke mengempaskan tubuhnya ke atas sofa di samping tempat tidur Itachi.

Itachi menaikkan tempat tidurnya hingga posisinya berubah menjadi setengah duduk. "Meskipun seorang perempuan, dia kompeten dan bertanggung jawab." Itachi mulai membaca berkas yang diberikan Sasuke. Wajah Itachi yang memang pucat semakin pucat karena sakit, sekarang wajahnya berkali-kali lipat lebih pucat karena tingkah adiknya.

Sasuke hanya mendengkus lalu melonggarkan dasinya, "Kau juga tidak mengatakan jika Power Plant Manager itu sudah memiliki anak."

"Tunggu! Kenapa kau terlihat kesal seperti itu? Okay aku tahu tadi pagi kau kesal karena terpaksa mendatangi rapat itu. Tapi, sekarang kau terlihat lebih kesal mengetahui Hinata memiliki anak."

Lagi-lagi Sasuke hanya mendengkus dan mengacak rambutnya yang sudah berantakan. Sasuke sudah menyuruh Kakashi pergi dan mengatur ulang jadwalnya, jika Kakashi masih berada di sana pasti dia akan mengomentari tingkah Sasuke. "Aku berpikir untuk mendekatinya," ujar Sasuke jujur.

"HUH?!" seru Itachi, "kau tidak terbentur sesuatu saat rapat tadi 'kan?"

"Tentu saja tidak!" balas Sasuke, "aku masih tidak menyangka dia sudah memiliki anak." Sasuke masih ingat jelas bagaimana rupa anak itu, rambutnya begitu mirip dengan Hinata, hanya saja bola matanya berwarna biru.

"Hinata memiliki anak... " gumam Itachi, "tunggu! Hinata masih single! Dia bahkan tidak memiliki kekasih!"

"Benarkah?" Sasuke langsung menegakkan duduknya.

"Saat kuliah di Berkeley, Hinata hanya fokus dengan kuliahnya. Dia bahkan menjauhiku saat aku menyapanya." Itachi menjeda, "Aku baru bisa mendekatinya saat ia tahu aku juga berasal dari Konoha."

"Tunggu! Kau satu kampus dan satu angkatan dengan Hinata?"

"Kau sudah memanggil dengan nama kecilnya," ujar Itachi menggoda Sasuke, "kami beda jurusan, aku bisnis dan dia teknik. Tapi dia seumuran denganmu."

"Kenapa kau tidak pernah bercerita memiliki teman yang cantik?"

"Untuk apa? untuk kau tiduri?" tanya Itachi sinis.

Sasuke mengerang, track recordnya meniduri wanita sudah menjadi rahasia umum di dunia hiburan. Para model dan aktris berebut untuk bisa tidur dengan Sasuke walau hanya satu malam.

"Kenapa kau berpikir jika Hinata sudah memiliki anak?"

"Tadi seorang anak kecil masuk ruang rapat dan memanggil Hinata kaa-san."

Itachi mengerutkan alisnya lalu menandatangani lembar pernyataan dan persetujuan. "Apa Hinata hamil di luar nikah?" Sasuke membelalakan matanya mendengar ucapan Itachi. "Tapi sepertinya tidak mungkin, Paman Hiashi pasti sudah memenggal kepala Hinata."

"Ck! Kau tidak membantu!" Sasuke bangkit dari sofa.

"Ambil ini." Itachi menyodorkan map yang tadi Sasuke berikan, "Kau bisa mencari tahu tentang Hinata, aku masih belum bisa pergi ke mana-mana. Besok aku harus melakukan transfusi darah lagi, setelah transfusi darah aku masih harus perawatan satu minggu dan bed rest satu bulan."

Sasuke mengambil map itu sambil menyeringai. "Kuharap kau tidak menghalangiku mendekati Hinata."

"Sasuke," panggil Itachi sebelum Sasuke menutup pintu ruang rawatnya.

"Hn?"

"Kau harus mengatur ulang jadwalmu karena kau akan sering pergi ke kantor Hinata."

"Tak masalah." Sasuke pun menutup pintu ruang rawat Itachi.

STUN OF LOVE

Hinata menjatuhkan kepalanya ke atas meja kerjanya yang besar. Embusan napas berat terus ia ulang. Rapatnya dengan para investor selama satu setengah jam cukup menguras energi dan emosinya.

Tidak masalah jika ia diremehkan oleh orang-orang, mereka masih belum bisa percaya dan belum bisa menerima Hinata sebagai power plant manager perusahaan listrik milik negara Jepang. Sterotype yang ada di masyarakat mengatakan jika dunia engineering hanya diisi oleh para lelaki.

Saat masih kuliah pun 90% kelasnya diisi oleh laki-laki. Hinata yakin di dunia ini pasti banyak wanita yang masuk jurusan engineering, tapi mereka lebih menjadi pegawai negeri, dosen, guru, atau pegawai bank. Jika saja mereka mau bekerja seperti Hinata, bisa saja Hinata membuat perserikatan engineering perempuan untuk menghapus sterotype yang ada di masyarakat.

Usianya 27 tahun dan akan masuk 28 akhir tahun ini. Dia seharusnya sudah menjadi ibu rumah tangga yang bahagia dengan anak balita dan suaminya di rumah. Tapi kenyataannya Hinata malah terjebak di kantornya setiap hari hanya untuk mempehatikan grafik produksi listrik yang terus bergerak naik turun –walau lebih sering naik-.

Hinata tidak pernah patah hati hingga membuatnya enggan membuka hati. Hanya saja Hinata tidak memiliki waktu untuk berkencan dengan laki-laki. Jangankan berkencan, untuk bisa tidur nyenyak pun sulit rasanya.

Untuk kesekian kalinya Hinata mengembuskan napas dengan berat. Hinata membuka matanya dan menatap sebal pada Ryuuki. Anak itu masih asyik dengan ice cream cokelat di tangannya.

"Sudah berapa kali baa-san katakan untuk tidak memanggil kaa-san pada baa-san?" tanya Hinata.

"Hmm... " gumam Ryuuki tidak jelas.

Tidak ada gunanya berbicara pada anak kecil yang belum mengerti keadaan sekitarnya. Bisa-bisa laki-laki yang mendekatinya menjauh perlahan karena mengira Hinata sudah memiliki anak, keponakannya yang menyebalkan itu sering memanggilnya kaa-san di tempat umum.

"Sepertinya aku tidak akan pernah bisa menikah," keluh Hinata sambil memejamkan matanya.

Teman-teman SMA dan kuliahnya sudah banyak yang menikah, bahkan sudah memiliki anak. Sedangkan Hinata, jangankan menikah dekat dengan laki-laki saja tidak. Padahal tempatnya bekerja saat ini diisi 80% oleh laki-laki, para perempuan hanya bekerja di bagian back office dan itu pun bisa dihitung jari.

Laki-laki di tempatnya bekerja sepertinya sudah tidak tertarik dengan wanita. Yang berhasil menarik perhatian mereka hanya kabel, boiler, generator, sutet, dan sejenisnya. Ada beberapa dari mereka yang terlihat tertarik pada Hinata, tapi mereka mundur perlahan karena merasa malu dengan jabatan Hinata sebagai 'Bos Besar'.

"Kau lapar?" tanya Hinata pada Ryuuki. Ini sudah memasuki jam makan siang, meskipun Hinata kesal dipanggil kaa-san oleh Ryuuki tapi ia tetap menyayangi keponakannya itu.

Ryuuki mengangguk dengan antusias, "Aku ingin makan Chicken Karage!"

Hinata mengangguk lalu menelepon seseorang untuk mengantarkan makanan, Hinata bahkan sudah tidak memiliki energi untuk sekadar turun ke kantin.

Sambil menunggu makanan pesanannya diantarkan, Hinata menyalakan Macbook-nya. Selelah apapun Hinata harus tetap memeriksa produksi listrik setiap waktu. Ice cream di tangan Ryuuki sudah habis, anak berusia lima tahun itu mendekati meja Hinata.

"Kenapa kau mendatangi kantor baa-san?" tanya Hinata tanpa mengalihkan perhatiannya dari grafik yang bergerak naik.

"Katanya kaa-san pergi ke Suna lagi, lalu mengantarku kemari," jawabnya polos.

Hinata menghela napas, adiknya –Hanabi- selalu menitipkan anaknya pada Hinata saat mendadak harus pergi ke luar kota.

"Pengasuhmu ke mana?"

Ryuuki mengangkat bahu lalu berusaha naik ke atas meja dan menjatuhkan alat tulis dan buku-buku Hinata yang sudah disusun rapi. Hinata ingin menjerit tapi ia menahannya.

Ryuuki adalah anak dari Hanabi dan Toneri, mereka bercerai saat Ryuuki baru saja berusia enam bulan. Tentu saja Hanabi mendapat hak asuh Ryuuki, Hanabi juga tidak melarang Toneri untuk menemui putra semata wayangnya. Hanabi dan Ryuuki tinggal dengan ayah Hinata, sedangkan Hinata tinggal di rumah dinas yang tidak terlalu jauh dari kantor.

Ibu Hinata meninggal saat Hinata masih duduk di sekolah menengah pertama. Setelah kehilangan sang istri yang teramat ia cintai, ayah Hinata seperti kehilangan jiwanya. Bahkan Hiashi pernah masuk panti rehabilitasi, sebelum akhirnya bisa berdamai dengan dirinya dan menerima kenyataan.

Hinata takut jika pada akhirnya Hinata seperti Hanabi, berakhir dengan perceraian. Tapi, Hinata lebih takut seperti ayahnya, Hinata takut jika anaknya nanti tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup karena kehilangan salah satu orang tuanya.

"Permisi."

"Masuk!" ujar Hinata dari dalam ruangan.

Seorang office boy mengantarkan makan siang Hinata, "Simpan di atas meja." Perintah Hinata. Office boy itu pun pamit. Sedetik kemudian terdengar jeritan menggema dari ruangan Hinata. Jelas sekali itu jeritan Hinata karena Ryuuki tiba-tiba saja menutup laptop Hinata.

STUN OF LOVE

Sasuke mengipaskan tangannya, keringat mengucur melewati pelipis hingga lehernya. Kaus hitam lengan pendek yang ia kenakan pun sudah basah oleh keringat.

Saat ini Sasuke sedang melakukan syuting film terbarunya di pantai Konoha. Cuaca yang cerah memang mendukung pengambilan gambar, tapi keringat di sana-sini benar-benar mengganggu.

"Sasuke-kun," panggil Shion dengan manja.

Sasuke mendengkus dan menepis tangan Shion yang menyentuh bahunya. "Ada apa?" tanya Sasuke, "bukankah sutradara mengatakan jika syuting sudah selesai? Apa urusanmu?"

Shion memberengut lalu duduk di depan Sasuke, Shion sengaja mengangkat sebelah kakinya yang hanya ditutupi kain yang melingkar di pinggangnya. Tubuh atas Shion hanya ditutup bikini berwarna kuning seperti rambutnya.

"Malam ini kau ada waktu?" tanya Shion.

"Ada apa?" ulang Sasuke.

"Temani aku ke club, malam ini," pinta Shion dengan nada manja.

"Tidak. Aku lelah." Sasuke bangkit menuju mobilnya.

Syuting hari ini sudah selesai, Sasuke bisa pulang ke apartemennya yang tidak jauh dari pantai.

"Sasuke... ayolah ada apa denganmu?" Shion bergelayut pada lengan Sasuke.

"Lepaskan tanganku!" dengan sekali sentak Shion melepaskan tangan Sasuke. "Aku lelah, masih ada urusan."

"Kau bisa melepas lelah di ranjangku."

Ah! Kebiasaan Sasuke, setelah lelah beraktivitas ia akan menghabiskan malam di diskotik dan berakhir di ranjang salah satu wanita pelacur yang menemaninya di diskotik. Beberapa bulan lalu, Shion sempat tidur dengan Sasuke. Setelah itu Shion selalu mencari kesempatan untuk bisa kembali tidur dengan Sasuke.

Tapi Sasuke selalu menolak tawaran Shion, karena menurutnya Shion sudah longgar.

Bukan hal yang aneh di dunia hiburan jika seorang wanita rela tidur dengan produser, sutradara atau aktor demi mendapatkan peran dalam sebuah film. Atau sekadar ingin membuat namanya melejit dengan membuat gosip yang langsung dilahap oleh media.

"Hey! Sampai kapan kau ingin berdiri di sana?!" Seru Kakashi sambil membawa minuman untuk Sasuke.

"Kita pergi sekarang." Sasuke langsung menyambar minuman di tangan Kakashi.

"Hai Shion, kau sedang apa?"

"Hai Kakashi-san, aku sedang mengajak Sasuke ke club malam ini." ujar Shion, "tapi anakmu ini menolak ajakanku." Seperti itulah para artis akan dianggap anak sang manager.

"Ah! Anakku ini sudah ada acara setelah syuting." Kakashi merangkul bahu Sasuke.

Sasuke segera menjauhkan tangan kakshi dan membuka pintu penumpang. Sebuah map tersimpan manis di atas jok.

Sudah dua hari, Sasuke sibuk syuting hingga lupa untuk mengembalikan berkas yang diberikan Hinata. Sasuke melirik jam tangan yang melingkar pada tangannya, masih ada waktu sebelum jam pulang kantor.

"Kakashi, kita pergi ke perusahaan listrik."

Kakashi menaikan sebelah alisnya tapi ia tetap menurut, setelah berpamitan pada Shion, Kakashi pun masuk ke dalam mobil dan mulai meninggalkan lokasi syuting.

TBC

Karena aku mau pergi ke BTC, jadi aku update pagi banget wkwkwk, kuy orang Bandung yang mau ketemuan hehehehe. Nah kan udah kejawab anak siapa itu. Aku ngambil kisah Hinata dari novel If You Could See Me Now dari Cecelia Ahern, Cuma aku edit enggak persis banget novel itu. Pasti berat banget adik udah duluan nikah dan punya anak tapi bercerai dan kakaknya terpaksa jadi pengasuh anaknya.