Chapter 3
Sebelumnya saya mohon maaf karena lagi-lagi harus mengingkari janji. Seharusnya fanfic ini tamat di chapter 3 tapi ketika dilihat ulang sepertinya malah terlalu panjang. Di chapter ini Son dan kawan-kawan menyanyikan lagi berjudul Harmonious, silahkan kalau mau disetel sambil dihayati. Ada juga kelakuan kurang ajar yang diperlihatkan Son bersama kedua temannya tersebut mohon untuk tidak ditiru. Terima kasih atas pengertiannya.
Sore Hari di Terminal Cora
"Waduh sore-sore malah datang badai." Keluh Park ketika melihat cuaca diluar "Bisa-bisa gak bisa pulang, nih."
"sabar aja. Biasanya badai kayak gini gak lama kok. Paling banter Cuma 2 jam." Ucap Yusuke sambil memakan cokelat batangan miliknya. "Nih, mending minum cokelat panas buatanku saja biar gak kedinginan." Kata Yusuke menuangkan cokelat panas dan menaruhnya dilantai. Park pun ikut nimbrung bersama kedua temannya.
"Ngomong-ngomong minum cokelat panas sambil main musik kayaknya mantap, nih." Kata Park.
"ide bagus, tuh" balas Yusuke sembari mengeluarkan gitarnya.
"Eh, emang kalian bisa maen lagu?" Son tampak antusias dengan ide bermain musik.
"Tentu saja. Aku dan Yusuke sering bermain musik. Apalagi Yusuke jago banget maen gitarnya." Giliran Park yang mengeluarkan alat musik berupa bass. "Apa kau juga bisa bermain musik?"
"Yah, lumayanlah. Cukup jago urusan main drum." Son tidak mau kalah dengan mengeluarkan mini drum.
"Wih sempurna banget, nih. Pemain drum sudah ada. Langsung aja kita mau nyanyi lagu apa, nih?" Park mengambil buku tebal yang berisi lirik-lirik lagu.
"Hm, kayaknya kalo lagi suasana begini enaknya nyanyi lagu yang mellow-mellow, deh. Gimana kalau lagu Harmonious." Usul Yusuke.
"Wow, bagus tuh. Lagunya dari anime . liriknya tuh dalem banget." Son paling semangat ketika Yusuke menyebutkan judul lagu.
Park pun setuju dan menreka mulai memainkan lagu. Kebetulan suasana di terminal sedang sepi jadi tidak akan ada yang terganggu. Di band kecil-kecilan ini Park bertindak sebagai vocalist merangkap bassist, Yusuke sebagai gitarist dan Son sebagai drummer.
Jreng! Jreng! Jreng! Jreng!
Dem! Dem! Dem! Dem!
"Kirameku kakera furisosogu sora ni."
"Mirai tsunagu door kakushita."
"Hountou wa daremo mina."
"Kizutsuku to osoreteru."
"Nanika wa mamoru tame."
"kowasu tame ni bokura wa."
Reff:
"Deatta no."
"Yozora wa omoi wo koette."
"Utshushidasu sore wa."
"Hikari no michishirube."
"Kanashii ketsui wa."
"Amega naderu daraou."
"Yurushiau tsuyosa oshiete hoshii."
Jreng! Jreng! Jreng! Jreng! Jreng!
Dem! Dem! Dem! Dem! Dem!
"Douka aisuru koto wasurenaide."
"Douka sono keshiki wo kesanaide."
Back to Reff:
"Harmonious."
"Omoi wa yozora wo koete."
"Utshushidasu sore wa."
"Hikari no michishirube."
"Kanashii ketsui wa."
"Ame ga naderu darou."
"Yurushiau tsuyosa oshiete hoshi."
Jreng! Jreng! Jreng! Jreng! Jreng!
Dem! Dem! Dem! Dem! Dem!
Tidak terasa sudah 5 jam mereka bernyanyi. Badai salju yang tadi sore menyerang kini sudah berhenti. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Suasana di terminal tidaklah ramai. Sedari tadi hanya ada beberapa prajurit dalam rentang waktu 5 jam.
"Selamat malam kepada calon penumpang pesawat. Pesawat transportasi dengan tujuan area kependudukan Alliance telah sampai di Terminal Ether. Pesawat akan kembali lepas landas dalam waktu 30 menit. Terima kasih."
Terdengar adanya pemberitahuan yang disampaikan lewat speaker. Son dan kwan-kawan merapihkan perbekalan mereka untuk pulang ke markas. Setelah membuat laporan misi, son .cs pergi ke loket untuk membeli tiket.
"Selamat malam, mbak." Sapa Son diikuti dengan anggukan kepala dan senyum.
"Selamat malam, pak. Ada yang bisa saya bantu?" jawab sang petugas loket yang seorang perempuan.
"Oh ada, mbak. Ngomong-ngomong disini dagang apaan, ya?" tanya Park yang entah sengaja atau beneran gak tahu.
Si petugas loket yang tadinya tersenyum ramah perlahan senyumnya mulai memudar. Tapi dia berusaha untuk profesional. "Seperti yang mas-mas tahu. Disini adalah loket pembelian tiket pesawat kembali ke arena kependudukkan. Jika tidak membeli tiket maka tidak bisa pulang."
"Oh iya, ya? Saya baru sadar kalo ada tulisannya diatas." Kata Park yang mungkin sedang bercanda. Son yang berada disampingnya hanya bisa bersweet drop ria. Sedang Yusuke biasa-biasa saja seolah itu hal lumrah yang biasa terjadi.
"Yaudah, mbak. Kita pesen tiketnya 3 lembar. Berapa duit, mbak?"
"Total semuanya jadi 750.000 Disena. Mau bayar pakai tunai atau kartu?"
Park dan kedua temannya langsung mengeluarkan uang dari masing-masing kantong. Ironisnya, uang yang dikeluarkan semuanya dalam bentuk koin pecahan 100 perak. Alhasil sang petugas loket pun haruns menghitungnya satu persatu. Setelah jumlahnya pas, tiket pun langsung dikasih.
Setelah Son dan kedua temannya berlalu, sang petugas loket bergumam "Ketahuan, nih. Kayaknya mereka orang kampung yang baru pertma kali ke Ether."
Son dan Park lebih dulu masuk ke pesawat, sementara Yusuke terlebih dahulu membeli beberapa snack dan minuman ringan. Disaat ia hendak menyusul, tanpa sengaja pandangannya tertuju ke salah satu sudut terminal. Disana dia melihat ada seorang gadis seusianya sedang duduk bermain gitar. Ekspresi gadis itu terlihat datar dengan pandangan ke bawah.
Tapi ada sesuatu yang mengerikan pada diri gadis berambut hitam tersebut. Tepat dibelakangnyaada sosok makhluk hitam yang berdiri seperti menjaganya. Makhluk itu memiliki ciri-ciri bersayap kelelawar dan berkepala serigala.
"Siapa gadis itu dan….apa makhluk yang ada dibelakangnya." Gumam Yusuke. Dilihat dari wujudnya, Yusuke merasa itu bukan animus. Sosoknya kemungkinan tidak bisa dilihat orang kecuali oleh orang berkemampuan khusus.
Tiba-tiba pandangan mereka saling bertemu. Gadis berambut hitam twintail yang tadinya bertampang datar perlahan mulai menyipitkan matanya. Yusuke yang sadar dirinya dalam bahaya buru-buru masuk ke pesawat. Disaat peesawat lepas landas, Yusuke menceritakan apa yang dilihatnya kepada kedua temannya. Tapi mereka bingung menanggapinya karena mereka tidak melihatnya.
Setelah memakan waktu perjalanan 3 jam, pesawat sampai di markas. Son dan kedua temannya turun setelah melewati pemeriksaan tas. Mereka bergegas menuju ruang pemimpin bangsa untuk menyerahkan laporan misi ujian praktek.
Mereka berjalan sambil melihat-lihat keadaan markas. Suasana terlihat sepi dari aktivitas prajurit, hanya ada beberapa pedagang yang sedang sepi pembeli. Disaat matanya asik berkeliling, Son melihat ada sepasang patung berdiri ditengah markas. Patung itu berwujud sepasang prajurit Cora pria dan wanita.
"Eh, eh. Ini patung apaan?" tanya Son terkagum-kagum.
Park yang melihat Son menghampiri petung tersebut berkata "Oh, itu patung Hall of Fame."
Yusuke ikut memperhatikan dan berkata "Desainnya bagus. Yang bikin pasti hebat. Kira-kira siapa ya model dari kedua patung ini."
"Ah, palingan juga Archon atau dewan jaman dulu." Ujar Park yang tidak begitu tertarik.
Ketika Son dan Yusuke memegang-megang patung, tanpa diduga kedua patung itu ambruk. Park pun panik tak karuan. "Woi, elu berdua! Ngapa tuh patung dirubuhin!?"
"Kaga tahu wong Cuma pegang-pegang doang." Bela Son yang tidak kalah panik. "Patungnya sudah tua kali, nih." Sambung Yusuke. Beruntung situasi markas lagi sepi jadi tidak ada orang lain yang melihat.
"Gimana, dong!?" Son pusing tidak tahu harus berbuat apa.
"Susun lagi!"
Mereka pun menyusun kedua patung agar berdiri seperti semula. Tapi berhubung mereka bukan senniman hasilnya pun tidak karuan.
"Udahlah, begini aja. Keburu ada yang lihat." Keluh Son.
"Eh, sipit! Mana ada patung cowok tapi badannya ada gunung kembarnya!? Mikir pake otak dong jangan make dengkul!" protes Park tidak terima pendapat Son.
"Terus mau gimana, dong!? Kalau dibongkar lagi keburu ada yang lihat. Bisa kacau urusannya!" ujar Yusuke putus akal.
Mereka buru-buru berpikir cari akal. Park mendadak melihat ada sepotong kain panjang tergeletak di pilar terdekat. "Aku ada ide." Gumam Park sambil menjentikkan jarinya. Dia mabil kai tersebut dan memotongnya jadi dua. Lalu dia meminta Son dan Yusuke untuk memasangnya.
"Lu kagak salah, Park? Nih, Kenapa patung cowok badannya ditutupin? Terus yang cewek kenapa kepalanya doang yang ditutupin?" tanya Yusuke heran dengan ide Park.
"Belum muhrim! Udahlah langsung aja ke pemimpin bangsa." Jawab Park sambil berlalu pergi.
Ruang Pemimpin Bangsa 02:00 A.M.
"Dengan ini aku nyatakan kalian resmi naik tingkat menuju tingkat pertama." Ucap Quaine Khan diiringi dengan doa-doa pemberkatan.
"Terima kasih, Yang Mulia." Ucap mereka bertiga serempak.
"Kalian sekarang sudah resmi berganti class. Namun kalian masih harus belajar diakademi sampai kalian naik ke class kedua. Selama kalian di class pertama kalian akan mendapatkan misi reguler disamping kalian masih belajar diakademi. Persiapkanlah diri kalian karena disinilah kalian akan mulai sibuk." Jelas Quaine Khan.
"Baik, Yang Mulia. Kalau begitu kami undur diri dulu." Pamit Park sambil mencium tangan Quaine Khan diikuti Son dan Yusuke.
"Silahkan. Semoga Decem memberkati kalian."
Mereka bertiga pergi sambil memakan kue brownies rasa cokelat emas yang entah dapat darimana.
"Hmm, mereka peserta terakhir yang selesai ujian."
Quaine Khan kembali duduk di kursinya untuk bekerja. "Oke lanjutkan pekerjaan sambil ngemil kue brow…."
Tapi ketika tangannya hendak mengambil kue dipiring, kue itu sudah lenyap tak berbekas. "Lho!? Kueku kenapa tidak ada!?" Quaine Khan mencarikuenya di sekitar meja kerjanya tapi tidak ketemu. Kemudian dia seperti teringat sesuatu.
"Eh, jangan-jangan mereka bertiga yang nyolong!? KYAAA! Kue itu kan mahal! Huaaaa!" Quaine Khan menangis sejadi-jadinya. Apa mau dikata, mau tidak mau sang pemimpin bangsa harus bekerja tanpa ditemani kue tercintanya.
Keesokkan Harinya
Pagi ini Son bersama Park dan Yusuke sedang berjalan-jalan. Niatnya mereka ingin ketemu kenalan Yusuke untuk meneliti senjata kemari ditemukan sekaligus memeriksa penyakit Son. Saat melewati akademi, mereka melihat siswi-siswi kelas Spiritualist selesai berolahraga.
"Waktu di awal-awal akademi pelajaran olahraga adalah pelajaran favoritku." Ucap Park membuka percakapan.
"setuju. Paling semangat saat pelajaran olahraga. Aku selalu berusaha menjadi nomor satu." Giliran Yusuke ikutan nyambung.
"Apalagi ceweknya seksi-seksi, ya. Hahaha." Kata Son
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tapi baru beberapa langkah berjalan mereka langsung berhenti. Mereka pun saling berpandangan dan tersenyum ala iblis.
"Hehehe, biasanya kalau pelajaran olahraga selesai pasti pada hanti baju 'kan?" kata Park menyeringai.
"Yoi. Kadang ada juga lho yang gak pake daleman." Ujar Yusuke.
"Jadi tunggu apalagi?" kata Son ikut mempelopori.
Mereka bertiga masuk ke dalam gerbang secara ganti siswi letaknya berada di lantai 4 akademi. Lumayan tinggi mudah dipanjat tanpa tangga. Perlahan mereka mulai memanjat. Tidak butuh waktu lama mereka sampai di jendela kamar ganti.
"Wow, oppainya gede banget." Kata Son tanpa berkedip.
"Montok-montok, bro. belom 15 tahun aja badannya udah pada jadi." Park pun terpana menelan ludah.
"Benar-benar surga dunia." Sambung Yusuke.
Greekk!
Tiba-tiba jendela kamar ganti bergeser ada yang membuka. Kontan saja mereka bertiga panik dan kaget bercampur aduk jadi satu.
"KYAAA! ADA YANG NGINTIP!" suasana kamar ganti menjadi gaduh akibat insiden pengintipan.
"Cepet lapor keburu mereka kabur." Kata salah satu siswi.
"Waduh gawat. Ayo buru-buru lompat!" usul Son
"Gila, lu. Tempatnya lumayan tinggi, nih!" tapi belum niat mereka terlaksana, guru pengawas sudah ada dibawah.
"Whoa, jadi mereka ini tukang intipnya."
"Iya, bu. Mereka ngintip kita waktu ganti baju."
"Oh, kurang ajar. Memang harus dikasih pelajaran, nih." Kata guru pengawas, Ancalime Raharata. "Woi, kalian. Ayo cepat turun!"
"Aduh tinggi banget, bu. Bisa benjol kepala kalau lompat." Rengek Son.
"Iya, bu. Ambilin tangganya dong, bu. Kita bakalan turun, deh." Park mulai merasa kendor pegangan tangannya.
"Gak pake tangga-tanggaan. Kalau kalian memang prajurit sejati, tunjukkin kejantanan kalian!" ancam Raharata.
"Yah, ibu. Tega banget sih ama kita-kita?"
"Salah sendiri kenapa pake acara ngintip-ngintip segala. Kalian terima sekarang batunya!"
Mereka ragu-ragu untuk melompat. Apabila jatuh paling beruntung kaki Cuma terkilir. Mereka coba untuk turun secara perlahan. Tapi Anclaime Raharata memerintahkan beberapa siswi mengambil bola basket dan melemparnya ke arah Son dan kedua temannya. bola-bola basket itu pun mengenai mereka dan berakibat mereka mulai hilang keseimbangan dan terjatuh.
"AAAAAA!"
BRUK!
Setelah terjatuh Son, Park dan Yusuke langsung disiram air satu ember besar. "Makanya jangan suka ngintipin orang. Baru tahu rasa akibatnya!" maki Raharata.
Usai peristiwa pengintipan, mereka kembali melanjutkan perjalanan, tentunya setelah mereka berganti pakaian terlebih dahulu. Tak lama mereka sampai ditujuan.
"Selamat pagi." Sapa Yusuke pada seseorang yang sedang membaca buku.
"Pagi. Oh, apakah itu kau Yusuke?" balas seorang pria berambut hitam pendek. "Ada keperluan apa pagi-pagi datang kesini?" tambahnya sambil menyiapkan hidangan ala kadarnya.
Sembari duduk di sofa, Yusuke mengeluarkan pedang yang kemarin didapatnya. "Begini, Elrond Lamborta. Kemarin waktu ujian praktek di Ether kami mendapat pdang ini. Aku minta tolong Elrond untuk menelitinya."
Lamborta terdiam ketika melihat pedang yang baru pertama kali. Dilihatnya dia ambil pedang itumdan mengamatinya. "Pedang apa ini? Kalau dilihat dari bentuknya ini mirip dengan katana." Lalu Lamborta mengambil scanner dan mengscannya." SigMetal Katana of Deathblow?"
Yusuke pun menceritakan kenapa dia bisa mendapatkan pedang itu. Dari saat selesai misi hingga sekelompok Accretia yang dibantai oleh seseorang mirip Cora.
"Hmm, ini menarik. Pedang ini berbahan dasar material bernama SigMetal. Material tersebut tidak ditemukan dalam daftar bahan-bahan mineral planet Novus. Jadi kemungkinan memang orang yang kalian temui bukan berasal dari planet Novus." Jelas Lamborta.
"Jadi benar dugaanku. Tapi kira-kiraa siapa, ya?" gumam Yusuke. Mereka pun terdiam. Hening tanpa ada pembicaraan baru.
"Maaf OOT. Boleh aku tanya sesuatu?" kata Park memecah keheningan.
"Silahkan."
"Begini, Elrond. Menurut anda mungkinkah pasangan seorang Bellato dan Cora menghasilkan keturunan?"
"Maksudmu, jika Bellato dan Cora mungkinkah punya anak? Hmm, aku belum pernah menemukan kejadian itu. Tapi kalau menurut pendapatku, Cora yang beraliran Dark Force dan Bellato yang memiliki Holy Force tidak mungkin dapat bersatu karena force saling berlawanan. Akibatnya bayi yang baru lahir mengalami ketidakstabilan force. Tapi kalau Decem berkehendak maka tidak ada yang tidak mungkin." Jelas Lamborta berspekulasi. Park menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Memang kenapa kau tanya begitu?" Son penasaran dengan pertanyaan Park.
"Ya bisa saja 'kan kalau yang kita lihat itu bangsa campuran Cora dan Bellato. Dia datang untuk balas dendam karena dikucilkan dari bangsa orang tuanya." Meski terdengar ngawur tapi pendapat Park cukup masuk akal.
"Oh iya satu lagi, Elrond. Saya juga membawa teman saya untuk didiagnosis penyakitnya. Katanya sih dia kena penyakit turunan." Pinta Yusuke sambil menepuk bahu Son.
"Begitu? Kalau begitu mari ikut saya ke ruang perawatan." Son mengikuti Lamborta ke dalam. Setelah 30 menit, Son keluar. Lamborta mengatakan kalau Son mengidap leukemia turunan. Berbeda pada leukemia biasa, Leukimia Son diturunkan secara acak. Ketika membaca riwayat klan Lee, Lamborta menyimpulkan kalau leukemia Son menurun pada keturunan antara 100-150. Untuk sementara Son diberi obat yang sama seperti pengidap leukemia biasa.
10 bulan berlalu dan kini Son dan kedua temannya sudah hampir mau naik ke class kedua. Perkembangan mereka dinilai begitu pesat. Selama waktu tersebut, mereka memang jadi makin sibuk. Tapi biasanya ketika kelar misi mereka selalu kumpul, entah itu bermain musik, makan gorengan bareng atau makan cokelat raksasa milik Yusuke sambil mabuk.
Tapi mereka punya kelakuan jelek yang dari dulu sampai sekarang tidak ada matinya. Dari mengintip wanita mandi hingga nyolong makanan. Paling parah ketika mereka ketahuan ngintip Quaine Khan mandi. Hampir saja mereka bertiga turun grade tapi berhubung prestasi mereka cukup membanggakan Quaine Khan hanya memarahi saja. Yang kedua saat Park dengan jahilnya menaruh bekas permen karet di kursi sang pemimpin bangsa. Akibatnya gaun Quaine Khan kena noda permen karet yang susah dihilangkan. Mereka pun dihukum suruh bersih-bersih ruang kerjanya.
Malam ini Son beserta Park dan Yusuke sedang asik berburu di Crag Mine. Monster yang mereka buru adalah Lazhuwardian yanga jika dikalahkan bakal drop batu-batu ore.
"PRESSURE BOMB!" Sebuah skill penghancur tanah milik Park sukses membunuh kumpulan monster Lazhuwardian.
"Hore Panen-panen." Girang Son memungut ore-ore yang didrop Lazhuwardian.
"Sip. Ayo kita bagi rata!" Park yang menjadi ketua party mengeluarkan semua ore dan membagi rata.
"Enaknya farming di Crag Mine tuh kita bisa dapat ore. Kalau diolah kita bisa jadi kaya mendadak." Kata Yusuke. Saat mereka sedang sibuk gajian, tiba-tiba terdengar suara ledakkan dari arah utara.
DUARR!
"Eh, ada apaan tuh?" Kaget Son mendengar ada ledakkan.
"Jangan-jangan ada yang nyerang!?" simpul Yusuke.
"Lebih baik kita hampiri saja. Ayo!" ajak Park.
Mereka menuju TKP untuk melihat keadaan. Disana beberapa prajurit elite mengejar seseorang. Park berinisiatif bertanya pada seorang penjaga.
"Eh, ada ribut-ribut apaan sih?"
"Penyusup. Ada mata-mata yang ketahuan mencuri data rahasia bangsa kita. Pelakunya saat ini sedang dalam pengejaran." Jawabnya.
Dari arah portal datang Chamtalion Mellisa, penampilannya sangat anggun dengan memakai armor spiritualist dan tongkat Patron.
"Hei, kalian bertiga. Kenapa kalian masih disini. Cepat kejar penyusup itu!" Perintah Chamtalion Mellisa dengan nada tinggi.
"Lho, kita juga baru tahu. Tadi kami lagi hunting tahu-tahu ada ledakkan." Jelas Park.
"Yasudah kalian bertiga ikut aku kesana."
"Baik!"
Mereka pun menyusuri yang kalau diteruskan akan menuju portal Bellato. "Taurus 1 kepada Virgo 5 laporkan situasi disana!" kata Mellisa via Headset.
"Disini Virgo 5! Keadaan disini sangat darurat! Mohon segera….AARRGGH!"
BZZTTT!
Komunikasi terputus pertanda musuh tidak beraksi sendirian. Chamtalion Mellisa coba menghubungi pasukan lain tapi hasilnya nihil. Semua komunikasi terputus. "Cih, tidak ada jawaban dari tim pengejar. Situasi jadi lebih buruk dari yang kukira." sesal Chamtalion Mellisa.
"Chamtalion kita harus bagaimana?" tanya Son yang mulai cemas dengan keadaan yang terjadi.
"Kita susul mereka. Lihat kondisi mereka apa selamat atau tidak." Jawabnya.
Mereka pun pergi ke lokasi terdekat. Ketika mereka melewati pintu masuk ke Crag Mine, sesuatu jatuh dari atas langit.
DUARR!
Impact yang dihasilkan cukup kuat. Terbukti tanah didepan mereka menjadi retak. Dihadapan mereka berdiri dua orang wanita. Yang pertama memakai armor warrior berwarna kuning tembaga, memegang perisai kuning dan pedang merah. Sedang satunya kemungkinan spiritualist berarmor namun tidak bertongkat. Kedua wajah mereka sama-sama tidak terlihat karena ditutupi topeng.
"Turncoat!?" Gumam Chamtalion Mellisa sambil menggenggam erat tongkat Patronnya.
"Perjalanan kalian cukup sampai disini saja. Kalau kalian melangkah lebih jauh, kalian akan bernasib sama dengan yang lainnya." Ancam si Spiritualist musuh.
"Siapa kalian dan apa tujuan kalian menghack sistem komputer kami!?"
"Leluhur kami meninggalkan harta karun di planet ini dan berdasarkan riset dari mata-mata kami, bangsa kalian mengetahui lokasi peninggalan bangsa kami."
"Omong kosong! Hanguslah kalian dalam bara api. METEOR!"
Chamtalion Mellisa merapalkan force Meteor. Batu-batu besar bermandikan api datang dari langit dan menghantam kedua lawan tersebut. Tapi meski kena telak mereka tidak terluka sama sekali. Sekilas ada pelindung tipis tak kasat mata yang melapisinya.
Spiritualist lawan balik menyerang. Dia melompat ke udara dan melakukan gerakan akrobatik. Seketika sebuah formasi segel sihir muncul diatas tanah.
"METEORITE!"
Sebuah bola api raksasa datang dari langit dan siap meledak. Secara reflek, Park menangkisnya dengan perisai.
BLEGARR!
Tapi efek ledakkannya sangat luar biasa. Park pun terpental beberapa ratus meter dan perisainya hancur tak bersisa.
"PARK!" teriak Son cemas.
"Tenang aku baik-baik saja." Ucap Park sambil mengacungkan jempol. Diapun kembali ke rekan-rekannya.
"MULTI SHOT!" Yusuke coba memanfaatkan momen saat spiritualist lawan akan mendarat di tanah. Tapi sia-sia karena perisai tipis menghalau serangannya.
"Sial! Tidak bisa!" keluh Yusuke.
Spiritualist lawan kembali menyerang. Kali ini dia merapalkan mantra berelemen es. "Kegelapan dalam kebekuan es abadi. GLACIAL TRAP!"
Yang diincar ternyata Chamtalion Mellisa. Dibawah kakinya muncul sulur-sulur es yang mengikat pergerakkannya. Lama-kelamaan jumlahnya semakin banyak. Akhirnya tubuh Chamtalion Mellisa sudah terbungkus es. Hanya kepalanya saja yang tidak membeku (atau mungkin sengaja tidak dibekukan olehnya).
"A… apa ini? Aku tidak bisa bergerak." Panik? Jangan ditanya lagi. Chamtalion Mellisa tidak tahu harus berbuat apa. Keringat mulai mengucur deras di kepalanya tanda dia sudah putus asa. Dia coba merapalkan mantra elemen api tapi sia-sia.
"Si…siapa saja! Siapa saja tolong aku! Aku…aku tidak mau… mati!" air mata perlahan mengalir deras dari mata indahnya. Saat ini dia mungkin sedang menanti detik-deyik kematiannya meski dia tidak mau.
Son, Park dan Yusuke bukannya tidak mau membantu. Sudah dari tadi mereka berusaha menghancurkan es tersebut. Son coba melelehkannya dengan api ungu khas klannya. Park dan Yusuke berusaha dengan peralatan seadanya. Tapi usaha mereka tidak membuahkan hasil. Jangankan menghancurkan, sekedar menggores saja mereka tidak mampu.
Sang spiritualist yang sukses membekukan lawan berkata "Habisi dia, Taxhiarhos Aegean."
"Baik, Stratigos." Sang Warrior berperisai maju. Pedangnya mulai bercahaya merah dan perisanya bersinar kuning seiring mengalirnya kekuatan dalam tubuhnya.
Lalu dia mengangkat pedangnya dan berkata "This is a Judgement Day! Hell Crasher's!"
Dipedang dan perisainya muncul cakar neraka raksasa masing-masig berjumlah 3 buah. Lalu dia hantamkan cakar-cakar itu secara bergantian sebanyak 2 kali. Detik demi detik mengarah ke tubuh Chamtalion Mellisa yang telah membeku dan….
DUAR! DUAR!
Tubuh Chamtalion Mellisa hancur dan hanya menyisakan kepalanya saja yang masih utuh. Darah muncrat kemana-mana bahkan organ dalam tubuh berserakkan. Wajahnya yang masih utuh hanya memperlihatkan ekspresi ketidakpercayaan dan keputusasaan. Kemungkinan dia tidak percaya kalau hidupnya harus berkahir seperti ini. Setelah melakukan pembunuhan, mereka berdua menghilang tak berjejak.
"CHAMTALION!" teriak Son dibarengi tangis melihat mantan pengawasnya sudah tidak bernyawa. Dia pun menghampiri jasad yang tinggal kepalanya saja.
"KEPARAT!" Park pergi untuk membalas dendam. Dia merasa musuh masih ada disekitar sini.
"Park, tunggu. Jangan ambil keputusan sendiri! Akh, Sial!" Yusuke menyusul untuk menghentikan Park. "Son, kau urus dulu jenazah Chamtalion. Aku akan kejar Park!" tambahnya.
.
.
.
"Sial, dimana mereka!?" Park berlari sambil melihat sekeliling mana tahu lawan ada di sekitarnya. Saat Park tiba disuatu area yang luas, dirinya dibuat kaget dengan banyaknya tumpukkan mayat yang bergelimpangan.
"Ugh, tak kusangka hari ini aku harus melihat pemandangan ini. Aku pastikan jumlah musuh pasti lebih dari dua. Kekuatan mereka tidak main-main."
Angin kencang bertiup membawa dedaunan yang jatuh dari pohonnya. Daun-daun itu menerpa wajah Park dan menghalangi pandangannya. Awan yang bergelayut perlahan mulai pergi hingga membuat bulan purnama begitu jelas terlihat.
"Malam ini… bulan purnama!?" gumamnya menengadahkan kepala melihat bulan yang bersinar terang. Lalu pandangan matanya tak sengaja melihat menara tinggi di tengah tambang. Park terkejut melihat adanya beberapa sosok yang berdiri disana. Tak lama Yusuke datang.
"Park, kubilang jangan ambil… Park ada apa?"
Park tidak menjawab pertanyaan Yusuke. Dia hanya menunjuk jarinya ke atas menara. Yusuke pun turut terkejut. Ada 8 menara yang berdiri di area tengah tambang dan diatasnya 8 sosok berdiri di masing-masing menara. 2 diantaranya mereka kenali sebagai pembunuh Chamtalion Mellisa.
SYUNG!
Mendadak di menara tertinggi yang dikelilingi 8 menara muncul sosok misterius. Tidak terlalu jelas terlihat tapi ada 2 buah chakram terpasang di punggungnya. Tak lama kesembilan sosok itu menghilang seiring dengan angin yang bertiup dan awan yang menutupi rembulan.
Markas Cora 00:30 A.M.
Suasana markas ditengah malam jauh lebih ramai dari biasanya. Bukan sedang ada pesta atau semacamnya. Tapi suasana duka yang menyelimuti seluruh penghuni area markas. Korban-korban Crag Mine sudah dievakuasi. Para penjaga Crag Mine untuk sementara ditarik dulu dari posnya. Sebagai gantinya para Specialist membuat guard tower lebih banyak untuk mengurangi potensi adanya penyerangan. Malam ini 50 prajurit tewas dalam misi pengerjaran penyusup. Mereka terdiri. Dari prajurit elite dan prajurit penjaga. Chamtalion Mellisa termasuk didalamnya. Malam ini malam berduka bagi bangsa Cora.
To Be Continued
"Eh, sipit! Mana ada patung cowok tapi badannya ada gunung kembarnya!? Mikir pake otak dong jangan make dengkul!" (Quote from Park Sang Nim in Chapter 3)
Adegan Chamtalion Mellisa dibekukan oleh Stratigos Leana mirip dengan yang terjadi antara Ulkatoruk vs Assassin Cora di Fanfic Lake. Tapi saya pastikan itu bukan plagiat. Murni karangan sendiri.
Pangkat tertinggi
Legion=Maximus=Chamtalion=Stratigos.
Terima kasih kepada pembaca setia Fanfic ini terutama Leczna Szczecin, Ruch Chorzow, , hafidzhan, ShapaN, Shaktyor Solihorsk, RhietaV dan lain-lain.
Ucapan terima kasih juga kepada ketua-ketua Guild diantaranya MayumiArcher(RedBowlLegion), NadieBobang(Daikazoku), UcCullu(Losari) yang telah mendukung pembuatan FF ini. Mengingat di Server Officialnya akan tutup, semoga kita akan bertemu di game lainnya.
Terima Kasih
Best Regard's
Slask Wroclaw & Leczna Szczecin
