..Suddenly..

Tiga Tiga Tiga

©YumeYuumei CrystalFlee

Naruto ©Masashi Kishimoto

Genre: Drama/Supernatural/Romance

Warning: Slash/Shounen Ai, VampFic, OOC akut, AU, Gak jelas, Kekerasan, Pukul-pukulan, Rada sadis, Ribet, Aneh, Typo bertebaran, Tema mainstream, Alur lambat etc.

Rated: T

Pair: SasuNaru (Main). GaaNaru. KyuuNaru.

Summary: Naruto. Anak baru di SMA Konoha Daun. Hobi tebar pesona plus bikin onar. Dan dengan gilanya sok ngejar-ngejar putri sekolah. Bikin 3 penguasa sekolah gak terima dan mau ngasih pelajaran. Tapi, tunggu. Sebenernya 3 cowok ini ngejar putri sekolah apa Naruto, si anak baru sih? Tapi, tiba-tiba...

Be happy, un!

~~\(^o^)/~~

"Tugas?" Sebuah suara berat terdengar di sebuah ruangan besar nan mewah yang terkesan gelap. Seorang laki-laki paruh baya duduk di sebuah singgasana di tengah ruangan itu. Menatap lurus ke depan. Dimana ada seseorang yang berdiri di sana. Berdiri dalam diam.

"Seperti yang Otou-sama perintahkan." Jawab sosok pemuda itu dingin. Tanpa nada di suaranya.

"Hn." Laki-laki yang duduk di singgasana atau yang bisa disebut raja itu mengangguk singkat. "Otou-sama tak berharap kau 'jatuh' seperti kakakmu, Sasuke."

"Tentu tidak, Otou-sama. Aku tak akan membiarkan itu terjadi." Sosok yang ternyata adalah Sasuke itu menjawab dengan tenang. Walau ada sedikit rasa geram dalam nada suaranya.

"Aku berharap banyak darimu Sasuke. Kau boleh menyukai siapapun. Terkecuali si darah terkutuk. Jangan pernah buat hal itu terjadi. Tugasmu adalah mengawasinya. Agar darah terkutuk itu tak membahayakan kita. Kau tentunya mengerti, bukan?" Sang raja alias ayah Sasuke itu kembali berucap tanpa ada sedikitpun perubahan di wajah serta nada suaranya. Datar dan dingin.

"Aku mengerti, Otou-sama. Aku—Kami akan melakukan tugas itu sebaik mungkin." Sasuke membungkuk hormat.

"Hn." Sang raja hanya bergumam singkat. Meng-iyakan.

Sasuke pun berbalik dan meninggalkan ruangan besar itu dalam diam.

"Kau bukan pengganti, Sasuke. Kau tetap putraku. Uchiha Sasuke." Sang raja menggumam pelan pada udara kosong di hadapannya.

.

.

.

"Aiishh... Menyebalkan." Naruto menggerutu sambil meneliti wajahnya di depan kaca. Pipinya masih terlihat memar, walau ia sudah mengompresnya dengan es semalam. Untung kulitnya agak tan. Jadi, tak terlalu jelas terlihat. Tapi, jika sekilas. Kalau ada yang melihatnya dari dekat. Sudah pasti terlihat jelas.

"Bagaimana cara menutupinya, ya?" Naruto bergumam sendiri. Yah, bagaimana lagi? Ia tinggal sendiri di apartemen milik orang tuanya dulu. Tidak bobrok walau terkesan tua. Sebenarnya, ia tinggal di Suna bersama pamannya. Tapi, ia tak mau terlalu banyak merepotkan. Apalagi dengan tingkahnya yang selalu disebut 'Pembuat onar'. Memar sih sudah biasa ia dapatkan. Itu normal untuknya yang notabene hobi berkelahi. Lagi-lagi tapi, ia sudah berjanji tidak akan mencari masalah. Walau sebenarnya masalahlah yang selalu mendatanginya.

Naruto menghela nafas. Diambilnya tas hitam yang tergeletak di meja kecil begitu saja. Lalu, melangkahkan kakinya keluar kamar. Ia tak peduli. Toh, di sekolahnya sekarang ia juga disebut pembuat onar. Jadi, apa yang salah? Biar orang-orang itu berpikir semaunya.

"Semoga hari ini aku tidak sesial kemarin." Naruto bergumam. Seakan merapal do'a. Sial? Itu sial atau takdir, sih?

. . .

Bel istirahat sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Penghuni kelas XI Sl - 1 pun mulai berkurang karena banyak murid yang pergi ke kantin untuk membeli makanan. Kalaupun ada yang di kelas. Kebanyakan sedang ngobrol yang entah apa. Tapi, tidak dengan salah satu murid yang duduk di barisan cukup belakang. Kepalanya bersandar di mejanya dengan nafas yang naik turun teratur. Itu Naruto.

Naruto sedang tertidur dengan nyenyaknya. Tak terganggu suara-suara ramai di sekitar. Ia masih saja menikmati tidurnya. Mungkin karena semalam badannya yang memar itu membuatnya tak bisa tidur nyenyak. Bagaimanapun itu benar-benar menganggu tidurnya. Dan ini akibatnya. Tertidur di sekolah.

Melupakan kebiasaannya mengikuti cewek bermarga Haruno kemana-mana. Seperti anak kucing saja. Bagaimana akan ingat? Ia hampir terlambat. Belum mengerjakan tugas Matematika yang entah mengapa amat sangat banyak. Dan badannya kasih sakit, ingat? Jadilah ia tertidur sejak pelajaran pertama baru dimulai 15 menit. Dan entah kenapa guru-guru membiarkannya begitu saja. Iba mungkin. Melihat wajah kusut nan memar milik Naruto. Kau benar-benar kasihan, Naruto.

"Grakk..." Suara pintu dibuka secara kasar sontak membuat kelas yang ramai itu hening seketika. Ditambah lagi, ternyata yang muncul di balik pintu adalah tiga orang cowok serem satu sekolah. Semua murid otomatis diam. Tak berani bergerak ataupun hanya berkata-kata.

Kyuubi yang merupakan penyebab suara itu masuk paling awal. Diikuti Sasuke dan Gaara setelahnya. Matanya yang beriris merah itu menatap nyalang orang-orang di ruangan itu. Mengintimidasi. "Uzumaki Naruto?"

Pertanyaan singkat itu membuat murid-murid berbisik-bisik kebingungan. Mereka mana berani walau sekedar bertanya pada kelompok yang disebut SUN yang dikenal amat sangat sadis itu.

Kyuubi mendengus. "Dimana Uzumaki Naruto!" Ia mengulangi pertanyaan oh bukan... Tapi, pernyataannya dengan nada tinggi yang menyeramkan. Tanpa suara para murid yang ada di sana langsung menunjuk salah satu arah di bagian belakang kelas. Melihat itu Kyuubi menyeringai lebar. Lalu, menatap Sasuke dan Gaara bergantian. Keduanya mengangguk pada Kyuubi.

"Kalian semua!" Tunjuk Kyuubi ke arah kerumunan. "Keluar dari kelas ini sekarang juga! Dan jangan berani-beraninya masuk. Jika tidak..." Kyuubi memerintah. Menggantungkan kalimatnya. Dan tak perlu waktu lama. Semua penghuni kelas itu berbondong-bondong keluar dengan wajah-wajah ketakutan. Menyisakan SUN dan satu orang murid lain yang masih saja tertidur nyenyak di bangkunya. Hebat. Setelah semua keributan ini dia sama sekali tak bangun atau terganggu sedikitpun? Kau benar-benar ya, Naruto.

Tanpa banyak kata. Tiga cowok penguasa sekolah itu berjalan cepat menuju bangku cowok pirang itu. Mereka diam. Sejenak menatap Naruto yang tertidur dengan damai. Begitu tenang dengan nafas yang naik turun pelan. Tapi, apa SUN akan diam saja dan hanya melihat anak itu tertidur dengan damai? Tidak akan dan tidak mungkin.

"Brakk..." Kyuubi menggebrak meja tempat kepala Naruto bersandar dengan kasar. Membuat Naruto terganggu karena kepalanya berguncang. Tapi dengan keras kepalanya, Naruto kembali menyamankan kepalanya. Tertidur.

Tiga cowok yang mengerumuni Naruto menatap aneh. Ternyata si pembuat onar ini adalah Hypersomnia atau bahasa gaulnya 'Tukang tidur'. Sasuke yang sejak tadi diam mulai bergerak. Tangannya menggapai wajah Naruto yang tertidur. Memegang rahangnya erat. Mendongakkannya. Dan mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto. "Bangun, Uzumaki Naruto." Ia berbisik dengan nada datarnya tepat di telinga Naruto.

"Nghh..." Naruto menggelengkan kepalanya masih dengan mata yang terpejam. Berniat mengusir sesuatu atau apapun itu yang mengusik tidurnya. Sayangnya, itu tindakan bodoh. Walau dalam keadaan tidur sekalipun. Apalagi di depan cowok berambut hitam itu. Sasuke itu tak suka dibantah. "Begitu, Dobe."

"Bruukkk..." Suara benturan yang cukup keras dan cukup mengerikan saat kau tahu benturan antar apa itu. Meja dan Kepala seseorang dengan rambut kuning-pirang.

"Ughhh..." Rintihan kesakitan terdengar dari sang pemuda kuning itu. Ia mengangkat kepalanya pelan sambil tangan kanan menopang kepalanya. Kepalanya benar-benar pusing. Ditambah pandangannya juga kabur. Mendongak. Mencari penyebab kepalanya terbentur. Seingatnya, ia tidak jatuh. Kalaupun jatuh pastinya tidak hanya kepala yang sakit, kan?

Butuh waktu beberapa lama untuk membuat pandangannya jelas. Mengerjap. Lalu, berucap pelan. "Kalian..." Jeda sejenak. "SUN?" Ada keterkejutan di wajah dan nada suaranya. Ia menatap tak mengerti. Menegakkan badannya.

"Apa mau kalian?" Naruto berucap tinggi. Walau kepalanya masih berdenyut sakit. Ia tak akan membiarkan orang-orang ini berlaku sesukanya. Mereka pikir dirinya lemah? Heh, jangan salah. Dirinya tidak lemah. Memang dia sudah dipukuli dan kalah. Itukan bukan karena dirinya tak bisa melawan. Tapi, karena mereka curang. Satu lawan tiga. Naruto menatap tiga orang itu bergantian.

"Bermain?" Pernyataan ambigu. Gaara tersenyum miring menatap Naruto yang posisinya benar-benar terkepung oleh mereka bertiga.

"Bermain apa? Basket? Sepak bola? Gunting-batu-kertas? Atau apa? Bisakah kalian berbicara lebih jelas? Aku tak mengerti." Naruto frustasi. Menarik-narik rambutnya sendiri.

"Kau memang Dobe." Sasuke tersenyum—menyeringai. Tangannya menggapai ke wajah Naruto. Menyadari gelagat Sasuke yang mulai mencari gara-gara. Dengan secepat yang ia bisa, ia menjauh dari arah jangkauan Sasuke. Yah. Walau itu tak membantu banyak. Bagaimanapun Naruto sedang duduk di bangkunya yang ada di samping tembok. Dan ia dikelilingi oleh tiga manusia menyebalkan.

"Kau masih belum paham, hn?" Sasuke berucap rendah. Dan tanpa Naruto srmpat menghindar atau bahkan menyadarinya. Sebuah pukulan kembali di arahkan ke wajahnya. Tepat di dagu.

"Arghh..." Naruto merintih. Kepalanya yang masih sakit harus menerima pukulan yang lagi-lagi tak bisa di bilang pelan. Tangannya otomatis bergerak memegangi dagunya. Menatap nyalang ke arah Sasuke yang sudah memasang wajah datar lagi.

"Apa itu sakit, Uzumaki?" Gaara berucap dengan nada mengejek yang samar. Naruto hanya menggeram. Tak membalas. Oh, tak bisa membalas tepatnya. Ia dipukul di bagian dagu dengan telak. Dan rasanya menyakitkan.

Jambak. Kyuubi yang tadi diam tanpa tanda menarik rambut pirang Naruto kasar. "Khh... Apa ya-ng ka-lian ingin-kan?" Naruto kembali berucap pelan—putus-putus. Sialan. Dirinya benar-benar lemah. Tak bisa melawan.

"Bukankah kau sudah mendengarnya, Uzumaki?" Gaara mulai ikut campur. Tangannya menangkap kedua pipi Naruto dan menghadapkan wajah itu padanya. Dan jangan lupa tarikan Kyuubi masih belum lepas dari rambutnya.

"Ta-pi, a-aku tak me-ngerti." Naruto kembali berucap. Tak terima. Mau membalaspun percuma. Mereka bertiga. Kalaupun Naruto bisa memukul satu orang, yang lainnya pasti akan membantu. Dan mereka pasti akan memukulnya lebih parah. Dari mana ia tahu? Oh, ayolah. Ia juga berandalan di sekolahnya yang dulu. Jadi, tahu persis apa yang dipikirkan tiga orang di depannya. Hanya saja ia tak pernah mengira, jika ia harus ada di posisi yang dipukuli. Mimpi buruk.

"Baiklah. Kami akan membuatmu lebih mengerti, Naruto-kun." Kyuubi berucap dengan nada main-main yang justru terdengar menyeramkan.

Naruto memejamkan matanya. Bersiap. Berharap tidak pingsan. Walau kepalanya benar-benar sakit. Rasanya seperti akan meledak. Mungkin ia harus bersyukur karena dulu ia sering berkelahi dan terkena pukulan. Jadi, ia masih bisa menahan rasa sakit walau sedikit. Tapi, setidaknya ia tidak pingsan.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Empat detik.

Oke. Ini aneh. Walau ia masih kemarin bertemu langsung dengan SUN, tapi ia tahu persis bahwa mereka sangat sadis. Dan suka memukul tanpa tanda. Begitu cepat. Begitu tiba-tiba. Dan mereka sangat tak sabaran. Tapi, kenapa ia tidak—belum merasakan sakit? Bukannya ia berharap untuk dipukul. Tidak. Terima kasih. Hanya saja... Ah, entahlah.

Perlahan Naruto membuka matanya. Mengerjap beberapa kali. Mengernyit. Begitu menyadari bahwa tiga orang itu terdiam. Terpaku lebih tepatnya. Tanpa pergerakan sedikitpun. Hanya saja mata mereka menyiratkan kemarahan.

"Si terkutuk itu!" Kyuubi menggeram. Matanya berkilat. Seakan menyala. Oke. Katakan kalau dirinya menghayal. Memang ada mata yang bisa berubah warna begitu saja? Dan bukan hanya si Kyuubi itu. Tapi, juga Sasuke dan Gaara. Ia menatap aneh mereka.

"Kita ke sana." Suara Sasuke terdengar dingin. Mengabaikan Naruto yang hanya bisa terdiam melihat tingkah orang-orang itu yang aneh. Tiga orang itu berjalan keluar kelas dalam diam. Walau aura marah dan tak suka menguar di sekitarnya.

Naruto menghela nafas panjang begitu tiga orang itu keluar dari kelasnya. Menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi pelan. Tak mau memperparah sakit di kepalanya yang sudah mulai berkurang.

"Akhirnya, mereka pergi juga. " Naruto memijit pelipisnya. "Tapi, kenapa?"

Ia kemudian menatap ke jendela. Ada suara ribut di halaman sekolah. Disana tampak beberapa orang berkerumun mengerubungi sesuatu. Naruto menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas. Matanya memang agak terganggu. Jarak pandangnya memendek. Atau bisa dibilang rabun jauh. Walau tak sampai mengharuskannya memakai kacamata.

"Rambut gelap berbentuk aneh? Merah? Kuning kemerahan? Tunggu. Bukannya itu SUN?" Naruto mendekat ke jendela. Meyakinkan dirinya. Kenapa mereka ada disana? Bukannya baru saja mereka di kelasnya? Lalu, kenapa tadi mereka marah-marah dan bahkan menyebut kata-kata 'Terkutuk'? Naruto benar-benar tidak mengerti sekarang. Mereka terlalu aneh. Terlalu misterius.

Mengangkat bahu. "Sudahlah. Tak ada gunanya juga aku memikirkan mereka. Lagipula kepalaku juga masih sakit." Naruto kembali menyamankan posisi duduknya. Mengabaikan ribut-ribut itu begitu saja. Toh, ia bisa mencari tahu nanti.

. . .

"Aduhh..." Suara rintihan pelan terdengar dari seorang cewek pink yang sedang terduduk di tanah. Sakura. Ia dikerumuni teman-temannya yang kaget dan simpati. Tadi, kelas XI Se - 2 sedang pelajaran olahraga, tepatnya basket. Seperti biasanya, dibagi kelompok cewek dan cowok. Cewek di sisi kanan lapangan yang sedikit lebih rimbun dan cowok di sisi satunya.

"Kau baik-baik saja, Sakura?" Cewek dengan rambut pirang pudar panjang yang merupakan teman baik Sakura bertanya khawatir.

"Ya. Kurasa aku baik-baik saja walau kakiku agak sakit, Ino-chan." Sakura memegangi kakinya yang sedikit memar dan berdarah.

"Kau bisa berdiri?" Ino mendekati Sakura sambil mencoba membantunya berdiri. Sakura hanya meringis.

"Biar aku saja." Sebuah suara dingin menginterupsi pergerakan Ino dan Sakura. Menoleh. Mencari sumber suara. Dan mendapatkan sosok tiga cowok berbeda warna rambut berdiri di hadapan mereka.

Sasuke, tanpa banyak bicara mendekati Sakura dan menggantikan Ino untuk membantu Sakura. Ia menyampirkan Tangan kanan Sakura di pundaknya. Lalu, berjalan pelan menuju ruang kesehatan. Dibarengi Gaara dan Kyuubi yang memperhatikan keduanya. Sedangkan Ino, ia pun mengikuti mereka sambil tetap menjaga jarak.

"Sasuke?" Gaara mensejajari langkah Sasuke.

"Hn." Respon singkat seperti biasa.

"Kau yakin tak apa?" Gaara bertanya. Tatapannya sedikit ragu.

"Hn." Lagi-lagi hanya respon singkat yang ditunjukkan Sasuke. Ia masih sibuk membantu Sakura berjalan.

"Sudahlah Gaara. Sasuke tidak selemah itu." Kyuubi menimpali perkataan Sasuke yang terlalu singkat itu. Gaara menghela nafas. Lalu, mundur. Tak lagi mensejajari Sasuke.

Sementara itu, Sakura yang mendengar mereka hanya menatap tak mengerti. Lalu, menengok ke belakang. Dimana Kyuubi dan Gaara berjalan beriringan. Wajahnya menyeringai tipis. Entah apa yang dipikirkannya. Hanya ia yang tahu pasti.

. . .

"Terima kasih, Sasuke-kun." Sakura tersenyum, berterima kasih pada Sasuke yang sudah membantunya bahkan menungguinya. Kini dirinya sedang duduk di salah satu ranjang putih ruang kesehatan bersama Ino. Ino tampak serius mengobati luka Sakura. Sasuke hanya mengangguk. Setelah memastikan semua sesuai. Sasuke lalu berjalan keluar dimana dua orang temannya menunggunya.

"Sasuke?" Gaara yang pertama berucap begitu Sasuke keluar dari ruang kesehatan. Sasuke melirik Gaara masih dengan wajah datarnya.

"Kita pergi." Sasuke berucap datar. Memerintah. Berjalan melewati Kyuubi dan Gaara begitu saja. Keduanya saling tatap lalu, mengendikkan bahunya. Berbalik mengikuti Sasuke.

"Kau mau kemana, Sasuke?" Kyuubi berjalan sambil kedua tangannya menekuk di belakang kepala.

Tak ada respon. Sasuke masih tetap berjalan dalam diam. Mengabaikan Gaara dan Kyuubi yang berjalan mengikuti dari belakang.

"Bukankah itu si Uzumaki? Dia mau kemana? Ruang Kesehatan?" Kyuubi berseru. Menunjuk salah satu lorong yang agak jauh dari tempat mereka. Gaara dan Sasuke yang mendengarnya pun berhenti dan menoleh. Melihat Naruto.

. . .

Naruto sedang berjalan menuju ke ruang kesehatan. Sebenarnya, ia sama sekali tidak berniat ke ruang kesehatan. Tapi, ucapkan terima kasih pada Guru Kakashi yang terlalu perhatian. Saat melihat wajah Naruto yang babak belur atau menurutnya mengganggu pemandangan untuk pergi ke ruang kesehatan. Lagi pula itu bukan salahnya. Salahkan si SUN yang cari gara-gara dengannya. Jadi, dengan ogah-ogahan Naruto pun berjalan keluar kelas.

Naruto menghela nafas lelah. Badannya benar-benar sakit. Kenapa ia bisa sebegitu sialnya? Jadi bulan-bulanan tiga cowok paling garang satu sekolah.

Naruto berhenti sejenak di dekat ruang kesehatan. Menatap sekitar. Lengang. Ia malas jika harus ke ruang kesehatan yang tertutup itu. Ia ingin mencari udara segar. Dan sepertinya taman belakang tempat yang cocok untuk itu. Di jam pelajaran seperti sekarang pasti sepi. Naruto tersenyum lebar. Walau sedetik kemudian kembali meringis karena bibirnya masih sakit. "Langitnya pasti terlihat bagus."

Naruto pun berbelok. Melewati jalan kecil. Jalan yang agak tertutup dari lorong utama menuju taman. Melangkah menuju taman belakang yang sepi dan lengang. Menuju salah satu pohon besar yang ia kenali. Pohon yang merupakan tempat pertama kali ia bertemu dengan kelompok SUN. Kenangan buruk memang. Tapi, toh tak ada salahnya, kan?

Memang tak ada salahnya siapapun berada di situ. Tapi, tidak ketika sumber masalah terbesarmu sedang menuju kesana juga.

Naruto menyandarkan dirinya di batang pohon yang besar itu. Memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang berhembus. Tenggelam dalam dunianya srndiri. Tak lagi peduli apa yang terjadi di sekitarnya. Ia kemudian terlelap dalam damai.

- Bersambung -

A/N: Terima kasih banyaaakkk buat Review, Fav dan Follow-nya. Flee seneng banget atas respon2nya.

As usual. A yang bakal balas review. Terserah dia deh mau jawab apa. Ya. Itu A.

—-—

Oke. A disini.

Balasan Review.

Reikai Eran

Uke lemah? Gak jg sebenernya. Kalo masalah kalah ya karna beda makhluk(?) itu penyebabnya. Jelas Naruto kalah kuat.

Yah tergantung jln ceritanya aja. Doa'ain moga ga males ngetik si Flee ini.

Tuh, pada protes Naruto lemah. #TeriakinFlee Kata Flee Naruto nggak lemah kok. Cuman nasib musuhan sm makhluk lain.

RaFa LLight S.N

Oke. Si Flee jg suka KyuuNaru kok. Dia sih suka2 aja Naruto dipasangin ama siapa aja. Pokoknya pairnya harus sama yg keren2. Fangirl gila ya begitu.

Terima kasih.

TheBrownEyes'129

Ini dia lanjutannya. Makasih.

Ahn Ryuuki

Nah. Itu liat alur ceritanya aja sih. Ada kaitan antara Uzumaki sama Namikaze ato enggak. Flee itu emang maunya sendiri tuh.

Kata Flee nanti kenapa mereka suka mukul2 itu bakal ada alasannya. Yah. Begitulah.

Ini lanjutannya.

RyunkaSanachikyu

Wah. Makasih pujiannya. Si Flee kesenengan tuh.

Itu Flee kan hobi sok rahasia. Jd, yah tunggu aja. Nanti bakal dijelasin kok.

Ya gitu lah. Gak bisa dibilang miskin banget sih. Sebut aja sederhana gitu.

Terima kasih.

B-Rabbit Ai

Demo aja si Flee yg terlalu suka bully2an. Orang aneh emang.

Iya. Ini pasti SasuNaru kok.

Kai Shadowchrive

Noisseggra

Aneh, kan? SUN? Emang Flee itu aneh. Tp, biarlah.

Jangan deh. Ceweknya buat rame2 itu perlu loh.

Chap 1 emang masih awal jd blom muncul. Tp, selanjutnya muncul kok.

yuzuru

Masalah Sakura itu biarlah waktu yg menjawabnya.

FayRin Setsuna D Fluorite

Si Naruto ketularan anehnya Flee itu.

Yassir2374

Iya tuh. Bener. Flee emang sok misterius.

Wah, kalo ceritanya. Biarlah Flee yg menjawab dg chap2 selanjutnya. Moga aja dianya ngga males.

Neko 1412

Melindungi? Yah. Bisa jadi. Tapi, liat aja deh Flee bikin lanjutannya gimana. Dia itu sukanya sendiri sih.

Yap. Tuh org 3 vampir kok.

Moment? Moga aja Flee bikinnya bener.

F.c sasunaru

Flee itu ngaku kalo ga bakat bikin romance. Moga aja bisa bener kalo bikin.

Itu hobinya Flee. Pemeran utama yg disiksa itu lebih greget katanya.

Flee update kilat? Do'ain aja deh ya. Flee itu malesnya minta ampun sih.

Atarashi ryuuna

Oke. Ini dia.

harukichi ajibana

Iya ngawasin. Kirain apa nih?

Masalah cerita itu apa kata Flee. Dia suka semaunya sih.

Ini udah update.

Sama2.

RisaSano

Tenang ini masih SasuNaru. Dan mereka Cowok x Cowok. Sakura itu pendukung ceritanya.

Ini update.

yuichi

UKS? Haha. Masih disimpen sama Flee. Tp, dikira2 pun udah ketahuan sih. Ups.

Oke. Finish. Sekali lagi sekarang A ngucapin Makasih banyak atas dukungannya.

Gimana chap ini? Menarik? Aneh? Gak jelas? Atau apa?

Review ya?