I Can't
Enjoy~~
"Ayah." Ucap Changmin.
"Kalian mengira, setelah dia bisa melahirkan aku akan merestui kalian? Jangan harap." Ujar Raja Jung kemudian berlalu begitu saja.
Jinki menghela nafas, menundukkan kepalanya yang terasa berat. Ini hampir 2 tahun sejak Jinki dan Changmin menikah, secuil restu pun tak juga mereka dapatkan. Segala cara sudah Jinki lakukan, berusaha mempunyai keturunan salah satunya. Apa masih ada banyak syarat yang harus Jinki penuhi agar dia bisa diterima?
"Maafkan Ayahku, Jinki ah" sahut Changmin. Dipeluknya Jinki dengan erat.
"Kamu percaya kan, kita bisa melewati ini? Ada Yoogeun bersama kita." Ucap Changmin. Jinki mengangguk berkali-kali. Hanya keluarganya ini yang sekarang ia punyai. Setelah sekian lama tak pernah merasakan bagaimana memiliki sebuah kelurga, akhirnya ia rasakan. Jinki tak mau menyerah begitu saja untuk sumber kebahagiaannya ini. Dia tak mau menyerah. Changmin menyeka air mata yang turun membasahi pipi chubby Jinki. Sentuhan dipipinya membuat Jinki merasa utuh. Ada Changmin dan Yoogeun sekarang, dia tak boleh cengeng dia harus kuat.
"Aku baik-baik saja sekarang. Seharusnya aku berterima kasih pada Ayah. Kau tahu? Walaupun beliau tidak merestui kita, kita tetap dibiarkan bersama. Ayah tak mencoba memisahkan kita kan? Kurasa untuk saat ini, itu sudah cukup." Jelas Jinki sambil tersenyum. Changmin memeluk Jinki lagi. Dia merasa kalau dia tak salah memilih Jinki sebagai pendamping hidupnya.
"Mari tunjukkan pada Ayah kalau kita pasangan sempurna dan bahagia." Ucap Changmin dengan semangat. Jinki mengangguk. Mereka sudah bertekad.
.
.
.
Pagi ini Jinki berlatih memandikan Yoogeun. Yoogeun masih terlelap tapi tak ada salahnya mempersiapkan peralatan kan? Ada Changmin yang siap menjadi tutor.
"Nah, kita siapkan 2 waslap, satu untuk menyeka wajah dan badan, satu lagi untuk menyeka daerah kelamin." Jelas Changmin. Tanpa disuruh 2 kali Jinki mengambil waslap bersih.
"Oke, selanjutnya siapkan kapas. Untuk membersihkan sekitar mata, dan cotton buds." Jinki setia melakukan intruksi dari Changmin.
"Kasa steril, dan alcohol untuk pusar. Jja." Chamngmin meletakkan benda yang disebut tadi.
"Lalu susun pakaian ganti. Dari bawah Bedong, baju lalu paling atas popok." Changmin memperhatikan Jinki yang mulai menata pakaian ganti.
"Yep, seperti itu. Lalu siapkan air hangat. ¼ bak mandi Yoogeunnie. Ukur kehangatan airnya." Jinki Nampak bingung.
"Celupkan sikumu." Jinki melakukan perintah Changmin.
"Bagaimana? Kurang hangat atau terlalu panas?" Tanya Changmin.
"Errrrr aku tak yakin. Menurutku sih biasa saja, tapi entahlah kalau untuk Yoogeunie. Selera orang kan beda-beda." Jawab Jinki. Ingatkan Changmin untuk tidak menjitak kepala Jinki nanti. Karena Jinki tak dapat diandalkan Changmin gantian mencelupkan sikunya.
"Untuk orang dewasa memang tak panas, tetapi untuk bayi terlalu panas. Tambahkan air dingin, jangan terlalu banyak." Jinki menuruti.
"Cukup." Sahut Changmin. Sekali lagi dia mengecek suhu air.
"Nah ingat, panasnya kira-kira segini." Jinki mencelupkan telunjuknya, kemudian mengangguk.
"Ayo, sekarang waktunya membuka pakaian Yoogeunnie." Pasangan orang tua baru itu kembali ke kamar. Yoogeunnie masih tidur dengan lelapnya.
"Lepaskan seluruh pakainnya." Titah Changmin. Jinki mengernyit.
"Yoogeunnie masih tidur. Apa tak sebaiknya tunggu dia sampai bangun?" Tanya Jinki khawatir.
"Apa setelah Yoogeunnie bangun kamu berani menyentuhnya? Terakhir kamu melakukannya kamu menjerit takut karena Yoogeunnie menggeliat?" Jinki membenarkan ucapan Changmin. Buru-buru dia mulai membuka pakaian Yoogeun.
"Buka kasa yang menutup tali pusarnya. Hati-hati." Jinki melakukan bagian itu dengan teliti.
"Periksa popoknya? Apakah Yoogeunnie buang air?" Jinki menggeleng. Yoogeun terbangun matanya mengerjap-ngerjap. Disusul mulut Yoogeun yang menguap.
"Ya ampun, Yoogeunnie terbangun. Bagaimana ini?" Jinki menoleh kearah Changmin dengan panik. Berharap dapat bantuan dari suaminya itu.
"Gampang. Tinggal kamu gendong." Jinki mendelik mendengarnya. Hell yeah, menggendong Yoogeun disaat ia terbangun? Disaat Yoogeun menggeliat-nggeliat. Bagaimana kalau jatuh? Jinki bergidik ngeri membayangkannya.
"Yoogeun tak akan jatuh, oke?" Changmin mencoba memupuk keberanian Jinki.
"Nah, pertama-tama dekati Yoogeun. Mendekatlah." Jelas Changmin. Dengan takut-takut Jinki mendekati Yoogeunn yang masih sibuk menggeliat. Sesekali menguap.
"Selipkan 1 tangan di bagian leher dan kepala untuk menyangga." Jinki menjulurkan tangan kanannya
"Agar kamu nyaman sebaiknya gunakan tangan kiri saja." Jinki menurut. Tangan Jinki mendadak kaku.
"Tanganku kram, Hyungg…" jerit Jinki. Changmin mendesah. Ya ampun, ini lebih sulit daripada ia harus menjalankan tugas kenegaraannya.
"Yoogeunnie, sebaiknya sebaiknya jangan menggeliat. Atau Ibumu tak akan pernah mau menggendongmu. Kau dengar itu?" kekeh Changmin.
Jinki cemberut mendengarnya. Dia sedang susah, tak seharusnya Changmin mengoloknya seperti itu.
"Latihan menggendongnya kita skip saja ok.. kalau tak segera mandi nanti Yoogeunie malah masuk angin." Changmin langsung menggendong Yoogeun. Dia akan mulai ritual mandi pagi.
"Letakkan Yoogeun disini." Changmin mulai menjelaskan kembali. Ditaruhnya Yoogeun di perlak. Jinki diam mengamati.
"Pertama ambil waslap. Celupkan kedalam air terlebih dahulu. Setelah itu seka bagian wajah, lengan, badan dan punggung seperti ini." Jinki mengangguk-angguk. Rambut brunette nya bergoyang pelan. Kelihatan mudah kalau Changmin yang melakukannya. Seharusnya yang berperan sebagai Istri adalah Changmin. Bukan dia yang trauma dengan anak kecil. Seharusnya dia saja yang mencari nafkah. Jinki merasa ide nya barusan tidak buruk. Tapi sekelebat bayangan Changmin menggunakan apron bermotif love-love menghempas pikiran nya. Rasanya dia langsung mual, ingin muntah. Changmin tak cocok memakai atribut itu. Badannya terlalu kekar.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu tak mendengarkan penjelasanku." Suara Changmin menyadarkan Jinki. Digaruknya tengkuk yang tidak gatal.
"Di buku ada kok. Aku sudah membacanya." Ucap Jinki nyengir.
Changmin merasa dirinya begitu bodoh. Tentu saja Jinki sudah tahu cara merawat bayi yang baik dan benar, dia menghabiskan 9 bulan masa kehamilannya untuk membaca buku-buku yang membahas hal tersebut. Bukankah Changmin menjadi ahli dalam merawat Yoogeun karena juga membaca buku-buku itu? Jinki tak bisa prakteknya karena terhalang rasa trauma. Ingin sekali Changmin menjedotkan kepala ke tembok terdekat. Apa menikah dengan Jinki membuat kadar kejeniusannya berkurang? Changmin membatin.
"Pokoknya, perhatikan aku, walaupun kamu sudah tahu betul prosedurnya." Ucap Changmin menahan gengsinya. Jinki menurut tanpa banyak protes.
"Lanjutkan." Ucap Jinki takut-takut.
"Ambil waslap kedua untuk daerah kelamin. Setelah selesai ganti waslap yang pertama, tolong bubuhi sabun." Jinki melakukannya. Di bubuhkannya sabun beraroma jeruk banyak-banyak.
"Sabuni badan secara menyeluruh. Usahakan telapak tangan tidak terkena sabun, karena biasanya Yoogeunnie sering memasukkan jari kedalam mulut." Jinki mengangguk paham.
"Jja.. setelah beres, masukkan kedalam bak air. Perhatikan."
Changmin menelusupkan tangan kirinya di bawah leher dan kepala Yoogeun, ibu jarinya menutup telinga kanan dan jari tengah menutup telinga kiri. Dengan tangan kanan, Changmin merapatkan kedua kaki Yoogeun, posisi telunjuknya berada di kedua kaki Yoogeun. Dengan perlahan Changmin memasukkan Yoogeun ke dalam bak mandi.
"Posisi badan di air harus lebih rendah dari kepala. Nah, lepaskan tangan kanan dari kaki. Lalu bilas tubuh bagian depan sampai bersih."
Jinki menatap Changmin dengan kagum. Sang suami begitu sempurna. Selama ini dia selalu sibuk dengan tugas kenegaraannya. Jadi kapan suaminya mempunyai waktu mempelajari semua ini? Dia saja selama 9 penuh membaca buku masih tidak bisa-bisa juga.
"Aku tahu, aku ini sangat tampan. Tetapi sebentar saja, focus pada menjelasanku. Ok? Sayang." Mata Jinki mengerjap-ngerjap.
"Aku baru tahu kalau kamu juga bisa narsis, hyung" Ucap Jinki sambil membekap mulutnya untuk menahan tawa yang siap meledak.
"Tapi bukankah kita agak jahat menjadikan Yoogeunnie objek praktek?" ujar Jinki kalem.
"Anggap saja kita terpaksa, sepertinya Yoogeun juga tak masalah dijadikan objek." Ujar Changmin terkekeh.
"Ayo lanjutkan, Yoogeunnie nanti kedinginan."
"Kita balik badan Yoogeunnie. Seperti ini."
Changmin melepaskan ibu jarinya di telinga kanan Yoogeun, lalu ibu jari tangan kanan Changmin menutup telinga, sedangkan jari telunjuk kanan menggantikan jari tengah yang menutup telinga kanan. Telapak tangan Changmin tetap menyangga kepala Yoogeun.
"Rumit sekali." Celetuk Jinki. Wajahnya terlihat frustasi.
"Belajar pelan-pelan. Lalu balikkan tubuh kearah kanan secara perlahan. Gunakan tangan kiri untuk menyiram tubuh sampai bersih."
Setelah beres, Changmin membalik tubuh Yoogeun seperti semula.
"Saatnya keramas." Cetus Changmin.
Changmin membubuhkan sedikit shampoo ke rambut Yoogeun yang lebat. Diusap perlahan. Setelah itu Changmin membilas hingga busa shampoo tak bersisa. Selanjutnya membilas seluruh tubuh. Lalu mengangkat Yoogeun dari bak mandi.
Tiba-tiba saja Yoogeun menangis. Sepertinya dia tak rela waktu mandinya berakhir dengan begitu cepat. Namun seolah tak mendengar tangisan Yoogeun, Changmin tetap mengangkat Yoogeun dari bak mandi.
"Yoogeunnie menangis, hyung…" jerit Jinki heboh.
"Iya aku tahu." Jawab Changmin sambil meletakkan Yoogeun diatas handuk. Dengan telaten Changmin mengeringkan seluruh tubuh Yoogeun. Tangisan si kecil belum berhenti juga. Jinki melihatnya menjadi sangat khawatir.
"Tak apa, biarkan menangis. Kadang menangis itu baik untuk bayi. Nah bersihkan tali pusar dengan cotton buds. Bungkus dengan kasa steril yang dibasahi dengan alcohol. Yang paling penting, pangkal tali pusar harus tertutup rapat. Ok?"
Jinki meneguk ludahnya, baru kemudian mengangguk.
Changmin mengambil minyak telon, kemudian menggosoknya di seluruh tubuh. Selanjutnya dibedaki tubuh Yoogeun hingga merata.
"Jja, Yoogeunnie sudah tampan." Ujar Changmin setelah memakaikan baju dan bedong. Tanpa disuruh Jinki menyodorkan sebotol susu ASI. Dengan lahap Yoogeun menyedotnya. Tangis yang sedari tadi memenuhi kamar yang luas itu mendadak sunyi senyap.
"Bagian mana yang belum paham?" Tanya Changmin, menolehkan kepalanya kearah Jinki.
"Kurasa bagian memandikan. Rumit sekali." Jawab Jinki sambil nyengir.
"Kamu juga belum bisa menggendong." Tambah Changmin.
"Aku bisa Hyung, tadi malam aku menggendongnya kan?" bantah Jinki. Iya memang bisa menggendong, tetapi saat Yoogeun tidur. Ckckckc. Bahkan hanya beberapa saat saja. Changmin yang tahu ini hanya terkekeh geli. Jinkinya sungguh lucu sekali.
.
.
.
Taman samping istana sepi, hanya terdapat Jinki dan Chagmin yang menjemur si kecil Yoogeun. Pagi ini sangat cerah, jadi sangat disayangkan bila tak keluar dari kamar.
"Jinki-ah…" sahut Changmin. Jinki hanya bergumam kerena dia sibuk menoel pipi chubby Yoogeun. Aigooo Jinki merasa dia mencubiti pipinya sendiri. So funny….
"Apa sebaiknya kita memberi seorang adik kecil untuk Yoogeun, kurasa Yoogeunnie akan kesepian bila tak ada saudara." Lanjut Changmin mengutarakan apa yang ada difikirannya saat ini.
"Mwoyaaa Hyung…. Yoogeunnie bahkan belum berumur 1 bulan, dan hyung sudah memikirkan membuat adik untuknya. Aku kira, Hyung terlalu jenius." Pekik Jinki ngeri. Membayangkan dia hamil lagi? Maldo andwe. Itu 9 bulan terlama yang ia jalani. Bahkan Jinki belum bisa menaklukkan Yoogeunnie, dan harus menaklukkan satu bayi lagi? Itu terdengar sangat buruk. Ah… apa Jinki harus melakukan trik-trik seperti ia menaklukkan Changmin dulu? Jinki sadar kalau dia 100% idiot bila melakukannya.
"Aku hanya mengajukan usul yang terlihat brilian Jinki-ah."
"Ya, sangat-sangat brilian." Jinki menyetujui ucapan Changmin sambil memutar bola matanya.
"Yoogeunnie, umma mu tak mau membuatkanmu adik. Jahat bukan?" adu Changmin pada Yoogeun yang masih memejamkan matanya erat. Tak merasa terganggu dengan orang tuanya yang sedari tadi sibuk berdebat.
"Aku tidak bilang aku tidak mau hyung, aishhh jangan main fitnah." Changmin berbinar mendengarnya.
"Jadi, kita akan membuat adik, iya?" pekik Changmin girang. Akhirnya sang juniornya berakhir juga masa cutinya. Yeah… dia akan mengundang beberapa kawannya untuk berpesta.
"Iya, saat Yoogeunnie berumur 20 tahun kita akan membuatkannya adik, dan tentu saja aku tak akan merawat si bungsu, ada kakaknya yang hebat yang akan merawatnya." Jinki tersenyum cerah saat mengatakannya. Kalau begitu kenapa bukan Yoogeunnie saja yang membuat anak sendiri? pikir Changmin.
"Ok, kita tak membuat adik sekarang, tetapi biarkan si junior kembali bekerja ne? dia terlalu lama cuti, dia sudah bosan." Ucap Changmin tak mau melepaskan kesempatan yang ada.
"Ah, iya biarkan junior bekerja, biar dapat banyak uang nanti." Sahut Jinki, lalu terdiam beberapa saat,
"Memang Junior siapa? Nama adik Yoogeunnie iya? Tapi namanya asing sekali, apa tidak Taemin saja? Taemin lebih bagus."
Jinki menoleh kearah Changmin yang terbengong dengan mulut yang terbuka.
"Changmin hyung, kau kenapa? Hei…" Jinki mengiyang-goyang bahu Changmin dengan keras. Apa Changmin hyung kerasukan hantu penunggu taman ini? Pikir Jinki horror. Ini tak baik untuk Yoogeunnie. Cepat-cepat didorong kereta Yoogeun, masuk kedalam istana meninggalkan Changmin yang masih terbengong sendiri. well.. sepertinya si hantu masih kecantol dengan ketampanan Changmin.
Sementara dialam bawah sadar, Changmin terus-terusan mengingatkan dirinya akan berbicara lebih frontal saja mengenai kebutuhan utama yang telah dipending selama hampir 10 bulan itu.
"Mari kita bercinta." Berkata Seperti ini misal. Jinki tak akan salah pengertian lagi, dan Changmin segera mendapatkan kebutuhannya. 2 pihak sama-sama beruntung, tak ada yang dirugikan.
Changmin menyeringai bak pengeran iblis. Si hantu yang sedari tadi menempel, mundur perlahan menjauhi Changmin. Aura Iblis memang selalu membawa dampak negative.
"Bunddaaaa Changmin hyung berubah menjadi ibliiiissssssssss….." Kyuhyun yang lewat tak jauh dari Changmin sontak berteriak saat merasakan aura keiblisan Changmin. Dan kemudian berlari di koridor begitu saja.
"Kyaaaaa IIBBLLLIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIISSSSSSSSS….." lalu sebuah suara khas milik Jinki menyusul kemudian. Koridor menjadi 2 kali lipat berisik, apalagi kemudian suara tangis Yoogeunnie ikut meramaikan suasana.
Changmin tersadar dari keterpurukannya, begitu mendengar lengkingan suara adik, istri dan anaknya itu.
"Yah, Evil Jung, kau juga iblis kan? Iblis teriak iblis, tak tahu malu…" Teriak Changmin dan ikut meramaikan koridor istana. Rasanya Changmin menjadi anak kecil kembali saat berlarian seperti ini. Dulu sekali Changmin pernah melakukannya. Dengan Kyuhyun tentunya. Dan sekarang anggota bertambah karena adanya Jinki dan Yoogeun.
"JINKI-AH…. AKU MENCINTAIMU…. YOOGEUNNIE APPA JUGA MENCINTAIMU…. APPA AKAN BERUSAHA MEMBUJUK UMMA MU UNTUK MEMBUATKAN ADIK DALAM WAKTU DEKAT…." Teriak Changmin OOC. Dia begitu bahagia sekarang.
Ratu Jaejoong yang semula panic mendengar teriakan Kyuhyun, perlahan mengembangkan senyum bahagia melihat kelakuan orang-orang yang begitu dicintainya. Istananya tak sepi seperti dulu. Jinki memang membawa perubahan sangat baik. Bahkan para pelayan juga tersenyum melihatnya. Tak setiap hari kan bisa melihat anggota kerajaan OOC begini?
"Hahhh aku sudah lupa kapan terakhir kali aku hidup tenang. Anak itu benar-benar sudah tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi." Sahut Raja Jung.
"Kalau kau menyakiti Jinki, berarti kau menyakiti Changmin anak kita, dan berarti kau juga menyakitiku sebagai bundanya." Ujar Ratu Jung penuh penekanan.
Tbc
Saya tidak tahu kenapa chapter ini malah berubah genre.
Semoga chapter depan Dramanya lebih kerasa.
Maaf kalau part yang Changmin praktek memandikan bayi begitu membosankan dan bahasanya susah dimengerti. =="
Oh ya…
Maaf juga Baru bisa update. Kerjaan gak bisa ditinggal barang sekejap.
Terima kasih sekali lagi, buat yang udah mau review.
Kritik dan sarannya masih saya tunggu.
