Disclaimer : Bleach is Mister Kubo Tite's
This story is mine.
LOVE FORCE
Ulquiorra Schiffer – Orihime Inoue
Chapter Three
"Ingat, Onna. Ayahku, hanya menggunakanmu sebagai salah satu penghilang kebosanannya. Jika permainan yang sedang ia mainkan ini berakhir, maka kau pun akan berakhir." Bisik Ulquiorra pada Orihime. Kedua bola mata gadis itu melebar.
Orihime hanya tidak mengerti, kenapa pemuda tersebut bisa bersikap begitu dingin.
Pagi hari, Orihime Inoue sedang membereskan barang bawaannya ketika seorang pemuda berambut raven dengan wajah dinginnya melangkah memasuki ruangan. Pemuda yang mengenakan setelan rapi berwarna gelap itu adalah Ulquiorra, ia berjalan dengan menenteng sesuatu di tangannya. Gadis berambut merah-jingga yang sedaritadi duduk segera beranjak dari posisinya dan berdiri saat Ulquiorra mendekat untuk menyerahkan sesuatu.
Orihime memandang Ulquiorra dengan penuh tanya saat ia melihat sebuah bungkusan di tangan pemuda itu.
"Apa ini?" Tanya orihime.
"Pakaian untuk kau pakai." Jawab Ulquiorra singkat.
"Tapi aku membawa pakaian sendiri.."
"Selama tinggal disini, kau harus berpakaian sesuai kehendak Aizen-sama." Tegas si pemuda.
"A-apa..? Tapi.."
"Tak ada tapi, Onna. Kau hanya harus mematuhi apa yang diperintahkan padamu."
"Baik." Jawab Orihime dengan pasrah.
Sebelum bertemu langsung dengan Aizen, Orihime hanya pernah mendengar namanya. Ia selalu bertanya-tanya orang seperti apa pria itu, namun ternyata sepertinya Aizen adalah seseorang yang keberadaannya sangat mendominasi. Sampai-sampai pemuda sedingin Ulquiorra harus selalu mematuhi segala yang menjadi keinginannya.
"Ingat, onna. Mulai sekarang kau harus mulai belajar untuk membawa diri dan berhenti bersikap acuh-tak acuh."
"Kenapa?"
"Kenapa, katamu? Tentu saja untuk menyelamatkan hidupmu."
"Me-menyelamatkanku?" ucap Orihime, tak paham maksud perkataan si pemuda.
"Benar. Kau tak punya pilihan lain selain beradaptasi dengan kehidupan di Las Noches."
"Tapi aku pikir.. aku masih bisa kembali ke Karakura.."
"Bodoh. Kota itu tidak lagi berarti apapun bagimu, karena kau sudah menjadi bagian dari Las Noches semenjak kau menginjakkan kaki di tempat ini."
Orihime berusaha untuk tetap tenang meski kecemasan mulai melandanya secara perlahan.
"Dengar, Inoue Orihime. Hidup disini tidak akan mudah."
"Ya." Orihime mengangguk pelan.
Beberapa waktu kemudian, Orihime membuka bungkusan pakaian yang ia simpan di atas tempat tidur. Tak disangka olehnya, bungkusan tersebut berisi beberapa baju serupa gaun yang sangat manis dengan bermacam model dan warna. Baju-baju yang dibawakan Ulquiorra itu terlihat sangat modis dan branded. Selama ini gadis itu bermimpi untuk bisa mengenakan baju-baju cute seperti ini, karenanya Orihime menjadi sangat bersemangat untuk mencobanya satu per satu.
Setelah selesai merapikan barangnya dan membersihkan diri, Orihime merebahkan diri di sofa. Ia memakai salah satu pakaian yang disediakan untuknya, memilih gaun berlengan dengan rok selutut berwarna hijau toska. Orihime memejamkan matanya sejenak dan menghela napas panjang. Berpikir, sampai berapa jauh kehidupan ini akan membawanya. Lalu semburat cahaya terlintas dalam kegelapan matanya yang terpejam, sehingga dengan perlahan gadis itu membuka mata. Di sudut kamar sebrang sofa yang ia duduki, beberapa alur sinar matahari yang masuk menyelinap ke dalam ruangan melalui tirai vitrage mencuri perhatian si gadis. Tak terasa matahari sudah setengah bertengger di ufuk timur, Orihime beranjak untuk berjalan menghampiri jendela yang semalam tadi mereflesikan sinar bulan. Ketika menyingkapkan kain gorden tipis yang melindungi bingkai jendela, Orihime terkesiap takjub saat melihat pemandangan yang ditangkap oleh manik abunya.
Terdapat air mancur yang dikelilingi taman bunga menghiasi pekarangan yang berada dibawahnya. Sebuah patung Unicorn perak yang sedang mendongakkan badan dengan mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi sambil meringkik bertengger di pusat air mancur tersebut. Semalam tadi Orihime melewatkan keadaan sekelilingnya karena ia masih tertidur di dalam mobil saat memasuki pekarangan rumah ini. Kamar Orihime nampaknya berada di lantai dua sehingga gadis itu dapat melihat seluruh sisi taman. Rumput hijau terbentang menutupi tanah, hanya beberapa tempat yang dilapisi paving block membentuk jalan setapak. Orihime seolah terjerat oleh pemandangan yang dilihatnya sehingga tanpa sadar ia sudah berdiri sambil mencengkram tralis yang mengisolasi jendela berukuran besar itu. Sampai-sampai ia tidak menyadari ketika ada seseorang memasuki ruangannya.
"Tak disangka, baju itu terlihat cocok untukmu." Sebuah suara yang familiar membuat Orihime tersadar.
Gadis itu terkaget lalu menoleh seketika dan menemukan Ulquiorra sedang berdiri di ambang pintu kamarnya. "Aaah! Sudah berapa lama kau berada disana?" pekiknya.
"Baru saja. Jangan selalu membuat kegaduhan seperti itu pada apapun, itu menjengkelkan." Jawab Ulquiorra dengan datar. "Aku membawakan makananmu."
"Masuk." Komandonya, tak berapa lama kemudian, seorang pelayan memasuki kamar dengan membawa troli berisi makanan.
"Ah, terima kasih." Ucap Orihime sambil menggigit bibir bawahnya. Memang sudah dari tadi Orihime menahan lapar, diam-diam gadis itu melirik ke arah pelayan yang sedang memindahkan makanan dari troli ke meja. Si pelayan membungkuk lalu pergi meninggalkan ruangan.
"Makan." Ulquiorra memerintah.
Dengan malu-malu, Orihime mengangguk pelan lalu menghampiri meja penuh makanan dan duduk di sofa. Orihime membuka penutup piring satu persatu. Makanan yang disajikan disana terlihat enak, gadis itu tidak sabar untuk mencicipinya. Orihime baru saja akan mengucapkan 'selamat makan' saat ia melihat Ulquiorra berdiri di sebrang ruangan, bersender ke dinding sambil tangan dimasukan ke saku celananya. Sesaat itu juga si gadis berhenti.
Dari sudut ruangan, Ulquiorra menatapnya dan berkata. "Kubilang, makan. Onna."
"Bagaimana denganmu, kau tidak makan?"
Hening.
Tak ada jawaban.
Tidak ada keharusan bagi Ulquiorra untuk menjawab pertanyaan bodoh seperti itu. Ia hanya diperintah untuk mengawasi si gadis, bukan untuk selalu menanggapi pertanyaan-pertanyaannya. Tapi saat menyadari bahwa gadis itu tidak akan mulai makan jika ia tak bersuara, akhrinya Ulquiorra berucap.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Aku disini untuk memastikan kau menghabiskan makanmu." Jeda sejenak, Ulquiorra memperhatikan ekspresi Orihime yang mengernyit, lalu ia lanjut berkata "Dengan kata lain, hanya untuk mengawasimu."
"Me..ngawasi?" Orihime memindahkan tatapannya ke makanan di meja, lalu kembali pada Ulquiorra. Lalu sambil menimbang-nimbang, gadis itu berkata, "Eerr, apa kau yakin tidak akan ikut makan bersamaku?"
"Kubilang aku disini hanya untuk mengawasimu."
"Tapi, bukankah aneh jika ada seseorang yang memperhatikan kau makan?"
Ulquiorra merengut. Gadis itu tak akan mulai makan jika ia tidak melakukan sesuatu.
"Kalau begitu, aku akan pergi." Ucap Ulquiorra sambil memutar badannya, "Aku akan kembali satu jam lagi untuk mengambil-"
"Tidak, tunggu dulu." Potong Orihime, "Maksudku, setidaknya kau bisa duduk disampingku.. untuk menemaniku makan?"
Ulquiorra menoleh ke arah si gadis, terpaku sejenak.
"Bukankah kau bertugas untuk memastikan aku menghabiskan makananku?" ucap Orihime lagi dengan senyum melengkung di bibirnya.
Ulquiorra mendesah pelan. Sekali lagi ia meyakinkan diri bahwa gadis itu tak akan mulai makan jika dirinya tidak melakukan hal yang dipinta si gadis. Ini merupakan bagian dari tugasnya untuk menjaga gadis itu. Hal kecil seperti perdebatan hanya akan memperlambat waktu, sehingga Ulquiorra memutuskan untuk duduk menemani Orihime makan.
Sesaat setelah Ulquiorra menghampirinya, Orihime pun berkata, "Mari makan!"
Pemuda bermanik hijau disamping Orihime terduduk tanpa suara, menyender ke sandaran kursi sambil melipat tangannya. Si pemuda diam-diam memperhatikan si gadis yang dengan lahap sedang menyapu habis makanannya dalam sekejap. Ini kali pertamanya pemuda itu memiliki kesempatan untuk memperhatikan Orihime dari jarak dekat. Maka, Ulquiorra melakukan analisis singkat.
Patut diakuinya, gadis itu memiliki wajah yang cantik. Kulitnya sewarna peach terang tanpa noda, dengan mata berwarna abu cerah, bibirnya penuh berwarna ceri, rambut merah-jingganya menjuntai panjang melewati bahu, beberapa diselipkan dibalik telinganya dengan sepasang jepitan rambut berbentuk bunga yang memiliki 6 petals berwarna biru. Tubuhnya mungil dan ramping dengan lekuk sempurna, sehingga baju yang kini dikenakannya terlihat sangat pas. Namun disamping perawakannya yang elok, pemuda itu heran melihat selera makan si gadis yang tak disangka dan tak sesuai dengan penampilannya.
Tapi yang paling membuatnya keheranan adalah sikap Orihime. Ia masih bisa bersikap biasa dan sama sekali tak terlihat tertekan. Padahal seharusnya gadis normal akan merasa depresi bila tiba-tiba dibawa jauh dari tempat tinggalnya lalu diberitahu akan dinikahkan dengan seseorang yang bahkan sama sekali tak pernah ia ditemui sebelumnya. Terlebih setelah menerima perlakuan dingin dari Ulquiorra. Ini membuat Ulquiorra sedikit merasa takjub. Tanpa disadarinya, ia merasa sedikit terpukau.
Lalu dengan tiba-tiba, Orihime menoleh dan berkata, "Terima kasih makanannya, enak sekali."
Gadis itu terhenti dan sedikit kaget saat menemukan Ulquiorra sedang memandanginya. Namun Ulquiorra hanya mengedipkan matanya perlahan, bersikap tetap tenang. Ia yang telah tertangkap basah sedang memperhatikan Orihime, malah lanjut memandang si gadis tanpa berkata sepatah katapun.
Ditatap dari dekat seperti itu, Orihime dengan agak grogi bertanya, "Mmm, ada apa?"
"Apa kau takut padaku?" Entah darimana, tiba-tiba Ulquiorra melemparkan pertanyaan itu.
Orihime sedikit tersedak, "E-eh?" Melihat ekspresi serius yang ditunjukan Ulquiorra, Orihime yakin pasti pemuda itu tidak sedang bercanda. "Ti.. dak. Memangnya kenapa?"
Akhirnya, Ulquiorra memalingkan pandangannya. "Semua orang lebih memilih untuk tidak berhubungan denganku, tapi kau malah tidak bisa berhenti bicara. Onna."
Orihime seakan paham, mungkin semua orang tidak tahu bagaimana harus menyikapi orang sedingin ini. Gadis itu pun begitu, hanya saja.., "Tapi.. Kita akan segera menikah, aku pikir.. bukankah sudah sewajarnya jika kita bisa lebih saling mengenal?"
Mendengar jawaban polos si gadis, Ulquiorra segera berdiri.
"Naif sekali." Gumam Ulquiorra dengan nada dingin.
Orihime merasakan adanya perubahan sikap dari si pemuda yang sesaat lalu terlihat rileks, maka ia ikut berdiri. Apa ia telah salah bicara?
Manik keduanya kembali beradu pandang.
"Kubilang, hidup disini tidaklah mudah. Sekalinya kau masuk ke dalam permainan ini, kau tak akan pernah bisa keluar. Tapi yang kulihat adalah, kau masih bersikap tenang dan seakan tanpa takut apapun. Apa kau masih berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja?"
Orihime terdiam sejenak lalu mengalihkan pandangannya pada piring-piring kotor yang telah kosong.
"Tapi mau bagaimana lagi.. tidak ada jalan lain bukan? Baik kau maupun aku, kita sama-sama tak bisa membantah keinginan Aizen-sama."
Mata Ulquiorra menyipit, lalu ia melangkah menghampiri Orihime dan membuat gadis itu mendongak kembali ke arahnya. Ulquiorra berhenti saat tubuh si gadis hanya berjarak beberapa centimeter darinya.
"Ingat, Onna. Ayahku, hanya menggunakanmu sebagai salah satu penghilang kebosanannya. Jika permainan yang sedang ia mainkan ini berakhir, maka kau pun akan berakhir." Bisik Ulquiorra sangat pelan, sehingga lebih terdengar ia sedang berdesis tepat disamping telinga Orihime.
Kedua bola mata Orihime melebar. "Lalu, bagaimana denganmu?" Orihime mulai bertanya, mengambil satu langkah mundur sehingga ia dapat kembali menatap manik hijau Ulquiorra, dan melanjutkan, "Apa kau pun akan berakhir, ataukah kau merupakan pengecualian?"
Ulquiorra menyipitkan mata sembari memfokuskan pandangan pada sosok didepannya, sedikit kagum akan keberanian yang dipancarkan oleh wajah gadis itu. Terlihat segaris warna merah menyertai pipi si gadis, saat pipinya bergetar.
"Kita hanya akan tahu setelah menjalani permainan ini." Jawab si pemuda.
Akhirnya Ulquiorra memanggil seorang pelayan untuk membawa troli berisi piring-piring kotor, lalu pergi keluar meninggalkan Orihime sendirian lagi.
Sepertinya Ulquiorra masih menganggap bahwa pernikahan yang akan mereka lakukan hanyalah sebuah permainan. Namun bagi Orihime, permainan atau bukan yang pasti pernikahan ini akan mengubah kehidupannya. Yang membuatnya cemas adalah, bagaimana dirinya akan menjalani semua ini? Terlebih lagi saat nantinya ia akan terus-terusan berhadapan dengan pemuda dingin itu...
Orihime merasa lega karena Ulquiorra sudah mau berbicara padanya sedikit lebih banyak dari sebelumnya. Tapi tetap saja, si pemuda masih menunjukkan sikap yang sama. Dingin dan tanpa emosi. Sejujurnya, Orihime tidak tahu apa yang dipikirkan Oleh Ulquiorra.
XXX
Sementara itu, Ulquiorra berhenti sejenak sesaat setelah keluar dari kamar Orihime.
Gadis itu.. setelah semua yang terjadi, aku hanya melihat sedikit keraguan darinya. Bahkan tak ada kedutan di alisnya yang menunjukan ketakutan. Sungguh gadis yang tangguh. Pikirnya, lalu pemuda itu pun meneruskan langkahnya. Sembari tetap berjalan, Ulquiorra memejamkan matanya sambil mengingat kembali pertemuannya dengan ayahnya pada dini hari tadi.
*Flashback*
"Sepertinya kau masih belum bisa menerima kehadiran Orihime disini." Aizen mengetukan-ngetukan jemarinya pada meja kerja di depannya.
"Saya hanya belum paham dengan tujuan Anda membawanya kemari." Jawab Ulquiorra, jujur.
Aizen menatap malas pemuda di depannya. "Bukankah sudah kubilang bahwa dia adalah gadis yang cocok untukmu?"
"Mengapa harus Inoue Orihime? Saya belum menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut."
"Bagaimana reaksinya saat kau akan membawanya kesini?" Aizen mengalihkan topik dan meruncingkan tatapannya, "Ada perlawanan?"
Ulquiorra segera menjawab. "Tidak. Gadis itu mematuhi semua yang saya perintahkan dan sebisa mungkin berusaha untuk tidak mengajukan pertanyaan apapun."
Senyum tersungging dari bibir pria nomor satu di Hueco Mundo itu. "Sepengetahuanku dia adalah gadis yang kuat, Ulquiorra. Tak akan mudah untuk menghancurkannya. Seiring waktu kau akan melihat perbedaan antara Orihime dengan sampah-sampah yang pernah kau temui."
Ulquiorra tak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatap ayahnya, masih dengan tanpa ekspresi yang ditunjukan. Sehingga Aizen bertanya, "Apa kau masih meragukanku, Ulquiorra?"
"Tidak."
Ulquiorra merasa sangat penasaran dengan bagaimana ayahnya bisa mengenal gadis itu. Namun sepertinya Aizen tak berniat untuk mengatakan apapun sehingga tak sepantasnya Ulquiorra mempertanyakan hal tersebut.
Meski begitu, Aizen masih belum melihat keteguhan pada diri Ulquiorra, karenanya pria itu memutuskan untuk meyakinkan anaknya.
"Selama ini kau selalu menyelesaikan tugas yang aku berikan. Ini adalah tugas baru untukmu."
Ucapan Aizen berikutnya membuat Ulquiorra sedikit terkejut.
"Orihime adalah tanggung jawabku. Dia juga adalah gadis yang kupilih, sama halnya seperti aku memilihmu. Aku memberikan perintah ini padamu karena hanya kau yang kupercaya untuk melakukan ini."
Manik Ulquiorra melebar, seakan tidak percaya ayahnya akan mengucapkan hal tersebut.
"Saya mengerti, Aizen-sama. Maaf atas segala kelancangan saya."
Aizen tersenyum puas. "Jadi, jangan terlalu keras pada gadis itu, Ulquiorra. Kupercayakan dia padamu."
Kemudian pria itu menunjuk ke arah sebuah bungkusan yang terletak pada meja besar ditengah sofa kulit berwarna hitam.
"Bawakan pakaian ini padanya dan sebisa mungkin buat dia merasa seperti di rumah."
"Baik."
*End of flashback*
Ulquiorra mendesah pelan sebelum akhirnya membuka mata, kembali menatap lorong yang berada di depan. Ia mengingat pesan Aizen, jangan terlalu keras pada gadis itu, Ulquiorra. Kupercayakan dia padamu.
Ayahnya telah mempercayakan Orihime Inoue kepada dirinya. Siapapun gadis itu, namun ia akan berusaha untuk menjalani tugas yang diembannya saat ini. Tentu saja bukan untuk si gadis, tapi semata hanya demi ayahnya.
Buat dia merasa seperti di rumah.
Kata-kata itu terus terngiang di benak si pemuda, meski ia tidak tahu harus berbuat apa.
Bersambung...
Yeaaay akhirnya chapter 3 selesai juga^^
Terima kasih atas favorit dan reviewnya. Aku senang sekali jika teman-teman menyukai dan mendukung cerita ini, sehingga bisa menikmati saat membaca ceritanya :)
Author akan berusaha keras untuk terus update cerita ini, jadi dukungan dan saran dari pembaca sekalian sangatlah berarti.
Review, please?
Sampai ketemu lagi di chapter berikutnya,
Salam.
