Karin menunggu kedatangan Sakura dengan gelisah. Mei sudah menanyakan keberadaan Sakura sejak semalaman. Karin takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Sakura. Apalagi ia merasa diikuti oleh seorang pria saat keluar membeli bahan-bahan masakan. Ia merasa tidak aman hanya berdua dengan Mei di rumah. Karin terpaksa tidak masuk sekolah hari ini karena tidak mau meninggalkan Mei sendirian. Biasanya Mei tinggal bersama Sakura selama Karin pergi sekolah hingga pukul 12. Lalu setelah itu Sakura berangkat bekerja digantikan oleh Karin untuk menjaga Mei. Pagi ini Mei tidak mau melakukan terapi karena Sakura tidak ada. Ia sangat bergantung pada Sakura.
"Ka-rin, Saku na?" / Karin, Sakura dimana?
"Saku-neechan sedang bekerja. Sebentar lagi ia pasti pulang. Sabar yaa, sekarang Mei-nee minum susu hangat dulu."
Mei bergantian memperhatikan antara susu coklat di tangan Karin dan wajahnya. Dulu hubungan mereka kurang begitu baik, karena Karin malu punya kakak seperti Mei. Baru akhir-akhir ini setelah diberi pengertian oleh Sakura, Karin mulai membuka pikirannya untuk menerima Mei. Dengan ragu-ragu Mei mengambil susu itu dan meminumnya perlahan.
"Ka-rin dak jaat gi 'kan?" / Karin tidak jahat lagi 'kan?
Gadis berusia 13 tahun itu tertegun lalu mengusap punggung Mei dengan sayang, "Maafkan Karin ya pernah jahat sama Mei-nee. Karin sayang Mei-neechan."
.
.
.
.
Setelah melakukan perjanjian dengan Sakura, Sasuke segera pergi untuk melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Tujuannya kali ini adalah bertemu Gaara, Neji, dan Shikamaru yang akan melaporkan bisnis mereka di wilayah masing-masing. Ia melamun sepanjang perjalanan itu, beruntung yang membawa mobil bukan dirinya melainkan salah satu anggota kelompok kepercayaannya. Pikirannya bercabang dua antara Four Corners dan Sakura. Four Corners baru saja menang perang senjata api melawan Akatsuki. Namun kemenangan itu malah membuat Sasuke gelisah.
Akatsuki adalah kelompok yakuza Jepang yang sama-sama melakukan perbuatan illegal seperti Four Corners. Kelompok yakuza yang merupakan rival utama Four Corners ini dibentuk di Jepang. Klan yang berada di bawahnya tersebar di beberapa negara sekitar 50 ribu orang lebih. Mereka sering menantan kelompok lain untuk perang senjata api. Salah satu pendiri Akatsuki adalah Uchiha Itachi yang merupakan kakak kandung Sasuke. Jalan yang dipilih mereka berdua sama tetapi mereka memilih untuk berpisah. Sebenarnya bukan kemauan Sasuke untuk seperti itu, tapi sejak kejadian itu Itachi memutuskan untuk meninggalkan Sasuke.
"Sudah sampai bos!"
"Hn."
Kaki jenjang Sasuke menapak di tanah dan berjalan menuju mansion Four Corners. Di dalam sana sudah ada Gaara dan Neji yang sedang berbincang dan Shikamaru yang baru bangun tidur.
"Yo Sasuke, bagaimana wanita yang semalam?" Dengan wajah mengantuk Shikamaru menyapa Sasuke.
"Sama seperti yang lain. Bagaimana bisnis kalian?"
"Beberapa minggu belakangan Akatsuki sulit untuk memasuki Meksiko karena ada pergantian pengawas pelabuhan di sana. Jadi aku bekerja sama dengan petugas baru untuk mengawasinya."
"Hn. Kerja bagus, Neji. Bagaimana di Jepang?"
"Masih sama. Cukup sulit untuk Four Corners menguasai Jepang biar bagaimanapun Akatsuki bermarkas di sana."
"Orochimaru, apa yang sedang dilakukannya?"
"Untuk sementara belum ada pergerakan darinya."
Shikamaru mengikuti perbincangan mereka dengan setengah terpejam. Ia hampir selalu tidak bisa menahan kantuknya.
"Shikamaru bagaimana denganmu?"
"Haah... seperti biasa baik-baik saja di Brazil. Four Corners masih ditakuti."
.
.
.
.
Sakura memakan ramen dalam diam. Setelah acara penatoan dirinya, Naruto dan Sai mengajaknya makan siang di salah satu kedai ramen. Pikirannya masih melayang pada perjanjian yang baru ia tawarkan pada Sasuke. Ia tak tahu bagaimana bisa seberani itu untuk menjual dirinya sendiri.
Tidak apa-apa asal Karin dan Mei-neechan bisa bahagia.
Ia sangat ingin menangis sekarang. Tapi tidak mungkin dilakukannya karena ada Naruto dan Sai di sana. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Four Corners. Karena prinsipnya semakin ia terlihat lemah semakin ia diinjak-injak.
"Setelah ini kami akan mengantarmu pulang. Sasuke yang menyuruh kami. Kau makan yang banyak, kalau kau mau kau boleh memesan 2 bungkus lagi untuk dibawa pulang, ttebayo!"
Sakura menatap penuh selidik pada Naruto, "Darimana bosmu tahu tentang keluargaku?
"Informan kami banyak. Makanya jangan macam-macam, jelek," Sai menyeruput kuah ramennya.
Sakura diam saja mendengar Sai yang menjawab pertanyaannya. Perkataan yang diucapkan Sai padanya selalu ketus dan tajam. Dirinya merasa kurang nyaman apalagi wajah Sai yang mirip Sasuke membuatnya enggan menatapnya terlalu lama.
"Sudah selesai 'kan melamunnya? Ayo pulang jangan buang-buang waktuku," lagi-lagi Sai menyindirnya. Poor Sakura.
.
.
.
.
"Kami pulang dulu. Kau harus selalu siap kalau-kalau ada orang suruhan Four Corners yang menjemputmu."
Saat ini mobil Naruto sedang terparkir di depan apartemen kumuh Sakura. Tanpa menjawab Sakura melenggang pergi meninggalkan dua orang pria yang terbengong melihatnya pergi.
"Sial. Benar-benar sialan wanita itu."
.
.
.
.
Suara pintu yang dibuka mengagetkan Karin yang sedang memasak makan siang. Dihampirinya pintu depan dan seketika perasaan lega dirasakannya saat melihat Sakura dengan muka letihnya. Kakak perempuannya itu berdiri memegang 2 bungkus ramen yang wanginya menguar di udara.
"Aku bawa ramen untuk kalian. Kau tak usah memasak, Karin."
"Sakura-nee darimana saja? Mei-neechan menanyakanmu terus. Ia memanggil namamu semalaman dan tidak mau pergi terapi tadi pagi."
"Aku lembur mengurusi pembukuan toko buku nenek Chiyo."
Karin manggut-manggut sembari tangannya memindahkan ramen dari bungkusnya. Ia ingin menceritakan bahwa ada yang mengikutinya tadi pagi tapi diurungkannya karena melihat wajah letih Sakura.
"Kau sudah makan?"
"Sudah. Aku tidur dulu, ajak Mei-neechan makan."
Saat Sakura melewatinya, mata Karin menangkap ruam-ruam keunguan di leher dan pipi Sakura. Ia melotot kaget. Firasatnya mengatakan ada yang disembunyikan Sakura tapi lagi-lagi ia tidak mau bertanya karena tidak mau membebani kakaknya.
"Ka-rin, Saku dah lang ya?" / Karin, Saku sudah pulang ya?
"Sudah tapi jangan diganggu dulu ya. Kasihan dia lelah."
Mei yang hendak menyusul Sakura cemberut mencebikkan bibirnya dan langsung duduk di kursi makan dengan kasar. Mei menerima ramen dari tangan Karin masih dengan cemberut.
"Aw nas nas! Nas Ka-rin." / Aw panas panas! Panas Karin.
Karin terkikik geli melihat Mei meniup tangannya yang memerah akibat memegang mangkuk ramen yang panas. Tidak tega, Karin membantu meniupnya dan mengelusnya.
"Makanya jangan marah-marah terus Mei-neechan."
Senyum terpaksa terukir di bibir Mei. Tak lama senyum itu berganti dengan senyuman polos dari Mei yang menyejukkan hati Karin. Mereka makan dalam diam sesekali Karin mengelap wajah Mei yang berantakan. Mereka makan cukup lama karena Mei susah makan sendiri. Satu jam mereka makan, Sakura tiba-tiba keluar kamar dengan muka kesal.
"Aku keluar dulu. Mungkin aku akan pulang besok jadi jangan tunggu aku. Jaga Mei-nee ya Karin."
"Saku mau na?" / Saku mau kemana?
"Aku pergi dulu ya, baik-baik di rumah. Jangan membuat Karin repot."
Mei cemberut lagi memegangi baju Karin dan bersembunyi di belakangnya. Air matanya hampir luruh. Dengan berat hati Sakura melangkah keluar meninggalkan Mei yang menangis dan Karin yang menatap curiga.
.
.
.
.
Di depan apartemen Sakura sudah ada anggota Four Corners yang menjemput Sakura. Tadi Sakura menangis di kamarnya dan baru tertidur selama setengah jam saat tiba-tiba Sasuke menelfonnya menyuruh pergi ke Mansion Four Corners.
Sakura harap-harap cemas dengan kedatangannya kali ini. Ia takut Sasuke memintanya unuk berhubungan seks. Walaupun tadi ia dengan lantang meminta bayaran, sesungguhnya ia masih sangat takut. Tak terasa mobil sudah memasuki gerbang mansion Four Corners. Dengan takut-takut Sakura melangkah memasuki ruang tamu mansion.
"Kau sudah ditunggu Sasuke. Langsung ke kamarnya sana," Kiba dan anjingnya duduk di sana memperhatikan Sakura.
Sakura buru-buru pergi dari sana. Perasaannya tidak enak setiap dekat dengan Kiba. Langkahnya sengaja dibuat kecil-kecil agar tidak cepat sampai dan cukup untuk menenangkan hatinya.
"Mau sampai kapan berdiri di situ?" Tahu-tahu Sakura sudah berdiri di depan pintu besar kamar Sasuke. Di hadapannya Sasuke bersidekap. Tubuhnya topless menampakkan otot-otot perut yang cukup membuat Sakura memerah.
.
.
.
.
"AAAAAHHH…!" Sudah sepuluh menit Sasuke mengerjai Sakura. Tangannya sedari tadi meremas payudara Sakura dan sesekali menamparnya. Bibirnya menciumi leher Sakura dan terus turun ke bawah menjilati perut, pusar, dan paha Sakura. Kewanitaan Sakura tak luput dari permainan Sasuke. Kaki Sakura dibuat mengangkang dan tidak dibiarkan tertutup.
Sasuke memperhatikan wajah Sakura yang memerah menahan gairah. Keringat mengalir di sekujur tubuhnya. Wanita di bawahnya menggeliat meminta dipuaskan lebih oleh kedua jarinya yang keluar masuk lorong sempit Sakura. Sengaja dibuat lambat agar Sakura memohon padanya. Tak tahu ada apa tapi setiap melihat Sakura libidonya langsung bangkit. Menggelisahkan kejantanannya yang selalu minta dipuaskan.
Gerakan jari-jari Sasuke semakin lambat membuat Sakura gemas, "Aaaarrgghh! Kumohon… lebbbih cepattthh."
Sasuke menyeringai mendengar Sakura yang memohon padanya. Gerakannya diperlambat dan semakin lama semakin berhenti. Ia malah bangkit memakai kemejanya kembali. Sakura yang telanjang bulat memperhatikan Sasuke dengan bingung.
"Aku sudah selesai, minta bayaranmu pada Naruto," setelah mengatakan itu Sasuke keluar dari kamarnya masih dengan seringai geli di wajahnya. Biasanya ja tak segembira ini setelah berhubungan seks dengan pelacurnya tapi sekarang ia senang telah mengerjai Sakura. Ia memang sengaja memanggil Sakura ke mansion Four Corners. Niatnya ia tidak ingin berhubungan seks, hanya sedikit mengerjai Sakura dan sedikit menghibur hatinya.
Telinga Sasuke masih berfungsi dengan baik untuk mendengar teriakkan Sakura dari kamarnya, "KETUA MAFIA BRENGSEK!"
Sasuke biasanya langsung emosi jika ada yang menyumpahinya. Tapi saat ini ia masih menyeringai senang.
.
.
.
.
To be Continued
Maaf nggak bisa bales review, lagi-lagi irit kuota dan ngetik di hp :( Makasih buat kalian yaaa... btw, mungkin besok-besok nggak bisa update secepet ini soalnya masuk-masuk udah kelas 12. Maaf juga belum bisa memenuhi permintaan readers buat manjangin cerita. Susah buat manjangin cerita idenya mentok mulu.
Buat Yana Kim, penjelasannya ada di chapter 1 coba baca lagi yaa ;)
See you,
