TABU YANG BENAR

Summary: memasuki awal tahun ketujuh, setelah melawan si pesek yang tidak lucu, yang tidak berperikemanusiaan, Voldemort. Tiga serangkai, Harry James Potter, Ronald Bilius Weasley, dan Hermione Jean Granger kembali mengulang pelajaran mereka untuk satu tahun terakhir kedepan.

Disclaimer: Tante JK. Rowling, aku rasa dia memang salah satu murid dunia sihir -,-

Pairing: Draco Malfoy x Hermione Granger

Rated: awalnya masih T mungkin, tapi kesanaannya bakal jadi M. kalo gak sanggup jangan lanjutkan ya, hhe. mohon maap kalo kata-kata disini terbilang kasar. maka dari itulah saya gunakan rate M.

Read n Review, I need your Review, Your Review its my drug xD

Chapter 3

Kedua mata coklat itu mengikuti arah pergi Theo dan Blaise. Tanpa sepengetahuan si Kedua Sytherin itu, seorang wanita ternyata memperhatikan gerak-gerik mereka, semenjak mereka memasuki perpustakaan mengikuti Hermione.

"Mau apa mereka?" gumamnya.


Hermione menenteng buku besarnya menuju Aula besar. Gedung besar itu sudah ramai dipenuhi anak-anak yang menunggu jam makan siang. Sementara ia sudah sampai di meja Gryffindor, ia hanya melihat Ron yang sedang menatap ke arahnya.

"Mione, darimana saja kau? Aku sendirian disini seperti anak baru." Ron mendengus.

"Maaf Ron, aku dari perpustakaan." Hermione meletakkan buku besarnya tepat di depan Ron.

"Dimana Harry dan Ginny?" Tanya Hermione. Tidak biasanya Harry dan Ginny terlambat ke Aula. Mereka selalu datang sebelum makanan tiba di mejanya.

"Tak tahu, Mione. Aku kira mereka bersamamu. Tapi ternyata kau datang sendiri. Hmm.. mungkin mereka sedang…. Kau tahulah, Mione. Mereka sepasang kekasih." Jawab Ron seada-adanya.

'tring,,,!'

Meja makan kini sudah menyajikan makanannya secara serentak.

Pintu Aula menampakkan seorang lelaki berambut hitam berantakan yang kini sedang berjalan tergesa-gesa. Harry memasuki Aula sendirian. Perutnya sudah sangat lapar. Segera ia duduk lalu menyantap makanan, tanpa basa-basi kepada teman-teman disampingnya.

"Harry.. kau…"

"awwku lafhaal myohfni" ujar Harry dengan mulut penuh makanan.

Hermione jijik melihat Harry berbicara seperti itu. Benar-benar seperti Ron. Mungkin, Ron sudah menuruni bakat terpendamnya itu kepada Harry. Hermione hanya bergeleng pasrah.

"Harry, mana Ginny? Dia tidak bersamamu?" Tanya Hermione setelah Harry menenggak jus labunya.

"Tidak Mione. Aku tadi ada rapat sebentar bersama pemain Quidditch baru." Hermione mengangguk tanda mengerti. Mungkin sebentar lagi ia akan datang, fikirnya. Makan dengan teman-temannya yang kurang lengkap menjadi keanehan tersendiri bagi Hermione.

Berselang beberapa menit, wanita berambut merah itu datang menghampiri Trio Gryffindor.

"Hai Harry." Ginny mengecup kilat bibir Harry. Ia menyapa Hermione dan Ron. Segera ia mengambil makanan yang ada untuk mengisi perutnya yang terlambat makan itu.

"Darimana saja kau? Mione mencarimu?" serang Ron. Hermione pun mengangguk sambil meminum jus labu dari pialanya.

"Aku ada urusan sebentar, bersama para wanita" Ginny nyengir kepada teman-teman.


Ruang rekreasi ketua murid. Ruangan yang cukup besar sepertinya bila ditempati hanya untuk dua orang. Hermione mengerjakan tugas Transfigurasinya di lantai.

Draco yang baru saja datang. Ia berjalan dan membanting dirinya di sofa, tanpa memperdulikan Hermione yang sedang mengerjakan tugas dibawah kakinya. Hermione masih konsentrasi menulis di perkamennya. Draco heran, apa dia benar-benar tidak menyadarinya kehadiran dirinya atau hanya berpura-pura saja. Draco meliriknya, melihat apa yang Partnernya sedang kerjakan.

"Tugas itu untuk minggu depan, Granger. Kenapa kau kerjakan sekarang?"

Hermione bergeming. Ia masih disibukkan dengan perkamen yang ada didepannya. Tangannya masih asik mengukir tulisan kecil-kecil menjadi paragraph-paragraf panjang. Tidak, Hermione sebenarnya mendengar pertanyaan Partnernya itu, hanya saja, ia sangat malas menjawabnya.
"Aku bicara padamu, Granger. Kau tuli, eh?" Hardik Draco mendapati dirinya di acuhkan Hermione. Draco benar-benar tidak suka di acuhkan.

"Bukan urusanmu, Malfoy. Urus saja dirimu sendiri. Jangan membuang-buang waktuku hanya untuk menjawab pertanyaan bodohmu. Kau bisa melihat, bukan? Atau kau buta?" Balas Hermione dengan sengit.

Draco hanya mengangkat alisnya dan mengeluarkan seringainya. Draco membelonjorkan kakinya kedepan muka Hermione. Kakinya dihentak-hentakan seperti sedang pegal kearah buku tebal yang terbuka. Lalu, Draco melirik wajah sang Putri Gryffindor, menunggu hasil dari perbuatannya.

"Malfoy, singkirkan kakimu!" Bentak Hermione. Hermione kesal, si Pangeran Slytherin itu benar –benar sangat mengganggu waktu belajarnya. Kakinya terus ditendang-tendang kearah wajah dan perkamen-perkamennya. Seperti anak kecil.

"Ada apa, Granger. Ada apa dengan kakiku?" Tanya Draco dengan muka tak bersalah.

"Kau menginjak tugasku. Jangan main-main Ferret." Ujar Hermione. Mukanya kian memerah saking kesalnya. Tapi Draco terlihat semakin menyeringai, menyenangi hasil perbuatannya.

"oh, begitu. Aku kan buta, berang-berang." Sindir Draco, membalikkan kata-kata Hermione sendiri. Hermione benar-benar tidak sabar lagi dengan kelakuan Draco, ia menepak kaki dihadapannya, dengan sangat keras.

"argh,, Bitch. Beraninya kau menyentuh kakiku! Menyingkir kau." Draco menendang-nendang tugas-tugas Hermione menjauh darinya. Membuat perkamen dan helai-helai bukunya menjadi lecek. Pena bulunya tertendang entah kemana.

"Ferret! Kau!" Suaranya tercekat. sungguh tidak habis pikir. ingin rasanya ia mematikan Draco dengan seketika saat ini.

Hermione segera menyingkirkan buku-bukunya dari tendangan kaki Draco. Dan Draco sangat senang melihatnya. Ia berhasil mengganggu Hermione hari ini.

"Mudblood yang malang!" gumam Draco sambil memasang tampang kasihan melihat Hermione, yang Hermione tahu, ia hanya berpura-pura saja.

Hermione berfikir sesuatu. satu balasan tak apa, pikirnya.

Ia mengumpulkan keberaniannya, dan ia juga mengumpulkan tenaganya. Hermione meletakkan barang-barangnya diatas meja, dan menghampiri Draco dengan buku tebal ditangan.

alis Draco diangkat tinggi-tinggi melihat Hermione yang kini tengah berdiri tegak dihadapannya. Dan mulutnya berkedut senyum tipis, yang bagi Draco, sangat aneh.

"Tenang Malfoy, aku tidak akan menyentuh kakimu lagi dengan tanganku. Aku juga tidak mau membuat sel-sel bejatmu menyeberang ke tubuhku." Kata Hermione enteng.

Draco agak tersentak mendengar 'sel-sel bejat'. Apa maksudnya 'sel-sel bejat'? Draco berfikir keras, namun ia hentikan kerja otaknya . mengingat Hermione masih ada di depannya. Tangannya menggenggam buku tebal dengan kedua tangannya. Perlahan tangan itu mengangkat ke atas.

'mau apa dia ?'

Dan dengan sekejap, BINGGO! Hermione menjatuhkan buku besarnya ke atas tulang kering kaki Draco. Draco mengerang kesakitan. Kedua matanya gelap seketika saat menatap ke arah Hermione.

"Brengsek. Apa maksudmu, Granger!" Draco menggulung celana panjangnya keatas, memperlihatkan warna kebiruan diatas kakinya yang putih pucat. Hermione meringis sebentar melihat keadaan kaki Draco yang terekspos saat ini.

"uh.. well.. itu caraku untuk tidak menyentuhmu. Mungkin besok-besok aku akan memanggilmu dengan cara yang sama, daripada menyentuhmu kan , Malfoy." Cibir Hermione. Hermione bergegas mengambil buku tebalnya, dan barang-barangnya yang lain diatas meja. Lalu ia lari sekencang-kencangnya menuju ke kamar.

Draco dengan cepat merogoh tongkatnya ketika melihat Hermione mengambil langkah seribu. "Brengsek kau Mudblood Jalang! Stupefy!" Teriak Draco dengan tongkat yang mengacung pada Hermione.

"Protego!" Jerit Hermione. Hermione langsung masuk dan menutup pintu kamarnya.

"sial!" geram Draco. "akan kubalas kau Mudblood!" Teriak Draco. Draco menatap kakinya yang biru lebam. Semakin membuncah kebencian pada si nona-sok-tahu-gryffindor itu.

Draco terdiam. Fikirannya mengingat-ingat akan kalimat ayahnya dulu. Darah lumpur. Mereka memang parasit. Draco sangat setuju akan hal itu. Semua Mudblood memang parasit. Kejadian barusan membuatnya semakin menyetujui apa yang diucapkan ayahnya. 'Sungguh mereka tak pantas ada disini.'


Keesokannya...

Hermione bergegas keluar bersama teman-temannya, Harry, Ginny, dan Ron. Mereka baru saja selesai mengikuti pelajaran Proffesor Trelawney. Pelajaran terakhir untuk hari ini yang sungguh membuat Hermione sangat bosan.

Para Gryffindor itu sedang berjalan dan berbincang bersama, menuju ke asrama Gryffindor, dan Hermione akan berpisah diujung koridor, untuk menuju ruang ketua murid.

"Hati-hati, Mione!" Hermione menoleh kepada seorang lelaki yang memperingatinya.

"Tentu saja Ron." Hermione tersenyum, dan berbalik arah menuju ke asramanya.

Diperjalanan, ia merasa malas untuk meneruskan perjalanannya menuju ruang ketua murid. Ia merasa lelah bila bertemu dengan Ferret bodoh itu. Bukan ia takut. Sungguh Hermione tak akan pernah takut hanya dengan urusan sepelenya dengan Draco. Bila ia takut, mungkin ia tidak akan pernah menerima tawaran menjadi ketua murid disekolah ini.

Ia hanya merosa bosan Setiap ia bertemu dengan Draco, ia harus mengencangkan uratnya kuat-kuat untuk berkonfrontasi dengannya. Walaupun aktivitas itu terjadi secara otomatis bila mereka bertatap muka, tapi ia merasa lelah juga. Terlintas difikirannya ia ingin mendiami kelakuan Draco. Namun yang ada sikapnya selalu membuat pemantik api dari saraf Hermione keluar. Dan akhirnya, Terjadilah adu mulut hebat. Kalau sudah sangat parah, mantralah yang akan mewakili ocehan mereka berdua. Tapi untuk semalam ia sangat bangga akan dirinya sendiri. Ia bisa membuat bekas biru yang membuat Sang Pangeran Slytherin kewalahan untuk berjalan. Hermione tersenyum geli mengingatnya.

Tenggelam dalam fikirannya, tiba-tiba seorang anak laki-laki berjubah Hufflepuff menabrak Hermione dengan keras. Hermione terjatuh kebelakang, isi tasnya berhamburan kesembarang tempat. Hermione mengerang kesakitan, karena sikunya sedikit lecet.

"sorry Ms. Granger. Aku benar-benar minta maaf. Aku tak melihatmu! Maaf Ms. Granger." Anak itu memunguti dan membereskan barang-barang Hermione. Ekspresinya masih ketakutan. Sesekali ia menoleh kebelakang.

"Tidak apa. Eh ada apa sampai kau berlari begitu." Wajah anak Hufflepuff itu semakin ketakutan ketika mendengar derap sepatu dari arah ia datang. Segera anak itu menyodorkan tasnya kedekat Hermione dan ia langsung berlari cepat meninggalkan Hermione.

'Aneh' batin Hermione. Hermione penasaran dengan orang yang akan muncul dibalik koridor. Namun yang ada derap langkah itu tidak mendekat, malah semakin menjauh.

Hermione bangkit dan melanjutkan perjalanannya ke Asrama Ketua Murid. Bath up dengan air beraroma lavender adalah yang sangat ia butuhkan saat ini.


Segar...

Itulah kata yang tepat untuk mendeskripsikan badannya saat ini. Kakinya melangkah dari dalam kamar mandi. Manik Coklat Madunya menangkap sosok Draco yang baru saja masuk kekamarnya dan menutup pintu.

Hermione hanya mengangkat alis, dan tidak mau peduli. ia lebih memilih untuk cepat-cepat masuk kamarnya.

'pintu kamar terbuka?' batin Hermione sesampainya di depan pintu berukir singa. Ia heran dengan keadaan pintunya yang terbuka. Seingatnya pintunya tertutup.

'aku lupa, atau…' kepalanya menoleh kepintu berukir ular disebelahnya. Hermione menggedikkan bahu. Ia tak mau memperpanjang masalah lagi. Hanya membuatnya pusing dan lelah bila terjadi adu mulut lagi. Setidaknya tidak untuk hari ini.


Hermione berlari ke aula besar. Makanan sudah menunggu untuk santapan mereka di pagi hari. Tapi bukan itu yang jadi tujuan Hermione berlari menuju Aula. Melainkan bukunya hilang. Buku Transfigurasi yang ia ingin kembalikan hari ini tidak ada didalam tasnya.

"Mione, apa yang terjadi?" Tanya Ginny prihatin. Hermione duduk bersama teman-temannya. Kedua tangannya menyangga diatas meja, dan menangkupkan kepalanya.

"Mione,,,?" Ron mengelus pundak Hermione pelan. Perlahan Hermione mendongakkan kepalanya.

"Buku nya hilang. Buku yang aku pinjam dari perpustakaan hilang. Aku janji mengembalikannya besok. Tapi, pagi ini aku tidak menemukannya ditasku." Jelas Hermione sedih.

"Buku apa Hermione?" Tanya Harry

"Buku Penguasaan Transfigurasi benda kecil tingkat atas. Aku meminjamnya kemarin untuk mengerjakan tugas Proffesor McGonagall."

Ginny teringat sesuatu, ia ingin menyampaikannya pada Hermione tapi Ron terlalu cepat menyela.

"Mione, jangan-jangan Malfoy yang mengambilnya?" Duga Ron. Hermione mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin. Dan ia mendapat satu bayangan. Bayangan ketika ia selesai mandi dan pintu kamarnya terbuka, setelah Draco masuk ke kamarnya sendiri.

"kau benar Ron. KAU BENAR ! Ferret sialan." Hermione mengejutkan sekeliling dengan gebarakan keras tangannya kemeja.

"Mau apa kau, Mione?" Ginny menahan lengan Hermione.

"Ingin memberi peringatan dengan seekor Ferret terbang !" Hermione berdiri, siap melangkahkan kakinya ke meja Slytherin.

"Mione, sebaiknya…"

"Tidak Harry. Harus sekarang!" Hermione menghiraukan kata-kata Harry dan berjalan menuju meja Slytherin.

Draco sedang menikmati sarapannya, dan melirik aneh kepada Theo dan Blaise yang duduk dihadapannya, sedang tertawa-tawa kecil.

"Otak kalian rusak, eh? Apa yang kalian tertawakan?" Ucap Draco melihat keanehan temannya.

"Kau lihat muka Granger yang ditekuk seperti itu, mate?" tanya Blaise pada Draco. Draco semakin heran. Ia melihat jauh kedepan. Dimeja Gryffindor, ia melihat Ron yang mengelus pundak Hermione. Draco jijik melihatnya. Tapi, ia juga melihat Hermione yang menangkupkan muka dikedua tangannya.

'kenapa dia?', batinnya tak jelas.

Blaise melirik Theo, Theo melirik Blaise. Keduanya saling lirik dan nyengir kuda melihat ekspresi Draco.

"Kau tahu, Draco?" Tanya Theo mengawali topic tentang muka Granger pagi ini.

"Ya aku tahu. Dia sedang berjalan kesini. Aku tahu." Ucap Draco melihat Hermione dengan muka Singa yang sangat menyeramkan menuju kearahnya. Theo dan Blaise menatap tidak mengerti. Keduanya mengikuti arah pandang Draco.

"MALFOY!" Teriak Hermione. Theo dan Blaise tersentak kaget .

Kini Hermione berada didepan Draco. Draco hanya melirik heran sambil mengangkat alisnya.

"kembalikan bukuku !" Draco semakin heran. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud Hermione.

Dimeja guru hanya ada Filch, Profesor Sprout, dan Proffesor Trelawney. Guru-guru yang lain tidak ada ditempatnya. Mungkin ada urusan yang lain. Ini membuat Hermione memberanikan diri untuk memulai konfrontasinya dengan Draco Malfoy. Namun yang diajak bicara hanya memberikan tampang heran tak karuan, yang benar-benar membuat Hermione makin geram.

"Jangan pura-pura, Malfoy. Aku tahu kau yang mengambil bukuku. Mengaku saja, F—Malfoy" Hermione enggan mengatai Malfoy dengan Ferret. Itu akan menjatuhkan dirinya sendiri . murid-murid lain akan mengetahui kalau Hermione suka mengeluarkan kata-kata kasar, sekalipun itu hanya kepada Draco. Hermione tidak mau bunuh diri.

"Kau bicara apa Granger? Aku tidak tahu maksudmu." Bantah Draco dengan muka innocence.

"Aku tahu kau yang mengambil buku ku, Malfoy. Aku melihat pintu kamarku terbuka saat kau baru saja memasuki kamarmu sendiri. Aku yakin bahwa pintu kamarku tertutup. Dan kau –telunjuk Hermione mengacung lurus ke kepala Draco- kau masuk dan mengambil buku ku." Semua yang ada di Aula terdiam mendengar penjelasan dari Hermione. Suara lantangnya membuat semua mata kini menatap mengintimidasi pada Draco. Draco menjadi terpojok sekarang.

"Aku tidak masuk kamarmu, Granger! Pintu kamarmu memang terbuka saat aku masuk kamarmu. Kau mungkin saja lupa menutupnya." Bantah Draco.

"Sudahlah Malfoy. Aku tahu kau melakukan ini karena dendam padaku kan? Karena aku telah menjatuhkan buku itu keatas kakimu yang membuatnya jadi biru. Dan jalanmu jadi payah!"

Suara cekikikan terdengar samar-samar di telinga Draco. Draco menoleh ke semua murid, melihat beberapa menahan tertawa karena perkataan Hermione. Kaki seorang Draco Malfoy menjadi pincang, hanya karena sebuah buku. Sungguh menggelikan. Draco sangat malu mengakui ini. Sebelumnya ia sudah menutup-nutupi alasannya dengan membuat cerita palsu. Draco mengakui kalau kakinya lebam karena terjatuh dari sapunya. dan sekarang harus terbongkar rahasianya hanya karena mulut besar seorang Hermione.

"Tutup mulutmu, Granger." Draco berdiri menghadapi Hermione. Kepala mereka diangkat tinggi-tinggi. Keduanya keras kepala, tidak ada yang mau mengalah. Keduanya siap memulai perang. Pemandangan itu membuat Harry dan yang lain segera turun kaki menghampiri mereka. Hal itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.

"Aku akan tutup mulut kalau kau mengembalikan bukuku." Bentak Hermione

"Aku tak mengambil bukumu, Granger! Untuk apa aku mengambilnya. Bukan caraku untuk membalas dendam seperti itu, bodoh. !" Draco menurunkan volume suaranya, menjadi lebih pelan.

"Aku bisa saja mengambil yang lebih penting dari pada buku Bodohmu. Misalkan, nyawamu, atau…." Draco mencondongkan sedikit badannya, dan melanjutkan kata-katanya, "keperawananmu". Seringai Draco keluar setelah kata tajamnya berhasil membuat Hermione sangat kaget. Suaranya sangat pelan, hanya Hermione, dan kedua temannya Theo dan Blaise yang bisa mendengarnya. Sehingga itulah yang membuat Theo dan Blaise ber"uuuuh" ria mendengar ucapan Draco. Hermione mengerjapkan matanya, kembali focus dengan orang yang ada dihadapannya sekarang. Focus pada Draco Malfoy. Pangeran Slytherin yang sedang menyeringai senang dihadapannya.

"jangan main-main Malfoy, a-aku serius."

"aku juga serius, Granger." Draco melihat teman-teman Hermione mendatanginya.

"ah, membawa pasukan, Granger. Selamat menikmati pertunjukkan" Ucap Draco. Tangannya terentang lebar, seperti mempersilakan dengan senang hati para Gryffindor untuk datang kemejanya. Walau mereka tahu, itu hanya pura-pura belaka.

Hermione masih terdiam, menatap tajam sang Pangeran Slytherin yang ada dihadapannya.

"Kembalikan, Ferret. Kembalikan buku Mione!" teriak Ron sambil mengacungkan tongkatnya. Draco siaga. Namun tetap menampakkan muka biasanya. Tak mau terlihat takut atas tongkat Ron yang sewaktu-waktu bisa saja mengeluarkan kutukan berbahaya. Draco selalu bisa mengembalikan kestabilan emosinya. Ia tetap bertampang dingin, sinis, dan senyum seringai yang membuat lawannya pasrah.

"Kau salah orang, Wesel! Tanyakan saja pada Mione-berang-berangmu itu. Dia nona-tahu-segala bukan? Pastinya dia tahu dimana bukunya berada." Ron semakin geram mendengar Hermione dihina oleh bibir licin Draco. Tangannya menegang, siap mengeluarkan serangan. Namun niatnya ia batalkan karena tangan Hermione tiba-tiba menggenggam tangan Ron dan dengan perlahan menurunkan nya.

"Kita pergi dari sini." Ucap Hermione pada teman-temannya. Tatapannya masih belum lepas dari Draco.

"Pergilah! Tidak ada yang mengundang kalian untuk kesini." Anak-anak Slytherin itu tertawa.

"Bagus Draco. Mereka kalah telak" Ucap Crabbe yang sedari tadi sebenarnya ada disana, memperhatikan peraduan mulut yang sengit. Mereka kembali tertawa.

"Drakkie, apa benar kata Mudblood itu tentang kakimu?" tanya Pansy manja, membuat Draco muak mendengarnya, sekaligus malu.

"jangan bicarakan itu Pans. Aku tidak mau membahasnya." Pansy cemberut mendengar tolakan Draco. Sedangkan teman-teman yang lain memandang Draco penuh arti.


Hermione mendapatkan detensi untuk akhir pekan nanti, setelah ia melapor kepada Madam Pince perihal buku yang dia hilangkan. Madam Pince sangat marah. Ia sangat kecewa dengan kecerobohan Hermione. Ia sudah sangat mempercayai Hermione dan menjadi tidak enak denakan itu. Dan kejadian ini mengingatkan kembali dirinya dengan Draco Malfoy. Kali ini Hermione benar-benar menyimpan marah yang besar untuknya. 'Bukan aku yang seharusnya menerima ini. Tapi Ferret sialan itu!' batinnya.


Draco duduk disofa panjangnya, mengiggit apel hijaunya dengan kasar.

'Mudblood Brengsek!' Draco bersungut dalam hati

'kau telah mempermalukanku didepan orang banyak. Kau benar-benar membuatku muak, Granger'

'kau membuat mereka menertawakanku!'

'Kau membuat kakiku biru, dan kau menuduhku dengan tuduhan yang konyol di Aula besar. Cih, menjijikkan! '

'Dan kau, membocorkan hal yang tidak ingin aku beritahu pada siapapun.'

'Kau tahu , Granger. semua tindakanmu selalu meningkatkan rasa benciku. Apalagi, melihat kalau kau sedang tertawa dengan teman-teman mu yang tidak berguna. '

'Kau! Kau tidak pantas tertawa disini, Granger. kau hanya pantas berada didunia hinamu. Muggle. '

Draco menggigit lagi apelnya, mengunyah dengan kasar. Matanya menajam ke perapian. Menunggu waktu. Waktu rapat prefek yang sudah direncanakan sebelumnya oleh, Hermione. Tapi hatinya masih terus menggerutu. Dirinya masih tenggelam dalam kebenciannya pada Hermione.

'Kau telah bermain-main denganku selama ini. kau salah bermain Granger. Kau tahu, aku tak akan pernah mendiamimu. '


sangat malas. itulah yang herrmione rasakan sekarang. Hermione berjalan malas menuju ruang kelas yang sudah dipersiapkan untuk rapat para Prefek. Ia masih saja menggerutu soal detensinya.

'apa aku sanggup memimpin rapat prefek?'

'apa aku masih pantas menjadi ketua murid? Lihat, aku mendapatkan detensi. Aku tahu, ini semua bukan sepenuhnya salahku. Ini semua karena pirang Keparat itu. Tapi, tetap saja. Aku tidak pantas untuk jadi Ketua Murid yang dicontoh murid lain. Arrgh….!' Hermione mengacak-acak rambutnya, frustasi.

Ia benar-benar tidak menginginkan mimpi buruk ini. Namanya jadi buruk karena masalahnya dengan malfoy. Ruang kelas tinggal beberapa meter lagi. Ia segera merapikan rambutnya dengan jari. Usahanya cukup berhasil.

"ada pertanyaan?" Semua peserta rapat menggeleng. Penjelasan Hermione yang panjang lebar hanya dibalas anggukan singkat. Termasuk Partnernya sendiri. Mempunyai Partner yang adalah seorang musuh benar-benar tidak membantu.

"okay, kalau begitu. Semua sudah jelas dengan jadwalnya. Dan untuk pertama adalah jadwal ketua murid berpatroli. Kalau begitu kita tutup rapat hari ini."

Semua berhamburan keluar. Draco keluar terakhir, namun Hermionelah menjadi yang paling terakhir.

"Jangan lupa tugasmu, Malfoy!"

"Aku tidak pikun sepertimu, Granger!" sahut Draco. Hermione mendengus mendengarnya. Hermione menahan emosinya keluar sekarang. Ia harus punya tenaga ekstra untuk patroli perdananya nanti malam, bersama Malfoy.


Makan malam, Aula besar dihiasi langit hiasan yang bertabur banyak bintang. Lilin-lilin menggantung diatasnya. Semua larut dalam pembicaraan bersama teman-teman mereka.

"Mate, benarkah patroli mulai malam ini?" Tanya Theo. Mereka sedang berjalan bersama menuju ke Aula besar untuk makan malam.

" ya." Jawab Draco sungkat.

"Draco, sepertinya kami telat memberitahumu." Draco melirik pada Blaise.

"apa maksudmu, Blaise?"

"Jadi, kami yang menyembunyikan buku Granger." sahut Theo. Draco kaget mendengarnya. Ia menghentikan langkahnya.

"Kau! Kau yang menyembunyikannya, Nott!" Draco mencengkram kerah Nott dan menariknya.

"De-dengarkan kami dulu, M-Malfoy!" Zabini turut serta melerai tangan Draco dari kerah Theo.

"Ini rencana kita yang sebelumnya kita bicarakan."
"Tapi kau belum memberitahuku kalau kau sudah melakukannya. Granger jadi menuduhku!" Potong Draco cepat.

"Kami ingin memberitahumu, tapi Granger sudah datang sebelum kita bercerita, Draco." Draco terdiam sebentar. Kepalanya mengingat-ingat disaat kedua temannnya menyinggung soal Granger. Draco mengakuinya dalam hati, kalau sebelum Hermione datang, Theo ingin memberitahu kan sesuatu.

Draco mendengarkan Theo dan Blaise bercerita sampai mereka duduk di meja Slytherin di Great Hall. Kini ia mengerti alur ceritanya.

Hermione sedang memangku tangan. tangan yang satunya hanya memainkan sendok, diatas piringnya. Ketiga temannya memperhatikan gelagat Hermione. Sepertinya, ia sedang tidak baik.

"Mione, kau belum menyendok makananmu." Ron mengambil langkah sendiri untuk menyendok kentang tumbuk ke piring saji Hermione. Hermione hanya meliriknya sebentar.

"Apa yang kau fikirkan, Mione?" Tanya Harry. Hermione melenguh pelan.

"Aku sebal, Harry. Kenapa harus Malfoy yang menjadi Partner ketua Murid? Kenapa tidak kau? Kenapa tidak Ron?" Hermione masih menerawang ke kentang tumbuk dihadapannya.
"Apalagi nanti malam. Aku harus berpatroli. Bersama si Ferret. Hanya, berdua. Aku sangat benci melihat wajah nya. Dia yang telah membuatku mendapatkan detensi akhir pekan. Dia telah membuat kesengsaraan sepanjang hidupku. " Sungut Hermione.

"mm, Mione. Aku ingin memberitahumu sesuatu. Sebenarnya,.." Ginny berhenti untuk merangkai kata-kata yang tepat untuk disampaikan.

"Apa Ginny?" tanya Hermione penasaran.

" aku melihat siapa yang mengambil bukumu." Hermione menegakkan posisi badannya, menghadap kepada wanita berambut merah didepannya.

"apa maksudmu, Ginny? Kau melihat Malfoy yang mengambilnya? Mana mungkin kau…" Ginny cepat-cepat memotong kalimat Hermione.

"Bukan, Mione. Maksudku, bukan Malfoy, tapi kedua temannya. Nott dan Zabini." Hermione mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti akan penyebutan kedua teman Draco itu. Dan Ginny memulai ceritanya.

"Jadi, aku melihat kau dibuntuti Nott dan Zabini ketika memasuki perpustakaan. Lama aku menunggu , aku terus membuntuti mereka berdua. Maka dari itu aku terlambat makan siang" mereka mengangguk paham. "teruskan, ginn" ucap Ron.

"ya. Ketika kau masuk ke aula, Nott dan Zabini masih ada di balik pintu. Nott menarik satu anak hufflepuff yang melintasi mereka. Mereka mengintimidasi anak itu. Dan sesaat kemudian mereka berbicara dengan serius. Kulihat, Zabini seperti memerintahkan sesuatu, sambil menunjuk-nunjuk kearahmu. Lalu kau ingat, saat kita berpisah koridor sehabis kelas ramalan, aku berbalik arah untuk memastikan keadaanmu. Aku agak khawatir saat itu untuk membiarkanmu sendirian. Dan benar saja, aku berpapasan dengan anak Hufflepuff yang sama dengan yang ditarik oleh Nott dan Zabini sedang menenteng buku Transfigurasi yang sampulnya berwarna hitam. Tapi saat aku meneruskan perjalananku untuk menyusulmu, kau sudah tidak ada."

Hermione mengangguk paham kepada Ginny.

"Ya Ginny, kau benar. Aku sempat ditabrak oleh anak laki yang berjubah hufflepuff. Apa benar dia yang mengambilnya?"

"Ya, Hermione. Dia yang mengambilnya. Dia yang disuruh Nott dan Zabini." Jelas Ginny. Ginny lega sudah menceritakan ini pada Hermione. Berharap ceritanya akan menghilangkan sedikit kebencian Hermione pada Malfoy, karena Hermione sudah salah menuduh Malfoy.

"jadi…" Hermione menatap Ginny. Ginny mengangguk-angguk mendapati kesimpulan yang terdapat dalam hati Hermione.

"Nott dan Zabini sekongkol dengan Malfoy. Sungguh tidak bisa kupercaya. Ular Busuk! Mereka sudah merencanakannya. Mereka benar-benar harus mendapat detensi lebih daripadaku! Brengseeeekkkk!"

Ginny terbelalak tidak percaya, tebakannya salah. Bukannya ia mengakui atas kesalahannya menuduh Malfoy, justru ia malah semakin menyalahkan Malfoy. Ini sudah benar-benar salah paham.

"Kau benar, Mione. Si Pirang jelata itu sudah sangat niat megerjaimu. Aku harus beri dia pelajaran" Sahut Ron kesal.

"Bukan! Bukan Malfoy yang melakukannya." Harry, Hermione, Ron memandang Ginny heran. Untuk apa Ginny sangat membela Malfoy.
"oh ayolah. Aku memang sangat membencinya. Tapi, aku tahu bukan ia yang melakukannya. Mione, aku melihat mereka bertiga saat menuju kesini. Aku mendengar percakapan mereka. Nott dan Zabini, mereka baru menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Draco tadi. Aku juga melihat Draco sangat marah. Mungkin karena kelakuan mereka, imbasnya malah menimpa Draco. Aku melihat Draco mencengkram Nott. Kelihatannya, ia benarr-benarr kesal. Dia benar-benar tidak tahu soal bukumu, Mione." Hermione melihat Ginny yang bersungguh-sungguh menceritakan sebuah kebenaran. Dan yang Hermione tahu, Ginny tidak akan berbohong hanya demi seorang Malfoy.

"Jadi, bukan dia?" Ucap Hermione pelan. Ginny menggeleng menghadapinya.

Hermione mendatangi ruang rekreasi lima menit sebelum patroli. Ia memutuskan berdiam di Asrama Gryffindor sebelumnya untuk menimbang-nimbang apakah ia harus meminta maaf pada Draco atau tidak. Dan jawabannya adalah iya.

Ruang rekreasi sepi. Tidak ada tanda-tanda partnernya didalam.

"Malfoy?" panggil Hermione diruangan kosong itu. Ia benar-benar yakin Draco tidak ada disana. Ia sudah mengecek kamar mandi, pantry, sofa, dan menggedor-gedor pintu kamarnya., dan tidak mendapat jawaban apapun. Maka dari itu. Ia memutuskan untuk mencarinya kebawah, mungkin sudah patroli duluan, pikirnya.


Hermione berbelok ke koridor selanjutnya. sudah setengah jam berkeliling dan Ia masih mencari Draco sambil berpatroli. Siapa tahu ia berpapasan di jalan.

Langkahnya terhenti ketika ada bayangan gelap yang tidak jelas didepannya. Pemandangan tidak jelas itu membuat Hermione penasaran.

"Siapa orang yang masih berkeliaran disaat jam malam sudah lewat seperti ini" gerutunya.

Langkahnya ia buat sedemikian pelan agar tidak mengejutkan seseorang yang ada didepannya.

Tidak, tidak seorang. Hermione menangkap dua sosok di matanya. Hermione membuka matanya lebar-lebar. berusaha menangkap apa yang dilakukan dua orang tersebut di jam malam seperti ini. Nafas Hermione tertahan melihat dua sosok itu sedang mendempet di dinding. Kedua tubuhnya juga bertempelan sangat dekat. 'sedang apa mereka?'

"lumos!" gumam Hermione. Kedua sosok itu tersontak kaget melihat tongkat Hermione yang berpendar.

Dan sama halnya dengan Hermione. Ia sangat terkejut melihat dua sosok yang ada dihadapannya kini.

"M-Malfoy?!"


TBC

maaf ya karena kelamaan update. akhir bulan kerjaan banyak #curhat #abaikan -,-
makasih sebesar gunung himalaya buat yang udah review n yg udh baca XO

Ochan Malfoy: hayo mao apa hayo xD hha maaf ya ru update. ga sekilat yang kau harapkan.. maaaappp ya maap #mpoMinah modeON -.-
Review lagi ya xD

Bliizard: iya, kenapa ya Draco kasar. padahal aslinya lembut loh.. #pengakuanku sebagai istri# xD
nah tu cewe aku ungkap di cap slnjutnya. trus baca n review yah.. ;)

dan untuk Moku-Chan n Marvolo Malfoy thankyou so much. reviewnya udh ku balas di tempat review. R n R lgi yah

saran ,,, butuh sarann.. review please. ;P