Masih teringat dalam pikiran Seokmin ketika tadi malam, hampir pukul sebelas malam, Jisoo masih bersamanya, menunggunya hingga Lim Cafe membalikkan papan kecil di balik pintu masuk hingga yang tampak adalah tulisan 'TUTUP', bersamanya dalam bus terakhir menuju arah yang sama. Saat-saat sebelum Jisoo turun mendahului Seokmin dari bus, perjalanan mereka dipenuhi dengan canda dan tawa, cukup berbeda dari saat mereka menuju kafe.

Banyak yang mereka bicarakan saat itu, salah satunya Jisoo yang dengan semangat dan penuh percaya diri bahwa ia bangga berada pada jurusan Pendidikan Bahasa Inggris karena dirinya memang bercita-cita menjadi pengajar sejak kecil. Sementara dari dalam Seokmin sendiri, semakin banyak kata yang ia ucapkan, semakin sirna rasa kaku yang menyelimuti dirinya, dan Seokmin merasa lega karena itu.

Tawa hyung yang lahir di luar negeri itu ternyata tidak berlangsung hingga esoknya ketika mereka bertemu lagi untuk berlatih vokal bersama. Setidaknya sampai sebelum Jeonghan datang, karena Jeonghan tiba dengan wajah secerah mentari pagi di musim semi dan membawa berita bahagia bahwa tadi sejak malam Jeonghan resmi menjadi kekasih Choi Seungcheol. Berita bahagia bagi Jeonghan dan yang lainnya. Tetapi tidak bagi Jisoo.

Sumpah demi boneka keroro kesayangan Jihoon yang duduk manis di atas keyboard sudut ruangan, Seokmin melihat sendiri bagaimana Choi-keparat-Seungcheol itu mengungkapkan kata-kata manis di toilet lantai dasar hingga membuat pipi Jisoo kemerahan kemarin sore ㅡdan Jisoo sendiri mengakuinya secara tidak langsung kepada Seokminㅡ.

Seokmin saat itu juga melihat bagaimana tatapan kosong yang menghampiri kedua mata kucing Jisoo meski sepersekian detik kemudian Jisoo mengucapkan selamat ㅡdilengkapi senyum manisㅡ kepada sahabatnya atas resminya hubungan mereka.

Latihan vokal berjalan begitu saja seperti kemarin.

Entah hanya perasaannya saja, atau orang lain juga berpikir demikian, tetapi Seokmin merasa hanya dirinya yang menyadari air muka Jisoo yang menyiratkan sakit hati terdalam.

Seokmin tidak pernah ingin membayangkan bagaimana apabila dirinya berada dalam posisi Jisoo.


Hingga bundaran penunjuk waktu mengarah kepada ruas antara angka satu dan dua, Jihoon memutuskan untuk menghentikan latihan karena ia berkata bahwa dirinya juga memiliki urusan pribadi. Latihan akan berlanjut lusa. Pada ruang klub vokal saat ini, Seokmin dan empat orang lain ㅡyang berada dalam satu tim dengannyaㅡ adalah penginjak terakhir ruangan tersebut sebelum Jihoon menguncinya rapat.

Lima orang mahasiswa tersebut berjalan beriringan dan akan berpisah arah di gerbang universitas nanti. Mereka masih berlima sebelum seseorang menghampiri Jeonghan dan merangkul bahunya dengan begitu mesra. Tidak perlu dipertanyakan siapakah seseorang itu, sudah begitu jelas.

Jangan lupakan kecupan ringan pada pipi yang dirangkul.

"Ya! Aish! Hentikan, Seungcheol!" Teriak Jeonghan risih sembari mendorong risih kekasih barunya.

Jihoon dan Seungkwan ㅡyang tidak tahu menahu hanya terkekehㅡ.

Bagaimana dengan Seokmin? Tentu saja yang Seokmin lakukan saat ini hanya melirik khawatir Jisoo yang berdiri di sampingnya.

Jisoo membeku beberapa saat sebelum ia mengalihkan seluruh atensinya menuju ponsel pintar di genggamannya.

Seokmin mengalihkan pandangannya menuju Seungcheol.

Dan Seungcheol tak jauh berbeda, laki-laki bermata bulat itu tampak terkejut hingga detik ke lima, tetapi ia segera menghapusnya. Seokmin masih mendapati raut muka kebingungan darinya meski kini Seungcheol tengah tertawa lepas ㅡtanpa berhenti merangkul sang kekasihㅡ.

"Kita pergi.." ujar Jeonghan masih bersama senyum manisnya. Melihat Seokmin dan Jisoo yang tidak menggubris ujarannya, maka Jeonghan menegaskan, "Shua-ya, Seokmin-ah.. Kita pergi lebih dulu ya.."

"Eh, ya.." jawab Seokmin dan Jisoo hampir bersamaan. Seokmin menjawab bagai seseorang ling-lung, sementara hyung di sampingnya sembari mengulas senyum tipis.

Dan Jeonghan berlalu bersama sang kekasih menuju daerah parkir kampus.

Seokmin saat ini baru saja mengerti bagaimana definisi dari kata 'brengsek' yang sebenarnya.


Pukul dua belas malam, malam sebelumnya, Seokmin yang baru saja selesai membersihkan diri kini tengah bercengkrama dengan kedua sahabat satu apartemennya sembari masing-masing memegang stik video game. Mengingat esok adalah tanggal merah, tentu saja ketiganya tidak ingin menyia-nyiakan malam mereka. Selain itu, Seokmin memanfaatkan saat itu untuk mendiskusikan hubungannya dengan Yuju kepada Mingyu dan Minghao.

"Apa aku harus bertahan atau memutuskannya esok hari?"

"Kau ini seperti bocah menengah pertama saja." Ingin sekali Seokmin menimpuk laki-laki bertaring di sampingnya ini dengan stick game yang ada di genggamannya. Terkadang ia banyak berbicara tanpa memberi solusi.

"Bagaimana dengan dirimu sendiri, Seok? Hati dan otakmu itu, apa yang mereka inginkan?" Minghao tanpa mengalihkan fokusnya pada permainan yang tersambung pada layar televisi.

"Biar aku tebak! Hatimu itu menginginkan untuk bertahan karena ia iba pada Yuju, tapi otakmu sudah muak dengan perempuan itu." Mingyu kembali mendapat kewarasan dalam waktu yang singkat.

Seokmin hanya berdeham mengiyakan. Tidak tahu apa yang harus ia katakan karena Mingyu sudah mewakilkan semuanya.

Setelah layar menampakkan tulisan bahwa Seokmin kalah dalam permainannya, Seokmin menaruh stik permainannya dan membaringkan tubuhnya di atas karpet halus yang mereka gunakan sebagai alas.

"Aku tak tahu apa yang harus aku sarankan padamu, Seok. Keputusan hanya ada padamu karena kau yang akan menjalaninya. Sungguh, ini terserah padamu."

Minghao terbaik!

Seokmin menjadikan tumpukan telapak tangannya sebagai bantalan kepala bagian belakangnya, menatap langit-langit ruang tengah apartemen mereka setelah menghela napas panjang. Setelahnya ia mendengarkan ucapan Mingyu,

"Simpan keputusanmu esok hari, yang terpenting adalah temui Yuju terlebih dahulu."

Dan tak ada argumen yang hinggap pada pikiran Seokmin mengenai ini. Ia hanya bisa membenarkan semua yang diajukan kedua sahabatnya.

Kepalanya sakit sekali memikirkan ini.


Atas saran dan semangat yang diberikan kedua sahabatnya, Seokmin saat ini berada dalam apartemen besar sang kekasih. Keadaan ekonomi Yuju dengan dirinya memanglah berbeda jauh. Disaat Seokmin perlu berbagi apartemen bersama kedua sahabat agar meminimalisir harga sewa, Yuju dengan mudah menyewa apartemen yang lebih mewah menggunakan uang bulanan dari kedua orang tuanya. Begitu pula dengan Mingyu dan Minghao yang sebenarnya bisa memiliki apartemen mereka sendiri, tetapi karena mereka bertiga sudah terlalu dekat, memperkecil harga sewa dengan tinggal bersama bukanlah ide yang buruk.

Katakanlah Seokmin memang tidak berada di lingkungan yang tepat. Ayahnya di Gyeonggi hanya seorang pensiunan pegawai pemerintahan sekaligus pemilik sepetak tanah. Biaya pensiunannya berkecukupan. Sementara itu, beberapa macam rempah tertanam di atas tanah tersebut. Beliau mempekerjakan tiga orang pemuda lokal untuk memelihara sepetak tanahnya hingga hasil kebun tersebut dijual dan menghasilkan lembaran barharga pemenuh kebutuhan. Namanya berkebun, hanya dapat menjadi pundi uang apabila sedang panen, jadi tidak setiap saat uang dapat dengan mudah mengalir kedalam dompet keuangan keluarga kecil mereka.

Dibandingkan teman-teman di sekitarnya, dirinya bukanlah siapa-siapa. Minghao yang merupakan anak dari seorang direktur perusahaan tekstil di negeri asalnya. Mingyu, adik dari Kim Jongin, seorang pengusaha furnitur mewah yang sukses dan hasil karyanya eksis hampir di seluruh dunia. Dan Yuju, kekasihnya, seorang anak dari CEO agensi yang bergerak dalam bidang entertainment dan tengah berpenghasilan tinggi karena berhasil mendebutkan sebuah boygroup. Seokmin-lah yang berada di tempat kurang tepat saat ini. Universitas yang ia masuki merupakan universitas swasta dengan kualitas tertinggi seantero negeri, berbanding lurus dengan pembayarannya. Seokmin beserta keluarganya bersyukur sekali atas otaknya yang jenius hingga dapat mengenyam pendidikan dengan baik disini dengan cuma-cuma ㅡSeokmin juga aktif mencari beasiswaㅡ.

Maka jangan heran ketika teman-temannya berfoya-foya menghabiskan uang orang tua mereka, sementara Seokmin susah payah memeras keringat dengan bekerja paruh waktu untuk memenuhi kesehariannya.

Kembali pada suasana.

Yuju tiba dengan sebuah nampan yang diatasnya terdapat dua buah cangkir berisi vanilla latte yang asapnya masih mengepul.

Gadis itu menaruh nampannya di atas meja, kemudian terduduk di samping kekasihnya ㅡmereka masih menyisakan jarak yang cukupㅡ dengan tegap dan begitu canggung, kedua tangannya yang menyatu ia taruh di atas kedua paha nya.

Yuju menunduk sambil memainkan jari-jari tangannya sendiri.

Suasana di antara keduanya memang canggung parah.

"Kau sama sekali tidak ingin melanjutkan hubungan ini, ya?" Tanya Seokmin dengan begitu datar. Ia tidak bisa untuk berada dalam keadaan yang canggung, terlebih bersama kekasihnya.

"H, huh?" Yuju seolah meminta Seokmin untuk berkata lebih jelas.

Seokmin tidak ingin mengulang pertanyaannya, karena ia rasa pertanyaannya sudah cukup jelas. Dan Yuju tidak sebodoh itu untuk tidak mengerti apa yang diucapkan Seokmin.

"A-aku ingin, apabila sikap Oppa demikian."

"Sikapku? Seperti apa? Kupikir sikapku sudah terlalu sabar menghadapi dirimu yang semakin hari semakin tidak menghiraukanku." Seokmin tampak sudah menahan amarahnya.

Yuju menundukkan kepalanya lagi.

Tetesan air membasahi rok selutut berwana pink pastel yang tengah ia gunakan.

Seokmin mendesis. Ia mengalihkan pandangannya kemana saja setelah mengusap kasar rambutnya sendiri.

"Bagus, sekarang aku sudah menjadi laki-laki brengsek karena telah membentak kekasihku sendiri."

Tak ada lagi ucapan dari keduanya selama beberapa saat, hingga kemudian Yuju memecah keheningan.

"Maafkan aku, Oppa. Kita cukup sampai di sini saja."

Seokmin tentu saja tidak bisa untuk tak membelalakkan mata setelah mendengarnya, ia tidak menyangka Yuju memutuskannya secepat itu.

"T-tapi kenapa? Kau tidak pernah mengatakan padaku apa yang perlu aku perbaiki, dan sekarang kau tiba-tiba saja memutuskan hubungan? Bagaimana bisa aku mengetahui sikapku yang membuatmu tidak nyaman?"

Yuju mengepalkan kedua tangannya sembari mengangkat kembali wajahnya. Kali ini ia yang tersulut amarah.

"Apa perlu aku katakan sejak dulu bahwa kau masih mencintai Kwon Soonyoung Sunbae-nim dan masih mengharapkannya kembali hingga detik ini?!"

Semua kata yang dapat ia katakan seketika sirna dari pikirannya. Hingga ia hanya dapat terkekeh.

"Ha ha, kau bercanda, Choi Yuju."

"Apa aku terlihat bercanda?! Aku bahkan sudah menyadarinya ketika kau memintaku menjadi pacarmu beberapa bulan lalu!"

"Lalu kenapa kau menerima pernyataanku?!"

"Karena aku juga menyukaiㅡ tidak, mencintaimu, Lee Seokmin! Pernyataan bahwa kau menyukaiku adalah impianku sejak menengah atas, kau tahu?! Aku memasuki universitas itu karena kau! Mengasah kemampuan suaraku agar dapat berduet denganmu! Menjadi anggota grup vokal karena kau juga bergabung kesana!" Tangis Yuju pecah memenuhi apartemen luasnya, ia mengusap kasar air mata yang membasahi pipi putihnya menggunakan punggung lengannya, "Kau- kau mungkin tidak akan pernah ingin merasakan sakit yang melukai hatiku ketika aku tahu bahwa kau lebih dulu menjalin hubungan dengan Soonyoung Sunbae-nim! Aku menangis ketika orang lain merasa gemas melihat cara kalian berpacaran yang sangatlah manis." Yuju terisak dan suaranya sudah terdengar sangat aneh. Kini ia tidak lagi meninggikan suaranya. Suaranya melemah.

Apa aku sudah sejahat itu? Batin Seokmin yang membisu.

"Ketika kudengar bahwa hubungan kalian kandas karena Jihoon Sunbae-nim, ingin rasanya aku memelukmu dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Maka saat kau termenung pada rooftop fakultas humaniora, aku datang, berniat untuk menghiburmu." Yuju kembali mengusap air matanya sendiri yang tidak kunjung mereda.

Benar. Ingatan Seokmin kembali melesat ketika Yuju tiba dan mengungkapkan candaan ringan yang membuat pikirannya mendingin dan mengalir lancar seperti sungai jernih. Gadis itu datang pada saat yang tepat.

"Sama sekali tidak terlintas di pikiranku untuk menggantikan posisi Soonyoung Sunbae-nim di hatimu. Karena itu sama saja dengan keinginanku untuk memetik bintang sirius, sangatlah tidak mungkin untuk mewujudkannya. Maka saat kau memintaku menjadi kekasihmu sebulan kemudian, aku sangat tidak menyangka hal itu terjadi, aku tentu tidak dapat menolaknya. Berharap bahwa keberadaan Soonyoung Sunbae-nim dalam hati dan pikiranmu akan hilang seiring berjalannya waktu." Kini isak tangisnya mereda.

"Sayangnya, hingga pada bulan keempat, aku gagal." Kalimatnya ini sukses menarik atensi Seokmin hingga kini Seokmin melesatkan pandangan kearahnya. "Aku gagal menggantikan Soonyoung Sunbae-nim dalam hatimu, Oppa. Aku menyerah. Aku lelah berjuang sendiri."

"K-kau, tidak berjuang sendiri." Ucap Seokmin pelan. Beruntung Yuju masih dapat mendengarnya.

"Ya, aku berjuang sendiri."

"Tidak, Choi Yuju! Aku juga berjuang melupakannya, berjuang untuk menyadari bahwa aku sudah memilikimu di sampingku, hanya saja, aku juga gagal."

Yuju terkekeh ringan, memberi kesan meremehkan.

"Kau tidak yakin dengan ucapanmu sendiri, Oppa."

Bodohnya Seokmin, ia tidak bisa membohongi seorang Mahasiswi Psikologi.

Seokmin kembali membisu.

"Minggu lalu, ayah menghubungiku. Ayah berkata bahwa aku dilamar seorang anak teman bisnisnya. Kupikir, aku tidak bisa menolaknya karena aku yakin pilihan ayah dan ibuku adalah yang terbaik untukku. Selama ini aku sudah terlalu egois untuk mengejarmu dan tidak memikirkan usulan ayah dan ibuku serta membuat mereka menghela napas menyerah atas keegoisanku. Ha ha, ternyata benar cinta bisa membuat manusia bodoh."

Itu menjadi ucapan panjang lebar terakhir dari Yuju.

"Jadi, kau benar-benar ingin mengakhiri semua?" Tanya Seokmin memastikan.

"Ya, dan aku sangat berharap untuk tidak melihatmu menginjak apartemenku lagi." Ucap Yuju tanpa berpikir panjang sembari memalingkan wajahnya ke arah lain.

Seokmin menghirup napas begitu dalam sembari beranjak dari sofa empuk milik Yuju.

"Kalau begitu, terima kasih atas semua yang telah kau korbankan untukku, Yuju-ya. Aku sangat menghargai itu semua. Maaf karena telah membuatmu berharap lebih, menangis, patah hati, dan hal buruk lain karena sikap burukku. Hubungi aku apabila kau membutuhkanku, aku dengan senang hati akan membantumu sebagai sahabat."

"Pergi!" Singkat dan tegas. Yuju masih membuang arah pandangnya bukan ke arah Seokmin.

Hingga Seokmin hanya meninggalkan suara pintu tertutup dan secangkir vanilla latte dingin yang belum ia sentuh sama sekali.

Di tempat yang sama, Yuju menundukkan wajahnya, menutup wajah cantiknya menggunakan telapak tangan lembutnya, dan menangis lagi.

Hubungannya dengan pujaan hati sejak menengah atas-nya kandas hingga saat itu.


Malam ini, Seokmin bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Hubungan lima bulannya bersama Yuju baru saja berakhir, akan tetapi sama sekali tidak timbul rasa sedih dalam relung hatinya. Apakah dirinya sudah tidak punya hati? Ataukah itu artinya dirinya sudah tak memiliki rasa apapun pada gadis itu?

Ucapan panjang lebar Yuju tadi begitu menohok hatinya. Ia tidak menyangka perasaan Yuju padanya begitu dalam. Mengaguminya sejak menengah atas? Seokmin jadi teringat ketika beberapa waktu mereka dalam proyek tugas yang sama dan Yuju sesekali salah tingkah atau timbul burat merah muda pada pipinya ketika Seokmin mengajaknya berbicara perihal tugas. Sama sekali tidak membuatnya terpikir bahwa Yuju menyukainya.

Atau satu waktu ketika kelasnya merayakan hari ulang tahun Seokmin, ia mendapat kejutan berupa kue tart, dan Jungkook berkata bahwa perayaan itu diusulkan Yuju. Ah, dia ini memang laki-laki yang tidak peka.

Seokmin menyesal, tentu saja. Kehilangan kekasih sebaik gadis cantik itu. Tetapi sekali lagi, hal ini sama sekali tidak membuatnya patah hati.

Seokmin menggelengkan kepalanya, berharap semua penyesalan itu seketika hilang dari pikirannya karena ia sudah berada di hadapan sepanci ramen yang hendak ia habiskan malam ini.

Sayangnya, niatnya untuk menyantap makanan cepat saji itu berhenti seketika saat ponselnya ㅡyang berada di atas meja makanㅡ bergetar. Sebuah panggilan masuk. Maka Seokmin mengambil ponselnya dan menerima panggilan ketika nama 'Seungkwan' tertera disana.

"Haloㅡ"

"Seokmin hyung!" Seungkwan terdengar terburu-buru di ujung sana.

"Ya?"

"Maaf mengganggumu, tapi bisa kau bantu aku?"

"B-bantu apa?"

"Datanglah ke Diamonds Bar!"

Seokmin mengerutkan dahi.

"Untuk apa?"

"Membawa Jisoo hyung pulang."

Seokmin tentu saja terkejut.

"Apa? Tapi kenapa harus aku?ㅡ"

"Aku tidak tahu, hyung! Ini darurat sekali!"

"Tapi aku tidak tahu di mana tempat tinggalnya"

"Ayolah, hyung! Cepatlah! Ku mohon!"

Sekarang Seokmin semakin tidak mengerti dengan dirinya sendiri ketika ia menutup kembali panci ramennya, menggunakan jaket, dan melesat menuju tempat yang diminta Seungkwan.

Ia hanya berharap ramennya belum tersentuh siapapun ketika ia kembali dari 'menolong' Hong Jisoo.


Seokmin tahu betul penyebab hyung teladan ini malah memilih meminum minuman beralkohol sehingga ia hampir kehilangan seluruh kesadarannya.

Beberapa saat lalu, ketika Seokmin baru sampai di Diamonds Bar, Seokmin mendapati Jisoo teler diatas meja yang berhadapan dengan Seungkwan ㅡyang juga kewalahan mengurus kekasih blasteran New York-Korea-nyaㅡ.

"Hansol yang mengajaknya kemari." Lapor Seungkwan tanpa diminta Seokmin. "Maaf menghubungimu, hyung. Tetapi aku bersumpah, hanya ada kau yang terlintas di pikiranku untuk membantu Jisoo hyung."

Kini Seungkwan tengah bersusah payah membuat Hansol berdiri dengan cara Hansol yang merangkul bahunya.

"Hansol sudah membayar semua."

"Aku tidak tahu di mana ia tinggal, Seungkwan."

"Aku juga. Bukankah lebih baik hyung yang membawanya daripada ia tergeletak di jalan setelah ditendang petugas keamanan karena bar ini akan tutup saat menjelang pagi?"

Anak Jeju ini cukup menyebalkan juga.

Sekarang yang terpikirkan Seokmin hanya segera mencari kartu tanda pengenal Jisoo, di sana pasti ada alamat tempatnya tinggal.

"Jisoo hyung tidak membawa apapun. Hubungi yang lain, atau membawanya ke apartemenmu, terserah padamu, hyung. Aku pergi." Seungkwan berlalu dengan tergopoh-gopoh bersama Hansol sebagai bebannya.

Seokmin menghela napas sembari memandang kepergian Seungkwan.

Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah Jisoo yang menjadikan lengannya sebagai bantalan kepalanya sendiri.

Sekarang apa yang akan ia lakukan?


"Seokmin-ah!"

"Ya?"

Beberapa saat hening.

Apartemennya tidak jauh lagi. Seokmin masih bersama Jisoo yang membebani punggungnya.

Ya. Seokmin memutuskan agar membawa Jisoo pulang ke apatemennya. Lagipula esok akhir pekan dan ternyata Mingyu dan Minghao melaporkan bahwa mereka akan menginap di apartemen kekasih mereka masing-masing.

Di belakang sana, Seokmin merasa Jisoo mengusik,

"Turunkan aku! Mengapa kau membawaku?"

Seokmin menghela napasnya. Padahal, tadi saat di bar, Jisoo menurut saja ketika diminta menaiki punggungnya ㅡmeski Jisoo cukup kesulitan untuk melawan telernyaㅡ, sehingga ia menurunkan Jisoo dari punggungnya, kemudian berbalik untuk menghadap Jisoo.

Disana tampak Jisoo dengan pipinya yang agak memerah. Begitu juga dengan sklera di matanya, serta ujung hidungnya. Jangan lupakan kantung mata yang biasanya membuatnya manis sekaligus menggemaskan, sekarang kantung itu semakin menghitam.

Kalau saja Seokmin tidak memeganginya, mungkin Jisoo sudah terjatuh di atas paving block yang berada di bawah mereka berdua.

Beruntung sekali Seokmin memilih jalanan yang sepi. Mungkin hal ini akan tampak memalukan apabila orang lain melihatnya.

Kembali kepada keadaan Jisoo, hyung itu kini malah menangis ㅡlagi, karena Seokmin yakin Jisoo sudah menangis banyak sebelum ia menemuinya.

"Seokmin-ah, apakah aku seburuk itu hingga Seungcheol meninggalkanku?" Jisoo mulai menangis.

Seokmin tentu tidak tahu respon seperti apa yang harus dia berikan.

"Aku mencintainyaㅡ" Jisoo terisak, kemudian melanjutkan, "aku menunggunya menyatakan perasaannya padaku karena ia bersikap seolah mencintaiku juga." Jisoo menunduk dan kembali menangis, yang Seokmin bisa lakukan hanya menyandarkan kepala hyung ramah itu pada dadanya. Kemudian menepuk punggung sempit yang tengah bergetar itu.

"Sekarang aku merasa sudah menjadi pelacur karena telah terbiasa mengangkang di bawahnya untuk memuaskan nafsunya."

Seokmin tidak bisa untuk tidak terkejut.

Benar, 'kan. Beruntung jalanan ini sepi. Ucapan tadi terlalu buruk untuk dibicarakan dengan volume suara yang cukup tinggi.

Jisoo pasti sangat tidak menyadari apa yang telah ia katakan.

"Jawab aku, Seokmin! Apa aku seburuk itu?! Mengapa kau diam saja?!"

"T-tidak, kau tidak seburuk itu, hyung. Ku pikir, itu wajar sekali ketika kita bersedia melakukan apapun untuk seseorang yang dicintai."

Jisoo berhenti menangis. Kemudian mengadahkan wajahnya untuk menatap wajah Seokmin yang sedikit lebih tinggi darinya.

"Kau yang terbaik, Seokmin." Jisoo tersenyum dan tampak lebih tenang. Kedua tangannya menyentuh kedua pipi tirus Seokmin sembari mengelusnya lembut, "aku harap aku menjadi kekasihmu saja."

Tunggu, apa?

Dan Jisoo kehilangan kesadarannya lagi.

Sekarang ia harus bersusah payah kembali membawa Jisoo menuju apartemennya.

Soal perkataan Jisoo tadi, yah, apa yang harus dipikirkan dari perkataan seseorang yang tengah mabuk?


Soora's Note :

Halo halo haii~ Gimana sama chapter 3 nya? Semoga suka yaa ^^ Maafin banget kalo makin gaje :") apalah aku ini cuma penulis amatir :" Semoga ngerti sama alur ceritanya yaa ^^ Silakan tap/klik follow/favourite kalo kalian tertarik sama ff ini ^^ Silakan beri review juga biar ff ini semakin baik ^^

다음에 보자 ^^ See ya next chapter ^^