Raburetā
Chara selalu milik Masashi Kishimoto Sensei.
Raburetā milik MetamorphoQueen.
Warning : AU, OOC, Sho-Ai (BL), Typo's, alur lompat-lompat dan monoton.
Pairing : SasuNaru
Don't like, don't read. Risiko ditanggung para pembaca.
Selamat membaca ...
.
.
.
Dear Uchiha Sasuke ...
Pernahkah kau merasakan badanmu gemetar, panas dan juga dingin secara bersamaan?
Pernah jugakah kau merasakan lidahmu kelu, tercekat di dalam kerongkongan?
Dan pernahkah ...
... kau merasa tubuhmu kaku, berat, dan bahkan susah untuk digerakkan?
Pernahkah?
Pernahkah kau merasakannya?
Sekali saja ...
Ha-ah ... aku ingin sekali tahu jawabanmu.
Aku ingin tahu jawaban atas segala pertanyaan yang kupertanyakan.
Aku ... aku entahlah. Aku harus bagaimana?
Aku benar-benar merasa habis berpikir.
Semua terasa begitu menyesatkanku, menelanku dalam kegelapan tak berdasar.
Kheh ... aku tahu semua ini terkesan tidak jelas.
Dan, bahkan mungkin hanya membuang waktu berhargamu.
Pertanyaanku bahkan tak bisa disebut pertanyaan.
Tapi, sungguh ... Sasuke, aku hanya ingin tahu akan jawabanmu.
Agar aku tidak terperosok lebih jauh lagi dalam rumitnya pertanyaan-pertanyaan tidak jelas ini.
Agar aku bisa segera menghentikan kegilaan ini.
Kegilaan yang berasal dari dirimu.
Dirimu yang membuatku merasakan semua perasaan tidak jelas ini.
Perasaan yang membuatku kehilangan jati diri.
Perasaan yang membuatku kehilangan kendali diri.
Perasaan yang begitu menyesakkan rongga dadaku, dan membekukan seluruh syaraf tubuhku.
Sungguh aku butuh jawaban.
Aku lelah dan letih, Sasuke.
Otakku ... otakku benar-benar telah buntu, Sasuke.
Sebenarnya aku ini kenapa?
Perasaan macam apa ini?
Kumohon, Sasuke ...
Beri aku jawaban ...
Karena aku ... benar-benar lelah.
Aku ... sungguh menantikan jawaban darimu.
Sign,
Diriku yang tersesat dalam pertanyaan yang membingungkan.
Namikaze (Uzumaki) Naruto
.
.
.
Membeku.
Namikaze muda itu hanya bisa bisa terpaku, secarik kertas yang ada dalam genggaman kedua tangannya terasa berkali-kali lebih berat dari bobot yang seharusnya.
Menggerakkan kepalanya patah-patah, kedua iris sapphire indahnya mengunci sosok pemuda berseragam sama dengan dirinya yang kini tampak menatapnya, intens. Walaupun tipis dan bahkan nyaris tak tampak, Naruto mendapati kernyitan pada dahi berkulit putih pemuda tersebut.
Meringis pelan, kekehan getir bernada lemah pun akhirnya lolos dari kedua belah bibir sang Namikaze muda. Matanya menatap nanar, kedua tangannya mencengkram erat permukaan kertas putih polos berisi untaian kata-kata yang membuatnya ingin menenggelamkan dirinya ke dasar lautan.
Ini gila!
Tidak masuk akal.
Menggelengkan kepalanya lemah, Naruto menggigit pelan bibir bawahnya.
"U—Uchiha-san, ini semua salah paham," Naruto seketika merasa ingin bersujud, bersyukur karena akhirnya mampu membuka suaranya setelah sekian lama terdiam.
"Salah paham?" Sosok pemuda yang kini tengah mendudukkan dirinya di kursi—tepat di hadapannya— membeo. Sebelah alis berwarna senada dengan rambut ravennya terangkat, tipis.
"Ya," Mengangguk lemah, ringisan pelan kembali lolos dari bibirnya. "Aku tidak pernah menulis surat ini."
"Jadi, kau menyangkal itu tulisanmu?"
Naruto mengangguk, nyaris antusias.
"Dan tanda tangan itu pun bukan milikmu?"
Kembali mengangguk. Naruto tersenyum, kaku.
Mendesah pelan, sosok berambut raven bername tag 'Uchiha Sasuke' tersebut menatap Naruto, skeptis. "Itu berarti penglihatanku sudah mulai rabun."
"Huh?"
"Kedua mataku sudah tidak berfungsi dengan baik," Pemuda bermarga Uchiha tersebut menyeringai, terkesan sinis. "Sehingga gagal mengenali tulisan tangan salah satu murid di sekolah ini."
Shit.
Menelan ludahnya paksa. Naruto merutuk. Pemuda pirang itu benar-benar melupakan salah satu informasi penting yang baru-baru ini didapatkannya dari hasil pencarian informasi bertajuk; 'Mencari seluk beluk pujaan hati Sakura Haruno'. Pemuda pirang itu benar-benar lupa; bahwa Uchiha Sasuke adalah andalan guru-guru di sekolahnya, sang juara pararel dan si murid jenius berkemampuan photographic memory.
"Kenapa?" Suara baritone rendah kembali terdengar.
Gelagapan. Siswa kelas dua SMA itu hanya bisa membuka-tutup mulutnya.
'Oh ... my god ...'
Membatin panik. Sebisa mungkin sang Namikaze muda menjauhkan wajahnya dari jangkauan pemuda di hadapannya yang kini semakin mendekatkan wajah ke arahnya.
'Sebenarnya ... dia mau apa?'
Entah, kenapa Naruto merasa tubuhnya terasa kaku, berat sekali untuk digerakkan. Kedua matanya hanya bisa terpaku. Kini jarak wajah mereka benar-benar begitu dekat. Dirinya bahkan dapat dengan jelas merasakan napas hangat berbau mint yang berasal dari sang Uchiha. Hampir persis sama seperti saat dirinya terbangun dari tidurnya; yang membedakan hanya posisi tubuhnya yang kini terduduk di pinggir tempat tidur.
Senyuman itu ... tidak ... itu bukan senyum, melainkan seringai. Sebuah seringai yang terasa mengirimkan friksi-friksi aneh ke dalam dirinya. Bergidik, Naruto menggelengkan kepalanya pelan ketika menyadari pemikiran gila yang baru saja muncul di dalam tempurung otak kepalanya.
"Uchiha-san, kau terlalu dekat," ucap Naruto seraya mendorong kedua bahu pemuda tersebut, menjauhkan dan menciptakan jarak selebar mungkin dengan lengan tangannya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku," Uchiha muda tersebut kembali membuka suara, masih dengan seringai yang terpasang dengan begitu indahnya. Tubuhnya pun bergerak maju, sedikit mendorong kedua lengan yang menempel pada kedua bahunya. "Kenapa?"
"A—apa? Apanya yang kenapa?"
Astaga. Sungguh, Naruto benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Kenapa bisa-bisanya dirinya menjadi gelagapan seperti ini? Kenapa dirinya seolah menjelma menjadi seorang gadis perawan yang sedang digoda oleh pujaan hatinya? Naruto yakin dirinya masih seratus persen normal. Dia straight. Pemuda pirang itu masih menyukai buah dada besar dan vagina. Iya, 'kan?
'Sialan ...'
Merutuk. Siswa bermata seindah langit musim panas tersebut ingin menjedukkan kepalanya sekarang juga. Apa pun itu, asalkan keras dan kalau bisa kembali menjernihkan pemikirannya yang menjurus nista, Naruto benar-benar ingin kepala berambut pirangnya dihantamkan dengan sekuat mungkin. Jika perlu, sampai pingsan dan amnesia sekalian.
" ...—saanku?"
Mengerjapkan matanya secara berulang, Naruto membuka-tutup mulutnya. Dia benar-benar terlalu fokus dalam pemikirannya, hingga melewatkan perkataan yang dilontarkan oleh pemuda bermata kelam— yang jarak wajahnya tak kurang duapuluh sentimeter dari dirinya.
"Sumimasen, bisa kau ulangi, Uchiha-san?" Naruto menyengir, kaku.
Mendesah pelan, sang Uchiha akhirnya memundurkan diri dan kembali mendudukkan dirinya dengan tegak di kursi. Menatap datar, mata beriris onyx-nya memancarkan suatu binar yang tak dapat Naruto artikan.
"Apa kau sama sekali tak memikirkan perasaanku?"
"Huh?" Antara merasa ragu dengan pendengarannya sendiri, Naruto megernyitkan keningnya.
"Hn. Tidakkah kau berpikir pernyataanmu menyakitiku?"
"..." Diam. Kakak ke-dua dari seorang model ternama tersebut sama sekali tak tahu harus memberi respon bagaimana.
"Bagaimana bila seandainya aku benar-benar menyukaimu dan telah lama menunggumu? Lalu berpikir kau serius dengan surat itu," Sasuke tersenyum, sinis. "Tapi, ternyata kau mempermainkanku."
"..." Masih terdiam. Kali ini Naruto benar-benar merasa telah kehilangan kata-katanya. Rasa tidak mengenakkan terasa menyeruak dan memenuhi dirinya.
"Terima kasih atas surat salah pahammu," Bangkit dari tempat duduknya, siswa berpredikat jenius tersebut mengarahkan tatapan tajam. "Aku benar-benar merasa tersanjung."
Dan, Naruto hanya bisa menatap kepergian pemuda bermarga Uchiha tersebut dengan mata yang terbuka lebar.
'Semua ini tidak serius, kan?'
Demi Tuhan, Naruto benar-benar tak mengerti dengan segala sesuatu yang telah terjadi. Semua terjadi dengan begitu cepat, terlalu cepat malah. Bak menaiki wahana jet coaster, rasa pusing dan mual pun terasa menyerang dirinya.
Bahkan, dirinya masih belum bisa mempercayai segala hal yang telah didengar dan dilihatnya beberapa saat lalu. Tadi itu ... benarkah dirinya mendengar dan melihat kekecewaan dari sosok siswa yang kabarnya terkenal minim ekspresi itu? Dan, mungkinkah ...?
'Tidak, tidak ...'
Naruto menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Semuanya terlalu tidak masuk akal. Mustahil dan tidak mungkin terjadi. Yang tadi itu pasti hanya candaan belaka. Sebatas gurauan penuh kegilaan dari seorang siswa berpredikat jenius untuk mempermainkan dirinya.
'Tapi, untuk apa? Bu—bukankah kami tidak pernah saling mengenal sebelumnya?'
Astaga. Pikirannya sekarang benar-benar kacau. Kepalanya kembali berdenyut, sakit. Dan, bolehkah dirinya berteriak sekarang?
.
.
.
Seharusnya rasanya tidak sedingin ini.
Hari masih sore, cuaca pun terbilang cerah. Cahaya jingga yang terpantul setidaknya masihlah memberikan kehangatan. Namun, entah kenapa Naruto merasa dirinya seperti akan membeku. Bahkan, kini tubuhnya sama sekali tak bisa digerakkan. Naruto benar-benar hanya diam dalam tatapan nanar.
Ada gurat luka dan kecewa di sana. Walaupun seulas senyum melengkung dengan indahnya pada wajah berkulit putih milik sosok gadis di hadapannya, akan tetapi Namikaze muda itu sama sekali tidaklah buta hingga tak dapat melihatnya.
"S—Sakura-chan ..."
Sial, lagi-lagi dirinya merasa suaranya tercekat di dalam tenggorokan. Sebenarnya ada apa dengan dirinya? Kenapa hal ini terus terjadi secara berulang kali pada hari ini?
"A—aku benar-be—"
"Sudahlah, Naruto," Sakura masih dengan senyumnya—yang kentara jelas dipaksakan— menatap Naruto tepat ke mata. "Aku sama sekali tidak akan menuntut penjelasan. A—aku hanya perlu waktu, Naruto. Sungguh."
"Bukan seperti itu, Sakura-chan," Naruto menggelengkan kepalanya, lemah. "Demi Tuhan, ini salah paham. Sur—"
"Naruto ...," Gadis itu menyela. "Sungguh ... tidak ada yang perlu kau jelaskan. Semua yang ter—"
"Tapi aku ingin menjelaskan semuanya," Namikaze kedua tersebut setengah berteriak, frustasi. Sungguh, pernyataan Sahabat sedari kecilnya itu terasa membebani dirinya. Naruto lebih memilih gadis manis berjiwa tomboy tersebut memaki, atau ... bahkan bila perlu menyarangkan pukulan pada dirinya.
Sakura diam dengan kepala menunduk. Memandang sepatu tampaknya lebih menarik untuk dilakukannya.
"Bukan aku, Sakura-chan," Pemuda berkepala pirang tersebut meringis pelan. "Sungguh aku pun bingung harus menjelaskannya bagaimana. Semua kata-kata itu bukan aku yang menulisnya. Aku sama sekali tak mungkin melakukan semua hal itu. Aku tak mungkin ... mengkhianatimu." jelasnya, suaranya mengecil di ujung kalimat.
Suara kekehan bernada pahit terdengar menggema. Sakura dengan mata memerah kembali menatap Naruto. Angin dingin pun terasa berhembus semakin kencang, membuat pemuda tersebut mulai menggigil pelan.
"Aku ingin sekali percaya, Naruto," Sang Haruno menghembuskan napasnya, terdengar berat. "Selalu, dan selalu ingin mempercayaimu. Tapi, Naruto ... aku—" Jeda sejenak, "—rasanya sulit sekali. Tulisan dan tanda tangan itu, dapatkah aku mengabaikannya begitu saja?"
"Sakura-chan, itu bukan—" Naruto menghentikan ucapannya ketika melihat Sakura menggelengkan kepalanya kuat-kuat dengan kedua tangan menutupi telinganya.
"Kumohon, Naruto ..." Ada isakan kecil tertahan yang terdengar. "Ini semua tidaklah mudah untuk kuterima dan kupahami. Kau tahu bahwa aku menyukainya, dan bahkan mencintainya. Ini menyakitkan, Naruto. Kau sahabatku, ini benar-benar tidak mudah. Aku benar-benar merasa terkhianati, sungguh ..."
"..." Terpaku. Siswa berwajah tampan—yang menjurus manis dan— tersebut menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang mengepal erat.
"Pergilah, Naruto. Pergilah ...," Sakura memohon. "Biarkan aku sendiri. Berikan aku waktu, setidaknya ... hiks ... sampai aku ... hiks ... bi-sa me-ngerti."
Mendengar isakan sahabat berambut senada dengan kelopak bunga musim semi tersebut membuat Naruto merasakan sempit di dalam dadanya. Ini adalah kali pertama bagi dirinya menjadi penyebab gadis yang disayanginya itu menangis. Menghembuskan napasnya berat, senyum kecut pun disunggingkannya.
"Aku mengerti," ucap Naruto pelan, terasa begitu berat dan menyesakkan dadanya. Membalikkan badannya, pemuda yang baru menginjak usia ke-enam belas tahun tersebut menoleh dan sebisa mungkin menyunggingkan senyuman terbaiknya. "Aku akan selalu menunggumu, Sakura-chan. Kau sahabat terbaikku." Kemudian Naruto pun benar-benar belalu pergi— meninggalkan gadis bermata emerald tersebut sendiri dalam isak tangisnya dan dengan tangan yang mencengkram erat besi pagar rumahnya.
.
.
.
"Ada apa dengan tampang kusutmu?"
Menghentikan gerakan tangannya yang sedari bergerak lincah menekan keyboard laptopnya, putera sulung Namikaze tersebut menatap adiknya yang baru saja muncul dalam pandangan.
"Aku baik-baik saja," menjawab malas, sosok pirang tersebut kembali melangkahkan kakinya menuju tangga.
"Naruto, kemarilah."
Menghentikan langkahnya, Naruto mendesahkan napasnya, lelah. Melihat mahasiswa tingkat akhir itu tersenyum dengan begitu lebarnya, seketika membuat bulu kuduknya terasa meremang. Sungguh, kakaknya yang notabene-nya sangat perhitungan dalam segala hal tersebut selalu berarti tidak baik bila harus disandingkan dengan senyuman lebar. Dengan langkah gontai, sang anak tengah itu pun menghampiri kakaknya dan mendudukkan dirinya di sofa—tepat di samping kakaknya. Fisik dan batinnya lelah, dirinya tak mau menambah daftar masalah dengan menantang sang Namikaze sulung.
"Kau sudah minum obat?" tanyanya datar, namun ada kekhawatiran dalam sorot matanya.
Mengangguk pelan, siswa kelas dua SMA itu tersenyum seadanya.
"Tapi, wajahmu pucat. Kau yakin anemiamu ti—"
"Nii-san, please ..." Pemuda pirang itu benar-benar jengah. Kakaknya selalu bersikap berlebihan bila menyangkut kondisinya yang sedikit kurang baik. Dirinya hanya mengidap anemia, bukan penyakit mematikan yang akan dengan cepat merenggut nyawanya. Lagi pula, dirinya lelaki. Kenapa kakak dan kedua orangtuanya—bahkan adiknya— sering bersikap over padanya?
"Oke ..." Mahasiswa bermata unik seperti riak air itu akhirnya memilih mengalah. Namun, senyum jahil tiba-tiba disunggingkannya, sukses membuat Naruto tak enak perasaan. "Tapi, kenapa rasanya aku mencium bau-bau seorang remaja galau?"
Merutuk, kedua bola mata beriris sapphire-nya menatap sengit ke arah pergelangan tangan kirinya yang dicengkram erat kakaknya. Rupa-rupanya, sang kakak bertindak cepat untuk mencegahnya kabur.
"Nagato Nii-san ... lepas!"
"Tidak akan~" sahut mahasiswa itu dengan nada sing a song.
"Nii-san ...," setengah merengek, si pirang meronta; mencoba melepaskan diri.
"Ayo, katakan. Apa yang bisa membuat my sweety honey bertampang kusut a la remaja galau, ahn?"
"Tidak ada," Naruto melotot, memasang wajah sesangar mungkin. "Aku baik-baik saja, dan tidak ada kata galau di dalam kamus besarku, Nii-san."
"Omong kosong ...," Nagato ngotot. "Ayo, ngaku. Putus sama pacar, ya?"
"Aisssh ... Nii-san jangan menyindirku," Namikaze kedua itu semakin menambah intensitas pembrontakkannya. Namun, sayangnya kekuatan cengkraman kakaknya benar-benar tidak main kuatnya. "Kau sangat tahu aku tidak punya pacar."
"Huh?" Melepaskan cengkramannya, Nagato menatap Naruto dengan tatapan sulit diartikan.
"Kenapa?" tanya Naruto, sedikit merasa bingung dengan ekspresi wajah yang terpasang pada paras rupawan sang Namikaze sulung.
"Jadi, kau benar-benar jomblo, Naruto?"
"Kheh ...," Naruto merasa menyesal telah memikirkan kakaknya.
"Astaga ...," Nagato tiba-tiba heboh sendiri. "Kau bukan aseksual, kan, Naruto? Kau masih bisa menyukai laki-laki, kan?"
Membuka mulutnya lebar, pandangan penuh horror diarahkannya pada sang pemuda berkepala merah. Naruto tadi salah dengar, kan? Kakaknya menyebut wanita dan bukan menyebut laki-laki, kan?
"Naruto!" Si sulung tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada adiknya, tangannya mengunci kepala bersurai pirang tersebut agar tak bisa bergerak. "Tatap aku, Naruto."
Walaupun sudah terbiasa, jujur saja Naruto masih merasa sedikit ngeri melihat mata kakaknya dalam jarak begitu dekat.
"Kau tidak boleh aseksual! Kau harus menyukai seseorang, Naruto."
"Nii-sa—"
Brak ...
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Naruto bersamaan dengan Nagato menggerakkan kepalanya ke arah suara barang jatuh tersebut terdengar. Dan, kedua pasang mata berbeda tersebut hanya bisa menatap bingung sosok gadis berambut oranye yang nampak terpaku beberapa meter di hadapan mereka.
"Sasame, kenapa kau menjatuhkan belanjaanmu?" Nagato membuka suaranya.
Masih dalam keadaan terpaku, gadis berusia delapan belas tahunan tersebut tampak menggelengkan kepalanya, lemah. "Na—Nagato-sama, Naruto-sama ... incest?"
Bruk ...
Dan, kedua bersaudara itu hanya bisa melongo ketika asisten rumah tangga mereka pingsan secara tiba-tiba.
.
.
.
'Aku tidak tahu harus menceritakannya seperti apa, Naruto-kun,' Terdengar desahan napas berat dari ujung seberang sana. 'Yang jelas, tadi siang Sakura dengan sepenuh keberanian yang dimilikinya menemui Sasuke-kun di kantin. Dia menyerahkan sebuah amplop pada Sasuke-kun.'
"Lalu?" tanya Naruto, terkesan tidak sabar.
'...'
"Ino, kau mendengarku?"
'Maaf, Naruto,' Naruto kembali mendengar desahan berat. Tangannya pun bergerak mengencangkan pegangannya pada benda berwarna oranye yang ditempelkannya pada daun telinga kanannya. 'Awalnya Sasuke-kun hanya diam saja, tidak merespon Sakura sama sekali. Tapi, tiba-tiba temannya yang bernama Suigetsu dengan cepat merebut surat yang disodorkan Sakura. Lalu ... lalu dengan begitu kencangnya Suigetsu membacakan isi surat itu di depan seluruh anak di kantin.'
"Ya ampun ...," gumam pemuda tersebut, lirih. Sebelah tangannya yang bebas digunakannya untuk memijit ujung pangkal hidungnya. Sekarang terjawab sudah alasan yang membuat dirinya mendapatkan berbagai macam pandangan dari para siswa-siswi yang ditemuinya di sepanjang lorong sekolah.
'Naruto, kau masih mendengarku?'
"Ya, tentu, Ino," Naruto kembali memusatkan fokusnya pada suara panggilan di ujung telpon sana.
' Setelah Suigetsu selesai membacakan isi suratnya, tentu saja seisi kantin terkejut dan langsung heboh,' Jeda, ada tarikkan napas terdengar. 'Lalu, selanjutnya aku tidak tahu jelasnya ... Sasuke-kun tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya setelah merebut surat itu dari Suigetsu. Dan dia ... mendekati Sakura ... dia seperti membisikkan sesuatu yang membuat Sakura tampak sangat shock.'
"Kau tahu apa yang dibisikkan oleh pemuda Uchiha itu?" tanyanya penasaran, setengah memaksa Ino untuk memberi jawaban.
'Entahlah, Naruto ... Sakura sama sekali tak memberitahuku.'
"Aku mengerti," Naruto menghela napas, lelah. "Terima kasih, Ino. Maaf mengganggumu malam-malam."
'Tak masalah,' Ino terdiam, dan Naruto menunggu— sangat tahu bahwa sepertinya ada yang ingin disampaikan oleh sahabat dari sahabatnya tersebut.
"Ino, kalau kau ingin bertanya ... bertanyalah."
'Ehm ... maaf, Naruto,' Gadis tersebut terdengar gelisah. 'A—apa ... surat itu benar-benar milikmu?'
Terkekeh pelan, siswa bermarga Namikaze itu tersenyum datar. "Percaya atau tidak, itu bukan asli tulisan dan tanda tanganku, Ino."
'...'
"Ada yang mencoba mengerjaiku, dan hebatnya dia bisa meniru tulisanku dengan sempurna."
'...'
"Bukankah itu sulit dipercaya, Ino?"
'...'
"Sepertinya ini su—"
'Aku percaya, Naruto,' jawab Ino, cepat-cepat memotong ucapan Naruto. Sukses membuat Namikaze tengah itu mengulum senyum, tipis. 'Kau tak mungkin mengkhianati Sakura.'
Tut ... tut ... tut ...
Panggilan diputus secara sepihak oleh gadis di seberang sana. Namun, Naruto masih bertahan dengan senyumnya. Ada rasa lega dalam hatinya karena masih ada yang mempercayainya.
.
.
.
Saling menatap antara satu sama lain. Naruto semakin menambahkan intensitas ketajaman tatapan matanya, sementara adiknya—Kyuubi— masih bertahan dalam tatapan datar andalannya.
Keheningan pun memenuhi ruangan bernuansa oranye tersebut. Detik jam terdengar begitu jelas.
Tersenyum sinis, pemuda berstatus jomblo itu pun menghembuskan napasnya kasar. "Katakan, Kyuubi ..." Naruto menggertakkan gigi-gigi putihnya, "Apa maksudmu dengan mengganti isi suratku?"
Mengangkat alis, dengusan pelan terdengar dari sosok model remaja yang banyak digandrungi oleh bermacam kalangan tersebut. "Jadi hanya itu alasanmu? Kau menyeretku yang baru saja menginjakkan kedua kaki indahku di depan pintu hanya untuk menanyakan hal yang tidak penting, ahn?"
"Tidak penting katamu?" Naruto bertanya, sinis. "Demi Tuhan, Kyuubi ... di mana kau letakkan otak jeniusmu, hah? Kau tentu dengan jelas tahu perbuatanmu berdampak buruk untukku!"
"Astaga , Naruto ... bisakah kita tunda pertengkaran suami-istri rutin ini untuk besok saja?" Kyuubi mengacak-acak rambut jabrik sebahunya, "Aku benar-benar lelah. Suami tampanmu ini baru pulang kerja, Sayang."
Plak ...
"AWW ..." Kyuubi mengaduh, kepalanya berdenyut nyeri. Geplakkan kasar yang disarangkan Naruto pada puncak kepalanya benar-benar bukan main sakitnya. "Aku bisa tertular kebodohanmu, Baka!"
Tak mengacuhkan teriakan tidak terima adiknya, pemuda pirang itu masih bertahan dengan senyum sinisnya. "Itu hadiah karena kau tidak menanggapiku dengan serius, Kyuubi. Dan asal kau ingat saja, aku lelaki dan juga kakakmu."
"Hoo~" Kyuubi menyeringai. Sangat tahu dan mengerti; tatapan serius dan ucapan bernada tajam yang tengah kakak pirangnya tunjukkan saat ini bukanlah saat yang tepat untuk dibawa bermain-main. "Lalu kau mau apa? Kau ingin aku minta maaf padamu?"
"..." Diam, Naruto tak menjawab.
"Kau mau memarahi dan menghukum perbuatanku?" Kyuubi tersenyum menantang. "Katakan, Naruto, sefatal apa perbuatanku ... apa kali ini perbuatanku sudah tidak bisa kau tolerir lagi?"
Pemuda itu menarik dan membuang napasnya keras-keras. Kepala berambut pirangnya digelengkannya lemah. "Astaga, Kyuubi ...," Namikaze muda tersebut menatap adiknya nanar. "Tidak bisakah kau mencari pekerjaan lain selain mengisengi kakakmu ini? Tidakkah kemilau dunia showbiz lebih menarik dan menyenangkan dirimu, Kyuu?"
"Kau ingin aku menjawab apa?" Namikaze bungsu itu menimpali, "Kau pun sendiri paham dengan pasti, pekerjaan sampinganku memang menganggu ketenanganmu, kan?"
"Kyuubi, kau tidak bisa terus bersikap kekanakan!"
Hening sejenak. Mereka berdua kembali saling menatap. Namun, tak lama kekehan bernada pahit terdengar lolos dari kedua belah bibir sang bungsu Namikaze.
"Selama ini kau selalu memaklumi kegilaanku padamu. Seburuk dan sefatal apa pun dampak yang kusebabkan, kau selalu memaafkan dan menganggapnya sebagai kenakalanku semata."
"..."
"Semarah apa pun kau tak pernah membentakku dengan emosi. Lalu kali ini apa bedanya? Kenapa untuk pertama kalinya kau melakukannya?" Bintang muda itu bertanya, setengah berteriak.
Diam, lagi-lagi hanya bisa diam. Naruto merutuk, menyadari kesalahan pun terletak pada dirinya sendiri. Salahnya yang memang terlalu lemah dan memanjakan adik kesayangannya tersebut. Lagi pula, Kyuubi benar. Memangnya apa bedanya? Kenapa kali ini dirinya bisa seemosional ini? Kenapa dirinya tak sesantai biasanya?
Sakura.
Nama itu tiba-tiba menggaung dalam otaknya.
Kenapa?
Apa karena sahabatnya menangis disebabkan oleh dirinya, lantas menjadikan Naruto harus bersikap berlebihan pada adiknya? Bahkan, Naruto untuk pertama kalinya membentak adiknya dengan kemarahan yang bersarang dalam rongga dadanya.
"Kyuubi, ak—"
"Aku mengerti, Naruto," Kyuubi memotong dengan cepat. Ekspresi getir terpasang pada wajahnya. Mata berwarna hijau kemerahannya menatap nanar. "Isi surat itu lebih penting dariku, kan?"
"Kyuu—"
"Aku minta maaf. Aku berjanji tak akan meng—"
"Tidak, Kyuubi," Naruto dengan cepat menghentikan ucapan adiknya. Kedua iris matanya memancarkan sorot mata bersalah. "Aku yang harus minta maaf. Aku terlalu terbawa perasaan hingga melampiaskannya padamu."
"..." Tak menjawab, Kyuubi memalingkan wajahnya.
"Kyuubi, aku benar-benar menyesal. Sungguh ..." Pemuda pirang itu benar-benar merasa bersalah. Melihat adiknya memalingkan wajah dan tak mau melihat dirinya sungguh tak mengenakkan hatinya.
Namun, yang tanpa dirinya tahu dan sadari, adiknya terlalu bebal dan superior untuk mengakui dirinya bersalah. Dia terlalu pintar memanfaatkan perasaan sayang sang kakak pada dirinya. Lagi pula, sedikit berakting seperti ini bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan seorang bintang ternama seperti Kurama Uzumaki.
Melebarkan seringai setannya di balik palingan wajah. Kyuubi tertawa setan di dalam hati. Terlalu mudah, dan teramat sangat mudah untuk mempermainkan perasaan kakaknya yang terlalu naif dan menyayangi dirinya.
.
.
.
Lelah dan letih.
Siswa kelas dua SMA itu menerawang. Lampu kamarnya yang sengaja dimatikan membuat kamarnya gelap. Namun, cahaya rembulan yang menerobos masuk dari jendela kamarnya yang terbuka, cukup mengurangi kebutaan matanya.
Kepalanya masih berdenyut sakit. Benturan pada kepalanya dan segala hal yang terjadi hari ini cukup membuatnya pusing. Sebutlah dirinya terlalu melebihkan masalah, namun dirinya yang terbiasa hidup tenang tentulah tak terbiasa dengan keadaan seperti ini.
Sakura, gadis itu sahabat terdekatnya. Rasa sayang tentu tak terhitung banyaknya Naruto miliki untuk gadis bersurai merah muda itu. Sungguh, Naruto tak menyangka pada akhirnya dirinya membuat sahabatnya menangis.
Berpikir keras. Putra Namikaze itu pun akhirnya mengukuhkan tekadnya. Apa pun dan bagaimana pun caranya, Naruto harus bisa memperbaiki keadaan.
Walaupun harus meninggalkan kehidupan tenangnya, dan mengorbankan sikap antipatinya dalam berbaur dengan lingkungan di sekitarnya, Naruto harus berhasil. Dia harus bisa.
Malam itu dalam keheningan ruangan, Naruto membuat suatu catatan mental tersendiri. Satu per satu rencana pun coba disusunnya dalam otak berbalut kepala pirangnya.
Tidak akan mudah memang, dan dirinya mungkin akan kerepotan pada nantinya. Bahkan, perasaan tidak enak untuk berurusan dengan sosok raven itu pun begitu kuat membayangi dirinya. Tapi bila tidak dicoba, siapa yang akan tahu hasilnya. Menepiskan segala keraguan di dalam dirinya, siswa kelas dua SMA itu akan berusaha sebisa mungkin untuk membuat sahabatnya mendapatkan pujaan hatinya.
.
.
.
To be—bersambung ...
.
.
.
A/N.
Yakin, Nar?
.
.
Wkwk ... rencanaku buat ngebahas Gaara dan bikin Sasuke ngeksis gagal total. Akhirnya malah penuh scene gak penting. Tapi, gak apa, kan? Sayang dong klo yang di otak gak dituangin. Lagian, masaan Nagato-kun dianggurin? Ganteng gitu, kan sayang klo gak kebagian scene.
.
.
Oke, Meta akan menjawab pertanyaan para reviewer.
Q : Apa isi suratnya?
A : Itu udah ditulis. Pengennya isinya khas anak alay dan lebay, tapi susah ternyata.
.
Q : Apa itu memo dari Sasuke?
A : Pengennya sih dia, tapi aslinya stalker Naruto. Akan terungkap chap terakhir.
.
Q : Ada ItaKyuu, ga?
A : Rencananya akan ada fict-nya sendiri. Meta pengen fokus ke SasuNaru di sini. Lagi pula, hubungan mereka kayaknya gak akan terlalu instan. Padahal rencananya pengen namatin ini di chap 6, sayangnya kemampuan ngetik dan penjabaran draft-ku masih payah. Seriusan, ngetik 1k+ aja leletnya minta ampun. Jadi, ItaKyuu akan ada oneshot spesialnya. /jawabannya panjang amat, Met.
.
Q : Gaara belum bisa move on dari siapa?
A : Clue-nya bermarga Hyuuga. Ayo, tebak siapa?
.
Q : Naruto-nya OOC?
A : Memang. Khufufu ... Meta belum bisa bikin IC. Lagi pula, semua chara akan menjurus OOC.
.
Q : Sasuke udah lama suka Naruto?
A : Hmph ... bisa jadi, bisa jadi. Tapi, bisa dibilang dia kena sindrom penyakit 'tertarik pada pandangan pertama'. Jadi, ada yang bisa menarik kesimpulan?
.
Q : Respon Sakura? Sakura Fujoshi?
A : Meta sebisa mungkin ingin menghadirkan reaksi yang wajar terjadi. Akan terkesan aneh klo Sakura bersikap seolah oke-oke aja. Walaupun fujoshi, tetap akan ada perasaan sakit dong klo hal kayak gitu terjadi. Tapi, tenang aja ... Sakura sahabat yang baik kok. Dia punya alasan logis buat kecewa dan menjaga jarak dari Naruto untuk beberapa waktu.
.
Q : Naruto sakit?
A : Enggak, kok. Cuma anemia doang.
.
Yosh ... chap 3 update, maaf gak kilat.
Meta ucapkan terima kasih untuk yang baca, review, foll dan fav fict ini.
Semoga tidak bosan dengan fict ini. Secara ... ceritanya kok makin absurd.
Salam santun,
MetamorphoQueen
Springhill, 25/05/2015
