Disclamer :

This is collaboration story between Meyla Rahma and NoonaRyeo a. ka Choi Dande

This is just a story. All the cast in this story is owned by themselves and their agency. ^^

LOVE BETWEEN THEM

.

WonHyuk

HaeHyuk

.

Collaboration Story

Meyla Rahma

NoonaRyeo Choi Dande

.

Romance

Fluffy(?)

Series(?)

.

All cast is NOT mine.

But this plot is owned by Meyla Rahma and NoonaRyeo a. ka Choi Dande.

Typos may be applied in this story.

And I'm sorry for that. ^^

Don't copy anything in this story without Permission.

It just story. So be mature.

.

Summary :

Kau mencintaiku. Namun hati ini tak pernah terlepas dari dirinya.

Haruskah aku memilih satu di antara kalian?

.

Let's begin . . .

.

.

Sudah satu bulan berlalu, Eunhyuk memulai kembali hubungan dengan Donghae. Mereka sering bertemu dan menghabiskan hari bersama. Tapi di lain sisi, ia juga masih berhubungan dengan Siwon. Ia masih tinggal satu atap dengan lelaki pemilik department store terbesar di negara itu. Ia juga masih melakukan aktivitas bersama setiap paginya bersama Siwon. Seperti yang ia lakukan saat ini. Membuat sarapan.

"Pagi Baby,"

"Hn,"

Siwon masuk ke dalam dapur dan mencium lembut pipi kanan Eunhyuk yang tengah berdiri menggoreng telur.

"Kau masak apa?"

"Seperti yang kau lihat. Waffel dan telur," jawab Eunhyuk singkat.

Siwon hanya manggut-manggut sembari membenarkan dasinya tak niat. Eunhyuk sudah selesai dengan telurnya dan berbalik membawa 2 porsi telur dadar di tangannya. Ia melirik Siwon yang memakai dasinya asal-asalan. Eunhyuk berdecak malas.

"Tak bisakah kau memakai dasi dengan benar, hyung? Seperti anak kecil saja,"

Eunhyuk berucap kesal sembari membenarkan dasi Siwon yang terpasang berantakan. Siwon hanya diam. Menatap teduh sosok yang tengah memakaikan dasinya sembari mengomel itu. Ia tersenyum tulus. Tangan kekarnya membawa lelaki kurus itu dalam dekapannya begitu saja. Di sisi lain, Eunhyuk yang sempat terkejut hanya diam. Membiarkan Siwon memeluknya hangat. Ia bisa merasakan hangat nafas Siwon di tengkuknya.

"Gomawo Hyukkie,"

Eunhyuk tersenyum tipis tanpa sadar. Ia berdeham pelan dan melepas pelukan Siwon.

"Ayo makan kau bisa terlambat nanti, hyung,"

Eunhyuk mulai duduk dan menghindari kontak mata dengan Siwon. Mereka mulai sarapan dalam diam. Eunhyuk sempat mencuri pandang pada lelaki tampan itu. Siwon memang tampan. Eunhyuk harus mengakui itu. Lihatlah dada bidang dan lengan berotot itu. Apalagi dengan wajah bak dewa yunani yang begitu sempurna. Eunhyuk hanya mendengus kesal, kenapa tuhan menciptakan orang sesempurna seperti Siwon.

Sekelebat bayangan tentang Donghae tiba-tiba masuk di pikiran Eunhyuk. Donghae mungkin tak sekaya Siwon tapi entah kenapa ia terlalu mencintai lelaki brunette itu. Ia menatap Siwon dengan pandangan sendu. Ada sesuatu yang berkecamuk dalam hatinya. Ia ingin membicarakan niat nya untuk benar-benar berpisah dengan Siwon. Tapi sesuatu dalam dirinya yang lain menolaknya.

"Waeyo?" Siwon menguyah waffel nya sembari menatap Eunhyuk penuh tanya.

"Ani. Gwenchana,"

'Mungkin sementara seperti ini, lebih baik,' batin Eunhyuk.

Hanya ada dentingan sendok dan garpu yang beradu diatas piring sebagai backsound sarapan keduanya.

"Nanti kau pulang sendiri ya, Hyukkie?"

"Hm?" Eunhyuk menatap Siwon bingung.

"Aku ada rapat dengan Noona Goo Ara. Jadi mungkin akan pulang terlambat. Kau tak perlu menunggu ku untuk makan malam,"

Eunhyuk tampak sedikit merengut mendengar nama wanita itu. Goo Ara adalah relasi Siwon di Seoul. Ia pernah bertemu dengan wanita itu. Ia tahu wanita itu menyukai Siwon, setidaknya ia tahu dari sikap agresifnya saat di dekat Siwon.

"Ck, tak adakah orang lain selain wanita centil itu," gumam Eunhyuk – dan masih terdengar Siwon.

"Kenapa Hyukkie?"

"Ah ti-tidak,lupakan hyung. Aku akan pulang sendiri nanti,"

Siwon menatap bingung Eunhyuk yang gelagapan.

"Kau cemburu dengan Noona Go?"

"Sepertinya begitu,"

Siwon tersenyum tipis. Eunhyuk yang baru sadar dengan apa yang ia katakan hanya melotot dengan wajah merah padam.

"A-ni. Untuk apa aku cemburu? Maksudku aku tidak cemburu," Siwon hanya menyeringai menatap Eunhyuk.

"-dia memang wanita genit. Pokoknya aku memang tidak cemburu,"

Eunhyuk berdiri dan membawa piringnya ke wastafel dengan muka merah padam. Siwon tersenyum geli di buatnya. Ia tahu Eunhyuk memang cemburu. Tapi berusaha mati-matian untuk menyangkal. Siwon berdiri dan berjalan mendekati Eunhyuk yang mencuci piring di wastafel.

Greepp,

Siwon memeluk Eunhyuk dari belakang. Membuat Eunhyuk seketika menghentikan kegiatan mencuci piringnya. Ia sedikir meremang saat merasakan hangat nafas Siwon di tengkuknya. Tak hanya itu, ia juga merasakan bibir Siwon yang mengecup tengkuknya lembut.

"Hy-hyung?" Eunhyuk mengutuki suaranya yang bergetar.

"Biarkan seperti ini sebentar, hyukkie,"

Siwon memeluk Eunhyuk erat. Seakan lelaki kurus itu akan menghilang jika ia mengendurkan pelukannya. Eunhyuk sendiri hanya diam. Ia memang tidak memungkiri, ia selalu nyaman jika berada dalam dekapan Siwon. Pelukan lelaki berlesung pipi itu terasa berbeda. Bahkan terasa berbeda dengan saat Donghae memeluknya. Eunhyuk selalu merasa aman dalam dekapan lelaki tampan itu. Eunhyuk tak tahu perasaan apa yang ia punya untuk Siwon. Ia hanya tak bisa mendefinisikannya. Atau ia memang terlalu egois untuk mengatakan jika ia juga, , , mencintai Siwon.

.

.

"Menunggu lama?"

Eunhyuk menggeleng seraya tersenyum lembut melihat Donghae yang kini sudah berdiri didepannya. Tak mau berlama-lama lagi, Donghae menarik lembut lengan Eunhyuk. Menyuruh lelaki manis itu menduduki bangku penumpang setelah ia membukakan pintu mobilnya lebih dulu.

"Gomawo." Ucap Eunhyuk yang langsung mendapat usapan sayang pada rambutnya.

Eunhyuk tersenyum tulus. Fokus matanya mengikuti gerakan tubuh Donghae yang tengah memutari body mobil hingga kini sudah duduk nyaman dibalik kemudi, disampingnya. Donghae melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Lagipula ia juga tidak sedang terburu-buru sekarang. Walau ia sendiri ingat ada janji dengan seseorang. Tapi ia sekarang juga ingin menghabiskan sedikit waktu dengan lelaki manis di sampingnya.

"Mau pergi kesuatu tempat?" Donghae bertanya tanpa mengalihkan fokus matanya.

"Hm? Kemana?"

"Ck. Kenapa malah bertanya? Aku sedang bertanya padamu Hyukkie. Adakah tempat yang ingin kau kunjungi sekarang?"

Eunhyuk tertawa pelan. Merasa lucu karena ia yang tidak mengerti maksud pertanyaan Donghae. Eunhyuk meneliti perlahan wajah Donghae. Tersenyum pelan saat raut tampan itu terlihat begitu fokus dengan jalanan di depannya. Ia ingat jika Donghae memang tak terlalu mahir berkemudi. Ya, walau begitu Eunhyuk masih percaya pada Donghae. Setidaknya lelaki itu tak pernah kecelakaan sebelumnya.

"Kau sedang tidak sibuk Hae?"

"Tidak. Kupikir, aku juga butuh refreshing sekarang," Donghae menoleh dan tersenyum lembut.

"Kenapa?" Tanya Eunhyuk lagi.

"Tidak apa-apa, hanya sedang penat saja. Kau tahu, bukan hal mudah saat kau harus mengurus perusahaan disaat kau juga harus kuliah."

Ia tidak bohong, ia memang sedang merasakan penat sekarang. Terlebih, ada satu masalah lagi yang cukup mengganggu pikirannya dari kemarin. Donghae melirik Eunhyuk, dan terkekeh kecil menemukan mata bulat sipit itu tengah memandangnya intens.

"Wae?"

Eunhyuk menggeleng. Tersenyum tipis dan memilih untuk menyandarkan punggungnya. Entah kenapa, bayangan Siwon melintas begitu saja saat mendengar penjelasan Donghae tadi. Apa Siwon juga merasakan lelah seperti yang Donghae rasakan? Pikirnya bertanya-tanya. Bahkan hampir beberapa kali Siwon pulang telat karena harus mengurus perusahannya.

Ia memang tak pernah menanyakan tentang hal – hal seperti itu pada Siwon. Ia terlalu acuh atau bahkan tak peduli. Dan ia sedikit merasa bersalah mengingat sifat Siwon yang selalu perhatian padanya. Lelaki tampan itu selalu mengkhawatirkannya. Siwon selalu mengutamakan ia di banding apapun. Eunhyuk menghembuskan napasnya pendek. Memilih untuk mengabaikan itu, lelaki dengan senyum khas itu kembali menatap Donghae.

"Bagaimana kalau kita pergi ketaman, Hae?" wajah manis itu tersenyum - antusias.

"Taman?"

"Um. Taman dimana kita bertemu pertama kali." Jelas Eunhyuk dengan senyum lembut. Yang langsung kembali menatap kedepan setelah mengatakan maksudnya. Ia bahkan tidak tahu saat Donghae sempat terdiam tadi.

.

.

Eunhyuk membuka cepat pintu mobil Donghae, tepat setelah lelaki tampan itu menghentikan mobilnya. Tersenyum lebar saat angin sore yang lembut langsung menyapanya ketika ia sudah keluar, dan berdiri tepat disisi samping mobil. Donghae yang melihatnya tersenyum lembut. Lelaki brunette itu melangkah menghampiri Eunhyuk. Berdiri disampingnya dengan senyum yang masih menghiasi wajah tampannya.

"Kajja,"

Eunhyuk menggenggam lembut tangan Donghae,dan menuntunnya untuk mengikuti langkah kakinya.

"Kau bahagia sekali." Ucap Donghae.

Membiarkan tangannya yang kini ditarik lelaki manis itu. Eunhyuk memutar kepalanya untuk menghadap Donghae. Senyuman khasnya terukir kala menemukan Donghae juga tengah tersenyum.

"Tentu saja. Kau tahu, disini tempat yang selalu aku kunjungi saat aku tengah merindukanmu." Jelas Eunhyuk dengan senyum tipis.

Senyum Donghae sontak memudar. Apa maksudnya? Apakah ini berarti,jika selama ini Eunhyuk masih mengharapkannya? Donghae memandang lama tubuh Eunhyuk yang berjalan beberapa langkah didepannya. Ada sesuatu yang salah. Entah mengapa hatinya menjerit bila yang ia lakukan saat ini bukan hal yang benar. Salahkah keputusannya untuk memilih kembali,dulu?

Eunhyuk mendudukan diri dibangku taman yang tak jauh dari pohon maple yang menaunginya. Melindungnya dari sinar matahari kala siang datang menyapa. Tempat yang selalu menjadi favoritnya. Karena disinilah tempat dimana ia dan Donghae sering menghabiskan waktu bersama dan tempat ia dan Donghae berciuman pertama kalinya.

Lelaki manis itu tersenyum tulus. Donghae yang melihatnya meneguk ludah gugup. Kenapa? Kenapa setelah waktu yang cukup lama mereka lalui tanpa hubungan apapun,Eunhyuk masih menyimpan perasaan itu untuknya" Tidakkah lelaki itu merasa kecewa karena ia meninggalkannya dulu? Tidakkah Eunhyuk membencinya karena sudah mencampakannya dulu? Begitu banyak hal yang membayangi pikiran Donghae.

Donghae terdiam. Pikirannya tengah menerawang entah kemana. Ingatan kala ia meninggalkan Eunhyuk dan pergi dari kota ini masih begitu segar di ingatannya. Ia masih ingat bagaimana wajah manis itu menangisi kepergiannya. Tidakkah ia merasa bersalah? Ya, ia selalu merasakan penyesalan yang teramat dalam pada Eunhyuk. Tapi satu yang cukup mengganggunya sekarang.

"Hae, kau kenapa?"

Donghae tersadar dari lamunannya mendengar suara merdu milik lelaki yang duduk disampingnya. Tersenyum kaku, Donghae menggeleng. Enggan mengatakan apa yang tengah menggelayuti pikirannya. Ia memejamkan mata. Mencoba menenangkan gemuruh hatinya yang mulai tak terkendali.

.

.

Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam. Waktu yang lebih dari cukup untuk membuat Eunhyuk selalu tersenyum hampir seharian ini. Ia bahkan sengaja mematikan ponselnya untuk bisa lebih leluasa menikmati waktunya dengan Donghae,sang kekasih. Keduanya keluar dari restaurant,tempat dimana mereka baru saja menyantap makan malam berdua. Restaurant yang tidak terlalu jauh dari taman,mengingat keduanya cukup lama berada disana tadi.

Eunhyuk menatap Donghae saat lagi-lagi suara ponsel milik namja tampan itu kembali ia dengar. Cukup penasaran sebenarnya, siapa kiranya seseorang yang sedari tadi menghubungi Donghae. Seingatnya, semenjak mereka tiba di resaturant ponsel Donghae sudah berbunyi berkali-kali, tapi lelaki bermarga Lee tak kunjung mau mengangkatnya. Dan lebih memilih untuk mengabaikannya ataupun menolaknya.

Saat ia bertanya, maka Donghae hanya akan menjawabnya dengan enggan. Mengatakan jika yang menghubunginya hanya orang-orang kepercayaannya di kantor. Membuat Eunhyuk mengangguk mengerti. Mungkin memang tidak penting menurut Donghae, setidaknya itulah yang Eunhyuk pikirkan melihat Donghae yang tak ada niatan untuk menjawab panggilan- panggilan itu.

"Kenapa tidak menjawabnya saja, Hae? siapa tau itu memang penting." Ucap Eunhyuk saat kembali mendengar ponsel Donghae berdering. Tepat saat ia sudah mendudukan diri dibangku penumpang.

Donghae tersenyum. Memilih untuk mematikan ponselnya dan meletakannya begitu saja di dasbor mobil.

"Tidak apa-apa. Aku akan menghubunganya nanti setelah sampai dirumah."

"Baiklah,t erserah padamu saja." Ucap Eunhyuk seraya tersenyum tipis.

"Kita pulang?"

"Kita pulang." Angguk Eunhyuk.

Donghae terkekeh melihatnya. Mengulurkan tangannya untuk mengusak surai lembut milik Eunhyuk. Dan mulai fokus untuk mengemudi.

Butuh 20 menit waktu yang diperlukan Donghae untuk mengantar Eunhyuk ketempat dimana lelaki kurus itu tinggal. Ia memang sudah mengetahui perihal Eunhyuk yang memang tinggal bersama dengan Siwon – seseorang yang jika ia mau mengatakannya – adalah sosok yang sudah memiliki tempat tersendiri dihati Eunhyuk. Tanpa kesadaran dari Eunhyuk sendiri tentu saja. Tidak. Mungkin Eunhyuk memang sudah sadar, hanya saja, lelaki manis itu selalu mencoba untuk menyangkalnya.

Donghae menghentikan laju mobilnya tepat didepan gedung apartement milik Siwon berada. Keheningan menyelimuti keduanya untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Eunhyuk memilih bersiap untuk membuka pintu disampingnya. Gerakannya terhenti saat merasa tangannya digenggam Donghae. Eunhyuk memutar kepalanya untuk menatap Donghae. Dan ia menemukan senyum lembut yang dilayangkan Donghae untuknya. Senyuman yang membuatnya juga ikut tersenyum.

Donghae membawa kepala Eunhyuk kedepan wajahnya. Menempatkan satu kecupan ringan dikening Eunhyuk cukup lama.

'Maafkan aku.'

Sebuah bisikan dari dalam hati Donghae mungkin tak akan pernah terdengar di telinga Eunhyuk. Lelaki kurus itu terlalu menikmati sentuhan lembut yang Donghae berikan padanya. Eunhyuk memejamkan matanya seraya tersenyum lembut. Membukanya lagi setelah Donghae menyudahinya.

"Masuklah."

Donghae berusaha tersenyum selembut mungkin. Dan Eunhyuk membalas itu dengan senyuman tulus. Begitu tulus hingga membuat dada Donghae entah mengapa terasa ngilu. Eunhyuk berucap pelan seraya membelai lembut pelipis Donghae.

"Hati-hati dijalan."

Eunhyuk keluar dari mobil Donghae, menoleh dan melambaikan tangan sebelum ia masuk kedalam gedung yang menjulang tinggi itu. Donghae yang semula memasang senyum kini menghempaskan diri pada sandaran kursi mobilnya dengan wajah yang muram. Ia mengusap kasar wajahnya. Terdiam dengan ratusan rasa bersalah, marah, kecewa yang begitu menyesakkan di dadanya. Dan di saat itu pula ponselnya kembali berdering.

Tangannya dengan harfi'ah mengambil ponsel yang tadi sempat ia letakkan di dasbor. Mukanya kembali muram melihat nama kontak yang menghubunginya. Ia tak mengindahkan panggilan itu seperti yang ia lakukan saat bersama Eunhyuk. Kali ini ia menjawabnya.

"Ne Chagiya. Tunggu sebentar. Aku dalam perjalanan,"

.

.

*Love Between Them*

.

.

Malam hari ini tampak kurang bersahabat dengan penghuni kota. Hawa dingin akibat musim yang sudah memasuki musim gugur, sama sekali tak membantu bagi setiap orang yang masih di luar rumah. Termasuk Siwon. Lelaki tampan itu baru saja meninggalkan kantornya. Tampangnya begitu kusut. Seolah ia sudah menghabiskan ratusan tahun di dalam gedung menjulang itu. Ia memasuki mobil hitamnya dan menghempaskan tubuhnya yang lelah. Ia berusaha tenang dan mulai mengemudikan mobilnya.

Jalanan tampak begitu lenggang. Hanya beberapa mobil yang melewati aspal jalanan kota. Siwon memacu mobilnya perlahan saat ia sampai di lampu merah. Merasa bosan, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Hanya rentetan toko dan restaurant yang sedang melayani beberapa pengunjung. Sebuah pemandangan yang biasa, sebelum maniknya mengenali seseorang disana.

"Tak apa kalau kau pulang sendiri?" Donghae tampak khawatir dengan wanita di depannya.

"Ck, kau pikir aku ini anak kecil, Hae-ah?" wanita itu tampak tersenyum menawan pada Donghae

"-lagi pula aku bisa menjaga diriku. Aku lebih pintar dalam mengemudi di banding dirimu,"

Wanita bernama Sandara itu mencoba menenangkan hati kekasihnya. Kekasih? Ya, ia dan Donghae adalah sepasang kekasih. Sudah sejak lama? Sejak Donghae memutuskan mengakhiri hubungannya dengan Eunhyuk dan pergi dari kota ini beberapa tahun lalu.

"Arraseo. Maaf karena aku tak bisa menjemputmu tadi,"

"Gwenchana. Lagi pula kita tetap bisa makan malam bersama,"

Sandara meraih kemeja Donghae dan merapikan bagian kancingnya. Sebuah gesture saat ia sedang ragu.

"-kau, masih marah?"

Donghae menautkan alisnya. Ia belum menangkap maksud wanita bertubuh mungil di hadapannya. Oh ayolah, pikiran Donghae masih bekerja lebih lambat di banding biasanya. Entah apa yang tengah ia pikirkan.

"Tentang. . Appa,"

Donghae hanya menghela nafas berat. Ia mencoba tersenyum dan meraih dagu wanita di hadapannya. Menatap lurus ke arah manik indah milik wanita itu. Sandara hanya menatapnya bingung.

"Aku sudah melupakannya,"

Dan dengan itu Sandara tersenyum dan memeluk lelaki di hadapannya. Ada rasa hangat yang Donghae rasakan dengan pelukan itu. Ia tenang di dekat wanita itu. Namun ia juga nyaman bila berada disisi Eunhyuk. Tubuh Donghae menegang saat ia mengingat tentang lelaki ber gummy smile itu. Rasa bersalah yang beberapa saat lalu berhasil ia lupakan sejenak, kini kembali menyebar di hatinya.

"Wae geurae?"

"Ani. Gwenchana. Sudah malam, lebih baik kau pulang,"

Donghae mengecup pelan dahi Sandara dan merengkuh tubuhnya lembut. Setelahnya ia membiarkan wanita itu pergi dan masuk kedalam mobilnya. Ia masih menatap mobil putih yang semakin menjauh dari pandangannya sembari melambaikan tangan. Senyum menawannya masih disana, sampai ia merasakan sebuah dorongan yang keras.

Buagghh

Donghae tersungkur ke jalan sembari memegangi pipi kanannya. Ia mendongak ke atas dan menemukan orang yang tiba – tiba menonjoknya. Obsidannya melebar saat mengenali siapa orang tersebut.

Siwon.

Kerah bajunya di tarik kuat hingga ia berdiri sempoyongan. Siwon menatap nyalang lelaki di cengkeramannya.

"Neo michyeosseo?"

Siwon berteriak keras tepat di depan wajahnya. Lelaki itu menghempaskan cengkeramannya hingga membuat Donghae sedikit terhuyung.

"Kau, benar – benar manusia menjijikan,"

Donghae mengelap sisi wajahnya. Sepertinya memar dan berdarah. Ia balas menatap Siwon yang masih menatapnya nyalang.

"Apa yang kau lakukan? Memukul orang secara tiba – tiba, apa kau gila?"

Donghae balik menatap marah ke arah Siwon. Siwon hanya mendecih.

"Kau pikir aku buta? Aku melihat semuanya,"

Ada raut terkejut di wajah Donghae. Namun detik berikutnya ia mulai berseringai. Menatap lelaki bertubuh lebih tinggi darinya itu dengan tatapan meremehkan.

"Lalu, kau mau apa?" Donghae merapikan kemejanya dari debu akibat terjatuh tadi

"-tak ada yang bisa kau lakukan, ,"

Siwon mengepalkan tangannya kuat. Ia menahan emosinya yang serasa mau meledak.

"Dengarkan aku tuan Lee yang terhormat," Siwon meraih kerah kemeja Donghae dan mencengkeramnya kuat

"-aku tak akan segan untuk membunuh mu jika kau sampai menyakiti hati Eunhyuk. Ingat itu,"

Donghae memandang Siwon yang pergi meninggalkannya. Ia memegang bekas tonjokan Siwon di wajahnya. Ia marah. Matanya memerah menahan gemuruh di hatinya. Tatapannya meneduh kala ingat seseorang yang dimaksud Siwon. Ia merasa seperti seorang bajingan sekarang. Jelas ia masih bersama Sandara. Tapi ia nekat menerima Eunhyuk kembali kepelukannya. Ia memang seorang bajingan.

'Mianhe. Jeongmal mianhe, Hyukkie,'

.

.

.

Siwon kalut. Hatinya berpacu tak terkendali. Amarahnya masih sangat kontras mewarnai wajah tampannya. Mobil mewahnya sudah memasuki pelataran parkir gedung apartmentnya. Memarkirkan mobilnya dengan cepat dan memukul kemudi dengan sepenuh amarahnya.

"Dasar bajingan keparat,"

Teriakan nya menggema di dalam mobil. Ia marah. Sangat marah. Bagaimana ia tak marah, bayangkan jika kau harus merelakan orang yang kau cintai dalam pelukan lelaki lain. Namun justru lelaki itu mengkhianati orang yang kau cintai. Cukup rumit? Tentu saja. Kepala Siwon hampir pecah saat merasakannya. Tubuh tegap itu bersandar kasar pada jok mobilnya. Menghela nafas panjang, Siwon mengusap wajahnya kasar. Ia lelah. Lelah dengan semua hal yang seakan mempermainkan hidupnya. Tapi apa yang bisa ia lakukan?

Ia terlalu mencintai Eunhyuk. Ia hanya tak sanggup melihat lelaki yang ia cintai tak bahagia. Ia ingin Eunhyuk bahagia. Itulah mengapa ia rela membiarkan Eunhyuk bersama Donghae. Bukan malah seperti ini.

Siwon berjalan dengan jutaan hal membekap pikirannya. Hingga ia tak menyadari telah berada di depan pintu apartmentnya. Dengan malas menekan beberapa password untuk membuka pintu.

Piipp

Pintu terbuka dan ia masuk kedalam ruangan yang masih terang benderang. Ia sempat menggerinyit. Tak biasanya ruangan terang seperti ini. Biasanya Eunhyuk akan mematikan semuanya dan tidur di kamar. Ia melangkah ke arah ruang tamu. Pandangannya meneduh melihat sosok yang terlihat begitu rapuh tengah meringkuk di sofa panjang di ruangan itu.

'Apa ia menunggu ku?'

Ada setitik harap yang Siwon lukis saat itu. Namun semuanya kandas saat obsidannya menemukan sesuatu yang tengah di pelukan Eunhyuk. Tak ada yang menarik. Hanya selembar kertas berisi potret dua orang lelaki yang saling merengkuh dan tersenyum bahagia. Siwon kenal dua orang itu. Eunhyuk dan Donghae.

Pelan. Begitu pelan. Siwon duduk di sisi sofa yang kosong. Mengulurkan tangan dan menyentuh lembut sisi wajah lelaki yang tampak begitu manis di matanya. Matanya mulai memerah, menahan gejolak hatinya yang kembali menerpa. Siwon tahu ia telah kalah. Ia hanya berharap secuil tempat di hati Eunhyuk. Ia tak pernah menginginkan lebih. Tapi hari ini, ia merasa benar – benar kalah.

"Tak bisakah, kau mencintaiku Hyukkie?" bisikan Siwon hanya terambang di udara.

"-sedikit saja. Aku tak berharap lebih,"

Siwon tertunduk. Ia tak pernah merasa sesakit ini. Eunhyuk mungkin sering mengacuhkannya. Tapi ia tak pernah memasukkan itu ke dalam hati. Entah mengapa ia begitu sakit. Mungkin ia sudah lelah. Lelah dengan hubungannya?

"Aku hanya terlalu mencintaimu, Hyuk,"

Siwon maju, mendekatkan wajahnya perlahan. Menempelkan pelan belah bibirnya di bibir Eunhyuk. Itu hanya sebuah kecupan ringan. Tapi sudah cukup membuat hati Siwon tenang. Ia menyudahi sentuhan ringan itu. Mencoba tersenyum pada sosok yang tengah memejam mata itu sembari membelai lembut surai halus Eunhyuk.

"-akan ku lakukan apapun demi kebahagianmu, Hyukkie,"

Siwon masih menatap teduh sosok manis yang bernafas teratur di depannya. Senyum itu terasa begitu buruk untuk wajah tampannya. Senyum Siwon tak pernah seburuk itu. Sebulir air mengalir di pipinya. Pertahanannya runtuh. Ia mengaku kalah.

'-bahkan jika harus melepaskanmu kini, aku rela,'

.

To be continue. . .

.

Hello reader-san,

Lama menunggu? Bukankah sudah terbiasa? #dibakar

Ini adalah chapter kedua dari project sy dan NoonaRyeo. Kami berdua sama – sama sibuk dengan kegiatan kami. Jadi mohon untuk di maklumi.

Oke sy akan jawab beberapa pertanyaan yang sering reader tanyakan di kolom review ataupun PM langsung ke akun sy.

.

Ini HaeHyuk story kan?

Seperti yang di judul, yang di sebutin lebih dulu kan WonHyuk. Jadi ini WonHyuk story. #Plok

.

Masa lalu HaeHyuk itu bagaimana?

Karena ini WonHyuk story, jadi sy dan NoonaRyeo sepakat untuk tak begitu detail tentang HaeHyuk. #Bow

.

Sandara itu siapa? Pacar Donghae?

Di chapter ini sudah terjawab bukan? ;)

.

Ini bakal berchapter banyak kah?

Tentu berchapter. Tapi kalau masalah banyak atau tidak. Kami tidak janji. :)

.

Ini yang part Mey mana, yang part NoonaRyeo mana?

Kalo ini Mey tak perlu jelasin. Yang jelas kalo kalian pernah baca karya kami, pasti tahu di bagian mana part Mey dan mana part NoonaRyeo ^^

.

So, sy rasa itu adalah sebagian besar pertanyaan yang reader tanyakan. Dan sudah kami jawab.

Kami berusaha update secepat yang kami bisa. Project ini milik kami berdua. Jadi kami saling mengisi satu ide dengan ide yang lain. Mohon tidak bingung dengan alur cerita. Karena itu, mohob pelan - pelan bacanya.

Bila ada yang kurang berkenan, mohon kritikan dan sarannya. ^^

Oke selebihnya sy minta maap bila terdapat typo yg mengganggu dan perkataan yg tidak berkenan.

Ingat, ini hanya cerita. Dan author/penulis mana pun punya hak untuk memakai pairing ataupun plot seperti apapun bukan? #alasan

Sekian dari sy, sampai bertemu di chapter selanjutnya.

Salam,

Meyla Rahma & NoonaRyeo.

March 19, 2015