yaaaaay! saia kembali minna... hontou ni gomen, gegara WB, saia jadi baru bisa update sekarang...
Makasiih buat Yuuki Hiruma, Hiruma Hana, Pinkyukka, Anisa Phantomhive, Aika Licht Youichi, , LalaNur Aprilia, Watados, Karin-Choshi, Firiyahab, Hyou hyouichiffer, Hiruma Yuuzu, dan Luchia Hiruma yang udah review chapter 2, udah saia bales lewat PM. Dan buat yang ga log in…
Reiza Cloudley: buuukaaan…. Tentu saja bukan… Sora mana mungkin naksir adik sialannya ahahaha…. Tapi mereka memang romantis ya… anak-anak jaman sekarang,,ckckck#abaikan yosh! Ini chap tiganya ya… XDD
Guest: Eeh..? senyum-senyum sendiri kok 'evil smirk'?#plak hohohoho… ini sudah update, tapi maaf ga bisa pake kilat ya..semalat menikmati XDD
Febby: hee? Sisi lain Hiruma? *ikut bayangin* nyahaha… makasiih banyak ya^^
Chayesung: nyahaha… I love Sora too…. Dia itu benr-benar adik idaman*peluk Sora* doakan saja semoga author satu ini sembuh dari sakit jiwanya dan melanjutkan novel yang pakai Sora sebagai tokoh utamanya~#promosi
Opimsky: nyaaaa…. Makasih banyak…ehehehe… ini sudah update, XD
Makasih banyak semuanya... dan, selamat menikmati...
Dislaimer: Riichiro Inagaki & Yusuke Murata
Pair: Youichi Hiruma x Anezaki Mamori
Sena Kobayakawa x Suzuna Taki
Genre: family, humor
Rate: T
Warning:Sequel of Wakareru?, OOC, OC, typo, gabungan dari fic Wakareru? dan Akuma Island*lagi*, judul sama cerita ga nyambung, gaje, abal, jelek, gagal, dan segala keburukan lainnya…
Happy Reading..
LIBURAN KE NERAKA
.
.
.
Chapter 3
A Sugoi Yacht
"Selamat datang!"
Seluruh awak kapal dan pelayan membungkuk hormat menyambut kedatangan keluarga Hiruma dan Kobayakawa di pelabuhan pribadi milik Youichi. Sebuah kapal pesiar putih yang begitu megah sudah merapat di dermaga.
"Selamat sore, minna…." Mamori selaku nyonya besar langsung menyapa para pekerjanya sambil tersenyum manis.
"Coye…." Yuya mengikuti ucapan sang ibu dengan ceria.
Semua pekerja langsung membungkuk serempak sekali lagi sambil menjawab sapaan Mamori.
"Su-goi." Sena, Suzuna, serta anak-anak bergumam takjub melihat pemandangan di depan mereka.
"Kau!" Youichi menunjuk seorang pria berumur sekitar 40 tahun. "Masukkan mobil sialan dalam garasi!" perintahnya sembari melemparkan kunci mobil. "Dan kalian!" ia lalu menunjuk tiga pria dan dua wanita. "Bawa barang-barang sialan ke kamar! Antar juga orang-orang sialan itu masuk!"
"Haik, Hiruma-sama!" orang-orang yang ditunjuk Youichi membungkuk lalu bergegas menjalankan perintah tuan mereka.
Mamori membungkuk sambil meminta maaf pada para pekerja atas tingkah laku suaminya yang tidak sopan. Sementara Youichi sudah masuk lebih dulu meninggalkan yang lain. Wanita muda itu hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Youichi. "Ayo, kita juga masuk." Katanya pada yang lain.
"Mari… saya antar." Seorang wanita yang paling tua diantara yang lain menawarkan.
Mamori tersenyum menyambut tawaran itu. Meski sebenarnya ia sangat hafal dengan kapal ini. Kapal putih ini begitu luar biasa. Besar dan megah. Mereka memasuki lorong dengan karpet merah untuk menuju kamar. Design interiornya tampak berkelas, dengan lampu-lampu kristal tergantung di atas mereka. Di dindingnya yang ditutup wallpaper berwarna merah-emas, terpajang foto-foto besar pernikahaan Youichi dan Mamori.
"Kenapa di sini banyak foto pernikahan kalian, Mamo-nee?" tanya Suzuna sambil memandangi foto-foto itu.
Mamori tersenyum kecil. "Tidak apa-apa, hanya suka."
"Ngomong-ngomong, Hiruma-san kemana?" tanya Sena yang menyadari setan satu itu sudah menghilang sejak masuk kapal.
"Paling dia langsung ke anjungan." Jawab Mamori seadanya.
"Nah, tuan dan nona muda, ini kamar kalian." Wanita yang mengantar mereka menunjukan dua kamar yang bersebelahan. Kamar itu luas, dengan dinding berwarna putih yang elegan. Sebuah tempat tidur quen size berada di tengah ruangan, tampak begitu empuk dan menyenangkan. "Di sampingnya, kamar untuk tuan muda Yutaro." Wanita itu membuka satu lagi pintu yang isinya hampir sama dengan dua kamar sebelumnya.
"A-aku dipanggil tuan muda?" Yutaro menunjuk dirinya dengan ekspresi takjub.
"Yaa… kau harusnya senang, Yuta-chi!" Suzuna mencubit pipi putranya gemas.
"Oow… sugoi! Kamar ini jauh lebih besar dari kamar di rumah! Sugoi!" Sora langsung naik dan loncat-loncat di tempat tidur saking senangnya.
"Waa…sepertinya menyenangkan!" seru Izumi. Ia menggandeng Yutaro dan mengikuti apa yang dilakukan Sora.
"Hey… anak-anak, jangan begitu! Nanti ayah kalian marah!" tegur Mamori yang sepertinya tidak didengarkan tiga bocah itu.
"Ya ampun… mereka norak sekali." Gumam Suzuna dengan suara yang sangat pelan.
"Accuu…." Yuya menggeliat dalam gendongan Mamori. Sepertinya dia ingin ikut lompat-lompat di tempat tidur seperti kakaknya.
"Tidak boleh, Yuya tidak boleh ikut." Ujar Mamori yang berusaha menenangkan Yuya yang sudah siap melompat dari gendongannya. "Anak-anak, hentikan!" teriak Mamori yang akhirnya berhasil menghentikan tingkah anak-anak itu.
"Gomenasai." Ucap ketiganya kompak.
"Hahaha… sudah, lebih baik kalian istirahat ya." Wanita yang merupakan kepala pelayan itu berusaha menghibur Sora, Izumi, dan Yutaro yang masih memasang wajah sebal.
"Baa-san, jangan terlalu memanjakan mereka." Kata Mamori tegas.
"Mereka 'kan jarang di sini, Nyonya. Hahaha…."
"Mou… sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil Nyonya." Mamori menggelembungkan pipinya tanda sebal.
"Hahahaha… Nyonya masih sama seperti dulu ya." Kepala pelayan itu malah tertawa melihat tingkah Mamori. Ia sudah sangat terbiasa melihat Mamori yang seperti itu. Mamori memang senang bermanja dengannya yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri. "Tuan dan Nyonya Kobayakawa, kamar anda berdua di sebelah sini." Wanita itu berjalan beberapa langkah lalu membuka sebuah pintu.
Kamar yang lebih besar dari milik anak-anak, interiornya mewah, dengan lampu Kristal yang menyala temaram di atas ranjang king size bersprei merah, senada dengan wallpaper yang melapisi dinding kamar, jendela kecil menampilkan lautan luas yang indah.
Sena dan Suzuna bahkan kehabisan kata melihat kamar yang akan mereka tempati malam ini. "Lalu, dimana kamar Mamo-nee?" Suzuna bertanya.
"Kamarku di sini." Mamori membuka pintu di sebelahnya lebar-lebar, agar yang lain melihat apa yang ada di dalam. Sebuah kamar yang tidak berbeda jauh dengan kamar Suzuna dan Sena, hanya saja, di dinding yang langsung berhadapan dengan pintu, terdapat sebuah foto pernikahan Youichi dan Mamori. Dalam foto itu, tampak Youichi tengah memakaikan cincin di jari Mamori.
Mamori melangkah masuk ke kamar dan melepaskan gendongan Yuya. Ia meletakan putranya di tempat tidur. Mata kecil Yuya tampak menjelajahi seisi ruangan, sementara mulutnya sibuk mengemut kepalan tangan kirinya.
"Sayang, ibu bilang 'kan jangan memakan tanganmu sendiri," dengan lembut Mamori menarik tangan Yuya, tapi tentu saja bayi mungil itu melakukan lagi kegiatannya. Sepertinya dia sangat menikmati rasa tangannya sendiri.
"Waah… ada foto keluarga juga!" Suzuna tampak berbinar melihat foto keluarga Hiruma yang terpajang di sisi dinding yang lain. Dalam foto itu, Youichi menyeringai sambil memangku Izumi, tangan kanan merangkul Sora yang duduk di lengan sofa, sementara Mamori duduk di sebelahnya sambil menggendong Yuya.
"Waah… Sora-kun! Kau kelihatan jelek ya di situ!" celetuk Yutaro.
"Apa maksudmu?! Dasar cebol!" sentak Sora yang langsung dapat deathglare dari Mamori. "Aku mau ke haluan, lihat jangkar yang dinaikkan." Sora memutar langkah dengan cuek menuju haluan.
"Aku ikut!" seru Izumi yang langsung mengejar saudara kembarnya.
Yutaro yang melihat mereka pergi segera menyusul. Mereka berjalan beriringan sambil melihat semua yang mereka lewati. Ketiganya berdecak kagum dengan kapal super mewah ini. Mulut mereka tidak bisa berhenti menggumamkan kata "wow" tiap melihat hal yang bagi mereka menakjubkan. Seperti patung dua anak kecil yang terbuat dari kaca di aula besar. Patung itu menggambarkan anak laki-laki dan perempuan, yang sudah pasti adalah Sora dan Izumi.
"Ayah sialan itu dapat uang dari mana bisa punya yang seperti ini?" gumam Sora sambil memperhatikan patung dirinya.
"Ini indah, dan artistic." Izumi berkomentar.
"Dan kalian tetap terlihat bagus di patung ini." Yutaro menyentuh kaki patung anak perempuan dengan lembut. "Keren."
Saat mereka melanjutkan perjalanan ke haluan, mereka kembali terbelalak melihat betapa besar tempat itu. Mereka bahkan bisa bermain amefuto di sini, dan lautan luas sudah memanjakan mata mereka.
Sora berlari ke pagar pembatas dan melihat ke bawah, dimana jangkar tengah naik dengan otomatis. "Sebentar lagi kita berangkat." Ia berkata pada dirinya sendiri dengan nada riang.
"Ayah? Ayah sedang apa di atas? Ayo turun!" Izumi mendongak melihat ayahnya sedang menatapnya dari anjungan.
Youichi menyeringai menanggapi panggilan putrinya. Ia naik ke pagar pembatas lalu melompat menuju tempat anak-anaknya berada.
Tentu saja Izumi memekik kaget melihat tingkah laku ayahnya. Ia cemberut dan langsung memukul pelan dada sang ayah saat pria itu mendarat. "Ayah, kenapa melompat begitu?! Ayah membuatku takut!" protesnya.
"Kekekeke… apa yang kau takutkan, bocah sialan? Aku sudah biasa lompat dari tempat tinggi seperti ini." Youichi menggendong Izumi yang masih cemberut.
"Bagaimana paman melakukannya? Keseimbangan paman bagus sekali!" puji Yutaro.
Youichi meliriknya sebentar lalu menyeringai. "Minta ajari sama ayah sialanmu kalau kau ingin bisa!" ujarnya sebelum melangkah mendekati Sora. "Kau lihat apa, bocah sialan?"
"Jangkar," Sora menunjuk jangkar yang sudah berhasil naik sepenuhnya.
Suara keras mulai terdengar, menandakan kapal ini akan segera memulai perjalanan. Perlahan kapal itu bergerak menjauhi dermaga.
Izumi merangkul leher ayahnya saat suara keras kembali terdengar, sepertinya dia sedikit takut dengan suara itu. "Hm… ayah wangi…." Ucapnya sambil menghirup aroma sang ayah tepat di lehernya.
Setan itu melirik putrinya sekilas. "Tentu saja." Jawabnya.
"Wah, kalian berkumpul di sini rupanya." Suara ceria yang khas milik Suzuna berhasil membuat empat orang itu menoleh. Suzuna berjalan mendekat bersama Sena dan Mamori yang menggendong Yuya. "Ah! Laut…." Ia menghirup udara banyak-banyak.
"Ayaa… ayayayayahh…." Yuya mendadak terlihat marah melihat ayah kesayangannya menggendong Izumi. Bayi mungil itu berontak dalam gendongan Mamori.
"Kenapa sayang?" tanya Mamori bingung. Manik biru sapphirenya melirik menatap Yuya penuh sayang.
"Ayayaya…hiks." Bayi kecil itu malah terisak pelan menanggapi pertanyaan sang ibu, air matanya sudah keluar sedikit.
Izumi tersenyum geli melihat ekspresi adiknya yang seperti tidak terima Youichi menggendongnya. "Yaah, ini ayah neechan!" ia menggoda sang adik sambil mengeratkan pelukan di leher Youichi.
"Hiks… hiks… yaahh… huuuwwwaaa…." Yuya menjerit sambil tetap berontak dari gendongan Mamori.
"Eh? Yuya, neechan tidak boleh digendong ayah?" tanya Mamori sambil membenarkan gendongan putranya.
Youichi mendengus sebal melihat putra bungsunya. "Ck! Berikan bocah berisik itu padaku!" ia mengulurkan tangan kanannya, sementara tangan kiri masih menggendong Izumi.
"Jangan menggendongnya dengan satu tangan, You. Yuya-kun masih kecil." Kata Mamori yang masih berusaha menenangkan Yuya, tapi sepertinya sama sekali tidak berhasil.
"Turun kau, adik sialan! Kau membuat adik sialanku menangis!" perintah Sora.
"Mou! Perbaiki cara bicaramu itu, Sora-kun!" protes Izumi sambil merosot turun dari gendongan Youichi. Ayahnya itu langsung mengambil alih Yuya dari gendongan Mamori.
"Yuya-kun ini cemburuan ya," Sena mengelus lembut rambut Yuya yang masih menangis keras dalam gendongan Youichi.
"Seperti ibu sialannya!" sambung Youichi.
"Mou… kenapa aku?" Mamori menggelembungkan pipinya, sementara Youichi tidak peduli. Pria itu sibuk menenangkan tangisan putranya.
"Ayo berhenti, anak jelek. Kau 'kan sudah aku gendong." Youichi menggendongnya miring, agar bisa melihat Yuya yang masih sesenggukan. Youichi duduk di bangku santai sambil mengelus lengan putranya.
Mamori tersenyum kecil melihat suaminya, ia selalu bahagia tiap kali Youichi bersama anak-anak, karena saat itulah sang suami melepaskan topeng setan yang selalu ia pakai. "Sepertinya dia ngantuk, aku ambilkan dia susu dulu," wanita itu setengah berlari menuju dapur.
"Hiks…hiks…."
"Sudah, kau ini cengeng sekali. Hiruma itu tidak boleh cengeng," Youichi menghapus air mata bayi kecil itu dengan gerakan pelan.
"Yu-chan, sayang sekali sama ayah ya," Suzuna tersenyum menatap Yuya dalam gendongan Youichi.
"Ihiks…." Jawab Yuya yang tentu saja membuat Suzuna juga Youichi tersenyum geli.
"Sudah, sudah," Suzuna mengelus puncak kepala Yuya penuh sayang.
"Maaf ya, sayang." Izumi ikut-ikutan mendekat. Ia merasa bersalah juga pada adiknya.
"Biarkan saja dia. Jangan mengerubunginya, nanti dia kepanasan dan tambah menangis." Youichi mengibaskan tangan kirinya untuk mengusir Suzuna dan Izumi, membuat dua perempuan itu manyun dan segera menyingkir.
"Kenapa paman You kelihatan tidak peduli sama Izumi-chan?" Yutaro bertanya pada sang ayah disebelahnya.
Sena tersenyum kecil mendengar pertanyaan putranya. "Bukannya tidak peduli, Yutaro-kun. Hanya saja, Yuya sedang membutuhkan ayahnya. Jadi paman You lebih mementingkan Yuya."
Keduanya duduk bersebelahan di bangku santai dekat Youichi, mereka sesekali melirik kearah setan yang tengah berusaha menidurkan putranya. Dan tentu saja setan itu membalasnya dengan sinis tiap menangkap pandangan dari dua orang itu.
"Itu namanya tidak peduli 'kan?" Yutaro masih belum puas dengan jawaban sang ayah tadi.
"Bukan, tapi karena bayi belum bisa melakukan semua hal sendiri, tentu saja orang tua akan membantunya. Berbeda dengan kalian yang sudah anak-anak, kalau kalian mau sesuatu, kalian bisa melakukannya sendiri. Tapi waktu kalian kecil juga, orang tua selalu membantu." Sena berharap jawabannya bisa dimengerti Yutaro yang sebentar lagi akan jadi kakak. Karena bocah kecil itu juga akan mengalami perbedaan perhatian darinya dan Suzuna.
"Ayah dan ibu juga akan seperti itu kalau adik lahir?" tanya Yutaro dengan wajah sedih.
"Tentu saja, cebol sialan… Lalu kau tidak akan dipedulikan lagi! Kekekeke…." Sora yang entah sejak kapan duduk di samping Sena ikut nimbrung.
"Tidak seperti itu," Sena mengacak rambut gelap Sora dengan gemas. "Ayah dan ibu itu sangat peduli dengan kalian."
"Paman sok tahu!"
Sena menaikan sebelah alisnya sambil tersenyum mendengar jawaban Sora. "Jadi kau merasa tidak dipedulikan?"
Sora hanya menggedikan bahu. "Paman tidak asik, aku 'kan mau mengerjai dia!" pria kecil menunjuk Yutaro dengan gadunya.
"Dasar setan nyebelin!" cibir Yutaro dengan suara pelan, agar sang ayah tidak mendengar kata-katanya.
Sayangnya, Sora ini punya pendengar seperti Youichi. Jadi, pria itu tetap mendengar kata-kata Yutaro barusan. Tapi ia hanya mendengus sebal menanggapinya, ia mengalihkan pandangannya pada Youichi dan Mamori yang baru saja kembali dengan satu botol kecil berisi susu, mereka tampak tengah berusaha menidurkan Yuya. Pria kecil tersenyum kecil melihat ayah dan ibunya seperti itu. "Akhir-akhir ini mereka jarang bertengkar," ia bergumam dengan sangat pelan.
"Aku dengar lho… Sora-kun," bisik Izumi tepat di telinga Sora.
Pria itu melirik Izumi yang entah sejak kapan ada di sampingnya dengan pandangan galak. "Dasar!"
Adiknya itu memamerkan senyum manis pada Sora, tidak peduli pada pandangan sinis dan kata-katanya yang kasar. Gadis kecil itu merasa bahagia mendengar pernyataan Sora.
"Minna, ayo masuk, makan malam sudah siap."
Sora dan Izumi menoleh kompak kearah sang ibu. Sena, Suzuna, dan Yutaro juga menoleh kearah Mamori lalu mengikuti wanita itu masuk menuju ruang makan.
"Aku mau bantu Youichi menidurkan Yuya dulu, kalian duluan ya." kata Mamori saat mereka tiba di depan ruang makan.
"Tapi, Mamo-nee dan You-nii ikut makan bersama 'kan?" tanya Suzuna.
Mamori mengangguk dan langsung menggandeng Youichi ke kamar.
"Haah… mereka itu makin mesra saja ya," Sena tersenyum sambil memandangi langkah kakaknya. Pikirannya melayang ke masa-masa dimana dua orang itu selalu bertengkar, meributkan hal sepele, pemandangan yang sekarang ia lihat rasanya seperti sebuah keajaiban.
"Sena, kau sedang apa? Ayo masuk!"
"Eh?" Sena terbangun dari lamunannya dan segera menyusul istrinya serta anak-anak yang sudah duduk manis di meja makan. Pria itu menempatkan diri di sebelah Yutaro, berhadapan dengan Suzuna, sementara di samping wanita itu ada Izumi yang berhadapan dengan Sora.
"Kita langsung makan? Tidak menunggu ayah dan ibu?" tanya Izumi sebelum mulai makan.
"Ayah dan ibumu itu pasti lama. Fufufufu…." Suzuna malah tertawa mencurigakan menjawab pertanyaan Izumi. Dan tentu saja, Izumi mengernyitkan dahiya karena bingung dengan maksud Suzuna.
"Jangan meracuni adik sialanku dengan hal-hal sialan seperti itu!" protes Sora yang mengerti kemana arah pembicaraan Suzuna.
Sena menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya, sementara Izumi dan Yutaro memandangi yang lain dengan tatapan bingung.
"Kalian membicarakan apa?" tanya Yutaro polos.
"Tidak perlu tahu!" jawab Sora dan Sena kompak.
Sementara Suzuna cuma nyengir menerima protes dari Sena dan Sora. Mereka akhirnya mulai makan sambil menunggu Mamori dan Youichi. Pasangan setan-malaikat itu baru datang saat acara makan malam sudah hampir selesai. Mereka langsung bergabung dan mulai makan tanpa banyak bicara. Yang terdengar cuma Mamori yang menawarkan beberapa makanan pada Youichi, tapi hanya dijawab dengan gumaman tidak jelas.
"Hey, tugas musim panas bagaimana?" Yutaro membuka obrolan dengan dua temannya sambil mengelap bibirnya yang belepotan saus dengan tissue.
"Aku belum mengerjakannya sama sekali. Aku butuh bantuan ayah dan ibu," jawab Izumi sambil melirik dua orang tuanya.
"Aku sudah sebagian," Sora melahap satu sendok terakhir makanan di piringnya. "Itu tugas yang sangat gampang."
"Memangnya kalian dapat tugas apa?" tanya Mamori.
"Kami disuruh menulis tentang orang yang kami idolakan." Jawab Izumi.
"Tugas sialan macam apa itu?!"
Mamori melotot kearah sang suami menanggapi protes tidak pentingnya. "Lalu kalian menulis tentang siapa?"
"Tentang Eyeshield 21," jawab Yutaro bangga.
"HHIIIEEE….!"
"Yaaay! Ibu akan membantumu, Yuta-chi…." Suzuna mencubit pipi putra kesayangannya dengan gemas mendengar jawaban itu. "Ibu ini paling tahu kalau soal Eyeshield!" lanjutnya tanpa memperdulikan Sena yang sudah jadi batu.
"Kalau kalian berdua?" tanya Mamori lagi.
"Aku menulis tentang ayah dan ibu…." Jawab Izumi sambil mengambil satu potong cream puff.
"Tentang kakek Yuuya," jawab Sora kalem, matanya yang persis Mamori melirik sang ayah. Ia tahu, ibunya itu juga melihat kearah Youichi dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Diam-diam, setan kecil itu tersenyum melihat wajah tanpa ekspresi sang ayah. "Kau mau membantuku?" tanyanya pada Youichi.
"Tidak." Jawab Youichi pasti lalu meninggalkan ruangan sebelum menghabiskan makanannya.
Suasana jadi hening mendadak. Semuanya menatap Mamori seolah meminta penjelasan. Wanita itu tersenyum tipis sebelum akhirnya bangkit dari tempatnya untuk menyusul sang suami.
Mamori berjalan menuju lorong-lorong yang dipenuhi gambar dirinya dan Youichi. Ia tersenyum kecil sambil terus menyusuri kapal. Dan Mamori menemukan suaminya tengah duduk diam menghadap laut. Lagi-lagi Mamori tersenyum, diam-diam ia mendekati Youichi kemudian melingkarkan tangannya di leher sang suami. Mamori mendekatkan wajahnya, menghirup wangi maskulin yang ia sukai.
"Kau marah pada Sora-kun?" tanya Mamori langsung.
"Tidak," jawab Youichi santai.
"Hm… Lalu?"
"Aku hanya malas, kalau aku di sana, pasti pembicaraannya akan lebih menyebalkan."
Mamori mengeratkan pelukannya. "Kau tahu, sesekali kau boleh bercerita padaku."
"Aku tidak butuh! Bercerita tidak merubah apapun!"
"Menceritakan apa yang rasakan bisa membantu sedikit mengurangi bebanmu."
"Tapi tidak merubah keadaan, itu tidak ada gunanya!"
Wanita cantik itu mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Youichi. Tidak mungkin dia menangapi lagi. Bisa-bisa berakhir dengan pertengkaran. "Ayo masuk, You…."
Youichi menarik kepala Mamori agar lebih dekat dengannya lalu memberikan ciuman singkat di bibir wanita muda itu.
"Dasar!" Mamori memukul pelan lengan suaminya sebelum kembali masuk. Ia tersenyum geli melihat tingkah suaminya yang seperti itu.
Youichi sendiri hanya menyeringai lalu menyusul langkah Mamori. Mereka melangkah ke menuju ruangan utama, dimana semuanya sedang berkumpul.
"Maaf," ungkap Sora saat melihat ayahnya kembali.
"Lupakan saja!" jawab Youichi sambil duduk di samping Sena.
"Aku pikir kau tadi marah, Hiruma-san…." Ungkapnya.
"Kau pikir aku anak kecil!"
"Kau memang seperti anak kecil!" sambung Mamori yang duduk di dekat Izumi.
Youichi hanya mendengus lalu meraih majalah bulanan American Football di meja. Sedetik kemudian pria itu sudah sibuk dengan obrolan tentang amefuto bersama Sena.
"Ngomong-ngomong, kapal ini benar-benar punya You-nii?" tanya Suzuna yang mengganggu obrolan Youichi dan suaminya.
"Kapan aku bilang kapal sialan ini milikku?" Youichi bertanya balik sambil menatap Suzuna.
"Bukan punya Hiruma-san, lalu punya siapa?"
Youichi menunjuk Mamori sebagai jawaban dari pertanyaan Sena.
"HEEE?"
"Hadiah kok," Mamori tersenyum kikuk.
"Siapa orang yang memberikan hadiah seperti ini pada ibu?" tanya Sora.
"Ayahmu,"
"HEEE?"
"Itu sih sama saja," komentar Suzuna.
"Tentu saja beda, ini punya istri sialan, bukan punyaku!"
"Tapi You-nii yang memberikannya!"
"Terserah kau saja!" Youichi mengakhiri debat tidak pentingnya dengan Suzuna lalu kembali membicarakan amefuto dengan Sena. Mereka tampak sibuk dengan jadwal pertandingan, kelemahan dan kelebihan beberapa tim, dan strategi yang bisa digunakan.
"Ibu, aku ngantuk…." Ucap Izumi yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan ayahnya dengan Sena.
Mamori yang tengah asik bergosip dengan Suzuna langsung menoleh. "Hm? Kau mau tidur?"
Malaikat kecil itu mengangguk lemah sembari menyandarkan tubuhnya pada sang ibu.
"Ayo, ibu antar ke kamarmu," tawar Mamori.
"Tidak usah, aku sendiri saja. Oyasumi, ibu," Izumi mengecup pipi sang ibu lalu turun dari kursi. "Oyasumi, tante Suzu, dan adik kecil…" ia mencium pipi Suzuna sambil mengelus perut tantenya yang mulai buncit itu.
"Oyasumi, sayang…." Mamori dan Suzuna menjawab kompak.
"Ayah?"
"Hm?" Youichi menoleh kearah putri sematawayangnya dengan malas.
Segera saja gadis kecil itu mendaratkan ciuman di pipi sang ayah. "Oyasumi… ayah tampan…."
"Hm," jawab Youichi seadanya.
"Oyasumi, paman Sena,"
"Oyasumi, cantik," Sena tersenyum kecil sambil membelai rambut auburn Izumi.
"Oyasumi, Sora-kun, Yutaro-kun," Izumi berucap sebelum benar-benar beranjak ke kamar.
"Waah… kenapa kami tidak mendapat ciuman selamat malam juga?" goda Yutaro.
"Jangan harap!" tentang Izumi
"Kau nggak akan pergi tidur kalau terus mengucapkan kalimat sialan tidak penting itu." Kata Youichi yang seolah mengusir putrinya.
"Huuh… iya, iya, aku tidur kok!" Izumi cemberut lalu melangkah menuju kamarnya. Kaki kecil itu menyusuri lantai beralaskan karpet merah mewah dengan santai, matanya yang hijau cerah seperti milik sang ayah memperhatikan sekeliling, lalu terfokus pada satu foto. Kakinya berhenti melangkah, rasa kantuk yang menyerangnya mendadak hilang saat memandangi foto itu. Bibirnya yang mungil menyunggingkan sebuah senyum yang sangat manis.
Tangannya terulur menyentuh foto itu. Foto ayah dan ibunya yang tengah khusuk berdoa dihari pernikahan mereka. Dalam foto itu, mereka berdua menunduk dan memejamkan mata, Mamori tampak tersenyum kecil sementara Youichi tidak berekspresi seperti biasa. Izumi tersenyum melihat cincin yang melingkar di jari manis tangan kanan orang tuanya. Meski Youichi dan Mamori dalam foto itu masih memakai sarung tangan. Cincin yang sampai sekarang masih berada di jari orang tuanya itu tampak berkilau diantara jari-jari yang saling bertaut, memanjatkan doa.
"Nona muda, belum tidur?"
Izumi tersentak dan segera memutar tubuhnya saat mendengar suara itu. Matanya menatap galak seorang pria dibelakangnya.
"Maaf mengagetkan," pria itu membungkuk sopan pada Izumi.
"Aku kira ada penculik," ujar Izumi dengan polosnya.
"Maaf, nona." Si pria masih membungkuk sopan.
"Iya, tidak apa-apa… Ne, paman… aku mau foto ini." Izumi menunjuk foto yang sejak tadi mencuri perhatiannya.
"Ini?"
"Bagaimanapun caranya, aku mau punya foto ini, paman bisa kan?" Izumi tersenyum malaikat dengan aura gelap dibelakangnya.
"Te-tentu saja, nona muda."
"Yaaay… ayo, sekarang, paman." Gadis cilik itu bersorak tidak sabaran.
"I-iya, baiklah." Pria itu menggandeng Izumi menuju sebuah ruangan yang seperti ruang kerja. "Tapi, nona harus janji kalau tidak ada akan tahu tentang foto itu ya…"
"Ayah pasti mengancam yang aneh-aneh." Izumi merengut mengingat kebiasaan ayahnya yang satu itu. Ia lalu memperhatikan paman pekerja kapal yang sedang sibuk dengan komputer.
Tidak membutuhkan waktu lama, foto yang Izumi inginkan muncul dari mesin print dengan ukuran lebih kecil. Gadis itu memekik kegirangan melihatnya. Ia berkali-kali mengucapkan terima kasih pada paman baik hati itu sebelum kembali ke kamar.
"Izumi-chan belum tidur?"
"Eh?" Izumi menoleh menatap wanita cantik yang bertanya padanya sembari memasukan foto yang ia dapat ke dalam saku belakang celana yang ia pakai. "Ibu?"
Mamori tersenyum dan langsung menggendong putrinya. "Tadi ibu ke kamarmu, ternyata kau tidak ada. Darimana?" ia bertanya sambil berjalan menuju kamar Izumi.
"Aku habis melihat semua foto itu…" Izumi menunjuk beberapa foto yang mereka lihat. " Ayah dan ibu itu romantis sekali, tapi kenapa sering bertengkar?"
"Haa? Ibu juga tidak tahu kenapa, tapi, kalau tidak bertengkar dengannya itu… hidup seperti membosankan, ahaha…."
"Ibu aneh!" protes Izumi.
Mamori hanya tersenyum lalu menidurkan putrinya di tempat tidur. "Ibu sangat, sangat mencintai ayahmu… kami tidak akan pernah berpisah seperti yang kau takutkan."
"Janji ya?"
"Tentu saja, ibu pernah berjanji juga 'kan dulu. Sekarang, cepat tidur." Mamori mengecup kening Izumi lalu menyelimuti putrinya.
"Oyasumi, ibu…." ucap Izumi sebelum Mamori beranjak meninggalkannya.
"Mimpi indah, cantik…."
Izumi tersenyum manis sebagai jawaban. Saat pintu sudah ditutup sempurna oleh sang ibu dari luar, Izumi merogoh sakunya lalu mengeluarkan foto yang ia dapat tadi.
"Aku sayang ayah-ibu," ucapnya lalu mencium foto itu.
~XXXXX~
"Kau seperti anak kecil saja!" Youichi menggerutu tapi tetap menjatuhkan Sora yang berada dalam gendongannya ke tempat tidur dengan lembut.
"Aku memang masih kecil kok." Protes Sora. Ia masih memegangi tangan ayahnya yang sudah siap untuk keluar kamar. "Ayo temani aku… adik sialan itu ditemani ibu, cebol juga ditemani ibunya, ayah harus menemaniku."
Youichi menghela nafas malas lalu berbaring di samping putranya. "Cepat tidur."
Sora tersenyum kecil kemudian memeluk erat Youichi, ia berusaha memejamkan matanya tapi tidak bisa. Sora sama sekali belum mengantuk.
"Ada yang mau aku bicarakan, anak jelek."
"Hm?" Sora kembali membuka matanya untuk menatap sang ayah.
"Semakin hari kau bertambah besar, aku senang melihatmu tumbuh seperti ini. Kau sama sekali tidak manja, kau juga bisa berfikir diatas anak-anak sialan seumuranmu. Aku bisa melihat kau calon pemimpin yang hebat.
Sora tersenyum mendengar kata-kata ayahnya, ini adalah pertama kali Youichi memujinya. Ia tahu, pembicaraan dengan ayahnya ini merupakan pembicaraan orang dewasa. Maka Sora menyiapkan telinga dan otak untuk mendengar dan mengingat semua yang akan ayahnya katakan.
"Berjanjilah kau akan jadi pria yang kuat. Melindungi adik-adik sialanmu saat mereka dalam bahaya, menghibur saat mereka sedih, jadi sandaran saat mereka lelah. Yang terpenting, awasi Izumi dari si cebol itu."
"Aku akan melakukan semuanya, kapten!" jawab Sora pasti.
Youichi tersenyum. Senyuman yang sangat jarang ia tunjukan pada putranya itu. "Kau akan mendapatkan semua hal yang tidak pernah aku dapatkan saat kecil, bocah sialan."
Sora mengangguk lalu kembali memeluk erat ayahnya. "Ayah, waktu ayah seumuranku… apa kakek juga menidurkan ayah seperti yang ayah lakukan sekarang padaku?" mata yang persis seperti milik Mamori itu kembali menatap lekat sang setan.
Manik hijau itu meredup sedih. "Tidak, kakek sialanmu selalu saja pergi untuk main catur, dia tidak pernah pulang. Kecuali saat dia kalah…."
"Lalu dimana nenek?"
"Mati." Jawab Youichi asal. "Cepat tidur! Kau ini menyebalkan!"
"Ahahaha… kau galak sekali! Baiklah, tapi satu pertanyaan lagi ya…."
Youichi hanya menaikan sebelah alisnya untuk menanggapi Sora.
"Ayah benci kakek?"
"Untuk sekarang... tidak." Sekali lagi Youichi memperlihatkan senyuman tulusnya pada Sora yang juga ikut tersenyum.
"Terima kasih, ayah." Bocah kecil itu merapat ke pelukan Youichi kemudian memejamkan matanya sekali lagi, ia tersenyum dalam tidurnya.
"Dasar bocah sialan." Youichi mengumpat dalam sebuah bisikan. Ia melirik Sora yang begitu erat memeluknya sembari tersenyum sekali lagi.
~XXXXX~
Langit malam ini begitu penuh bintang, membuat Suzuna dan Sena tidak pernah bosan melihatnya. Setelah putranya tidur, mereka memutuskan untuk ke haluan dan tiduran di geladak, memperhatikan langit yang begitu indah.
"Rasanya… seperti kembali ke masa lalu ya, Sena…." Suzuna membuka pembicaraan.
"Hm," Sena menjawab seadanya sambil tersenyum kecil. "Tapi kita tidak pernah punya kenangan bagus di kapal pesiar."
"Ada kok… waktu Buro-chan mengundang kita makan malam bersama itu…."
"Ah? Yang makanan kita hilang… dan kau berpura-pura menjadi detektif untuk mencari pelakunya? Ahahahaha….."
Suzuna memukul pelan lengan suaminya dengan gemas. "Kenapa yang kau ingat bagian itu?!"
"Ahahaha… Suzuna, jangan memukulku!" protes Sena yang belum bisa berhenti tertawa.
"Huuh…." Suzuna mulai duduk dan memalingkan wajahnya. Kesal karena suaminya ini malah tertawa. Padahal ia ingin membicarakan hal-hal romantis.
"Hee…? Suzuna kenapa?" tanya Sena polos.
Tidak ada respon dari Suzuna.
"Waktu merayakan kemenangan dari Hakushu, kau cantik sekali lho… sayang waktu itu kita terlalu bersemangat dengan permainan Balon Neraka, jadi tidak punya waktu untuk berdua."
"Tidak usah membahas hal itu." Jawab Suzuna dingin.
Dan mau tidak mau Sena kembali tertawa melihat tingkah Suzuna. "Tapi sejak dulu, sampai sekarang pun… aku tetap menyukai waktu berdua denganmu."
"Tidak usah menggombal." Protes Suzuna lagi. "Anak ini sudah minta tidur bersama ayahnya." Suzuna mengusap perutnya yang mulai buncit sambil tersenyum lembut pada Sena.
"Baiklah…." Sena langsung bangun dan menggandeng Suzuna menuju kamar mereka. Meninggalkan sosok bayangan hitam yang tanpa mereka sadari memperhatikan mereka sejak tadi.
"Dasar cebol-cebol sialan." Umpat bayangan hitam itu sambil keluar dari persembunyiannya, menampilkan sosok setan tampan yang berjalan pelan menuju haluan. Sebenarnya ia tidak berniat mengintip dua adiknya itu. Ia hanya ingin menghirup udara malam di tempat ini setelah keluar dari kamar putranya.
Tapi berhubung ia melihat pasangan itu, ia akhirnya memutuskan bersembunyi sambil menyiapkan buku hitam keramat-nya, siapa tahu ia mendapatkan info yang bagus. Meski pada akhirnya buku itu kembali ke singgasananya tanpa hasil apa pun.
Setan itu memandangi lautan luas dan gelap dari matanya hijau cerah. Sebuah senyum kecil terukir di bibirnya, entah apa yang tengah ia pikirkan saat ini. Yang pasti, itu tentu sangat menyenangkan baginya. Ia menghirup udara malam hingga memenuhi paru-parunya. Tapi, teringat dengan nasehat istri tercinta yang mengatakan bahwa udara malam sangat tidak baik untuk kesehatan, sang setan akhirnya melangkah masuk. Ia berjalan dengan santai menuju kamarnya.
Ia membuka pintu kamarnya dan menemukan Mamori tengah berdiri di dekat box bayi sambil tersenyum kecil. Youichi ikut tersenyum melihatnya.
"Kenapa dia?" tanyanya dengan suara pelan sambil menghampiri sang istri.
Mamori menoleh lalu tersenyum padanya. "Dia mengigau, memanggilmu." Jawab Mamori juga dengan suara pelan.
Tangan besar milik Youichi terulur untuk mengusap kepala putra bungsunya dengan lembut. "Sepertinya dia baik-baik saja, sekarang giliranmu menidurkan aku." Youichi menyeringai seksi.
"Dasar!" umpat Mamori pelan. Wanita itu akhirnya berbaring di tempat tidurnya. Sementara suaminya masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan mengganti bajunya.
Wajah pria itu tampak lebih segar saat keluar dari kamar mandi. Ia langsung berbaring di samping Mamori, dan saat itu juga, sang istri merapat kearahnya. Wanita itu menempatkan kepalanya di dada Youichi yang bidang.
"Ayah…."
"Haa? Sejak kapan aku jadi ayah sialanmu?!" protes Youichi.
"Mou! Bukan itu maksudku… kau 'kan ayahnya anak-anakku." Mamori memainkan kancing piyama Hiruma.
"Kenapa kau ikut-ikutan memanggilku dengan panggilan sialan itu?"
"Hm… tidak apa-apa, aku pikir, anak-anak 'kan sudah besar, harusnya kita mengajarkan lebih banyak hal pada mereka. Mana mungkin aku terus memanggilmu Youichi sampai mereka besar. Bagaimana, ayah?"
"Aku geli mendengarnya." Komentar Youichi yang sukses membuat Mamori mengerucutkan bibirnya.
"Pokoknya aku akan memanggilmu itu… Hm, mungkin tidak sekarang kalau kau masih tidak terbiasa. Tapi aku pasti akan memanggilmu 'ayah'." Mamori mengangkat wajahnya untuk melihat mata sang suami yang sangat ia sukai. "Kau juga… sampai kapan mau memanggilku 'istri sialan'?! Panggil aku 'ibu' untuk mengajarkan pada anak-anak."
"Jangan harap!" mata hijau itu berkilat galak. "Panggilan itu cuma untuk satu orang, dan aku tidak akan memanggil orang lain dengan panggilan itu."
"Panggilan itu untuk ibu?" Mamori menatap Youichi dengan pandangan sedih. "Makanya, terbukalah padaku, Youichi… aku ini 'kan istrimu, apa kau masih menganggapku orang lain." Tanpa ia sadari, air matanya mulai menggenang. Segera saja Mamori mengusap matanya, agar cairan bening itu tidak menetes keluar.
"Kau ini…." Youichi merengkuh tubuh mungil istrinya dengan erat. "Tidak ada yang menyuruhmu menangis, dasar bodoh."
"Habisnya… aku 'kan sedih, kau bahkan tidak pernah membagi bebanmu denganku." Mamori masih menggosok matanya yang sekarang terasa perih.
Youichi tersenyum kecil. "Baiklah, kalau waktunya tepat, aku akan ceritakan. Tapi sekarang kita akan lburan, jadi jangan hancurkan liburan anak-anak sialan itu cuma karena cerita cengeng. Sekarang aku mau tidur, sebaiknya kau menyingkir." Pria itu melepaskan pelukannya dan sedikit mendorong tubuh Mamori agar menyingkir dari dadanya.
"Pelit!" protes Mamori.
"Kau berat!" ledek Youichi sembari menjulurkan lidahnya. "Oyasumi." Ia mendaratkan satu kecupan singkat di bibir wanitanya sebelum memejamkan mata.
"Oyasumi, Youichi." Jawab Mamori, ia tersenyum saat membelai rambut belahan jiwanya itu. Perlahan-lahan, mata birunya juga terpejam.
TBC
Ratingnya nnaaaaiiiikkk... nyahahaha...
endingnya gaje... padahal masih pengen lanjut... tapi berhubung sudah terlalu panjang, jadi saia selesaikan di sini saja... minna, reviewnya silahkaaann... XDD
