—Chapter 3: Rasa Bingung—


Dingin...

Suara guntur terus berbunyi menari-nari di langit. Rintik-rintik hujan mencoba menembus ke dalam kamar melalui jendela—tetapi tidak bisa. Suasana yang dingin membuat bulu-bulu menaik.

Hujan.

Badai hujan.

Mata gadis itu perlahan-lahan membuka. Pandangan pertamanya melesat pada jendela di depan hadapannya. Miku bisa melihat beberapa kali kilat datang menghiasi langit mendung di luar.

Lalu pandangan selanjutnya melesat pada seorang lelaki di sampingnya.

"Uh. Untuk apa dia tidur di sini?" tutur Miku tidak senang. Dia melihat tangannya yang terbungkus hangat oleh genggaman Len. Gadis itu ingin menariknya, tetapi ia takut jika Len akan terbangun.

Dan tentu saja Miku tidak ingin hal itu terjadi.

Len yang sedang tidur di sampingnya saja sudah membuat Miku kesal. Apalagi jika Len terbangun dan menyuruh Miku tidur kembali sembari Len menatap dirinya.

Rambut-rambut halus yang berada di tangannya berdiri—gadis itu kedinginan. Badai hujan dan ditambah penyejuk ruangan yang menunjukkan delapan belas derajat celcius.

Awalnya Miku memang ingin penyejuk ruangan tersebut dihidupkan, karena udaranya panas. Tapi Miku tidak menyangka bahwa ditengah malam akan badai hujan seperti ini.

"M-Miku? Kau tidak tidur?"

Miku berjengit mendengar suara itu. Tidak–ya Tuhan, tolong buat anak ini tidur lagi.

Gadis itu tetap diam. Menurutnya, jika ia mengeluarkan satu katapun untuk menjawab pertanyaan Len, rasanya seperti sudah membuang satu nyawamu untuk iblis. Yah, Miku tahu jika nyawanya memang ada satu. Tetapi itu hanya permisalan.

Dan tiba-tiba Len berdiri dari tidurnya dan menatap Miku. Iris birunya masih setengah terbuka. Oh, Miku benci mengakuinya, tetapi ia sangat suka dengan mata Len.

"Miku."

Len menundukkan kepalanya, "Kenapa, Miku? K-kenapa?" Kedua alis Miku bertemu karena bingung. Apa maksudnya?

Ketika Miku hendak menjawab, Len melanjutkan perkataannya, "Aku tahu jika kau membenciku, Miku. Aku tidak mempunyai niat untuk meninggalkanmu begitu saja. A-aku..."

Seketika mata Miku membesar—dia sudah tahu apa yang akan dikatakan Len selanjutnya.

Dengan menggertakkan giginya, "Berhenti."

Len langsung menaikkan kepalanya dan menampakkan wajah yang basah karena air mata. Hati Miku langsung hancur ketika melihat ekspresi mantan kekasihnya tersebut. Hati Miku langsung hancur ketika melihat mata dengan dilengkapi iris biru yang indah itu merah, membesar karena terkejut, dan mengeluarkan air mata.

Dia ingin mengatakan sesuatu—oh ayolah. Walaupun Miku sangat membencinya tetapi ia tetap tidak tega melihat Len seperti itu. Ini salah. Sangat salah.

Tidak.

Miku sudah membencinya.

Dan seharusnya ia tidak peduli apapun lagi dari lelaki tersebut.

Tapi...

Melihat raut wajahnya yang tampak sangat sedih karena dirinya,

Miku tidak tahu, tetapi perasaan bersalah menyelimuti hatinya.

Miku menghela nafas dan menutup matanya—

Aku bingung.


To be continue.


A/n: Saya kira cerita ini bakalan discontinue. Tapi tiba-tiba, rasa bersalah muncul setelah ngegantungin para reader cukup lama. Mungkin, saya akan melanjutkan cerita-cerita saya yang discontinued. Mungkin...

Saya minta maaf untuk chapter yang pendek dan kurang memuaskan ini. Terima kasih untuk para reviewers yang telah rela menyempatkan waktu kalian untuk singgah dan mereview.

Dan jujur, saya juga lagi bingung, sama kayak Miku.