Emperor Vs Empress

Disclaimer : Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Emperor Vs Empress © Yurei
Genre : Yang mainstream aja. (Romance pokoknya)
Pair : AkaFem!Kuro.
Rated : T.

Summary : Akashi kedatangan murid baru. Tak disangka ternyata dia benar-benar pemilik Emperor Eye selain dirinya. Kau berani memerintahku?! / Dan kau berani membantahku?!

Warunin! Gitulah. Kayak biasa. Enggak usah basa-basi. Mengecawakan ceritanya? Plis click 'Back' icon disebelah kiri atas atau langsung click 'CloseTab' diatasnya atau kanan-merah-atas.


-[Chapter 2 (Part2) : Watako & Atako]-

.

.

.

[Kuroko POV]

Percaya atau tidak tentang ke-absolut'an diriku ini sebenarnya adalah naif. Mereka yang menyebar tentang absolut eye yang kumiliki adalah seorang pemfitnah. Dan seorang pemfitnah bila mendustakan informasi tersebut maka terjadilah kesalahan paham yang berdampak fatal. Sama saja bunuh diri, you know?

Kenapa juga aku memikirkan semua ini? Siapa peduli? Biarlah.

Jujur. Aku tak tahu apa yang kubicarakan.

Karena saat ini, diruangan serba putih, dipadati benda-benda usang yang tampak berat dan besar berkat selendang putih besar membungkus identitasnya. Dinding putih dipenuhi corat-coret dan simbol-simbol familiar tertutupi dengan debu. Langit-langit dan perabotan sekitar dengan indah menodainya tanpa belas kasih. Pemandangan yang seharusnya dapat menghibur seorang gadis Tetsuya sepertiku harus ditunda.

Sedih dan kecewa yang kurasakan.

Ruangan tersebut adalah ruang musik. Ruangan penuh kenangan yang terpendam begitu saja karena waktu. Rungan sejuta memori indah penenangan hati setiap senandung yang timbul. Ruangan yang mengingatkanku dengan bocah merah itu.

Tak bisa kupingkiri lagi waktu-waktu 11 tahun silam dengan serangkaian kata-kata konotasi, ataupun puisi penyayat hati, ataupun film penguras air mata, ataupun cerita konyol dengan ending menyedihkan. yang dapat menggantikannya tersebut hanyalah melodi indah yang keluar dari senar gitar dan viollin, tuts piano, debuman bass membentuk musik dengan nada penenang.

.

.

.


[Flashback ON]

"Neee... Chicei-kun!" Panggilku pada lelaki berambut merah didepanku yang masih asyik memainkan drum-nya. Si merah kemudian berhenti dan merespon dengan satu kata, Apa.

"Aku mencintai Chicei-kun!" Merah yang melongo dengan penuturanku kemudian mendekatiku. Kemudian tangan lawan bicaraku meraih pucuk kepala dan mengusapnya pelan.

Aku senang sekali jika merah itu memperlakukan layaknya seperti kakak sendiri. Ku peluk badannya yang sedikit lebih tinggi itu penuh kasih sayang. Aku tahu jika dia bingung tapi ia tetap balas pelukanku.

"Kenapa tiba-tiba cinta aku, Tetsuya?"

"Karena Chicei-kun tampan, baik, pintar main alat musik, dan punya mata yang sama denganku! Kudengar dari Chuu-nii kalau kita ada persamaan berarti kita jodoh. Makanya aku cinta Chicei-kun."

"Ya ampun. Kenapa kau baru ngomong sekarang?"

"Maksud Chicei-kun apa?"

"Aku juga mencintai Tetsuya karena Tetsuya memang jodohku. Nah, mulai sekarang agar terus ingat sampai besar berjanjilah padaku untuk terus membuat lagu biar kau bisa jadi penyanyi seperti Ono Kensho dan Kamiya Hiroshi."

"Terus waktu Tsuya konser di Kyoto lewat televisi Chicei-kun datang dan melamarku."

"Benar sekali. Tenang... Meski seminggu lagi kau akan pindah hubungan kita tak akan retak karena kau Tetsuya. Makanya berjuang yaa biar Chicei tau dan langsung mencarimu."

"Oke! Mulai sekarang aku akan membuat lagu! Chicei-kun juga dong."

"Baiklah. Ini sebuah janji ya. Ingat terus itu,"

[Flashback OFF]


Dan sampai sekarang aku tak tahu siapa Chicei-kun itu! Batinku. Ya ampun! Kuharap anii-ki datang ke Tokyo biar aku tahu siapa bocah merah itu! Tapi sekiranya mungkin dia adalah Akashi Taiga, seiyuu favoritku itu. Dia kan orangnya rambutnya merah. Aaaahh semoga saja benar! Dan diwaktu yang sama kukutuk juga memori konyolku ini bilamana Akashi Seijuurou-lah adalah si bocah merah brengsek itu! Kuharap kebenaran menyertaiku.

[Kuroko POV End]

.

.

.

Kuroko Tetsuya. Emperor cantik yang sampai saat ini masih jadi trending topic di mading OSIS dan mading jurnalistik. Meski usianya baru menginjak 16 tahun tapi siapa bakal menyangka jika dia sangat jenius seperti Akashi. Selain itu gadis ini juga terampil sekali dalam melakukan apapun. Dengan sempurna juga seperti Sebastian Michaelis dari fandom sebelah.

Selain inner-nya yang masuk ke-list istri gadis Kuroko ini outside-nya juga sempurna, secantik Pico malahan *ehm*. Eits! Jangan lihat dari marganya! Bukan berarti Kuroko hitam, sehitam Aomine *ehm*. Itu Cuma marga wan-kawans.

Mulai dari atas. Surainya babyblue sepunggung, senada dengan mata shafir-nya. Tapi bingkai putih kacamata akan menghalanginya jika hendak membaca. Kulitnya putih pucat. Disusul dengan tubuhnya yang kurus tapi terlihat langsing dimata-mata senpai-senpai pedonya. Intinya perfect deh. Ah satu hal lagi yang menjadi ciri khasnya selain hawanya yang tipis seperti Mayuzumi Chihiro, senpai-nya kelas 3-A yang ia temui kemarin, yaitu suaranya sebening kristal dan tak mengambang. Maka dari itulah Tetsuya selain cita-citanya jadi penulis ia juga ingin jadi penyanyi.

Tak lama kemudian pintu geser tersebut menampilkan pria bule berdarah Jepang, yang tak lain dan tak bukan adalah Kise Ryouta. Awalnya ia mengenal Kise adalah saat di depan toilet. Iya, saat itu kan Kise lagi dikejar sama fansnya lagi sampai akhirnya si kuning itu bersembunyi di toilet pria. Ya masa ada gadis yang mau ke toilet pria? Terpaksa para fans meneriaki namanya seperti memuja dewa di depan toilet. Kuroko yang saat itu akan lewat di koridor itu terpaksa harus membuka imej sadisnya karena Kuroko benci kebisingan.

.

[Flashback ON]

"Ara... Ngapain cewek-cewek itu pada teriak didepan toilet pria? Di koridor ini pula,"

Akhirnya Kuroko berinisiatif mendekati segerombolan pedemo tersebut. Tapi karena tak mau terlibat masalah ini-itu si gadis ini tanpa aba-aba menginjak mood horornya. Dihirup dalam-dalam udara apapun itu dan ditahan. Atako pun bangun. Detik kemudian suara cempreng tersebut berhasil membuat gadis-gadis yang asik fangirling lari terbirit-birit tanpa menatap siapa yang berteriak sekilas pun.

"JANGAN MEMBUAT KERIBUTAN DI KORIDOR SEKOLAH BEGO!"

Siapa juga yang enggak kaget bahwa Kuroko Tetsuya yang dikenal pendiam ternyata bisa marah. Beri applause.

Koridor tersebut berasa hening seketika. Pintu toilet pria tersebut terbuka menampakkan pria yang sudah Kuroko kenal di majalah-majalah fashion milik ibunya (meski mungkin si pria itu tak mengenalnya).

"Loh? Hilang? Tumben," Kata pria kuning itu kemudian keluar dan alangkah terkejut ekpresi yang ia tampilkan. Iris madu yang tadi bergulir kesana-kemari mencari gadis-gadis yang tadi mengejarnya kinifokus satu objek. Babyblue.

"Ka-ka-kau..." Nadanya bergetar. Dengan beraninya jari telunjuk kanan pria itu mengarah kewajahnya. Kuroko cuma menatapnya datar. Tapi berikutnya tidak sesuai ekspektasi si biru.

Ikemen tersebut langsung memeluk pemudi didepannya setelah menampakkan wajah sumringahnya. Entah ekspresi bahagia atau menjijikkan yang Kuroko tanggapi itu.

"KYAAAAAA! IMUT SEKALI KAU!"

Ya ampun. Ingatkan nanti pas pulang sekolah jika Kuroko harus cek pendengaran di klinik belakang rumah. Ah, jangan lupakan kalau dia juga harus cek kondisi tulangnya gegara pemuda tampan ini memeluknya terlalu erat. Sampai sesak pula. Dihati Atako, ia berharap semoga ia tak pingsan ditempat hanya karena paru-parunya kecil.

Pelukan maut tersebut melonggar menyisihkan Kuroko terbatuk-batuk. Pria itu tersenyum bahagia namun tersirat sedikit rasa bersalah, "Gomen, Gomen, aku memelukmu terlalu erat. I-i-ini karena baru pertama kalinya aku melihat makhluk seimut sepertimu. Aku senang sekali."

"Tak apa bila itu membuatmu ceria kembali, etto... Ki.. Se... Ryouta-san?"

"Ya ampun itu terlalu formal. Panggil saja aku Kise." Uluran tangan Kise mengarah ke Kuroko, ingin berjabat tangan. "Arigatou, sudah menyelamatkanku dari para malaikat maut itu. Kise Ryouta 2-B desu, Kuroko Tetsuya-cchi!"

Poker face. Ternyata Kise juga tahu namanya. Benar-benar menyebalkan kalau jadi murid baru. Dan Kuroko menerima uluran tangan itu. "Doumo. Yoroshiku onegaishimasu, Kise-kun." Senyum lima jari pamerkan lagi oleh pria itu mengakhiri introduce singkat.

[Flashback OFF]

.

"Ah Kuroko-cchi!" Panggil membuat Kuroko dengan tajamnya menatap iris madu lentik itu. "Hidoii! Aku belum ngomong apa-apa sudah di pelototin kayak lihat iblis!"

"Baiklah. Aku akan berhenti." Shafir menatap gold. Begitupun sebaliknya. "Lalu. Ada apa? Satu lagi, kenapa kau tahu jika aku disini?"

"Ehehe aku tahu jika Kuroko-cchi karena aku bertanya pada fansku di kelasmu–"

"Cara pemanfaatan yang enggak efektif."

"–Lalu aku kesini cuma mau mengajakmu ke suatu tempat–"

"Aku menolakmu."

"–Bukan untuk menyatakan cinta! Tapi ke–"

"Toilet? Ya ampun. Bejad sekali perbuatanmu, wahai model murahan!"

"–Hidoii! Jangan motong pembicaraan orang! Aku cuma mau–"

"Aku enggak mau ngasih alamatku!"

"BUKAN!"

"Email? Kutolak!"

"BUKAN!"

"Nomor? Enggak mau!"

"BUKAN!"

"Link situs porno?"

"BUKAN!"

"Foto vulgar Horikita Mai-san?"

"ITU KERJAANNYA AOMINE-CCHI!"

"Aku heran. Kenapa Ryouta-san selalu memanggil orang dengan akhiran –cchi?"

"Itu karena aku–"

"Duet? Ogah!"

"BUKA– Loh? Bisa nyanyi?"

"Kalau kujawab enggak gimana?"

"IIIHH! Kuroko-cchi hidoii! Aku disini cuma–"

"Ngomong yang serius, Ryouta-san!"

"Sudah serius aku! Dirimu aja yang enggak–"

"Oh tidak. Waktuku habis. Karena seseorang pernah bilang 'Jangan berbicara dengan orang asing terlalu lama atau keperawananmu hilang' jadi aku cabut dulu yaa," Pamit Kuroko tenang. Kise facepalm.

Spontan si gadis Kuroko itu lompat liar (seperti trainingnya anak-anak kelas 3-E). Aksi akrobatik dipamerkan Kuroko meski awalnya tak ada niatan pamer. Pemudi itu hanya ingin kabur, titik. Sampai pada akhirnya gadis biru itu berhasil melesat meninggalkan ruangan itu. Kise takjub dan hampir saja ia larut dalam kekaguman si gadis yang bisa lompat tinggi juga menanti rok hitam itu terkesiap jika saja Aomine, sohib bejadnya, tidak meneriaki nama gadis itu.

.

Oh dewa. Semoga Plan B tak gagal agar nyawa mereka melayang tenang karena kesalahannya. By the way, siapa juga yang mau mati enggak tenang, pas muda, ngenes lagi?

.

Sinyal dalam radar Kuroko naik menuju level bahaya. Gadis surai biru itu berlari menyusuri koridor yang dipadati penghuni SMA Teikou tersebut, menghindari seorang pemuda tan yang mengejarnya dan terus meneriaki namanya. Ingat, kali ini bukan Kise, melainkan Kuroko. Masa bodo jika ia menabrak orang-orang yang penting ia harus menghindari kecaman pemuda itu. Mau dianggap kayak kawain lari kek, marathon kek, apapun deh, masa bodo.

Di absolut eye Kuroko, orang yang diteriaki nama pemuda itu oleh Kise ternyata sedang berkompromi dengan Akashi.

Entah sudah berapa lama dan berapa meter ia lari. Tak bisa ia pungkiri berapa hektar sekolah ini. Tikungan sudah didepan tapi kenapa Kuroko tak bisa menghentikannya. Dilirik pemuda itu yang semakin lama semakin mendekat. Mungkin 4 meter lagi tangan besar itu mencapai rambutnya yang berkibar. Hendak mengurangi kecepatan karena berbelok tiba-tiba pemuda hijau ada didepan mata.

Sontak Kuroko menabrak seseorang.

Yang ditabrak bukannya jatuh, malah menahan dan memeluk. Terima kasih pada Kami-sama karena Midorima termasuk orang yang dalam hal tubruk-menubruk.

"Akhirnya dapat juga." Si gadis yang masih ngos-ngosan mendongakkan kepala menatap iris emerald itu.

"Jangan-jangan *hosh* kau *hosh* bersekongkol dengan *hosh* Seijuurou-san!"

"Jika iya kenapa dan jika tidak kenapa?" Atako mendecih kesal. Pemuda megane tersebut lalu memberi kode pada pemuda ungu dibelakang Kuroko. Gadis biru itu lalu merasakan bahwa kakinya sudah tak menyentuh tanah. Kuroko ternyata diangkat dan digendong oleh manusia raksasa seperti karung beras.

"Le-le-lepaskan aho!" Kuroko terus meronta seperti anak kecil yang tak mau digendong. Murasakibara itu mendengus malas, tak menghiraukan gadis itu yang terus-menerus memukuli punggungnya.

Hijau menyusul, meninggalkan biru dan kuning yang sibuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.

Selama perjalanan tatapan heran dan bingung dilontarkan pada 3 manusia beda warna surai itu. Tapi satupun tak mereka indahkan dan fokus kejalan menuju suatu tempat. Kuroko sudah tak merengek lagi. Ia lelah. Didepannya sudah ada pemuda yang siap menjadi objek penglihatannya. Tapi Midorima tak menggubrisnya karena sifat tsundere-nya kembali. Murasakibara berjalan dalam diam.

Beberapa menit kemudian mereka berhenti disalah satu ruangan. Ungu itu menurunkan Kuroko lalu meninggalkan hijau dan biru tanpa satu kata pun. Gold-aquamarine membaca papan yang menggantung diatasnya.

"Ruang OSIS SMA Teikou"

"Anoo... Kenapa kita ada disini?" Tanya Kuroko pada Midorima.

"Akashi Menunggumu dan ingin tea paty bersamamu." Jawab Midorima tanpa mengalihkan pandangannya kedepan, mengarah ke pintu cokelat itu. Lagi-lagi Kuroko mendengus kesal. Tapi sekarang Watako pasrah kali ini.

"Menyebalkan," Gadis itu menggumam yang dapat didengar Midorima. Pemuda itu lantas meresponnya, "Jaga omonganmu atau Akashi akan melemparkan hasami-san dari dalam! Bu-bu-bukan berarti aku peduli atau apa tapi, ini hanya peringatan!"

"Tsundere toh ternyata,"

"Aku bukan tsundere!" Midorima menghela napas dan terus menahan kekesalannya. "Cukup. Sekarang masuk!" Midorima membuka pintu dan langsung mendorong tubuh yang lebih kecil itu entah sampai jatuh atau tidak. Ia tak peduli.

"Shintarou...! Kenapa kau tak– Wah-wah-wah, akhirnya empress-ku datang juga." Akashi yang juga akan membukakan pintu itu terpaksa mengurungkan niatnya karena pintu pembatas koridor dengan ruangan serba merah itu dibuka oleh tamu luarnya. Tapi yang ia kagetkan adalah datangnya seorang Kuroko Tetsuya kedalam dekapan refleksnya.

"Plan B dan C sukses. Aku kembali dulu." Setelah melaporkan semuanya Midorima menutup pintu itu, menyisihkan biru-merah diruang OSIS tersebut.

Sial! Kenapa aku bisa dipeluk oleh orang brengsek ini sih?!

"Jadi maumu apa Seijuurou-san?"

"Ara.. Enggak usah dingin-dingin seperti itu. Aku disini hanya ingin mengundangmu tea party," Senyuman lembut berubah menjadi seringaian, "Dan juga ingin menanyakan beberapa hal tentangmu, Tetsuya-san."

TBC (Or delete?)


.

.

.

Fix. Pakek mode kepepet. Serius, kali ini parah dan gomen kalau typo bertebaran. Btw Yurei juga berterima kasih atas review kalian (Terutama assyifa-san : Iya, Yurei akan berusaha dan mengurangi beberapa bagian yang mengganggu feels ceritanya *bow* Arigatou nee...) *gomen yang review-nya enggak kebalas*

Maaf juga klau chapter sebelumnya rusak alias membingungkan *sujud* Yurei minta maaf sebesar-besarnya. Maklumilah readers, Yurei emang suka membuat cerita tapi enggak pintar ngebikin kata-katanya. Jadi mohon pencerahannya yaa... *smile*

PM ataupun review kalian mengenai chapter kali ini sangat dibutuhkan karena chaper berikutnya (mungkin) akan berperan sebagai komplikasi dari fiction EvsE ini. *Wah spoiler*

.. Yurei-saan ...