My Sweet Cat
This Story is mine (Sky Yuu). Mature content. Boys Love
Lee Donghae x Lee Hyukjae (Eunhyuk) Super Junior.
Hngg…
Geraman rendah sayup-sayup terdengar berulang kali. Suara itu berasal dari sosok yang sedang menggelungkan tubuhnya di atas sofa yang tidak terlalu besar. Sosok tersebut tak lain adalah si penyewa apartemen level dua setengah ini. Tangannya menarik selimut untuk menutupi kepalanya yang beralaskan lengan sofa. Terlihat tidak nyaman memang, tetapi karena satu-satunya tepat tidur telah digunakan oleh 'kucing' yang dipungutnya, tak ada tempat lain untuknya tidur.
Donghae berakhir di sofa dengan segala benteng yang dibangunnya dengan kuat. Dia masih memiliki hati untuk tidak menyakiti 'si kucing' yang sedang pingsan. Ditambah lagi dengan suhu tubuhnya yang semakin tinggi pertanda dia demam. Semalaman Donghae merawatnya dengan mata yang terkantuk-kantuk setelah memakaian pakaian yang layak untuk menutupi tubuh telanjang si kucing. Jika bukan karena rasa kasihan, Donghae tidak akan repot-repot menolong dan merawatnya. Ya, rasa kasihan… Donghae rasa.
Siapa dia? Dia muncul dengan keadaan yang kacau dan tidak sadarkan diri. Warna lebam itu berada di sekujur tubuhnya, begitu pula dengan luka yang masih baru pada telapak kakinya. Apa dia berasal dari suatu tempat prostitusi dan kabur? Apa aku menolong seorang pria androgini yang menjadi buron dari pria-pria kekar tak punya hati? Donghae tertidur dengan segala rasa penasarannya saat dia memutuskan untuk tidur di sofa meninggalkan sosok yang tertidur di kasurnya.
Berbagai pertanyaan muncul saat dia merebahkan dirinya ke sofa yang tak lebih panjang dari tinggi badannya. Berusaha berpikir keras siapa pria manis yang ditemukannya, membuat Donghae sulit untuk tertidur hingga tiga jam lalu.
Saat ini masih pukul enam pagi, dan Donghae sudah merasa lelah untuk tidur di sofa yang menyiksa ini. Kepalanya muncul dari balik selimut yang ditariknya tadi, sedikit membuka mata dan kembali mengeram kesal.
"Sial, ini sangat tidak nyaman." Suara serak mengalun mengawali harinya. Mulutnya mengumpat sambil berusaha meraih ponsel yang tergeletak di meja yang berada di sampingnya.
Seseorang yang selalu mengganggu - 10 pesan.
Tanpa melihatnya Donghae langsung membuang ponselnya asal ke sofa.
Tubuhnya dipaksa untuk duduk dan mengumpulkan nyawanya yang tertinggal di alam mimpi. Rambutnya berantakan khas orang bangun tidur. Terlihat matanya yang berkantung seperti panda. Dia memaksa kakinya berjalan ke arah dapur, mengambil segelas air untuk membasahi tenggorokannya.
"Apa dia baik-baik saja?" Donghae bergumam pelan saat melewati pintu kamarnya yang masih tertutup rapat. Dia membuka pintu itu dengan perlahan dan sedikit mengintip kegiatan yang ada di dalam sana. Sunyi. Hanya terbaring sesosok pria manis yang di dahinya tertutupi handuk kecil sisa semalam.
Donghae menghampiri pria manis itu tanpa menimbulkan suara. Menempatkan dirinya di kursi samping tempat tidur yang biasa dia gunakan untuk berkutat dengan paper. Tangannya mengambil handuk itu dan meletakkan pada wadah air yang diletakkannya di atas meja. Memastikan suhu tubuh pria ini sudah kembali normal. Helaan napas lega terhembus saat suhunya tidak setinggi semalam. Donghae sempat panik saat demam pria itu semakin tinggi beberapa jam sebelum Donghae tertidur.
Donghae mengarahkan tangannya untuk membenarkan selimut yang terlihat berantakan. Ujung selimut itu digenggam erat oleh pria yang terlelap dalam tidurnya. Meskipun tertidur, tapi Donghae mendapati raut wajahnya yang terlihat gelisah.
Hiks.
Satu isakan lolos dari bibir plum merah itu saat Donghae menyentuh kulit tangan yang menggenggam ujung selimut. Terlihat gesture menolak saat Donghae ingin melepaskan genggaman itu. Donghae hanya ingin membenarkan selimutnya, apa dia menyentuh semacam lukanya?
"Maafkan aku… sakit… ku mohon." Sosok itu meracau tidak jelas saat Donghae menarik selimutnya. Genggaman itu semakin erat, dan dia semakin terisak. Terlihat lelehan air mata semakin membasahi pipinya. Donghae yang tidak tega, melepaskan tangannya dan menghapus air mata itu.
"H-hei, tidak apa-apa. Aku tidak akan menyakitimu. Tenanglah, hm?" Donghae berbisik menenangkan sembari kedua tangannya menghapus air mata yang tak kunjung berhenti itu. Namun, kebalikannya, sosok ini semakin ketakutan di bawah alam sadarnya.
"Kau pasti bermimpi buruk. Dia tidak akan menyakitimu lagi. Aku ada di sini. Kau tak perlu khawatir." Donghae meracau asal seolah-olah mengerti. Tangan kanannya menggenggam tangan yang memegang ujung selimut. Tangan kirinya mengusap dahi yang berpeluh itu.
"Aku akan melindungimu. Tenanglah…" Donghae terus membisikkan kata untuk menenangkannya. Hingga akhirnya sosok itu membuka matanya setelah berulang kali Donghae berbisik di samping telinganya. Matanya menatap Donghae dengan pandangan yang terluka. Biarpun air mata masih menggenangi, Donghae dapat melihat jelas bagaimana indahnya mata itu. Sekian detik Donghae mengagumi sosok ini dengan sempurna. Donghae sudah melihat semuanya. Dan mata ini adalah yang terakhir.
Ya, ya, kau melihat semuanya, Tuan Lee. Semuanya.
Lamunan Donghae terpecah saat sosok itu mendekatkan tubuhnya dan melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Donghae, menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Donghae. Bisa Donghae rasakan jika pria yang tengah memeluknya ini menagis. Air matanya membasahi kaos yang Donghae kenakan. Donghae yang tadinya sedikit tersentak karena perlakuan tiba-tiba yang diterimanya, hanya bisa membalas pelukan itu dengan canggung.
-HaeHyuk-
"Ah, maafkan aku, tidak bisa memberimu sarapan yang lebih layak." Donghae menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
Kedua manusia ini berada di ruang makan. Hanya meja makan berukuran sedang dan dua buah kursi. Mereka saling berhadapan, ditemani dengan dua buah piring nasi goreng kimchi yang diciptakan oleh seorang Lee Donghae. Beruntung terselip beberapa bahan makanan di antara makanan instan yang dibelinya semalam.
Matanya menatap pria yang satu jam lalu menangis memeluk pinggangnya, seulas senyum canggung menghiasi wajahnya saat pria manis tersebut hanya diam menatap kosong pada piringnya.
Apa dia tidak berselera memakan masakanku? Apa biasanya dia makan makanan yang mewah? Dilihat dari fisiknya sepertinya dia terbiasa hidup mewah, pfftt. Donghae menebak-nebak apa yang membuat pria di hadapannya ini melamun.
"Maaf hanya membuatkan nasi goreng ini. Jika kau mau, kita bisa makan di luar."
Demi apa aku mengajak orang asing untuk makan bersama di luar?! Donghae merutuki mulutnya yang kurang ajar melontarkan ajakan serta merta itu.
"Atau kau ingin memakan sesuatu yang lain? Bicaralah, tak apa."
Kau gila Lee Donghae. Siapa dia, siapa kau?
"Tidak. Aku akan memakannya."
Suara lirih itu menghentikan percakapan batin Donghae yang tak jelas. Donghae yang tadinya disesaki rasa kasihan sekaligus jengkel, kini menatap pria yang mulai memasukkan sesuap nasi ke mulutnya. Mereka makan dalam keadaan yang hening. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang tak jarang beradu dengan piring.
"Maaf, apa kau baik-baik saja?" terdengar Donghae membuka suara untuk memulai topik saat piring mereka sudah kosong. Sedangkan yang ditanyai hanya diam menundukkan kepalanya.
"Kau merasa pusing?" Donghae menumpukan kepalanya pada lengan yang terlipat pada meja dan berusaha melihat mata yang tetap menghindarinya itu.
"Semalam kau demam."
"Bagaimana keadaanmu sekarang?"
Berkali-kali Donghae berusaha mengajaknya berbicara. Tetapi, tidak ada satupun jawaban yang terlontar dari bibir plum itu. Donghae seperti berbicara pada patung, membuatnya frustasi.
"Lee Hyukjae-ssi?" dengan ragu Donghae berusaha memanggil nama yang tertulis pada collar yang diambilnya semalam. Membuat pria yang terdiam itu mengangkat kepalanya dan menatap menelisik pada Lee Donghae.
"Jadi namamu Lee Hyukjae, ya?" Donghae tersenyum puas saat mendapat perhatian dari lawan bicaranya.
"Ja-jangan panggil aku dengan nama itu." suaranya bergetar terdengar gugup. Matanya menatap Donghae dengan tatapan yang sulit diartikan. Sedih? Terluka?
"E-eh?"
"Aku mohon…" pandangannya semakin sendu saat mimik muka Donghae seperti meminta kejelasan.
"Akan ku antar kau pulang." Donghae merasa ada yang tidak beres dengan lawan bicara segera mengambil keputusan cepat untuk tidak terlibat terlalu jauh.
Aku memiliki firasat buruk mengenai ini.
"Aku tidak memiliki tempat tinggal."
H-hei! Kenapa justru menangis? Sialan!
Dia menangis. Berusaha menghapus air matanya tetapi sia-sia. Semakin mengalir deras saat Donghae berkata, Hyukjae-ssi, Hyukjae-ssi, ka-kau tak apa?
Sial! kenapa aku yang merasa bersalah?! Ada yang salah dengan nama Hyukjae? Dia tidak memiliki tempat tinggal? Bohong pasti. Kenapa dia terlihat rapuh, dan aku tidak bisa menolak untuk menenagkannya di saat seperti ini? Kau terlalu baik, Lee Donghae.
Dengan segala rasa bingungnya Donghae beranjak ke samping sosok yang menangis dalam diam, berdiri di sampingnya dan memeluk menenangkannya.
Bagus sekali Tuan Lee, bajumu basah untuk yang kedua kalinya.
"Jangan menangis lagi. Kau tidak lelah terus menangis?" Donghae menatap kasihan pada sosok yang menyembunyikan wajahnya pada perut yang terlapis kaos itu.
"Tinggallah di sini jika memang kau tidak punya tempat tujuan."
Apa yang kau katakan Lee Donghae bodoh?! 'tinggallah di sini…', lalu kau akan kembali tidur di sofa. Donghae kembali merutuki dirinya yang tanpa pikir panjang menawarkan hal tabu semacam itu. Tetapi, di lain sisi, dia merasa iba dengan sosok yang tengah dipeluknya ini.
"Kau bisa tinggal di sini Hyukjae-ya. Ah, maksudku Eunhyuk-ah. Aku tidak akan memanggilmmu Hyukjae. Kau adalah Eunhyuk mulai saat ini. Mengerti?" melawan rasa egonya, Donghae mengusap perlahan kepala yang mengangguk meski wajahnya masih bersembunyi.
Ditemukan dalam keadaan shirtless di tengah malam di jalanan yang sepi, luka lebam menghiasi beberapa bagian tubuhnya, gesture serta rentetan kalimat janggal yang diucapkan saat dirinya tertidur dan baru saja. Donghae bukan orang yang bodoh yang tidak bisa mencerna bagaimana kondisi sosok dihadapannya, sehingga dia mampu mengatakan kau bisa tinggal di sini, dan kau adalah Eunhyuk.
Ya, mulai saat ini dia adalah Eunhyuk, bukan Lee Hyukjae. Eunhyuk yang tinggal di apartemen sewaan level dua setengah milik Lee Donghae.
Ah, jadi mulai sekarang aku akan tinggal berdua dengannya, ya?
TBC
AN.
Halo~~ lama tak berjumpa. Ewewew, review kalian d ch sebelumnya sudah saya baca, dan saya balas. Duh, saya kok seneng saya menjadi penipu di ff ini. Ini sebenernya cuma selingan di ff remake bonus track yang saya garap beberapa bulan lalu. ohiya, btw ada yang mengintip bonus track? Intip kuy, sia tahu kepincut sama si hantu Lee Hyukjae, wkwkwk. Btw, bonus track tersendat beberapa waktu lalu karena bermasalah dg novelnya.
Saya sempay kehilangan feel, dan waktu saya nulis ini pas lagi sibuk-sibuknya magang, dan pengurusan tugas akhir dan laporan magang. Duh lelah sama rl, blm lagi D&E mau ke indo ntar. Baper sudahh. Alhasil, chapter ini mengalami beberapa perubahan. POIN PENTINGNYA, SAYA GAJADI NISTAIN HAEHYUK DI CHAPTER INI. wkwkwk
Maafkan atas segala kekhilafan, ketypoan, ketidakjelasan dari chapter ini. Ada beberapa hint sebenernya di chapter ini, semoga kalian bisa menangkapnya. Gamau ada tebak-tebakan lagi, takut kebanyakan menipu saya nanti. Haha
Terima kasih teman-teman yang sudah mengapresiasi tulisan saya ini.
See you~!
