Langit nampak biru hari ini. Bagaikan lukisan di kanvas, biru yang cantik dan gumpalan awan untuk pelengkap agar terlihat indah. Desiran ombak di pantai membawa kebisingan tersendiri bagaikan melodi musim panas. Ino, Ten-Ten dan Karin masih tiduran di atas sehelai kain tipis yang beralaskan pasir putih. Hanyut dalam angin sepoi-sepoi dan juga melodi ombak di bibir pantai yang mengantarkan mereka ke dunia mimpi ketika sunbathing. Sementara ketiga gadis ini masih asyik sunbathing dengan bikini tipis mereka, semuanya telah berkumpul di lapangan kecil pantai.
Kakashi berdiri mengusap keringat yang baru saja meluncur dari pelipisnya. Di hadapannya Iruka tengah mengatur nafasnya yang memburu. Berbeda dengan Guy dan juga Anko yang masih bisa tertawa bangga menikmati kemenangan. Iruka yang kelelahan, mancari bantuan pada Naruto dan Kiba yang sudah sedari tadi tergiur untuk bergabung. Di kubu Guy dan Anko, Sakura dan Sasori ikut bergabung karena bosan tak melakukan apa-apa. Lee, ia sudah sedari tadi ingin bergabung.
Naruto dan Kiba yang merasa lawannya tak seimbang, mereka berdua memaksa Gaara untuk bergabung. Walaupun pemuda itu setengah hati, apalagi sepupunya berada di kubu lawan. Sisa anggota yang lainnya menikmati laut. Shikamaru yang memilih untuk memancing bersama Asuma di boat putih kecil masih saja menguap. Sai dan Neji beradu surfing. Di villa, Kurenai sibuk memasak seorang diri di dapur. Shino dan Chouji mengurus halaman villa.
Liburan musim panas ini sungguh sangat menyenangkan!
Tunggu, kau pasti mencarinya, kan? Kau bilang siapa? Dia kan yang kurang?
Tenang, Sasuke berjalan menemani Hinata untuk berbelanja di toko terdekat.
.
.
.
SUMMER BREAK
SUMMER BREAK
SASUHINA©HACHI BREEZE©2013
ORIGINAL CHARACTER©NARUTO©MASASHI KISHIMOTO
©SASUHINA
.
.
.
Hinata masih memegang lembaran kertas yang di berikan Kurenai. Banyak daftar keperluan yang harus di beli. Sasuke hanya diam berjalan di samping Hinata dengan memasukkan kedua tangannya di saku celana. Sesekali ia melirik Hinata melalui ekor matanya.
"A-Ano Sasuke-san, kurasa kita harus ke arah sana."
Sasuke mengalihkan pandangannya menatap wajah Hinata yang masih merona dan menunduk ketika menunjukkan arah sebaliknya dimana pedagang sayur mayur berada. Sasuke menarik tangan kecil Hinata, menuntun gadis itu untuk berjalan di sampingnya. Sasuke sedikit tersenyum ketika pada akhirnya ia bisa melakukan satu pikiran dengan hatinya. Hinata menatap punggung lebar Sasuke dari belakang. Tubuhnya yang tinggi dan sedikit kurus itu tertutupi jaket coklat tua. Tak bisa menatap lama punggung Sasuke, Hinata memalingkan wajahnya yang bersemu menatap tanah di sekitar kakinya.
Di depan kedai sayur mayur, Hinata sibuk memilih sayur yang bersih dan segar. Gadis itu memilih dan menyendirikan pilihannya dengan barang dagangan si penjual. Setelah semua daftar sayur mayur terpenuhi, Hinata mengangsurkan uang untuk menukarnya dengan sayur yang sudah di pilihnya. Sasuke masih terdiam memandangi tumpukan benda merah yang ada di kedai sayur, tak memperdulikan Hinata yang sudah berkali-kali memanggilnya untuk segera pergi. Hinata berjalan mendekati Sasuke yang masih diam berdiri.
"Aku suka tomat."
"Eh?"
"Aku suka tomat, Hinata. Dan itu terlihat segar."
Hinata mengikuti arah telunjuk Sasuke yang mengarah ke tumpukan tomat. Hinata melihat daftarnya lagi, lalu tersenyum kecil. Ia meletakkan belanjaannya di samping kakinya, mencoba meraih beberapa tomat untuk dipilih.
"Kurasa membelinya beberapa saja tidak akan membuat Kurenai-sensei marah. Aku akan me-"
"Jangan yang itu. Itu terlihat sedikit layu, Hinata. Kau harus bisa merasakan kesegarannya dari sentuhan. Ketika terasa keras, tandanya masih belum matang betul. Jika sudah sedikit lentur ketika kau sentuh, apalagi kulitnya sudah tak halus dan berkeriput begini tandanya sudah agak layu,"
Hinata memandang jemari Sasuke yang melingkar di antara jemarinya. Mencoba mengajarinya cara memilih tomat dengan sentuhan. Hinata hanya melihat jemarinya yang di gerakkan oleh jemari Sasuke pelan merasakan tomat di kedua tangan mereka. Bukannya berpikir dan mendengarkan penjelasan Sasuke, Hinata merasa jantungnya terasa aneh.
"Kau harus bisa merasakan tekanannya yang seimbang. Tidak keras, tidak lembek juga. Yang seperti ini, tomat ini yang segar. Kau akan mudah memotongnya nanti."
Jarak di antara mereka berdua sudah hilang. Sasuke yang berada di belakang Hinata dengan tangan kanannya berada di antara jemari Hinata, sementara tangan kirinya masih memegang tomat. Jika di gambarkan lebih jelas, Sasuke seakan-akan terlihat memeluk Hinata dari belakang. Bahkan Hinata bisa merasakan hangatnya nafas Sasuke di belakangnya. Hingga pada akhirnya ia lebih memilih menutup matanya rapat-rapat.
.
.
.
One piece putihnya sedikit ia tepuk-tepuk ketika ada debu menempel. Hinata berjalan di samping Sasuke yang membawa kertas kantung belanja. Hinata hanya membawa beberapa kantung kecil. Daging, wortel, sayur, lobak, telur, beberapa buah jeruk dan semangka, udon, menma, beberapa jajanan kecil seperti dango, okonomiyaki dan takoyaki, lalu sekantung kertas kecil tomat. Banyak sekali yang mereka beli walaupun ada beberapa yang tidak masuk daftar belanja.
Sesekali Hinata menyuapkan dango yang ada di tangannya kepada Sasuke. Satu tusukan terakhir telah hilang di balik mulut Sasuke. Sasuke tak mempermasalahkan manisnya dango itu, selama Hinata yang menyuapinya selagi kedua tangannya sibuk sepertinya tak masalah.
"Ano, Sasuke-kun.., apakah lukanya masih terasa sakit?"
Hinata memasukan satu dango lagi ke dalam mulutnya. Memandang pipi Sasuke yang kemarin ia kompres. Sasuke hanya tersenyum tipis.
"Arigatou na, berkat kau lukanya sudah jadi lebih baik dari sebelumnya. Dan kipas angin itu juga, terima kasih. Aku yakin akan mandi dua kali jika kau tak menghidupkan kipas angin itu."
Lagi, Hinata merasakan jantungnya terasa aneh. Ia memasukan lagi dango ke dalam mulutnya, walaupun dango yang sebelumnya masih ada. Ia mengunyah keras dango yang terasa penuh di mulutnya karena gugup. Sasuke melirik, kemudian ia merajuk.
"Hey! Itu dango bagianku!"
.
.
.
"Chou, bantu aku menjemur futon lapuk ini. Rumputnya sudah aku bersihkan tadi."
Shino berdiri di antara pintu geser halaman belakang dekat kolam renang. Chouji berjalan mendekati Shino yang sudah melepas bajunya hingga menyisakan kaos dalaman putihnya karena panasnya. Poni panjangnya ia kuncir ke atas, menyisakan beberapa helai tak rapi. Kacamata hitamnya ia letakkan di kamar hingga kini menampilkan wajah manisnya yang berkilauan karena refleksi air kolam. Chouji yang penampilannya sudah sama seperti Shino, mulai menarik futon lapuk yang di bawa Kiba.
Kaos Chouji yang setengah ia pakai karena panas kini ia gunakan untuk mengelap keringatnya. Setelah menempatkan futon lapuk itu agar terkena udara dan matahari di halaman dekat kolam, akhirnya pekerjaan Shino dan Chouji selesai juga.
"Chou, aku lelah. Jangan bangunkan aku jika tidak ada yang penting. Aku ingin istirahat sebentar."
Chouji hanya mengangguk ketika Shino sudah tiduran di kursi santai dekat kolam renang. Pemuda itu meletakkan tangan kanannya di dahi, menutupi sebagian wajahnya dari terik matahari yang menyengat. Chouji masih duduk di rerumputan. Ia mulai merebahkan tubuhnya untuk berbaring di rumput yang terasa menggelitik di kulit punggungnya.
Angin mulai berhembus, aroma dari dapur yang di masak Kurenai-sensei juga perlahan menggelitik hidungnya, dinginnya air kolam juga membuat kakinya segar. Ah musim panas tahun ini benar-benar!
.
.
.
Lapangan kecil di pantai terlihat ramai. Ino dan Karin menyudahi sunbathing mereka dan mulai bergabung menggantikan Iruka dan Guy di kubu yang berbeda. Permainan voley pantai yang di ketuai oleh Kakashi dan Anko di kubu berbeda ini cukup memanas. Pasalnya, hukuman untuk kubu yang kalah adalah mentraktir shabu-shabu di resto mini dekat villa. Tapi, pertandingan ini terhenti ketika perkelahian Ino dan Kiba yang mempermasalahkan point.
Sai dan Neji yang tertelan ombak ketika surfing, dan hanyut hingga ke bibir pantai. Tapi Sai tak pernah berhenti tertawa setelahnya.
"Hahahaha! Apa itu? Hahahaha, Neji ada rumput laut yang menempel di kepalamu! Hahahaha."
"Sai, ini rambutku. Bukan rumput laut."
Ten-Ten yang sudah menunggu di bibir pantai ikut tertawa. Ia membawakan dua handuk untuk Neji dan Sai yang basah karena surfing. Sementara Sai masih tertawa, Neji hanya mendengus kesal dengan merapikan rambut panjangnya.
.
.
.
Matsuri sudah memasukkan barangnya sambil menunggu Hanabi. Ketika Hanabi sudah beberapa meter di dekatnya, Matsuri membantu gadis bermarga Hyuuga itu untuk memasukkan barangnya. Kedua gadis yang rajin latihan karate ini sudah siap masuk bus ketika barang-barang mereka sudah selamat dan aman masuk ke bagasi.
"Hanabi, apakah tidak apa-apa jika kita tiba-tiba datang ke acara liburan kelas kakakmu?"
Hanabi masih menyisir rambut panjangnya yang berantakan. Ia tersenyum kecil melalui cermin yang ada di hadapannya.
"Tenang saja, disana ada Gaara-senpai kok. Lagipula ada Kakashi-sensei. Jadi pasti aman jika ada beliau disana."
Matsuri merona mendengar kalimat pertama Hanabi yang terlontar begitu saja. Ia mendudukan dirinya dengan keras di samping Hanabi yang masih tersenyum sendiri memandang pantulan wajahnya di cermin.
"Permisi, apakah kau.., Hyuuga?"
Hanabi yang merasa marga nya di panggil, sedikit melirik perempuan yang masih berdiri di samping kursi Matsuri.
"Shion-nee!"
.
.
.
Hinata meletakkan belanjaannya ke meja dapur. Sasuke meregangkan otot-otot tangannya yang kaku karena membawa semua barang. Villa yang tadinya sepi kini perlahan mulai terisi penuh. Shikamaru dan Asuma masuk ke dalam dapur villa dengan dua ember penuh ikan laut. Semua orang yang baru kembali dari pantai kini masuk ke dalam kamar mereka masing-masing untuk mandi. Terkecuali Shino dan Chouji yang masih tiduran di halaman belakang dekat kolam. Setidaknya itu cukup untuk mereka berdua merasakan nikmatnya musim panas.
.
.
.
Sakura dan Naruto duduk di pinggiran kolam renang dengan membiarkan kaki mereka basah. Membiarkan Sakura terus bergumam dan bercerita. Naruto hanya memejamkan matanya dan sesekali menjawab cerita Sakura dengan cerita yang lain. Naruto masih mengayun-ayunkan kakinya, membuat gelombang di air kolam renang. Tak jauh dari mereka, Shino dan juga Chouji masih tertidur.
"Naruto-kun, menurutmu bagaimana tentang Sasori-kun?"
"Huh? Si bocah merah sepupu Gaara itu? Hampir mirip seperti Sai kurasa."
"Kenapa? Bukankah mereka berbeda?"
"Beda apanya? Mereka berdua sama saja menyembunyikan perasaan mereka yang sesungguhnya. Selalu membuat wajah yang seperti baik-baik saja padahal ada maksud. Dia dan juga adikku, seperti itu … aku tidak menyangka. Cih, laki-laki seper-"
Plak
Sakura menampar dengan kuat pipi kanan Naruto hingga menyebabkan pemuda Uzumaki itu terjatuh ke dalam kolam. Menyebabkan air kolam naik hingga membuat Chouji bangun karena merasa basah. Begitu Chouji bangun, ia bisa melihat Sakura dan Naruto yang sepertinya bertengkar . ia melirik futon yang tadi ia jemur bersama Shino sebentar lalu beralih ke Shino yang masih tertidur. Naruto masih bertengkar dengan Sakura. Ia naik dari kolam renang dengan tubuh basahnya yang teasaa berat karena terisi beban air. Semua orang yang ada di villa keluar melihat keributan yang terjadi. Ten-Ten melihatdari balik punggung Neji. Sementara Neji mencegah Hinata yang hendak melerai Sakura dan Naruto. Sasuke melihat dari kamar Shikamaru yang tertidur. Dari jauh terlihat Kiba yang berlari membawa satu ember penuh air bersama Lee dan Guy-sensei. Di belakang mereka berjalan Kakashi-sensei dan Anko-sensei.
"Naruto bantu kita angkat em-"
"Jangan berbicara buruk begitu tentang Saso-"
"Untuk apa kau membela dia?!"
"Jangan memotong ucapanku Naruto-baka!"
"Oi, Naruto … Sakura,"
"Kau sudah mengatakan hal yang buruk Naruto!"
"Kau yang tidak mendengarkanku!"
"Oi, kalian berdua yang tidak mendengarkanku!"
"Untuk apa kau masih menyukai dan mempertahankan orang yang sudah mempunyai tunangan seperti dia!"
"Urusai!"
Sakura dengan keras mendorong tubuh basah Naruto hingga menabrak Kiba yang membawa ember penuh air hingga keduanya jatuh ke futon yang di jemur. Chouji yang sedari tadi melihat saja kini gigit jari dan melihat ke Shino yang tertidur lalu kembali ke futon yang kini basah tersiram air yang dibawa Kiba dan sekarang Kiba masih mengadu sakit di futon basah itu lalu kembali menatap Shino, begitu seterusnya hingga akhirnya ia memutuskan untuk membangunkan Shino. Naruto berdiri dari atas tubuh Kiba yang keduanya terjatuh ke futon.
Disana Sasori baru berjalan memasuki area yang sudah tegang ini. Sakura berjalan menuju ke arah Naruto yang akan melanjutkan kata-katanya. Sasori masih berdiri, ia melihat Sakura berjalan menampar Naruto. Ketika Sasori hendak melerai Sakura, suara lembut itu menghentikan mereka semua. Hinata dan Neji juga terkejut.
"Sasori-kun? Naruto-kun?"
"Hinata-nee! Neji-nii!"
"S-Shion-chan? Kau sudah datang?"
Sasori berhambur memeluk Shion dan menganggkat barang-barang Shion. Hanabi dan Matsuri berdiri di belakang mereka. Sakura masih melihat. Naruto memegang dagunya dan mendecih kesal. Ia melirik ke Sakura yang berdiri dengan tatapan kosong seakan ingin menangis. Naruto langsung berlalu melewati teman-temannya. Tak menghiraukan Hinata yang memanggilnya.
Naruto terus memukuli tembok di setiap kali ia melangkah. Semua orang yang melihat pertengkaran tadi masih terdiam. Selepas Naruto pergi, bahu dan kaki Sakura bergetar. Ia terjatuh dengan menutupi wajahnya yang menangis. Ino langsung berjalan mendekati Sakura dan menepuk pundaknya.
"Ano, kenapa kau menangis? Apakah Naruto-kun nakal? Aku akan menghukumnya."
Ino sedikit mengernyit ketika Shion berjongkok di dekat Sakura. Sasori berjalan membawa barang-barang Shion, Hanabi dan juga Matsuri masuk kedalam. Neji menerima barang-barang Hanabi ketika Sasori mengopernya. Shion membenarkan sikapnya yang tidak sopan di mata Ino lalu tersenyum.
"Gomen. Namaku Uzumaki Shion. Adik Naruto, dan juga tunangan Sasori-kun. Maaf jika aku datang mengganggu, Sasori-kun yang mengundangku kesini."
Shino yang baru bangun karena pukulan Chouji yang bertubi-tubi, sedikit mengucek matanya yang terasa lengket. Chouji bingung harus berkata apa langsung menunjuk Kiba yang masih ada di atas futon.
"Kau. Inuzuka Kiba. Hari ini kau keluar dan tidak tidur di kamarku!"
"EH?! S-Shino, tunggu ini bukan aku. Karena Narutooooo."
.
.
.
Suasana makan malam hari ini ramai. Sasuke duduk di samping Shikamaru yang masih diam memandang hidangan. Matsuri duduk disamping Gaara, memandang pemuda itu dan sering bertanya apa yang Gaara mau dari hidangan di meja. Di depan Sasuke, Hinata duduk. Gadis itu di apit Hanabi dan juga Neji. Di ujung yang berlawanan, Sakura dan Naruto duduk terpisah. Saling diam dan berbicara. Disamping Naruto, Shion duduk bersampingan dengan Sasori. Ino berbisik kepada Karin yang hanya menimbulkan dengungan tak berarti.
Hinata bergerak gelisah di tempat duduknya. Sasuke masih melirik Hinata yang ada di hadapannya. Hinata berbisik kepada Sasuke. Ia hanya membaca pergerakan bibir Hinata lalu mengangguk.
"Hari ini makan malam kita ikan bakar. Terima kasih kepada Asuma-kun dan Shikamaru yang mau memancing. Dan Anko-chan yang sudah membantuku."
.
.
.
Sasuke berjalan menuju pintu belakang yang terbuka menghubungkan dapur ruang makan dengan kolam renang dan halaman belakang. Sudah hampir tengah malam. Dan semua orang yang ada di villa sudah tidur. Sasuke mendudukan dirinya di samping Hinata yang duduk di pinggiran kolam dengan kakinya yang sudah terendam air kolam.
"Kenapa memanggilku tengah malam begini ketika makan malam tadi?"
Hinata menoleh mendapati Sasuke mulai memasukan kakinya ke dalam air. Hinata menunduk kemudian.
"Gomen Sasuke-kun, sepertinya hari ini banyak sekali masalah yang terjadi."
"Hn."
Hinata masih memandang gelombang air yang tercipta ketika Sasuke memasukan kakinya beberapa menit yang lalu. Sasuke menjawab hanya dengungan. Perlahan Hinata menyandarkan kepalanya di bahu Sasuke. Sasuke yang sedikit terkejut mulai melirik Hinata. Wajahnya merona. Perlahan tangannya ikut terjulur untuk mengelus puncak kepala Hinata.
.
.
.
T.B.C
Author Note:
Hancur sudah reputasiku sebagai Auhor. TT_TT
Apa ini?! Ya ampun tulisanku kenapa berantakan begini?!
Oh ya, info tambahan. Gomen … hati saya terasa bimbang untuk mengupload chapter selanjutnya My Lovely Witch. Entah rasanya itu takut tidak disukai dan chapter yang akan saya upload itu udah banyak saya rombak habis-habisan. Makanya gomen belum bisa keluar untuk beberapa saat ini.
Terima kasih sudah mau mampir
