Pairing: Kris X Chanyeol
Disclaimer: All characters belong to their own.
Warnings: Boys love. Cross-dressing. Highschool AU.
.
.
Mt_Chan proudly presents...
.
.
.
"PAPER PLANES"
-Chapter Three-
"SUDDENLY"
Waktu masih menunjukkan pukul 04.16 pagi ketika Kris merasakan sebuah garukan di lehernya—eh tunggu, garukan? Ini lebih terasa seperti tusukan. Pemuda yang baru berusia 20 tahun itu mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan diri dengan keadaan kamar yang hanya diterangi lampu tidur di meja nakas. Kris mengerang ketika mendapati sesosok hitam dengan mata menyala sudah duduk di samping bantalnya.
"Morning, Kylie." Sapa Kris pada sosok hitam itu.
"Meow!" Sosok hitam itu menyahut.
Kris tersenyum dan meregangkan tubuhnya sebelum akhirnya bangkit. Sosok hitam itu mengikutinya dan terus mengeong untuk mendapatkan perhatian. Kris membelai puncak kepala sosok hitam yang merupakan seekor kucing itu dan berjalan menuju tempat makannya.
Kegiatan ini adalah sesuatu hal yang rutin ia lakukan sejak ia mulai kuliah dan memutuskan untuk memelihara seekor kucing. Hewan berbulu hitam itu ia namai Kylie—dari nama artis Kylie Jenner dari Keluarga Kadarshian. Setiap pagi—atau dini hari lebih tepatnya, Kylie akan membangunkan Kris dan meminta jatah makan, meskipun Kris sudah menyiapkan makanan pada malam sebelumnya.
"Lihat! Aku membelikanmu kandang baru, kau suka?" Tanya Kris pada Kylie yang sudah sibuk mengunyah makanannya.
Kandang berwarna pink itu sepertinya akan cocok dengan warna bulu Kylie. Ia akan terlihat cantik seperti para anggota girlband yang sedang naik daun—blackpink! pikir Kris kala itu. Namun yang tiba-tiba membuat kedua sudut bibirnya tertarik ke atas adalah ingatannya mengenai dengan siapa ia membeli kandang itu.
Awalnya Kris mengira bahwa Chanmi adalah seorang gadis pemilih dan sombong. Namun setelah memperhatikannya lebih jauh, Kris kira gadis itu hanya pemalu. Ia begitu bodoh karena tidak sempat meminta nomor ponsel Chanmi. Begitu pikirannya sampai pada nomor telepon, Kris tiba-tiba sadar bahwa ia belum menyentuh ponselnya sejak semalam. Yunho bahkan tidak menghubunginya lagi.
Kris kemudian bangkit dan berniat untuk mencari parka yang semalam ia kenakan ketika ia baru ingat bahwa parka itu terbawa oleh Chanmi. Sempat kebingungan, Kris akhirnya memutuskan untuk datang ke rumah gadis itu setelah ia pulang kuliah nanti.
.
.
.
"Chanyeol..." Yoora mengetuk pintu kamar adiknya itu dengan hati-hati.
Setelah insiden yang terjadi semalam, ia belum sempat berbicara dan meminta maaf pada Chanyeol yang harus pulang dengan pakaian milik Ayah Kyungsoo—karena milik Kyungsoo terlalu kecil untuknya—dengan wajah bersungut-sungut. Pemuda itu pasti marah besar padanya karena menelantarkannya begitu saja.
"Chanyeol. Buka pintunya." Yoora mencoba sekali lagi.
Setelah beberapa menit akhirnya pintu kamar Chanyeol terbuka. Pemuda itu baru selesai mandi rupanya. Dengan rambut yang masih basah dan seragam yang ia pakai seadanya, Chanyeol membiarkan kakaknya masuk dan menutup pintu kamarnya lagi.
"Hey, aku minta maaf. Aku tidak seharusnya membiarkanmu pergi dengan Kris sendiri semalam." Kata Yoora memulai.
Chanyeol terlihat mengacuhkannya dan memilih untuk memakai kaus kaki.
"Aku tidak akan memaksamu untuk menjadi Chanmi lagi, dan sesuai janjiku..." Yoora menyodorkan sebuah tiket berwarna emas pada Chanyeol yang mau tidak mau akhirnya melirik ke arah benda itu.
Chanyeol menahan diri untuk tidak berteriak kegirangan ketika wajah keempat personel One Ok Rock terpampang pada tiket itu. Pemuda itu menerimanya dan memandang Yoora yang terlihat merasa bersalah.
"Kau tahu, aku harus memanggil Kyungsoo "Oppa" semalam." Kata Chanyeol sebelum menyimpan tiket itu ke dalam tasnya.
Yoora membulatkan matanya dan menahan tawanya sekaligus. "O—op—Oppa?"
Tawa Yoora akhirnya meledak. Ia semakin merasa bersalah pada adiknya itu tetapi ia justru menyayangkan momen ketika Chanyeol memanggil Kyungsoo dengan panggilan itu.
Sementara itu, ketika Chanyeol tengah mengeringkan rambutnya, ia tiba-tiba teringat sesuatu. Pemuda itu meletakkan mesin pengering rambutnya dan meraih sebuah parka di gantungan pakaiannya.
"Tolong kembalikan ini pada Kris. Ada ponselnya juga di dalam." Jelas Chanyeol.
"Wow. Kau bahkan membawa pulang parkanya, huh? Beruntung sekali. Aku bahkan tidak sempat bergandengan tangan dengan Yunho." Kata Yoora sambil memeriksa parka milik Kris.
"Hey, kau mau mengembalikannya sendiri pada Kris?" Tanya Yoora dengan mata berbinar.
"Aish." Chanyeol menggerutu dan berpura-pura akan melempar mesin pengering rambut itu pada kakaknya.
Pemuda itu kemudian menceritakan detail kejadian yang menimpanya semalam. Bagaimana ia harus berpura-pura pulang ke rumah Kyungsoo dan mengaku sebagai adiknya, Chanyeol melewatkan bagian di mana Kris berniat untuk menciumnya tentu saja.
"Kau serahkan saja semuanya padaku. Aku bersumpah Kris atau siapapun di dunia ini tidak akan melihat Chanmi lagi." Ujar Yoora yang membuat Chanyeol bisa bernafas lega.
.
.
.
Setelah menyelesaikan kuliahnya siang itu, Kris yang sudah berniat untuk pergi ke rumah Chanmi demi mengambil ponsel—dan menemui gadis itu tentu saja, berpapasan dengan Yunho. Pemuda yang merupakan kakak tingkat Kris itu menyapanya dengan terlalu sumringah.
"Hei bro! Kau langsung membawanya pulang, huh?" Goda Yunho dengan kedipan mata.
Kris menghela nafas dan berniat untuk tidak meladeninya. Namun Yunho tiba-tiba merangkul pundaknya dan berbisik di telinganya.
"Aku punya sesuatu untukmu dari Chanmi."
Kris menghentikan langkahnya dan menatap Yunho yang tersenyum jahil padanya.
"Apa?" Tanya Kris yang tidak ingin berbasa-basi.
"Aw, tidak sabaran sekali. Kau tertarik padanya?" Yunho masih berusaha untuk menggodanya.
Kris mendecakkan lidah yang akhirnya membuat Yunho menyerah dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Tadi pagi Yoora menyerahkan ini. Dia bilang ponselmu juga ada di dalamnya." Kata Yunho sambil memberikan parka itu pada pemiliknya.
Kris memandang nanar parka di tangannya. Pupus sudah harapannya untuk bertemu lagi dengan Chanmi. Yunho yang memandang ekspresi wajahnya hanya mendengus.
Kris sudah tergoda untuk meminta nomor telepon Chanmi pada Yoora melalui Yunho, tetapi pemuda itu menelan kembali niatannya. Ia akan berusaha sendiri, dan selama ini Kris tidak pernah gagal untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
.
.
.
Sesampainya di sekolah, Chanyeol tak henti-hentinya memamerkan tiket konser One Ok Rock itu pada teman-teman di kelasnya. Ia bahkan menenteng kertas berwarna emas itu seperti sebuah penghargaan yang baru saja diterimanya. Chanyeol melewatkan bagian tentang caranya untuk mendapatkan tiket itu. Ia bahkan membuat Kyungsoo berjanji dan mengiming-iminginya sebuah traktiran agar tutup mulut dengan kejadian semalam.
"Yah! Kau pergi sendiri? Bagaimana kalau ada Ahjusshi yang menculikmu di tengah konser?" Goda Baekhyun sambil memainkan jari-jari lentiknya.
Chanyeol memutar bola matanya. Ia sudah cukup dewasa untuk menonton konser sendirian dan bisa menjaga diri dengan baik. Materi ekstrakulikuler Taekwondo yang ia ambil selama SMP masih hafal sampai sekarang.
Tiba-tiba seorang gadis yang sepertinya adik kelas itu menghampiri gerombolan Chanyeol dan teman-temannya. Gadis itu mendekat dengan kepala tertunduk. Gerombolan itu terdiam dan memperhatikan gerak gerik gadis berkulit pucat dengan rambut panjang tergerai itu.
"Ch-Chanyeol Oppa." Panggil gadis itu pelan.
Chanyeol kemudian berdiri di hadapan gadis itu. "Huh?" Ia sudah terbiasa dengan kejadian seperti ini.
"Aku dengar Oppa akan menonton konser One Ok Rock besok. Aku juga baru saja membeli tiketnya. Mau pergi bersama?" Tanya gadis itu dengan suara pelan.
Chanyeol sampai harus menajamkan telinganya agar bisa menangkap pertanyaannya.
"Aku akan pergi dengan Kakakku. Kau sebaiknya mengajak yang lain." Kata Chanyeol tanpa ragu-ragu.
Saking seringnya ia menemui hal-hal seperti ini, maka semakin lancar pula Chanyeol membuat-buat alasan untuk menolak mereka. Selain karena menurutnya pergi ke konser dengan seorang gadis itu akan merepotkan, juga karena ia tidak ingin ada rumor yang berkembang di sekolah ini. Ia yakin jika ia menyetujui ajakan gadis itu, maka gadis itu akan berpikir bahwa ia juga menyukainya. Chanyeol sudah bekerja keras selama hampir tiga tahun ini untuk menjaga image: sexy, free and single-nya.
"Ah, baiklah kalau begitu." Tanpa menunggu lebih lama lagi, gadis itu berlari kecil meninggalkan kelas Chanyeol dan gerombolannya.
"Satu lagi korban penolakan dari Park Chanyeol. Aku yakin tahun depan mereka akan membuat klub anti-fansmu." Komentar Sehun tanpa mengalihkan perhatian dari ponsel di tangannya.
"Untungnya aku sudah tidak akan berada di sekolah ini tahun depan." Balas Chanyeol.
"Mereka akan mengejarmu sampai ke universitas." Kata Jongin sambil tergelak.
Obrolan mereka kemudian beralih pada universitas mana yang akan mereka masuki setelah lulus nanti mengingat tahun ajaran mereka di kelas tiga ini akan segera berakhir.
.
.
Hari H untuk konser band idaman Chanyeol akhirnya tiba. Pemuda itu sudah begitu antusias ketika ia membuka matanya sejak pagi. Ia bahkan mengobrak-abrik seluruh isi lemarinya untuk mencari pakaian yang pas nanti malam. Beruntung hari Sabtu sekolahnya libur sehingga ia bisa memanfaatkan hari ini untuk mempersiapkan diri.
Yoora hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat Chanyeol menghabiskan waktu di dalam kamar dengan iringan lagu dari band rock yang begitu ia puja-puja. Ia tiba-tiba menyesali janji yang ia ucapkan ketika membujuk Chanyeol sebelumnya dan mengizinkan pemuda itu memutar lagu rock dengan volume yang memekakkan telinga.
Pukul 18.00 sore, Chanyeol sudah siap dengan berbagai atribut konser yang ia masukkan ke dalam tas ranselnya. Pemuda itu akhirnya memutuskan untuk memakai kaos berwarna dengan tulisan nama band di bagian depannya dan celana jeans untuk pergi ke konser itu. Yoora sudah menawarkan diri untuk mengantarnya ke tempat konser ketika Chanyeol menggelengkan kepalanya dan memilih untuk naik bis.
Konser yang akan dimulai pukul 20.00 itu sudah dipadati oleh para penonton yang mulai berdatangan. Chanyeol mengeluarkan tiketnya dan menyerahkannya pada petugas untuk diperiksa sebelum masuk ke arena konser dan mencari tempat duduknya.
Yoora tidak berbohong ketika berjanji untuk membelikannya tiket VVIP. Dari tempat duduknya ini, Chanyeol bisa melihat dengan jelas isi panggung dan hal itu membuatnya semakin antusias.
.
.
.
Malam itu Kris sudah berniat untuk pergi tidur ketika Kylie ke luar dari kandang dan menghampirinya. Pemuda itu mengangkat Kylie dan menggendongnya ketika kucing itu justru melompat turun. Sambil mengeong, Kylie menuntun Kris pada tempat makannya yang sudah hampir kosong.
"Kau mau makan lagi? Kau tidak takut gendut, huh?" Kris membuka tempat penyimpanan makanan Kylie ketika ia justru membelalakkan matanya. Ia lupa membeli makanan untuk Kylie siang tadi karena ia terus memikirkan cara untuk mendapatkan nomor ponsel Chanmi.
Dengan berat hati, Kris mengambil jaket dan dompetnya untuk pergi ke swalayan terdekat. Ia tidak yakin tempat penjual makanan hewan masih buka pada jam-jam seperti ini.
.
.
Pukul 23.00 malam akhirnya konser itu selesai. Para penonton berjalan menuju pintu keluar dengan rapi. Chanyeol yang baru saja bersenang-senang sibuk mengatur detak jantung dan adrenalin yang memacu di tubuhnya. Tenggorokannya bahkan terasa sedikit sakit akibat terlalu banyak berteriak—baik itu ikut bernyanyi maupun menyoraki Toru yang lewat di hadapannya.
Begitu keluar dari gedung, sambil berjalan menuju halte bis Chanyeol membuka sebuah botol air mineral yang ia bawa dan meminumnya ketika seseorang menyenggol lengannya hingga air dari botol itu tumpah pada bagian depan kaosnya. Chanyeol tanpa sadar mengumpat. Seseorang yang menyenggolnya itu menoleh dan memandangnya dengan sinis.
"Yah! Bukannya dia yang duduk di sebelahmu tadi? Cih, meneriaki personel band seperti seorang gay!" Orang itu berbicara pada temannya.
Darah Chanyeol mendidih. Ia sudah akan membiarkan orang itu ketika ia menyenggolnya tadi tapi kini ia juga mengatainya sesuka hati. Chanyeol menenggak sisa air di dalam botol dan menyemburkannya pada wajah orang itu. Semuanya terjadi begitu cepat dan Chanyeol tidak mempersiapkan diri ketika orang itu meninju pipinya. Sudut bibir Chanyeol robek karena tergesek akibat hal itu.
Chanyeol membuang botol air mineralnya dan membalas orang itu juga dengan sebuah tinju di wajahnya. Adu hantam tidak dapat terelakkan. Chanyeol beberapa kali mendapatkan pukulan di pelipis dan dagunya. Tidak ada yang berniat untuk memisahkan mereka hingga sebuah teriakan membuat keduanya berhenti sejenak.
"Yah! Yah! Yah!" Seorang pemuda melingkarkan lengannya pada bahu Chanyeol ketika ia berniat untuk melayangkan pukulan pada lawannya lagi.
"Aku baru saja memanggil polisi." Ancam pemuda yang berada di belakang Chanyeol dan membuat orang-orang itu membubarkan diri.
Chanyeol sudah akan mengejar mereka ketika pelukan orang di belakangnya mengendur. Namun pemuda itu cepat-cepat menahan lengan Chanyeol sebelum terlambat.
"Hentikan. Polisi akan benar-benar membawamu karena kau masih di bawah umur." Kata pemuda itu.
Chanyeol akhirnya menoleh dan jika saja pelipisnya tidak bengkak tentu ia akan membelalakkan matanya ketika melihat pemuda yang menahannya itu. KRIS. Dari sekian miliyar manusia di dunia ini kenapa orang yang harus mendapatinya dalam keadaan seperti ini adalah Kris. Apakah Tuhan tidak bisa mengirimkannya malaikat penolong seperti Chris Evans misalnya?
Chanyeol menarik lengannya dari cengkeraman tangan Kris. Kini seluruh wajahnya terasa perih dan bengkak. Kris mengeluarkan sapu tangan dari saku jaketnya dan mengelap sudut bibir Chanyeol. Pemuda itu tentu saja mengelak dan menahan tangan Kris.
"Ayo kita pergi dari sini." Tanpa menunggu persetujuan Chanyeol, Kris menarik tangan pemuda itu dan mendorongnya dengan paksa ke dalam mobilnya.
Whoa. Kali ini Kris akan benar-benar memutilasinya. Chanyeol masih belum berhasil menghilangkan pikirannya pada kejadian beberapa malam lalu ketika ia menghabiskannya dengan Kris—sebagai Chanmi tentu saja.
Chanyeol mendadak gugup ketika Kris mengendarai mobilnya. Mereka berdua terdiam selama perjalanan dan Chanyeol bisa bernafas sedikit lega ketika Kris memakirkan mobilnya di depan sebuah apotek.
"Tunggu sebentar." Kris keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam apotek yang buka 24 jam itu.
Chanyeol melirik arlojinya dan waktu menunjukkan pukul 23.52. Haruskah ia menelepon Yoora agar menjemputnya di sini? Namun pikiran Chanyeol terhenti ketika Kris sudah kembali dengan membawa satu kantung plastik.
Kris mengeluarkan satu botol alkohol dan kapas dari dalamnya. Chanyeol hanya bisa membeku ketika cairan itu akhirnya menyentuh lukanya. Pemuda itu tanpa sadar mengeluarkan semua sumpah serapah yang ia ketahui dan membuat Kris mendengus.
"Bagaimana kalau kau langsung cuci muka menggunakan cairan ini? Wajahmu hampir luka sepenuhnya." Komentar Kris pelan.
Di antara rasa perih dan kebas di wajahnya itu, Chanyeol bisa merasakan hembusan nafas hangat Kris yang menyapu pipinya. Dan ketika Kris meniup luka di sudut bibirnya dengan lembut, Chanyeol sungguh berharap nafas Kris akan berbau busuk atau sejenisnya. Tapi nafas Kris berbau mint dan hal itu sungguh tidak adil bagi Chanyeol. Barangkali pemuda itu sudah merencanakan tindakan meniupnya ini dan mempersiapkan diri di dalam apotek tadi dengan memakan permen karet atau apa, Chanyeol tanpa sadar menghela nafas.
"Apa yang kau lakukan di sana?" Tanya Kris sambil tetap fokus membersihkan luka di wajah Chanyeol sementara pemuda itu sibuk mengatur detak jantungnya.
"Aku baru selesai menonton konser." Jawab Chanyeol dan memutar matanya ke segala arah, mana pun, selain wajah tampan—ehm Kris di hadapannya.
Sebuah senyuman tersungging di wajah Kris. Entah kenapa wajah Chanyeol terlihat familiar dengan jarak sedekat ini. Ia seperti pernah berada di posisi ini sebelumnya. Pandangan Kris kemudian tanpa sadar jatuh pada pundak Chanyeol yang sedikit tersingkap akibat kaos yang dipakainya molor karena berkelahi dengan para pemuda tadi. Kris membuyarkan pikiran aneh yang sudah siap untuk menyusup ke dalam kepalanya ketika pandangannya kemudian beralih pada bulu mata milik Chanyeol yang terlihat lentik. Kris menelan ludahnya.
"Kau sudah menepuk-nepuk bagian itu selama lebih dari lima menit. Kau mau melakukannya sampai setengah jam?" Komentar Chanyeol.
Kris menjauhkan tubuhnya dan membuang kapas di tangannya. Ia tiba-tiba salah tingkah karena ketahuan memperhatikan Chanyeol. Ia tidak ingin Chanyeol berpikiran macam-macam mengenai dirinya.
"Sudah selesai. Aku akan mengantarmu pulang." Kris mencengkeram kemudi dan menyalakan mobilnya sebelum Chanyeol sempat menolak.
Begitu sampai di depan rumahnya, Chanyeol segera mengucapkan terima kasih dan berniat untuk mengganti uang yang Kris pakai untuk membeli kapas dan alkohol tadi. Kris menolaknya dan sebagai gantinya ia justru melontarkan pertanyaan yang justru membuat Chanyeol serasa mati berdiri.
"Uh, aku hanya penasaran barangkali kau kenal dengan adik Kyungsoo?"
Chanyeol mengumpat dalam hati. Ia memohon pada semua dewa di dunia ini untuk menelannya hidup-hidup saja.
Chanyeol menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengangkat bahunya.
"Uh, aku tidak yakin. Kau sebaiknya tanya Kyungsoo saja sendiri. Aku harus segera masuk dan terima kasih sekali lagi." Chanyeol buru-buru menutup pintu mobil Kris dan berlari ke dalam rumah.
Kris tersenyum singkat sebelum menjalankan mobilnya. Sesampainya di apartemennya giliran Kris yang mengumpat karena ia lupa membeli makanan kucing yang menjadi tujuan utamanya pergi keluar tadi. Kylie akan membunuhnya malam ini, batin Kris sambil mengutuk dirinya sendiri.
.
.
.
Yang tidak Chanyeol harapkan ketika ia tiba di sekolah pada hari Senin adalah sebuah kabar mengenai pertandingan ulang tim sekolahnya dengan tim Tiger. Orang tuanya sudah memarahinya habis-habisan di rumah karena wajahnya yang babak belur dan ketika sampai di sekolah pun tampaknya ia harus berhadapan dengan kesialan lainnya. Bukan pertandingan basket yang Chanyeol takutkan, tetapi bertemu Kris adalah mimpi buruk baginya—meskipun wajah tampan Kris adalah bagian dari mimpi indahnya—ehm.
"How? Why?" Otak Chanyeol sepertinya tidak berfungsi untuk menyusun kosakata dengan bahasa Korea saat ini.
"Kalian tahu, kata Suho hyung, kali ini Kris sendirilah yang menantang kita." Jelas Jongin dengan antusias.
"Bukankah dia masih cedera?" Tanya Kyungsoo dengan mata bulatnya.
Teman-temannya mengangkat bahu.
"Justru ini adalah kesempatan kita untuk menundukkan mereka. Aku yakin dengan cederanya, Kris tidak akan bermain maksimal." Ujar Baekhyun penuh semangat.
Sementara teman-teman satu timnya berapi-api dengan pertandingan itu, Chanyeol justru hanya bisa membeku di tempatnya. Ia merasa ada yang tidak beres dengan tantangan Kris pada tim watermelon saat itu.
Dan dugaan Chanyeol adalah benar ketika akhirnya mereka berkumpul di lapangan basket sepulang sekolah. Teman-temannya sudah melarangnya untuk ikut bertanding, namun Chanyeol tetap datang ke lapangan untuk melihat yang terjadi pada pertandingan itu.
Sebelum pertandingan dimulai, kedua tim berhadap-hadapan untuk berjabat tangan seperti biasa. Chanyeol untuk pertama kali melihat Kris memakai seragam basketnya dan ia terlihat lebih tinggi dari biasanya. Dengan celana pendek, Chanyeol bisa melihat lutut Kris yang berbalut perban. Untuk apa Kris bersusah payah menantang tim sekolahnya jika ia sendiri sedang cedera seperti itu. Chanyeol masih tidak mengerti dengan alasannya.
Chanyeol duduk di kursi pemain dan memperhatikan teman-temannya di lapangan. Posisinya digantikan oleh rekan timnya yang merupakan seorang adik kelas. Ketika mereka mulai berjabat tangan, Kris tiba-tiba membuka suaranya.
"Untuk membuat pertandingan ini menarik, bagaimana kalau kita juga membuat taruhan?" Kata Kris.
Pemain basket yang ada di lapangan saling bergumam, bahkan Suho akhirnya ikut masuk ke dalam lapangan.
"Taruhan?" Suho memastikan.
Kris mengangguk yakin.
"Jika timku kalah, kalian bisa meminta apapun dariku." Kris memulai. Kebetulan saat itu ia sedang berdiri di hadapan Kyungsoo dan menjabat tangannya. Kyungsoo terlihat begitu kecil di hadapan Kris.
"Tapi jika tim kalian kalah.." Kris mendekatkan diri pada Kyungsoo dan sedikit membungkukkan tubuhnya sebelum berkata, "...aku ingin meminta nomor telepon Chanmi."
.
.
BERSAMBUNG
Heuheu.
Dengan cinta,
Mt_Chan
