Disclaimer: Masashi Kishimoto(Naruto)
Ichie Ishibumi(DxD)
Genre: Adventure, Supranatural, a bit of Romance
Pair: Naruto x ...
Warning: Gaje, jelek, non-EYD, dan banyak lageh...
o
~oOo~
o
* Grayfia POV*
"Dimana 'sih dia." Aku tak tahu, sudah berapa kali aku mengeluhkan itu sejak beberapa jam lalu. Jam sudah menunjukan setengah sepuluh dan dia masih belum pulang juga?. Ingatkan aku untuk memberinya hukuman sesampainya dirumah nanti.
"Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, silah-"
*Tut!.* Aku melemparkan ponselku kearah sofa. Ini sudah panggilanku yang kelima kalinya sejak dua jam yang lalu. Makan malam yang aku siapkan sejak tadi sudah mulai mendingin. Padahal hari ini aku membuatkan makanan kesukaannya.
"Naruto bodoh!." Aku menghempaskan tubuhku dengan kasar pada sofaku. Aku merasa khawatir, mungkinkah dia sedang kencan dengan pacarnya? Ah tidak-tidak, Naruto itu kan tidak tertarik dengan yang berbau romansa.
Entah perasaanku saja, atau langit tampak lebih gelap dari biasanya. Kuraih Handphone yang tadi kulemparkan, aku mengusap layar dibagian wajahnya berada, yah aku menggunakan foto kami berdua sebagai wallpaper.
"Naruto, kau dimana?."
*Grayfia POV End*
o
*Kuoh Garden Street*
o
"Bertahanlah Gremory-san!."
"Jangan pikirkan aku." Kesunyian malam kota Kuoh terpecah akibat suara langkah kaki dan seruan dua orang remaja yang tengah berlarian. Keringat membasahi tubuh keduanya, nafas mereka juga terlihat begitu memburu.
"Aduh!. Ada apa Uzumaki-san? Kenapa berhenti?." Gadis bersurai merah yang benama Rias mengaduh saat tubuhnya bertabrakan dengan punggung lebar orang yang ada didepannya.
"Dia, didepan kita." Sipirang tampak mengeraskan rahangnya melihat mahkluk yang sedari tadi mengejar mereka sudah menanti mereka, tepat beberapa meter didepan mereka. Sabit yang mereka pikir masih menacap dalam pohon yang jauh berada dibelakang mereka, kini sudah tergenggam ditangan mahkluk itu.
"Mu-mustahil." Rias menutup mulutnya tak percaya. Dia merasa usaha mereka melarikan diri tak ada artinya.
"Apa yang kau inginkan? Kenapa kau mengincar kami?." Sipirang yang benama Naruto itu berseru pada sosok Teke-Teke yang berada didepannya itu.
"Kepalamu!." Jawab sosok itu dan dengan cepat langsung merayap kearah mereka. Sontak saja itu membuat keduanya panik bukan kepalang lalu segera memutar arah dan berlari. Mencoba mengabaikan rasa lelah yang mereka rasakan, namun...
*Brugh!.*
"Akhhh! Sa-sakit."
"Gremory-san!." Tiba-tiba gadis merah itu jatuh tersungkur akibat kakinya berhasil digapai oleh mahkluk itu. Dengan sekuat tenaga, gadis merah itu menendang-nendang tangan Teke-Teke yang mencengkram kakinya dengan erat.
"Kyaa! Pergi! Pergi!." Teriak gadis itu dengan histeris sambil terus menendangi Teke-Teke itu dengan kakinya yang bebas.
"Pergi darinya kau mahkluk jelek!."
*Duagh!.* Ujung sepatu Naruto membentur kepala Teke-Teke dengan amat keras. Mengakibatkan korbannya terpental lumayan jauh, ditambah lagi tubuh mahkluk itu yang tampa kaki membuat bobotnya jauh lebih ringan.
"Kau baik-baik saja? Cepat kita harus per- Arghhh!."
"Mati! Mati!." Tubuh Naruto terbanting dengan keras saat Youkai itu nenerkam tubuhnya dengan sangat kuat. Kini, Naruto tengah berada dalam kondisi yang amat gawat, dimana Teke-Teke itu mencoba menggigit leher Naruto dengan giginya yang tajam. Naruto mengutuk dalam hati, kenapa tak ada seorang pun yang lewat?.
"Arggh! Menyingkir dariku mahkluk jelek!." Semua usahanya seakan sia-sia saat tenaganya mulai habis tuk menahan gempuran mahkluk yang tengah menindihnya itu. Saat itulah, pandangan Naruto menangkap sabit besar yang tergeletak tak jauh darinya, dia mencoba menggapai benda tajam itu, namun tangannya tak mampu meraihnya.
"Enyah kau iblis!."
*Slash!.* Mata Naruto terbelalak saat menyaksikan dengan matanya sendiri, kepala mahkluk itu lepas dari lehernya akibat ditebas dengan sabit yang kini digenggam oleh Rias. Bau busuk menguar dari lelehan darah yang mengalir dari leher terpotong Teke-Teke. Membasahi wajah dan pakaian yang Naruto kenakan.
*Klang!* Bersamaan dengan jatuhnya benda tajam di genggamannya, Rias ambruk dan jatuh tak sadarkan diri. Tubuh mahkluk yang masih berada diatas Naruto mengurai menjadi butiran debu, meninggalkan Naruto yang masih terjaga dengan kondisi mengenaskan, wajah syok yang dibasahi cairan kental dengan bau yang amat busuk.
"Aku selamat..."
o
~oOo~
o
"Kau baik-baik saja Gremory-san?"
"Uzumaki-san? Dimana mahkluk itu?." Rias bangun dari pingsannya saat merasa pipimya ditepuk pelan oleh Naruto. Naruto membantu Rias yang kesulitan bangun akibat rasa pening dikepalanya.
"Dia sudah pergi. Kita aman sekarang." Ujar Naruto. Tampak pemuda itu sedikit menggigil akibat bertekanjang dada. Tunggu dulu, kenapa pemuda itu bertelanjang dada?
"Ugh!." Rasa mual menyerang perut Rias saat mengingat kejadian beberapa waktu lalu, saat dirinya memenggal kepala mahkluk itu. Dia menutup kedua matanya dan mulai terisak. Dengan inisiatifnya, Naruto menarik Rias dalam pelukannya, membiarkan gadis itu menangis bergetar dalam dekapannya.
"Kita aman sekarang, akan ku anatar kau kerumahmu." Rias menolak tawaran Naruto dengan gelengannya.
"Aku takut, aku akan tidur ditempatmu. Aku hanya sendiri dirumah, ayah dan ibu sedang keluar kota." Naruto memahami yang gadis itu rasakan, tentunya hal yang terjadi malam ini membuatnya trauma.
"Baiklah." Keduanya pun melangkahkan kakinya untuk menuju kekediaman Naruto. Tempat itupun kembali sunyi dalam kegelapan. Namun, tak jauh dari lokasi insiden tersebut, muncul satu sosok lagi.
"Menarik." Gumam sosok itu dan kembali hilang dalam kegelapan.
o
*Grayfia's House*
o
*Tok. Tok. Tok.*
"Ah, Naruto?." Gadis bersurai perak pun bangkit dari sofanya saat mendengar ketukan pintu.
*Klack.*
"Darimana saja kau ak- kyaa! Kenapa kau telanjang dada? Siapa gadis ini? Jangan-jangan kau- Tidaaaakk!..." Grayfia pun pingsan dengan mata yang membentuk obat nyamuk. Kedua insan yang menyaksikan adegan absurd itu tak mampu untuk menahan rahang mereka untuk terjatuh.
"Kakak! Kakak! Bangun Kakak!."
o
~oOo~
o
*Whush! Tap!* Dari balik gelapnya malam, sesosok mahkluk dengan sayap hitam muncul dan mendarat didepan sebuah pintu gerbang yang nampak tak terawat. Matanya memandangi sebuah papan nama tak jauh dari gerbang itu, kepala gagaknya menengok dengan seksama isi tulisan dari papan nama itu.
"Namikaze." Darahnya seakan mendidih saat melafalkan kata itu. Dia melangkah pelan hingga berdiri tepat bebrapa senti dari depan onggokan besi berkarat yang jadi penghalangnya untuk memasuki rumah yang ada dibaliknya itu.
*Klank!.* Gerbang tua itu lepas dan terlempar jauh akibat tekanan kekuatan yang dia keluarkan. Mata merah terangnya memandangi halaman rumah yang banyak ditumbuhi berbagai macam tanaman liar yang begitu tinggi. Langkahnya terhenti tatkala memasuki sebuah kuil kecil yang terletak di lantai bawah tanah rumah itu. Suasan tempat itu begitu sunyi, bahkan langkah kakinya terdengar begitu jelas dan bergema. Ditambah lagi suasana kuil kecil itu yang pengap akibat kurangnya ventelasi serta dipenuhi debu dan sarang laba-laba.
"Nisan Merah Terang." Gumamnya ketika kedua nata tajamnya itu menemukan sebuah batu yang nampak seperti sebuah prasasti dalam kuil kecil dirumah itu. Tangan kekarnya mencoba menyentuh benda itu.
*Ctak!* Kilatan petir tiba-tiba muncul dan menyengat jemari manusia gagak itu. Dia memandangi tanganya yang sudah dihiasi luka bakar akibat sengatan tadi.
"Rasa sakit ini, tak sebanding dengan penderitaan yang para Saudaraku rasakan. Tunggu saja, waktu pembebasan kalian akan segera datang. Dendam kita akan segera terbalaskan." Ucapannya sambil mengepalkan tangannya yang terus mengalirkan darah segar. Aura kekuatannya menguar seiring kebenciannya yang terus meluap.
*Whush! Brak!.* Dalam sekali hentakan, Mahkluk gagak itu pun melesat terbang menghancurkan atap bangunan itu hingga berlubang. Langit malam seakan menelannya, menyisakan ruangan itu dalam kondisi berantakan dengan beberapa helai bulu hitam yang melayang-layang.
o
~oOo~
o
"Aku tak tau harus bagaimana. Tapi aku bersukur kalian berdua selamat." Grayfia tengah memijit-mijit keningnya pelan. Setelah berbincang-bincang dengan dua orang yang kini duduk disebrang meja makan itu, Grayfia tau bahwa adiknya adalah contoh dari segelintir orang yang memiliki persentare kesialan yang tinggi. Bagaimana tidak, mereka nyaris saja tak selamat akibat diburu oleh mahkluk yang tak jelas asal-usulnya itu.
"Jadi kak, bolehkah Gremory-san menginap disini?." Naruto merujuk kakaknya untuk mengijinkan Rias untuk tinggal sementara.
"Apa boleh buat, mana mungkin aku membiarkan gadis yang sedang stress tinggal sendirian. Kau bisa tinggal disini hingga keluargamu pulang." Grayfia paham betul keadaan gadis itu. Dia pasti sedang 'down'.
"Terimakasih, Lucifuge-san."
"Baiklah, kita mulai makan malamnya. Jangan sungkan Gremory-san."
o
*Hyuuga Mansion*
o
*Tap. Tap. Tap.*
Langkah kaki memecah pelan keheningan malam. Seorang gadis cantik bersurai indiogo tengah berjalan pelan diatas lantai kayu sebuah rumah megah yang bergaya tradisional. Raut wajahnya menyiratkan bahwa gadis itu tengah memikirkan sesuatu dengan keras.
"Kenapa aku memberitahunya. Baka! Baka! Hinata no Baka!." Ucap gadis itu sendirian sambil menjambak rambutnya sendiri frustasi. Pikirannya tak henti-hentinya memikirkan kejadian kemarin melam saat dirinya 'bertamu' kekamar mandi dimana seorang laki-laki pirang tengah mandi. Dialah Hinata Hyuuga, seorang indigo seperti Naruto. Hanya saja dia memiliki kemampuan spesial untuk melepaskan arwahnya, yang sering disebut dengan 'Astral Projection'. Sehingga dia dapat pergi kemana saja tampa harus memikirkan badan kasarnya. Selain itu kemampuannya itu juga disempurnakan dengan kemampuan untuk merubah bentuk arwahnya itu sesuka hatinya.
"Aku kapok bermain-main dengan rumah itu." Ujarnya dengan rona merah yang menghiasi pipinya. Dia mengingat kejadian saat laki-laki pirang yang coba dia jahili malah berbalik membuatnya trauma. Jelas saja, dia dengan bangganya menunjukan kejantanannya pada gadis remaja itu.
o
*Flashback*
o
*Hinata POV*
"Saatnya beraksi." Aku merasa sungguh bersemangat ketika melihat rumah yang akan jadi tempat untuk melakukan kegiatanku malam ini. Menakut-nakuti orang tentunya, apalagi jendela kamar mandi itu terbuka, pasti gadis menyebalkan itu tengah mandi sekarang.
*Poft!* Bersaamaan dengan munculnya kepulan asap, tubuh transparanku berubah menjadi sosok hantu yang ada di film horor yang aku sukai. Sadako, hantu wanita berdaster putih tentunya. Bisa dibilang bentuk ini adalah faforitku.
"Bersiaplah Grayfia, hari ini akan ku buat kau berteriak ketakutan. Itu balasan sudah berani membuat kak Neji patah hati." Ujarku sambil melayang-layang menembus tembok itu. Pandanganku dipenuhi oleh warna putih bersih kamar mandi itu, apalagi saat ini posisiku adalah dibagian sudut ruangan itu sehingga dapat aku lihat secara jelas isi dari ruangan basah ini.
"Are?." Aku terkejut mendapati bukan gadis berambut perak yang tengah mandi, melainkan remaja pirang yang tengah berendam. Gawat, dia menoleh kesini.
"Hallu." Dia dengan santainya menyapaku. Saat ini aku yakin mataku tengah melotot. Tidak! Aku harus profesional dalam menakutinya.
"Pergi!..." Aku mengeluarkan salah satu dialog andalanku. Aku yakin, stelah ini dia akan gemetar ketakutan. Tapi, kenyataan malah menghianatiku.
"Pergi? Tapi ini rumah kakakku, lagipula aku baru pindah disini. Lagipula, bukan kau saja yang pergi? Ini bukan 'rumah'-mu bukan?" Apa-apaan dia itu! Bukannya malah takut, dia justru menjawabku sambil tersenyum.
"Pergi!... Pergi!... Pergi!..." Aku kembali mengulanginya, hanya saja dengan suara yang lebih keras.
"Agkhghhh.!" Aku terlonjak kaget saat dia tiba-tiba orang itu bangkit dari bak mandinya. Bukan tampangnya atau posturnya yang membuatku kaget, melainkan benda keramat diantara kedua pahanya lah yang buatku panik.
"Sudahlah, pergilah dengan tenang. Kau hanya buang-buang waktu dan tenagamu untuk ini." Aku yakin, wajah hantuku saat ini pasti tengah melongo dengan bodoh sekarang. Kepanikanku semakin menjadi-jadi saat dirinya mendekat kearahku.
"Kenapa kau tak ketakutan." Aku membekap mulutku saat tak sengaja mengucapkannya. Dia malah menyeringai.
"Kau tak ada seram-seramnya." Kakiku seakan lemas mendengarnya. Padahal aku yakin saat ini. Akibatnya, aku kehilangan kontrol akan perubahaan arwahku ini.
*Poft!.* Gawat!.
*Hinata POV End*
o
*Flashback End*
o
Mengingat kejadian itu membuatnya ingin membenturkan kepalanya kearah tembok. Semua hal itu tambah buruk dengan kepanikan Hinata yang justru membuatnya membocorkan namanya secara gratis. Dipikirannya, Hinata memikirkan apa yang mungkin terjadi seandainya dia dan si-pirang itu bertemu.
"Hah, semoga besok tak terjadi apa-apa." Gumamnya pelan sebelum berjalan kembali memasuki ruangan yang dipintunya tergantung papan nama kecil 'Hyuuga Hinata'. Tak jauh dari tempat itu, seorang gadis yang mirip dengan Hinata namun usianya tampak lebih muda memandangi tingkah aneh gadis Hyuuga itu.
"Ada apa ya? Sejak kemarin kakak jadi sering bertingkah aneh." Gumamnya penasaran. Yang dia tau, kakanya itu adalah gadis pendiam dan pemalu yang jarang menunjukan ekspresinya. Tapi, sekarang dia tamapak seperti gadis remaja yang sedang gelisah akibat menanti coklat dihari Valentine.
"Hanabi." Gadis bernama Hanabi itu menoleh kearah pria yang tengah mrmandanginya. Didepannya tengah berdiri seorang pria dewasa berambut hitam panjang, jika dilihat dia juga lumayan mirip dengan kedua gadis itu.
"Ayah? Ada apa?." Sang ayah nampak mengehembuskan nafasnya kasar.
"Ada apa dengan kakakmu? Dia kelihatan begitu gelisah." Hanabi hanya mampu menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan sang ayah.
"Aku tak tau. Sejak kemarin malam dia mulai betingkah aneh. Mungkin nanti aku akan menanyakannya."
"Hmm, baiklah. Sebaiknya kau segera tidur, sudah malam." Ujar sang ayah memerintahkan gadis itu untuk segera tidur.
"Baiklah ayah." Keduanya pun berbalik dan pergi kearah yang berbeda. Sang gadis yang pergi menuju kamarnya dan sang ayah yang sedang berduri ditengah taman sambil memandangi bulan.
"Kau lihat, putri kita sudah besar sekarang." Pandangan pria itu tampak menerawang. Tangannya meraba halus liontin yang menghias lehernya.
o
~oOo~
o
Pagi tampak begitu cerah di Kuoh hari ini. Kicau burung menemani langkah kaki para penduduknya yang mulai melakukan aktifitasnya. Termasuk seorang remaja pirang dan gadis berambut merah yang tengah berjalan beriringan menuju sekolahnya.
"Jadi Naruto-kun, umm boleh kupanggil begitu?." Gadis merah itu mulai memulai perbincangan.
"Tentu, Rias-chan." Sahut remaja pirang yang tengah melipat tangannya dibelakang kepalanya. Dia menoleh sedikit kearah gadis yang tengah berjalan santau disampingnya itu.
"Cantik." Gadis itu celingukan saat mendengar ujaran pelan dari Naruto.
"Kau bilang sesuatu Naruto-kun?." Yang direspon dengan gelengan kepala.
"Jadi soal kemarin, kau sepertinya kau sudah sering berinteraksi dengan hal-hal supranatural bukan? Naruto-kun?. Keduanya sejenak saling tatap sebelum Naruto menarik nafas sejenak dan hendak membuka mulutnya.
" Bisa dibilang begitu. Apa kau percaya terhadap Indigo?."
"Maksudmu, orang yang katanya memiliki kemampuan untuk melihat hantu bukan?." Anggukan Naruto jadi jawaban atas pertanyaan yang Rias ucapkan. "Tentu aku percaya, sulit itu menolaknya saat dirimu hampir mati oleh hal-hal seperti itu." Lanjut Rias.
"Bagaimana jika aku bilang, bahwa aku adalah salah satu contohnya?." Ujar Naruto menatap gerbang sekolah yang berdiri kokoh dihadapan keduanya.
"Naruto!." Perbincangan mereka nampaknya harus berhenti akibat seorang remaja berambut coklat memanggil Naruto sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Baiklah Naruto-kun, kita lanjutkan lain kali. Jaa..." Ujar Rias lalu segera berjalan menuju kelasnya. Berbeda dengan Naruto yang tampak santau dengan itu, Issei entah mengaoa terlihat begitu kesal.
"Woy baka-Naru! Kenapa kau bisa berangkat bersama dengan Gremory-san? Dan kenapa kau tak datang kemarin." Muka Naruto mendadak pucat melihat temannya yang sedang mengamuk itu.
"Ano, hehehe."
"Apa yang hehehe?!." Teriak Issei lalu meloncat dan memiting kepala Naruto dengan sikunnya.
"Adududuh!... Sakit Ero-Gaki!." Perlakuan itu membuat Naruto mengaduh kesakitan. Sontak saja, kejadian itu jadi tontonan bagi para siswa lain yang sedang berlalu-lalang.
"Iya! Maaf! Lepaskan Issei! Nanti akan kuberitahu." Issei pun melepaskan pitingannya, sontak saja Naruto langsung mangap-mangap guna menghirup udara sebanyak mungkin. Diiringin pandangan kesal, Naruto mulai menjelaskan semuanya.
"Kemarin kakaku tiba-tiba terkena demam. Jadi aku harus mengantarnya kedokter." Issei memandang curiga temannya itu. Hanya saja Naruto terlalu pintar untuk menyembunyikan kebohongan, sehingga Issei akhirnya percaya.
"Dan untuk Gremory-san, tadi kebetulan aku bertemu dengannya dijalan. Jadi yah, kami memutuskan berangkat bersama." Jelas Naruto. Issei saat ini tengah memijat-mijat dagunya selayaknya sedang berfikir.
"Hmmm, baiklah. Aku percaya padamu. Titip salam untuk kakanmu ya."
'Maaf kak." Batin Naruto terkekeh dalam hatinya. Sepertinya dia harus membelikan Ice Cream untuk kakaknya nanti.
"Baiklah Issei, ayo kita segera kekelas."
"Yosh!." Keduanya pun mulai melangkah untuk menuju kelasnya. Dalam langkahnya, Naruto teringat tentang janji yang dia buat dengan seseorang.
"Oh ya Issei, apa kau mengenal wanita yang bernama Kurenai?." Naruto oun menanyakannya oada Issei. Siapa tau Issei mengetahuinya, pikir Naruto.
"Kurenai? Hmmm... Ah! Aku ingat. Dia dulu mantan tetanggaku. Sebelum dia pergi bulan lalu. Apa kau kenalannya?." Naruto langsung menggekengkan kepalanya.
"Sebenanya 'sih tidak. Hanya saja, aku ada janji dengan seseorang untuk membincangkan sesuatu dengannya. Selain itu, apakah dia memiliki keluarga? Semacam anak atau suami maksudku."
"Dia pernah bilang bahwa suaminya meninggal seminggu setelah kelahiran anaknya akibat kecelakaan. Dia juga memiliki seorang putra, hanya saja..." Issei menggantung kalimatnya.
"Dia sudah meninggal akibat kecelakaan dua bulan lalu. Aku dengar kondisi jasadnya sungguh memperihatinkan. Kurenai-san sempat mengurung diri hampir seminggu sebelum dia akhirnya memutuskan untuk pindah." Penjelasan dari temannya itu mengingatkannya tentang kondisi dengan hantu yang bernama 'Konohamaru' itu. Sejenak senyum kecut muncul si wajahnya.
"Lalu, dia tinggal dimana sekarang?."
"Kudengar dia masih tinggal di Kuoh. Hanya sajau aku tak tau alamat lengkapnya. Sepertinya kau akan membahas hal penting dengannya." Anggukan singkat Naruto menjawab rasa penasaran Issei. Selanjutnya mereka membincangkan banyak hal hingga sampai didepan kelas dan memasukinya.
o
~oOo~
o
*Teng! Tong! Teng!*
Suara bek tersebut menandakan tibanya waktu isirahat makan siang. Para guru dan siswa pun mulai keluar dari kelas untuk mengisi pertunya atau sekedar mencari udara segar. Hal ini malah berbeda dengan seorang remaja pirang yang tengah terkulai diatas meja sambil memegangi perutnya.
"Sial! Bisa-bisanya aku melupakan bekalku." Dia tengah mengumpat mengingat nasib sialnya saat ini. Perutnya sedang kosong, namun sialnya bekal makan siangnya justru ketinggalan di meja makannya.
"Tau begini aku ikut Issei saja." Ditambah lagi, dia menolak ajakan Issei untuk mengikutinya. Dia juga sempat menawarkan uangnya pada Naruto. Hanya saja, dengan bangganya Naruto menolak tawaran itu. Jadilah dia kini menahan lapar seorang diri dikelasnya.
*Kriet.* Pintu kelas itu terbuka disaat seorang gadis merah memasukinya. Ditangannya tergenggam dua buah kotak yang terbungkus kain.
"Kau pasti sedang kepalaran, nee Naruto-kun ?." Naruto menoleh ketika mendengar suara yang cukup familiar ditelinganya, sebelum kembali meletakan kepalnya diatas meja.
"Menurutmu?." Rias tersenyum sejenak sebelum melangkah dan mengambil kursi disebelah Naruto, lalu meletakan sebuah kotak dari tangan kanannya didepan kepala Naruto.
"Kau melupakan bekalmu."
"Kau yang membawanya sejak tadi pagi?." Yang ditanya tampak mengangguk dengan tampang polosnya.
"Haaah, aku tak tau harus bilang apa. Tapi, terimakasih." Ucap Naruto meski agak kesal. Dibenaknya dia menyalahkan gadis itu, kenapa dia tidak bilang sebelum masuk kelas tadi? Karna itulah Naruto harus menahan tampa tau kepastian tentang perutnya untuk beberapa jam kedepan.
"Selain itu, apa kau tak pernah membawa uang kesekolah Naruto-kun?." Naruto menggeleng pelan selagi mengunyah pelan onigiri-nya.
"Kebetulan saat ini aku tak membawa uang Rias-chan."
"Hmmm begitu ya. Masakan kakakmu benar-benar enak ya." Ujar Rias sambil memasukan potongan Tamagoyaki kemulutnya. Naruto baru sadar bahwa bekal kedunya tampak sama. Mungkin kakaknya juga memasakannya untuk Rias.
"Tentu. Masakannya adalah yang terbaik." Ucap Naruto dengan penuh semangat. Rias tampak terkekeh pelan saat melihat reaksi Naruto yang tiba-tiba semangat saat membahas masakan kakaknya itu.
"Mungkin aku akan meminta Lucifuge-san untuk mengajariku nanti." Naruto mengacungkan jempolnya mendengar kalimat yang Rias ucapkan.
"Datanglah kerumahku bila ada waktu. Kakak pasti akan mengajarimu dengan senang hati." Ucap Naruto. Keduanya pun melanjutkan makan siang mereka dengan santai sambil membincangkan berbagai hal. Namun, dari atap bangunan yang ada diseberang, sepasang mata yang hanya berupa rongga kosong tengah menatap interaksi keduanya sambil memainkan gunting besar ditangannya.
"Kalian berlagak seolah tak terjadi apa-apa setelah membunuh Teke-Teke dengan keji. Lihat saja, mulai malam ini kalian tak akan bisa hidup tenang lagi." Ucap Mahkluk mengerikan itu sambil mengembangkan seringaian mengerikan hingga mencapai telingannya. Sosok itupun segera berbalik punggung, meninggalkan tempat itu kembali dalam kesunyian.
*TBC*
