"Fuuuh~" Ryeowook tersenyum kecil, dua lilin baru saja ditiupnya.
Dua lilin di tanggal 2 februari, dua lilin yang apinya baru saja padam setelah mendapat dua kali tiupan, dan dua lilin yang menandakan hari hubungannya dengan sang kekasih memasuki umur yang kedua bulan.
Masih terhitung baru, namun Ryeowook merasa semua berjalan begitu lama. Berada di dalam rumah ini rasanya dua bulan pun seperti dua tahun.
"Dua bulan, ya…"
Ia masih terdiam di salah satu kursi meja makan. Menumpukan dagunya di meja dan menatap lekat dua cup cake yang masing-masing tertancap satu lilin kecil di atasnya. Cup cake hasil buatan tangannya dan Kibum tadi pagi.
Meski awalnya ia sedikit memaksa, akhirnya Kibum pun mengiyakan permintaan Ryeowook untuk membantunya membuat cup cake. Walaupun ia bertugas di meja kasir saat masih bekerja di café, sekali-kali ia sering menengok ke dapur dan memperhatikan saat para koki sibuk membuat kue, seperti cup cake ini.
Dan hasilnya, menurutnya enak walau pendapat Kibum kue itu terlalu manis.
Walau tak bisa lagi disebut remaja, ia masih ingin merasakan bagaimana nuansa seseorang yang sedang jatuh cinta. Rasanya ia selalu bermimpi, pergi ke suatu tempat yang indah, berdiam diri disana hanya bersama Yesung, dan merayakan hari jadi mereka yang kedua bulan dengan romantis. Normal saja, ia pun masih sering berangan seperti itu, walau terlalu tinggi.
Dan doanya bulan ini, semoga Yesung bisa berubah, setidaknya walaupun sedikit.
"Selamat hari jadi yang kedua, Yesung hyung…"
.
.
Yours © Choi RinRi
Main Cast : [Kim Jongwoon & Kim Ryeowook]
YeWook couple, always.
Rated : T
Disclaimer : Super Junior is belongs to God.
Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort.
Warning : YAOI, OOC, Adult Fanfic, M-preg.
.
.
[Chapter 2]
.
.
Tak sampai tiga kali ketukan, sebuah suara di dalam pun terdengar. Kibum membuka pintunya, masuk ke dalam saat Ryeowook sudah memberinya izin.
"Ayo ganti pakaianmu, Ryeowook ah."
Ryeowook yang sedang menatap ke luar dari jendela kamarnya pun menoleh. Sedikit memiringkan kepala dan memperlihatkan pose berpikir yang bagi Kibum terlihat sangat imut.
"Untuk apa?" tanya Ryeowook, memperhatikan Kibum yang baru saja menutup pintu kamarnya. Kemudian membuka lemari pakaiannya, mengambil beberapa baju yang dipilih Kibum untuk Ryeowook pakai nanti. Sudah terbiasa memang, bahkan sampai urusan baju pun, Yesung meminta Kibum yang mengurusnya.
"Jongwoon hyung barusan meneleponku, dia bilang ingin bertemu denganmu di kantornya."
Mendengar itu, dalam sekejap wajah Ryeowook berubah cerah. Bertemu di kantor, itu tandanya Ryeowook akan keluar rumah, kan?
Ah, ia benar-benar merindukan dunia luar. Bayangkan saja, sudah hampir 2 bulan Yesung mengurungnya di rumah. Tidak memberinya izin sedikitpun keluar bahkan hanya untuk sekedar berdiri di teras rumah. Secara tak langsung, Yesung membuatnya seperti berada di penjara.
Ryeowook mengangguk cepat, mengambil pakaian yang Kibum pilih dan membawanya ke kamar mandi untuk dipakai.
"Cepat, Ryeowook ah. Jongwoon hyung akan marah jika kita datang terlambat."
-OoO-
.
"Hari ini kau terlihat sangat cantik, seperti biasanya."
Yeoja berambut blonde itu menundukan kepalanya, bibirnya tersenyum dan kedua pipinya bersemu merah mendengar pujian dari pria bertubuh atletis di hadapannya. Sedetik kemudian ia mencoba memfokuskan diri pada layar computer di hadapannya, juga untuk menutupi wajahnya yang tersipu.
"Cih, Jessica noona, dia itu penjilat, jangan mau percaya pada kata-katanya." Kyuhyun mengibaskan tangannya, memberi isyarat agar yeoja yang sibuk di meja kerjanya itu tidak percaya dengan kata-kata Siwon.
"Dan kau Siwon hyung! Akan kulaporkan setelah ini pada Kibum hyung!"
Siwon justru tersenyum geli mendengarnya. Tak menunjukan ekspressi ketakutakan, tetap seperti biasa walau nama kekasihnya baru saja disebut oleh Kyuhyun. Stay cool, itulah yang selalu diterapkan pada dirinya.
"Jangan bicara yang aneh-aneh, bocah. Kibum tidak tahu, dia kan sedang di rumah Yesung hyung." jawab Siwon santai, kemudian menyenderkan pinggangnya pada sisi meja milik sekertaris Yesung, Jung Jessica.
"Apa kau pikir aku ini manusia purba yang terus tinggal di dalam goa, hyung?"
Dan kini, kedua mata bulatnya dipaksa melebar saat suara yang begitu familiar di telinganya terdengar.
Kibum, pemilik suara tadi, dengan santainya berjalan menghampiri ketiga pria yang menatap kaget ke arahnya. Bagaimana bisa Kibum disini, pikir ketiga namja (Kyuhyun, Siwon, Donghae) yang masih terdiam di tempatnya itu.
"Lama tak berjumpa, Choi ssi. Bagaimana penampilanku? Apa aku terlihat tampan… seperti biasa?"
Kyuhyun langsung menutup mulut dengan punggung tangannya, menahan tawa saat mendengar perkataan Kibum yang lebih digolongkan menyindir. Senang melihat ekspressi sahabatnya itu memelas. Berbeda dengan Donghae, pria yang dari awal hanya diam dan disibukan dengan gadgetnya itu sama sekali tak tertarik dengan perbincangan konyol teman-temannya itu.
"Demi Tuhan, Kibum! Aku tadi hanya memuji, tidak ada maksud lain!"
Kibum mendengus, pintar sekali pria yang sudah menjadi kekasihnya selama dua tahun belakangan ini menyangkal. Ia tidak peduli, kemudian mengangkat bahu acuh dan kedua matanya masih saja menolak menatap Siwon yang mulai merajuk.
Oh, ternyata seorang kepala pelayan yang terlihat berwibawa saat di rumah, bisa juga bersikap kekanakan seperti ini jika sudah menjurus persoalan cinta. Mudah cemburu rupanya.
Kibum baru saja kembali dari toilet, sebenarnya ia hanya ingin berjalan-jalan saja. Bosan juga sedari tadi hanya diam dan berdiri di depan ruangan Yesung, hanya sesekali mengobrol dengan Jessica yang tak juga keluar dari mejanya. Sama saja seperti bodyguard kalau begini. Ia sebenarnya sudah kesal menunggu, kalau bukan Yesung yang menyuruhnya, mana mau ia melakukan ini.
Dan lagi, sekarang ia bertambah kesal saat baru saja ia kembali kesini, ketiga pria yang sangat dikenalnya kini sedang sibuk mengerubungi sekertaris cantik milik Yesung dan menggodanya. Oh tidak, hanya seorang saja, dan itu Choi Siwon, kekasihnya.
"Ya, selesaikan urusan kalian nanti saja!" Donghae bosan mendengar perdebatan kecil sepasang kekasih itu, ditambah moodnya hari ini memang sedang tidak bagus. Membuatnya ingin marah-marah pada siapapun yang berada di dekatnya. "Ayo masuk dan temui Yesung hyung." kemudian memilih untuk masuk duluan ke ruangan Yesung.
"Jangan, hyung!" Baru saja ia memegang gagang kenopnya, tiba-tiba Kibum menghentikannya. Sebelah alis pemuda pecinta ikan itu terangkat, bingung kenapa Kibum melarangnya untuk masuk. Heran juga melihat kelakuan dari kekasih pemuda Choi di sampingnya itu.
"Kenapa?"
Kibum memilih diam dan untuk beberapa detik ia berpikir, tak perlu waktu lama karena baginya ia memiliki otak yang jenius. Apa yang harus kukatakan, batinnya. Tidak mungkin jika ia berkata terus terang tentang apa yang sedang terjadi di dalam. Entah kenapa, memikirkannya saja membuat wajahnya memanas, ia jadi malu sendiri.
"Umm… Kim Ryeowook…" Kibum justru bergumam tak jelas, membuat raut bingung ketiga pria berwajah tampan di hadapannya ini semakin menjadi. Sepertinya pemikirannya tentang otaknya yang jenius untuk saat ini tidak berfungsi.
"Kim Ryeowook? Anak dari Youngwoon itu, kan?" Kibum mengangguk mendengar pertanyaan Siwon. Namja bertubuh atletis itu hanya mangut-mangut mendengar jawaban kekasihnya, hingga akhirnya-
"Apa?! Jangan bilang dia disin-pfhtt!"
Kibum dengan cepat membekap mulut kekasihnya, memasang wajah memohon dan meminta agar Siwon tidak berbicara apapun lagi.
"Sssstttttt!"
Setelah dua tahun lamanya ia berpacaran, baru kali ini Kibum menyadari bahwa dibalik sikap Siwon yang menurutnya sok keren itu, ternyata memiliki sifat cerewet yang bahkan bisa lebih parah dari ibu-ibu bergosip.
"Ya, Kim Ryeowook disini, dia sedang bersama Yesung hyung di dalam." Kibum kali ini berbicara dengan volume yang mengecil, ia hanya takut jika suara mereka terdengar oleh Yesung dan mengganggu. Ia tahu bagaimana menyeramkannya Yesung saat marah. Diam saja menyeramkan, apalagi sedang marah.
Sedari tadi magnae dari keempat pria itu terdiam, ia sedang memikirkan satu hal yang paling ditakutinya, hal yang baru saja dibicarakannya dengan Yesung tadi pagi tentang pria bernama Kim Ryeowook itu.
"Gila! Si Yesung itu pasti sedang menyetubuhinya!" dan suara heboh dari Cho Kyuhyun itu mampu membuat orang-orang yang berada di sekitarnya menatap ke arahnya, termasuk Jessica yang berada di belakang mereka pun langsung menoleh.
"Cho Kyuhyun!"
.
.
Yesung menyandarkan punggung dengan nyaman di kursinya. Kedua matanya terpejam, dan nafasnya terdengar memburu, atau terkadang keningnya yang mengkerut secara tiba-tiba.
"Aku tak menyuruhmu berhenti, budak."
Dan saat suara beratnya terdengar, ia dengan cepat menarik dasi yang sedari tadi digenggamnya, dasi miliknya yang kini terlilit di leher Ryeowook. Membuat Ryeowook tersedak, namun ia tak banyak bersuara karena mulutnya tersumpal oleh benda milik Yesung di bawah sana.
Dalam diam Ryeowook menangis, rasanya mulutnya benar-benar pegal karena sedari tadi terus mengoral milik Yesung. Tak hanya mulut, tubuhnya pun pegal karena sedari terus berjongkok di depan Yesung, di depan kedua paha Yesung yang sengaja dibuat lebar oleh pemiliknya. Dan lagi, ruangan pribadi Yesung dilengkapi oleh pendingin ruangan, tentu saja. Membuat tubuhnya benar-benar menggigil sekarang. Yesung sama sekali tidak menyentuh atau lebih tepatnya belum menyentuh tubuhnya, tapi Ryeowook sudah dibuat telanjang seperti ini.
Ia ingin berhenti, namun Yesung memaksanya untuk terus bekerja. Jika tidak, Yesung akan menarik dasi yang melilit di lehernya. Membuatnya tersedak dan lehernya terasa tercekik. Seperti yang dilakukannya tadi.
Yesung menyeringai saat Ryeowook kembali melanjutkan pekerjaannya, 'budak'nya benar-benar menuruti kemauannya. "Lebih cepat… hhh…" Yesung kembali menarik lilitan dasinya, membuat Ryeowook terdorong dan penisnya makin semakin dalam ke mulut Ryeowook. Ia menikmatinya, saat ujung penisnya menyentuh ujung tenggorokan Ryeowook, atau ia akan tersenyum senang saat Ryeowook yang menahan batuk karena tersedak.
Kedua tangan Ryeowook mencengkram pinggang Yesung, karena kalau tidak begitu ia mungkin akan merosot ke lantai.
Saat Yesung merasa ia sudah hampir sampai, ia menahan kedua sisi kepala Ryeowook. Menahannya untuk bergerak, dan berganti ia yang memaju mundurkan pinggulnya dengan cepat. Menyodok rongga mulut Ryeowook dengan penisnya, mengerang saat kenikmatan semakin dirasanya, dan mengumpat kata-kata kasar saat ia merasa Ryeowook benar-benar membuatnya gila, bahkan hanya untuk bagian mulutnya saja.
"Ohhh... nghh…"
Ryeowook memejamkan kedua matanya rapat, menahan sekuat mungkin agar air mata tak mengalir karena rasa perih yang dirasakannya di tenggorokan. Yesung terus memaju mundurkan pinggulnya dengan cepat, kali ini lebih digolongkan kasar. Sama seperti Ryeowook, ia pun menutup rapat matanya, menahan hasrat yang semakin ingin melesak keluar dari penisnya yang terus berkedut.
"Fuck… akhhhh!"
Tubuh Yesung bergetar, cairan hangat kini keluar dari ujung penisnya, menyemprot hingga mengenai ujung tenggorokan Ryeowook dan mau tak mau pria dibawahnya itu harus menerimanya, menampungnya siap tak siap. Spermanya terlalu banyak, bahkan sampai mengalir keluar dan mengotori celana Yesung yang merosot di ujung kakinya.
Ryeowook merasakan mual yang luar biasa saat di mulutnya kini tertampung cairan Yesung yang bahkan untuk dideskripsikan bagaimana rasanya pun ia tak sanggup. Dan Yesung langsung membekap mulutnya saat tahu bahwa ia berniat akan memuntahkannya.
"Telan, habiskan, atau kau kutampar."
Ancam Yesung, membuatnya lagi-lagi mau tak mau menelan cairan itu sekali teguk. Terlalu kental bahkan untuk mengingatnya pun Ryeowook kembali ingin memuntahkannya, jika saja Yesung tak membekapnya dan menatapnya dengan tajam. Merelakan cairan menjijikan (menurut Ryeowook karena rasanya) itu melewati tenggorokannya, menelannya dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca.
Hanya untuk hitungan detik, Yesung mengatur nafas. Kemudian dengan cepat ia melepas lilitan dasi di leher Ryeowook, membuangnya asal dan menyelipkan tangannya di lengan Ryeowook. Mengangkat tubuh kecil itu dengan sedikit susah dan mendudukan Ryeowook di atas pahanya yang masih terbuka lebar.
"Aku sudah tidak tahan!"
Ryeowook diam, memilih pasrah dengan apa yang akan dilakukan Yesung selanjutnya dibanding melawan lalu keselamatan tubuhnya menjadi jaminan. Dan Ryeowook masih diam, saat dengan terburu-buru Yesung mengangkat pinggulnya, mengarahkan penisnya yang kembali menegak ke hole miliknya.
"Arghhhhh!" dan kali ini berteriak keras ketika Yesung memasukan penisnya dengan sekali dorongan keras. Dan ia tak tahu bahwa orang di luar sana cukup terkejut saat mendengar suara yang baru saja di keluarkannya.
Yesung langsung melumat bibir Ryeowook untuk meredam suaranya. Rasa asin langsung terasa di indra pengecapannya saat ia menghisap lidah Ryeowook, menyedotnya dengan kuat, dan Ryeowook melingkarkan kedua tangannya di leher Yesung. Membuat ciuman panas mereka semakin dalam.
Ryeowook hanya mencoba mengalihkan rasa sakit di tubuh bawahnya dengan mengiyakan apa yang Yesung lakukan di mulutnya. Yesung menggigiti bibirnya hingga membengkak, menghisapnya dengan kuat hingga terdengar bunyi kecipak dari mulut mereka, atau Ryeowook membiarkan saliva yang entah milik siapa mengalir di sudut bibirnya dan membasahi kerah kemeja Yesung.
Yesung memegangi kedua pinggang Ryeowook dengan kuat, menggerakan tubuh kecil itu naik turun dan ia pun melakukan hal yang sama pada pinggulnya. Menghentakan pinggulnya dengan keras, membuat kursi yang didudukinya pun ikut maju mundur, dan kursi yang didudukinya pasti akan terdorong menghantam dinding di belakangnya jika saja kakinya tidak menahannya dengan kuat.
"Arghh!" Yesung mengerang, Ryeowook tiba-tiba menggigit bibirnya, tepat saat penisnya baru saja menghantam titik kenikmatannya. Menekan-nekan prostat yang membuat Ryeowook mendesah keras.
"Ouhhh… hyunghh… akhh… Akhhh!" Ryeowook tak bisa lagi menahan desahannya, penis Yesung terus bergerak cepat menusuk titik terdalamnya. Keluar masuk di dalam holenya, memberinya kenikmatan yang benar-benar membuatnya ingin meledak jika bisa.
Walau awalnya ia kesal karena Ryeowook membuat bibirnya sedikit mengeluarkan darah, tapi akhirnya ia menyeringai karena senang akhirnya Ryeowook menikmatinya juga.
"Sebut namaku, budak…" bisiknya, kemudian turun mengendus leher jenjangn Ryeowook, dan semakin turun hingga wajahnya kini menghadap dada Ryeowook dengan kedua nipple yang menegang dan berwarna merah kecoklatan. Yesung memang sengaja mengangkat tubuh Ryeowook dan ia menyenderkan tubuhnya. Sedikit kesusahan melakukan hubungan seks di kursi meja kantornya, dan ia sendiri awalnya tak pernah berpikir untuk melakukannya di tempat sesempit ini.
"Kim- ouhhh... akhhh!" Yesung meremas butt Ryeowook dengan gemas, membuat pemiliknya semakin mendesah. "Jonghh… woon mhh…" Ryeowook menyelipkan jari-jari tangannya di helaian rambut Yesung, meremasnya dengan keras saat Yesung menggigiti nipplenya. Menjilatnya dan menghisapnya dengan kuat hingga membuat nipplenya basah oleh saliva pria yang sedang menyetubuhinya itu.
"Kimhh… Kim Jongwoon akhhhhh!"
Ryeowook memekik, tubuhnya bergetar. Sperma memuncrat keluar dari penisnya, dengan mulut yang terbuka dan mata yang masih menutup rapat. Yesung membiarkan Ryeowook menikmati klimaksnya, sedangkan ia terus menusukan penisnya lebh dalam, berulangkali, hingga ia sendiri akhirnya merasa akan sampai.
Ryeowook yang lemas langsung saja menimpa Yesung. Menenggelamkan kepalanya di perpotongan leher pria itu dan ia mencoba bernafas normal, tapi sepertinya Yesung belum mengizinkannya karena pria itu terus mengerjai tubuhnya. Dan mau tak mau ia ikut mendesah walau tubuhnya sudah sangat lelah. Tubuhnya sudah sangat basah dan berkeringat.
"Ssshh…. Akhhh!"
Jutaan benih sperma kini menyemprot hole milik Ryeowook, membuatnya merasa kegelian sekaligus hangat dalam bersamaan. Terlalu banyak karena Yesung yang menahannya cukup lama. Tangan Yesung yang semula memegang pinggang Ryeowook untuk membuatnya bergerak kini menjauh, menjuntai begitu saja di masing-masing sisi kursinya karena terlalu lelah. Ditambah tubuhnya yang harus menerima beban tubuh Ryeowook yang mendudukinya.
"Sudah puas?"
Yesung mengumpat kecil, mau tak mau ia membuka mata kemudian mendelik tajam pada siapapun yang merusak kesenangannya saat ini. Dan ia bersumpah akan memarahi Kibum setelah ini.
"Ma-maaf, Jongwoon hyung, mereka memaksa untuk masuk." Kibum mendahului ketiga pria tadi, menghadap Yesung dengan pandangan takut namun wajahnya langsung merona melihat keadaan kedua majikannya saat ini.
Kedua nafas mereka terdengar berat, menderu dengan tubuh yang berkeringat. Dan jangan lupakan dihadapannya kini, punggung polos milik Ryeowook terlihat jelas olehnya.
"Jangan salahkan Kibum, hyung. Kami yang memaksa. Dan bisakah sekarang kau tutupi tubuh priamu itu?" Kata Siwon, ia hanya tak ingin Kibum mendapat masalah setelah ini.
"Tanpa kau suruh pun aku akan melakukannya," kata Yesung masih dengan nafas yang tersenggal, kemudian meraih dengan susah payah jas miliknya yang sengaja diletakan di atas meja, kemudian ia pakaikan pada Ryeowook. Hanya untuk sebatas menutupi punggungnya saja. Lagipula ia tak rela jika apa yang menjadi miliknya menjadi bahan tontonan orang lain secara gratis.
"Kibum, kau pulang sekarang untuk mengambil baju ganti untuknya dan untukku. Sekarang."
Kibum mengangguk cepat, kemudian dengan terburu ia meninggalkan ruangan itu. Ia sendiri tak tahan melihat keadaan Yesung dan Ryeowook, jika boleh jujur.
"Jelas saja butuh baju ganti, tubuhmu benar-benar dipenuhi sperma, menjijikan." Kyuhyun berkata dengan pedas, dan Yesung sama sekali tak peduli.
"Aku sama sekali tidak menyuruhmu untuk duduk, terlebih di depanku, Cho." Telak Yesung saat melihat Kyuhyun yang kini dengan santainya menghampiri kursi di hadapannya, mendudukan tubuhnya disana dan mengangkat bahu acuh saat mendengar ucapan Yesung.
"Masa bodoh." Katanya.
"Arghh! Ruangan ini benar-benar bau, membuat perutku mual. Kalian benar-benar menjijikan hyung!" Donghae mengernyitkan dahi dan menutup hidungnya. Ia memilih duduk di sofa dibanding di kursi di hadapan meja kerja Yesung, menjauh atau ia akan muntah saat itu juga.
"Persetan! Apa urusanmu?!" Yesung mulai geram. Siapa yang tidak marah, tiba-tiba saja 'orang lain' masuk ke kantornya dengan seenak hati, ditambah ia sedang melakukan seks, dan sekarang 'orang lain' itu justru mencelanya.
Ryeowook bergumam kecil, ternyata suara Yesung barusan cukup membuatnya terbangun. Yesung yang menyadari itu langsung mendekapnya erat. Mengusap punggungnya dengan lembut.
"Tidur, jangan hiraukan mereka." Bisik Yesung, kemudian mengusap pipi Ryeowook dengan hidung mancungnya. Dan Ryeowook menurut lalu ia memeluk pinggang pria yang masih didudukinya itu dengan erat. Ryeowook memang belum sadar sepenuhnya bahwa di dalam sana ada tiga pria lain yang menatap ke arahnya dengan ekspressi berbeda-beda. Ia lelah, dan ia mengiginkan tidur sekarang.
"Biarkan saja, hyung. Sejak tadi pagi Donghae hyung memang menyebalkan, marah-marah tak jelas." Jelas Siwon, dan dihadiahi lemparan bantal oleh Donghae setelahnya. "Masih ada yang lebih penting dari ini, dibanding mengurusi percakapan yang tak penting itu." Lanjutnya. Membuat Yesung benar-benar bersyukur memiliki teman yang bisa berpikir dewasa, walaupun hanya satu.
"Perusahaan Young-"
"Jangan dilanjutkan." Potong Yesung, ia melirik Ryeowook yang masih tertidur. Nafasnya terdengar teratur.. "Langsung ke intinya."
Siwon mengangguk mengerti, "Hm, kami baru saja menghubungi seseorang, dia adalah… bagian dari agen mata-mata. Aku pikir, agar misi kita lebih cepat selesai, kita harus bekerja sama dengan mata-mata."
"Ya! Itu sebenarnya ideku!" seru Donghae. Jika saja Yesung tak sedang dalam keadaan seperti ini, dengan seseorang berada di depan tubuhnya, pasti ia akan langsung melempar Donghae dengan benda apapun di ruangannya.
"Oh, kalian merasa tidak mampu?" Yesung tersenyum mengejek. "Maka dari itu kalian menyewa seorang agen mata-mata untuk bercampur tangan di dalam misi kita? Begitu?" ucapannya barusan tentu saja membuat ketiga pria itu mendengus kesal.
"Bodoh! Kau pikir misi ini akan berjalan dengan lancar hanya dengan di dasari oleh empat otak? Selama ini kami yang selalu bekerja, kau hanya diam di kantor. Bersantai-santai disini, hanya tinggal menerima hasil laporan dari kami, dan kau selalu berkata bahwa kerja kami lamban. Dimana pikiranmu, Jongwoon?"
"Santai sedikit, Donghae!" Yesung mendengus, "Itu memang sudah tugas kalian, apa kau lupa aku ini siapa? Hahaha. Kalau aku bersantai-santai disini, hanya menunggu laporan kalian, dan selalu berkata bahwa kerja kalian lamban, memang apa yang akan kau lakukan? Kau ingin protes? Kau tidak terima?"
Donghae berdecih pelan mendengarnya. Ia tahu Yesung adalah bos disini, jadi mau tak mau ia hanya bisa diam jika sudah seperti ini. Sebenarnya ia bisa saja melawan Yesung, tapi banginya itu hanya akan membuang-buang emosi saja. Beradu argument dengan pria itu benar-benar membuatnya kesal sendiri.
"Kalian diamlah! Kalian ini sudah tua tapi kenapa selalu tak ingin kalah jika berbicara!"
Kyuhyun kali ini berbicara, kesal juga melihat hyung-hyungnya selalu saja berdebat. Kapanpun, dimanapun, selalu saja berdebat. Bahkan untuk hal yang tak penting sekalipun.
"Jadi bagaimana, apa kau setuju?" tanya Kyuhyun, menatap lekat Yesung yang kini justru sibuk menciumi pundak Ryeowook yang sengaja dibukanya sedikit.
"Temui aku secepatnya." Yesung berkata, tanpa menatap sedikit pun pada Kyuhyun yang menatapnya bosan. Memilih untuk menjilati dan kini menggigiti pundak Ryeowook hingga memerah. Dan pemilik tubuhnya mengerang tak nyaman.
"Nah, aku anggap kau menyetujuinya." Kyuhyun tersenyum senang, begitu pula Siwon di sampingnya dan Donghae juga walau wajahnya masih terlihat keruh.
"Sudah selesai, kan? Sekarang keluar dari ruanganku."
Ketiganya mendengus. Sekilas ketiganya menatap Ryeowook. Mereka juga sebenarnya kasihan melihat Ryeowook, wajahnya terlihat polos dan mereka tahu bahwa sebenarnya pria kecil itu tak pantas dilibatkan dalam masalah ini. Ditambah kini Yesung secara perlahan kembali menggerakan pinggulnya, memulainya kembali, dan tanpa bertanya pun mereka tahu bahwa Ryeowook masih kelelahan dan saat ini butuh istirahat.
Tapi jika mereka kembali mengingat Youngwoon, rasa kasihan pada Ryeowook pun bisa menghilang dalam sekejap.
"Ya! Tanpa kau suruh pun kami akan keluar!"
"Dan kami tak akan mengganggu waktu panjangmu dengan budakmu itu, hyung!"
.
.
"Hae, maaf aku harus memutuskan panggilanmu, malam ini café benar-benar sedang penuh." Wajahya terlihat resah.
"Kau pikir aku percaya?"
Tubuh kurusnya terperanjat, sebuah suara dari orang yang saat ini benar-benar tak ingin ditemuinya terdengar. Donghae dengan seringaian khasnya menatap kekasihnya (menurutnya) yang terdiam dengan matanya yang membulat. Baginya terlihat menggemaskan.
"Sejak kapan kau berani berbohong padaku, chagi?" tanya Donghae, kemudian melangkah masuk ke dalam café. Di café itu hanya ada satu orang, dan itu adalah pria yang kini bersama Donghae. "Kau pikir aku tak tahu jadwal di café ini? Ini yang kau sebut dalam keadaan penuh, chagi?" tanyanya.
Café memang sudah tutup sejak sejam yang lalu, hanya tertinggal satu pegawai yang saat ini ditugaskan untuk mengangkat kursi-kursi di meja dan mendapat jatah pulang lebih lama. Ia berbohong dengan mengatakan café sedang dalam keadaan penuh, dan ia baru sadar bahwa perkatannya tadi benar-benar bodoh.
Bagaimanapun Donghae sering datang kesini. Mengantarnya saat berangkat kerja, dan akan menjemputnya saat pulang walaupun waktu sudah malam. Bagaimanapun, mereka sudah banyak menghabiskan waktu bersama cukup lama. Membuatnya sudah saling mengenal dekat. Memang seperti itulah seharusnya sepasang kekasih. Sepasang kekasih, sebelum ia memutuskan hubungan mereka secara sepihak.
Donghae menatap lekat sosok pria yang begitu di cintainya, membuat pria itu terperangkap dalam tatapannya yang bagi siapapun terlihat begitu menghanyutkan. Menatap pria yang sangat dirindukannya, pria yang sudah membuat moodnya kacau selama beberapa hari ini, bahkan sampai membuatnya berani membentak Yesung karena emosinya yang tak dapat dikendalikan.
"Stop, Hae! Jangan memanggilku dengan sebutan itu, k-kau… kau membuatku sedih…" Ia mundur perlahan, dan Donghae semakin memajukan tubuhnya mendekat. Donghae memasukan kedua tangannya ke dalam saku, dan ia justru tersenyum saat melihat pria di hadapannya itu gugup.
"Sedih?" tanya Donghae, "Lebih sedih kau... atau aku?" Donghae terkekeh pelan, walau sebenarnya tak ada yang lucu disini.
"Ma-maafkan aku, Hae…" Eunhyuk, nama pria itu, kini semakin gugup saat menyadari tubuhnya menghantam tembok. Sial, kalau begini bagaimana aku bisa melarikan diri darinya, pikir Eunhyuk.
"Aku mencintaimu, kenapa kau bersikap seperti ini…" Donghae menaruh kedua sikunya di masing-masing sisi kepala Eunhyuk. Mengukungnya, membuat Eunhyuk mau tak mau menatap Donghae. Eunhyuk sadar, seindah apapun mata Donghae, tapi untuk saat ini kedua tatapannya terlihat redup. Dan Eunhyuk sedih melihatnya.
"Tapi aku-mhh!"
"Ssttt…" Donghae membekap mulut Eunhyuk dengan tangannya, "Jangan banyak berbicara. Yang harus kau tahu… kau akan tetap menjadi milikku, sampai kapanpun. Tak akan pernah ada kata perpisahan diantara kita, chagi."
Donghae membuat Eunhyuk menegang, saat pemuda itu meniupkan nafasnya di antara perpotongan lehernya. Eunhyuk menatap waspada, kedua tangannya mencengkram pergelangan tangan Donghae, memintanya untuk menjauhkannya dari mulutnya namun Donghae tidak mengindahkan.
"Aku rindu… kau tahu, chagi?" bisiknya, membuat Eunhyuk merinding. Ia ingin menangis, ia sedih melihat Donghae seperti ini. Ia ingin sekali berkata bahwa ia pun merindukannya, membalas kata-kata cintanya, atau bahkan menerjang pemuda yang pernah mengisi hidupnya selama dua tahun ini. Namun semua tak akan pernah ia lakukan.
Awalnya Eunhyuk ingin bernafas lega saat Donghae menjauhkan sebelah tangannya, namun dalam hitungan detik mulutnya kembali di bekap oleh Donghae. Hanya saja kali ini berbeda, Donghae mencium Eunhyuk dan pria berambut blonde itu berontak.
Berulang kali Eunhyuk memukul dada Donghae agar melepas ciumannya, tapi Donghae justru semakin memperdalam ciumannya dengan memegang kedua pipi Eunhyuk dan memaksanya semakin menempel dengannya. Hingga akhirnya Donghae melepaskan ciuman paksanya saat Eunhyuk menampar pipinya, sebuah tamparan keras hingga membuat seorang Lee Donghae terdiam dengan sebelah pipinya yang memerah padam.
"Orang tuamu melarang hubungan kita, Hae!" Eunhyuk berteriak, jatuh sudah air mata yang sedari tadi ditahannya. Ia sedih, marah, kesal, semua satu dalam perasaannya. Sedih dengan nasib hubungannya dan Donghae sekarang, marah karena Donghae yang tak dapat mengerti dengan keadaan, dan kesal pada dirinya sendiri karena terlalu mencintai Donghae sampai ingin membencipun ia tak bisa.
"Pulang, Hae…" Eunhyuk masih terisak, kemudian menghapus air matanya dengan sedikit kasar. Sebelah tangannya menunjuk pintu café, meminta Donghae dengan sangat agar pria itu mau keluar sekarang juga.
"Chagi-"
"Pulang, Hae!" Eunhyuk kembali membentaknya, dan Donghae bersumpah ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya Eunhyuk berkata dengan nada setinggi itu. Dan rasa panas di pipinya, ia juga baru mendapatkannya dari Eunhyuk. Orang yang dicintainya, orang pertama yang yang berani menamparnya.
"Baik," Donghae tersenyum hambar, kemudian melangkah mundur. "Aku pulang, sesuai keinginanmu." Donghae masih berjalan mundur, merentangkan tangan dan menunjukan pada Eunhyuk ia menuruti keinginannya.
Eunhyuk membuang muka, menatap kemanapun asal ia tak menatap Donghae yang kini benar-benar keluar dari dalam café. Saat Donghae sudah keluar, ia menatap Donghae yang kini menghampiri mobilnya. Dengan jelas ia melihat bagaimana kesalnya Donghae. Menarik dasinya dengan kasar, menendang ban mobilnya dengan keras, lalu masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobilnya dengan sekali bantingan. Dan Donghae pun benar-benar pergi dari area café dengan melajukan mobil dalam kecepatan tinggi.
.
.
"Hubungi dokter pribadiku."
"Baik, tuan."
"Cuci bersih semua pakaian kotor yang Kibum bawa."
"Baik, tuan."
"Buatkan bubur untuknya dan bawa ke kamar."
"Baik, tuan."
"Lalu Kibum ah, siapkan piyama untuk dipakainya nanti."
Satu persatu pelayan-pelayan rumah yang awalnya mengikutinya mulai pergi, menuruti kemauannya dan mengerjakan apa yang dimintanya dengan cepat jika tak ingin kena marah karena lamban. Begitu pula dengan Kibum, ia yang datang bersama Yesung dari kantor langsung melesat menuju kamar Ryeowook dan mencari piyama sesuai keinginan majikannya itu.
Yesung berjalan dengan cepat, hari ini ia pulang lebih awal dari biasanya karena suatu hal. Ia menggendong Ryeowook dengan bridal. Dibalik wajahnya yang datar tak berekspressi, sebenarnya ada sedikit rasa kekhawatiran di benaknya.
Ryeowook demam, dan ia tahu ini semua karena salahnya. Yesung yang terlalu memikirkan diri sendiri tak peduli saat Ryeowook mengeluh karena ruangan pribadinya di kantor terlalu dingin, walau saat itu tubuhnya ditindih di atas sofa oleh Yesung yang sama telanjang dengannya, ia tetap merasa kedinginan. Lagipula ia sudah lebih dulu ditelanjangi oleh Yesung. Ditambah Yesung yang tak berhenti menyetubuhinya, mungkin ia tak akan berhenti jika saja ia tak tahu bahwa Ryeowook sudah hampir kehilangan kesadarannya.
Jika di awal Ryeowook benar-benar antusias dan senang saat Kibum berkata bahwa Yesung menyuruhnya untuk datang ke kantor, setelah apa yang diterimanya tadi ia benar-benar akan mengubur dalam rasa bahagianya itu.
Yesung membawa Ryeowook ke kamarnya, lalu menidurkannya dengan hati-hati di ranjang. Ryeowook benar-benar pucat sekarang. Yesung mendudukan tubuhnya di pinggir ranjang, memperhatikan Ryeowook lalu menutupi sebagian tubuh pria itu hingga dada dengan selimut tebal miliknya.
"Kau membuatku khawatir... dan aku benci mengakuinya."
Yesung menghela nafas. Ia tak pernah merasakan rasa seperti ini lagi, terakhir kali ia merasakannya saat kedua orang tuanya dalam keadaan sekarat.
Ia membaringkan tubuhnya di samping Ryeowook, walau sekarang ia masih berpakaian lengkap kantor ia tak peduli. Ikut masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh Ryeowook dengan pelan, suatu hal yang jarang dilakukan oleh orang kerasa kepala dan mau menag sendiri seperti Yesung.
Entah apa yang ia katakan, ia bergumam tak jelas dan membisikannya pada Ryeowook. Menutup mata dan bernafas di dekat telinga Ryeowook. Dan saat ia kembali membuka mata dan menatap lurus ke depan, sesuatu membuatnya penasaran. Sebuah kotak berwarna merah muda, warna yang benar-benar Yesung benci karena terlalu mencolok kini berada di atas meja nakasnya.
Yesung bangkit dan mencoba menggapai benda itu dengan berusaha tak menimbulkan suara yang terlalu mengganggu. Saat ia berhasil mengambilnya dan membuka penutup kotak berukuran sedang itu, sebuah kertas menyambut penglihatannya. Dalam diam ia pun membacanya.
Dear Yesung hyung~
Selamat hari jadi yang kedua! ^^
Yesung terdiam, berpikir dan heran bagaimana pria bernama Kim Ryeowook itu mengingatnya. Bahkan ia sendiri pun lupa 'hari jadi'nya dengan Ryeowook. Atau lebih tepatnya ia tak pernah tahu kapan dan tanggal berapa mereka mulai berhubungan.
Semakin hari aku semakin mencintaimu. Bagaimana denganmu?
Apa kau pun merasakan hal yang sama, hyung? Kkkk~
Yesung merasa geli sendiri membacanya. Cinta? Bahkan ia tak tahu dengan jelas apa arti cinta selama ia hidup dalam 24 tahun ini. Cinta hanya akan membuatmu lemah, bodoh, tanpa arah, dan terlihat konyol, seperti itulah pendapat Yesung.
Aku berharap hubungan kita menjadi baik, lebih baik, sangat baik, dan yang terbaik.
Aku hanya bisa memberikan ini sebagai hadiah dariku, Kibum berbaik hati mau keluar rumah membelikanku perlengkapan untuk membuatnya. Kuharap kau tak marah^^
Maaf aku hanya bisa memberikan ini, tapi semoga hyung suka ne? Kkk~
Saranghae~*
Sebuah topi rajutan. Yesung mengeluarkannya, tersenyum tipis dan memperhatikan benda tersebut. Ia sudah besar, sudah dewasa, apa masih pantas memakai topi yang bahkan modelnya seperti topi untuk bayi (menurut Yesung) seperti ini?
"Ye… Wook?" gumam Yesung saat membaca tulisan yang berada di topi itu. Membuatnya kembali terkekeh geli. Ada-ada saja, pikirnya.
Yesung menaruh kembali kotak tadi di tempatnya, tapi tidak untuk topinya. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya secara perlahan ke wajah Ryeowook. Nafas hangatnya menerpa wajah Ryeowook, jika saja namja manis itu dalam keadaan sadar mungkin wajahnya akan memerah.
"Terima kasih…"
Dan Yesung memberikan kecupan ringan di dahi Ryeowook, untuk pertama kali dalam hidupnya ia dapat bersikap lembut seperti itu.
.
.
[Author's note]
Aaaaaa maaf saya ngaret banget, modem saya habis dan ini baru diisi T_T Saya juga baru bisa publish ini dulu, karena My Naughty Rommate filenya kehapus huweeeeee *jedotin pala* sedangkan My little Family baru setengah dan ELL&CAN belum diedit hehehe.
Kalian tahu? Saya selalu senyum senyum kalau baca review yang isinya saran atau bahkan kritikan, saya ngerasa readers saya benar-benar perhatian (?) dan saya sangat suka aaaaaa~ *pelukin*
Dan wajah saya akan berubah seperti "._." Kalau ada readers yang bilang "AUTHORR KEJAMMM! YESUNG JAHATT! RYEOWOOK KASIHAN! AUTHOR SENENG BANGET SIH NYIKSA?" serius saya takut ._. jangan amuk saya hiksss.
Disini otak saya benar-benar kekures buat bikin NC -_- jadi ide saya buat ngejelasin 'ada-apa-jongwoon-dan-youngwoon', 'bagaimana-perasaan-jongwoon', dll menghilang entah kemana -_- saya jelasin chap depan deh hehe. Dan saya sebenernya masih banyak yang saya mau kasih tau ke kalian, tapi saya lupa ._. topi yang Ryeowook kasih tuh topi yang sering dia pake kalau siaran di SUKIRA itu loh, yang ada bandul dua di ujungnya hahahahah.
Eunhyuk disini muncul, ada hubungannya kok sama Ryeowook, taulahhhhh :3
BIG THANKS to: LEEN 25 | Lee Chizumi | Guest2 | YangirEcchi'95 | Phylindan | pumpkinsparkyumin | wulandarydesy | fieeloving13 | Kim Sooyeon | NicKyun | ririn chubby | Guest3 | yuliAYWS | Daevict024 | yws | Giie-tha1212 | choi Ryeosomnia | cho yayas kyumin | SSungMine | ichigo song | dhian930715ELF | jongwookie | whisperer | Guest4 | yunip | .16 | yhe | Yewook Turtle | chikakyumin| R'Rin4869 | misskyu0604 | trilililili | EternalClouds2421 | nanissaa | Guest5 | yumiewooki | bluenamikaze | YeyeWooKIM97 | Always YeWook| Guest6 | nanissaa | jongwookie | Whisperer | One Eyes | AnieJOY'ERS | NicKyun | babyryou | yewookshipper | Cholee137 | TiiloveRyeoTao | christiana | ichigo song | Love Clouds | melochoco | lia | diitactorlove | Kyute EvilMagnae | ichigo song | dhian930715ELF |Yewook Turtle
Sayonara~ sampai berjumpa lagi… Review lagi yaaaaaa
"Ayo lestarikan Fanfic YEWOOK yang mulai langka! Hwaiting~!"
