Memento Mori

(The Sequel of : Demion; The Story of Wasted Angel)

Title: Not too Strong

Cast: Kim Taehyung, Jeon Jungkook, Park Jimin, Min Yoongi, Kim Seokjin, Kim Namjoon, Jung Hoseok, and OC's

Genre: Romance, Fantasy, YAOI, Marriage life,Mpreg

Length: Chaptered

Rate: T

****Chapter 3****

Jungkook tersenyum memandangi bayi mungil yang tertidur di box bayi di samping ranjang Taehyung yang juga terpejam dengan selang infuse terhubung pada lengannya. Lapisan epidermis bayi perempuan itu tampak memerah dan begitu rapuh, membuat Jungkook sangsi untuk menyentuhnya bahkan seujung jaripun.

Rasanya Jungkook ingin menangis melihat keajaiban di depan matanya. Mendengar suara tangisannya beberapa jam yang lalu untuk pertama kalinya membuat Jungkook tak berhenti mengucapkan terima kasih pada Taehyung yang telah melahirkan keajaiban untuknya.

Kesabarannya menghadapi Taehyung selama 9 bulan terbayar begitu bayi perempuan ini terlahir ke dunia. Awalnya Jungkook begitu khawatir saat Taehyung tak berhenti meringis kesakitan. Ketika dokter memberitahunya mengenai kondisi Taehyung dan memintanya memilih antara Taehyung atau bayinya sempat membuatnya begitu frustasi.

Dan kini bayinya telah lahir dengan sehat. Begitu cantik. Begitu menggemaskan dan bercahaya.

Namun tidak dengan Taehyung-nya.

Jungkook mengalihkan atensinya pada Taehyung. Dadanya bergerak fruktuatif membuktikan dirinya masih menghirup oksigen. Namun kedua obsidiannya masih terpejam entah sampai kapan.

Jungkook membawa ibu jarinya mengusap bagian bawah kelopak mata Taehyung yang sedikit membengkak. Kemudian beralih menuju pelipis Taehyung, mengusapnya lembut seolah Taehyung adalah berlian yang begitu rapuh.

Jungkook membaringkan kepalanya di atas bantal Taehyung, tepat di samping kepala Taehyung. Jemari Jungkook menggenggam erat jemari Taehyung yang terbebas dari jarum infuse, mengusapnya lembut menyalurkan kehangatan.

Jungkook hanya bisa berharap efek anestesi pada tubuh Taehyung segera berakhir dan kelopak mata nya dapat segera membuka menampilkan obsidian indah milik Taehyung.

''Tae, kau harus segera bangun sebelum putri kita. Arachi?''

''Kau tahu sayang? Putri kita cantik sekali.. Sepertimu..''

''Aku belum memberinya nama. Aku takut kau tidak suka nama yang akan kuberikan jadi aku menunggumu bangun dulu..''

''Karena itu, kau harus segera bangun..''

Dan Jungkook terus saja berbicara seolah Taehyung memang mendengarnya. Ia tak menyadari eksistensi Yoongi dan yang lainnya yang memandangnya miris dari balik pintu.

.

.

Ketika Yoongi juga lainnya kembali ke ruangan Taehyung, ia mendapati Jungkook sudah tertidur dalam posisi duduk dengan kepala bertumpu di samping kepala Taehyung. Sejenak mereka menghela nafas lega. Setidaknya pemuda itu dapat beristirahat. Sudah hampir 24 jam Jungkook terjaga dan itu membuat semuanya khawatir.

Yoongi bahkan tidak yakin Jungkook mengingat kapan terakhir kalinya ia makan. Efek kekalutannya pada sosok Taehyung. Tangan Seokjin terulur mengambil sehelai selimut dari dalam lemari kecil di pojok ruangan lalu menyampirkannya di bahu Jungkook. Tak lupa ia membenarkan selimut Taehyung juga bayinya.

Jimin hampir saja berteriak ketika mendengar Taehyung melenguh pelan jika saja Yoongi tak membekap mulutnya. Jihyun,istri Hoseok, selaku dokter yang menangani Taehyung segera menghampiri pasiennya.

Taehyung mengerjapkan kedua bola matanya, menyesuaikannya dengan silau cahaya lampu. Aroma obat-obatan membuatnya sadar akan keberadaannya tanpa perlu bertanya. Ia mengedarkan pandangannya dan mendapati teman-temannya ada di ruangan yang sama juga Jihyun yang tersenyum di hadapannya.

Hampir saja Taehyung mengeluarkan suaranya jika Jihyun tidak memberi isyarat. Membuatnya menoleh ke samping tepat dimana wajah Jungkook berada tak jauh darinya. Gurat lelah yang terpancar disana membuat hati Taehyung mencelos.

Dengan amat pelan Taehyung berusaha duduk dibantu oleh Namjoon dan Hoseok, berusaha agar tidak mengusik Jungkook yang tertidur sambil berusaha melepaskan genggaman Jungkook pada jemarinya. Taehyung segera merentangkan lengannya ketika Jihyun mengulurkan bayinya.

Senyuman manis terulas ketika menatap wajah polos bayinya. Bayi mungil dalam dekapannya ini benar-benar duplikat Jungkook. Detik berikutnya mata cantik bayi ini terbuka. Taehyung sempat terkesiap takut bayinya akan menangis namun nyatanya tidak. Bayinya hanya mengerjapkan mata mungilnya.

Obsidian Taehyung memburam oleh airmata. ''Apa Jungkook sudah memberinya nama?'', Taehyung bersuara pelan. Suaranya masih terdengar lemas.

''Belum. Dia menunggumu siuman sampai tidak tidur selama hampir 24 jam. Dia baru tertidur saat kami datang'', ujar Namjoon mewakili. Taehyung melirik suaminya yang tampak lelah. Bahkan ia tidak berganti pakaian. Taehyung tidak yakin Jungkook menyempatkan waktu untuk mengisi perutnya.

Taehyung menghela nafas, ia tahu Jungkook itu kuat tapi setidaknya ia harus memperhatikan kesehatannya. Seketika mereka mengalihkan atensi pada pintu yang terbuka, menampilkan Jihyun dengan botol susu bayi di tangannya.

Menit selanjutnya botol itu beralih ke tangan Taehyung dan sibuk dihisap oleh bayi dalam dekapannya. ''Uri princess lapar ne?'', Taehyung bergumam dengan begitu pelan.

.

.

Taehyung tahu Jungkook itu kuat. Sangat kuat malahan. Dia bisa memusnahkan satu kota dalam sekali jentikan tangan. Tapi tidak selamanya Jungkook itu tetap kuat. Beruntung bayinya sedang bersama kedua neneknya, jika tidak, mungkin bayi perempuan itu akan kembali menangis mendengar teriakan Taehyung.

Taehyung tidak bisa untuk tidak berteriak panic ketika tubuh Jungkook limbung hendak menghantam lantai begitu pemuda itu berdiri jika saja Daehyun tidak sigap menahan tubuhnya. Dan beginilah akhirnya, Jungkook harus ikut berbaring dengan selang infuse tertancap di lengannya.

'Jungkook kelelahan. Dia harus istirahat setidaknya tiga hari untuk memulihkan kondisi tubuhnya',

Ucapan Jihyun terngiang di benak Taehyung. Tanpa menunggu lama, Taehyung mengambil ponsel Jungkook dan menghubungi sekretarisnya untuk memintanya mengosongkan jadwal Jungkook selama pemuda itu sakit.

Semenit kemudian Taehyung kembali memusatkan atensinya pada Jungkook yang tampak gugup ketika Taehyung menatapnya. Lain halnya dengan Jungkook yang terbaring, kondisi Taehyung mulai membaik hingga bisa duduk di samping ranjang Jungkook.

Jangan tanya bagaimana bisa pasangan ini dirawat di ruangan yang sama. Rumah sakit ini masih dibawah label nama Jeon. Tiga hari kedepan mereka akan tinggal di VVIP Room Rumah Sakit ini.

Pintu terbuka membuat mereka mengalihkan atensi mereka. Yeonhee dengan menggendong bayi Taehyung juga diikuti Nayeon dibelakangnya memasuki ruangan. Yeonhee segera mengulurkan bayi mungil di dekapannya pada Jungkook.

Kening Taehyung berkerut bingung saat Jungkook memintanya mengambil alih bayi mereka. Meskipun sedikit kasihan dengan raut memelas Jungkook, Taehyung memilih menolak permintaannya.

''Tenang saja Jungkook-a, kau tidak akan melukai putrimu sendiri'', tutur Yeonhee. Wanita ini sudah menduganya sejak awal. Menantunya terkena Baby Blues.

''Kookie, kau takut menyentuh bayi kita?'', Jungkook menunjukkan raut menyesal. Taehyung semakin bingung. Seingatnya dulu Jungkook pernah menyelamatkan seorang bayi, lalu kenapa sekarang pemuda ini takut?

Taehyung menangkup pipi Jungkook,''Kau tidak akan melukainya,Kookie-a. Percaya padaku. Kau bahkan belum memberinya nama..'', Jungkook tampak menimang-nimang sebelum melirik ibu mertuanya. Dan Taehyung terpekik pelan saking senangnya.

Beberapa menit berlalu, Jungkook mulai nyaman menggendong bayinya. Taehyung berjaga di samping Jungkook sementara yang lainnya memilih keluar meninggalkan keluarga kecil tersebut.

''Tae, boleh aku yang memberinya nama?''

''Tentu saja, kau kan Ayahnya..''

Senyuman tersemat di wajah tampan Jungkook saat memandangi bayinya,''Namanya Sana. Jeon Sana''

.

.

END