Setelah pamit sama Mama-Baba yang lagi enak-enakan nonton berdua di ruang tengah, Yixing masuk kamar lalu menghela nafas panjang.
Sial, hari ini banyak banget kejadian. batinnya nelangsa.
Otaknya memutar lagi kejadian tadi pagi. Wajah Joonmyeon yang penuh keyakinan dan nggak bisa mundur lagi itu membuat Yixing mau tidak mau menuruti perkataan Luhan –bahwa Joonmyeon serius dengan perkataannya.
Ditambah lagi Yifan. Wajah cowok blasteran Bule yang memelas untuk kesempatan kecil itu mengusik banget. Yixing ngerasa bersalah sekaligus nggak bisa bayangin Yifan bakal bisa cepet move on atau nggak. Yah, semoga aja di Qingdao si Tiang Listrik dapet pengganti yang lebih baik daripada dirinya, amiinn…
Ponsel yang tadinya sengaja dia off, kini menampilkan beberapa pesan masuk dan panggilan yang tidak terjawab.
Satu pesan dari teman kampusnya. Oh, masalah tugas palingan; gampang mah, bisa dihubungin balik.
Dua pesan dan lima miscall dari Luhan. Yixing nggak mau hubungin Luhan langsung; dia kapok telepon Luhan malem-malem, takut kedengaran suara yang nggak sepantasnya dia dengar.
Sepuluh pesan dan lima miscall dari nomor yang tidak dia kenali sama sekali. Yixing ngerutin alis. Siapa ya? Dia nyoba buka pesan yang paling baru dan akhirnya ia tahu bahwa si nomor asing itu milik Joonmyeon sendiri.
Satu pesan terakhir yang belum dia buka; pesan ketiga. Yixing baca pesan itu dan membuatnya sakit jantungan.
Plis, gue nggak pengen mati muda. Gue masih mau beranak pinak bareng Joonmyeon…
.
.
Fr: 0102-8900xx
Sub: -
Mess: Kita nggak bakal selamanya jadi teman baik kan, Xing?
.
.
"(Mantan) Tetangga Kesayangan"
Kim Joonmyeon/Suho EXO | Zhang Yixing/Lay EXO | Wu Yifan/Kris
Romance | Humor | Friendship
Lenght: 3shot | Rated: Teen
#Disclaimer: Cast bukan punya saya. Ide diambil kisah nyata(+20% khayalan), plot dan isinya (kecuali cast) adalah milik saya. atas pen-name Hwang0203
.
Note: Jazz-ie and Madafaqa, arigatou-gracias :)
.
.
Sub-tittle Chapter 3-end : We're Not Friends Anymore
.
Ponselnya nggak aktif. Dua hari ini yang ngangkat selalu suara merdu Mbak Operator. Yixing gigit jari sambil memutar balik handphone yang hampir aja pelukan sama tembok kalo dia nggak gesit buat nahan adegan itu.
Joonmyeon kemana sih? Apa kabar dia?
Itulah pertanyaan Yixing selama dua hari terakhir. Cowok dengan nama samaran Suho itu menghilang setelah insiden penembakan secara tidak langsung. Mulai dari sambungan telepon yang selalu dijawab Mbak Operator, Yixing juga sampai mampir ke perusahaan Papa Choi demi lihat putera beliau yang nggak ada kabar sama sekali.
"Bukannya malem itu Joonmyeon bilangnya nginep di rumah kamu ya?" tanya Choi Siwon ketika Yixing bertanya keberadaan terakhir puteranya dua hari yang lalu.
Dengan alis berkerut, Yixing bantah. "Nggak kok, Oom. Malem itu saya cuma kelonan sama guling aja kok."
Hari itu ia lemas harus menerima kenyataan Papa Choi nggak tahu keberadaan putera satu-satunya itu. Apalagi kalimat kramat yang dilancarkan Papa Choi.
.
'Minggu depan kami bakal balik ke Nice lho, Yixing-ah. Bisa jadi Joonmyeon duluan pergi ke Nice tanpa kabar, atau dia keluyuran sebelum pulang lagi ke Nice?'
.
Mamvuss… Yixing udah bikin anak orang kelayapan nggak jelas dengan kabar yang ikutan nggak jelas. Untung aja Yixing masih belum ketemu Mamah Sooyoung. Kalo dia ketemu Mamah Sooyoung dan tahu anak satu-satunya itu hilang kontak gara-gara Yixing –bisa jadi adegan sinteron jambak-jambakan bakal in action.
Luhan yang tahu kabar ini juga ikut kewalahan. Cowok cantik itu terus mencari Partner-in-crime masa kecilnya di berbagai tempat yang biasa jadi dikunjungi Joonmyeon; kayak Namsan Tower, sekitaran Gangnam, atau distrik bisnis Jung-gu. Ada banyak lagi sih. Tapi Yixing nggak tahu pasti.
Kalo dipikir-pikir tiga hari ini; mereka lagi nyari cowok usia 19 tahun yang kelayapan atau nyari bocah TeKa berumur 6 tahun yang ilang?
Bisa aja kan? Toh, bisa aja Joonmyeon nyebur di kolam ikan gara-gara ditolak Yixing secara nggak langsung (emang iya?)
Apalagi, kasus pengakuan Yifan yang jadi menumpuk utama. Duhh…
… wait a second. Masalah pengakuan Yifan?
Yixing jadi inget rumah Joonmyeon yang udah lama kosong itu. Jangan-jangan…
Yixing udah jedorin kepalanya duluan ke tembok kamar. Kalo dipikir-pikir ulang, bisa jadi kan? Bisa jadi Joonmyeon ada di kamar itu, lihat adegan drama dari Drama-King-Yifan lalu Joonmyeon mikir kalo dia nggak nolak Yifan.
Bisa jadi sih….
"Gue harus lapor dulu ke Luhan." Yixing buru-buru ambil jaket sama dompet.
.
.
Gini nih yang nggak dia demen dari Luhan kalo udah ada Sehun yang ada di sebelahnya. Berasa Yixing cuman karung goni tak layak di mata mereka. Suweg jadi kacang rebus. Lha mereka enak-enakan PDA di depannya meskipun tahu Yixing pengen lapor hal penting.
Kayak gini…
"A'a Hunhun nih kacangnya udah Yayang-Lu kupasin. Aaaaa~~"
"Aaammm~~~ umm, kacangnya enak sih, Yayang-Lu. Tapi maunya pisang dari Yayang-Lu~~"
"Ahh, A'a Hunhun mah gitu, ntar malem yaaa~~~ :* "
"Sore aja A'a Hunhun mampir di apartemen Yayang-Lu. Ndak sabar pengen sodok-sodok sampai Yayang-Lu ketagihan lagi sama pisang gedenya A'a.."
Yixing geram, Mamah!
"EKHEMM! Kalian berdua sedekah nyawa ke gue ya? Mumpung gue bawa golok sama clurit nih." aksi protes Yixing dapat tanggapan bagus dari pasangan tersebut. Buktinya, Luhan sama Sehun langsung jauh-jauhan.
"Ehm," dehem Luhan. "Jadi kalo diringkas ceritanya; Pas malam Yifan meluk lo itu, nggak sengaja diliat Joonmyeon di bekas rumahnya dulu –tepatnya di kamarnya, gitu?" reka Luhan dan dapat anggukan keras dari Yixing.
"Ya terima aja nasib. Salahin si Yifan. Salahin si Joonmyeon. Salahin diri lo sendiri udah ngebuat hal sederhana kek gini jadi cem drama FTV!" celoteh Luhan.
"Duh, Han, lo beneran nggak bisa dimintai tolong ya. Maksud gue… bukannya rumah itu dipegang Pamannya Joonmyeon dulu ya? Kok dia bisa masuk sih? Nggak mungkin dong yang gue liat hantu."
Sehun udah pasang wajah serem. "Bisa jadi itu hantu, hihihihi….." godanya untuk menakuti-nakuti Yixing. Berhasil emang, buktinya Yixing meringis ketakutan.
"Lo beneran mau golok gue mampir di kepala lo ya, Hun dan lo sukses jadi hantu beneran kalo gitu." Sehun berhenti menakuti sohib pacarnya lalu beralih pada segelas bubble tea.
"Han, lo bantuin gue kek! Minggu depan Joonmyeon balik ke Nice. Sial!"
Luhan yang tadi asyik sedot bubble tea dan Sehun yang ngelihatnya pengen disedot juga. (abaikan kalimat ini)
"Xing, lo mau gue bantuin kan? Lo nggak butuh bantuan gue. Sekarang lo biarin aja Joonmyeon. Mungkin dia pengen waktu sendiri."
Yixing menghela nafas. Pasrah dan memilih menurut apa kata Luhan.
** Joonmyeon ― Yixing **
Joonmyeon tekan tuts piano berkali-kali, menghasilkan nada tangga tak beraturan tetapi manis terdengar di telinga. Piano tua yang masih terlihat bagus. Beberapa rak buku yang tidak terlalu diisi banyak buku-buku, atau juga deretan keping CD musik instrument klasik maupun genre jazz menumpuk di sudut ruang.
Perapian di pojok kiri ruangan itu nggak berubah sama sekali, sofa merah usang kesayangan Kakek juga masih belum dibuang –dibiarkan saja seolah arwah Kakek bisa datang kapan saja untuk duduk di sofa itu selagi perapian menyala.
Kalau kayak gini, dia kembali ke masa kecilnya. Duduk dipangku Kakek yang main piano, duduk di sofa depan perapian sambil ngomongin banyak hal sama Kakek.
Ruangan Kakek adalah satu-satunya tempat Joonmyeon berkeluh kesah –termasuk masalah yang ia hadapi mengenai Zhang Yixing.
Cowok itu apa kabar? Tiga hari dia ninggalin Seoul tanpa kabar. Bahkan Mama dan Papanya tidak ia beri kabar. Biarlah, Pamannya pasti akan mengabari kedua orangtuanya.
"Joon? Liat nih, Tante belajar bikin Rainbow Cake, ayo dicoba dulu." Tante-nya, istri dari Pamannya yang bernama Choi Seunghyun, masuk dengan nampan isi dua piring Rainbow Cake dan juga dua gelas es teh manis.
"Nggak perlu repot-repot, Tante."
"Joonmyeon jarang kesini sih. Sekalinya juga yang di Seoul terbang ke Nice." Joonmyeon tersenyum maklum. Rata-rata keluarga Choi itu perantau. Hanya Paman Seunghyun yang masih di Seoul mendekami rumah peninggalan Kakek.
"Joonmyeon waktu kecil kan sering curhat ke Kakek. Kakek bakalan mainin instrument biar Joonmyeon tenang. Tante betul nggak?" tanya Tantenya menerawang masa lalu, Bibi Boom, sewaktu beliau masih dalam masa pacaran sama Pamannya, Choi Seunghyun.
"Iya, Tante."
"Kalau kamu kesini, pasti ada masalah ya. Boleh Tante tahu?"
Cowok pendek itu melepaskan pegangannya pada garpu. Entahlah. Dia pikir juga kenapa dia bisa kesini? Niatnya dia pengen lari dari kenyataan –kalo Yixing yang ditunggunya selama ini nggak menaruh harapan seperti yang ia duga.
Zhang Yixing No Sarang to Kim Joonmyeon. Nyelekit bruh. Apalagi dia kalah saingan sama Tiang Listrik yang juga memulai debut memperjuangkan cinta Yixing di waktu yang sama.
Dia pengen lari. Pengen sendiri ke tempat yang nggak bisa siapapun jangkau. Dia tahu, dia udah 19 tahun dan sudah sewajarnya dia pikir masalah hati ini bisa diselesaikan secara sikap dewasa.
Nggak bisa. Dalam diri Joonmyeon masih nggak rela kalau Yixing naruh kepercayaan dan perasaannya ke orang lain; bukan dirinya.
"… Cinta sepihak ya?" celutuk Tantenya ketika dia sadar udah bengong dari tadi.
"M-maaf, Tante! Keasyikan melamun." Boom tersenyum memaklumi.
"Sakit sih ya, kalau cinta sepihak nggak dibalas sama orang yang kita pengen. Munafik juga kalau bilang kita bahagia asalkan dia juga bahagia. Semua rasa sakit, kita akan belajar darinya. Itu akan membuat kita dewasa menyikapinya. Nggak jadian sekarang bukan berarti bukan jodoh. Tali aja bisa putus, masa pacaran nggak?"
Joonmyeon mengulas senyuman ketika kalimat panjang penuturan Tantenya selesai. Meskipun masih ada rasa tidak rela, setidaknya dia sedikit terhibur. Ya, hitung-hitung menghargai Tantenya yang udah berusaha ngebuat dia merasa nggak sedih lagi.
** Joonmyeon ― Yixing **
Yixing kesel kan.
Dia udah dibikin capek sama dosennya yang seenaknya ngasih tugas seabrek mentang-mentang Yixing ngelamun dan nggak nyimak apa yang beliau presentasikan.
Keselnya juga, pas dia pulang mau tiduran, Mamanya nyelonor masuk ke kamarnya tanpa ketuk pintu.
Untungnya Yixing pake baju. Kalo telanjang kan malu sendiri. Udah gede kok masih aja telanjang diliat Mama sendiri. Malu, elah.
"Mama! Ketuk pintu dulu dong!" protes Yixing kezel.
"Bangun, pemalas! Terus ganti pakaian kamu tuh, bau apek!" perintah sang Mama.
"Kenapa harus ganti sih? Yixing capek tauk, Yixing cuma butuh istirahat."
Mamanya balik badan. Dengan tatapan setajam katana punya Kyungsoo –junior Yixing semasa SMA– seolah itu pilihan nggak bisa diganggu gugat. "Kamu punya tamu lagi nunggu di teras depan. Nggak malu penampilan kayak gembel begitu?"
"Siapa, Ma?" bukannya jawab, si Mama langsung nutup pintu kamar lalu turun ke dapur.
Yixing nurut. Setelah dia keluar dari kamar dengan baju yang lain, Mamanya dateng lagi. Apalagi pisau di tangan kiri semakin menguatkan praduga Yixing kalau yang bertamu itu bukan orang biasa.
Tamu itu adalah cowok yang ia rindukan selama ini.
Cowok yang selalu ia hubungin tapi nggak bisa.
Cowok yang selama hampir sebelas tahun ini mampu ngebuat Yixing bersabar banget buat nunggu.
"Hai," cowok itu tersenyum seolah nggak merasa bersalah banget ngebuat Yixing resah selama empat hari ini dia menghilang.
"Kim Joonmyeon?!"
.
.
Luhan dan Yifan lagi ngerjain tugas sekolah mereka; menggambar. Ini adalah bagian yang paling dijagoi oleh Yifan –meskipun itu cuman gambar ulet yang melar dengan kakinya yang banyak.
Nggak masuk akal, tapi Yifan ngotot itu sebuah master piece.
Sedangkan Yixing dan Joonmyeon sedang meloncat-loncat diatas trampolin mini. Kayaknya sih cuman Yixing aja deh yang lompat-lompat, Joonmyeon cuma duduk di pinggiran trampolin doang sambil pangku buku. Calon penerus Papah Choi dong, jadinya Joonmyeon harus banyak baca bacaan bisnis.
"Joonmyeon! Ayo, ikutan! Seru lho," Yixing berseru meminta temannya itu juga ikut loncat-loncat gaje di atas trampolin. Tapi yang diajak cuek bebek aja. Fokusnya masih di buku.
"Joonmyeon~~" Yixing mencoba mendekat ke arah anak laki-laki sebayanya itu. Sayangnya, saat akan berjalan di atas trampolin yang masih dalam mode memantul, Yixing jelas aja terpantul dan tidak punya keseimbangan.
"Woah~~" Joonmyeon yang merasa tidak beres pada pantulan trampolin yang temponya tidak jelas itu, menemukan Yixing yang masih terpantul hingga menuju pinggiran dan akhirnya terjatuh dengan keras.
Joonmyeon melempar bukunya entah kemana dan berputar ke tempat Yixing terjatuh. Dengan posisi pipi kiri Yixing mendarat di tanah rerumputan serta lutut kaki kiri yang tertekuk tidak wajar itu membuat Joonmyeon menjerit histeris.
"Yixing!" Joonmyeon mencoba membuat posisi Yixing menjadi terlentang dan lekukan lutut itu menjadi lurus kembali. Yixing meringis kesakitan, setelahnya malah tertawa kecil.
Joonmyeon yang masih anak-anak saat itu hanya menatap bingung sekaligus khawatir pada gebetannya.
Kepalanya kebentur tadi ya? – pikir Joonmyeon.
"Akhirnya," desah Yixing. "… kamu ngebuang buku bisnis itu ya? Ah, apa aku perlu jatuh dulu ya, Myeon, biar kamu nggak baca buku itu terus supaya bisa main sama aku?"
Joonmyeon nggak mudeng sama sekali. Tapi begitu beberapa detik berlalu, Joonmyeon langsung menganga lebar.
Anak ini ajaib, sungguh. Emang kalau mencuri perhatian Kim Joonmyeon harus celaka dulu ya?
Ya jelas nggak lah.
Sebenarnya, ini murni kecelakaan. Tapi Yixing menangkap hidayah dari kecelakaan kecil ini.
Supaya perhatian Joonmyeon teralih dan mau bermain lagi dengannya.
"Aww!" Yixing meringis saat ingin bangkit. Lutut kirinya nyeri luar biasa.
Joonmyeon yang sadar akan hal itu, buru-buru mencegah Yixing bangun lagi. "Tunggu, aku mau manggil Luhan hyung sama Yifan hyung dulu. Sekalian sama Baba kamu. Jangan gerak dulu, oke?"
"Nggak mau! Huwee... aku nggak mau sendirian, sakit tau Myeon!"
Yixing kira Joonmyeon bakal cuek dan meninggalkannya untuk cari bantuan. Nyatanya Joonmyeon berlutut menawarkan punggungnya. "Ayo naik, pegangan leherku yang erat."
Yixing meringis. "Ta-tapi... aku berat lho."
"Katanya nggak mau sendirian? Ayo naik, aku antar pulang supaya kamu cepet dibawa ke klinik."
Air mata yang sempat mendominasi Yixing kini hilang, digantikan senyum lebar khas bocah ingusan. "Hum!"
Kim Joonmyeon sangat perhatian dengannya; tidak menjahilinya atau pun mendiamkannya lagi…
.
.
xx
.
.
[BGM: Sheila On 7 – Dan]
"Apa gue harus celaka dulu ya supaya lo nggak diemin gue kayak gini?"
"Hah?"
Mereka saat ini lagi di mobil Joonmyeon –yang entah mereka akan kemana. Setelah hening beberapa menit, Yixing membuka percakapan singkat mereka dengan pertanyaan.
"Iya; dulu lo cuekin gue, nggak jahilin gue sampai gue kira lo ngambek sama gue. Inget kejadian di trampolin nggak?"
Joonmyeon melirik Yixing di kursi penumpang sampingnya. "Ya. Udah lama banget."
Hingga kedua mata Yixing menangkap gedung yang tinggi menjulang. Dia hapal gedung itu, meski direnovasi, tetapi bentuk aslinya tidak diubah sama sekali membuat Yixing masih mengingatnya.
Gedung sekolah dasar mereka dulu.
Mobil Joonmyeon menepi memasuki area lapangan. Melihat pergerakan Joonmyeon yang melepas seatbealt dan juga membuka pintu kemudi, mau tak mau pemuda pecinta Unicorn ini mengikuti pergerakan sahabatnya.
"Wuah, kangen!" Yixing berseru merentangkan kedua tangannya ke udara. Lalu berlarian menuju tengah lapangan. Di satu sisi, Joonmyeon tersenyum geli. Tingkah Yixing masih saja kekanakan seperti itu yang ia syukuri; karena Yixing yang sama seperti sebelas tahun yang lalu itu adalah yang paling dirindukan Kim Joonmyeon.
Pemuda yang memiliki julukan 'Suho' itu menyusul Yixing, tetapi bukan untuk ikut berlarian kesana kemari. Tetapi menduduki salah satu ayunan yang tersedia.
"Eh, ayunan ini masih ada ya? Kirain udah karatan." decak Yixing yang sadar akan eksistensi ayunan tua.
"Mungkin besinya udah diganti yang baru."
"Masih inget nggak dulu Luhan sering dorong penuh ayunan ini? Gue bahkan sampai jatuh, untungnya nggak sampai luka, hahaha…" kenang Yixing semasa mereka masih di Sekolah Dasar.
"Dan nggak lama Yifan datengin kamu yang mewek. Maaf, aku cuma jadi penonton aja, bukannya nolongin kamu."
Yixing mengulum senyum, "Gue pengen balik ke masa-masa itu lagi, deh. Biarpun mau dikata kekanakan; yang dipikiran anak kecil itu polos, lugu dan apa adanya."
Joonmyeon memandangi senyum yang tercetak di wajah Yixing. Begitu ia mengangumi cowok sableng ini. Jujur, sebagaimana pun Joonmyeon mencoba lepas dari Yixing, dia tetep nggak bisa. Seolah mereka lagi main tarik tambang –Yixing punya kekuatan besar yang kasat mata buat narik Joonmyeon untuk terus berpaku padanya.
Seperti ini.
Bahkan maniknya tidak pernah lepas memuja sosok Yixing.
Tiap detik pergerakan Yixing akan berpengaruh terhadapnya.
Lihat kelopak mata itu yang tertutup dan terbuka secara slow motion.
Lihat manik mata itu, pancaran mata yang belum berubah selama belasan tahun.
Lihat! Senyumnya bahkan masih sama! Dimple-nya juga.
Apalagi bibirnya yang kissable itu, kalau Joonmyeon nggak inget mereka bukan mukhrim mungkin Joonmyeon udah main tjivok dari dulu.
Oh, ya ampun! Gimana anak tunggal kesayangan Papih Choi ini bakal move on?
Plis, samwan help mehh~~, teriak Joonmyeon dalam hati.
" –MYUN!"
"Eh? Apaan?"
Wajah polos dan manis itu cemberut ketika Joonmyeon kembali ke dunia realistisnya.
"Dari tadi gue manggil nggak disahutin. Berasa ngomong sama manekin." ledek Yixing kala itu. Joonmyeon cuma pasang senyum ala anak pejabat.
Tawa itu bergaung. Seolah ngisi hati Joonyeon yang sedang kosong. Yixing selalu bisa buat Joonmyeon berdebar dan dibuat kewalahan oleh perasaan.
Yixing si juara satu untuk Joonmyeon.
"Xing, gimana perasaan kamu pas hampir sebelas tahun baru ketemu aku?" tanya Joonmyeon. Yixing menghentikan laju ayunannya dan menatap selidik ke arah Joonmyeon.
"Ya jelas seneng banget! Gue kangen kalian –maksud gue, kangen Yifan-ge sama lo. Seolah kalian itu dua keping puzzle yang hilang. Dan nemu dua keping itu untuk disatuin sama kepingan lain, itu ngebuat gue lega sekaligus bahagia banget."
Joonmyeon yang denger itu jadi senyum kecut. Ah, dia nggak dapet posisi spesial di hati Yixing ya?
Dari jaman dahulu kala juga Yifan yang jadi penolong. Bak Doraemon yang nolongin Nobita dari kejahilan Suneo serta Giant. Yifan selalu ada kalau Yixing butuh bala bantuan dari ulah iseng dirinya dan Luhan. Nggak mengherankan jika kalau Yixing menyimpan rasa kepada Yifan –pahlawan masa kecil lelaki itu.
Harusnya Joonmyeon sadar dari dulu kalau dia itu nggak baik dan nggak nempatin posisi spesial di hati kesayangannya ini.
Mengingat beberapa hari lalu saat ia sengaja menunggu Yixing pulang bersama Yifan, ia seolah mendapatkan kode secara tidak langsung untuk mundur mengejar pujaan hati kesayangannya. Yifan menyatakan perasaannya –bahkan sempat memeluk Yixing. Joonmyeon nggak buta ya pas bagian Yixing negbales pelukan Yifan. Itu udah berarti banget. Mewakili segala pertanyaan di benak Joonmyeon.
–bahwa dia harus mundur dan melupakan Yixing. Mencoba untuk sembuh dan mencari cinta lainnya.
Joonmyeon mengeluarkan dua buah kertas yang sedari tadi ia sembunyikan di balik saku mantelnya. Tangannya terulur untuk menyerahkan dua kertas itu ke arah Yixing.
Yang disodori menatap Joonmyeon dan kertas itu bergantian. Setelah dilihat lagi, ternyata kertas itu sebuah undangan.
"… Myeon," lirih Yixing.
Yixing udah berpikir macam-macam pas disodorkan kertas yang mirip undangan. Imajinasinya melayang sampai ke adegan sinteron yang pernah ia tonton –saat si mantan kekasih yang masih diharapkan tokoh utama malah memberikannya kartu undangan pernikahaan.
Plis, bahkan mereka belum memulai apapun. Setidaknya berikan Yixing kesempatan.
"Farewell Party. Papih, Mamih dan aku udah sepakat bakal melepas Kewarganegaraan Korea Selatan buat pindah sepenuhnya ke Nice –salah satu kota di Perancis. Kami udah lama banget tinggal disana. Perusahaan juga pusatnya disana. Kami pikir, buat sepenuhnya pindah dan menetap disana itu ide bagus."
Tanpa sadar, Yixing meremas pelan sisi undangan yang disodorkan Joonmyeon kepadanya. Sambil menahan rasa sesak dalam dada juga nanar mata kedua mata indahnya.
"Perusahaan di Asia udah ditangani sama Paman dan Bibi. Papih sama Mamih ngurus anak perusahaan di Eropa, sedangkan aku mungkin bakal ke Amrik –nggak tau kapan, tapi secepatnya." lanjut Joonmyeon.
Plis, Myeon. Udahan ngomongnya! Kalau masih tetep ngomong, gue sumpel juga ini kaos kaki–
"–dan aku nggak bisa mampir ke Seoul selang beberapa tahun. Atau mungkin juga gak bakal kembali ke Korea." lanjut Joonmyeon.
Udah, cukup! Yixing nggak tahan, Mamah. Cowok kelahiran Changsa ini berdiri dari ayunan.
"Myeon, lo pikir hubungan kita ini apa? Gue, Luhan-ge, Yifan-ge dan lo. Apalagi gue; lo nggak mikirin gimana perasaan gue sekarang?!"
Joonmyeon terperangah. Bukan karena dia baru tahu kalau Yixing jago bentak-bentak macam Ibu Tiri.
Tapi air mata yang keluar menyesakkan dadanya.
Dia udah bikin Yixing nangis. Dia udah bikin mantan tetangga kesayangannya ini nangis karena kepindahannya yang sebentar lagi. Nggak ada Yixing, seperti belasan tahun ini mereka jalani. Tapi kali ini bahkan terasa seperti perpisahan selamanya meskipun kaki menapak bumi.
Cowok bermarga Kim ini mencoba menepis untuk tidak memberikan sebuh pelukan ataupun jabatan tangan yang menjalarkan kehangatan diantara mereka. Joonmyeon memenangkan egonya ketimbang nuraninya.
Joonmyeon mementingkan egoismenya ketimbang perasaan cinta yang tulus.
"Lo mau pergi kan? Oke, silahkan." nada suara Yixing bergetar. Joonmyeon terperangah mendengarnya. Tapi dia lebih kaget lagi saat Yixing berdiri di tempatnya, lalu meremas kertas undangan yang ia sampaikan.
"Ini kan yang lo mau? Dari dulu lo pengen menjelajah dunia. Lo nggak terpaku hanya dengan di tanah kelahiran lo saja. Gimana dengan impian lo pengen jadi pilot? Ah, gue lupa. Keluarga lo kaya; bahkan pesawat jet pribadi itu mudah banget. Dan lo bakal jadi pengusaha terkaya kalau Paman Choi bakal lepas jabatan. Buat apa susah-suah kerja jadi pilot, ya kan?"
"Xing," Joonmyeon ikut berdiri, menarik lengan Yixing untuk menghadapnya, tetapi ditepis. Sentakan kasar itu membuat Yixing gemetaran hebat.
"Padahal… Gue kira kita ini temen. Tapi gue baru sadar, gimanapun waktu kita jalan sendiri-sendiri masih anak kecil yang berkembang. Sekarang kita ketemu di umur yang matang. Jadi seharusnya aku nggak heran kalau lo berubah," lirih Yixing.
Joonmyeon tidak bereaksi. Tidak membantah ataupun membenarkan.
"Kita bukan temen lagi. Selamat tinggal." putus Yixing lalu berlalu begitu saja meninggalkan Joonmyeon sendirian.
Sendirian dengan semua prasangka yang meleset.
"XING!" Joonmyeon mencoba menyamai langkah Yixing, bermaksud mengejar sekaligus menahan pujaannya agar mendengar lebih penjelasannya. Sayangnya, Yixing sudah cukup jauh sedang Joonmyeon tidak bisa mengejar lagi.
Dia lebih sayang mobilnya, tbh.
.
.
Luhan mencak stress.
Kenapa dia harus ikut drama percintaan yang semakin hari udah menyaingi FTV di SC*teve? Apalagi sekarang ini keadaan Yixing ngenes; bergelut di bawah selimut dan kerjaannya cuman diam. Nggak kram? Nggak kesemutan apa?
"Xing, makan malam hayuk? Kata Mamah Zhang kamu belum makan dari siang, pasti laper kan?" bujuk rayu dari Luhan sama saja seperti angin lalu.
Luhan nggak awam dengan masalah Yixing, dia juga pernah kek Yixing pas lagi ada masalah sama Sehun. Dia nggak tahu kalau dia sebegini menyebalkan kalau berantem sama Sehun terus Yixing datang sambil bawa nampan makanan.
Diam-diam luhan salut akan Yixing yang masih sabar ngurus dia pas lagi bete gara-gara berantem sama Sehun.
Kini dibalik. Gantian Yixing yang meringkuk sembari Luhan nawarin buat makan.
"MAKAN DULU APA SUSAHNYA SIH!" Luhan yang nggak tahan, langsung sambar selimut Yixing.
"LO NGGAK TAHU PERASAAN GUE, HAN!"
"GUE EMANG NGGAK NGERTI, MAKANYA GUE NYURUH LO MAKAN, RESE'!"
"LUHAN JAAT, HUUWEEE~~!"
Inilah Luhan. Nggak peduli temennya mau sebaper apapun, dia tetep aja pemaksa.
Dan bahkan saat ini Yixing khatam tiga piring nasi goreng. Itu semua berkat paksaan si Manly-KW, Xi Luhan.
"Perut kenyang nggak, Xing?"
Yixing ngangguk.
"Nah, kalo perut lo udah aman tentram, lo boleh cerita kok. Nah, mau cerita apa?"
"Lo dapet undangan farewell party nggak?"
Luhan menimang-nimang, kira-kira dia harus jawab jujur atau nggak. Tapi inget Yixing udah kayak pasien RSJ (untuk saat ini) tidak memungkinkan buat bohong. Layaknya mesin pendeteksi, kalau bohong, Yixing bakalan ngamuk.
"Udah. Tukang pos yang nganter tadi pagi."
Dan Yixing udah bersiap mewek lagi.
"Han, gue nggak ngerti apa sih maunya Joonmyeon? Gue nunggu gara-gara janji konyol yang dia buat. Kok bisa ya gue polos percaya amat. Yah, namanya juga pas masih anak kecil. Apalagi kejadian seminggu lalu pas dia nembak gue. Dia mau bikin gue terbang terus jatuh gitu aja? Maaf, hati gue ini bukan layangan yang ditarik ulur."
Luhan mendesah pelan. Susah memang menghadapi orang yang patah hati tingkat akut. Mau ngomong sepanjang kereta api macam Yixing aja bersyukur. Coba kalau tipe pendiam, tahu-tahu besoknya bunuh diri –kan nggak lucu.
Dan untungnya otak Yixing yang diasah sampai kuliah itu dipakai. Coba kalau langsung blank, mungkin udah mencak-mencak di atas Namsan Tower.
"Kalo gitu, lo maunya apa dari Joonmyeon? Lo kan bisa ngomong baik-baik sama dia. Nggak usah pakai praktek adegan drama FTV yang lo nonton kemaren." sindir Luhan.
"Ya abisnya…" Yixing memajukan bibirnya sedikit. "kan nggak adil banget kalau ternyata gue nyimpen perasaan sepihak ke dia dan seenaknya aja dia pergi dan datang ke kehidupan gue. Gue juga pengen egois; gue pengen dia ngembaliin sebanyak yang gue beri ke dia."
"Intinya, Joonmyeon tahu nggak perasaan lo? Lo ngaku ke dia?"
Tidak ada sahutan ataupun bantahan yang Luhan duga sebagai iya. Cowok kelahiran Beijing ini mendesah pelan.
"Lo kan bisa ngaku. Ini juga jadi kesempatan terakhir lo buat ngomong ke dia. Coba omongin ini berdua baik-baik. Mau dia ngembaliin hati lo ataupun diacuhkan gitu aja –tapi gue yakin Joonmyeon nggak setega itu– itu urusan belakangan. Yang penting lo udah jujur sama dia. Kalo lo udah jujur, wajar kan lo minta hal yang egois itu? Tapi kalo gini ceritanya, lo nggak bisa egois." saran bijak Luhan. Yang tumben-tumben berlaku seperti umurnya daripada seperti wajahnya yang baby face.
Yixing menenggelamkan wajahnya ke bantal.
Haruskah?
Apa yang diomongin Luhan itu benar. Yixing nggak bisa bantah ataupun protes. Mereka memang akan terpisah jarak. Tapi di era modern begini, hellow, Yixing nggak katrok yang namanya media sosial dan teknologi canggih ponsel jaman kekinian. Atau kalau punya rejeki lebih, dia bisa saja kan mengunjungi Joonmyeon ke Nice –atau Amerika. Joonmyeon juga kan bisa sesekali mampir ke Seoul –dia kan borjuis.
Yixing nggak ada masalah sama yang begituan. Sungguh, pasangan yang LDR kuat-kuat aja.
Tapi untuk sebelas tahun tidak bertemu dan cuma hampir seminggu ketemu dengan banyak perubahan, kini Yixing dihadapkan untuk perpisahaan lagi; wajar kan dia merasa egois? Ingin Joonmyeon selalu ada di dekatnya? Ingin Joonmyeon menemani harinya, nemenin dia melakukan aktivitas kesehariannnya?
Tapi kata Luhan, dia nggak boleh egois kalau kenyataannya dia sendiri yang nyimpen rahasia dari Joonmyeon.
Yixing menenggelamkan wajahnya di atas bantal.
Dia masih dilema.
** Joonmyeon – Yixing **
Inilah skenario terburuk; saat dia, Luhan dan Sehun berdiri di depan pintu masuk hallroom hotel bintang tujuh. Kebanyakan dari tamu yang diundang adalah para sosialita, pendiri perusahaan besar dan lain-lainnya yang kastanya tinggi.
Sedang mereka?
Yixing melirik Luhan dan Sehun yang lagi kasmaran.
Cara makan mereka sama seperti anak kos-kosan, pakai bawa kotak makan juga. Pakaian mereka juga memang sih sopan. Tapi ya nggak perlu kaos oblong dipadukan sama kemeja juga! Apalagi celana jins belel yang sobek-sobek udah memperlihatkan bagaimana kelas kasta mereka berdua di mata para kasta tinggi.
Untung Yixing berinisatif memakai kemeja putih polos dengan tertutup jas yang santai. Celana kain hitam dan sepatu pantofel malah membuat Yixing seperti Eksmud yang kekinian.
"Yixing?" sebuah suara membuat Yixing terlonjak kaget dan hampir menjatuhkan gelasnya.
"Oh, Yifan-ge!" panggilnya bahagia. Untung aja dia ketemu orang normal. Coba kalau dia ikutan Sehun-Luhan, bisa-bisa disangka Eksmud gila!
"Fan-ge, kok lo masih disini, bukannya minggu lalu lo bilang mau ke Qingdao?"
"Ditunda, Xing. Gue nggak bisa nolak dateng di acara farewell mereka yang udah gue anggep keluarga sendiri sejak kecil." Yifan tersenyum kecil sambil nunjuk keluarga Choi yang masih hangat menyapa petinggi di perusahaan partner –termasuk Joonmyeon yang terlihat gagah dan tampan dengan setelan jas formal.
Jas mahal? check! Jam tangan Rolex? Dia udah punya koleksi puluhan. Rambut? Poni depan dibubuhi gel lalu diangkat ke atas, wow, berasa liat anggota boyben nyasar di acara semi-formal.
Senyumnya? Jangan tanya, Yixing lagi nahan jantungnya yang mau jatuh saking nggak kuat liat senyuman malaikat Joonmyeon.
Seketika manik mereka bersitatap. Yixing tahu bahwa tersirat permintaan maaf dari Joonmyeon saat senyum tipis yang kentara sekali penuh paksaan.
Sedangkan Yixing masih ingin menikmati momen itu. Momen dimana ia dan Joonmyeon seperti dalam adegan film; terasa slow motion dan suara gemuruh bagaikan dengung yang tidak perlu dihiraukan.
Hingga akhirnya Joonmyeon membalikkan punggungnya.
Desahan kecewa lolos dari mulut Yixing, membuat Yifan yang memperhatikan Yxing sedari tadi jadi penasaran. Ia mengerutkan keningnya begitu ia sadar sedari tadi Yixing memerhatikan gerak-gerik Joonmyeon.
"Belum ngucapin farewell ya? Sedih temen deket sendiri bakal pindah dan gak balik?" tebak Yifan yang hampir seratus persen benar. Yixing hanya diam. Tidak membenarkan mapun menyangkalnya.
Tiba-tiba saja Yifan menarik tangannya. "Ayo, kita samperin si Songong itu!" inginnya Yixing berontak tapi ia tidak bisa mengalahkan kekuatan Gigant macam Yifan kalau urusan kekuatan. Jelaslah Yixing yang kalah.
"Ho!" panggil Yifan dengan nama kecil Joonmyeon –Suho.
Dan Joonmyeon yang semula baru akan menyapa petinggi yang merupakan partner ayahnya, kini terhenti menatap Yifan dan Yixing berjalan ke arahnya.
Oh, jangan lupakan mata Joonmyeon ikut melihat gandengan tangan yang menurut orang –aduhai, romantisnyaa~
Ketika mereka berdua sudah sampai di depan Joonmyeon, cowok marga Kim itu hanya menampilkan senyum tipis lalu ber-high five bersama Yifan.
"Kita belum ngobrol panjang lebar tau-tau lo mau pindah ke Nice sambil ngurus anak cabang di Amrik. Gila lo, Ho."
Joonmyeon mengendikkan bahunya. "Yah, resiko kalo punya ortu tajir terus disuruh ngurus anak cabang sini-sana."
"Sial. Lo masih aja sombong."
"Salah ya kalo mau nunjukkin kasta gue?"
Kalau saja nggak ingat Joonmyeon ini teman baik, salah satu yang dianggap adiknya juga –bakal Yifan tabok juga.
Dan tau-taunya Luhan dan Sehun datang.
"Hello, whats up, bruh! Ciyee yang bentar lagi otewe Bule. Sini peyuk dulu dong!" Luhan baru saja merentangkan lengannya berniat meminta pelukan ringan sebagai perpisahan, yang ia dapat kernyitan di dahi Joonmyeon dan langkah menghindar.
"Sori. Tampilan lo gembel banget. Takutnya ketularan sarang kuman."
Hamdallah banget doa Yifan terkabul –meskipun melalui tangan Luhan yang menabok pelan mulut Joonmyeon. "Sialan. Sombong kuadrat lo." desisnya marah.
Sebelum terjadi Civil War, deheman Sehun yang juga berada di sana membuyarkan segalanya.
"Siapa yah? Perasaan nggak ngundang gembel selain Luhan."
Dalam hati Sehun mengucapkan kata istighfar banyak-banyak. Benar kata kekasihnya, mulut Joonmyeon kadang perlu di rukiyah. Pedesnya ngalahin cabe-cabean.
"Kita belum sempat kenalan ya. Kenalin, gue Oh Sehun. Pacar Luhan."
"Oh, ini pacar Lu-ge? Pantes sih, sama-sama gembel." komentar Joonmyeon.
"HEHH!" koor Luhan dan Sehun.
Yifan mencolek sedikit lengan Luhan. Hanya dengan kode kedipan mata, Luhan sudah menangkap apa maksud teman baiknya ini.
"Umm… gue sama Sehun mau ke sana dulu ya. Kami belum nyicip kue yang disana dulu. Yuk, Hun." pamit Luhan sembari menarik paksa Sehun agar mengikutinya.
Dan tersisa Yixing, Yifan dan Joonmyeon.
Suasana canggung dan hening terjadi beberapa detik sebelum akhirnya Yifan memecahkan keheingan tersebut.
"Jadi… lo tinggal beberapa bulan gitu di Nice buat ngurus surat-surat terus terbang ke Amrik, Ho?"
Joonmyeon mengangguk. "Yup. Sekalian nemenin nyokap dulu. Lo nggak tau gimana nyokap gue kalo gue pergi jauh dari dia." baik Yifan dan Joonmyeon terkekeh –kecuali Yixing yang sedari tadi diam dan menyimak.
"Hei, Xing. Ngomong sesuatu gitu kek. Temen lo mau pergi, juga." omongan Yifan membuat Yixing yang sedari tadi melamun dengan mengalihkan perhatiannya pada pemain alat musik, kini beralih pada dua cowok yang bikin dia jungkir balik.
"Huh?"
"Lo nggak mau ngomong apa-apa sama Joonmyeon? Besok siang dia udah nggak di Korea, lho."
"Nggak, itu–"
"Nggak perlu, Fan-ge. Kemarin kami udah ngobrol banyak hal." sela Joonmyeon. Yixing yang baru saja ingin membicarakan mengenai perdebatan mereka tempo hari menjadi batal.
Raut wajahnya menatap Joonmyeon tidak percaya. Yang paling mengesalkan adalah Joonmyeon menganggap ia hanya sebagai mainan yang jika cukup puas dimainkan akan ada saatnya untuk berhenti.
"Lo… ngeselin tau gak. Seumur-umur gue nyesel ketemu lo." sungguh, bukan ini yang Yixing pengen omongin. Bukan dengan kata yang buruk dan kata makian.
Dan Yixing segera melepaskan genggaman Yifan lalu berlalu entah kemana.
Yifan baru ingin mengejar tapi ia ditahan oleh Joonmyeon. "Biar saja. Mungkin dia pengen nikmatin waktunya sendiri dulu."
Awalnya Yifan ragu tapi akhirnya menurut apa kata Joonmyeon.
"Oh ya, selamat ya, Fan-ge." Joonmyeon mengulurkan tangannya dan lagi-lagi Yifan dibuat bingung oleh yang-dianggap-adiknya-sendiri
Yifan menaikkan satu alisnya sembari berujar, "Apa ini?"
Joonmyeon berdecak. "Tidak usah pura-pura. Aku tahu kok kalian baru jadian. Selamat ya, Fan-ge. Langgeng ya. Jangan lupa kirimin undangan kalo ngerencanain married."
Entah harus bereaksi seperti apa, haruskah ia tertawa atau justru malah menampilkan mimik sedih. Tertawa karena bodohnya Joonmyeon menganggap ia dan Yixing kini sebagai sepasang kekasih. Sedih karena dari awal ia sudah ditolak mentah-mentah oleh yang bersangkutan.
"Fan-ge menang. Padahal hampir sebelas tahun ini aku nunggu dia. Sebelas tahun berharap dan berekspetasi kalau dia juga punya hal yang kayak aku. Nyatanya kalo dia lebih mili Fan-ge, aku bisa apa?" ujar Joonmyeon menampilkan senyum tipis dan memutar-mutar pelan gelas sampanye-nya.
Tangan besar Yifan terulur untuk menepuk bahu Joonmyeon.
Inilah Joonmyeon yang sesungguhnya.
Sifat sombong hanya sebagai tameng untuk menunjukkan dirinya bisa dan tidak mudah digoyahkan. Sesungguhnya Joonmyeon masih seperti dulu –suka mencari perhatian, iseng, dan…
… dan selalu menjadi malaikat yang pernah ada untuk Yixing. Selalu.
Bukan Yifan yang selalu menolong Yixing. Bukan juga Luhan yang selama ini selalu disamping Yixing.
Tapi Kim Joonmyeon.
"Joon. Aku sama Yixing itu sebatas kakak-adik-zone –kalau kamu pengen tahu kebenarannya."
Mata Joonmyeon membulat. "H-hah? Bu-bukannya Fan-ge udah nembak Yixing ya?"
"Iya. Tapi ditolak."
Jder! Serasa ada suara petir yang berada tepat di belakang Joonmyeon ketika Yifan bilang dirinya ditolak.
"Kenapa…?"
"Lo sadar nggak sih, Joon, kalo sebenarnya yang ditunggu Yixing itu bukan gue. Melainkan lo. Bukan gue yang sering bantuin dia dulu, bukan juga Luhan yang selalu nemenin dia. Itu lo."
Joonmyeon masih belum bereaksi apapun.
"Bisa aja Yixing kecewa. Lo bersikap seolah dia nggak lo anggep. Atau mungkin…. kalian sama-sama kecewa untuk hal yang belum dipastikan."
Yifan mengakhiri kalimatnya dengan seulas senyum. Dan Joonmyeon tampak baru menyadarinya.
Kata-kata Yifan bagai tamparan keras.
.
.
xx
.
.
Dia nggak bisa merengek minta pulang Yifan –yang notabene nya adalah cowok setengah bule itu yang datang bersamanya juga. Yixing nggak mau resiko masuk ke hallroom itu lagi dan bertemu wajah Joonmyeon lagi.
Dia juga tidak bisa meminta pasangan HunHan. Lebih baik ia jalan kaki saja menuju rumahnya. Ah, benar! Apa naik taksi saja ya? Tapi ini kan daerah elite yang jarang dilewati kendaraan umum kalau bukan bertandang kemari dengan kendaraan sendiri.
Dan sekarang Yixing sedang duduk begitu saja di pekarangan yang luas –yang hanya ada rumput hijau. Masa bodoh amat jika celananya kotor dengan tanah. Karena satu-satunya tempat apik yang bisa membuatnya lupa sejenak adalah pekarangan ini yang juga terdapat kolam ikan.
"Rese' ah! Terus tempo hari dia serius nggak sih? Atau cuma mainin perasaan gue aja kali ya?!" pluk! Yixing melemparkan batu kecil ke kolam.
"Harusnya gue sadar dari awal kalo Joonmyeon itu nggak bisa diharepin. Buat apa gue nunggu selama ini?!" pluk, satu lagi Yixing melemparkan batu kecil tersebut." baru saja Yixing ingin melemparkan kerikil yang ketiga sebelum suara berat yang ia kenal menginterupsinya.
"Kalau kau terus melempari ikannya pakai batu, nanti ikannya mati."
Yixing tidak perlu menoleh untuk mengkonfirmasi dugaannya. Ia paham betul siapa yang ada di belakangnya dan kini sudah mengambil tempat duduk di sebelahnya.
"Gue benci lo. Untuk pertama kalinya, gue benci lo." ungkap Yixing.
Joonmyeon mengangguk pelan. "Aku tahu."
Yixing berniat bangkit tapi lengannya ditahan Joonmyeon hingga tubuhnya oleng jatuh terduduk di atas paha Joonmyeon. Alhasil, jarak wajah mereka terlihat minim.
"J-Joon… kayaknya gue lagi buru-buru deh." niatnya Yixing mau kabur sekalian biar nggak ketahuan abis blushing, tapi sayanganya lengan Joonmyeon kuat banget meluk pinggangnya buat nahan Yixing duduk di atas pahanya.
Plis, Mamah. Yixing bukan cewek remaja yang kasmaran gini doang udah blushing~~, batin Yixing.
"Xing…"
Nafas mereka saling bersentuhan dalam tempo rendah. Dan dua pasang mereka saling tarik menarik mencoba menyelami maksud dari kilatan yang tersirat.
"… jujur ke aku; kamu nggak jadian kan sama Yifan-ge?"
Yixing bekedip beberapa kali sebelum mencerna kalimat Joonmyeon. Setelahnya cowok berdimple itu tertawa keras sampai-sampai ia sudah tidak berada di pangkuan Joonmyeon dan beberapa kali menepuk punggung si Kim dengan lumayan keras.
"Hahahaha….jadi lo ngira kalo gue ―pfttt, hahahaha!" Yixing nggak berhenti tertawa.
Joonmyeon kan jadi kesel. Dia udah tanya serius, moment-nya juga lagi apik eh malah dihancurin dengan tawa yang mirip geledek.
Umyun kzl mamah.
Lengan Yixing kembali ditarik untuk dipaksa berhadapan langsung dengan Joonmyeon. Ya ampun, jarak wajah mereka bahkan kurang dari sepuluh sentimeter.
"Tolong, Xing. Jawab aja yang jujur kenapa sih?" desis Joonmyeon.
Dengan jarak wajah mereka sedekat itu, Yixing bisa merasakan hembusan nafas beraroma mint. Sebentar saja Yixing ingin menutup matanya. Menikmati aroma maskulin Joonmyeon yang baru ia temui.
"Nggak. Gue nolak Fan-ge."
"Kenapa?"
Hening sebentar diantara sementara sepatah kata pun belum meluncur dari mulut Yixing.
Rasanya Yixing pengen jedokin kepala Joonmyeon ke tembok.
"Jangan sok polos, Myeon. Rasanya pengen tak cakar itu muka." kata Yixing dengan lempeng.
Joonmyeon terkekeh pelan. "Lho, aku mana tahu apa alasan kamu makanya aku tanya." sesaat hening lagi sebelum pemuda Kim melanjutkan, "… aku nggak mau geer ah. Takutnya ngarep ketinggian."
Tapi keraguan diwajah Joonmyeon meredup kala jemari Yixing menggenggam erat para jemari Joonmyeon. Pemuda Kim ini berani untuk menatap wajah pujaannya, yang malah disuguhi senyum warbiyasah yang mampu melelehkan es di gurun pasir sekalipun. Oke, maaf hiperbolis.
"Kamu nggak ngarep ketinggian kok, Myeon. Karena dasarnya juga gue… sama kayak lo. Bertahun-tahun bahkan sebelum lo pindah ke Nice. Atau bahkan saat kita masih tetanggan satu kompleks."
Mata Joonmyeon membola mendengar penuturan malu-malu dari Yixing.
"Se-serius… Xing?"
Rasanya Joonmyeonpengen terbag ke Atlantis, bertemu beruang kutub disana lalu menari-nari Waltz bersama aurora yang indah~
Heeeeyakh! Senangnya dalam hati, kalau cintanya diterima―
PLAKK!
"AKH!" Joonmyeon meringis ketika bagian belakang kepalanya dipukul dengan keras. Cowok Kim ini menoleh ke belakang dan mendapati Yixing dengan telapak tangan terangkat dan menatap nyalang ke arahnya.
"Apa?!" tanyanya galak.
Joonmyeon menggeleng keras-keras. Baru beberapa detik berbahagia bersama udah langsung KDRT, gimana nanti–
"Gue denger ya, bantet!"
"Peace," Joonmyeon langsung menunjukkan dua jarinya tanda damai.
Yixing mendengus, "Ya nggak segitunya kali. Dasar lebay."
"Tapi kamu cinta kan?" Joonmyeon menaik turunkan alisnya macam Om-om mesum diluar sana.
"Mati saja sana!" desah Yixing, "… lagian gue bilang sama kayak lo belum tentu juga soal perasaan. Bisa aja persamaan dalam konteks selera, passion atau apalah..."
"― termasuk cinta."
"–iya, termasuk cin... HEH!"
Joonmyeon tertawa keras sedang Yixing memerah entah menahan marah karena dikerjai atau aslinya dia malu dengan kenyataan yang diungkap secara frontal.
Tapi itu tidak berlangsung lama ketika lengan Joonmyeon menangkap tubuh Yixing untuk dipeluknya. Hangat. Terasa seperti musim semi bulan April.
"Tapi terima kasih. Perasaan kamu yang bertahun-tahun lamanya buat aku, karena jauh sebelumnya juga aku juga begitu. Terima kasih. Senggaknya sebelum pergi dari sini, aku bisa lega. Cintaku nggak bertepuk sebelah tangan lagi."
"Terima kasih, Xing. Seenggaknya, status aku bukan lagi temen masa kecil kamu. Kita bukan lagi temen."
Yixing tersenyum dan menyamankan posisinya di pelukan Joonmyeon. Harum parfum maskulin itu menguar bagai aroma penenang bagi Yixing.
Ia menepuk bahu Joonmyeon pelan. "Sama-sama, Joonmyeon tetangga kesayanganku."
.
.
xx
.
.
|| end? ||
.
.
xx
.
.
xxx
.
.
[Omake]
"Kita LDR dong, Myeon?"
"Ya terpaksa. Aku nggak bisa nolak perintah Papih buat ngurus cabang di Amrik. Kalau urusan sana beres, aku bakal balik ke Seoul, karena aku punya alasan buat pulang ke Seoul lagi."
"Lho, bukannya kamu sekeluarga pindah kewarganegaraan jadi orang Perancis? Netap di Nice?"
"Oh iya ya? Tapi selain orangtua, rumah kedua aku merasa pulang itu kamu, Xing."
"Gombalannya bisa di update versi layak nggak? Basi."
"Ciyee~ pipinya merah."
"Rese' ah! Mau bogem?!"
"Maunya dicium, di bibir. Nih, udah monyong minta disodor."
"Taiq."
"..."
"… eh tapi kita jadi LDR nih?!"
"Iya. Kita sekaip-an aja. WhatsArgh. Kan canggih sekarang."
"Jangan sampai kamu pulang ke Seoul bawa cewek yang hamil anak kamu."
"Bisa jadi. Kan kamu nggak punya rahim. Lumayan lah, orang sana kalau hamil nggak ada suami juga toh siapa yang peduli."
"Gue kirim ke kuburan baru tahu rasa."
"Yah jangan dong~ begitu aja ngambek~"
"…"
"Kita kan sempet lost contact. Belasan tahun malah. Tapi akhirnya hari ini, kita bisa tahu perasaan masing-masing. Jadi nggak usah khawatir kalau aku jauh dari kamu, kamu berdoa aja buat aku biar urusan di Amrik cepet kelar terus bisa ke Seoul ngelamar kamu."
"Tapi… Gue takut. LDR kan nggak bisa bertahan lama. Juga, kita nggak tahu apa yang pasti."
"Kuncinya hanya satu: saling percaya. Aku percaya kamu di Seoul baik-baik aja, nggak mudah buat perasaanmu goyah ke aku. Karena aku percaya kamu bakal nunggu aku, aku juga percaya sama diriku sendiri kalau aku bisa jaga hati ini buat kamu, bisa cepetin urusan cabang lalu pulang ke Seoul bawa masa depan kita. Kalau begitu, kamu percaya kan?"
"…. hum, iya. Terima kasih banyak."
"Anything for you. Jja, kita masuk. Sepertinya acara penutup sebentar lagi dimulai."
.
.
xx
.
.
|| e n d ! ||
[BGM: EXO - Lucky One]
A/N: …umm, hai?! /digebuk massa/ /reader: ngilang kemana aja lo udah lebaran baru di update?!/
Ini kan bulan suci penuh berkah untuk saling memaafkan, maafkan author amatiran yang suka ngilang ini, ya ceman-ceman. Maafkan udah ngaret bgt diupdate pas lebaran begini, hehehe…
Saya tahu kok ini agak melenceng dari konsep semula. Tapi apa daya saya, udah berjuang bikinnya. Nggak tahu reader terpuaskan/?/ atau nggak setelah sekian lama, huhuhu...
Thanks a lot, AKU CINTA KALIAN!:
Yang review:
AkaSunaSparKyu | XXCJHXX | Xing1002 | guardian-xing | myunicorn91 | cumberbatch's | demiapa | kerdus susu | MissMoretz | baymaxhug | akuyeppeo | xingmyun | daebaektaeluv | jinahyoo | bbiu | Guest | qwerty | poppy | Ur Madafaqa (hey yo, yg di dunia nyata gue jadiin posisinya Kris di ff ini, wkwkw. Bisa move on Mas?) | vl | Mery Zhang | Guest(2) | nichi | Mislah | KopelThehunSelingkuhanOseh | Na jaems
Yang favs:
KopelThehunSelingkuhanOseh | Lz11 | Maymfa10 | Na jaems | Xiao yueliang | Xing1002 | guardian-xing | healaynicorn | myunicorn91 | 123 | qwertyxing | swaegchicken | xingmyun
Yang follow:
Huang Minseok | KopelThehunSelingkuhanOseh | Lz11 | Na jaems | Tabifangirl | XXCJHXX | Xiao yueliang | Xing1002 | akuyeppeo | healaynicorn | jinahyoo | xyzhangie
.
.
SEE YA IN MA NEXT SULAY FICS!
