A Man In Black
.
By. Zahra Amelia
.
Rate : T - M
.
Length : Chaptered
.
Cast : Cho Kyuhyun x Lee Sungmin
Other Cast : Kim Ryeowook, Kim Jongwoon, Kim Heechul, Kim Youngwoon, Shin Donghee, Park Junghoon, Kang Shinae.
.
Genre : Romance/Drama
.
Disclaimer : KyuMin is Destiny
.
Warning : Boys Love, Yaoi, Absurd, Monotone story, Failed Romance, OOC,
OC, miss typo(s) etc
.
Chapter 3
.
Don't Like Don't Read
Happy Reading n enJOY!
.
.
.
Desah nafas memburu dari seorang pria terdengar mengisi keheningan di dalam kendaraan yang masih terparkir dengan apik itu.
Tubuh tegap yang menyandar pada kursi kemudi, wajah memerah yang mengkilap karena peluh, serta bibir yang sedikit terbuka mencoba mengais sisa oksigen memenuhi medan pandang pemuda manis yang tengah membersihkan sisa cairan putih pekat yang mengotori tangannya dengan beberapa lembar tisu.
Kelopak mata milik pria itu perlahan terbuka, menampakan black diamond cemarlang yang masih tampak berkabut.
"Merasa lebih baik, Tuan Cho?" Sang pelaku utama menoleh dan memberikan senyum miring kepada pria tampan yang duduk di sampingnya.
"Hmm... terima kasih." Kyuhyun tersenyum tipis, manik matanya menatap Sungmin lembut.
"Ini bersihkan milikmu." Sungmin menyodorkan selembar tisu kepada Kyuhyun.
"Kau tidak mau membersihkannya?" Nada suara Kyuhyun terdengar menggoda.
Sungmin menatap Kyuhyun polos. "Aku hanya menawarkan bantuan untuk mengeluarkan isinya bukan membersihkannya."
Kyuhyun terkekeh pelan, Sungmin memang benar-benar di luar dugaan, wajah polosnya berbanding terbalik dengan sifatnya. "Kau yakin?"
"Sangat yakin."
"Kau sudah sering melakukannya?" tanya Kyuhyun, setelah mengambil tisu yang disodorkan Sungmin. Jemarinya perlahan membersihkan pusat tubuhnya, sebelum kembali mengenakan celana dalam berserta celana kerjanya.
Tawa ringan terlontar dari mulut mungil Sungmin. "Melakukan apa?"
Kyuhyun mengedipkan sebelah matanya. "Kau pasti mengerti maksudku."
"Jika yang kau maksud adalah kegiatan kita tadi, jawabannya adalah tidak. Biasanya mereka yang melakukannya padaku. Kau beruntung karena kau adalah orang pertama yang merasakan kehebatan tanganku."
Sebelah alis Kyuhyun terangkat. "Mereka?"
"Para wanita yang pernah tidur denganku," ucap Sungmin ringan.
Mata Kyuhyun mengerjap angkuh. "Ah, begitu rupanya."
Sungmin mengangkat bahu acuh. "Aku seorang pria, Kyuhyun. Sex bukanlah sesuatu yang tabu bagiku, meski kau satu-satunya pria yang aku perbolehkan melewati garis batas. Lalu kau sendiri?"
"Kau juga yang pertama bagiku. Aku belum pernah berbuat sampai sejauh itu. Baik dengan wanita maupun pria manapun." Kyuhyun menatap lekat pemuda manis di sampingnya.
Mata Sungmin membelalak. "Jadi, kau masih perjaka? Wow, sulit dipercaya! Kau bahkan sangat handal dalam berciuman. Sepertinya kau bisa membuatku 'datang' hanya dengan menggunakan mulutmu. Kau bahkan membuat celanaku basah hanya dengan ciumanmu."
Senyum tampan terukir di bibir penuh Kyuhyun. "Kau tidak berniat membangunkannya lagi, kan? Dan aku tidak berbohong. Aku tipe orang yang sulit untuk tertarik pada seseorang. Dan kau harusnya bangga karena membuatku secepat itu jatuh ke dalam pesonamu."
Sungmin tersenyum menggoda. "Kau harus menidurkannya sendiri jika dia terbangun lagi. Ck, kau terlalu percaya diri, Tuan Cho."
"Sayang sekali, padahal aku suka sentuhanmu. Yes, i am," ucap Kyuhyun dan menatap Sungmin penuh makna.
"Well, aku suka kepercayaan diri yang kau miliki. Aku akan melakukannya lagi jika kau sudah memutuskan langkah apa yang akan kau ambil selanjutnya untuk menyakinkanku."
Jemari Kyuhyun terangkat, merapikan helaian lembut milik Sungmin. "Araseo. Ini sudah terlalu larut. Sebaiknya aku segera mengantarmu pulang."
"Kau sudah ingin pulang?" Sungmin tersenyum lembut, jemarinya perlahan bergerak, menautkannya dengan jemari milik Kyuhyun.
Kyuhyun merasakan rasa hangat yang berasal dari tautan tangannya dengan Sungmin menjalar ke seluruh tubuhnya terutama dibagian dadanya. "Kau masih ingin bersamaku?"
Sungmin mengangguk pelan. "Aku hanya ingin sedikit lebih lama bersamamu. Tapi, kau terlihat lelah. Mungkin lebih baik kita pulang saja."
Jam di pergelangan tangan Kyuhyun menunjukan pukul duabelas malam, dia juga sejujurnya ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama dengan Sungmin. "Kita bisa berjalan-jalan sebentar sambil mengobrol jika kau menginginkannya. Lagipula, aku juga masih ingin menghabiskan waktu bersamamu."
Foxy eyes Sungmin menatap Kyuhyun lekat. "Kau yakin? Aku tidak masalah jika kau mengantarku pulang. Kita bisa berbincang lain waktu."
"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan. Tapi, aku tidak bisa berlama-lama. Ada tempat yang ingin kau kunjungi?" Ibu jari Kyuhyun mengelus punggung tangan Sungmin.
Sungmin tersenyum manis. "Sungai Han. Aku belum sempat berkunjung ke sana. Kau mau menemaniku ke sana, kan?"
Kyuhyun merasakan frekuensi debaran di dadanya kembali meningkat begitu melihat senyum manis Sungmin. Pemuda manis itu semakin menawan saat dia tersenyum, terlebih dengan manik matanya yang ikut berbinar. "Tentu, apapun untukmu."
Bibir mungil Sungmin sekilas mendarat di pipi Kyuhyun. "Terima kasih."
Kyuhyun terkesiap, sepertinya dia harus membiasakan diri dengan serangan tak terduga dari Sungmin.
"Ayo kita segera berangkat!" seru Sungmin semangat.
Pria tampan itu hanya bisa mengangguk kaku, kemudian menyalakan mesin mobilnya guna membelah jalanan kota Seoul yang tidak pernah tidur meski dewi malam sudah menghabiskan separuh waktunya untuk menyinari kelamnya langit malam.
Sungmin hanya bisa tertawa dalam hati ketika melihat ekspresi wajah Kyuhyun. Pria itu begitu lucu. Awalnya Sungmin mengira Kyuhyun juga sama sepertinya, namun ternyata dugaannya salah. Dia bahkan orang pertama yang melakukan hal sejauh itu dengan Kyuhyun. Dan jauh dilubuk hatinya, Sungmin berharap, dia menjadi yang terakhir untuk pria tampan itu.
.
.
.
Suasana yang semakin memanas di dalam sebuah club malam itu mungkin kini tak sepanas suasana hati seorang pria tampan yang tengah duduk bersama kedua pria lainnya di salah satu kursi VIP yang berada di sudut ruangan club tersebut.
Cairan merah pekat yang berada di tangannya dia teguk kasar, tidak memedulikan tata cara yang seharusnya dilakukan guna menikmati minuman beralkohol yang berasal dari fermentasi anggur merah itu.
"Pelan-pelan saja, Kanginie. Kau bisa tersedak jika meminumnya dengan cara seperti itu," ujar pria cantik yang tengah menyandarkan tubuhnya di kursi kepada sosok di hadapannya.
Youngwoon meletakan gelas Burgundy yang semula berada di tangannya ke atas meja. Terdengar bunyi gelas yang berbenturan dengan meja menandakan pria itu meletakannya dengan kasar. "Kenapa kau membiarkannya membawa Sungmin, hyung? Bukannya kemarin kau sangat menentangnya?" lirihnya.
Shindong menepuk pelan bahu Youngwoon, bermaksud menenangkan pria yang duduk di sampingnya itu. "Kita sudah sepakat, Kangin hyung. Kita tidak akan mencampuri urusan Sungmin. Biarkan dia menentukan pilihannya, oke!?"
Youngwoon kembali menuangkan cairan merah pekat itu ke dalam gelas miliknya, sebelum kembali meneguknya dengan kasar. "Sialan! Kenapa sakitnya tidak mau hilang juga!"
Shindong menatap Youngwoon, sorot matanya sarat akan kekhawatiran. "Kangin hyung sudahlah."
"Biarkan saja dia, Shindong!" interupsi Heechul.
Shindong menatap Heechul seklias, sebelum tatapannya beralih ke arah Youngwoon yang kembali sibuk dengan minumannya. "Tapi..."
"Patah hati memang menyeramkan, ya. Aku jadi merasa enggan untuk jatuh cinta." Heechul menyesap cairan merah pekat di dalam gelas itu perlahan.
Helaan nafas pelan terlontar dari mulut Shindong. Dia akhirnya menuruti perkataan Heechul dan membiarkan Youngwoon melupakan sakitnya sejenak. "Tidak separah itu asal kau mau kembali membuka hatimu. Tidak perlu melupakan hanya berusaha untuk berdamai."
Heechul mengangkat bahunya acuh. "Aku lupa kau bahkan sudah menemukan pengganti dari kekasihmu yang dulu."
"Hidup terus berjalan, hyung. Tidak mungkin aku terus terpuruk hanya karena cinta. Aku tidak sebodoh itu, meski cinta memang terkadang menggerus logika kita terhadap banyak hal."
Senyum tipis terulas di bibir Heechul. "Ya, kau benar, Shindongie. Lagipula, hidup terlalu singkat untuk disia-siakan."
Shindong mengangguk pelan, kemudian menatap Youngwoon. "Ya, memang terlalu singkat, hyung."
.
.
.
Butuh waktu sekitar tigapuluh menit bagi mereka untuk sampai di sungai terbesar yang mengalir melewati kota Seoul itu.
Sungmin melepaskan seat beltnya, sebelum membuka pintu mobil Kyuhyun dan keluar dari sana. Angin malam yang terasa lembut dan dingin seketika menyergapnya. Membelai tubuh serta menerbangkan helaian sepekat malam miliknya. "Masih tetap indah, bahkan lebih indah dari yang terakhir kali kulihat."
"Memang kapan terakhir kali kau melihatnya?" Kyuhyun melingkarkan kedua tangannya di perut Sungmin, dagunya bertumpu disalah satu pundak pemuda manis yang tengah berdiri menikmati pemandangan sungai Han dikala malam.
"Sekitar dua tahun yang lalu." Sungmin menyamankan dirinya dalam pelukan pria tampan itu. Tatapannya lurus ke depan dengan tangan yang dia letakkan di atas tangan Kyuhyun yang melingkar di perutnya.
"Jadi, selama dua tahun kau menetap di Jepang, kau tidak pernah kembali ke Korea?"
Sungmin mengerutkan dahinya heran. "Dari mana kau tahu jika selama dua tahun ini aku tinggal di Jepang?"
"Ryeowook yang memberitahuku."
"Mhh... begitulah. Aku memilih fokus menyelesaikan studyku."
"Dan bermain dengan wanita Jepang," ucap Kyuhyun menimpali.
Manik mata Sungmin berbinar jahil. "Tidak semuanya wanita Jepang. Beberapa dari mereka berasal dari Korea, Cina, dan beberapa negara lainnya."
Kyuhyun mendengus samar. "Kau bahkan masih mengingat dari mana mereka berasal. Hebat sekali, Tuan Lee!"
"Setidaknya aku masih berbaik hati mengingat sedikit tentang mereka. Heechul hyung bahkan tidak mau repot-repot untuk melakukannya."
"Ngomong-ngomong aku penasaran bagaimana kau bisa bertemu dengan ketiga orang itu? Kalian terlihat sangat dekat padahal kalian bukan saudara kandung," tanya Kyuhyun, terselip rasa penasaran dari nada suaranya.
Sungmin tersenyum lebar. Pandangannya lurus ke arah jernihnya Sungai yang terlihat berkerlip tertempa cahaya lampu-lampu yang berada di sana. "Saat aku kecil dulu, aku seringkali dijahili oleh anak laki-laki disekitarku. Mereka bilang itu karena wajahku terlalu manis untuk ukuran seorang pria."
"Kau memang sangat manis, Sungmin. Bahkan kau lebih manis dari semua hal termanis di dunia ini," gumam Kyuhyun dengan senyum yang terlukis di bibir penuhnya.
"Uhh... so chessy." Sungmin terkekeh ketika mendengar ucapan Kyuhyun.
Kyuhyun mengecup sekilas pelipis Sungmin, sebelum berbisik lembut di telinga pemuda manis itu. "Aku hanya mengatakan dari sudut pandangku. Lagipula, aku bukan pria romantis. Kau memang begitu manis dan polos di luar, namun ternyata begitu kontras di dalam. Seperti kotak pandora, terlalu banyak kejutan ketika kau membukanya untuk melihat isinya."
Kekehan Sungmin melebar dan berubah menjadi gelak tawa. "Senang mendengarnya." Pemuda manis itu kemudian terdiam sejenak, sebelum kembali melanjutkan ceritanya, "Saat itu aku berusia sekitar tujuh tahun ketika aku pertama kali bertemu dengan Heechul hyung. Hari pertama masuk sekolah tidak seindah bayanganku. Aku kembali dijahili bahkan hingga aku terluka. Saat itulah Heechul hyung datang menolongku. Dia berada dua tingkat di atas ku, kau tahu dia benar-benar menakutkan, bukannya menenangkanku yang tengah menangis, dia justru membentakku, mengatakan bahwa aku tidak pantas menjadi seorang lelaki karena lemah dan cengeng."
"Jika saat itu aku sudah mengenalmu, aku pasti tidak akan membiarkanmu terluka sedikitpun."
Seulas senyum tipis tanpa sadar terukir di bibir Sungmin ketika mendengar ucapan Kyuhyun, dia bisa merasakan jika pria tampan itu begitu tulus. "Terima kasih. Tapi, karena kejadian itu kami menjadi dekat, bahkan sangat dekat. Selain itu rumah kami ternyata hanya berbeda satu blok. Aku juga akhirnya memutuskan belajar ilmu bela diri kerena Heechul hyung. Agar aku tidak terlalu bergantung padanya dan agar aku juga bisa melindunginya jika ada yang mengganggu kami nanti."
"Pantas saja dia yang terlihat paling overprotektif padamu. Lalu, kedua hyungmu yang lainnya? Bagaimana kau bisa bertemu mereka?"
"Dibalik semua sikapnya, Heechul hyung sebenarnya adalah sosok yang sangat baik. Jika dengan Shindongie, aku pertama kali bertemu dengannya saat aku berada ditingkat pertama Junior High School. Kami berada di kelas yang sama dan kami juga kebetulan menjadi chairmate. Begitulah selanjutnya kami menjadi dekat karena dia sangat lucu, dan dia juga seorang pendengar yang baik. Lagipula, Heechul hyung juga memilki kehidupannya sendiri, jadi ketika dia sedang sibuk dengan urusannya masih ada Shindongie yang menemaniku."
"Jadi, yang terakhir bergabung bersama kalian itu Kangin?" tanya Kyuhyun sambil menggesekan hidungnya di leher Sungmin, dia sangat menyukai aroma tubuh pemuda manis dalam dekapannya ini.
Sungmin mengangguk pelan. "Aku bertemu dengan Kangin hyung karena kami berada di Universitas yang sama. Dia salah satu teman baik Heechul hyung."
"Melihat kedekatan kalian aku merasa terkesan."
"Sifat kami memang berbeda satu sama lain, tapi karena perbedaan itu justru membuat kami saling mengerti dan mendukung satu sama lain."
"Ya, kau benar. Perbedaan justru membuat kita lebih menghargai dan mendengarkan. Sungmin, boleh aku bertanya satu hal lagi? Aku hanya merasa penasaran, namun kau boleh tidak menjawabnya jika kau merasa tidak ingin."
"Apa?"
Kyuhyun berdehem pelan. "Kau dan Kangin kalian terlihat berbeda. Maksudku cara dia menatapmu. Apa sebelumnya kalian pernah menjalin sebuah hubungan?"
Sungmin menolehkan kepalanya ke arah Kyuhyun, menatap ke arah pria tampan itu. "Aku sanksi kau sepeka itu. Tapi, tebakanmu tepat. Kangin hyung, dia adalah mantan kekasihku."
Kyuhyun membalas tatapan Sungmin. Dia bisa melihat wajah cantik Sungmin yang samar-samar tertempa cahaya lampu dari sana. "Sudah aku duga. Cara dia memperlakukanmu, menatapmu, seolah dia menganggapmu lebih dari seorang adik yang harus dia jaga."
"Ya, awalnya aku pikir aku juga memiliki rasa yang sama dengannya, namun ternyata setelah menjalani semuanya, aku justru sadar jika aku tidak bisa menganggap dia lebih dari seorang hyung."
"Begitukah? Lalu bagaimana jika kau juga salah mengartikan perasaanmu kepadaku?" Black diamond Kyuhyun menghujam foxy eyes Sungmin.
"Dan jika kau sendiri yang salah mengartikan, apa yang akan kau perbuat, Kyuhyun?"
Kyuhyun tersenyum miring. "Aku tidak akan membiarkan kau menyentuhku sejauh itu jika aku tidak yakin dengan apa yang aku rasakan padamu."
Senyum tulus terlukis di bibir mungil Sungmin. "Dan aku tidak akan memberikan sebuah penawaran kepadamu jika aku tidak yakin dengan perasaanku kepadamu."
Kyuhyun tak bisa melepaskan pandangannya dari Sungmin, menatap pemuda manis itu dalam, menyelami manik mata sebening oase yang seolah menenggelamkannya ke jurang tanpa dasar, sebelum bibir penuhnya mendarat di kening pemuda manis itu. Menciumnya lembut dan hangat, menyalurkan rasa yang membuncah di dadanya. Rasa yang begitu cepat menguasai dirinya, secepat virus yang menginfeksi inangnya. Melumpuhkan hingga membunuh tanpa memberi kesempatan untuk mempertahakan diri.
.
.
.
Sungmin menatap bayangan dirinya di cermin. Malam ini dia akan menghadiri pesta ulang tahun sekaligus pertunangan Kim Ryeowook dan Kim Jongwoon. Penampilannya terkesan elegan namun manis, dia mengenakan kemeja berwarna soft pink dengan setelan jas berwarna hitam, rambut sepekat malamnya dia biarkan terjatuh lembut menutupi kening indahnya, bibir ranumnya sewarna cherry blossom, dan eyeliner berwarna hitam yang memperindah matanya.
Pemuda manis itu tengah menyemprotkan sedikit parfum LaVanila Pure Vanilla Fragrance ke tubuhnya ketika dia mendengar bel pintu apartmentnya berbunyi. Setelah memastikan bahwa tidak ada yang kurang, dia bergegas melangkahkan kakinya menuju pintu depan apartmentnya. Jemarinya membuka pintu apartmentnya, begitu pintu terbuka, fokusnya langsung disuguhi visual sesosok pria tampan dengan setelan jas yang membalut tubuh kekarnya.
Senyum jahil terlukis di bibir Sungmin. "Kau bisa jatuh cinta lagi padaku jika kau terus melihatku tanpa berkedip seperti itu, Kangin hyung. Aku tahu aku memang sangat menawan. Dan aku tidak bertanggung jawab untuk hal itu."
"Kau sangat manis, Sungminie, wajar jika Kangin tampak seperti orang bodoh saat melihatmu. Aku yakin Cho brat itu pasti ingin sekali melucuti pakaianmu, kemudian melumuri tubuh telanjangmu dengan whipped cream saat melihat penampilanmu hari ini." Heechul yang tengah menyandarkan tubuhnya pada dinding di samping pintu itu tersenyum kepada Sungmin.
Sungmin menatap Heechul polos ketika mendengar perkataan frontal dari hyungnya itu. "Aku tidak yakin Kyuhyun menyimpan whipped cream di apartmentnya dan sayangnya aku juga tidak memilikinya, apa nanti aku harus mampir ke mini market untuk membelinya, hyung?"
Heechul menegakkan tubuhnya yang semula bersandar dan tersenyum geli karena ucapan Sungmin, ditambah wajah Sungmin yang terlihat lugu. Sungmin memang seperti seekor rubah yang benar-benar pintar mengelabui orang lain dengan sikap serta wajah polosnya itu. "Kau bisa menggantinya dengan wine, aku rasa kalian pasti memilikinya."
Sungmin tergelak. "Bercinta dengan wine, well... tidak buruk juga."
Youngwoon hanya tersenyum tipis mendengar perbincangan dua sahabat baiknya itu. "Maaf mengganggu pembicaraan kalian, cantik. Tapi, sepertinya kita harus segera bergegas sebelum terlambat. Shindong bahkan sudah berangkat dengan kekasihnya."
Heechul menatap Youngwoon malas. "Kau terlalu banyak minum semalam. Sepertinya kau masih dalam pengaruh alkohol, sebaiknya aku yang menyetir kali ini. Aku tidak mau celaka, aku bahkan belum mempunyai cucu dari Heebum," ucapnya, sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan Youngwoon dan Sungmin.
Sungmin mengulum bibirnya menahan tawa. Tangannya mengalung di lengan kekar Youngwoon. "Ayo, Kangin hyung," ucapnya, sebelum sedikit menarik Youngwoon yang masih mematung karena perubahan sikap Heechul.
Youngwoon menatap kedua pria cantik itu bingung. "Hei, Sungminie. Kenapa dengan Heechul hyung? Aku salah bicara, ya?" bisiknya pelan kepada Sungmin yang berjalan di sampingnya.
"Hyung sepertinya lupa, bukankah Heechul hyung kurang suka jika ada yang memanggilnya cantik," gumam Sungmin.
Manik mata Youngwoon membelalak. "Astaga, aku melupakannya! Semoga moodnya kembali lagi nanti."
"Semoga saja, hyung. Akan sia-sia aku menuruti Heechul hyung dan menolak ajakan Kyuhyun untuk pergi bersamanya malam ini." Helaan nafas pelan terlontar dari mulut Sungmin.
"Ya, kalian lebih cepatlah sedikit atau kita benar-benar terlambat!" seru Heechul sambil memasuki pintu lift yang telah terbuka.
"Iya, hyung," ucap Youngwoon dan Sungmin hampir bersamaan.
Youngwoon tertawa ringan. "Sayangnya kita memang tidak bisa menolak keinginan seorang cinderella."
Sungmin mengangguk pelan dengan seulas senyum yang mengembang di bibirnya, sebelum melangkahkan kakinya bersama Youngwoon menyusul Heechul yang sudah lebih dulu berada di dalam lift.
.
.
.
"Sungmin!"
Sungmin yang baru saja keluar dari mobil Youngwoon refleks menolehkan kepalanya keasal suara. "Kyuhyun?" ucapnya setelah melihat seorang pria tampan dengan setelan jas mahal tengah bersandar dengan santai di kap mobilnya.
Kyuhyun menegakkan tubuhnya lalu berjalan penuh percaya diri ke arah Sungmin dan kedua sahabat pemuda manis yang tengah menatap datar dirinya. Pria itu menatap Sungmin penuh minat, sorot matanya penuh pujian.
"Kau sudah membaca pesanku, bukan?"
Pemuda manis itu mengerjapkan matanya, sedikit banyak dia terpesona dengan penampilan pria di hadapannya. Sepertinya dia yang justru ingin melumuri tubuh pria itu dengan whipped cream. Tanpa sadar Sungmin menjilat bibirnya yang terasa kering dan hanya bisa mengangguk kaku menjawab pertanyaan Kyuhyun.
"Jadi?" Jemari Kyuhyun terlulur ke pipi Sungmin, membelainya lembut.
Tubuh Sungmin sedikit terkesiap. "Emm... hyung bolehkan jika aku masuk ke dalam bersama Kyuhyun?" Matanya melirik ke arah kedua pria yang sudah dia anggap hyungnya itu, sorot matanya berbinar penuh harap seolah meminta persetujuan dari keduanya.
Jika Sungmin sudah menatap mereka seperti itu, mau tidak mau mereka pasti menyetujui keinginan pemuda manis itu. "Jaga dia baik-baik, Cho!" Perkataan Heechul mungkin terdengar biasa, namun mereka bisa merasakan ada penekanan dalam setiap kata-katanya.
"Aku pasti menjaganya!" ujarnya tegas. Senyum lebar menghiasi wajahnya.
"Kalau begitu kami duluan, Sungminie, Kyuhyun," ucap Yongwoon dan tersenyum ramah, "Ayo, hyung." Pria itu mengamit lembut tangan Heechul lalu berjalan meninggalkan keduanya.
Senyum Kyuhyun semakin lebar. Dia merasa jika kedua sahabat Sungmin sudah menerima kehadirannya. Kyuhyun menatap Sungmin dalam kemudian merengkuh pinggang pemuda manis itu. "Seperti biasanya, sungguh menawan."
Tawa ringan bagai dentang lonceng itu mengalun merdu dari mulut Sungmin. "Kau juga sangat tampan."
Jemari Kyuhyun meraih tengkuk Sungmin kemudian bibirnya kembali mengklaim bibir pemuda manis itu. Pria tampan itu melumat lembut. Hanya ciuman singkat namun sensasinya selalu terasa sama.
"Aku jadi ingin menculikmu." Kyuhyun menggesekan hidungnya dengan hidung Sungmin.
"Kau boleh melakukannya, setelah pesta ini berakhir. Aku dengan senang hati bersedia kau bawa kemanapun." Mata Sungmin mengerling nakal.
Salah satu sudut bibir Kyuhyun terangkat. "Kau tidak boleh menarik kata-katamu. Sebaiknya kita segera masuk, sebelum aku kehilangan kendali." Dia mengecup sekilas pipi Sungmin, lalu dengan lembut dan gentle mengamit jemari pemuda manis itu sebagai pasangannya di pesta itu.
.
.
.
Mereka disambut dengan suara musik yang samar-samar mengalun dengan lembut. Mereka lalu berjalan menuju ke arah sang Tuan Rumah yang terlihat begitu antusias menyapa para tamu undangan yang hadir, keduanya juga terlihat begitu bahagia dengan senyum yang tak pernah lepas menghiasi wajahnya.
Sungmin merasakan banyak sekali mata yang menatapnya penuh spekulasi. Mungkin karena dia datang bersama seorang Cho Kyuhyun, pebisnis muda yang tak pernah terdengar soal hubungan asmaranya apalagi terlihat membawa seseorang ke sebuah pesta.
"Sungmin hyung, Kyuhyun-ah." Ryeowook menyambut mereka dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Dia bergantian memeluk keduanya.
"Akhirnya kalian datang juga, terima kasih." Kini giliran Jongwoon yang memeluk keduanya bergantian.
"Sama-sama, Jongwoon hyung, dan selamat atas pertunangannya. Aku menanti undangan pernikahan kalian," ucap Sungmin sambil tersenyum lebar.
Kyuhyun terkekeh. "Kau pasti membunuhku jika aku tidak menghadiri pertunangan kalian. Aku masih tidak percaya Ryeowook mau bertunangan denganmu, hyung." Matanya melirik Ryeowook, "Ryeowook-ah kau tidak sedang mabuk, kan?"
"Aku rasa Sungmin yang tengah mabuk karena mau dengan pria yang setiap harinya hanya bercinta dengan tumpukan berkas," ucap Jongwoon sarkatis.
Ryeowook dan Sungmin tergelak, sementara Kyuhyun hanya mengangkat sebelah alisnya.
"Hei, kalian sudahlah, aku dan Sungmin hyung tidak sedang mabuk, oke. Mungkin lebih tepatnya kami dimabuk cinta." Sorot mata Ryeowook berbinar penuh cinta.
Sungmin tersenyum tipis. "Mungkin memang seperti itu." Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan, "Ryeowook-ah kau melihat hyungdeul?"
"Mereka sepertinya tadi mengobrol dengan Junghoon hyung." Pandangan Ryeowook ikut menyapu ke seluruh ruangan.
Mata Sungmin membelalak. "Junghoon hyung! Maksudmu Park Junghoon? Dia ada di sini?"
Ryeowook mengangguk pelan. "Iya, dia datang sendiri tadi."
Siapa itu Park Junghoon? Kenapa Sungmin terlihat antusias saat mendengarnya? Batin Kyuhyun.
"Kalau begitu aku akan mencari mereka dulu, Ryeowook-ah, Jongwoon hyung." Sungmin mengalihkan tatapannya ke arah Kyuhyun, "Kau mau ikut denganku atau tetap di sini, Kyuhyun?"
Kyuhyun terkesiap, namun dengan cepat dia bisa mengendalikan diri. "Tentu saja aku ikut denganmu. Kau pasanganku."
'Dan tentu saja aku harus menemanimu bertemu dengan Junghoon. Aku tidak akan membiarkanmu menemuinya sendirian.' Timpal Kyuhyun dalam hati.
"Kami pergi dulu," ucap Kyuhyun, sebelum kembali mengamit jemari Sungmin dan melangkah meninggalkan Ryeowook dan Jongwoon.
.
.
.
Mereka akhirnya menemukan ketiganya justru setelah acara tukar cincin. Mengobrol di sudut ruangan dengan seorang wanita yang terlihat cantik dan anggun. Mereka juga bisa melihat para tamu undangan terlihat berkelompok dan bersosialisasi satu sama lain sambil menikmati hidangan yang pelayan-pelayan sajikan, para pelayan itu berkeliling menawarkan berbagai macam makanan serta minuman di atas nampan yang mereka bawa. Musik lembut masih senantiasa mengiringi, mengalir samar-samar dan membuat suasana pesta semakin elegan.
"Kalian dari mana? Aku mencari kalian dari tadi," gumam Sungmin, tersirat kekasalan dalam nada suaranya.
"Kami hanya tidak ingin mengganggu waktumu dengan Kyuhyun, Sungminie."
Kyuhyun hanya tersenyum sementara Sungmin memutar kedua bola matanya malas. "Berhenti mencari alasan, Heechul hyung."
"Oke, maafkan kami. Aku hanya merasa bosan tadi. Aku sering melihat mereka di TV, tapi hanya beberapa yang benar-benar aku kenal di sini, jadi aku memutuskan untuk berada di balkon bersama Kanginie, sebelum Shindongie dan kekasihnya menyusul kami."
Sungmin menoleh ke arah wanita cantik yang berdiri di samping Shindong, dia memang belum pernah bertemu dengan kekasih salah satu sahabatnya ini dikarenakan dirinya yang baru saja berada di Korea dan yang dia tahu hanya pekerjaan wanita itu sebagai seorang model cukup menyita waktu.
"Oh ya, Sungmin ini Kang Shinae kekasihku, dan Shinae itu Lee Sungmin sahabatku lalu yang di sampingnya itu adalah Cho Kyuhyun." Shindong berujar kepada dua pria di hadapannya.
Senyum manis terlukis di bibir mungil Sungmin. "Lee Sungmin," ucapnya sopan sambil mengulurkan tangannya ke arah Shinae.
"Kang Shinae," balas Shinae sambil tersenyum, sebelum menjabat tangan Sungmin.
"Cho Kyuhyun." Kini giliran Kyuhyun yang mengulurkan tangannya sambil tersenyum sopan.
"Kang Shinae." Senyum cantik masih senantiasa menghiasi wajah wanita itu.
"Apa aku boleh bergabung?" tanya seorang pria tampan yang entah sejak kapan berada di dekat mereka dengan senyum mempesonanya.
Mereka seketika menoleh ke arah datangnya suara. "Tentu, Junghoonie." Youngwoon yang sedari tadi memilih diam akhirnya membuka suara.
"Apa kabar, Sungmin-ah?" Junghoon menatap lembut pemuda manis di hadapannya dengan senyum yang semakin mengembang di bibirnya.
Sungmin menatap lekat pria yang tengah tersenyum itu. "Junghoon hyung," lirihnya pelan.
Kyuhyun mengerutkan keningnya ketika melihat interaksi antar keduanya. Insting posesif seketika menyeruak keluar, menyelimuti dirinya. Siapapun pria itu, Kyuhyun tidak akan semudah itu menyerah. Sungmin adalah miliknya. Hanya miliknya.
.
.
.
TBC
Pertama saya mau mengucapkan Minal Aidzin untuk semuanya, meski sangat terlambat.
Selamat hari kemerdekaan juga bagi semuanya.
Saya juga mohon maaf untuk keterlambatan FFnya. Maaf juga ternyata FF ini masih berlanjut, namun Insya Allah chap depan adalah chap terakhir dari FF ini.
Saya juga meminta maaf untuk cerita yang masih banyak kekurangan ini, entahlah saya benar-benar kehilangan sesuatu dalam menulis. Saya berusaha untuk mencari dan inilah hasilnya. Maaf yah jika mengecewakan. Saya akan berusaha lebih baik lagi.
Mari kita menunggu dan mendukung 7JIB juga SS6 semoga semuanya berjalan lancar, Amin.
Terima kasih bagi yang masih mau meluangkan waktunya untuk membaca dan mereview. Jika ada typo tolong kasih tahu ya. ^^
RnR?
