"Apakah kalian mengenal lelaki tua yang membutuhkan wanita muda dan perawan? Aku berniat mencari lelaki seperti itu," ucap Lucy dengan menebalkan muka pada Erza dan Mirajane ketika mereka bertemu di salah satu coffee shop seraya menikmati kue di sore hari.

"Idiot! Kau berniat membuang prinsipmu, hah?!" hardik Erza sambil menatap Lucy dengan tajam.

Lucy menundukkan kepala. Sebetulnya ia memiliki prinsip untuk tidak melakukan seks sebelum menikah. Mungkin prinsip itu terdengar kuno di jaman modern dan teman-temannya juga banyak yang telah melakukannya, namun ini adalah prinsip pribadinya.

"Aku butuh uang banyak dalam jumlah cepat," ucap Lucy pada suara pelan.

Erza menatap Lucy. Ia sudah mengenal gadis itu bertahun-tahun dan ia tahu kalau gadis itu adalah tipe yang menjaga hingga malam pernikahan. Jika ia sendiri yang melakukannya ia tidak akan menyesal karena ia juga menikmati seks. Ia bahkan telah melakukannya bersama pria-pria beristri. Namun jika itu adalah Lucy, ia yakin kalau gadis itu pasti akan menyesal pada akhirnya.

"Kau tidak akan menyesal? Keperawananmu tidak akan kembali setelah melakukannya," ujar Erza seraya menatap Lucy lekat-lekat.

"Mungkin-" ucapan Lucy terputus. Ia merasa ragu akan hal itu. Ia takut kalau ia akan menyesal karena hal itu bertentangan dengan prinsipnya. Namun ia harus melakukannya.

"Umm.. sebetulnya aku mengenal beberapa lelaki paruh baya pengunjung bar tempat kerjaku, sih. Beberapa ingin mencari sugar baby juga. Tapi kau ingin one night stand, short time contract atau long time contract?"

"Apa perbedaan short time contract dan long time contract?"

Sebelum Mirajane sempat menjawab, Erza sudah memotong wanita itu dan bertanya, "Sebetulnya kau butuh uang untuk apa?"

"Aku batal menikah dengan Laxus. Maka aku harus membayar DP gedung, biaya cetak undangan dan catering yang sudah dibayar Laxus dalam waktu dua minggu. Uangku tidak cukup untuk membayarnya."

"Berapa yang kau butuhkan?"

"Lima juta yen. Laxus sudah membayar setengah dari keseluruhan harga sewa gedung. Aku hanya memiliki sembilan ratus ribu yen."

"Eh? Banyak sekali! Aku bisa pinjamkan empat ratus ribu yen kalau kau mau. Tapi itu pasti kurang," ujar Mirajane.

"Masih ada dua ratus ribu yen di tabunganku. Berapa nomor rekeningmu? Akan ku transfer sekarang," ucap Erza seraya menatap Lucy.

Lucy menggelengkan kepala. Ia merasa tidak enak meminjam pada Erza dan Mirajane karena ia tidak tahu kapan bisa melunasi hutangnya. Mirajane memang bekerja sebagai model majalah dewasa dan bartender sehingga seharusnya memiliki banyak uang, namun ia masih harus menanggung kedua adiknya yang masih bersekolah. Sedangkan Erza sendiri tidak memiliki pekerjaan tetap dan hidup dengan beberapa kerja part time dan tengah memulai kariernya sebagai penyanyi band rock yang belum terkenal.

"Tidak usah. Aku bahkan tidak tahu kapan bisa membayar kalian," tolak Lucy.

"Tidak usah bayar juga tidak masalah," ucap Mirajane sambil tersenyum.

"Tidak! Tidak usah. Aku.. mungkin akan mencari sugar daddy saja," seru Lucy.

"Kau yakin? Tidak ingin coba meminjam pada Natsu?" tanya Erza seraya memotong strawberry cake nya.

"Aku… tidak berani pinjam padanya. Hubunganku… berbeda dengan dulu."

Erza hanya diam. Namun ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia harus menghubungi Natsu demi Lucy.

.

.

Natsu mengucek matanya dan meraih ponselnya yang bergetar. Matanya lelah dan ia bahkan tak melihat nama penelpon yang tertera di ponsel.

"Moshi-moshi?"

"Aku butuh bantuanmu, Natsu."

"Eh? Kau siap-"

Kesabaran Erza sudah habis, "Aku Erza, bodoh!"

Natsu seketika tersentak dan ia baru mengenali suara Erza di telepon. Malam ini ia benar-benar mengantuk hingga tak mengenali siapa yang menelponnya.

"Ah! Kau butuh bantuan apa? Maaf aku tak mengenali suaramu."

"Tolong pinjamkan lima juta yen untuk Lucy. Wanita itu batal menikah dan bajingan tengik itu memintanya mengganti biaya DP gedung, catering dan cetak undangan. Dia harus membayarnya dua minggu lagi," jelas Erza.

Mata Natsu seketika terbelalak lebar. Ia belum lama ini menerima undangan pernikahan dari Lucy, dan kini gadis itu batal menikah. Ia tak tahu jika ia harus merasa senang atau justru malah merasa kasihan.

"HAH?! Kau yakin? Aku kan baru terima undangan darinya."

"Cepatlah! Kau mau bantu, tidak? Dia sudah putus asa dan sampai memintaku dan Mirajane mencarikan sugar daddy."

Tangan Natsu seketika terkepal saat mendengar kata 'sugar daddy'. Ia tak rela melihat gadis yang dicintainya terlibat dengan prostitusi, terlebih lagi setelah ia mengenal karakter Lucy.

"Tentu saja. Aku akan pergi ke Jepang dua hari lagi."

Natsu tak peduli dengan apapun yang akan dikatakan Erza dan ia segera mematikan telepon. Ia mengecek jadwal penerbangan dan mencari jadwal penerbangan paling awal menuju Jepang serta membeli tiket.

Ia merasa sedikit lega dan tersenyum tipis ketika pembayaran berhasil dan tiket tercetak secara online di aplikasi.

Kemudian Natsu segera meraih ponselnya dan menghubungi sebuah nomor yang begitu sering ia hubungi.

Terdengar suara dering telepon dan tak lama kemudian seorang wanita menjawab telepon.

Natsu segera berkata, "Batalkan semua jadwalku mulai lusa hingga lima hari ke depan."

"Apa yang akan anda lakukan, Tuan Natsu? Anda dijadwalkan memiliki meeting dengan calon investor dari China lusa nanti. Selain itu ada juga jadwal makan malam bersama beberapa investor," ucap wanita itu dengan terkejut.

Natsu merasa ragu sesaat. Meeting dengan calon investor sebetulnya sangat penting dan ia tak ingin kehilangan calon investor yang potensial. Ia sendiri sedang membutuhkan dana untuk mengembangkan fitur baru di aplikasi miliknya.

Namun Lucy jelas jauh lebih penting bagi Natsu. Baginya, kebahagiaan Lucy adalah segalanya meski ia tak memiliki gadis itu. Perasaannya selama bertahun-tahun tak bisa dihilangkan begitu saja. Dan ia yakin akan sangat menyesal jika Lucy sampai melakukan sesuatu yang tak seharusnya dilakukan meski ia berhasil mendapat seratus investor tambahan potensial sekalipun.

"Berikan nomor telepon calon investor itu. Aku sendiri yang akan menghubunginya. Sedangkan untuk para investor, katakan kalau aku memiliki urusan mendesak di Jepang dan acara makan malam ditunda minggu depan."

Wanita di seberang telepon merasa ragu, namun ia tak memiliki pilihan selain menjalankan perintah sang boss.

-TBC-