Sejak bikin ff Terima Kasih, nih ff jadi terlantar...
Ya sudah lah, aku lanjutin, kasian :3
Happy reading :3
Fang meronta mencoba melepaskan tangan tersebut dari mulutnya, dan, ia berhasil. Hal pertama yang Fang lihat adalah seorang anak lelaki dan perempuan yang seumuran dengannya. Anak lelaki itu memasang death glare pada Fang dengan mata merahnya. Dan anak perempuan itu tersenyaum manis pada Fang. Dan, tentu saja Fang mengenali mereka berdua karena mereka memang orang yang terkenal sekaligus teman sekelasnya.
"Halilintar, Taufan, ngapain kalian kesini?" Tanya Fang kesal.
"Hehe~ piss atuuh..." kawab Taufan.
"Kita lagi bersembunyi." sambung Halilintar.
"Dari?" tanya Fang.
Halilintar menunjuk ke arah jendela di dekat pintu, "Tuh, liat aja sendiri."
Fang menoleh ke arah yang Halilintar tunjuk dan berjalan ke sana. "Mana? Ga ada apa-apa tuh." Ucap Fang sembari melihat ke luar jendela.
"Tunggu saja.." sahut Taufan.
DRAP! DRAP! DRAP! DRAP!
Suara langkah kaki terdengar ke dalam rumah Fang yang besar itu. Fang yang masih melihat keluar jendela melihat sekumpulan orang berbondong-bondong datag ke arah rumahnya.
"Itu yang kalian maksud?" tanya Fang sambil menunjuk ke arah sekumpulan orang tersebut.
"Yap." balas Taufan.
"Itu sih salah kalian. Siapa suruh jadi orang terkenal?" bola mata Fang memutar tak peduli.
"Hei, kamu aja yang ga ngerasa." bantah Halilintar kesal sekaligus marah.
"Iyalah, aku kan anak SMA biasa. Sekolah, belajar. Ga seperti kalian yang sibuknya... rgh.." balas Fang, sekarang bola matanya menghadap ke atas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ayolah Kak Fang... Biarkan kita bersembunyi disini..." mata biru Taufan menatap Fang dengan penuh harap, memelas, juga dengan puppy eyesnya.
"Hhh.. iyalah.." jawab Fang kesal dan tak peduli.
"YEEY! Makasih Kak Fang!" tanpa sadar, Taufan berlari ke arah Fang ingin memeluknya.
~GYUT~
Taufan Pov
"Thanks Kak Fang, you are the best!" aku memeluknya dengan sangat erat. Memang sudah kebiasaan. Biasanya, jika ada orang yang membuatku senang, aku akan langsung memeluknya. Tanpa pilih terlebih dahulu, aku suka tidak peduli orang yang aku peluk itu perempuan atau laki-laki, asalkan, dia sudah membuatku senang.
Dan sekarang, aku memeluk Kak Fang. Oke, bukan Kak sih, kita sepantaran. Tapi aku lebih suka manggilnya Kak Fang.
'Tapi, kok kayaknya ini bukan Kak Fang ya? Kak Fang seharusnya lebih tinggi lagi.'
"Hoy-"
'Oke, suara itu bukan suara Kak Fang.'
Aku melepaskan pelukanku dan melihat orang yang sedang kupeluk.
' #$!$ #! WHAAAT!'
Pantas saja, orang yang aku peluk itu memakai jaket hoodie berwarna hitam juga topi hitam bergaris merah. Matanya yang berwarna merah tajam menatap death glare ke arahku. Dan, kalian tahulah dia siapa.
Aku segera mengambil back step dengan tanganku yang terlipat ke depan dan mataku yang terkaget.
'How?'
Taufan Pov end
"Kak Hali? How?" tanya Taufan terkaget. Matanya yang biru itu membulat tak percaya, tangannya dikipas-kipaskan seakan ada sesuatu yang menempel pada tangannya.
"Tangannya ga usah gitu juga kali. Emangnya aku apa? Najis?" tanya Halilintar yang masih memasang tatapan death glarenya pada Taufan.
"Mending kamu meluk Halilintar yang memang muhrim kamu. Lah aku? Memangnya aku siapa kamu?" celetus Fang dingin. Tangannya terlipat didepan dadanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Atuh kan, udah kebiasaan..." balas Taufan dengan cemberut dan pipinya yang digembungkan.
"Hapus kebiasaan burukmu itu. Nanti malah dikira yang tidak-tidak saat kamu memeluk orang lain seenaknya." pinta Halilintar.
"Tapi kan - hh, iya deh, aku coba." balas Taufan sambil menarik nafas panjang, cemberut, sedikit menunduk, dan bola matanya yang melirik ke kanan.
"Nah, sekarang, sampai kapan kalian mau disini?" tanya Fang mengganti topik pembicaraan.
"Mmm... beberapa jam mungkin..." jawab Taufan sembari memerhatikan jam didinding yang tergantung didinding ruangan itu.
"Terus, orang-orang yang diluar itu bagaimana?" Fang bertanya kembali.
"Biarkan dulu lah mereka. Capek aku dikejar mereka terus." sekarang Halilintar yang menjawab.
"Hh, terserah." balas Fang pasrah.
.
.
.
SKIP TIME
.
.
.
Sudah 3 jam Halilintar dan Taufan ada di rumah Fang. Dan selama itu, yang mereka lakukan hanyalah berkeliling, menonton TV, minum kopi, berantem, adu mulut, dan masih banyak lagi. Sekarang, mereka bertiga sedang duduk diam di depan TV. Dan tentu saja, mereka sedang menonton TV. Mereka bertiga diam tak bersuara, hingga satu-satunya suara yang terdengar di dalam rumah itu hanyalah suara dari TV yang menyala.
Fang mulai tidak sabar dan kemudian bertanya pada Halilintar dan Taufan, "Hey kalian. Sudah 3 jam kalian disini. Mau keluar kapan?"
"Aku sih terserah Kak Hali aja," jawab Taufan sambil melirik kearah Halilintar yang duduk di sebelah kanannya.
"Disini ada pintu belakang kan?" tanya Halilintar pada Fang yang sedang meminum es kopi yang dibuatnya lagi.
"Ada, tuh disana," jawab Fang sembari menunjuk kearah pintu belakang berada.
"Oke. Eh Fang, tolong buka pintu depannya," suruh Halilintar pada Fang.
"Lho? Bukannya kalian mau menghindari mereka?" balas Fang heran.
"Sudahlah, buka saja," sekarang Taufan yang berbicara.
"Terserah," Fang mendengus pasrah dan berjalan menuju pintu rumahnya.
Sementara Fang berjalan menuju pintu depan, Halilintar dan Taufan berdiri, mengambil skateboard mereka, dan berjalan menuju pintu belakang dengan mengendap-endap. Tepat disaat Fang membuka pintu rumahnya, orang-orang berhamburan memasuki rumah Fang, dan Fang menoleh ke arah dua bersaudara itu-
"Nah, Fang, tolong tangani yang itu ya.." kata Halilintar yang sudah berada di depan pintu belakang.
"Eh, tunggu! Ini orang-orang pada mau diapain?" seru Fang sembari menahan sekumpulan orang yang dorong-dorongan mencoba memasuki rumah Fang.
"Salah sendiri mau aja dijailin," ucap Taufan dengan santainya, "Bye Kak Fang, kita duluan ya~"
Dan mereka berdua berjalan keluar rumah meninggalkan Fang yang sudah kewalahan. "Eh? Anjir! Mau kemana kalian?! Sini tanggung jawab! HOOOYY!"
0ooOoo0
"Itu Kak Fang ga apa-apa dibiarin?" tanya Taufan sambil mengendarai skateboardnya.
"Alah, dia ga bakal kenapa-napa kok. Namanya juga pengen tenar," jawab Halilintar santai. "Udah ah, ayo yang cepet. Sekarang mau ke studio kan?" sambungnya.
"Oke Kak! Ayo!" seru Taufan sembari mempercepat laju skateboardnya.
Halilintar hanya menggeleng pelan dan mengikuti Taufan.
0ooOoo0
Setelah beberapa lama, akhirnya mereka berdua sampai di tempat yang mereka tuju.
"Yuk Kak, kita masuk!" Taufan segera menarik tangan Halilintar dan berlari memasuki gedung yang ada di depan mereka sekarang ini.
"E, eh? Fan, nyelow!" dan mau tak mau, Halilintar harus ikut berlari menyamai kecepatan adiknya itu.
Semakin mereka masuk ke dalam gedung itu, semakin terdengar suara samar seorang anak perempuan yang sepertinya sedang - - - - - marah?
"Kalian tuh ya, masih aja nggak ngerti?!"
"Eh Kak, itu suara siapa?" tanya Taufan pada Kakaknya.
"Entah, pernah denger tapi," jawab Halilintar.
"Kan udah dibilang kalo itu salah. Kenapa diulangi?!"
"Iya ya, asaan pernah denger," balas Taufan. "Yuk liat!" seru Taufan sembari mempercepat larinya yang pastinya membuat Halilintar harus ikut berlari juga.
Dan akhirnya, mereka sampai di tempat asal suara yang mereka dengar tadi. seketika, keduanya terdiam.
"Kak, itu—" kata Taufan sambil menunjuk seorang anak perempuan.
"Iyap," jawab Halilintar.
Anak itu memakai jaket hitam yang kontras dengan warna kuning sebagai penghiasnya, rambut cepak sebahu, rok hitam pendek selutut, juga topi hitam yang menghadap belakang. Dan posenya - - - - jagoan.
Sepertinya, anak itu menyadari keberadaan Taufan dan Haliintar. Dia menoleh ke arah mereka berdua. Dan mukanya tampak kaget sekaligus bingung.
"Kak Hali, Kak Taufan, ngapain kesini?"
Jujur, aku juga bingung sama chap ini, apa lagi pas Taufan POV /biarkaaaaaan
Dan lagi, chap ini pendeeek. Cuman 1k kata :3
Sudahlah, memang banyak (sekali) kesalahan dalam chap ini #pundung
Reviewnya? :')
