sorry for late ;v #plak


"Sedang apa kau dengan Jin?" Haruka menatapku heran. Aku juga heran kenapa dia menarikku seenaknya keluar. Aku hanya menaikkan bahuku tak peduli. Kulirik Kazune yang berbicara dengan Michi di sekitar bar bersama Himeka.

"Aku tidak tahu, Haruka-san! Aku ditarik paksa tadi." Kukatakan begitu karena sepertinya tatapannya berubah menjadi ketidakpercayaan.

Haruka menghela nafas lalu menyuruhku untuk pulang. Aku mengangguk lalu membungkuk pada wanita itu.

Aku membuka pintu bar dengan tergesa. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Gawat! Ini sudah tengah malam! Aku harus segera ke rumah.

"Butuh tumpangan?"

Aku menoleh pada kendaraan mahal di sampingku. Aku tentu tahu siapa dia.

"Kenapa kau masih ada disini?" Aku menatap heran padanya. Berniat mengusir, dia malah menangkap lenganku dan menarikku dekat dengan laki-laki itu.

"Tidak baik kalau gadis berjalan sendiri tengah malam seperti ini.."

Aneh! "Bukan urusanmu!"

Aku menghentakkan tanganku dan melanjutkan langkahku sambil sesekali berlari menjauhi kendaraan beserta pemiliknya. Aku semakin jengkel ketika kudengar suara kendaraan itu tidak hentinya mengikutiku.

Ini menyebalkan.

"Kuga-san, bisakah kau tidak mengikutiku?" Aku tepat berhenti di depannya. Laki-laki itu membuka kaca helmnya dan tersenyum miring. "Aku akan berhenti mengikutimu jika kau pulang bersamaku. Aku akan mengantarmu dengan selamat walaupun agak lama~"

Aku memutar mataku, "Itu jaminan yang buruk!" kataku. Jin hanya menaikkan alisnya acuh. Sepertinya aku terpaksa mengikuti perintahnya sekali ini, karena.. aku sedikit takut juga

.

.

Je me sens mal de chance~!


Mésaventure

Disclaimer: Kamichama Karin (c) Koge Donbo

this story belongs to me

Genre: Romance (teen), Drama, Hurt/Comport,

Warning: just typo, ect.

.

.

.

Selamat membaca!


~Normal POV

Karin menguap. Dia mengerjap, kemudian menggumam tidak jelas, merengggangkan otot tangan serta kepalanya yang terasa kaku. Kepalanya berputar ke arah jam weker tepat di samping tempat tidurnya.

"Haha, akhirnya aku mengalahkanmu, jam!" tukasnya sambil tersenyum penuh kemenangan dan menunjuk-nunjuk jam malang itu, kemudian menyibakkan selimutnya menjauh, berjalan menuju cermin untuk melihat kondisi wajahnya, lalu gadis ituberjalan menyibakkan tirai jendela dan membuka pintu balkon.

Karin berdecak kagum akhirnya dia bisa melihat matahari terbit walaupun udara terasa dingin.

.

.

Kejadian kemari sepertinya masih hangat dikalangan para anak kelas dua. Sepanjang koridor makian berjalan mulus tanpa hambatan kecuali dia sampai di dalam kelasnya yang terkesan tidak peduli. Tapi syukurlah, dia bisa menghela nafas lega ketika tidak ada banyak tekanan padanya.

Karin duduk sambil membuka syal yang melilit lehernya. Di hembuskannya nafas ringan lalu menggantungkan tasnya di samping meja. 'aku belum punya teman? Ah mungkin saja mereka tidak akan berteman denganku, maybe!' gadis itu menghela nafas dan membuka novelnya.

"Kau Hanazono Karin, bukan?"

Karin mengalihkan matanya dari novel yang ia baca dan melihat seorang gadis berambut hijau tosca sedang tersenyum manis padanya. Dari wajahnya tampak sekali kalau dia orang yang menyenangkan.

Karin menganggguk, "Ya, kau siapa?" Ugh, terdengar agak tidak sopan. Yaampun Karin!

Gadis itu menjulurkan tangannya dan berseru senang. "Perkenalkan namaku Yii Miyon. Satu kelas denganmu dan aku adalah anggota klub jurnalis. Salam kenal"

Miyon segera menyambut tangan Karin yang sempat melayang menerima tangannya. "Aku tahu kau itu baik! Eh, ngomong-ngomong kau suka membaca?"

Karin mengangguk antusias, "Ya begitulah. Aku juga suka menulis dan menga―.."

"Kalau begitu kau harus ikut denganku!"

Karin tidak tahu apa selanjutnya dan yang jelas ia telah di seret-seret oleh Miyon keluar dari kelas.

.

.

Karin kembali ke kelasnya ketika bel masuk terdengar nyaring seantero koridor. Sempat kesusahan karena gangguan Jin yang terus menggodanya. Heran, dia tidak bisa menjaga sikapnya di sekolah ini. Karin mengeluarkan bukunya sebelum seorang guru memasuki kelasnya.

Sesaat Karin mengalihkan tatapannya pada bayangan seseorang yang menimpa pintu kaca kelas mereka.

"Ohayo minna-san! Kita kedatangan murid pindahan. Jadi Sensei harap kalian akrab dengannya. Ok? Nah, silahkan masuk, Maruka-san!"

Setelahnya, sepasang kaki jenjang nan mulus melangkah ke dalam kelas bersamaan dengan rambut blonde yang dicat pink di ujung helaiannnya yang bergerak seiring dia melangkah. Jelas, laki-laki menahan nafas akibat mencium wangi yang memabukkan pikiran mereka. Bunga yang harum.

"Hai semua, perkenalkan namaku Maruka Kazusa. Aku seumuran dengan kalian. Aku pindahan dari Amerika dan untuk kalian tahu, aku blasteran. Salam kenal!" dan diakhiri dengan badan membungkuk.

"Baiklah. Maruka-san kau bisa duduk di bangku kosong dekat dengan jendela. Tepat di belakang siswi berkacamata itu.."

Karin segera menegakkan kepalanya dan memasang senyum tertahan ketika gadis itu melewati meja dan kemudian menunduk membaca bukunya. Entah apa dan kenapa, dia merasakan punggungnya keringat dingin.


Bel Istirahat sudah berdering sejak beberapa menit yang lalu dan kebanyakan siswa dan siswi menetap di kelas. Karin tetap duduk di bangkunya dan menatap lapangan yang ada di bawah kelasnya yang kebetulan lantai dua.

"Hai. Kau Hanazono Karin bukan?" Karin menoleh menatap gadis berambut blonde tengah berdiri di samping mejanya. Matanya menatap Karin.

Karin melirik Kazusa. Gadis itu tersenyum padanya. Karin membalasnya canggung dan menerima aluran tangan Kazusa. Sensasi pertama yang di dapat Karin adalah tangan dingin seperti es.

"Eh, kau pasti kaget tanganku dingin. Suhu di Jepang memang dingin akhir-akhir ini yah?" ucap Kazusa sambil tersenyum lebar sampai memunculkan kedua lesung pipinya.

Karin mengedikkan bahunya, "Yah, tidak heran ini musim gugur. Kau harusnya memakai ini."

Karin meletakkan bantalan hangat pada telapak tangan Kazusa dan segera memakaikannya.

"Arigatou"

Karin mengangguk tersenyum, " Sama-sama". Karin tersentak beberapa saat saat ponselnya bergetar ringan.

"Ngomong-ngomong kau kenal Haruka Kujyo?"

Karin berhenti menekan tombol ponselnya dan menatap terkejut Kazusa. Karin menggaruk pipinya, "Yah.. Dia manager cafe di tempat kerjaku. Bagaimana kau tahu?"

Kazusa tersenyum senang lalu menggenggam kedua tangan Karin di depan dadanya. "Tentu saja aku tahu! Aku 'kan tunangan adikknya.."

Sejenak, Karin melongo.


"Haruka-san, aku benar-benar minta maaf. Tapi dia benar-benar tunangan Kazune. Dia mengatakannya langsung padaku.."

Haruka menggigit kukunya gemas dan berjalan bolak-balik di dalam ruangannya. Dia tidak pernah menyangka akan hal ini. Wanita itu menghembuskan napasnya dan kemudian terjatuh pada kursinya.

"Wait, apakah dia blasteran?" Karin mengangguk. Haruka segera meraih ponselnya dan menyuruh Karin kembali kebawah, tepat ke ruangan cafe.

Karin menuruni tangga dan berjalan cepat ke depan meja bar. "Dimana Himeka?" tanya Karin pada Michi. Michi mengendikkan bahunya ringan. Dia berkata mungkin saja dia punya keperluan di sekolahnya mengingat dia adalah siswi tersibuk minggu ini.

Karin menghembuskan nafasnya. Dia berencana menanyakan perihal tunangan Kazune itu. Tapi sudahlah, dia akan menceritakannya nanti.

"Hei, Hanazono!" Karin membuka matanya yang semua tertutup lalu menoleh. Dia mendengus kasar ketika ia melihat orang yang paling tidak disukainya.

Karin menarik pelan napasnya dan mencoba untuk sabar, "Oh halo, Kuga-san! Sedang apa kau disini? Ku ingat ini bukan jadwalmu untuk bernyanyi bukan?"

Jin pura-pura terkejut, "Wha-, kau ingat kapan aku menyanyi disini? Oh aku sangat terharu"

Karin melongo. Jin memasang senyum miringnya dan bersandar pada meja bar lalu menoleh pada Michi. "Laki-laki ini memintaku untuk datang. Entah untuk apa?"

Michi berdecak pelan, "Kalau kau memang terpaksa, kenapa kau datang?". Jin tidak menjawab dan memilih menatap Karin yang dibalas dengan dengusan gadis itu. Karin berniat untuk mengusir laki-laki itu dengan mencoba mendorong punggungnya sebelum suara dengklingan pintu terdengar. Karin menoleh menatap seorang laki-laki berambut blonde berjalan menuju mereka. Tenggorokannya telihat kelu.

"Oh jadi begini. Berpacaran disela-sela pekerjaan. Apakah begini cara nee-san memperlakukanmu, Karin?" ucap Kazune dengan entengnya di depan mereka berdua. Karin terdiam sementara Jin menatap tidak peduli.

"Maaf Kujyo-san. Tapi dia bukan pacarku. Dan aku memang tidak memiliki pekerjaan disini, seharusnya aku ke dapur. Permi―"

"Sudahlah tidak berguna lagi...", Kazune mengacak surai blondenya kesal. "Aku ingin kau ikut denganku. Sekarang!"

"Tapi―.."

"Dia bersamaku, Kujyo!"

Kazune menoleh pada lelaki bermata seperti kucing itu. Mereka saling terdiam dan saling menata tajam.

.

.

.

.


Saya tahu, makin ngawur dan ngebosenin. Saya minta maaf atas ketidakhadiran selama.. errr.. 2 bulan. Saya rasa!

Ok, what do you think? Ini cerita di hapus aja kali yah? ._.