Title : SCAR TO BRING UP THE POISON
Author : KanG and FAMILee
Genre : -_-
Yeppzz…chapter ini mungkin tidak lebih panjang atau bahkan lebih menarik dari sebelumnya. Tapi sedikit lebih terbuka dan beberapa hint bermunculan. Jadi, silahkan menebak kelanjutannya.
Oh ya…maaf bagi yang menunggu lama. #bow
_Kray_
"Tidak. Aku benar-benar tidak tahu."
Mata itu menatapku tajam. Entah apakah orang ini menggunakan hipnotis tingkat tinggi sehingga dengan mata sayunya sekalipun dapat membuatku seakan-akan takut untuk menatapnya. Nenek tua ini membuang-buang waktuku saja. Bagaimana tidak, sedari tadi hanya satu pertanyaan yang ia lontarkan padaku. Bisa kulihat raut wajahnya yang sudah memasang kuda-kuda hendak melahapku hidup-hidup. Terlalu mengintimidasi.
"Kau seorang psikolog tapi tak tahu sama sekali penyebab pasienmu hampir gila seperti itu?!"
Matanya menyalak bagai serigala. Sungguh mengganggu pendengaranku. Ia menunjuk-nunjuk pada Yi Xing yang tengah terdiam dalam ruang investigasi. Pemuda itu tak sekalipun menoleh pada kami yang terlihat sedang bertengkar sementara sosok tua di depanku hanya bisa memojokkan argument-argumen singkat yang sedari tadi kuucapkan.
Beberapa kali petugas yang juga ikut menatap bingung hendak mendekat, namun aku tahan. Hanya ingin tahu, apakah nenek ini bisa memberikan setidaknya sedikit saja informasi yang mungkin bisa membantuku.
"Aku tanya sekali lagi! Kenapa Yi Xing bisa berakhir di tempat seperti ini?!"
Cukup mengesalkan, bahkan bulu romaku sudah tidak tahan untuk menegak. Nenek ini sama keras kepalanya dengan dia.
Aku berdiri dan bersiap untuk mendekati pintu yang menghubungkan kami denganYi Xing. Bola mataku berputar tak sabar. "Bisa lepaskan tanganku, nek? Aku akan menanyakannya langsung pada cucu yang kau bilang kesayanganmu itu." Ucapku lembut dan disambut tatapan khawatir dari si nenek.
Perlahan tapi pasti. Sebenarnya ini tak seperti yang kuharapkan. Awalnya aku berpikir bisa lebih melihat titik terang setelah kemarin mendapat telpon dari pihak kepolisian bahwa seseorang yang mengaku sebagai nenek sosok rapuh itu, datang ke kantor polisi dan meledak-ledak mencari cucu kesayangannya. Dan bagaikan telah masuk dalam perangkap musuh, aku hanya mendapati seorang nenek cerewet dan keras kepala yang seakan tengah menuduhku telah melakukan perbuatan asusila pada seorang Zhang Yi Xing? Yang benar saja…
Baru sadar, ruangan ini ternyata tidak cocok dengan corak hidupku. Aku kurang suka dengan ruangan pengap, sempit dan hampir gelap seperti ini. Mungkinkah Yi Xing juga berpikir seperti itu? Mungkin saja penyebab kebisuannya selama ini salah satu karena ia tidak mendapatkan tempat yang layak untuk memuntahkan keluh kesahnya?
Bukan berarti rumahku -tempatnya tinggal selama ini- masuk kategori ketidaklayakan tersebut. Pekerjaanku hanya menghuni kantor dan ruang kerjaku di rumah, tidak lebih. Sementara pemuda ini baru sekali memasuki ruang privat tersebut. Oh ya, aku bukan seorang yang cukup temperamen jadi tidak akan ada sistem paksaan dalam proses pekerjaan apapun itu yang ada sangkut pautnya denganku.
Yi Xing menoleh sekilas, menatap bukan kearah wajahku untuk mencari kontak mata di antara kami. Bola mata hazelnya mengarah pada udara hampa di sekitarku.
"Yi Xing.." ucapku pelan sebagai suatu awal pembicaraan yang aku harapkan baik seterusnya.
Kami terdiam cukup lama sampai akhirnya aku jengah sendiri menghadapi situasi seperti ini.
"Apa kau ingat nenek tua di sana?"
Aku menunjuk pada sosok tua yang tadi sempat adu mulut denganku. Tidak ada reaksi sama sekali. Bahkan tangannya semakin ia eratkan membentuk kepalan. Kulitnya sangat pucat namun tidak terlihat betul dalam ruangan pengap ini.
"Beliau mengatakan padaku bahwa kau adalah cucunya, benar begitu?"
Yi Xing masih setia terdiam. Walau begitu, aku tetap berusaha mengajaknya berinteraksi. Hal ini sangat penting kalau-kalau ada beberapa dari kata-kataku yang dapat memancing perhatiannya. Seperti tempo hari, saat mata bulatnya seolah berkata bahwa ia terkejut dengan apa yang kukatakan.
Haha…
Ia seorang yang cukup menarik –entah mengapa aku baru sadar saat itu-
Oh ayolah-
Aku sedikit malu jika harus mengutarakannya. Ehm bagaimana ia memiliki kulit putih pucat seperti warna susu, jari-jarinya yang aku bersumpah rangkanya sangat ramping, dan jangan lupakan bentuk tubuhnya yang..cukup! Tidak ada waktu untuk memikirkan hal-hal yang tidak selayaknya. Aku merasa seperti seorang secret admirer. Tidak buruk jika yang menjadi idolaku adalah orang secantik ini tapi, kembali pada rencana awal bahwa aku sekarang berperan sebagai seorang psikolog, dokter ahli jiwa mungkin lebih tepat.
Waktu berjalan terasa sangat cepat hingga aku tidak sadar sudah dua jam lebih kami menghabiskan waktu untuk diam saja. Yi Xing hanya bermain dengan jari-jari tangannya, mengurut gumpalan daging tipis panjang itu perlahan. Sebuah suara akhirnya menghentikan lajur udara teratur dari hidungku. Sambil menajamkan pendengaran bahwa yang aku dengar barusan bukanlah suara petugas dari speaker atau si nenek cerewet itu yang mungkin saja sedang memakiku dari luar karena lelah menunggu Yi Xing yang tak kunjung menemuinya. "Tao.." terdengar lirih, bahkan hampir tidak mencapai telingaku jika saja tidak kudekatkan ke arahnya.
"Tao? Siapa Tao? Apa kau mengingat sesuatu?"
Satu kata asing, tepatnya nama asing yang baru kali ini kutangkap keluar dari mulutnya. Mungkinkah seseorang bernama Tao ada hubungannya dengan kasus ini?
_Kray_
Sosok itu mendekatiku dengan cepat. Matanya menatap liar padaku. Mencari tahu apa yang dapat kuberikan padanya. Sesaat setelah benda panjang berwarna coklat di hadapan punggungku berhasil kusatukan dengan dinding.
"Hei..kurasa tak ada salahnya memberi istirahat pada klienku. Aku hanya merasa kurang enak jika orang-orang menginginkan tindak interogasi hampir setiap saat padanya. Kau tahu bagaimana keadaan cucumu sekarang ini, jadi kumohon untuk lebih bersabar."
Kalimat itu sangat panjang. Meski tidak dengan sekali tarikan nafas, namun sedikit mengganggu otot-otot mulutku yang terbiasa mengatup.
Raut wajahnya menonjolkan perasaan kecewa. Aku tebak ia kurang puas mungkin sangat tidak puas bahwa aku ingin hari ini cepat berlalu untuk bisa membawa Yi Xing pulang lebih awal. Meski keputusan sepihak ini harus mendapat persetujuan dari pihak berwajib.
"Jangan sungkan untuk menghubungiku. Bukan ide yang buruk kalau-kalau anda ingin berbicara dengannya.."
Nenek itu hanya membalas dengan senyum. Ia hendak beranjak sebelum seruanku berhasil menahan langkah pendeknya. "Oh ya, aku sedikit penasaran dengan seseorang bernama..Tao?".
Punggung bungkuknya tetap melawan pandanganku. Ia terdiam sesaat lalu sedikit melirik ke arahku.
"Sepertinya kita memang harus banyak bercerita. Kau tahu, banyak rahasia yang boleh diungkap namun sebagiannya harus tetap terjaga. Kali ini aku memilih untuk berbagi 'sebagian' itu.."
Dan langkahnya yang dimulai kembali semakin jauh meninggalkan tubuhku.
"Ah..Yi Fan…"
"Jangan terlalu informal di tempat terbuka seperti ini."
Lelaki yang beberapa detik lalu baru saja menghampiriku segera membisikkan sesuatu tanpa menggubris apa yang aku katakan. Si Troll, Chen. Nafas hangatnya menyapa kulit di sekitar telingaku.
Wajahku mungkin saja kurang menampakkan keterkejutan namun kalimat bisikan kecilnya berhasil menyita seluruh perhatianku. "Hasil laboratorium Tuan Park sudah keluar."
Chen tahu apa yang mesti dilakukan saat sesuatu yang penting menyangkut klien harus dianggap sesuatu yang tabu. Jangan banyak bicara dan jangan sampai orang lain tahu lebih dulu.
Aku memandang sejenak ke dalam ruangan di seberang. Sejak nama asing itu ia sebutkan, Yi Xing terlihat semakin tidak tenang. Sekali-kali raut wajahnya nampak ketakutan dan sedetik kemudian ia akan menghembuskan nafas panjang. Sangat aneh menurutku.
"Baiklah, tapi aku tidak ingin kau bertele-tele."
Chen mengangguk dan kami segera beranjak menuju ruangan lain di bagian belakang gedung.
"Perhatikan ini, lalu ini dan ini…"
Ia mulai menunjukkan padaku tiga berkas berbeda dalam masing-masing map berbeda warna pula. Berkas dengan map kertas berwarna putih berada paling jauh dari jangkauanku. Di hadapanku ada map berwarna coklat dan di sebelahnya map berwarna putih gading.
"Ok, apa maksud semua ini?"
"Aku minta kau perhatikan semua ini. Bukankah kau tidak ingin aku bertele-tele. Jadi baca saja sendiri, atau kau ingin aku membacanya kata perkata?" Senyum troll itu lagi, membuatku ingin muntah.
_Kray_
Kami benar-benar melakukan pembicaraan itu yang ia anggap sebagai ajang bercerita. Yah..meskipun sedikit kaku tapi aku melihat kesungguhan dalam kata-katanya.
"Apa selama ini ia bersikap baik?"
"Tentu saja Nyonya Zhang.." sedikit tersenyum untuk meyakinkannya mungkin akan membantu. Untuk itu aku berusaha lebih rileks selama pembicaraan kami tidak terputus.
Kenyataan yang aku temukan tadi malam, wanita tua di hadapanku adalah benar nenek dari Yi Xing, ibu dari ayah pemuda itu. Mungkin ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan beberapa hal penting. Aku rasa Nyonya Zhang tahu banyak hal yang aku butuhkan, dan dengan informasi laboratorium yang diberikan Chen kemarin sore aku yakin wanita ini tidak punya alasan lagi untuk menolak memberiku sedikit fakta.
"Dia terlihat semakin kurus saja.." ujarnya lirih.
Aku hanya berusaha menjadi seorang pendengar yang baik. Etika yang dikesampingkan akan menjadi pemicu percakapan yang tidak meyakinkan.
"Kau tidak sedang berpikir mungkin saja aku jarang memberinya makan, kan?"
Lelucon kuno, tapi setidaknya tawa kecil kami bisa menghapus sedikit raut khawatir pada wajah berkeriputnya. Nonya Zhang menggeleng perlahan. "Tenang saja, aku percaya kau selalu menjaganya."
"Ehemm…ada beberapa hal penting yang ingin aku sampaikan."
Nyonya Zhang mendongak dan menatap intens padaku.
"Aku harap kau bisa memberiku pernyataan yang memuaskan."
"Tidak masalah.."
Aku segera membuka tas kerja berwarna hitam di sebelahku. Mengamati berlembar berkas yang telah tersusun rapi. Sebenarnya sejak mommy kembali ke Kanada, aku jadi berpikir untuk mulai hidup lebih rapi. Kadang Yi Xing bersedia untuk membantuku merapikan pakaian atau sekedar membuatkan teh hangat sepulangku bekerja.
Bukankah itu sangat manis. Pemuda itu kini mengalami perkembangan.
Tiga buah map sudah kusodorkan padanya dan dengan sigap ia membuka satu persatu benda-benda kertas itu. Ekspresinya tidak sedikitpun menampakkan keterkejutan. Kurasa tak ada yang perlu dipertanyakan lagi. Wanita ini akan menjelaskannya tanpa aku harus meminta.
Nyonya Zhang berganti menyodorkan sesuatu padaku. Secarik kertas licin, sebuah potret foto.
"Namanya Tao, Zhang Zi Tao.."
Tao?
Bukankah Yi Xing pernah menyebutkan nama itu?
Tao…
"Tao lahir empat tahun yang lalu. Banyak yang berubah setelah itu karena dia lebih sering bersamaku dan kurang akrab dengan ibunya. Setiap kali sosok ibunya datang ia tak pernah berusaha untuk lebih dekat, bahkan terkesan sangat tertutup. Tapi aku senang karena hanya sosok itu yang bisa meredam rasa bencinya. Tao masih sangat muda untuk mengerti temperamennya yang kadang meledak-ledak."
Semuanya berputar seolah otakku tak mampu untuk menebak satupun alur cerita ini. Jujur saja aku masih sangat bingung. Apa hubungan bocah itu dengan Yi Xing? Atau mungkinkah…
"Kau tahu Yi Xing tinggal bersama ayah dan..ibu tirinya…"
Dua kata terakhir memaksaku untuk semakin keras berpikir. Jadi selama ini persepsiku sedikit meleset? Oh..kena kau!
"Apa empat tahun yang lalu itu adalah saat Yi Xing mengambil cuti kuliah setahun penuh?"
Dan akhirnya wanita ini membentuk sebuah labirin baru dalam benakku. Kuncinya berada di tanganku sekarang. Tapi aku semakin bingung, pintu-pintu menjeblak dan memaksaku untuk memilih salah satunya. Jika salah langkah maka satu kata yang menungguku di ujung sana. Mati. Semuanya akan tamat seketika.
"Tidak penuh setahun. Yi Xing kembali pada ayahnya setelah Tao lahir dan aku tidak bisa masuk kembali dalam masalah-masalah keluarga mereka setelah itu."
"Wanita itu datang…" bibirku spontan membentuk senyum rimpang menyadari keanehan keluarga mereka yang jauh dari jangkauan kata 'wajar'.
"Mereka masuk dalam hidup Yi Xing dan membuatnya hampir gila. Kau tahu, kadang wanita bejat itu memberikan hadiah-hadiah penutup setelah puas menyiksa cucuku."
Hadiah penutup?
"Bekas luka pada tubuhnya?" tanyaku penasaran.
"Hmm…"
Kami kembali terdiam. Mulutku tak bisa berhenti menganga begitu saja.
"Dan..mengenai hasil laboratorium ini…" Nyonya Zhang mengangkat map putih bersih dari rumah sakit.
"Semuanya benar bahwa Yi Xing..pernah membawa seorang lelaki kecil untuk hidup di dunia. Dan semua berawal dari kematian ibunya, lalu nafsu ayahnya yang kesepian dan lahirnya Tao ke dunia."
Ia menarik nafas yang begitu lelah seakan menceritakan 'aib' memiliki beban tersendiri baginya.
Kakiku reflex menendang batang kayu penopang meja. Ah..kami sedang berada di rumahku jadi aku tak akan segan-segan menghancurkan apapun yang menghalangi pandanganku saat ini juga.
"Oh ya..aku sangat yakin bahwa Yi Xing sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan masalah pembunuhan itu. Bukankah hidupnya selama ini sudah sangat tersiksa jadi aku mohon, tolong lindungi dia…"
Setelahnya wanita itu benar-benar sudah menghilang dari pandanganku.
_Kray_
"Hei…bukankah semuanya terasa tidak adil? Kenapa tidak dari dulu saja kita bertemu? Kenapa kau harus berakhir di tanganku? Apa Tuhan meragukan aku bisa menjadi awal yang baik dalam hidupmu?"
Tubuhnya sedikit menggeliat dan remasan tanganku tak juga bisa lepas dari salah satu telapak tangannya.
Malaikatku sedang tertidur dan aku tidak akan tega membangunkannya saat ini.
Kehidupan terkutuk tidak akan merubah masa lalu. Sekuat apapun dirinya, aku menyadari segelintir orang akan mudah terpuruk dalam kesalahan. Tentu kesalahan yang tidak terencana. Yi Xing tidak akan mudah melawan takdir. Heh! Aku sedikit lebih emosi dibuatnya. Aku membenci istilah takdir lebih dari apapun. Masalah yang datang bertubi-tubi dan pada akhirnya membuat orang-orang menjadi selembek adonan kue.
Kau tidak akan dengan mudahnya menyesuaikan diri lalu berjuang menghapus kesalahan-kesalahan yang menurutmu 'Ini tidak harus terjadi, bukankah hal ini lebih baik?'.
Tidak!
Aku menyadarinya. Perasaan bermain terlalu kuat dalam keterpurukan. Pikiran yang logis dan focus akan terhambat lalu kau akan berpikir hanya dengan hatimu, mencari kenyamanan yang sesungguhnya sudah berada jauh sebelum kau berpikir untuk mencapainya.
"Aku…"
Sekarang kesalahan itu terasa nyata.
"Aku menyayangimu…"
Sungguh…
Apakah perasaan ini juga merupakan sebuah kesalahan?
_Kray_
~TBC~
Note :
Terima kasih saya ucapkan buat semua yang sdh review. Menjadi motivasi yang besar untuk melanjutkan karya ini. Dan maaf kalau saya tidak bisa membalas satu persatu karena beberapa halangan yang mengunci pergerakan saya jadi, sekali lagi saya minta maaf dan terima kasih untuk semuanya #bow…
