Senang, senang..

Kebahagiaanku tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Lihatlah aura disekeliling ku penuh dengan background bunga-bunga bermekaran.

Sudah cukup lama aku berjalan dengan senyum mengembang sesekali aku juga meloncat-loncat kecil, sebagai ungkapan rasa bahagiaku.

Tapi, keliahatannya luapan kebahagiaan ku kali ini terlalu berlebihan. Karena aku baru saja melompat terlalu tinggi dan entah mengapa kakiku kelihatannya tidak siap menumpu berat badanku. Dan..

"Putus!" kataku lirih. 'Hah? Bagaimana ini?' batinku panik.

Seketika efek latar belakangku berubah, bunga-bunga yang sedang bermekaran tiba-tiba sekajap layu dan rontok satu persatu.


:: When In Love ::

:: Disclaimer — Masashi Kishimoto ::

:: Rated — T ::

:: Genre — Romance ::

:: Chapter Three — Sandal Putus! ::

Sakura — Sasori

Warning : Mungkin agak OOC dkk.


Sandal Putus!

Mungkin ungkapan 'Jangan berlebihan akan sesuatu' itu benar adanya. Aku terlalu bahagia akan bertemu dengan sang 'pujaan hati' hari ini. Baru saja aku keluar dari tranportasi umum dengan wajah cerah, ceria, merona dan bahagia.

Masih ingat saat—baru saja aku berjalan riang di trotoar jalan sambil bersenandung kecil dan sesekali melompat kecil. Terus tersenyum disepanjang jalan rasanya sangat mudah untuk ku lakukan hari ini. Tidak peduli asap kendaraan bermotor, polusi dan kolusi(?) yang mengganggu pencemaran. Tidak peduli dengan tatapan aneh yang pengguna jalan berikan padaku dikala mereka melihatku cengengesan tidak jelas di sepanjang jalan, atau bahkan mereka bilang aku 'Gila'. It's no problem for me dan mungkin saja aku langsung membalasnya dengan satu-satunya kalimat dari bahasa internasional yang ku hapal diluar kepala 'Thank you so much'diiringi senyuman terkembang. Haha—aku sedang bahagia tadi, hingga mungkin aku bisa saja berkata seperti itu.

Tapi sekarang keadaan berbanding terbalik. Aku hanya terduduk lesu di bangku yang ada di pinggir trotoar jalan. Entahlah, mungkin bangku ini memang dipersipkan untukku sebelumnya.

Aku sangat kesal sekarang akan kebodohanku sendiri, mungkin kalau sampai ada orang yang melirikku sebentar saja atau bahkan sampai mengatakan aku 'Gila' mereka akan merasakan 'sentuhan manis' dari sandalku yang putus ini.

Yah benar, inilah yang membuat bunga-bunga bermekaran aura-ku tadi jadi layu seketika.

Sandalku putus!

Dan aku harus bertemu dengan orang yang membuatku bisa berwajah cerah-merona seperti tadi. Oh no!

Aku bahkan berharap ini hanya mimpi, dan aku baru saja bersiap untuk berangkat menemuinya.

Hah~ sudahlah.

Aku hanya bisa merenung sekarang.

Jadi ingat semalam, entah perbuatan baik apa yang pernah ku lakukan sehingga Tuhan mengabulkan permintaaku untuk dipertemukan dengan sesosok pria imut yang dari awal telah membuat hatiku jatuh (?).

Aku tak kenal dengannya, tapi saat aku pertama bertemu dengannya di sebuah rumah makan hatiku langsung terpikat. Seperti cerita roman lainnya aku tak sengaja tertabrak—atau menabrakkan diri dengannya. Sehingga berakhirlah dengan siulan-siulan iseng baik dari temannya maupun temanku.

Pertemuan yang romantis bukan?

Tidak?

Bagiku iya.

Tak hanya sampai itu, saat aku ingin pergi ke westafel—untuk mengurangi rona merah diwajahku—aku menemukan sebuah handphone warna merah. Yang sengajaku bawa pulang. Lumayankan buat di jual.

Aku berdoa mudah-mudahan aku masih bisa bertemu dengan cowok imut itu lagi. Aku ingat sebuah hp—yang ku temukan tadi. Aku menghubungi no di hp itu menenyakan pemiliknya dan menjelasankan kenapa hp itu bisa berada di tanganku.

Setelah cukup lama aku mendapat telpon balik dari pemilik hp itu. Aku dan pemilik hp itu merncanankan pertemuan untuk mengembalikan hp-nya. Setelah menetapkan tempat dan mencirikan ciri-ciri masing-masing tentunya. Tebak! Hari ini hari keberuntunganku, pemilik hp itu adalah cowok imut yang bertabrakkan denganku tadi. Dia ingat aku, yah tidak heran karena warna rambutku ini termasuk langka. Sesekali memang aku harus bersukur punya rambut berwarna merah ajmbu cerah. Ternyata berbuat baik itu berbuah manis. Tap apalah, aku tidak begitu terlalu menyesal tidak menjualnya tadi.

Hah~ sekarang bagaimana? Bagaimana cara aku masuk ke rumah makan—tempat pertemuan yang direncanakan—itu. Sedangkan berjalan saja aku masih harus mikir berulangkali karena malu. Terkadang aku sering berpikiran konyol kenapa tidak setiap tempat seperti rumah ibadah saja sehingga tidak akan malu jika berjalan dengan keadaan nyeker, alasannya tinggal nunjuk aja ada tulisan 'Sandal / sepatu harap dilepas'. Ckck.

Berfikir sih tadi untuk membeli saja sepatu atau sandal untuk sementara di toko seberang jalan itu. Tapi disini kawasan rekreasi, untuk membeli sepasang sandal jepit (murah) saja mungkin harganya selangit apalagi sandal—yang mudah-mudahan layak dipakai berkeliling kota. Dan sekarang 'tengah bulan' yang membuat siapapun mikir untuk pengeluaran, apalagi orang sepertiku yang pergi saja naik transportasi umum.

Capek ngendumel sendiri dari tadi.

Mungkin dia udah nunggu ya?

Tapi kenapa dia tidak menghubungiku saja? Oh ya handphonenya ada padaku.

Aku makin tertunduk lesu. Aku menoleh kesamping dan sedikit kaget saat melihat beberapa meter dari tempatku duduk seseorang yang menaiki motor merah memperhatikan ku. Ternyata saking seriusnya melamun dan marah-marah sendiri aku tidak mempertikan keadaan sekitar.

Aku mengerjapkan mata beberapa kali baru sadar kalau orang yang tadi ku perhatikan mendekat kearahku dan dia adalah orang yang sedari tadi kutunggu. Aku tidak tahu harus senang atau memilihuntuk kabur sekarang juga saat ia semakin mendekatiku dan berkata dengan polosnya.

"Hmm, maaf kau Haruno Sakura?" tanyanya, aku hanya meringis malu sekaligus—tak tahu apalah namanya—pengganti jawaban 'iya' pasti wajahku kelihatan sangat aneh. Tuhan aku akan tenggelam sekarang.

"Aku Sasori, pemilik Hp." Tambahnya dan langsung duduk disebelahku setelah kami berjabatan tangan. Mukaku pasti sudah merah hampir bisa disamakan dengan rambutnya, kali ini tidak jelas penyebabnya senang atau malu.

"Aku sudah menunggumu dirumah makan." Katanya pelan, aku jadi semakin bersalah. "Aku memperhatikan setiap pengunjung yang masuk, tapi tidak menemukan seorangpun anak cewek yang berambut pink." Tambahnya seraya melihatku yang sekarang mengeluarkan wajah menyesal.

"Aku sempat jengkel juga sih, terlebih aku tidak membawa hp untuk menghubungimu. Hehe ku kira kau kabur membawa hpku." Candannya. 'lalu kenapa aku harus bersusah payah sampai seperti ini' batinku kesal.

Mungkin ia menyadari reaksiku dan menambahkan candaannya "Jadi aku keluar mengambil motor untuk pulang, dan tanpa sengaja mataku melihat kepala berwarna pink tertunduk lesu. Jadi aku mendekat dan memperhatikanmu. Untunglah kau orang yang ku tunggu."

Aku tertawa kecil mendengar candaannya. "Maaf." Ujarku lirih sambil memberikan hp miliknya. Ada perasaan tak enak dan bersalah merayap padaku. Dia menyambutnya sambil menggumamkan terimakasih. "Lalu apa alasanmu tidak datang ke tempat perjanjian?" tanyanya sopan tak ada nada mengintimidasi didalamnya.

Aku tambah merunduk lesu tak berani menatap cowok imut yang membuatku senang setengah mati seperti ini. Aku hanya mengarahkan jari telunjukku kebawah menunjuk kearah kakiku. Aku yakin Sasori mengikuti arah jari dan mataku yang sekarang memandang kaki kananku yang memakai sandal dan kaki kiriku yang bertelanjang(?) tepat dibawah kaki kiri terlihat sebuah sandal dengan tali yang putus telah tewas tergeletak tidak berdaya.

Dia tertawa kecil, sembari mengangguk anggukkan kepala tanda mengerti. "Yah, akupun mungkin akan seperti itu jika sandalku putus ya. Haha. Untung aku selalu memakai sepatu olah raga kemana-mana. Haha. Kau harus menceritakan kepadaku bagaimana kronologis ceritanya? Haha." Tanggapnya disela tawa kecilnya.

"Lain kali saja, aku sangat malu sekarang ini. Aku harus memikirkan bagaimana jalannya supaya aku bisa pulang dengan selamat tanpa disangka 'Gila'." Jawabku sedih, mungkin mukaku masih memerah bayangkan saja kau ditertawai oleh cowok yang kau kagumi.

Sesaat ia menghentikan tawanya dan memandangku. "Hm, gimana kalau ku antar saja. Berhubung aku juga tidak bawa sepatu lebih, tapi aku bisa meminjamkanmu helmku agar kau bisa menutupi wajahmu agar tidak malu. Yah, sekalian sebagai ucapan terimakasihku." Tawarnya.

"Iya!" kataku cepat—terlalu cepat malah hingga membuat Sasori mengernyit sebentar sambil menahan senyum. Entahlah karena terlalu senang atau lega. Aku tidak peduli yang penting "Hah~ akhirnya aku bisa pulang." Kataku lega. "Terimakasih Sasori-san." Kataku membungkuk dalam-dalam.

"Tidak perlu." Tolaknya cepat. "Haha, ngomong-ngomong kau harus menceritakan pengalaman tadi ya padaku." Tuntutnya sambil tertawa jahil.

"Iya, lain kali Sasori-san." Janjiku.

"Oke, kita atur pertemuan selanjutnya, tadinya aku ingin mentraktirmu makan sebagai ungkapan terima kasih. Baguslah akan terwujud. Kapan kau ada waktu Sakura-chan?"

"Hah!" hanya itu ekspresi kaget yang aku tunjukkan sebelum akhirnya aku duduk di belakang motor merah yang melaju cepat.


Terimakasih untuk sandalku

Saat kau putus,

Bagiku

Memalukan dan menghancurkan harapan kecil dihatiku

Namun ini berubah menjadi anugrah

Karena sandal yang putus, aku jadi bisa bertemu lagi dengan cowok imut

Karena sandal yang putus, aku ditolong oleh cowok imut

Karena sandal yang putus, aku dibonceng oleh cowok imut dan

Karena sandal yang putus pula, aku menjadi dekat dengan Akasuna no Sasori

...

Bagaimana kalau saat itu sandalku tidak putus?


Haha,,

Geje.. ck, -_-

Ngomongin soal sandal yang putus! Saya juga pernah ngalamin. Pas mau berangkat ke rumah temen sandalku tiba-tiba putus seketika (ga ada angin ga ada ujan). Mau balik? Udah terlanjur jauh dari rumah gimana jalannya?. Mau diterusin apalagi ga mungkinkan naik angkot dengan sandal yang putus. Ckck, sungguh elit (ekonomi sulit). Mana rame orang lagi. Malu! Malu banget. Ampe ada bapak-bapak yang dagang dipinggir jalan nawarin selotip ke saya buat tu sandal. Sungguh pedagang yang budiman. Tapi untunglah toko kelontong dideket jalan ga jauh-jauh amat. Berbekal menyeret kaki akhirnya sampai dengan membeli sendal jepit swal*w berwarna orange yang harganya terjangkau dengan kantong saya. Dan berakhirlah perjalanan saya kembali kerumah dengan memakai sandal baru. Emang hari sialnya kali ya?#cerita ga penting.. -_-

Sesi curcol n ngomong ga penting selesai hikmah yang bisa di ambil adalah 'periksalah sandalmu dengan teliti dahulu sebelum berpergian'.

Chapter ini lebih panjang ya? -_- niatnya kan mau pendek. Ya sudahlah..

saya cuma bahagia saja,, netbook saya dah sembuh dari penyakit kumatnya,, Hore.. hore..

Terimakasih sudah membaca ^^

buat yang review kemarin,, terimakasih banyak ^^..

nta-unfinished, nanana Nara, Haza ShiRaifu, Rey619, Amutia Blossom Saver, haru, Yuuki Aika UcHiHa, Raquel authoramatir ...

n buat yang request,, Sabar ya.. InsyaAllah bisa saya bikin,, nah see you.. ^^

Minta tanggapannya agar lebih baik,, ^^

.

.

Violet7orange