Title :
I'm Sorry, I Love You
(kayaknya judulnya udah pas lah ya? Males mau ganti-ganti judul lagi*readers:PEMALAS!*)
Pairing :
SasuNaru, KibaNaru, IruNaru, SasuSaku*terpaksa*.. dll
Genre :
Romance, Hurt/Comfort, ..
(mudah-mudahan bener ya?)
Disclaimer :
Masashi Kishimoto-sensei, boleh nggak aku minta 'Naruto'-mu? Please?*muka melas**digampar*
Rated :
T(gag jelas gitu*smirk*)
Warning :
Boys Love, Shounen-ai, Jelek, Rusak, Hancur, errhhmm ada sedikit chara bashing kyknya(bukan sedikit sih.. ya lumayan banyak lah), dll dsb dst..
Nggak SUKA? Ya, NGGAK USAH DI BACA dong!
(males mau pake bahasa inggris, nanti ada yang nggak ngerti pula*digepengin*)
Adakah yang masih mau membaca Fic yang terlalu banyak kesalahan ini?..
He he he..
Happy reading minna..
Sekali lagi, disini Naru bukan seorang tunarungu, melainkan dia seorang tunawicara. m(- -)m.. Maaf ya minna-san..
Chapter 3 ini banyak berisi tentang masa lalu Naru.
Chapter 3.
Normal POV.
Tik tik..
Jam dinding dikamar Naruto berbunyi dua kali. Sudah jam dua pagi ternyata, Naruto menoleh ke arah jam dinding dikamarnya yang menempel di tembok oren kamarnya. Setelah melihat jarum jam, dia kembali dengan aktivitas awalnya, menikmati angin subuh hari. Hawa dingin dari jendela yang dibukanya memenuhi kamarnya yang berukuran 3x4 itu dan kembali mendinginkan hatinya yang sudah dingin dan mungkin sebentar lagi akan beku. Malam ini dia mimpi buruk lagi.
Entah sudah yang berapa kalinya Naruto mendenguskan nafas panjangnya, kepalanya ikut bergerak saat dia merasakan angin subuh hari yang menyentuh dan mengacak-acak rambut pirangnya perlahan. Padahal sekarang musim hujan, angin subuh yang bercampur dengan bekas hujan tadi sore masih bergantung di sekitaran. Namun masih tak mengurungkan niatan Naruto untuk tidak menikmati angin subuh yang bisa saja membuatnya sakit. Naruto terus mengedarkan pandangannya dengan lampu-lampu jalanan yang berkelap-kelip tiada henti walaupun sudah subuh, akan tetapi tidak mengurangi jumlah pengguna jalan yang berhilir-mudik, kesana-kemari. Kemungkinan orang-orang dari PLN masih belum bisa membetulkan lampu jalanan itu, padahal itu kan bisa menggangu penglihatan pengguna jalanan yang sedang berlalu lalang. Bisa saja malah mengakibatkan kecelakaan dan merenggut nyawa banyak orang, seperti halnya merenggut hal yang sangat berharga dihidup Naruto. Naruto merengut ketika potongan mimpi tadi malam membayangi pikirannya. Sakit. Amat menyakitkan.
Naruto tetap memandangi lampu jalanan yang tadinya berkelap-kelip, sekarang telah mati total.
"Sekarang lebih baik!" ucap Naruto, wajahnya datar tak menunjukkan ekspresi. Berbeda dengan ekspresi yang ditunjukkannya disekolah, eksperesi riang dan selalu tersenyum seakan tak ada beban yang ditanggungnya. Sekarang dia menunjukkan ekspresi berbeda. Berbeda! Sangat berbeda.
Tok tok tok.
Cklek!
Pintu kamar Naruto terbuka, dari balik pintu ber-cat oren Naruto muncul seseorang yang dikenalnya. Naruto menoleh dan langsung tersenyum sumringah.
"Iruka?" teriaknya dan menghamburkan dirinya dalam pelukan Iruka.
"Na.. Naru.. apa yang kau lakukan? Lepaskan!" teriak Iruka pelan, namun bukannya dilepaskan Naruto, dia malah dipeluk erat oleh bocah rubah itu.
"Nggak mau!" jawab Naruto, dia masih saja membenamkan kepalanya didada Iruka. Untung saja dia agak pendek dari Iruka, jadi dia bisa sering-sering membenamkankan kepalanya didada Iruka yang hangat.
Iruka menghela nafasnya panjang.
"Kau membuka jendela lagi, heh? Sekarang musim hujan, bagaimana kalau sakit?" tanya Iruka garang.
Naruto diam, dia menggeleng-geleng. Iruka terdiam, dia mengangkat telapak tangan kanannya dan meletakkannya di atas kepala Naruto, lalu mengelusnya perlahan.
"Ada apa Naru? Kau mimpi buruk lagi?" tanya Iruka pelan. Iruka bisa merasakan tubuh Naruto yang menegang saat dia mengeluarkan pertanyaan tadi.
Naruto menggeleng lagi dan semakin memeluk Iruka erat.
Iruka terus mengelus lembut kepala Naruto, berharap dia bisa memberikan sedikit kekuatan dan kehangatan pada bocah di pelukannya yang sudah dianggapnya sebagai anak. Iruka menengadah dan memandang langit-langit kamar Naruto. Putih. Kosong. Sekosong hati Naruto sekarang.
Iruks mendesah saat ingatannya kembali ke 8 tahun yang lalu. Saat usia Naruto 8 tahun. 8 tahun yang penuh dengan kesakitan mendalam yang menggerogoti tubuh Naruto satu per satu.
Flashback mode : ON.
Iruka's POV.
Trit trit trit..
Aku melangkah malas-malasan menuju ruang tengah untuk mengangkat telepon rumahku yang dari tadi berisik. Aku mendengus, padahal sekarang hari minggu, siapa orang kurang ajar yang menggangu tidur pagiku? Siap-siap saja, bakalan ku damprat dia!
"Halo! Siapa sih ini?" teriakku begitu aku mengangkat gagang telepon.
Suara diseberang sana tampak seperti orang menahan tawa. Aku mendengus dan ingin berteriak lagi, tapi sebelum aku sempat berteriak lagi, orang diseberang sana sudah duluan bicara.
"Ini aku Kakashi, Iruka-koi!" jawab orang diseberang sana dengan suara yang menggoda. Aku tersedak ludahku sendiri, rasanya hari ini adalah hari sial buatku.
"Ka-Kakashi?" ucapku pelan.
Aku bisa mendengar orang diseberang sana_Kakashi_ tertawa tertahan, wajahku memerah membayangkannya. Kakashi, orang yang sudah menjadi, ehem.. pacarku selama dua tahun. Iya! Memang kami adalah pasangan yang lain daripada yang lain, namun hal itu tak menyurutkan kami berdua untuk menghancurkan hubungan yang sudah lama berlangsung ini. Untung saja baru-baru ini pemerintahan Konoha sudah membuat undang-undang tentang hak hidup, yaitu diperbolehkannya berhubungan atau berpasangan dengan sesama jenis. Dan itu berarti takkan ada lagi orang yang bisa mencemooh kami berdua.
"Iruka, kok diam?" tanya Kakashi dengan nada khawatir yang membuyarkan lamunanku.
"Eh.. Ada apa kau meneleponku di hari minggu begini?" tanyaku.
Kakashi menghela nafas.
"Bisakah sekarang juga kau ke kantor? Ada kasus baru!" jawabnya. Rasanya ada batu seberat 1 ton yang jatuh tepat diatas kepalaku. Kasus? Lagi? Padahal ini kan hari minggu! Bukankah hari minggu adalah hari dimana orang bebas melakukan apa aja? Bukannya malah menyelidiki kasus!
Seorang polisi penyelidik sepertiku ini juga butuh istirahat kan? Bekerja selama enam hari penuh sudah cukup membuatku kurang tidur dan kelelahan, ditambah lagi sekarang aku harus datang ke kantor polisi menyelidiki kasus. Rasanya benar-benar membuatku harus mengutuki orang-orang yang dengan seenaknya berbuat onar diluar sana!
"Kasus apa lagi?" tanyaku ketus.
"Penganiayaan anak." Jawab Kakashi datar.
Aku tertegun. Penganiayaan? Anak?
Aku menggeram. Siapa sih yang dengan teganya menganiaya anak kecil? Dasar tak berperasaan.
"Baik! Aku datang! Tunggu aku dikantor!" lalu aku mematikan sambungan telepon tanpa terlebih dahulu mendengar Kakashi yang ingin berbicara sesuatu. Pikiranku sudah penuh dengan kasus baruku ini. Dengan tergesa-gesa aku menaiki tangga kamar dan masuk kedalam kamar, tanpa mencuci muka maupun menggosok gigi, aku langsung mengenakan pakaian Tim Penyelidikku.
…
Mataku mencari-cari orang yang bernama Kakashi, aku langsung berjalan secepat mungkin dan menghampirinya saat menemukan wajahnya diantara kerumunan orang yang bergerombolan serta Tim Penyelidk yang berusaha untuk mengusir gerombolan manusia tersebut.
Aku semakin cepat melangkah hingga setengah berlari, setelah melihat Kakashi yang berdiri, aku menepuk pundaknya pelan. Dia menoleh.
"Kakashi! Apa yang terjadi? Mana anak itu?" tanyaku cepat.
"Sekarang dia sedang divisum oleh Dokter Nara, aku disini untuk mengumpulkan bukti-bukti tentang kasus ini! Dan.. aku sedang berusaha untuk mengusir orang-orang ini!" jawabnya.
Aku mengangguk mengerti, lalu berdiri disampingnya. Dia menatap wajahku.
"Kau pasti ingin melihat anak itu!" ucapnya. Aku menoleh padanya dan mengangguk pelan. Aku bisa merasakan tangannya menggenggam tanganku erat.
"Ayo ikut aku!" ucapnya, dan membawaku ke kantor Dokter Nara.
Sesampainya di kantor Dokter Nara(a.k.a Shikamaru), aku langsung menemuinya dikantor pribadinya.
"Shikamaru!" teriakku dari luar dan membuka pintu ruang kerjanya dengan paksa, aku terdiam saat melihatnya tidur dengan tangan yang ditangkupkan diatas meja dan kepala yang disembunyikan diantara tangannya.
"Hhhh.." aku melengos. Lagi-lagi dia seperti itu, walau keadaan segenting apapun dia pasti akan mencuri-curi waktu untuk tidur.
Setelah berdiri didepan mejanya, aku langsung menggebrak mejanya dengan keras.
Bruakk! Suara gebrakan meja memenuhi ruangan sang Dokter pemalas. Aku menunggu sekitar semenit agar Dokter pemalas itu bangun.
"Huaahhmm.." erang Dokter itu setelah bagun dari tidurnya, tampak Kakashi mengeleng-gelengkan kepalanya. Aku menatap wajah Dokter itu garang.
"Ada apa ke sini Iruka?" tanyanya padaku dengan nada suara yang malas-malasan.
"Mana? Mana anak itu?" jawabku dengan psebuah pertanyaan.
"Sedang dirawat oleh suster yang bertugas di ruang utama." Jawabnya datar. Ruang utama? Segitu parahkah luka yang dideritanya akibat penganiayaan itu? Aku keluar dari ruangan Shika si pemalas itu dan langsung menuju ke ruang utama. Ruang yang berisikan orang-orang yang dianiaya dengan parah sampai tidak sadarkan diri dari shock setelah aniaya yang menimpanya.
Aku memandang dengan miris anak yang terbaring lemah dari balik ruangan kaca ini. Bocah laki-laki berambut pirang dengan wajah yang sangat-sangat pucat, rambut pirangnya dibiarkan tumbuh panjang sampai ke bahu hingga terlihat kusam, wajah kecoklatannya dihiasi bekas goresan luka yang memanjang sebanyak tiga buah disetiap sisinya. Luka-luka lebam diseluruh tubuhnya yang belum menghilang, bekas sayatan dan bekas pukulan benda tumpul bercampur menjadi satu dalam tubuh anak itu. Segala macam jenis selang, dari yang besar sampai yang kecil bergelayutan pada tubuh rapuh bocah itu. Hanya alat bantu pernafasan yang ber-uap dan suara mesin pendeteksi jantung yang berbunyi samar sajalah yang mampu menandakan bahwa dia masih hidup. Tubuhnya masih hidup, bukan hatinya. Masih hidup. Dan setidaknya jika dia sembuh nanti, dia masih bisa merasakan nikmatnya angin pagi hari.
Aku menghela nafas panjang. Disampingku sudah berdiri Kakashi dan Shikamaru, aku bisa merasakan mereka memandangku dengan wajah sendu. Mungkin mereka juga bisa merasakan sakit yang diderita bocah yang tertidur disana.
"Apa yang terjadi Shika? Berdasarkan hasil visum-mu?" tanyaku. Kadang Shika juga bisa menjadi berguna disaat-saat seperti ini. Yah, berguna sebagai Dokter yang bertanggung jawab terhadap keselamatan pasiennya. Aku akan berterima kasih nanti, karena dia sudah menyelamatkan nyawa seorang bocah.
Dia menguap lagi, lalu bicara.
"Patah tulang disekitar tulang rusuk akibat dipukul dan adanya perlawanan darinya. Obat bius yang berlebihan pada lambungnya. Pukulan benda tumpul disekujur tubuhnya. Hampir seminggu tidak mendapat asupan makanan. Serta.." Shika menghentikan ucapannya.
"Serta apa Shika?" tanyaku tak sabar pada Shika. Dia menghela nafas dan melanjutkan lagi.
"Adanya pemaksaan dalam melakukan hubungan seksual, juga kekerasan seksual yang mengakibatkan bocah itu shock dan kehilangan kesadarannya."
Aku tertegun. Pemaksaan? Kekerasan? Berarti pemerkosaan! Aku menggeram. Tega-teganya orang tak beradab itu melakukan hubungan seksual pada seorang bocah belia yang perjalanan hidupnya masih panjang? Fu**.
"Jadi.. kapan dia akan bagun?" tanyaku lagi. Kakashi memegang erat tanganku yang gemetaran.
"Entahlah! Tergantung dari kemauan bocah itu sendiri." Jawab Shika. Jawaban yang membuat hatiku kembali mencelos. Entahlah! Kapan 'entahlah' itu akan terjadi? Lalu dia meninggalkan aku dan Kakashi yang masih berdiri mematung di ruangan kaca tempat bocah itu dirawat.
"Tenanglah, dia pasti sadar!" ucap Kakashi menenangkanku. Aku mendekat padanya dan menyandarkan kepalaku didadanya yang bidang. Untuk saat ini aku merasa kalau aku sudah menjadi seorang polisi penyelidik yang tidak becus, karena tidak bisa menyelamatkan seorang bocah yang sedang terpuruk. Polisi macam apa aku?
"Sudahlah! Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ada aku yang harusnya kau salahkan karena aku juga tidak bisa menyelamatkan bocah itu!" hibur Kakashi, yang dalam sekejap bisa membaca suara hatiku.
Aku mengangguk lemah dan semakin merapatkan kepalaku pada dadanya, dia mengelus rambutku pelan entah untuk yang keberapa kalinya kalau aku sedang merasa bersalah. Terima kasih Kakashi.
…
Akhirnya setelah hampir sebulan bocah itu tak sadarkan diri, dia membuka matanya dari tidur panjangnya.
Pagi itu seperti biasa aku membwa ember ingin memandikannya, sudah hampir sebulan aku dan Kakashi sepulang kerja menemani dan memandikan bocah pirang itu, berharap dengan sentuhan yang aku dan Kakashi berikan bisa membangunkannya.
Aku memeras pelan handuk yang akan kugunakan untuk memandikannya. Pertama-tama aku mulai memandikannya dari daerah kepala, aku mengusapkan handuk putih kecil di wajahnya dengan pelan-pelan agar tidak membuatnya merasakan sakit. Saat aku hendak mengelap kedua pipinya aku melihat sesuatu yang bergerak di balik masker untuk pernafasannya. Aku tertegun dan melihat lebih jelas lagi. Aku kaget ketika melihat bibirnya bergerak pelan, sangat pelan. Aku sumringah dan langsug berteriak memanggil Kakashi dan Shikamaru.
"Kaka.. Shika! Kemari!" teriakku dari dalam ruangan.
…
Shika tampak sedang melakukan pengecekan terhadap bocah itu, setelah kira-kira 30 menit melakukan pengecekan, dia melepaskan hands scoonnya dan memandang ke arah aku dan Kakashi.
"Beruntung dia mau sadar dari koma akibat shocknya. Sekarang dia sedang tidur untuk istirahat mengumpulkan tenaga. Aku harap kalian tak mengganggu tidurnya." Ucap Shika, setiap kata yang diucapkannya menunjukkan ketegasannya sebagai Dokter Profesional.
Aku mengangguk bersamaan dengan Kakashi, Shika langsung pergi dari sini dengan menguap dulu sebelumnya. Aku menghela nafas lega dan memandang bocah itu sekali lagi sebelum pergi dari ruang kaca ini. Tentunya bersama kekasihku, Kakashi.
…
Sekitar jam delapan malam, akhirnya bocah itu membuka matanya sepenuhnya. Aku tertegun dan langsung terpesona ketika melihat warna mata tegasnya, bola mata yang dikelilingi dengan iris berwarna biru laut. Seakan-akan dia yang memegang kendali atas semua laut. Indah. Hanya itu komentarku. Aku tersenyum riang saat yang pertama kali dilihatnya adalah aku, aku bisa melihat pantulan diriku yang sedang berdiri dari mata biru lautnya.
"Sudah sadar? Bagaimana keadaanmu?" tanyaku padanya sambil menunjukkan senyum teramahku, tanganku ku arahkan untuk mengelus rambut pirangnya yang acak-acakan. Tapi saat aku baru saja mau menyentuhnya, dia langsung menjauhkan tubuhnya dariku, tubuhnya gemetar, dan air mata menggenang di pelupuk matanya. Dia tampak menggerakkan bibirnya untuk mengatakan sesuatu.
Aku panik, dan berusaha menenangkannya dengan memegang bahunya. Tapi bocah itu malah semakin menggetar dan sekarang air matanya malah tumpah ruah. Aku segera melepaskan peganganku dari bahunya.
"Kenapa? Ada apa? Aku tak akan menyakitimu!" ucapku lembut. Masih saja tak bisa mengurangi sedikitpun gemetarannya. Bibirnya yang bergetar bergerak lagi. Apa? Apa yang ingin dikatakannya?
Aku berteriak memanggil Shika, tidak memanggil Kakashi karena dia sedang menyelidiki kasus terbaru. Terbunuhnya bangsawan kaya, Namikaze Minato.
Shika menghampiriku dengan wajah mengantuknya, lalu berdiri disamping bocah itu, sepertinya dia makin ketakutan dengan datangnya Shika. Shika mencoba mengulurkan tangannya dan berusaha memegang pundaknya, namun masih seperti tadi, bocah itu malah menjauh dan gemetaran. Bibirnya terus digerakkan. Shika menghentikan gerakan tangannya ditengah jalan, dia menyipitkan matanya lalu menghela nafas dan menguap.
"Dia trauma dengan masa lalu. Sepertinya dia masih mengingat kejadian masa lalunya yang pahit. Dia tidak ingin dipegang karena takut disakiti lagi. Sebaiknya kita mendekatinya perlahan-lahan saja. Dan sepertinya dia… Sepertinya dia tidak bisa bicara. Tunawicara." Ucap Shika datar. Aku terkejut. Tunawicara? Bagaimana bisa?
"Apa karena trauma, makanya dia tidak bisa bicara?" tanyaku.
Shika menggeleng. "Bawaan lahir."
"Jadi bagaimana menyembuhkan traumanya shika?"
"Hanya ada satu cara. Hanya dengan cara mendekatinya perlahan-lahan dan mencoba membuka hatinya agar bisa menerima orang luar. Pendekatan adalah cara ampuh untuk mengobati trauma. Cobalah untuk tidak mengingatkannya dengan masa lalunya, kalau bisa kau harus menghapusnya dari ingatannya. Dan juga, kau harus banyak belajar bahasa bibir untuk bisa mengerti apa yang dikatakan dan dirasakannya. Karena sepertinya dia tidak mengerti bahasa tubuh."
Aku mengangguk. Bahasa bibir, eh? Baiklah, kurasa aku bisa mempelajarinya. Shika memegang bahuku.
"Aku yakin kau bisa." Ucapnya menyemangatiku.
"Terima kasih, Shika." Lalu Shika keluar dari ruangan kaca ini, meninggalkan aku dan bocah ini berdua.
Aku mendekati bocah itu lagi, dan duduk disamping kasurnya. Aku tersenyum lembut kearahnya, dia diam saja. Namun aku tau dia juga sedang berusaha untuk mengurangi gemetaran tubuhnya.
"Hai. Aku Iruka, orang yang akan menemanimu selama disini. Salam kenal." Ucapku dan menyodorkan tanganku. Dia diam lagi, gemetaran tubuhnya sudah mulai berkurang. Uluran tanganku di acuhkannya. Aku tersenyum dan menurunkan tanganku yang tak dijabatnya.
"Namamu siapa?" tanyaku memulai percakapan lagi. Dia masih diam. "Jangan takut! Aku tak akan menyakitimu. Sekarang bantu aku untuk menyebutkan namamu, agar aku bisa tau memanggilmu siapa." Ucapku.
Dia tampak ragu-ragu mau menyebutkan namanya, aku terus memperhatikan gerak bibirnya, siapa tau dia mau memberitahu namanya. Bergerak! Dia menggerakkan bibirnya, dengan wajah yang ketakutan. Aku tersenyum dan berkonsentrasi lagi pada bibirnya, namun aku masih belum bisa menangkap apa yang dia ucapkan.
"Maaf. Bisa kau ulangi?" tanyaku. Ternyata membaca omongan orang dari gerakan bibirnya saja sangat susah dan membutuhkan keahlian. Benar kata Shika, tampaknya aku harus belajar lagi. Huufftt.
…
Beberapa minggu ini adalah minggu yang panjang, aku harus belajar dan berlatih keras dengan berbagai macam tunawicara yang ada dikota Konoha ini. Pekerjaanku sudah terbengkalai juga selama aku mengadakan pelatihan, jadi aku mengambil cuti. Entah cuti untuk berapa lama, untunglah Kakashi adalah ketua dari tim penyelidik, aku jadi tertolong. Walaupun sebenarnya cuti mendadak itu tidak diperbolehkan dalam tim, namun mau bagaimana lagi? Rasanya aku tida bisa meninggalkan bocah pirang itu walau hanya sehari, bagiku melihatnya menjadi sehat sudah menjadi kepuasan tersendiri bagiku.
Sudah dua minggu aku berlatih bahasa bibir, ternyata susah. Susah sekali. Terkadang aku sampai putus asa karena tidak bisa mengerti apa yang dikatakan mereka. Aku sempat bingung, Shika yang pemalas saja bisa mengerti apa yang mereka ucapkan, aku sempat bertanya apa dia pernah ikut kursus? Dia menjawab tidak, seakan-akan dia memang sudah pandai dari kecil. Tapi untunglah akhirnya aku bisa mengerti juga sedikit-sedikit apa yang mereka ucapkan, aku menyengir saat pertama kalinya aku dapat mengerti apa yang di ucapkan oleh seorang anak kecil yang juga tunawicara. Rasa bahagia yang menyelimutiku tidak pernah berakhir sampai disitu saja, karena sehabis hari itu, aku selalu bisa mengerti apa yang diucapkan oleh tunawicara lainnya.
Sperti biasa, aku datang lagi keruang isolasi tempat bocah pirang itu di rawat, aku terus tersenyum berharap kali ini aku dapat mengerti apa yang dia akan katakan. Setiap langkah kecilku dipenuhi dengan rasa penasaran yang tinggi dan rasa kangen untuk segera bertemu dengannya. Aku tersenyum semakin lebar saat ruang isolasi itu hanya tinggal beberapa lanhkah lagi di depanku. Aku melangkah lebih cepat.
"Ohayou.." sapaku setelah membuka pintu kaca yang menutupi langkahku. Aku melihatnya sedang duduk bersandar diatas tempat tidur, wajahnya mengarah kearahku. Aku tersenyum. Bocah itu sudah lebih sehat sekarang, bekas-bekas luka ditubuhnya sudah menghilang, rambutnya yang panjang dipotong oleh Kakashi-walaupun bocah itu sempat memberontak dan menangis dengan tubuh yang gemetaran, walau dengan susah payah, tapi berhasil- seminggu yang lalu membuatnya tampak lebih bersih. Potongan rambutnya pas dipadukan dengan bentuk wajahnya, hingga membuatnya tampak manis. Selang-selang dan alat bantu pernafasan yang dulu bergelayutan di tubuhnya kini sudah tidak ada lagi, hanya tersisa selang infus saja.
Aku melangkah mendekat kearahnya.
"Ohayou." Sapaku lagi, berharap kali ini dia mau membalasnya.
Dia tidak menunjukkan ekspresi apapun.
"Aku datang lagi untuk memandikanmu. Tapi sebelumnya aku.." ucapanku terhenti saat aku melihat bibirnya yang bergerak. Aku terkesiap saat membaca apa yang coba di ucapkannya.
"O-…Ohayou.. I-ru..—ka ..-san."
Mataku membulat saat aku membacanya. Apa yang ku-eja salah? Aku mendekatinya, mataku berkaca-kaca.
"Kau.. Kau barusan memanggil namaku?" tanyaku dengan suara parau, berusaha menyembunyikan kegugupanku.
Dia mengangguk malu-malu, aku bisa melihat wajahya di lapisi oleh semburat merah tipis. Aku terdiam, tak bisa mengucapkan apa-apa.
"A-..Aku.. Na-..ru-to.. Sa-lam.. ke-ke-nal.." ucapnya terbata-bata lagi. Tak kusadari air mataku sudah mengaliri pipiku, aku tersenyum bahagia. Dengan cepat aku merentangkan kedua tanganku dan membawanya kedalam pelukanku.
"Ohayou-.. Ohayou Naruto.." ucapku samar, tak bisa menyembunyikan nada bahagia dalam setiap kata yang kuucapkan. Aku semakin mengeratkan pelukanku. Awalnya Naruto tegang karena langsung kupeluk seperti ini, tapi setelah beberapa menit berlalu, akhirnya dia mengalungkan tangannya di punggungku. Aku bisa merasakan bagian baju depanku menjadi basah, aku tau dia menangis bahagia. Untuk kali ini saja, aku merasa menjadi orang yang paling bahagia.
"Aku tidak akan meninggalkanmu Naru—" ucapku pelan. Aku yakin dia mendengarnya, karena dia langsung mengangguk dan semakin menenggelamkan kepalanya di dadaku.
Flashback mode : OFF.
Still Iruka's POV.
Dan sampai hari ini dan hari kedepannya pun aku tidak akan melupakan janjiku pada bocah yang sekarang ada didekapanku. Tidak. Tidak akan pernah.
"Jadi, kau mau aku temani tidur?" tanyaku pada Naruto yang sepertinya sudah mulai mengantuk.
"Iya Iruka-, aku.."
"Sssstttt. Pasti. Pasti kutemani." Ucapku memotong ucapannya. Naruto tersenyum dan segera menuju ranjangnya, dia menyisakan sedikit bagian dari kasurnya untuk kutiduri nanti.
Aku menggeleng, lalu segera berbaring menyusulnya. Aku menyeletuk pelan. "Apa mau kunyanyikan juga?"
Aku bisa melihat wajahnya yang memerah sebelum dia menutup seluruh badannya dengan selimut. Aku tertawa kecil dan segera memanjatkan doa untuknya dalam tawaku.
'Ya, Tuhan. Semoga kebahagiaannya tidak sampai di sini saja, tidak sampai besok, tidak sampai bulan depan, tidak sampai tahun depan.. Tapi sampai dia menutup matanya. Halleluyah. Amin'
…
Naruto's POV.
Bunyi jam weker yang ada disamping kasurku membuatku terbangun dari tidur singkatku, aku menoleh kearah jam weker yang bising itu dan segera mematikannya. Sudah jam 8 pagi rupanya. Aku menoleh kerah kanan dikasurku, masih ada Iruka disana yang sedang tertidur pulas. Aku tersenyum melihatnya ada disampingku, menemaniku tidur sampai pagi ini. Aku terus menatap wajah pulasnya yang sedang tidur, rasa nyaman mengaliri tubuhku, semburat merah menghiasi wajahku saat kulihat bibirnya yang mengeluarkan nafas teratur terbuka sedikit. Pasti Kakashi sudah sering mengecup dan merasakan manisnya bibir Iruka, rasa cemburu langsung datang begitu saja mengaliri tubuhku. Aku tak ingin kalau nanti Iruka akan dibawa pergi oleh Kakashi mesum itu, aku tak mau ditinggal oleh Iruka.
Dengan perlahan aku menggerakkan tanganku yang agak gemetar mendekati bibirnya, mengelus ujung bibirnya sedikit. Entah apa yang sudah aku pikirkan sekarang, tiba-tiba wajahku sudah mendekati wajahnya dan dengan pelan menempelkan bibirku pada bibirnya. Hanya mengecupnya tanpa melumat. Lama. Mencoba menyalurkan rasa sayangku padanya. Sekitar 5 menit aku menciumnya, lalu aku melepaskannya, untung dia tidak bangun. Aku mendekati lagi telinganya dan berbisik sesuatu yang tidak mungkin didengarnya.
"Maaf, aku mencintaimu Iruka."
Normal POV.
Naruto melangkahkan kaki jenjangnya pada jalana yang masih lembab, wajahnya tersenyum berharap semua orang juga bisa tersenyum gembira dengan melihat senyumannya. Pagi ini dia berencana hendak pergi ke taman yang dekat dengan rumahnya setelah sebelumnya berpamitan dulu dengan Iruka. Matanya membulat saat melihat ada seseorang yang dikenalnya sedang berdiri di depan pagar taman.
"Kiba?" ucapnya, dan segera mendekat kearah Kiba.
Kiba tersenyum pada Naruto dan melambaikan tangannya. "Ohayou Naru!". Teriaknya.
Naruto balas tersenyum. "Ohayou. Sedang apa di sini, Kiba?" tanya Naruto yang sudah berdiri di depan Kiba.
Kiba menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Emh. Tadi aku menelepon kerumahmu untuk menanyakan apa kau ada di rumah atau tidak, tapi yang mengangkatnya Iruka-san, dia bilang kau sedang dalam perjalanan menuju taman ini. Makanya aku menyusulmu!" jelas Kiba.
Naruto mengangguk mengerti. "Ada apa mencariku?" tanyanya lagi.
Kiba tampak salah tingkah, dia menggaruk kepalanya lagi dan tersenyum grogi.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu kok, Naru! Abis aku kangen." Jawab Kiba. Semburat merah yang menghiasi wajahnya membuat Naruto juga menjadi salah tingkah.
"Begitu?" ucap Naruto.
Kiba menggenggam tangan Naruto dan menyeretnya. "Ayo, aku ada tempat bagus." Ucap Kiba sambil membawa Naruto pergi dari depan gerbang.
Naruto hanya pasrah, membiarkan Kiba menarik tangannya.
Kiba membawa Naruto ketempat yang sepi, tempat yang dihiasi dengan berbagai macam pohon besar yang beraneka ragam. Tempat yang sangat teduh, dedaunan yang segar akibat hujan semalam, juga rerumputan yang lembab menambah kesan indah pada tempat yang dipijak oleh Kiba dan Naruto.
"Bagaimana? Indah kan, Naru?" tanya Kiba dan menoleh kearah Naruto. Kiba tersenyum saat di lihatnya Naruto yang masih kagum dengan pemandangan yang ada didepannya.
Naruto mengangguk.
"Indah. Sangat indah." Seindah Iruka, sambungnya dalam hatinya.
Kiba menyengir. "Tempat ini baru kutunjukkan pada Naru saja loh!" tambahnya.
Naruto menoleh kearah Kiba. "Benarkah? Terima kasih Kiba," jawab Naruto sambil menyengir lebar. Matanya menyipit akibat menyengir terlalu lebar.
Kiba menghirup udara segar disekitarnya, mencoba mengumpulkan 'sesuatu' untuk dikatakan pada Naruto. Setelah cukup, Kiba menghembuskannya lagi.
"Emh, Naru. Ada yang ingin kukatakan padamu." Ucap Kiba tanpa memandang Naruto. Naruto menoleh dan melihat wajah Kiba yang berubah menjadi begitu serius.
"Apa?"
Kiba menghembuskan nafas panjangnya.
"Sebenarnya aku. Suki dayo, Naru!" ucap Kiba tegas, kini dia melihat Naru yang juga melihatnya dengan wajah yang lebih serius.
Naruto tercekat, Kiba menyukainya? Apa benar?
"A-Ano Kiba, apa kau yakin?" tanya Naru gugup.
Kiba mengangguk mantap. "Aku yakin, Naru. Sangat yakin."
Naruto terdiam, wajahnya kembali datar. Dia memalingkan wajahnya dari pandangannya terhadap Kiba, lalu menghela nafas.
"Maaf. Tapi aku sudah menyukai orang lain Kiba." Jawab Naruto mantap dengan wajah serius yang bertengger diwajahnya.
Kiba kaget dan menoleh kearah Naruto, dia mengangguk.
"Aku tahu. Aku tahu siapa yang kau sukai." Ucapnya datar, dan kembali memalingkan wajahnya dari Naruto.
Naruto tercekat. Kok bisa? Dengan ragu Naruto memandang wajah Kiba.
"Iruka-san kan?" tanya Kiba dengan nada yang masih datar.
TBC
Maaf, ceritanya makin gajeh saja..
REVIEW?
And remember!
Don't flame me about the pairing. You can just flame my fic but don't flame my cutiest pairing(SasuNaru). I think i've told you about my warn, if you still want to flame my pairing, I hope you straight to press the 'back' button please. Thank you to read my warn.
Once more..
REVIEW?
