Chap 3.

Byakuya terkejut, begitu mengetahui bahwa yang terluka bukanlah Grimmjaw, melainkan…..

Rukia!!!!!

Rukia langsung menghadang kakak-nya ketika ia tahu kakaknya hendak membunuh Grimmjaw.

"Rukia!!! Kenapa kau… menolongnya??!!!!!!"tanya Byakuya.

"Nii-sama, ia temanku, dan ia bukanlah orang jahat…. Sudah… sepantasnya… aku…melindungi….nya"ucap Rukia, kemudian ia terjatuh pingsan karena darah mengalir deras dari dadanya, Grimmjaw menahan tubuhnya sebelum jatuh membentur lantai.

"Rukia!!!"Hisana menghampiri adiknya tercinta.

Tak ada seorangpun yang mengetahui kejadian ini karena kebetulan sekali, tak ada satu pelayanpun yang ada di ruangan itu saat itu, tapi….. tak lama kemudian….

Ginrei datang, sorot matanya tajam. Mendadak Byakuya jatuh berlutut dan menunduk di depannya…

"Apa yang sudah kau perbuat….. Byakuya????"tanyanya sinis.

"Ma…..maafkan aku, Jii-sama…. Aku hanya bermaksud melindungi Rukia dari putra Aizen yang mengikutinya…"jawab Byakuya sambil gemetaran.

Ginrei mengerutkan alisnya, ia menatap cucunya dengan seksama, mencari tahu dibalik perbuatannya…

"Hn…. Mungkin kau terlalu memikirkannya… Lebih baik kalau kau mengimbangi semua pikiranmu…. Itu tidak baik untukmu, maupun untuk semua…. Aku sudah panggil Unohana Retsu untuk segera ke sini.."ujar Ginrei.

Kepala Byakuya sedikit mendongak ke atas, lalu kembali menunduk.

"Ah…. Baik…. Terima kasih, Jii-sama…"ujar Byakuya.

Lalu, para pelayan datang secara bergerombolan dipimpin Ukitake.

Unohana langsung menghampiri Rukia beserta Hanatarou, bawahannya yang tinggal di desa.

"Rukia, kau baik-baik saja?"tanya Unohana.

"Dia pingsan, lebih baik cepat obati dia…."ujar Grimmjaw.

Unohana terkejut melihat Grimmjaw, lalu segera mengobati Rukia.

"Nafasnya tidak beraturan, sepertinya paru-parunya sobek!!!"ujar Hanatarou.

"Ti..tidak mungkin, tebasannya dalam sekali…."ujar Hisana.

"Memangnya, apa yang terjadi di sini, Ginrei-san?"tanya Ukitake.

"Nanti kuberitahu kau…"jawab Ginrei.


Byakuya sudah pergi meninggalkan ruang utama, berjalan cepat menuju kamarnya. Pikirannya penuh, jutaan pertanyaan untuk dirinya berkecamuk di dadanya.

"Kenapa???? Kenapa aku mau menuruti perintahnya??!!!!"batin Byakuya.

Byakuya berjalan cepat yang akhirnya ia berlari menuju menara Istana Utara. Kaien yang baru saja meninggalkan puncak menara setelah selesai bersih-berish, berpapasan dengan Byakuya.

"Aa….. Byakuya-sama… anda tidak apa-apa???? Anda kelihatan lelah….."ujar Kaien.

"Aku tidak apa-apa, bukan urusanmu…."ujar Byakuya, ia terus berjalan menuju puncak.

Sesampainya di puncak menara….

Byakuya memasuki sebuah ruangan, ruangan dimana ia selalu merenungkan pikirannya, melepaskan isi hatinya, setelah masuk, ia membanting pintunya.

BRAK

Kemudian Byakuya duduk di sebuah kursi yang menghadap ke jendela, menghela nafas, dan…

"Kenapa???!!!! Kenapa aku menuruti perintahnya??!!! Akibatnya, yang tertebas adikku sendiri!!!!"tanya Byakuya pada dirinya sendiri dengan suara serak, ia terlalu tegang. Kemudian, ia menenggelamkan wajahnya di telapak tangannya.

"Hhhh……" Byakuya mendadak mendongak…

"Suara itu!!! Suara yang menyuruhku untuk membunuh Grimmjaw!!!"batin Byakuya.

"Jadi, kau tahu itu aku ya…."

"Si…siapa kau???? Dimana kau????"tanya Byakuya matanya mencari ke seluruh ruangan, namun tak ada.

"Hah???? Jangan bodoh, aku ini dirimu, aku ada di dalam dirimu, akulah yang mengendalikan dirimu"

Suara itu menjawab.

"Ke…kenapa bisa????"batin Byakuya.

"Karena kau memang ditakdirkan untuk menuruti perintahku…"kali ini, mulutnya sendiri yang berbicara.

"Ka..kau!!!! Jangan sembarangan memakai tubuhku!!!!!"ujarnya.

"Heh??? Kan sudah kubilang, aku ada di dalam dirimu… Itu berarti, aku bebas mengendalikanmu"mulut Byakuya berbicara lagi.

Tiba-tiba, tubuh Byakuya berdiri dengan sendirinya dan berjalan menuju cermin besar yang terletak di pojok ruangan.

"Akan kutunjukkan sesuatu padamu"mulutnya berbicara lagi.

"A…apa itu???"tanya Byakuya.

Sesampainya depan cermin itu, mendadak raut wajah Byakuya yang damai menjadi bengis dan sadis, lalu warna matanya berubah menjadi merah darah.

"Inilah kita….."

Byakuya melihat bagaimana suara itu berbicara padanya tadi.

"A…Apa maksudmu????"tanyanya, wajahnya berubah normal lagi.

"Keh…. Apa kau bodoh????!!! Kita ini dua jiwa dalam satu tubuh"wajahnya berubah lagi, tampak sosok seseorang samar-samar di kaca.

Byakuya mengangkat tangannya yang gemetaran.

"Ma..mau apa kau???!!!"tanyanya.

"Khu…khu…khu… kau pria yang tampan… Baumu begitu enak.."ujar suara itu.

"A…apa maksudmu???!!!"tanya Byakuya.

"Baumu…bau darahmu begitu mengundang selera…"jawab suara itu.

"Ja..jadi…. kau adalah…."

"Ya, akulah Vampir yang ada di ruangan tersembunyi itu…"ucap suara itu dengan nada bengis.

"Ba…bagaimana bisa kau masuk ke tubuhku???!!!!"tanya Byakuya, wajahnya menunjukkan ekspresi ketakutan.

"Aku tidak melakukan apapun, tahu-tahu aku sudah terbangun di dalam tubuhmu, tapi aku belum bisa kembali ke tubuhku…."jawabnya.

"Jangan berbohong kau, brengsek!!!!"ujar Byakuya.

"Hooo… Lihat, si tuan tampan marah…. Heh… Kita memang ditakdirkan untuk bersama, untuk apa aku berbohong… Kalaupun aku berbohong, aku sudah menyerang negeri ini dengan tubuhku sendiri…."

Byakuya terdiam untuk beberapa saat, matanya menatap ke arah cermin, pikirannya kosong…

Tiba-tiba, tangannya bergerak tanpa perintahnya lagi. Jarinya menyentuh darah yang menempel pipinya yang pucat dan lembut itu

"Ini… darah adikmu, bukan???"tanyanya.

"I…iya…"jawab Byakuya.


Rukia terbangun dari tidurnya, dilihatnya ia ada di kamarnya, lalu duduk…

"Hah….ha…"Rukia mencoba menarik nafas, namun dadanya terasa sakit sekali seperti terbakar.

"Rukia!!! Kau baik-baik saja???!!!"tanya Unohana.

"Aku tidak apa-apa"bisik Rukia, ia belum kuat untuk berbicara.

"Sudahlah, kau istirahat dulu… Lukanya sedang dalam proses penyembuhan…"ujar Unohana sambil membaringkan Rukia.

Rukia berbaring kembali…

"Unohana-san, mana Nii-sama????"tanya Rukia pelan.

Ia menggeleng lemah.

"Aku tidak tahu…."jawabnya.

"Kalau nee-sama???"tanya Rukia.

"Ia sedang berbicara dengan Ginrei-san"jawab Unohana.

Rukia bergumam kecil, saking kecilnya sampai tidak bisa terdengar.

"Ada apa????"tanya Unohana.

"Mana Grimmjaw???"tanya Rukia.

"Oi…"panggil sebuah suara. Ternyata, Grimmjaw ada di sebelah kiri tempat tidurnya.

"Kau masih disini???"tanya Rukia.

"Yah, aku takkan pulang sebelum kau sadar…."jawab Grimmjaw.

"Jam berapa sekarang???"tanya Rukia.

Grimmjaw diam sebentar, lalu melihat ke arah jendela.

"Sekitar jam 3 sore….."ujarnya.

"Kapan kau harus pulang????"tanya Rukia.

"Mmm…. Sebenarnya, aku tidak mau pulang…"ujar Grimmjaw.

"Kenapa?????"tanya Rukia.

"Sebenarnya…. Aku…."

BRAKKK!!!!!

Seseorang membuka pintu begitu kencang.

"Siapa i…"belum selesai Unohana bertanya, orang itu menyela.

"HALO RUKIA!!!!"sapa seorang gadis manis berambut coklat panjang, dibelakangnya ada seorang pemuda berambut unik berwarna biru gelap.

"Oh, hai Inoue. Hai, Ishida…."sapa Rukia.

"Aku dengar kau sakit, jadi aku datang mampir ke sini…"Orihime menunjukkan ekspresi cemas.

"Kau baik-baik saja, Kuchiki-san???"tanya Ishida.

"Rukia, Ishida"balas Rukia.

"A…apa sajalah…"ujar Ishida sambil membetulkan kacamatanya yang turun.

"Rukiaaaaaaa!!!! Lihatlah apa yang kami bawa!!!!"ujar Orihime sambil memberikan sebuah keranjang yang ditutup kain yang lebar.

"Apa ini???"tanya Rukia sambil membuka penutupnya. Dilihatnya seekor kelinci putih yang seputih salju dan lembut.

"TADAA!!!! Kami mencarinya seharian di hutan!!!"ujar Orihime, Rukia menatap Ishida, wajah Ishida merah.

"Lucunya~~~!!! Terima kasih, Inoue, Ishida!!!"ucap Rukia, ia senang sekali.

"Ah, bukan apa-apa!!! Kami hanya ingin kau merasa lebih baik!!!!"ujar Orihime.

"Kalian pasti kerepotan sekali mencarinya yah…"gumam Rukia.

"Tidak, sangat menyenangkan mencarinya!!!! Lihat, aku sampai terperosok lubang yang dalam dan nyaris tenggelam di sungai penuh Buaya!!!" ujar Orihime sambil menunjukkan bekas luka gigitan di lengannya.

Rukia terdiam kaget melihatnya.

"Hei, kau belum lihat luka Ishida-kun!!! Keren sekali!!! Tendon kakinya bolong dan kakiknya nyaris putus lho!!!!"ujar Orihime bangga.

Rukia merasa mual.

"Aduh, Inoue. Berhenti berbicara seperti itu, Rukia bisa muntah nanti…"ujar Ishida.

"Ah…. Maaf Rukia…"pinta Orihime.

"Tak apa…."balas Rukia.


"Jadi, kau setuju dengan permintaanku???"tanya sang vampire.

"Tidak!!! Kau hanya akan membahayakan semuanya!!!"tolak Byakuya.

"Hoooh…. Kau tidak mau aku bangkit karena meminta darahmu????"tanya sang vampire lagi.

"Bukan hanya diriku!!! Aku tidak mau kau menyakiti siapapun disini!!!!"balas Byakuya tegas.

"Hmm…. Kalau begitu, aku akan menggunakan tubuhmu saja…". Raut wajah Byakuya berubah lagi, kali ini sang Vampir membawanya keluar ruangan menuju menara yang terletak di tengah istana.

"Ma..mau kemana kita???"tanya Byakuya.

"Lihat saja nanti…"balas sang Vampir.


Sesampainya dipuncak menara tengah, Byakuya berjalan begitu pelan dengan gerakan yang begitu anggun, seakan-akan ia menari. Kemudian, ia berhenti didepan sebuah ruangan yang terdiri dari 13 kunci. Ia meraih gagang pintunya, lalu….

"Byakuya-sama, mau apa anda??!!!"tanya Kaien, ialah yang bertugas menjaga pintu itu.

Byakuya menengok ke arah Kaien. Tangannya hendak meraih sesuatu dari Kaien.

"Ah…"Kaien berjalan mundur. Mata Byakuya tertuju pada Kunci-kunci ruangan itu yang menggantung di lengan Kaien.

"Berikan kuncinya…."bisiknya pelan.

"Ma…maaf, anda harus meminta izin kepada Ginrei-sama terlebih dahulu…"larang Kaien.

"Aku tidak peduli, berikan kuncinya…"ucap Byakuya.

"Ta….tapi…."


CHAPTER 3

-END-


Nee??? Apa saya update-nya kecepetan??? Kayaknya iya deh… Mumpung lagi nafsu-nafsunya…

Buat LouisXXI, IshiOri-nya ada di chap ini… Nanti bakal muncul lagi kok…

Thanks to: Reviewers and Readers…

Eh, kerasa nggak kalo chap ini agak "YAOI" –Evil smile-

Oh iya, promosi juga nih… Baca fic Bleach English saya yang judulnya "Shiro's Choice" yah… Please… Habis, orang luar jahat-jahat amat… Padahal Visitors setelah beberapa jam di submit mencapai 67 orang, tapi yang nge-review Cuma satu!!! TT_TT (Curhat nih ye….)

Review please… Or I'll curse you!!! *nyiapin voodoo doll * -dihajar-