Disclaimer: Tak akan bosan-bosannya ni author mengingatkan pada kalian bahwa karakter yang ada didalam sini bukan milik saya! Mereka milik Natsume! Tapi plot cerita saya yang punya ;D
Chapter 3
Starry Night (Part 3) : All because of A Plate of Chicken Soup
(Again)Flashback
Road to Goodie Farm, Claire's POV
Cepat-cepat aku berlari-lari kecil, walaupun dengan beban yang berat di bahu dan di kedua pergelangan tanganku, tapi kini semuanya sudah tidak begitu terasa lagi. Akhirnya aku menemukan surga yang baru! Semua impian dan harapan yang dulu kandas secara tidak terduga, kini akan terwujud satu demi satu!
(Still Flashback, 3 Years Later)
Goodie Farm, Claire's House, still Claire's POV
Aku senyum senyum sendiri mengingat masa-masa itu, dimana aku sendiri masih seorang gadis labil berusia 16 tahun yang kabur dari rumah karena alasan tertentu dan pada akhirnya berhasil membangun surga hidupku sendiri: berhasil membuat Goodie Farm menjadi sukses. 'Thanks, Natalie. You rock.' gumamku dalam hati. 'I won't forget your help 'till forever.'
Krincing!
Aku yakin aku mendengar sebuah suara yang mencurigakan. Aku langsung mengambil kapakku, lalu aku menuju ke sumber suara. Pencurikah?
The Thief's POV
"Hei! Pencuri! Jangan kabur kau!"
Oh, shit. Ketahuan! Aku langsung berlari dengan cepat keluar dari toko perhiasan itu, menggenggam beberapa kalung dan perhiasan berlian lainnya ditangan kiriku. Well, lumayanlah buat 'penghasilan' bulanan kali ini. Setelah beberapa saat berlari, aku menoleh sebentar kebelakang, si kakek-kakek tua itu sudah hilang dari pandangan. Haha, pekerjaan seperti ini sudah biasa saja bagiku, aku sudah melakukan kegiatan semacam ini dengan rutin, sudah sejak dua tahun yang lalu, jadi ini udah kayak rutinitas bulanan bagiku, dan aku tidak pernah merasa berdosa... Sama sekali. Semuanya sudah terlanjur, dan tentunya, waktu tidak bisa dimundurkan kembali, 'kan?
Aih... Gila, udara malam ini dingin banget! Pakai mantel udah beberapa lapis aja masih kerasa lumayan dingin... Musim dingin kali ini kayaknya emang yang paling sadis dibanding tahun-tahun lalu, kayaknya enak nih kalo bisa 'numpang' sebentar dirumah seseorang, hm? Ah, ternyata ada satu! Mungkin sajakah Tuhan kali ini mendengarkan doa seorang pencuri sepertiku?
Rumah itu ukurannya sedang, terbuat dari kayu yang terlihat kokoh. Aku mencoba untuk diam-dam mengintip kedalam, dan suasana didalam trerlihat hangat, kontras dengan keadaan udara diluar sini yang dinginnya menusuk kulit. Didalam, ada sebuah pohon natal yang BESAR, kuulangi lagi, besar, mungkin saja tingginya 3 meter, dengan banyak hiasan natal yang berwarna emas, menjadikan pohon itu terlihat bersinar tanpa harus diberi lampu lagi. Dan didalamnya, ada seseorang, gadis, yang sedang meminum segelas minuman. Aku terpana, mungkin saja suka pada gadis itu. Heh... Ternyata istilah 'Love at the First Sight' itu ada benarnya juga yah?
Gadis itu memiliki rambut pirang yang tergerai dengan indah, mata biru yang menunjukkan rasa damai dan tanpa dosa, postur tubuh yang perfect, dan garis wajah yang mulus dan indah. Jujur saja, ia adalah gadis tercantik yang pernah kulihat seumur hidupku. Hei, kenapa aku jadi seperti stalker begini? Tujuan utamaku kan ingin menumpang sebentar dirumah seseorang... Dan rasa dingin itupun lagi-lagi terasa membekukan telapak kakiku. Cepar-cepat saja aku mengetok pintu rumah itu.
Tok! Tok!
"Siapa?" tanya seseorang. Pasti dia. Aku tidak membalasnya, yang tentu akhirnya membuat gadis itu penasaran., dan ia membukakan pintunya.
"Siapa sih-Oh! Ya ampun!" jeritnya pelan, lalu membungkuk didepanku. Kalau kalian ingin tahu kenapa ia menjerit, aku sedang ber'akting' menjadi orang yang lemah dan tak berdaya, berharap agar ia membiarkan aku masuk kedalamnya. Dan sepertinya aktingku ini berhasil. Mungkin saja aku bisa masuk acara Grammy Awards, huh?
"Kau kenapa?" tanyanya dengan lembut, tangannya membelai wajahku dengan pelan. Ia pasti tidak tahu kalau pancaran hangatnya itu mengalir kewajahku, aku yakin wajahku pasti sedikit memerah sekarang. "Apakah kau bisa berjalan sendiri...?" tak ada respon. "Sepertinya tidak. Sini, biar kubantu! Ayo..." katanya, lalu menyilangkan lengan tanganku dibahunya, lalu membawaku masuk kedalam. Jelas saja aku terkejut. Ia padahal belum mengetahui siapa aku sebenarnya, tapi ia membiarkanku masuk kedalam. Sepertinya...
Sepertinya gadis ini memang berhati emas.
Ia lalu membawaku ke tempat tidurnya, membaringkanku disitu. "Kau tunggu sebentar, ya? Aku akan menyiapkan sesuatu untukmu agar kau merasa mendingan. Sepertinya kau ini kecapekan menurutku." Ia mengedipkan sebelah matanya, lalu pergi menjauhiku. Setelah kurasa ia tak akan balik dalam waktu yang singkat, aku mencoba untuk berdiri. Sial! Ternyata kakiku ini benar-benar sakit. Upayaku untuk 'menumpang' disini sepertinya tidak akan berhasil, sepertinya aku harus benar-benar menumpang disini untuk semalam.
"Oi! Makanannya sudah- H-hei! Jangan berdiri dulu!" aku melihatnya menaruh sebuah piring diatas meja, lalu ia menghampiriku lagi, kecemasan sekali lagi terlihat diwajah manisnya. Ia lalu membuatku duduk diranjangnya lagi. Ia lalu mengambil piring tadi, aku melihat asap masih sedikit mengepul dari piring itu.
"Kau tahu, sup ayam sepertinya bisa membuat tubuhmu menjadi lebih mendingan." Ia lalu menyodorkan sesendok kemulutku. Dan ketika aku merasakannya, sup itu benar-benar enak. Hangat dan menentramkan, sama seperti gadis itu.
"Terima kasih..." ujarku setelah sekian lama. "Ngomong-ngomong, siapa namamu?" tanyaku lagi.
"Claire. Claire Vermilliona..." jawab gadis itu. Claire. Claire, Claire, Claire. Selera orangtuanya bagus juga.
"Oh, ya, ngomong-ngomong siapa namamu?"
"...Skye. Phantom Skye." ujarku dengan pelan sekali, aku ragu apakah ia bisa mendengarku. Saat aku melihat wajahnya, matanya menunjukkan sedikit rasa terkejut, tapi ia tidak melakukan apa-apa atau mencoba untuk menangkapku.
"Ah, begitu ya. Pencuri yang terkenal itu, 'kan?" tanyanya. Aku hanya mengangguk pelan, tak tahu harus mengatakan apa-apa. Lalu tiba-tiba saja dia membelai rambutku dengan lembut.
"Kau tahu, orang-orang disekelilingku mengatakan padaku saat aku pertama kali pindah kesini, bahwa bila aku bertemu denganmu, aku harus menangkapmu dan memanggil polisi untuk menjebloskanmu kepenjara. Tapi..." jawabnya, berhenti sesaat. " Menurutku kau ini tak jahat seperti yang mereka katakan." Kalimat terakhir itu membuatku kaget setengah mati. Ia mungkin tidak tahu, bahwa kalimat itu memiliki dampak besar bagi tubuhku dan pikiranku: tiba-tiba saja aku memeluknya. Aku mendengarnya menjerit pelan untuk sesaat. Lalu kubisikkan kata-kata ini padanya, "Terima kasih..."
Awalnya kita terdiam untuk beberapa saat. Lalu, kita semua terkekeh kecil pada kita sendiri. Sisa malam itu benar-benar menyenangkan tapi sekaligus menyentuh. Kita bercanda bersama, lalu disusul dengan Claire menceritakan masa lalunya yang ternyata tragis tapi berakhir menyenangkan: ia kabur dari rumah, lalu ia menemukan kebun yang tak berpenghuni ini, lalu menjadi sukses setelah bekerja di perkebunan ini selama 3 tahun lamanya. Saat ceritanya berakhir, aku melihat ada setetes air mata yang mengalir dipipinya.
"... Begitulah ceritaku tadi." Lalu dengan cepat aku menghilangkan tetes air mata dipipi kanannya, aku membelai wajahnya dengan lembut, lalu mencium pipinya. Semburat merah terlihat diwajahnya yang cantik itu.
"Kau tahu... Air mata tidak akan mengalir dari orang setegar dan semanis hatimu." Lalu aku mencium bibirnya dengan lembut. Aku sudah berkali-kali mencium bibir gadis-gadis lainnya, yang secara fisik lebih cantik dan lebih seksi. Ya, kuulangi lagi, berkali-kali. Tapi yang kali ini, dengan seorang gadis seperti Claire, aku baru pertama kalinya. Dan rasa ciuman itu jauh lebih enak, melebihi rasa ciuman dari gadis-gadis lainnya. Mungkin saja karena aku begitu tersentuh dengan rasa rendah hati dan pancaran kehangatan darinya, yang membuatku melihat lebih dari sekedar tampang manisnya itu. Aku bisa merasakan hati Claire berdegup kencang, lalu secara perlahan aku melepaskan bibirku darinya.
"Sk-Skye..." ujarnya pelan, wajahnya jauh lebih memerah dari sebelumnya.
"Apa?"
"Selamat tidur... Have a nice dream." jawabnya, lalu tersenyum manis. Ya, senyum seperti itulah yang aku begitu harapkan tak akan pernah menghilang dari wajahnya. Dan aku merasa bahwa malam ini pastilah merupakan malam terindah dalam hidupku.
(End of Flashback)
Claire's POV
Aku tak menyadari bahwa aku menangis ketika mengingat semua kejadian itu. Aku baru menyadarinya saat suara merdu Skye membangunkanku dari lamunanku.
'O-oi! Claire! Kau kenapa?" mukanya langsung terlihat rasa penyesalan. "Kau tahu, aku tidak pandai dalam membuat seseorang kembali ceria, kau tahu..."
Aku langsung mencengkeram lengannya dengan pelan, lalu menjinjit sedikit untuk mencium pipinya, mengingat tinggiku hanya sampai sebahunya. "Tidak apa-apa kok, Skye. Haha, malam ini indah sekali, ya?" tanyaku, mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Yah..." jawabnya pelan, melihat kelangit, menggenggam telapak tanganku dengan pelan. "Claire... Sepertinya sudah larut malam, nih. Mau kuantar pulang?"
"Ya! Ya, aku mau!" jawabku dengan semangat, lalu kita berdua berlari-lari kecil menuju ke Goodie Farm, sambil bergandengan tangan, juga suara tawa kita yang membahana ditengah malam...
- To be Continued-
GT: Akhirnya, selesai juga dah ni chapter... Maap ya kalau kependekkan... Dan juga karena update-nya yang gak kilat... :'( Padahal kemarin saat mid udah janji bakal update... Tapi nggak apa-apa!
O ya, don't like? Then don't read!
~ GrandTale
