Tujuan seorang Duchess Mary Elizabeth Baekhyun Byun from Austria pindah ke Korea Selatan adalah untuk menghindari ayahnya. Perbuatan ini sungguh melenceng dari apa yang telah diajarkan oleh keluarga besar ibunya, yang berdarah ningrat, aristokrat, serta menjunjung tinggi peradaban bangsawan Eropa. Apalagi, dia pergi diam-diam, tanpa seizin kakeknya, seseorang yang menyandang gelar tertinggi di kediaman keluarga besar ibunya di Austria. Keluarga besar ayahnya tak jauh berbeda, bahkan bisa dibilang sama saja, kedua orang tuanya sama-sama seorang ningrat, ibunya bangsawan Austria-Korea terkenal, sedangkan ayahnya adalah salah satu keturunan Yi Seong-gye, raja pertama sekaligus pendiri Dinasti Joseon
Rumah ini mengingatkan Baekhyun pada kenangan-kenangan lamanya bersama keluarganya. Dan matanya memanas ketika mengingat apa yang terjadi bertahun-tahun lalu, tepat di ulang tahunnya yang keempat.
Choi Sooyoung datang tepat sepuluh menit sebelum acara minum teh dimulai. Kondisinya mengerikan; kurus kering, hamil besar, dan pucat, wajahnya bersimbah air mata, berkata sesuatu sambil terisak-isak pada Kim Kibum. Baekhyun masih terlalu kecil untuk memahami maksud dari perkataan Sooyoung, tetapi sedetik kemudian, ibunya menangis dan neneknya pingsan. Kakaknya, Byun Luhan, menjatuhkan teko kristal berisi teh hijau yang dibawanya. Lalu ibunya menampar wajah ayahnya sekuat tenaga, dan berakhir menangis seharian di kamar.
Byun Siwon dan Kim Kibum memang tak berpisah. Mereka masih saling mencintai, Baekhyun yakin itu. Hanya saja, mereka seperti menghindar. Ayahnya berubah menjadi seorang yang asing, sering mengumpat, sering mabuk, dan suka memukuli istrinya. Sedangkan Kibum tetap diam, menghabiskan seluruh waktunya hampir di kantor tempatnya bekerja. Baekhyun selalu mendapati ibunya menangis di tengah malam, memeluk foto pernikahannya, lalu melemparnya ke seberang ruangan. Ayahnya selalu pulang dalam kondisi mabuk, membuat neneknya mengomel panjang lebar tentang bagaimana seorang laki-laki bangsawan harus bersikap.
Sampai pada puncaknya, tiga tahun kemudian, Byun Siwon yang mabuk mengajak Choi Sooyoung ke rumah. Kibum sedang berada di kantor pada waktu itu, menjalankan misi menghindari suaminya. Siwon dan Sooyoung bercinta semalaman, mengabarkan teriakan jengah Luhan dan geraman sang nenek. Karena luar biasa murka, Luhan yang sudah diambil alih oleh kemarahannya sendiri menghubungi ibunya. Dia mengumpati kebodohan ibunya, sudah jengah atas perselingkuhan ayahnya, mengumpati segala rasa ketidakpedulian ibunya, masa bodoh dengan statusnya sebagai seorang tuan putri yang terhormat.
"Berhentilah bersikap seolah kau baik-baik saja, Maman! Suamimu di dalam sana, sedang mendesah atas kenikmatan yang diberikan oleh wanita selainmu, sedang mabuk, sedang gila! Datang dan hentikan dia, Maman! Jangan bersikap seperti seorang dengan hati sekuat baja!"
Lalu, segalanya terjadi begitu cepat. Ibunya datang dengan wajah sembap, penuh air mata, mendobrak ke kamar di mana Siwon dan Sooyoung bercinta. Baekhyun mengintip, ibunya sedang mengemasi semua barangnya. Dan ternyata kakaknya juga ada di sana, menangis meraung-raung sambil melempari Sooyoung dengan benda apapun yang dapat diraihnya, menyalahkan wanita itu atas semua kekacauan ini. Luhan hampir melemparkan vas bunga kalau saja Kibum tak menghentikannya. Baekhyun kecil menangis, tak ingin ibunya pergi, dan tangisannya bertambah keras ketika melihat ayahnya mengambil revolver-nya, menembak istrinya dan Luhan, putri pertamanya sendiri.
Hati Baekhyun berdenyut nyeri mengingat itu semua. Mengingat bagaimana cara ibunya meregang nyawa. Kenangan pahit itu terus berputar di otaknya seperti kaset rusak, enggan berhenti. Dia menitikkan air mata, dia benar-benar merindukan ibunya.
"Selamat datang kembali, Tuan Putri, Agen Senior Kim," seorang wanita berkulit pucat berjas formal membungkuk rendah pada mereka. Buru-buru Baekhyun menghapus air matanya. "Saya sudah menerima pesan anda, Agen Senior. Tetapi penyakit Yang Mulia kambuh lagi, jadi beliau tak bisa keluar kamar untuk sementara waktu."
"Baiklah. Tolong panggilkan Nyonya Sooyoung saja. Bilang padanya kalau Nona sudah datang. Terima kasih, Agen Min," perintah Seokjin halus.
Wanita itu membungkuk rendah, lalu menghilang di seberang ruangan. Seokjin tersenyum menghadap Baekhyun. "Nona, saya sarankan pada Anda untuk menunggu di meja makan. Kami telah menyajikan makanan kesukaan Anda. Nyonya Sooyoung sepertinya juga sudah menunggu di meja makan."
Baekhyun mengekor Seokjin menuju ruang makan. Seingatnya, ruang tamu dan ruang makan dibatasi oleh ruang keluarga. Di ruang keluarga inilah terdapat dua pigura super besar berisi silsilah keluarga kedua orang tuanya. Berdasarkan garis keturunan ibunya, Baekhyun terlahir sebagai generasi ketujuh belas dari Maximilian I, Holy Roman Emperor dan Empress Eleanor of Portugal. Sedangkan menurut garis keturunan ayahnya, dia adalah generasi keempat belas dari Yi Seong-gye, pendiri sekaligus raja pertama Dinasti Joseon. Silsilah keluarga orang tuanya merupakan salah satu hal wajib yang harus diingatnya sampai akhir hayat, sangat fatal jika dia sampai melupakannya, dia bisa dicap pengkhianat bahkan dikeluarkan dari silsilah keluarga.
"Seokjin," suara Baekhyun tercekat. "Siapa yang membawa pigura ini kemari?"
Yang dipanggil berhenti, menoleh ke samping untuk memandang sesuatu yang ditunjuk nonanya. "Tentu saja ayah Anda, Nona."
Hati Baekhyun nyeri menatap pigura itu. Pigura yang ukurannya empat kali lebih besar daripada pigura silsilah keluarga kedua orang tuanya, berisi sekitar dua ratus lima puluh peraturan yang harus dipatuhi dan diamalkan oleh seluruh keturunan Emperor Joseph I. Peraturan-peraturan ini, konon, dibuat langsung oleh mendiang leluhur Baekhyun. Ada seratus tujuh puluh peraturan yang mengikat para wanita di keluarganya, tiga puluh mengikat lelaki, dan lima puluh mengikat anak-anak. Lukisan Frederick III, salah satu leluhurnya yang juga merupakan emperor pertama Dinasti Habsburg, terpajang di atas ratusan peraturan tersebut, tampak begitu gagah memegangi pedangnya.
"Nona Elizabeth," nada bicara Seokjin terdengar lirih. Baekhyun refleks menoleh. "Maafkan saya karena belum memberitahukan hal ini kepada Anda sebelumnya. K-kakek dan nenek Anda, Nona, beliau... beliau ikut pindah kemari bersama ayah Anda."
Dan saat itu juga, Baekhyun merasa jantungnya jatuh ke perut.
"Lebih baik, Anda bertemu dengan Nyonya Sooyoung terlebih dahulu, kalau saya boleh menyarankan."
Mereka berjalan ke seberang ruangan. Ada sebuah pintu besar, Seokjin membukanya lebar-lebar, dan hal pertama yang menyambut Baekhyun adalah aroma khas kue yang baru keluar dari oven. Semua makanan yang ada di meja makan sangatlah menggugah selera; kue coklat tiga susun, buah-buahan aneka macam, seloyang puding mangga, pai apel, pai susu, dan masih banyak lagi. Dia tersenyum melihat semangkuk bibimbap yang sudah tersedia di meja, itu makanan kesukaan ibunya. Namun, nafsu makannya menurun drastis ketika matanya bersibobrok dengan sepasang mata jernih yang amat dibencinya.
Choi Sooyoung duduk di sana, menikmati sepotong kue coklat dan puding mangga, wajahnya berseri-seri. Rambutnya tak lagi panjang, melainkan dipotong sebawah telinga dan diponi, berwarna coklat terang, tak hitam seperti dulu. Gaun tanpa lengan selutut warna pastel semakin mempermanis penampilannya. Sooyoung seolah tak menunjukkan rasa bersalah karena telah membuat ibu Baekhyun menderita hingga akhir hayatnya. Mati-matian menahan hasrat ingin menonjok wajah cantik itu, dia berjalan dan duduk di atas kursi, berjarak sekitar lima meter dari Sooyoung.
"Halo, Baekhyun-ah," ucap Sooyoung manis. "Sudah lama, ya, kita tidak bertemu?"
"Ya, lama sekali. Seingatku, terakhir kali kita bertemu, kau asyik mendesah di bawah ayahku," jawab Baekhyun sinis, mengaduk-aduk mangkuk berisi bibimbap-nya.
Sooyoung tampak terhina sekali, namun ekspresinya kembali manis beberapa detik kemudian. "Bagaimana kabarmu? Apakah di Korea menyenangkan?"
Baekhyun hanya mengeluarkan gumaman tak jelas dan menunduk. Air matanya merebak, kejadian bertahun-tahun lalu terulang lagi di kepalanya. Dia sangat merindukan ibunya, ibunya yang cantik, baik, ibunya yang sabar dan selalu tersenyum ke arahnya stiap hari. Ibunya yang selalu mengecup keningnya ketika hendak tidur. Ibunya yang sempurna, wanita yang sempurna, Kim Kibum yang sempurna. Diraihnya sendok dan mulai menyuapkan sepotong besar puding mangga ke dalam mulutnya, harap-harap itu akan menghentikan air mata yang sebentar lagi akan jatuh membasahi pipinya.
"Apakah kau sudah bertemu dengan adik kembarmu?" tanya Sooyoung.
"Hmm," gumam Baekhyun, berusaha menulikan telinga dan menikmati sensasi lembut puding mangga yang ada di mulutnya.
"Bagaimana kabarnya? Ah, sayang sekali aku lupa nama adik kembarmu."
"Itu sama sekali bukan urusanmu," kata Baekhyun dingin.
"Kakek dan nenekmu datang kemari dua minggu yang lalu."
"Kau harus memanggil nama leluhurku dengan nama mereka, sesuai dengan peraturan nomor 15," koreksi Baekhyun diplomatis. "Itu merupakan sebuah penghinaan yang besar bagi Kakek Charles dan Nenek Zita. Setidaknya, kalau kau berada di rumah ini, kau harus hafal semua peraturan yang berlaku."
"S-semua?" cicit Sooyoung.
"Ya. Semua."
"Permisi," seseorang datang menginterupsi. Ini jelas bukan suara Seokjin. Seseorang yang tadi menyambut Baekhyun di ruang tamu kini berdiri di ambang pintu, pucat pasi dan berkeringat. Namun, terlepas dari itu semua, wanita itu kelihatan cantik. "Maaf mengganggu acara makan siang kalian. Nona Elizabeth, Empress Zita hendak bertemu dengan Anda. Beliau ingin menyampaikan beberapa hal pada Anda. Dan teruntuk Nyonya Sooyoung, Yang Mulia Raja Choi Siwon telah menunggu Anda di kamarnya."
"Terima kasih, Min Yoongi," dan dengan itu, Sooyoung berjalan anggun menuju lantai tiga.
"Choi Siwon?" Baekhyun menatap si agen dengan tatapan penuh tanya.
"Ya, Nona. Yang Mulia Raja telah resmi mengubah marganya menjadi Choi, karena beliau telah resmi menikah dengan Nyonya Choi Sooyoung," jawab si agen. Baekhyun mendengus jijik, ayahnya ternyata sungguhan mencintai Sooyoung.
"Nona Elizabeth, izinkan saya mengantar Anda ke kamar Empress," Min Yoongi mempersilakan Baekhyun berjalan terlebih dahulu. Baekhyun mendadak merinding, menyadari betapa gelap, dingin, dan tertutupnya istana megah ini. Dia sekarang tahu mengapa ayahnya, yang pada dasarnya adalah seorang yang sederhana, memilih untuk tinggal di sini. Neneknya, Empress Zita of Bourbon-Parma, jelas tidak mau tinggal di rumah yang tidak ada unsur bangsawannya, bahkan jika rumah tersebut bergaya mansion sekalipun. Neneknya memiliki harga diri dan standar sangat tinggi, mengingat dia menyandang gelar bangsawan yang paling tinggi yaitu seorang empress.
Wanita pucat itu kemudian menginstruksikan Baekhyun untuk berhenti di depan sebuah pintu kamar berkenop emas. Ukiran yang terpahat sempurna di pintu kayu mahoni itu terkesan sangat Eropa. Min Yoongi, atau entah siapa namanya tadi, mengetuk pintunya dengan sangat hati-hati.
"Wer ist da*?"
"Ich bin es, Kaiserin*," jawab Yoongi dengan pelafalan Jerman yang patut diacungi jempol. "Herzogin Mary Elizabeth ist auch hier, meine dame*."
"Komm herein*," perintah suara dingin itu.
Yoongi bertambah pucat ketika tangannya meraih kenop emas. Baekhyun melihat neneknya sedang duduk di kasur megah yang cukup tinggi, memejamkan matanya, rambutnya sudah seluruhnya beruban, berwarna perak di atas wajahnya yang pucat. Begitu mendengar pintu dibuka, sepasang mata itu membuka, warnanya biru elektrik, berkilau, mengingatkan Baekhyun pada kucing siam. Yoongi langsung menjatuhkan dirinya di lantai marmer, duduk berlutut dengan posisi menghadap sang Empress. Baekhyun awalnya terbengong, namun segera mengikuti gerak-gerik Yoongi. Terjadi hening canggung yang cukup lama, sebelum dehaman serak neneknya menginterupsi.
"Pergi dari sini, pelayan sialan," desis Zita, mengubah bahasanya menjadi bahasa Rusia. Yoongi berdiri, membungkuk sembilan puluh derajat, lalu beranjak pergi. Baekhyun keringat dingin, bahkan dia tidak bisa menemukan keberaniannya untuk menatap neneknya sendiri. Kemudian dia merutuk, teringat peraturan nomor 17, yang menjelaskan tentang tata cara menghormati yang lebih tua; salah satunya adalah dengan tidak menatap mereka tepat di mata. Peraturan ini dibuat oleh mendiang nenek buyutnya, Empress Elisabeth.
"Duchess Mary Elizabeth Anastasia Veronika Antoinette Byun Baekhyun," Zita menyebutkan nama lengkap Baekhyun, tandanya dia sudah sangat marah atau terganggu. "Apakah kabur dari rumah adalah sesuatu yang diajarkan oleh leluhurmu?"
"T-tidak, E-empress," jawab Baekhyun tersendat-sendat.
"Jujur, sejak dulu memang aku malu mengakuimu dan kakakmu sebagai cucuku. Dan mendengar kabar bahwa kau, adik kembarmu, dan kakakmu yang sialan itu kabur ke sini, aku jadi semakin ingin mengeluarkanmu dari silsilah keluargaku yang terhormat," jelasnya cepat. "Apa bagusnya Korea? Di sini sangat panas dan berisik. Orang-orangnya tidak seramah menantuku. Aku tidak suka Korea."
Baekhyun diam saja, padahal di dalam hatinya, dia mati-matian menahan kesal.
"Di mana Joseph Antonio?"
Joseph Antonio adalah nama adik kembar Baekhyun.
"Dia sedang tidak berkenan datang kemari, Empress."
Zita mendengus tak peduli. "Aku memanggilmu kemari untuk berbicara sesuatu, bersangkutan dengan martabatmu sebagai seorang duchess dan hakikatmu sebagai seorang perempuan, ibu, dan istri."
"Tentu saja, Empress, silakan. Saya akan merasa amat terhormat dan senang mendengarnya," Baekhyun berusaha menetralkan suaranya agar tidak ketahuan berbohong.
"Pada dasarnya, semua gadis di keluarga kami menikah sebelum mereka sembilan belas tahun," Zita beralih menatap ornamen-ornamen kristal yang terpajang di rak besar di sebelah tempat tidur. "Akan menjadi suatu penghinaan dan perbuatan memalukan jika gadis di keluarga kami menikah di usia sembilan belas atau lebih dari itu. Usiamu akan delapan belas tujuh bulan lagi, Anastasia. Bawa calon suamimu kemari secepatnya, mumpung aku akan menetap di sini untuk seterusnya."
Astaga, dasar wanita tua bangka tak berguna! Kau tak berhak mengatur-ngatur hidupku! "T-tentu saja, Empress."
"Jika kau tidak segera membawa calon suamimu kemari secepatnya, aku akan menjodohkanmu dengan salah satu teman bangsawanku," nada bicara Zita berubah datar. "Ingat, Anastasia, kau tak boleh membawa laki-laki yang berasal dari kalangan di bawah kita. Itu merupakan penghinaan terbesar bagi keluarga, dan aku juga tak sudi punya cucu menantu rakyat jelata. Dan kakakmu, Louisa Marietta Eleanor, telah sangat mengecewakanku."
"Saya memohon maaf atas nama kakak saya, Empress," kata Baekhyun. Kepalanya mulai pegal karena terus-terusan menunduk.
"Dan aku mau kau berhenti bekerja. Aku benar-benar malu memiliki cucu yang bekerja seperti rakyat kampungan," Zita mencemooh. "Mulai sekarang kau harus tinggal di sini. Bersama ibu tirimu dan ayahmu."
Cih, siapa yang sudi menyebut si jalang itu dengan sebutan ibu? "Tentu."
"Kau tak dibesarkan untuk bekerja seperti sapi di sawah, Anastasia. Kau adalah seorang keturunan bangsawan, putri terhormat, duchess, seseorang yang memiliki gelar. Ayahku akan sangat malu jika mengetahui bahwa keturunannya bekerja serabutan di luar sana."
"Baik, Empress."
"Ingat, kau harus sudah memperkenalkan calon suamimu padaku sebelum umurmu delapan belas tahun. Calon suamimu haruslah seseorang yang jelas asal-usulnya, laki-laki yang bertanggung jawab, sukses secara material, fisik, dan otak. Kau tak boleh membawa laki-laki yang tidak sederajat dengan kita, atau kau akan mempermalukan keluarga kita, lagi. Dan yang paling penting, calon suamimu haruslah seseorang yang taat beribadah," Zita mengibaskan rambut panjang kusutnya ke belakang.
"Tentu saja saya akan melakukannya, Empress," kata Baekhyun.
"Seks berlebihan adalah sesuatu yang tak baik. Ingatlah, Yesus melihatmu kapan saja, di mana saja. Apakah kau tak malu jika Dia melihatmu terus-terusan mendesah di bawah suamimu? Kau akan masuk Neraka," nenek tua itu terus mengoceh. "Seks adalah dosa besar. Dan berikan suamimu pelayanan terbaik agar dia tidak bisa menyetubuhimu lagi. Aku tak pernah membesarkan anak-cucuku untuk menjadi seseorang yang tak taat beribadah. Hanya ibumu yang suka membangkang. Cih, dasar cucu tak berguna. Dan aku sangat malu memiliki menantu seperti Siwon.
"Dan, jika kau tak memperkenalkan calon suamimu padaku secepatnya, aku akan menjodohkanmu dengan Wu Yifan," kata-kata Zita berhasil membuat Baekhyun melongo lebar. "Wu Yifan atau Park Chanyeol. Hanya itu pilihanmu. Di usiamu yang kedelapan belas, kau harus sudah bertunangan. Lalu, saat kau sembilan belas tahun, kau akan menikah. Ah, ideal sekali."
"P-park Chanyeol?" Baekhyun bergidik ngeri. Setahunya, Park Chanyeol adalah orang aneh, suka mencampuri urusan orang, wajahnya agak mengerikan karena senyumnya yang luar biasa lebar dan telinganya yang selebar peri-rumah Harry Potter. Dia bukannya tak suka, dia hanya merasa terganggu karena si manusia Park itu selalu tersenyum ke arahnya macam orang idiot. Orang Korea memang aneh-aneh, menurut Baekhyun, mereka selalu tersenyum kepada seseorang yang bahkan mereka tidak kenal. Di keluarganya, tersenyum kepada orang lain adalah hal yang buruk dan tak sopan. Baekhyun menyesal duduk di sebelah Chanyeol, menyesal sekali.
"Wu Yifan dan Park Chanyeol kebetulan bersekolah di tempat yang sama dengan kau. Wajah Yifan mungkin sudah tidak asing lagi bagimu, kalian adalah teman dekat, kan?" jemari kurus Zita mengelus-elus cincin warisan nenek moyangnya. "Kalau soal Park Chanyeol, aku tidak tahu banyak. Yang kudengar hanyalah dia sekelas denganmu, itu saja."
"Empress, jikalau saya diizinkan bertanya, tidak bolehkah saya memilih pendamping hidup saya sendiri?" kata Baekhyun cepat-cepat.
"Pilihanku adalah yang terbaik, terserah kau mempercayainya atau tidak. Kau boleh memilih calon suamimu sendiri, asalkan dia memenuhi kriteria dan syarat menjadi menantu di keluarga ini," ucap Zita, nada bicaranya sedingin es. Jelas bahwa dia tersinggung. "Aku tidak mau melihatmu mempermalukan keluarga lagi. Kita adalah keluarga ningrat, berdarah-biru, suci, memiliki gelar. Kita adalah keturunan bangsawan, Veronika, bangsawan yang terhormat."
"Tentu saja, Empress, saya akan memilih yang terbaik dari yang terbaik," jawab Baekhyun.
"Yang terbaik dari yang terbaik saja tidak cukup, Veronika. Charles dan aku, kami berdua menyukai sesuatu yang murni dan steril. Usahakan suamimu sudah berdarah ningrat sejak lahir. Aku tidak suka memiliki menantu yang berasal dari rakyat jelata," Zita memejamkan matanya. "Wu Yifan dan Park Chanyeol sudah memenuhi kriteria yang dibuat oleh mendiang kakek buyutku. Mereka sama-sama terhormat dan murni. Mereka sukses secara material, fisik, dan otak. Pilihlah calon suami yang seperti mereka."
Aku tidak sudi punya suami idiot bertelinga peri macam si Park dan searogan si Wu. "Baiklah, Empress, perkataan Anda adalah perintah bagi saya."
"Bagus. Kau adalah cucuku yang paling penurut, Veronika," meskipun sedingin es, Baekhyun masih bisa mendengar ada ketulusan di dalam suara neneknya. "Tapi aku lebih suka Wu Yifan. Aku telah mengenalnya sejak dulu, jadi aku tahu betul bagaimana sifatnya."
"Ya, Empress."
"Kutekankan lagi, kau harus sudah memiliki pasangan sebelum menginjak delapan belas tahun. Pilihlah seseorang yang bisa sesempurna Wu Yifan atau Park Chanyeol. Kalau bisa, pilihlah satu di antara mereka," Zita terbatuk-batuk kecil. "Dan aku juga ingin mengingatkan, kau harus banyak-banyak berendam di air susu. Kulitmu semakin kusam."
Baekhyun spontan mengecek kulitnya. Tidak terlalu buruk, masih sepucat biasanya.
"Kau tahu betapa pentingnya menjaga bentuk tubuh, Veronika. Makan lebih banyak sayur, pakai tabir surya sesering mungkin, dan berendam di air susu kambing setidaknya tiga hari sekali. Kau akan menjadi secantik nenek buyutmu jika kau melakukannya," Zita menguap anggun. "Sudah. Pergi dari sini. Aku sudah tidak membutuhkanmu."
"Tentu saja, Empress," Baekhyun menghela napas lega. Akhirnya, lehernya bisa digerkkan. "Saya pamit dulu. Selamat siang."
Dia berjalan kembali menuju meja makan. Wajahnya memerah mendengar suara geraman yang berasal dari perutnya, untung saja dia sendirian di sini. Baekhyun menikmati makanannya dalam diam; semangkuk kecil bibimbap dan air putih. Ibunya tidak pernah membesarkannya menjadi gadis rakus, apalagi makan dengan porsi sekecil mungkin sudah menjadi tradisi di keluarganya. Dia berlari kecil ke arah timbangan berat badan yang ada di ujung ruangan. Senyum lebar tercetak di wajah cantik Baekhyun, dia berhasil menurunkan lima kilo dalam tiga hari ini, dan sekarang berat badannya tiga puluh tujuh kilogram, dua kilogram lagi menuju berat badan yang ideal menurut keluarga ibunya.
"Nona," Seokjin datang menghampirinya. "Kata Empress Zita, saya harus membantu Anda berkemas. Apakah kita bisa pergi sekarang? Mobil sudah menunggu di depan untuk Anda, Nona."
"Kita jalan kaki saja. Aku harus menurunkan berat badanku dua kilogram lagi," kata Baekhyun.
"Tetapi, maafkan saya, Nona, jarak dari sini ke rumah kontrakan Anda sejauh dua kilometer. Anda bisa pingsan, Nona, terlebih lagi Anda belum makan," tolak Seokjin halus.
"Aku sudah makan bibimbap, kok, suer deh."
"Nona, Anda sudah terlalu kurus. Anda tidak perlu lagi menurunkan berat badan Anda."
"T-tetapi, i-ini tradisi. Ibuku tidak suka dibantah," Baekhyun menunduk seiring dengan suaranya yang semakin serak. Sialan, kenapa air matanya harus turun sekarang? "Aku ingin menjadi putri terbaik untuk ibuku. A-aku ingin minta maaf padanya, k-ka-karena aku belum b-bisa jadi putri yang baik..."
Baekhyun menyedot ingusnya dan merubah ekspresi wajahnya menjadi datar kembali. "Kutunggu kau di mobil, Seokjin."
Seokjin hanya bisa tersenyum miris melihat punggung ringkih nonanya yang perlahan menghilang di balik pintu. "Baekhyun-ie..." dia bergumam masygul. "Nyonya Kibum pastilah merasa bangga memiliki putri sepatuh dan sebaik dirimu..."
Wer ist da: Who is it? (Jerman)
Ich bin es, Kaiserin: This is I, Empress
Herzogin Mary Elizabeth ist auch hier, meine dame: Duchess Mary Elizabeth is here too, my lady
Komm herein: come in (warning~ warning~ warning~ OK STAHP)
TBC.
review? no? k then.
