Chapter 3

Main Cast :

Chanyeol: Raja dari kerajaan Viering

Baekhyun: Putri satu satunya dari bangsawan Earl of Hielfinberg

Grand Duke / Duke of Krievickie / Jungsoo: Penasehat Raja, ayah kandung dari Luhan & Sehun

Luhan & Sehun

Jongin / Duke of Binkley: Sepupu dari Chanyeol, putra mahkota Viering

Kyungsoo / Duchess of Binkley

Earl of Hielfinberg / Kyuhyun

*Duke/Duchess itu adalah tingkatan dari pemimpin bangsawan, Earl/Count juga bangsawan tetapi lebih rendah dari Duke/Duchess.

.

.

Earl termangu menatap gambar diri istrinya yang telah lama tiada.

"Apakah keputusanku ini tepat, Virgie?" ujarnya, "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan?"

Kemarin ketika Grand Duke mengungkapkan lamarannya itu, satu satunya reaksi yang ditemukan Earl adalah berseru dengan keras,

"APA!?"

"Bukan. Bukan itu," Grand Duke buru-buru menjelaskan, "Maksudku, aku ingin dia menikah dengan Paduka Raja."

Earl membelalak.

"Paduka telah setuju menikahi Baekhyun."

Earl duduk kaget. "Tidak mungkin, Jungsoo. Kau mengenal Baekhyun. Ia… ia tidak pantas menjadi seorang Ratu."

"Sebaliknya," Grand Duke berkata penuh percaya diri, "Aku pikir hanya dia yang pantas."

Earl membisu. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Hingga saat ini pun ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

"Katakan padaku, Virgie bila keputusanku ini tepat," lagi-lagi ia bergumam.

Baekhyun membuka pintu Ruang Perpustakaan. Ia melihat ayahnya sedang berdiri menatap lukisan diri ibunya. Seperti yang dikatakan Nicci, ia tampak begitu galau.

"Mama memang cantik. Ia adalah wanita paling cantik yang pernah aku temui," Baekhyun berdiri di samping ayahnya.

Earl menatap putrinya lalu kembali ke lukisan istrinya. "Ia adalah wanita yang hebat."

"Aku menyayanginya," Baekhyun memeluk ayahnya, "Aku juga menyayangi Papa."

Earl melingkarkan tangan di pundak Baekhyun. "Bagaimana perjalananmu ke kota?"

Baekhyun tidak terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia yakin ayahnya tahu kebiasaannya ini.

"Menarik," jawab Baekhyun, "Aku bertemu Sehun. Saat ini ia sedang dikerumuni orang-orang yang ingin mendaftarkan diri pada Jungsoo."

Baekhyun tertawa geli membayangkan reaksi Sehun mendapat serbuan para wanita yang penuh ingin tahu itu.

Earl mendesah panjang.

Baekhyun terkejut. "Apa yang terjadi, Papa? Sepertinya kau tidak senang mendengarnya."

"Kurasa kita perlu duduk," Earl membimbing Baekhyun ke sofa.

Sikap Earl yang lain dari biasanya itu membuat Baekhyun curiga.

"Dengarlah apa yang akan kukatakan padamu."

Baekhyun dapat mencium ketidakberesan.

"Kau tahu Jungsoo mendapat tugas penting dari Paduka Raja, tugas yang sangat penting, tugas yang menyangkut masa depan Viering."

"Ya," Baekhyun mengangguk. "Ia ditugasi untuk menemukan gadis yang tepat untuk menjadi Ratu Viering."

"Aku yakin kau telah mendengar kabar Jungsoo telah menentukan pilihannya," kata Earl kemudian.

Baekhyun terperanjat. Apakah mungkin berita yang baru didengarnya pagi ini benar? Jungsoo pasti tidak akan melakukan itu. Ia pasti tidak akan mengorbankan putrinya sendiri walau ia tahu ini demi masa depan Viering. Hanya orang tolollah yang tidak tahu pernikahan ini hanyalah demi menyelamatkan muka Viering.

"Papa… kau tidak mengatakan itu, bukan. Itu tidak mungkin terjadi."

"Ya, Baekhyun," Earl berkata dengan penuh penyesalan, "Jungsoo memilihmu."

Memilihmu…

Baekhyun membelalak. Untuk sesaat Baekhyun merasa ia tidak berada di dunia nyata. "Tidak mungkin! Itu tidak mungkin," Baekhyun menggelengkan kepala – mencoba mengeluarkan kata 'memilihmu' itu dari otaknya.

"Jungsoo memilihmu dan aku telah menyetujuinya. Kau harus mengerti ini demi masa depan Viering."

Baekhyun membelalak. Ia tidak percaya ayahnya akan melakukan hal ini.

"Aku tidak mau!" Baekhyun menolak, "Aku tidak mau menikah dengan Chanyeol! Aku tidak mau menikah dengan plaboy kelas atas itu. Mati pun aku tidak mau!"

"DIAM!" suara Earl Hielfinberg meninggi.

Baekhyun terperanjat. Ayahnya tidak pernah mengeluarkan nada setinggi ini padanya. Ayahnya tidak pernah sekali pun memarahinya!

"Kau tidak mempunyai pilihan lain. Kau harus menikah dengan Paduka Raja dan aku telah menyetujuinya."

Baekhyun terpukul. Ia menatap ayahnya putus asa.

"Aku tidak mengerti mengapa Jungsoo memilihmu tetapi aku yakin ia mempunyai pandangannya sendiri," gumam Earl.

"Aku tidak percaya!" Baekhyun berseru kesal, "Aku akan mencari Jungsoo!"

Sebelum Earl sempat mencegah Baekhyun, gadis itu telah berlari menuju istal. Kehadirannya yang tiba-tiba mengagetkan para penjaga istal.

"Siapkan kuda untukku," Baekhyun memberi perintah dan ia menekankan,

"Sekarang juga!"

Dengan segera mereka memasangkan pelana di atas seekor kuda dan Baekhyun pun melesat dengan cepat ke Mangstone. Dalam perjalanan itu ia hanya berpikir bagaimana ia akan mengorek berita dari Jungsoo.

Ia akan membuat Jungsoo menjelaskan semua ini padanya.

Ia tidak memperhatikan orang-orang yang keheranan melihat seorang pelayan berkuda dengan kencang. Ia terlalu tergesa-gesa untuk memperhatikan mereka. Ia terlalu tergesa-gesa untuk membalas beberapa kusir kuda yang marah oleh caranya menggendarai kuda yang mengebut itu.

Para pelayan Mangstone pun terkejut melihatnya tiba-tiba muncul dan tanpa basa-basi membuka pintu.

Untunglah mereka telah mengenalnya dengan baik, bila tidak ..mungkin Baekhyun sudah diusir. Saat ini ia tidak tampak sebagai putri Earl of Hielfinberg. Ia lebih tampak sebagai seorang pelayan muda dengan gaunnya yang hitam dan celemek putih.

"Jungsoo!" serunya, "Jungsoo! Kau ada di mana?"

Baekhyun terus berseru keras sambil menuju Ruang Makan. Ia yakin mereka berada di sana. Ia tahu mereka masih menikmati makan pagi mereka.

Luhan muncul membuka pintu Ruang Makan dengan cemas. "Apa yang terjadi, Baekhyun?" Dan ia terpekik melihat gaun pelayan yang dikenakan Baekhyun.

"Mengapa kau seperti ini? Mengapa engkau berpakaian seperti ini!?"

"Di mana Jungsoo?" Baekhyun mengabaikan kekagetan wanita itu.

"Papa tidak ada di sini," sebuah suara menjawab dari dalam.

Baekhyun melihat Sehun sudah kembali ke Mangstone dan sedang menikmati makan paginya bersama Luhan.

"Pagi ini kau benar-benar keterlaluan," Sehun mengingatkan Baekhyun akan dosanya, "Kau benar-benar membuat aku kewalahan."

"Di mana Jungsoo?" Baekhyun bertanya sekali lagi dengan tegas.

"Papa sudah berangkat ke Istana," jawab Luhan, "Apa yang terjadi padamu, Baekhyun? Mengapa kau tergesa-gesa seperti ini?"

"Kau tidak akan mempercayai ini, Luhan," Baekhyun memeluk wanita itu. Ia ingin menumpahkan semua kekesalannya pada wanita itu. Ia ingin menjerit keras-keras untuk memuaskan diri.

"Papa sudah gila. Ia mengorbankan aku. Ia membiarkan Jungsoo memilihku menjadi mempelai Chanyeol."

Luhan terpekik kaget. "Benarkah itu!?"

Satu-satunya orang yang tidak terkejut di ruangan itu adalah Sehun.

"Mereka semua tidak waras! Bagaimana mungkin mereka membiarkan aku menjadi Ratu Viering!?" Baekhyun berkata dengan penuh amarah.

"Mereka sudah dibuat sinting oleh si sial Jongin!"

"Wah… wah… Sungguh tidak terduga gadis tomboy ini akan menjadi Ratu," goda Sehun.

"Tidak lucu!" Baekhyun memasang muka masamnya.

Luhan tersenyum. "Kau akan membuat setiap wanita cemburu. Paduka memilihmu."

"Aku hanyalah alat untuk mendapatkan keturunannya," kata Baekhyun tidak senang, "Dan menghentikan Kyungsoo mencoret muka kerajaan ini." Tambahnya.

"Jangan khawatir," hibur Luhan, "Ia pasti akan mencintaimu. Kau adalah gadis yang menarik."

"Benar," sambung Sehun tersenyum nakal, "Sebelum ia mengusirmu dari Istana."

Baekhyun menatap tajam pria itu.

Luhan tertawa geli.

"Jangan khawatir," Luhan meletakkan tangan di kepala Baekhyun dan mengelusnya dengan lembut seperti yang biasa setiap kali ia menghibur Baekhyun, "Kami tidak akan membiarkan ia menyakitimu."

"Katakanlah padaku bila ia menyakitimu," Sehun berkata serius, "Aku akan membuat perhitungan dengannya tak peduli siapa pun dia."

Baekhyun terharu.

"Tapi itu jika ia belum babak belur," Sehun menambahkan sambil tersenyum geli.

"Sehun!" Baekhyun marah. Ia berdiri dan menyerang Sehun.

"Hentikan!" Luhan segera menahan Baekhyun.

Kedua orang ini memang selalu seperti ini. Sehun suka menggoda Baekhyun. Tak jarang pula ia berkelahi dengan Baekhyun. Untungnya, seiring dengan pertambahan usia mereka, frekuensi perkelahian mereka berkurang.

Hubungan mereka sangat akrab tapi tidak akan pernah ada cinta di antara mereka. Mereka saling menganggap yang lain sebagai saudara. Walaupun tidak sedarah, mereka bertiga telah menjadi saudara akrab.

"Kau tidak boleh seperti ini," Luhan memarahi, "Dan kau, Sehun, kau tidak boleh terus menggoda Baekhyun. Ia akan segera menjadi seorang Ratu."

Baekhyun membelalak.

"Mulai saat ini kau harus merubah dirimu," Luhan meneruskan dengan serius, "Aku tidak akan membiarkanmu bertindak kasar lagi. Aku akan melatihmu menjadi seorang gadis anggun."

"Mengapa tidak seorang pun dari kalian yang berada pada pihakku!?"

Sehun tidak berkata apa-apa. Ia sudah tahu Baekhyun akan seperti ini. Ia sudah menduganya. Mungkin itulah sebabnya Earl tidak segera memberitahu Baekhyun.

Luhan terdiam.

"Mengapa? Mengapa kalian menyetujui ide gila ini!?"

Untuk sesaat Sehun menduga Baekhyun akan menangis tetapi gadis itu malah berseru keras dan penuh amarah, "Apa kalian sudah ikut tidak waras?"

"Bukan begitu, Baekhyun," Luhan mencoba menenangkan, "Kami selalu berada di pihakmu. Kami selalu mendukungmu." Tangan Luhan terulur meraih tangan Baekhyun.

Baekhyun menjauhkan diri. Ia menatap kedua temannya itu dengan marah.

"Kami tidak dapat berbuat apa-apa," Sehun ikut turun suara, "Papa telah memutuskan. Paduka Raja pun telah menyetujuinya. Tidak seorang pun yang bisa merubahnya. Kali ini keadaan benar-benar mendesak. Ini bukan main-main, Baekhyun. Aku percaya engkau cukup cerdas untuk memahami apa yang tengah terjadi."

Baekhyun tahu ini akan terjadi. Ia tahu Chanyeol akan menikah untuk menyelamatkan masa depan Viering tetapi mengapa dirinya? Mengapa harus dirinya yang menjadi tumbal?

"Pilihan Papa tidak mungkin salah," Luhan menatap Baekhyun serius,

"Engkau tidak ingin mengatakan Papa mengambil keputusan tanpa pertimbangan, bukan?"

Baekhyun tidak dapat membantahnya.

Ia menyayangi Grand Duke seperti ia menyayangi ayahnya. Baginya mereka berdua adalah orang tuanya. Ia percaya pada Grand Duke. Ia mengagumi Grand Duke yang masih cekatan di usianya yang tidak muda itu. Ia selalu mengelu-elukan Grand Duke selain ayahnya.

Luhan merangkum wajah gadis itu – menatapnya lekat-lekat dan berkata lembut, "Papa pasti melihat sesuatu pada dirimu yang tidak ada pada gadis lain."

"Tapi mengapa aku?" Baekhyun masih memprotes.

"Kau adalah gadis yang manis," Luhan terus meyakinkan Baekhyun, "Engkau adalah gadis yang cantik."

Sehun melihat Luhan akan membutuhkan waktu sepanjang hari untuk menenangkan Baekhyun dan ia memutuskan,

"Luhan, kau tetaplah bersama Baekhyun. Aku akan menangani masalah di luar."

Baekhyun melihat kepergian Sehun dengan heran.

"Biarlah Sehun pergi mengurus orang-orang yang mencari Papa," Luhan membimbing Baekhyun ke dalam Ruang Makan, "Kau bisa bergabung denganku. Aku yakin kau belum sarapan."

Ketika Luhan menghabiskan waktu sepanjang pagi itu untuk meyakinkan Baekhyun, sang Grand Duke sedang kerepotan di Istana. Selain Grand Duke, beberapa menteri juga kerepotan menerima tugas dari Chanyeol.

Chanyeol ingin pernikahannya segera dilangsungkan. Ia ingin segera menjalankan rencananya menghentikan langkah Jongin.

Ia tidak akan membiarkan wanita yang tak jelas asal usulnya itu bersenang-senang terlalu lama. Ia menyuruh Pengurus Rumah Tangga Fyzool mengatur jadwal pesta pernikahannya dan acara jamuan pesta pernikahannya.

Ia menginginkan Menteri Luar Negerinya segera mengirim undangan kepada negara-negara tetangga. Ia ingin Menteri Sosialnya mendaftar tamu-tamu yang harus ia undang. Ia meminta Jenderal Utama Viering memperketat penjagaan selama pesta pernikahannya.

Ia telah memikirkan semuanya semalam setelah Jungsoo memberitahukan pilihannya. Ia menginginkan semuanya segera dilaksanakan dengan cepat dan tanpa cacat setelah ia menyetujui pilihan Jungsoo.

Setiap hal yang terpikirkan oleh Raja Muda itu telah diserahkan kepada mereka yang bertanggung jawab.

"Putri Earl of Hielfinberg," gumam Kaven ketika mereka meninggalkan Ruang Rapat.

"Apakah Earl mempunyai seorang putri?" tanya Chad, sang Menteri Dalam Negeri.

"Ya, ia punya," jawab Domingo, "Aku masih ingat ia memeluk seorang gadis kecil dalam upacara penghormatan korban Red Invitation."

"Aku ingat sekarang!" seru Chad, "Sudah lama sekali aku tidak mendengar berita tentang Earl Hielfinberg."

"Ia mengurung dirinya semenjak kematian istrinya," kata Kaven.

"Semenjak itu ia terus melindungi putrinya dengan ketat. Ia benar-benar takut kehilangan putrinya. Sepertinya luka yang ditinggalkan oleh istrinya benar-benar serius."

"Bagaimanakah rupa putrinya, Jungsoo?" tanya Vicenzo tertarik, "Aku yakin kau pasti sering bertemu dengannya. Kudengar kalian adalah sahabat baik."

"Ia adalah gadis manis yang ceria," Grand Duke tersenyum membayangkan wajah manis Baekhyun yang selalu tersenyum itu, "Ia adalah anak yang baik."

"Aku sungguh tidak menyangka Earl akan memberikan putrinya begitu saja," komentar sang Menteri Sosial.

"Ia tahu ini bukan main-main. Ini adalah masalah serius," Grand Duke memberikan penjelasan, "Ini menyangkut masa depan Viering."

"Tindakanmu cukup cepat juga, Jungsoo," sang Jenderal Besar Viering, Geert, memberikan pujiannya, "Baru kemarin Paduka memberimu perintah dan hari ini kau sudah memberikan jawaban."

"Kurasa ia bertidak cepat untuk menghindari segelintir orang," kata Vicenzo.

Mereka tertawa.

"Mereka terpaksa pulang dengan tangan hampa karena kau sudah memutuskan," Domingo tersenyum geli.

"Lowongan sudah ditutup," Geert menegaskan.

Sekali lagi mereka tertawa.

"Aku ingin tahu kapankah berita ini akan tersebar luas," gumam Kaven.

Mereka tidak perlu menanti terlalu lama untuk menunggu seluruh Viering mengetahui kabar ini. Bukan saja karena Sehun selalu memberitahu para tamunya, "Papa pergi ke Istana untuk merencanakan pesta pernikahan Kerajaan bersama Paduka."

Tetapi juga karena surat kabar khusus yang muncul beberapa jam kemudian.

"Berita khusus! Berita khusus!" teriak setiap penjaja Koran, "Calon Ratu Kerajaan telah ditentukan! Viering akan mempunyai ratu!"

Sementara berita itu menjalar dengan cepat di seluruh Viering, Luhan masih sibuk menenangkan Baekhyun di Ruang Keluarga Mangstone. Ia mendengarkan keluhan-keluhan Baekhyun sekaligus menasehati gadis itu.

Di tengah pembicaraan kedua wanita itu dari hati ke hati itulah, Sehun masuk.

"Nicci datang," ia memberitahu Baekhyun.

"Earl pasti menyuruh Nicci menjemputmu," Luhan menggenggam tangan Baekhyun – meyakinkan gadis itu, "Ia pasti mencemaskanmu."

"Tuan Puteri," Nicci muncul, "Yang Mulia mengirim saya ke sini untuk menemani Anda. Kata Yang Mulia, Anda harus tinggal selama beberapa hari di Mangstone untuk belajar tata krama pada Lady Luhan. Saya sudah membawa pakaian ganti Anda dan kebutuhan-kebutuhan yang lain."

"Lihat, ia sama sekali tidak mencemaskanku," cibirnya.

Seorang pelayan masuk memberikan selembar kertas pada Sehun. "Ini baru saja diantar, Tuan Muda," katanya memberitahu.

Sehun melihat sebaris tulisan besar di bagian atas kertas itu.

"Kurasa aku tahu mengapa Earl mengungsikanmu ke sini," ia tersenyum lebar.

"Apa itu?" tanya Baekhyun tertarik. Ia langsung berdiri dan merebut kertas itu dan tangan Sehun.

CALON RATU VIERING TELAH DITENTUKAN!

Raja Chanyeol Akhirnya Memutuskan untuk Mematahkan Sumpahnya Sendiri.

Pesta pernikahan kerajaan sudah di ambang mata! Hanya dalam sehari setelah Paduka Raja mentitahkan Grand Duke untuk mencari calon istrinya, Duke Krievickie telah menjatuhkan pilihannya.

Sang calon mempelai tak lain adalah putri Earl of Hielfinberg, Lady Baekhyun.

Tidak banyak yang diketahui dari Lady yang tidak pernah muncul ini. Ia tumbuh dewasa tanpa kehadiran ibunya. Countess Virgie adalah salah satu korban dalam peristiwa Red Invitation. Dan semenjak itu, Earl tidak pernah meninggalkan Hielfinberg demikian pula sang putri.

Kita tidak tahu persis seperti apakah calon Ratu Viering tetapi kita yakin ia jauh lebih baik dan lebih terhormat dari Kyungsoo, sang Duchess of Binkley yang berada di urutan kedua posisi Ratu Viering.

Yang Mulia Paduka Raja Viering, Chanyeol Arcalianne akhirnya mengambil langkah tepat untuk menyelamatkan Viering dari aib yang memalukan.

"Bagus," Baekhyun geram, "Sekarang seluruh dunia sudah mengetahuinya,"

Ia meremas kertas itu. Ia sudah bukan anak kecil lagi yang tidak mengerti mengapa ayahnya menyuruhnya tinggal di Mangstone. Dulu hal ini juga pernah terjadi. Beberapa saat setelah peristiwa Red Invitation, Earl menitipkan Baekhyun di Mangstone untuk beberapa waktu hingga keramaian akibat peristiwa itu mereda.

Dulu ia terlalu kecil untuk mengerti ayahnya sedang menghindarkannya dari pusat perhatian tetapi sekarang ia sudah mengerti.

"Saya melihat beberapa kereta menuju Schewicvic dalam perjalanan saya ke tempat ini," Nicci melaporkan.

Sehun langsung tertawa geli, "Mereka pasti tertipu. Mereka pasti mengira kau ada di Schewicvic."

"SEMPURNA SUDAH!" seru Baekhyun kesal, "Sekarang aku tidak bias kembali ke Schewicvic. Wanita sial itu pasti puas. Ini semua gara-gara pelacur yang tidak tahu diri itu!"

"Baekhyun!" bentak Luhan, "Kau tidak boleh berkata sekasar itu! Kau harus merubah caramu bersikap dan bertutur kata. Kau akan menjadi Ratu Viering. Kau tidak boleh bertindak sembarangan. Dan kau, Sehun,"

Ia melotot pada adiknya, "Jangan sekali-kali kau mempengaruhi Baekhyun!"

Mereka terdiam. Kali ini Luhan benar-benar marah!

"Kita harus mulai mengatur jadwal pelajaran tata krama Baekhyun. Kita harus mengajari Baekhyun cara seorang bangsawan bersikap. Ia harus bias bersikap anggun dan halus seperti layaknya seorang lady. Tetapi mula mula kita harus mengubah dandanan Baekhyun,"

Luhan mengamati Baekhyun dari kepala hingga ke ujung kakinya dengan mendetail sehingga membuat Baekhyun merasa Luhan sedang menelanjanginya. "Kita harus memberi beberapa gaun baru untuk Baekhyun. Besok kita harus pergi ke Snell. Baekhyun akan membutuhkan banyak baju baru."

"Kita?" Sehun bertanya tidak percaya, "Aku tidak mau ikut."

"Aku tidak mau pergi kalau Sehun tidak ikut!" Baekhyun memprotes.

"Kau harus ikut, Sehun!" Luhan menegaskan, "Kami membutuhkan seseorang untuk membawakan barang-barang belanjaan kami."

Baekhyun tertawa puas.

"Seorang lady tidak boleh tertawa seperti itu!" hardik Luhan tegas, "Itu sungguh tidak sopan dan tidak berpendidikan. Kau harus menutup mulutmu ketika kau tertawa. Kau harus membuang jauh-jauh sikap kelaki-lakianmu. Mengerti?"

Baekhyun merasa hari-hari bahagianya sudah berakhir dan ia langsung cemberut.

Sehun menatap gadis itu.

"Nicci," Luhan berbalik pada pelayan pribadi Baekhyun, "Minta seseorang untuk menyiapkan kamar untuk Baekhyun dan pindahkan barang-barang ke sana. Kemudian pergilah ke Snell dan katakan pada Nicoleta besok kami akan datang setelah ia tutup. Ingat aku tidak ingin seorang pun tahu mengenai kedatangan kami. Katakan itu pada Nicoleta."

"Baik, Tuan Puteri, saya akan segera melaksanakan perintah anda," Nicci membungkuk. Wanita itu segera mengundurkan diri dari ruangan.

Luhan tidak berhenti di situ saja. Ia terus mengeluarkan perintah perintahnya.

Ia mengatur pelajaran tata krama Baekhyun selama gadis itu berada di Mangstone.

Sehun merasa ia tidak mempunyai cara lain selain menuruti perintah Luhan.

Luhan benar. Sekarang Baekhyun bukan sembarang gadis. Ia adalah calon Ratu Kerajaan Viering! Pikiran itu membuatnya mencemaskan Baekhyun.

Ternyata bukan hanya Sehun saja yang berpikir serius mengenai masa depan Baekhyun. Malam itu ketika Baekhyun sudah masuk ke kamar yang disediakan untuknya, Luhan datang ke kamarnya.

"Menurutmu," Luhan bertanya serius, "Mengapa Papa mengusulkan Baekhyun pada Paduka Raja?"

"Aku tidak tahu," jawab Sehun.

Luhan terlihat kecewa.

Luhan menegaskan. "Tetapi…," lagi-lagi ia menjadi ragu-ragu, "Kau tahu Earl selalu melindungi Baekhyun dalam tahun-tahun belakangan ini. Sejak peristiwa itu, ia begitu takut orang lain menemukan Baekhyun. Ia tidak ingin keceriaan Baekhyun terusik oleh berita-berita itu. Selama ini ia telah aman dalam perlindungan Earl. Dan besok, ia akan menjadi berita utama kerajaan ini. Mungkin selama sisa hidupnya ia akan terus menjadi bahan gosip seisi kerajaan ini."

Luhan menatap serius Sehun.

"Kau sendiri tahu bagaimana kejamnya gosip-gosip itu. Kau sendiri tahu bagaimana liciknya para wanita angkuh itu di dalam Istana. Kau juga tahu bagaimana menyiksanya menjadi topik gosip orang lain."

Sehun berdiam diri.

"Aku kasihan pada Baekhyun. Ia pasti tidak sanggup menghadapi semua ini. Aku tidak ingin melihatnya terluka oleh gosip-gosip itu."

"Jangan khawatir," hibur Sehun, "Baekhyun adalah gadis yang kuat. Ia pasti bisa mengatasi semua ini. Aku juga tidak akan membiarkan ia dilukai siapa pun. Aku akan menantang siapa pun yang berani mengusiknya."

"Dan membuat gosip baru?" sergah Luhan tidak senang. "Semua orang akan mengira Baekhyun berselingkuh denganmu kalau kau sampai melakukan itu."

"Tidak akan," Sehun meyakinkan, "Semua orang tahu ia telah kuanggap kakak kandungku."

"Siapa yang mau peduli?" tanya Luhan tajam, "Begitu Baekhyun memasuki Fyzool, ia adalah sasaran empuk gosip-gosip celaka itu. Kalau kita tidak hati-hati, kita akan celaka juga. Kau tahu sendiri bagaimana kejamnya gosip itu."

"Aku berharap Baekhyun dapat mengatasi semua itu," pinta Luhan.

"Pasti," Sehun meyakinkan, "Baekhyun adalah gadis yang tegar."

.

.

.

Nicoleta memekik keras,

"Ya, Tuhan! Apa yang terjadi pada Anda? Mengapa Anda berpakaian seperti ini? Seorang Ratu tidak boleh berpakaian seperti gadis puritan."

Baekhyun langsung memasang muka cemberut. "Aku tidak memintanya," gerutunya.

Sehun tersenyum simpul melihat gadis itu. Tanpa berpikir pun ia tahu Baekhyun akan sangat tidak senang dengan berita ini. Baekhyun bukanlah seorang gadis yang bersumpah untuk tidak menikah tetapi ia adalah gadis yang bebas. Ia tidak suka dikekang.

Sebelum Baekhyun dilamar Raja, Sehun percaya Baekhyun akan menikahi seorang petualang bukan seorang bangsawan yang membosankan apalagi Yang Mulia Paduka Raja!

"Tolong kau percantik gadis ini, Nicoleta," Luhan memberitahu, "Ia akan membutuhkan banyak gaun baru."

Pria itu langsung mencermati gaun Baekhyun yang entah berapa bulan lalu dibelinya.

"Duduklah di sini," pria itu berkata dengan genitnya lalu dengan gayanya yang kewanitaan, ia mulai membongkar-bongkar koleksi gaun-gaunnya, "Saya masih menyimpan beberapa gaun terbaru saya."

"Keluarkan semua yang kau punya," kata Luhan, "Kau tahu gadis ini paling tidak suka disuruh membeli baju baru. Ia lebih suka memakai baju lamanya sampai robek-robek."

"Mengapa aku harus membuang uang kalau bajuku masih bisa dipakai?" protes Baekhyun.

Sehun langsung menyikut Baekhyun. "Jangan berbicara lagi," bisiknya memperingati, "Hari ini Luhan bukan Luhan yang biasa. Kau tahu itu."

Tetapi Baekhyun bukan gadis yang kenal takut. "Terus?" ia menantang.

Baekhyun kesal. Ia marah besar. Saat ini tidak ada lagi yang ditakutinya. Bahkan kematian pun akan ditantangnya.

Baekhyun mengerti keadaan Viering saat ini yang sulit. Ia paham seseorang harus berkorban untuk masa depan Viering tetapi mengapa harus ia? Mengapa harus ia yang menjadi tumbal? Dan mengapa harus pria yang paling menjemukan di dunia ini yang harus menjadi suaminya?

Walaupun di mata keluarganya, Baekhyun adalah seorang anak laki-laki dalam tubuh wanita, Baekhyun masih mempunyai impian tentang cinta.

Ia memimpikan sebuah cerita cinta yang manis. Ia akan jatuh cinta dengan pria yang menarik, pria yang akan membiarkannya terbang ke mana pun ia ingin, pria yang akan membawanya ke berbagai petualangan yang menarik. Ia menginginkan sebuah cinta yang manis dari pria yang benar-benar memahami dirinya seperti Sehun.

Ia menginginkan pernikahan yang penuh cinta! Ia sama sekali tidak menginginkan pernikahan konyol seperti ini! Apalagi dengan makhluk paling membosankan yang pernah ia ketahui di dunia ini.

Sehun memperhatikan Luhan yang masih sibuk memilih gaun bersama Nicoleta dan ia menjadi lega dibuatnya. Ia tidak dapat membayangkan kemarahan Luhan bila ia mendengar protes Baekhyun.

"Gaun ini cantik," Luhan menarik keluar sepotong gaun dari antara koleksi gaun gaun Nicoleta dan mempertunjukkannya pada mereka berdua. "Bagaimana menurut kalian?"

"Pilihan sempurna," puji Nicoleta menunjuk pada gaun hijau cerah di tangan Luhan.

Bunga-bunga musim semi yang segar tersulam indah dari sisi kanan dada gaun berleher rendah itu dan terus melintang hingga bagian pinggang kiri. Kain sifon hijau yang membentuk lengannya yang lebar dan panjang, merumbai rumbai lembut.

"Aku akan tampak seperti tumbuhan hidup," komentar Baekhyun.

"Cantik sekali," Sehun cepat-cepat berkomentar sebelum Luhan menyadari komentar Baekhyun itu, "Baekhyun akan tampak sangat cantik dalam gaun itu. Gaun itu benar-benar sesuai dengan sifat Baekhyun."

Namun rupanya Luhan telah mendengarnya karena setelahnya ia tidak pernah menanyakan pendapat keduanya.

Bersama Nicoleta ia terus menyibukkan diri memilih gaun untuk Baekhyun mulai dari gaun untuk dipakai sehari-hari, gaun untuk ke pertemuan-pertemuan penting hingga gaun pesta.

Baekhyun dibuat bosan olehnya. Pendapatnya sama sekali tidak dibutuhkan di sini.

Luhan memilih dan ia pula yang memutuskan apa yang cocok untuk Baekhyun.

Baekhyun merasa kehadirannya sama sekali tidak diperlukan di sini. Mengapa Luhan tidak mengambil ukurannya dan kemudian pergi ke tempat ini seorang diri?

Mengapa ia harus ikut serta? Baekhyun benar-benar bosan. Ia tidak bisa ke manamana.

Nicoleta, sang penjahit langganan mereka yang genit itu telah memerintahkannya untuk duduk manis di kursi yang ia sediakan dan Luhan tidak akan suka bila ia beranjak pergi dari situ.

Bukan hanya Baekhyun yang bosan. Sehun juga bosan melihat Luhan yang terus sibuk bersama Nicoleta. Ia ingin sekali meninggalkan tempat ini. Ia tidak ingin terus berdiam diri sambil memperhatikan Luhan memilih gaun tanpa kenal lelah itu.

Keduanya berharap Luhan segera selesai. Namun di saat Luhan sedang berada dalam suasana hati gembira dan tertarik seperti ini, rasanya itu sulit.

Sehun tahu Baekhyun juga sudah mulai menjamur seperti dirinya tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Luhan tidak akan suka ia membawa pergi Baekhyun. Dalam keadaan normal, Luhan tidak akan melarangnya.

Di lain pihak Sehun sendiri tidak ingin membawa Baekhyun pergi. Saat ini Baekhyun adalah incaran setiap orang yang ingin tahu. Mereka mungkin tidak mengenal Baekhyun tetapi mereka pasti mengenalinya. Ia adalah putra tunggal sang Grand Duke yang diharapkan menjadi penerus Grand Duke.

"Gaun-gaun ini begitu cantik, Nicoleta. Aku sungguh tidak tahu harus memilih apa," kata Luhan, "Untuk hari ini aku rasa ini cukup. Bila kami membutuhkan yang lain, aku akan memberitahumu."

Betapa leganya mereka mendengarnya.

"Ijinkan saya akan mengukur ukuran Anda, M'lady."

Baekhyun langsung melompat berdiri mendengar keinginan Nicoleta itu. Ia bertindak sangat manis dan penurut sehingga Nicoleta dapat dengan cepat menyelesaikan pengukuran tubuh Baekhyun.

"Aku ingin kau segera menyelesaikan gaun-gaun ini."

"Jangan khawatir, M'lady," kata Nicoleta, "Saya akan langsung mengerjakannya malam ini. Saya hanya perlu menyesuaikannya dengan ukuran Tuan Puteri."

"Kirimkan bon-bonnya ke Schewicvic," kata Luhan puas.

Baekhyun pun kegirangan. Ia langsung memeluk tangan kanan Sehun dan menariknya, "Ayo kita pulang."

Luhan hanya menggeleng kepala melihat ketidaksabaran Baekhyun. Ia sendiri sadar ia telah menyiksa Baekhyun dengan rasa bosan. Tiba-tiba mata Luhan terpaku pada sepotong baju yang tergantung di belakang koleksi gaun Nicoleta.

"Tunggu aku di luar. Aku masih mempunyai beberapa urusan," Luhan memberitahu.

Baekhyun tidak berkomentar apa-apa. Ia terus menarik Sehun meninggalkan toko itu dan begitu ia berada di luar ia berkata gembira,

"Akhirnya aku dapat menghirup udara bebas."

Sehun pun tertawa geli mendengar nada gadis itu yang seperti baru keluar dari penjara gelap.

Sementara itu Luhan mengambil sepotong baju yang menarik perhatiannya itu.

Nicoleta memperhatikan Luhan membentangkan celana panjang putih yang ketat itu dengan atasan merahnya dengan beberapa garis hitam dan sebuah pita di bagian lehernya yang tinggi.

"Aku rasa Baekhyun akan menyukai ini," Luhan berkata. Ia ingin membelikan baju ini untuk Baekhyun sebagai kompensasi rasa bersalahnya telah membuat gadis itu bosan.

"Lady Baekhyun pasti akan sangat cantik dalam pakaian berkuda itu. Ia akan mempesona tiap orang."

"Ya," Luhan sependapat, "Ia mempunyai bentuk tubuh yang sempurna." Lalu ia melihat Nicoleta, "Apakah baju ini sesuai dengan ukuran Baekhyun?"

"Ya, baju itu saya rancang untuk seseorang dengan tubuh kecil seperti Lady Baekhyun."

"Aku ambil baju ini," Luhan pun memberikan baju itu. Kemudian ia menambahkan, "Aku akan membayar tunai sekarang. Kau tidak perlu mengirimkan bonnya ke Schewicvic."

"Saya mengerti." Nicoleta tersenyum.

Pengurus Rumah Tangga Schewicvic tidak pernah heran menerima bon dalam jumlah banyak atas nama Luhan. Earl juga tidak pernah berkomentar. Mereka tahu bon-bon itu adalah bon pembelian Baekhyun.

Semua ini sudah berlangsung semenjak Countess Virgie meninggal dunia. Baekhyun yang masih kecil membutuhkan tangan seorang wanita. Dan Luhan lah yang mengambil peran itu.

Ia telah mengenal Baekhyun sebelum Countess Virgie meninggal. Mereka adalah kawan akrab sebelum bencana itu memisahkan mereka dengan ibu kandung mereka dan mereka menjadi semakin akrab setelahnya.

Luhan segera menyelesaikan pembayaran. Ia tidak ingin membuat Baekhyun dan Sehun menanti terlalu lama di luar atau mereka akan mengomel sepanjang malam ini.

Di luar, Sehun tersenyum geli melihat Baekhyun yang merentangkan tangannya lebar-lebar seolah-olah ia baru bangun tidur. "Kau sama sekali bukan seorang lady yang baik," ia memberikan komentarnya.

"Aku memang bukan seorang lady," balas Baekhyun tidak suka, "Aku adalah aku!"

"Memang," Sehun geli, "Kau seperti bukan Baekhyun ketika duduk manis di dalam."

"Luhan benar-benar membuatku lelah. Aku tidak mengerti mengapa seorang wanita harus seperti Luhan," Baekhyun mulai mengomel. "Mengapa pula aku harus membeli gaun baru? Aku tidak membutuhkannya!"

"Saat ini kau tidak membutuhkannya," Sehun sependapat, "Tetapi kau akan sangat membutuhkannya ketika kau memasuki Fyzool."

Diingatkan akan masa depan yang menantinya, Baekhyun langsung memasang muka cemberut.

Sehun sadar ia telah melakukan kesalahan dan ia juga menutup mulutnya rapat-rapat. Sehun tidak tahu apa yang harus dikatakannya untuk mengembalikan keceriaan Baekhyun.

Setiap hal yang mereka lakukan sepanjang hari ini dan untuk beberapa hari mendatang selalu berhubungan dengan masa depan Baekhyun sebagai Ratu Kerajaan ini.

Mulai dari pagi, Luhan telah memerintahkan gadis itu untuk bersikap lemah lembut, gemah gemulai dan penuh sopan santun selayaknya seorang lady yang baik.

Bagi Baekhyun yang tidak suka dikekang, hari ini adalah hari yang paling menyiksa seumur hidupnya demikian pula hari-hari mendatangnya. Ia sama sekali tidak menikmati hari-harinya di Mangstone seperti biasanya.

Bukan hanya Luhan yang bersikap keras padanya hari ini. Sehun yang biasanya selalu berada di pihaknya, juga bersikap keras padanya.

Tidak seorang pun dari mereka membuka mulut. Masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri.

"Bukankah Countess Virgie meninggal ketika ia masih lima atau enam tahun? Itu artinya ia tumbuh dewasa tanpa kehadiran seorang wanita. Apakah ia mampu menjadi seorang Ratu?"

"Kau benar. Earl seorang diri tidak akan mampu mendidiknya menjadi seorang lady."

"Kurasa Grand Duke memilihnya karena Earl adalah sahabat baiknya."

Baekhyun langsung memelototi sepasang wanita yang berjalan semakin dekat ke arah mereka.

"Aku yakin ia tidak pernah muncul karena suatu alasan," wanita itu terus berkata tanpa mengenali Sehun maupun Baekhyun yang mereka lewati.

Sehun melihat Baekhyun. Ia sendiri tidak yakin Baekhyun akan sanggup menghadapi semua ini. Ia hanya yakin Baekhyun akan membuat sensasi baru.

Ia hanya bergurau ketika ayahnya bertanya tentang wanita yang cocok menjadi istri Chanyeol. Ia tidak serius ketika ia mengajukan Baekhyun. Jelas Baekhyun tidak akan menjadi seorang Ratu yang anggun dan lembut.

Baekhyun bukanlah seorang gadis yang bisa duduk berdiam diri sepanjang hari. Namun Sehun percaya ayahnya mempunyai pendapatnya sendiri hingga ia berani memilih Baekhyun.

Baekhyun tumbuh dewasa tanpa sentuhan seorang wanita. Dan di negara yang memandang tinggi keutuhan sebuah keluarga dengan pengertian keluarga lengkap dengan ayah, ibu dan anak, Baekhyun sudah mendapatkan nilai kurang di mata penduduk Viering.

Selain itu, Baekhyun tidak pernah muncul dalam pergaulan para bangsawan. Tak heran bila banyak orang yang meragukannya.

Ia bersimpati pada Baekhyun.

Sehun melingkarkan tangan di pundak Baekhyun.

"Mengapa kau menahanku?" protes Baekhyun. Matanya yang biru cerah melotot tajam, "Mereka merendahkan Jungsoo! Mereka tidak mempercayainya!"

Sehun terperanjat.

"Aku akan membuat perhitungan dengan mereka."

Sehun tertawa geli. Untuk sesaat ia lupa gadis ini adalah Baekhyun.

"Perhitungan apa yang akan kaubuat?" Luhan muncul dengan wajah marahnya. Ia langsung menatap tajam Baekhyun dan berkata, "Ingat kedudukanmu sekarang ini! Jangan berbuat macam-macam."

Baekhyun memasang wajah cemberutnya. Ia benar-benar tidak menyukai keadaannya saat ini. Ia membencinya dan ia lebih membenci pria yang menyebabkan semua ini juga wanita yang menjadi biang keladinya.

"Jangan berteriak-teriak seperti ini," Sehun mengambil alih kotak-kotak besar di tangan Luhan. "Kita harus segera ke kereta sebelum seorang pun melihat kita."

Luhan langsung bersiaga. Matanya melihat sekitar dengan was-was. "Ayo, Baekhyun," ia menarik tangan gadis yang masih memendam kekesalannya itu,

"Kita harus segera pulang."

Baekhyun menggerutu semakin panjang ketika Luhan menggeretnya ke kereta yang telah menanti mereka tak jauh dari tempat itu.

Untuk menghindarkan perhatian orang-orang, Luhan dengan sengaja memanggil kereta sewaan untuk mengantar mereka malam ini. Ia juga meminta sang kusir menghentikan kereta beberapa meter dari Snell.

Baekhyun langsung melompat gembira ke dalam kereta. Ia sudah tidak sabar lagi. Ia ingin segera kembali ke Mangstone.

Sehun pun tersenyum geli melihat gadis itu. Ia dapat memahami gadis itu karena ia pun sudah ingin segera meninggalkan Snell ketika Luhan mulai memilih gaun-gaun untuk Baekhyun.

Sering Sehun merasa, dibandingkan Luhan, ia lebih dapat memahami Baekhyun. Ia tidak heran melihat Baekhyun langsung melompat keluar ketika kereta mereka telah sampai di Mangstone. Gadis itu seperti seekor burung yang baru saja dibebaskan dari sarangnya.

Untuk sesaat Baekhyun tercengang melihat sebuah kereta di depan pintu masuk Mangstone. Ia tersenyum lebar ketika melihat kereta itu dan langsung berlari mendekat ketika pintu kereta terbuka.

"Jungsoo!" ia memanggil pria tua itu. Ia langsung menjatuhkan diri dalam pelukan pria yang dihormatinya sebagai ayah keduanya itu. "Kau pulang lebih cepat." Lalu Baekhyun mulai merajuk, "Kau pulang cepat untuk menyelamatkanku?"

Sang Grand Duke kebingungan. "Menyelamatkanmu?"

"Ya," Baekhyun berkata mantap, "Mereka berdua benar-benar keterlaluan," ia menunjuk Luhan dan Sehun yang baru keluar dari dalam kereta. "Sepanjang hari mereka menyiksaku. Mereka ingin aku lebih cepat mati."

"Mereka melakukan semua ini untuk kebaikanmu," hibur Grand Duke.

Baekhyun cemberut. Baginya hiburan Grand Duke hanyalah dukungan bagi Luhan dan Sehun. Baekhyun yakin saat ini Chanyeol sedang berpuas diri. Ia telah berhasil menyelamatkan wajah Viering. Ia telah menyelamatkan pertanggungjawabannya kepada nenek moyangnya.

Baekhyun tidak tahu bahwa Chanyeol juga sama kesalnya seperti dia.

Chanyeol sudah tahu sebuah pernikahan akan merepotkan tetapi ia tidak pernah menyadari bahwa hal yang paling dihindarinya ini akan menyita seluruh waktu dan perhatiannya. Hanya satu ikatan perjanjian! Dan seluruh tenaga dan jiwa raganya telah terkuras.

Chanyeol menjatuhkan diri di atas sofa empuk di dalam kamarnya. Kepalanya berdenyut keras.

Hari ini ia telah melewati hari yang sangat panjang dan melelahkan.

Ia pikir ia telah mengambil tindakan atas segala hal yang harus dipersiapkan untuk sebuah pernikahan.

Tetapi masih ada saja detail yang ia lewatkan. Ia juga telah menyerahkan tugas persiapan pernikahan ini pada bawahannya tetapi tetap saja ia diperlukan untuk mengatur pernikahan ini! Chanyeol sadar ia tidak akan bisa melepaskan diri dari segala peraturan dan tata cara pernikahan yang merepotkan.

Pagi ini orang-orang yand ditugasinya datang untuk meminta petunjuknya.

Mereka terus menerus meminta persetujuannya sebelum memutuskan sesuatu walau ia telah memberi kewenangan pada mereka untuk memutuskan. Bagi mereka pernikahan ini adalah peristiwa besar dalam hidupnya dan mereka tidak mau membuat suatu kesalahan pun!

Pagi ini pula utusan Lady Luhan datang untuk menanyakan perihal gaun pengantin Baekhyun – satu-satunya hal yang terlupakan olehnya!

Ia telah memikirkan segala tentang pernikahannya kecuali sang mempelai sendiri! Sang mempelai – baik gadis itu maupun dirinya sendiri – sama sekali tidak terpikirkan olehnya.

Dan ia tidak mempunyai ide sama sekali mengenainya. Karena itulah ia menyerahkan masalah ini pada Lady Luhan, sang pengasuh Baekhyun.

Chanyeol tidak peduli ke manakah bon gaun-gaun Baekhyun itu akan dikirimkan. Ia sanggup membayar bon-bon gadis itu. Ia mempunyai lebih dari cukup kekayaan untuk memuaskan gaya mewah gadis itu.

Hanya satu yang diminta Chanyeol, jangan menganggunya dengan gaya mewah dan manja gadis bangsawan!

Namun, sayangnya, Chanyeol tidak dapat menghindarinya sebelum pernikahan mereka.

Siang ini Earl datang menemuinya. Earl of Hielfinberg datang karena gosip-gosip yang beredar dengan cepatnya setelah kabar pernikahan kerajaan ini diumumkan.

Semua orang berspekulasi dengan pernikahan dadakan ini. Semua orang berpendapat sendiri tentang pernikahan yang tidak terduga ini. Semua menggosipkan sang ratu pilihan Paduka Raja Viering yang tidak tertarik untuk menikah!

Earl of Hielfinberg sangat terganggu oleh pandangan-pandangan miring yang mulai keluar tentang putri kesayangannya. Ia mulai terusik oleh spekulasi spekulasi yang berkembang liar itu.

Dari perundingan mereka, diputuskan dalam waktu dekat ini, sebelum pesta pernikahan, akan diadakan semacam pesta pertunangan di Schewicvic.

Melalui pesta pertunangan itu diharapkan gosip-gosip itu akan berhenti atau setidaknya berganti arah.

Masih belum sirna keletihan Chanyeol ketika wanita terakhir yang sedang berhubungan dengannya, datang untuk memprotesnya dan menuntut pertanggung jawabannya.

"Apa maksud semua ini!?" protes wanita cantik berambut pirang itu.

"Semuanya sudah jelas," jawab Chanyeol singkat, "Hubungan kita berakhir."

"Mengapa dia? Mengapa gadis puritan itu yang kau pilih?"

"Ia memenuhi syaratku," lagi-lagi Chanyeol memberi jawaban singkat yang membuat wanita cantik itu kian kesal.

"Apa kekuranganku? Apa kelebihannya!?"

"Kau adalah wanita yang cantik dan menarik. Engkau adalah tipe wanita yang diidamkan setiap pria," Chanyeol berkata dengan suara tenangnya, "Namun kau bukanlah wanita yang akan menjadi pendampingku. Kau sudah tahu itu."

Ya, para wanita itu sudah tahu ketika mereka mulai berhubungan dengannya. Ia menikmati masa-masa kebersamaan mereka. Ia menikmati setiap detik yang ia lewatkan bersama mereka tetapi ia tidak akan pernah mengikat janji dengan seorang pun dari mereka. Setiap gadis di Viering tahu jelas akan hal ini.

Chanyeol sudah bersumpah untuk tidak menikah dan tidak akan merusak pernikahan orang lain. Ikatan dengan seorang wanita hanyalah suatu hal yang paling dihindarinya. Dan kali ini dunia tahu mengapa ia melanggar sumpahnya sendiri.

"Aku tidak punya waktu untukmu," kata Chanyeol dan ia melangkah menuju pintu,

"Aku masih punya banyak pekerjaan."

Wanita itu benar-benar dibuat geram oleh Chanyeol. Tetapi Chanyeol tetap bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

Itulah Chanyeol, sang Paduka Raja Kerajaan Viering yang tampan. Pria dambaan setiap gadis di Viering itu dapat menjadi seorang yang romantis ketika ia mengikat hubungan dengan seorang wanita.

Tetapi ketika ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu, ia dapat menjadi seorang yang dingin. Ia akan bertindak seolah-olah tidak pernah terjadi apa pun di antara mereka.

Tidak seorang gadis pun di Viering yang tidak menginginkan cintanya. Mereka rela berlomba-lomba untuk mendapatkan cintanya yang mahal itu. Ia adalah pria yang mempesona.

Sayangnya hingga detik ini tidak ada yang berhasil mendapatkan cintanya yang tulus itu.

"Atau mungkin belum," gumam Sehun ketika mereka membicarakan pesta pertunangan Baekhyun yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat di Schewicvic.

"Pria semacam itu seumur hidup tidak akan pernah jatuh cinta!" tegas Baekhyun.

Sehun tersenyum geli melihat kakak angkatnya itu. Semenjak ia diharuskan menikah dengan Chanyeol, Baekhyun membenci Chanyeol dan kebenciannya itu kian lama tumbuh kian dalam.

"Siapa tahu dia jatuh cinta setengah mati padamu," goda Sehun.

"Jatuh cinta sampai mati pun tidak akan pernah!" omel Baekhyun, "Pria semacam itu adalah Narcissus. Aku tidak akan menjadi Echo kedua!" Baekhyun merujuk pada seorang pemuda tampan dalam legenda Yunani yang mencintai bayangan dirinya sendiri di permukaan kolam dan menolak seorang nymph bernama Echo.

Atas kesombongannya itulah kemudian para dewa menghukumnya. Ia diubah menjadi sebatang bunga yang kemudian dinamakan seperti namanya, bunga Narcis.

"Siapa yang mengatakan kau akan menjadi Echo?" Sehun terus menggoda Baekhyun.

Baekhyun merah padam. Ia benar-benar dibuat kesal oleh Sehun.

Sehun tertawa. "Aku tidak sabar melihat pertemuan kalian berdua."

Luhan pun tersenyum. "Aku juga tidak sabar melihat pertunangan kalian."

"Tapi sebelumnya," Sehun berkata serius, "Kau harus menjinakkan Baekhyun atau ia akan menyerang Chanyeol di pesta pertunangannya."

"Sehun!" bentak Baekhyun, "Apa maksudmu!?"

Sehun tidak dapat menahan tawa gelinya.

"Sudah. Sudah," Luhan mengelus-elus kepala Baekhyun, "Sehun hanya menggodamu. Jangan terpancing olehnya."

Tiba-tiba saja Baekhyun merasa ia tengah diperlakukan seperti seorang anak kecil berusia empat tahun yang mudah digoda dan dibujuk.

Grand Duke Jungsoo tersenyum melihat ketiga pemuda-pemudi itu. Ia lega melihat Baekhyun yang masih bisa bercanda seperti biasa. Ia merindukan saat ketiga pemuda-pemudi itu masih kecil. Ia merindukan canda tawa mereka yang selalu menghiasi Schewicvic dan Mangstone.

Ia akan selalu merindukannya.

T b c ….

Yang minat dikit banget , bikin sedih T_T

Tapi cerita ini saya suka banget jadi emang bakal terus dilanjutin muehehe , makasi ya buat yang mau capek capek baca *kisses hugs*