RESIDENT EVIL: HER DREAM
DISCLAIMER:
Film Resident Evil itu bukan punya saya, tapi cerita abal bin ajal (!?) ini punya saya ^^ Resident Evil: Her Dream = SarahMaula157Kila0ooo ( ^_^ )
Rated:T (M untuk jaga-jaga -_- )
Warning:Typo(s) bertebaran, gajeness, si Alice agak OOC, lumayan ngikut cara tulisan author lain jadi sumimasen buat para author senpai lain yang ngerasa saya kopas cara tulisnya , Humornya gak kerasa, dwwl...
Genre:Friendship, Hurt/Comfort, sedikit Crame and Action, Horror, dll...
Notification:
"Blablabla..." = Bicara biasa (entah pake bahasa Indonesia ato Jepang, silahkan Readers imajinasikan sendiri)
'Blablabla...' = Bicara dalam hati (sama kayak diatas)
"Blablabla..." / 'Blablabla...' = Bicara dalam bahasa Inggris ato sejenisnya
Hari/Tanggal pengeditan selesai: Jum'at, 25 September 2015 (22:31 PM / 10:31 PM) & Selasa, 22 Desember 2015
A/N:Cerita ini saya buat berdasarkan mimpi yang saya alami alias nyata, tapi karena yang namanya juga mimpi dan mimpi itu udah lumayan lama saya alami jadi mohon dimaklumi karena ada yang saya tambah-kurangi dalam cerita ini. Dan lebih parahnya lagi, fanfic ini saya buat MELENCENG dari mimpi saya! Jadi,,, harap maklum ceritanya rada (baca:sangat) GAJE _|| Akhir kata,,,, Happy reading minna! ^_^
Don't like, Don't read
(Kalo gak suka, jangan maksa baca. Nanti matanya keselek (?!) lho!)
~ Author ground ~
... Kriik... Kriiik... *suara background*
Mio: Mi-Minna... Sekali lagi, maafkan kami yang kemampuannya benar-benar dibawah rata-rata, tapi tetep ngelanjutin nih fanfic...
Kana: Betul tuh. Sebenernya ya minna, kalo nih fanfic gak terpotong kata-katanya, kalian pasti ngerti+menikmati baca nih fanfic.
Ririko: Betul betul betul! *gaya ala Ipin* Jadi, rencananya nih kami-kami ini mau buat situs ato blog gitu~ Tapi, udah buat pas mau masukin suatu artikel gitu malah gak tau caranya. -_- Jadi, buat kalian yang tau memuat nih fanfic kemana selain ke , tolong kasih tau ya! ^^
Shiren: Yaah,,,, situs apa aja deh. Mau kayak blog kek, halaman kek, situs-situs kek, yang pasti untuk anak remaja ya. -_- Ato, paling gak untuk semua umur tapi dalam pengawasan orang dewasa gitu...~
Dark Sarah: Betul, soalnya entah kenapa si Sarah agak sensitif dengan hal yang berhubungan dengan "itu".
Yuan: Dan soal Panda-san-
Dark Sarah: WOI! KOK KOPAS CARA PANGGILANKU SIH!?
Yuan: Terserah gue donk! -_-
Hima: Cak Luan cok-cok olang Cakalta, deh! -_- = Kak Yuan sok-sok orang Jakarta, deh! -_-
Yuan: OI! Kamu juga jangan ikut-ikutan Hima!
Rasio Sarah: A-Anu... Haahh... Biar aku saja deh. Minna, baik yang silent readers ataupun readers yang aktif, mulai chapter ini balasan reviewnya selalu diakhir cerita, jadi mohon dimaklumi ya! :) Dan, tolong maafkan Sarah karena di chapter ini pun dia kurang aktif -_- Alasannya? Kata Sarahnya "himitsu".
Hima: Con Leh GO! XD Hepi leding minna! :D = On The GO! XD Happy reading minna! :D
Chapter 3:
Meet other friend's : Part 2
Normal POV
Karena asyik melamun, tanpa Shiren sadari ia telah berada di depan gerbang sekolahnya. Namun, sekali lagi takdir coba memberi ia kejutan. Kejutan itu adalah—
.
.
.
—terlihat di depan mata Shiren, ada sekumpulan anak perempuan yang berstatus "teman" sekaligus "sahabat" dengan Shiren.
.
.
Shiren masih bengong dengan pemandangan yang ada di depannya. Tiga orang gadis yang ada di hadapannya itu lagi mengobrol dengan mimik wajah yang-lumayan-serius. Mereka terlihat—bukan. Tapi, mereka memang memegang senjata api. Hal lain yang mengejutkan Shiren adalah-
.
Keadaan mereka yang terlihat baik-baik saja. Tidak terlihat-sangat-aneh ataupun sakit.
Shiren segera sadar dari lamunannya dan segera menuju ke tempat sekumpulan gadis itu dengan berlari kecil. Tapi, tentu saja ia menuju ke sana dengan sembunyi-sembunyi.
Kalian tahu 'kan, kalau kita-terkadang-tidak boleh menilai sesuatu hanya dengan sekali lihat?
.
.
.
.
Berjalan
.
Menunduk
.
Merangkak seperti tentara
.
Berjalan lagi
.
Menunduk-lagi-
.
Merangkak seperti tentara-lagi-
.
Itulah yang sekarang dilakukan si Shiren. Dia sedang bersembunyi di balik semak-semak di lapangan/taman sekolahnya untuk bersembunyi dari para sahabatnya-mungkin-itu. Ada satu kata atau kalimat yang tepat menggambarkan tingkah si Shiren sekarang...
.
.
.
.
.
.
Maling
.
.
.
.
Yap! Kalimat itu memang pas buat menggambarkan gerak-gerik si Shiren dari beberapa menit yang lalu.
Hebatnya lagi, meski Shiren ngebuat suara gemerisik di sana-sini, mereka malah tetap fokus berbincang—walaupun sesekali menengok sekelilingnya.
Shiren hanya bisa mendesah dengan raut wajah yang-sangat-kusut. Setelah mendesah dengan mata tertutup, ia lalu melihat ke arah kumpulan sahabatnya lagi untuk melihat gerak-gerik mereka—walaupun Shiren gak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Tepat setelah 5 detik melihat kumpulan tersebut, Shiren menyadari ada kejanggalan. Ya. Seseorang dari ketiga sahabatnya tersebut menghilang, tetapi mereka yang tersisa tetap berbincang dengan suasana dan mimik muka seperti tadi.
Otak Shiren masih buntu, sampai beberapa detik kemudian ia menyadari alasan kenapa mereka tadi seperti itu.
Itu karena—
CKREK
"Apa yang kau lakukan disana, makhluk baka nan menjijikan?"
—Shiren baru sadar bahwa mereka hanya 'berpura-pura'.
Shiren yang merasa familiar dengan suara tersebut langsung menengok dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah, karena takut segera 'dihabisi' dengan pemilik suara—yang terdengar cempreng sekaligus nge-bass disaat yang bersamaan—tersebut (karena tadi ia mendengar pemilik suara tersebut seperti sedang menarik pelatuk untuk menembak).
Saat keduanya saling menengok,
"Eh?"
"Eh?"
~ Skip time ~
- Di lapangan sekolah -
"O-Ooohh,,,,..." Ujar ketiga anak perempuan yang ada disana dengan kompak, sedangkan satu anak perempuan lagi, dengan rambut ikalnya yang berwarna charlotte, sedang berdiri, diam menatap reaksi ketiga cewek yang ada didepannya yang memiliki status "teman" sekaligus "sahabat" dengannya.
Saat ini mereka sedang mengobrol-dengan sedikit santai-didepan salah satu teras kelas di salah satu gedung sekolah mereka yang pintu kelas tersebut berhadapan langsung dengan lapangan sekolah mereka.
Lah? Gimana mereka bisa akur seperti itu? Bukankah tadi, keadaan yang sedang dialami Shiren sedang lumayan (baca:sangat) menegangkan? Sepertinya kita (baca:author) melewatkan sesuatu. Mari kita tengok kembali yang terjadi sebelumnya.
~ Flashback ~
(masih) Normal POV
Saat keduanya saling menengok,
"Eh?"
"Eh?"
Shiren dan pemilik suara tadi kaget.
Suasana hening sejenak. Kedua cewek lainnya masih heran dengan sahabat mereka yang tadinya mengeluarkan aura kecurigaan plus membunuh, tiba-tiba hanya mengeluarkan kata 'Eh?' bersama dengan sesuatu yang hendak 'dihabisi'nya tersebut. Mereka merasa heran karena sesuatu yang akan 'dihabisi' sahabat mereka itu tidak dapat mereka lihat karena terhalang semak-semak yang ada di pinggir lapangan sekolah mereka.
Shiren memecahkan keheningan yang ada di antara mereka dengan mencoba berdiri—dengan hati-hati. Anak perempuan yang ada di depannya, yang memiliki rambut panjang sepinggang berwarna hijau tosca ini masih kebingungan dengan apa yang dilihatnya sekarang. Saat Shiren mencoba berdiri, gadis tersebut tetap menodongkan senjata yang sedari tadi ia persiapkan untuk 'menghabisi' Shiren—karena tadi ia tidak tahu.
"Sh-Shiren, kah?" tanya cewek bersurai hijau tosca tadi. Senjata yang sedari tadi ia todongkan ke arah Shiren mulai diturunkannya.
"EH!?"
Kedua cewek yang lain kaget ketika mendengar apa yang diucapkan sahabatnya itu. Rasanya, ekspresi mereka seperti mendengar sahabatnya itu mengucapkan caciannya yang terpedas—karena, sahabat mereka yang bersurai hijau tosca tersebut 'jago' mengeluarkan kata-kata seperti 'itu'. Mereka masih belum bisa melihat dengan jelas sosok yang sedang berbicara dengan gadis hijau tosca tersebut. Mereka terdiam cukup lama setelah mengucapkan kalimat tadi dengan bersamaan.
Shiren yang sedari tadi hanya berdiri dalam (meng)hening(kan cipta (?) ) mulai mendapat ide untuk menjelaskan semuanya ke mereka.
"A-Anu, minna. Aku akan menjelaskan segala yang telah kualami, tapi sebelum itu, aku yakin kalau aku terinfeksi. Karena, beberapa jam yang lalu, aku terkena cipratan darah yang bisa dibilang, yaah, cukup banyak. Apakah itu artinya, aku akan jadi salah satu dari 'mereka' juga beberapa jam nanti?" tanya Shiren dengan cukup panjang.
Mereka bertiga hanya melongo dengan penjelasan Shiren tadi. Tiba-tiba, salah satu dari kedua cewek yang rambutnya bersurai pirang angkat bicara. "Ano... Sebelum kamu menjelaskan tentang tadi, kamu itu betulan si Shiren?"
Shiren langsung menengok ke arah suara tadi, dan langsung mengangguk ceria setelah melihat siapa yang tadi bertanya.
Salah satu dari kedua cewek tadi, yang berambut ungu tua diurai mengawali lanjutan percakapan antara Shiren dan sahabatnya yang bersurai pirang, yang keberadaannya tepat disebelahnya.
"Jadi, bagaimana kamu bisa terkena simbahan darah tersebut, Ren?"
Baru saja Shiren akan ancang-ancang mempersiapkan mulutnya untuk menceritakan pengalaman assassin-nya, tindakannya tersebut langsung dicegat oleh perkataan gadis bersurai hijau tosca dihadapannya. "Eh, sebelum cerita tentang ini-itu, mending cari tempat duduk dulu deh. Kalo berdiri terus, kita-kita ni kayak lagi kena ambeien tau!"
.
.
.
.
.
Inilah maksud author dan Shiren, bahwa gadis bersurai hijau ini, emang paling jago ngelawak, sekaligus mengeluarkan opininya yang "lembu~ut" banget -_-
.
.
.
.
.
.
Setelah menentukan tempat duduk untuk nge'rumpi' yang aman, barulah Shiren menceritakan segala kejadian yang dialaminya...
~ Flashback end ~
Mio POV
Aku tertegun mendengar ceri-ah, bukan. Bukan cerita, tapi, pengalaman Shiren. Setelah tadi aku, Kana-chan dan Riri ber-oh berjamaah, kami terdiam cukup lama. Dari tadi, sekitar 15 menit yang lalu, Shiren bercerita tentang pengalamannya dan baru sekitar 1 menit yang lalu ia selesai bercerita sekaligus, dalam satu menit itulah kami semua terdiam. Tak ada salah satu dari kami bertiga (-Shiren) yang mau menceritakan pengalamannya—setidaknya kalian bisa menyebutnya "kejadian".
Yaah… kuakui saja, sebenarnya aku sudah bertemu Kana-chan dan Ririko (yang namanya sering kusingkat Riri) sekitar 1-2 jam yang lalu. Saat kami bertemu di depan suatu supermarket, kami hanya saling menanyakan keadaan kami dan tidak bercerita tentang kejadian yang kami alami sebelumnya. Setelah itu pun, kami hanya langsung pergi ke kantor polisi terdekat untuk mengecek senjata api disana.
Yang tadi kami ceritakan ke Shiren pun-sebelum Shiren menceritakan pengalamannya-, hanya tentang pertemuan kami.
Aku bingung ingin mengatakan apa, tapi, aku merasa sedikit ganjal dengan pengalaman Shiren tadi. Sepertinya, ia menyembunyikan sesuatu seperti, apakah ia tidak menangis? Menangis disaat ia telah membunuh 'tubuh' keluarganya sendiri? Aku masih penasaran dengan itu.
Hah? Menceritakan? Tidak. Shiren tidak menceritakan itu. Malah, di semua pengalaman yang dia ceritakan kembali pada kami itu, aku, atau lebih tepatnya kami (aku, Kana-chan dan Riri), tidak mendengar ada kata "menangis" keluar dari mulutnya.
Memang, tadi kami (-Shiren) saling berpandang (+mengerutkan kening) setelah beberapa detik Shiren menyelesaikan 'cerita'nya tersebut. Lalu Riri, si cewek rambut hijau tosca yang memang dasarnya punya sisi 'lain' kayak preman, segera menanyakan pertanyaan dengan gaya bicaranya yang (mungkin memang sengaja) dicampur dengan gaya bicara anak J*k*rt*.
"Eh, Shiren. Emang habis ngebunuh keluargamu, elu gak nangis ya?"
PREEET!
Kata-kata tersebut meluncur dengan mulusnya dari mulutnya Riri. Nih anak, memang sahabatku sih, tapi, bisa gak sih, sesorang ngajarin dia berbahasa dengan lebih baik? Tadi aja, dia nyebutin salah satu nama penyakit cuma gara-gara kelamaan berdiri.
Lalu, Shiren cuma jawab, "Gak. Mungkin karena saking syoknya, kali," sambil ngangkat kedua bahunya. Tapi, aku yakin sekali, kalau aku sempat melihat saat Shiren menjawab, matanya tampak sangat sendu. Tapi, hanya untuk sekilas. Karena, setelah itu dia langsung mengangkat kepalanya, melihat langit, mungkin untuk menenangkan pikirannya, begitulah pikirku saat itu.
Aku yakin Shiren menyembunyikan beberapa penggalan 'cerita'nya. Mungkin, jika orang berpikir terlalu negatif, mereka akan berpikir kalau Shiren menyembunyikan penggalan 'cerita'nya hanya untuk menarik perhatian orang lain.
Tapi, aku tidak berpikir begitu.
Shiren bukanlah orang yang senang kalau dirinya populer. Walaupun dia memang merasa kesepian, tapi dia tidak suka kalau dirinya menarik perhatian orang. Analisisnya bilang, jika dia populer, maka akan ada yang iri padanya. Konyol memang. Tapi, setidaknya, dia juga memikirkan perasaan orang lain, kan?
.
.
.
.
.
.
.
GHAAAAATS!
Kenapa suasananya sehening ini, sih? Kalo Ririko pasti mecahin nih keheningan dengan bilang, "Uy, kok kita-kita pada diem aja, sih? Kita kayak lagi ngelaksanain mengheningkan cipta, tau!" Tapi, sekarang malah gak ada satu pun yang bersuara.
Memang, aku kadang lebih suka kalo suasana itu hening. Tapi, heningnya itu hening yang damai. Gak kayak gini! Ya ampun... Kalo kayak gini, aku ceritain aja deh pengalamanku. Habis, udah sekitar 7 menit kami berdiam diri. Masih dalam posisi tadi pula! Aku tau, si Shiren itu lebih suka berdiri daripada duduk. Tapi, apa kakinya gak keram, tuh, berdiri dari 23 menit yang lalu? 23 menit yang lalu, lho!
Haaah... Untung yang tadi bicara cuma innerku doank alias hatiku. kalo gak, aku yang gak biasanya marah, nanti malah dibilang kerasukan. Udah dunia kena virus yang gak jelas asalnya, aku yang gak kena virusnya malah kerasukan. Apa nanti kata zombie? Yaah, bersikap tenang itu memang kebiasaanku, sih.
Akhirnya, setelah mendesah panjang, aku akhirnya angkat bicara.
"Nee, daripada diam kayak gini terus, mending kita ceritain aja pengalaman pas kita baru tau dunia kita udah berubah. Gimana? Siapa yang mau duluan?"
.
.
.
Hening.
Tak ada yang mau memulai percakapan, kecuali Shiren tentunya. Karena tadi dialah yang memulai percakapan tentang 'pengalaman saat dunia berubah'. Aku yang bingung akhirnya pasrah harus menjadikan diriku sendiri sebagai 'kambing hitam' dalam ajakanku sendiri.
"Kalau begitu, aku akan memulai menceritakan pengalamanku, deh. Tentunya, memulai setelah Shiren," ujarku dengan enteng.
Lalu, mereka bertiga memberikan pandangan muka yang berbeda.
Kalau menurutku, Shiren memberikan pandangan rasa ingin tahu yang besar. Tetapi, aku masih bisa melihat tatapan lain darinya, entah apa tatapan lain itu.
Lalu, Kana-chan. Aku sangat bisa menebak wajah sahabatku yang satu ini. Dia memberikan pandangan seperti tak-apa-apa-jika-kau-ceritakan? padaku.
Lain halnya dengan Ririko. Aku seperti melihat tatapan seorang anak kecil bersiap mendengarkan dongeng pengantar tidur. Memang, wajahnya memasang mimik muka seperti sedikit terkejut. Tapi, aku mengetahui niatnya yang sesungguhnya dari bola matanya yang bersinar-sinar seperti di anime dan manga. Seolah ada sebuah bintang menghinggap tepat di tengah kedua matanya.
Tunggu.
Ada apa dengan diriku?
Sepertinya aku terlalu banyak liat anime dan manga. Sampai-sampai, disaat dunia mulai berubah, aku masih kayak gini...
"Tapi, ada satu syarat," aku berujar tiba-tiba. Mereka refleks menatapku penasaran.
"Yaah,,,, syaratku ini gak berlaku untuk Shiren. Tentunya," lanjutku.
"Kenapa cuma gak berlaku untukku?" tanya Shiren. Aku ingin menjawab pertanyaannya, tapi tertahan karena akhirnya Shiren ber-oh-ria. Kadang-kadang, sahabatku yang satu ini bisa tahu apa maksudku, tapi,,, lebih sering, sih, gak ngerti... -_-
"Eh, Shi-chan, kok elu malah ngucapin kata 'oh' sih? Jangan-jangan, lu punya kekuatan gaib lagi."
Nah, yang tadi ngomong-dengan logat anak J*k*rt*nya itu bukan aku, bukan juga Shiren atau Kana-chan, melainkan si Ririko. Belum sempat aku mikir untuk menyahut ucapannya, ada orang lain yang nyahut, kayak pake toa. Aku yakin kalo orang itu adalah—
"Shi-chan, Shi-chan. Lu kira gue SHIN-CHAN GITU!?"
—Shiren, orang yang suaranya paling nyaring yang pernah kutemui, sekaligus menjadi sahabatku.
Ririko emang gak pernah jera manggil Shiren dengan sebutan kayak gitu. Banyaklah alasannya. Kalo manggil "Shiren" tok doank, katanya kependekan. Kalo manggil "Shiren-chan", kepanjangan. Nah, pas dapet yang 'pas', gak lebih gak kurang, gak juga mahal ato murah, Shirennya keberatan. Itupun, sehari setelah dia dipanggil kayak gitu baru nyadar, kalo nama panggilan dari Ririko untuk dia mirip kayak panggilan tokoh di animasi "Shin-chan". Ribet, kan, jadinya? Sudahlah, lanjut lagi ke peristiwa tadi. -_-
"He-Hey, kapan lanjutnya, nih? Dan juga, Shiren-chan, kamu gak duduk? Dari tadi berdiri terus, lho. Kayak lagi kena ambeien aja."
Bukan aku, bukan Shiren, bukan Riri, bukan sihir, bukan juga sulap (!?). Shiren yang lagi mengusahakan pembasmiannya terhadap Riri, seketika jadi naik darah—lagi.
Kana-chan yang tadi tenang-tenang aja jadi merinding saat ditatap oleh Shiren. Ya ampun, jika ini berlanjut, kapan habisnya cerita yang belum bahkan dimulai?
Haaaaaaaahhhhhhh...
Sepertinya, aku akan membiarkan keadaan dalam situasi seperti ini dulu untuk beberapa saat nanti.
Bukankah, setidaknya itu bisa-sedikit-menghilangkan kecemasan kami akan dunia ini?
Yaaahh,,, setidaknya, nanti saja kami menceritakan pengalaman kami. Karena—
—pasti ada kesedihan di setiap 'cerita' kami, termasuk aku.
~ To Be Continued ~
~ Author ground ~
Shiren: Fuaaaah! Akhirnya selesai~~!
Mio: Hmm... Di chapter ini,POV-nya kebanyakan aku? Hei, Raha, Sawa. Mana Sarah? Aku mau nanya tentang chapter depan nih.
Rasio Sarah & Dark Sarah: *nunjuk gundukan selimut di dalam ruang akting mereka (kalian bisa menyebutnya "studio" mereka)*
Yuan & Ririko: Ya elah... -_- _||
Kana: Yak! Ada yang lebih penting lagi nih! Di kertas ini tertulis—
Ririko: Wasiat Sarah?
Kana & Rasio Sarah: Bukan! /\
Ririko: Lah, terus apa donk? Kamu bilang "Di kertas ini tertulis-". Nah, biasanya yang kayak gitu kan cuma surat wasiat doank. Diliat dari kondisi Sarah yang ditimbun segunung selimut itu aja, udah pasti kan dia mau-
Dark Sarah: GAK KAYAK GITU JUGA KALEEEE! Kata-kata kayak gitu gak cuma di surat wasiat, di pengumuman ada, di surat ada, di pidato ada, bla bla blaa...
Shiren & Kana: A-Anu... *gak bisa masuk ke 'perbincangan' mereka*
Yuan: Karena mereka lagi asyik ngerumpi, aku aja deh yang bacain. Oke, isi kertas tadi yang mau dibacakan Kana-senpai adalah pesan-pesan terakhir sebelum Sarah masuk ke 'selimut gunung himalaya'nya. Di kertas ini tertulis,,,,, ng,,,,,, eh? Ya elah, gini sih aku yang nyampe'in. -_-
Yina: Sssshhh,,,,, ssssshhhh,,,,,,, = Emang kamu kok yang disuruh nyampein. Kalo kamu bacain yang di kertas, readers pada gak ngerti *ngasih pandangan sweatdrop ke Yuan*
Yuan: 'Nih ular bicara apa sih?' *mandang Yina balik dengan tatapan sweatdrop* Yaaahh,,,,, supaya kalian ngerti, aku akan bacakan yang tertulis disini. Hmm,,,,, kata Sarah, "Bagi yang ngebacakan nih surat, bilang ke readers and another author kalo aku lagi kena penyakit langka, penyakit "Tidur seribu tahun". -" Heh? Emang ada penyakit kayak gitu? Palingan dia cuma lagi demen tidur. -_- Terus, "-Dan juga, pas chapter depan aku mau ngasih (mungkin beberapa) pertanyaan untuk para readers. Dah, segini dulu. Kudoa'kan bagi yang bacain nih surat moga-moga-"... Kriik, kriiik... WHAT THE HEEEELLL!? Kan diceritanya aku emang udah jadi zombie! Udah ah! Pergi dulu! Assalamualaikum! *ngelempar kertas tadi*
Yina: *mungut kertas tadi* Sssshhh...? = Apa sih yang dibacanya tadi...? *ngebaca dengan seksama* ...! *kaget* ... *ngebaca lagi* Fyuuuhh... *nyeka air k*r*ng*t. Yaahh,,,, si Yuan nih, gak baca ampe akhir. -_- Oh ya, kalian pasti bingung aku bicara kayak gini. Yaaah,,,, mumpung gak ada orang, aku pake 'sihir'ku aja. Yang bisa kuberitahu, hanya 1. Yang tau aku bisa begini cuma Sarah. Hah? Majikanku? Gak. Si Raha gak tau. Yoosshh! Lanjut lagi! ^^ Si Yuan itu gak baca ampe akhir. Lanjutannya gini, "Kudoakan bagi yang bacain nih surat moga-moga jadi zombie.". Sebetulnya, dipojokan kertas, kecil lagi tulisannya, si Sarah nulis, "Catatan: Cara jadi zombienya yang adem-ayem. Gak brutal-brutal amat kok ^^", gitu. Yaaahh,,,, segitu dulu minna. ^^ Sayonara to arigatou! ^^ = Terima kasih dan sampai jumpa! ^^ Lah, aku kan ngelanjutin baca tuh surat, berarti... Udah lah! Pliss ripiwnya ya! ^^~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author: *menguap karena baru bangun tidur* Hmm... Udah jam 4 sore ya. Lho? Kok pada gak ada semua? Udah pada pulang? Ato, lagi jalan beli simpanan makanan untuk di studio? *bangun, terus mondar-mandir di depan meja kerja* Eh, Kertas? Kok masih kebungkus? Seharusnya, dalam satu chapter kan, semua bungkusan kertas ini udah kebuka semua. Emang kertas apa sih nih? Ah, judulnya dibelakang ya? Hm... *membaca dengan cermat*...Kriik, kriiiiiiik... 'S-Si-Sialaaaann...' KOK MALAH KERTAS REVIEW SIH YANG BELUM KEBUKA!? Gini caranya, AKU JUGA YANG NGERJAIIIIIN! UDAH AKU YANG SIAPKAN, AKU JUGA YANG NGERJAIN! AAAAHHH! AWAAS KALIAN DI CHAPTER DEPAN!
Sementara itu...
Ibu rumah tangga sebelah: Kok, kayaknya ada yang teriak ya dek? Oh ya, sebelah itu studio ya. Bukannya, sekarang gak ada orangnya lagi jam segini?
Adek tetangga sebelah: Gak tau mah. Studio sana emang ramenya gak ketulungan. -_- Nanti adek ajak temen-temen main kesana boleh?
Ibu rumah tangga sebelah: Boleh. Tapi, tanya dulu yang punya. Kalo gak siap-siap, nanti orangnya kerepotan.
Sementara itu, orang yang dibicarakan...
Author: Haaduuuuhhh,,,,,,, gini caranya, aku kerepotan donk. Ah! Biarin aja deh! Hmm,,,,, *ngebuka layar khusus review(?)*
A/N:Nah, karena para budak saya, alias OC saya, udah pada pulangan, jadi kolom balasan reviewnya seperti yang dibawah ^^ Kalo misalnya ada dua orang ato lebih, kolom reviewnya ya kayak di "Author ground" :) Jadi, mohon dipahami ya~ /plak
~ Panda Dayo ~
Moshi-moshi Panda(-senpai)!~ ^_^ Oooohhh,,,, gpp kok. Semua orang pasti ada yang telat ^^ (bahkan saya sendiri pun pernah telat 2 chapter baca fic Panda _|| )
Yaaahh,,,,, kalo ada film aslinya sih (kalo ada yang mau ngeproduserin -_- ), saya kengerian. Kalo itu versi "Tom and Jerry", saya malah ketawa-ketiwi gaje (masih mengkhayal). Panda malah seneng? Pemirsa, apakah Panda(-senpai) seorang Yandere? *gaya ala MC "Silet"* Bercanda, bercanda. Wkwkwk... :P
Eeeehhhh? Masa' sih bikin Panda ngakak? Waduh, saya malah gak tau lho. Ok, saran Panda akan saya usahakan! ^^ (menurut Panda, di chapter ini udah belum?) Gpp kok :) Kan, kalo ada yang mau nge-review, itu berarti peduli! :D ^_^ Arigatou ookiku kansha Panda!~~ :D O:)
Nah, ini yang mau saya tanyain ke Panda. Menurut logika saya, memang (agak) aneh, anak kelas 4 SD udah naik mobil. Tapi,,,,,, TAPIII...! *nenangin diri dulu* Jujur saja, setiap saya bersumpah, entah itu demi apa, saya gak pernah berbohong. Jadi, SUMPAH DEMI ALLAH SWT. DAN SUMPAH DEMI PERMEN YANG SAYA MAKAN SAAT INI(?),,,,,,,,,,,,,, *nenangin diri lagi*
Di-Di m-mimpi s-say-ya i-itu, SAYA NAIK+NGENDARAIIN MOBIL, PANDA! *makan obat bius(!?)* Jadi, saat di chapter depan(-depannya lagi) Panda baca ada bagian si Shiren dkk. naik plus ngendaraiin mobil, itu bukan karena saya kopas kata-kata Panda, tapi…... Di mimpi saya memang ada "adegan" itu. Jadi, mohon di pahami ya... *ngelap air keringat panas-dingin Awards(?)* ... *nyadar akan sesuatu* K-Kok, saya malah spoiler ya?... Ya sudahlah, sekali-kali saya kasih spoiler. (Wkwkwk :P )
Arigatou selalu atas dukungannya, Panda!~ ^_^ Panda juga, tetap lanjutin karya-karya Panda ya! ^_^ :D
~ sieg2013 ~
Moshi-moshi Sieg-san! ^^ (apa mungkin saya panggil Dimas-san aja ya? Yaaahh,,,, terserah Anda saja lah :) ^_^ )
Eh? Deadpool? Waaahh,,,,, bisa tuh! :D Tapi,,,, sayangnya ini bukan dunia Marvel Jadi, mungkin kalo misalnya saya ada kesempatan, mungkin saya bisa bikin cerita yang kayak gitu. :) (kalo ada yang tertarik... sih... -_- )
Iya! :) Mudah-mudahan, saya bisa ngelanjutin semua (kalo iya) cerita saya ampe habis! ^_^ Terima kasih atas dukungannya! :D Sieg-san juga berusaha juga ya! :)
Kazuki Ichika ~
Moshi-moshi Chika-chan! ^^ (A/N:Saya emang sengaja manggil dia "Chika-chan". Pertama, karena dia cewek. Kedua, saya udah tanya ke orangnya dan dia maunya dipanggil kayak gitu ^^ Plus, kami sahabatan di dunia nyata ya, bukan dumay. Chikanya aja yg belum punya/bikin user.) Hehehe~ ^_^ Terima kasih atas dukungan dan pujiannya!~ :D Yaahh,,,,, seperti yg dibilang Chika, kami di duta(dunia nyata) memang udah bersahabat beberapa tahun. (di duta ya, bukan kedutaan (?) )
Kalimat atau Pembicaraan Penutup: Yak! Segini dulu di chapter kali ini. Dan, perlu saya jelaskan, saya nanti bakalan update ulang chapter-chapter sebelumnya karena saya merasa jika para readers baca yg udah ada, saya yakin 100000000%, kalo kalian gak bakalan ngerti sepenuhnya.
Tapi, saya bakalan update ulang pas fic saya udah gak keputus lagi kayak sekarang.
Jadi, jika di summary, saya suruh kalian baca langsung ke chapter 'sekian', itu berarti chapter 1-nya disana. ^^
Yah,,,, kalo tetep mau baca dari awal sih, gak pa-pa juga (asal kalian kuat aja baca cerita yg abstrak bin gaje itu...) Dan, sekali lagi saya mohon maaf jika kalian jadi ngebacanya 'tumpang-tindih', dan mohon jangan salahkan saya karena saya masih newbi, jadi wajar kan dikasih 'pelajaran' ama mbah Fanfiction. net-nya? *Devil's mode : ON*
Sekali lagi, sekian, maaf dan terima kasih. Jaa, sayonara to oyasuminasai! (A/N:Saya nyelesein ini pas malem kira-kira jam setengah sebelas. Besoknya SMP saya libur sih... Hehe~ :P *cengir lima jari ala Naruto*)
