Title : Kisedai Love Camp

Author : Uchiha Ryuko, Nakahara Ningsih, Lee Diah

Genre : YAOI, Romance, a bit comedy

Rate : Teen – MATURE

CHAPTER 3

Akashi melemparkan sebuah kotak pada masing-masing kisedai yang langsung ditangkap dengan sigap seperti menangkap bola basket. Mereka mengerutkan kening menatap kotak kecil yang ada di tangan mereka.

" Apa ini-nanodayo?" tanya Midorima hendak membuka kotak itu.

" Peralatan yang kalian butuhkan untuk courage test ini," jawab Akashi dengan jeda yang disengaja. " Di dalamnya ada peta yang akan kalian gunakan untuk sampai di tempat yang kalian pilih nanti. Selain itu juga ada benda lain untuk berjaga-jaga," jelas Akashi sembari mengeluarkan sebuah botol yang didalamnya terdalam lipatan-lipatan kertas. Tak tahu dari mana dia mendapatkan atau mempersiapkan itu.

" Ambil satu kertas dan jangan buka sebelum aku menyuruh kalian membukanya!" perintah Akashi menyerahkan botol itu pada Kuroko agar diputar ke yang lain.

Setelah semua mengambil kertas di dalam botol itu, mereka langsung membukanya begitu Akashi memberi aba-aba. Akashi juga ikut mendapatkan kertas, meskipun dia yang merencanakannya.

" Apa-apaan ini? Kenapa aku mendapatkan ini?" protes Aomine tidak suka dengan tempat yang dia dapatkan.

" Terima dan jangan protes. Kau yang memilihnya sendiri," ujar Akashi menatap Aomine tajam.

Jadi, di courage test ini, masing-masing kisedai mendapatkan tempat legenda yang berbeda-beda kecuali Kise yang hanya mendapatkan kertas kosong tanpa ada tulisan di dalamnnya. #kok bisa gitu, ya? author juga tidak tahu. Tanya aja sama Akashi. Haha...

Singkatnya, Midorima mendapatkan legenda Kubikajiri dan Chochinobake yang ada di kuburan di tengah hutan itu. Murasakibara mendapatkan legenda Kappa yang ada di danau, Aomine mendapatkan legenda Onne-ane, perempuan cantik yang setengah berbadan ular yang ada di sungai. Meskipun Aomine menyukai cewek cantik dan seksi, tapi bukan berarti dia akan menyukai Onne-ane. Buktinya dia menolak begitu tahu legenda yang dia dapat.

Kuroko dan Akashi masing-masing mendapatkan legenda Hitobashira yang ada di sebuah bangunan tua yang ada di hutan itu dan Sadako yang berada di sumur tua. Sementara Kise, yang mendapatkan kertas kosong, dia harus pergi ke semua tempat yang didapat para member kisedai lainnya. Misi mereka ke tempat-tempat itu bukan untuk menemui atau mencari makhluk mistis yang ada di dalam legenda tempat-tempat tersebut, melainkan untuk mencari barang-barang yang sudah disiapkan oleh Akashi di sana.

Yeah, dari pada panjang lebar menjelaskan ini semua, mending kita langsung aja deh memantau para kisedai yang sudah bergerak menuju tempat masing-masing.

" Berhati-hatilah dengan 'hewan buas' di sekitar area ini," ujar Akashi sambil tersenyum nakal


Kuroko berjalan menyusuri hutan sembari sesekali melihat peta yang diberikan Akashi. Sejauh ini, jalannya lancar-lancar saja. Tak ada halangan apapun. Bahkan tak ada hewan buas yang mendekatinya. Hmm ... apa mungkin ini karena hawa tipis keberadaanya, ya?

Kuroko awalnya sedikit kebingungan dengan rute yang dia lewati. Meski petanya jelas, tapi tak tahu kenapa dia selalu saja salah jalan. Berulang kali dia harus balik kembali ke jalan awal dan mengambil jalan yang benar.

Karena kelelahan, Kuroko beristirahat sejenak di bawah pohon rindang di tengah hutan. Dia ambil vanilla shakenya dan meminumnya. Samar-samar, terdengar suara tak jauh darinya. Kuroko menajamkan pendengarannya unutuk mendengarkan lebih jelas. Namun, suara itu menghilang. Kuroko bersikap cuek dan lagi, suara itu terdengar lagi. Dahi Kuroko mengernyit, namun dia tak ambil pusing.

" Apapun itu, aku tidak peduli," gumam Kuroko berdiri dan melanjutkan perjalanannya kembali.

Sama seperti sebelumnya, Kuroko beberapa kali salah jalan. Di saat dia harus belok ke kanan, dia justru belok kiri. Akibatnya, dia harus kembali lagi dan ambil jalan kanan. Setelah perjuangan yang panjang dan melelahkan dengan jalan-jalan yang berkelok-kelok, akhirnya sampailah Kuroko di tempat tujuannya. Yaitu tempat legenda Hitobashira yang berada di salah satu bangunan tua di hutan itu.

Aneh, memangnya ada, ya bangunan tua di tengah hutan yang dilindungi? #author aja bingung, bagaimana kalian.

Kuroko berjalan mendekati bangunan tua. Perlahan namun pasti, dia akhirnya sampai di dalam ruangan bangunan itu. Karena tak ingin berlama-lama di sana, Kuroko segera mencari benda yang harus dia cari. Meski tak tahu apa, dia terus mencari hingga akhirnya matanya menangkap sesosok kotak yang tak jauh darinya. Tepatnya di salah celah dinding bangunan tua itu.

Kuroko segera mengambilnya dan membuka kotak tersebut. Ternyata isinya adalah wristband hitam seperti yang biasa Kuroko kenakan ketika bermain basket. Tapi ...

" Ini bukan wristbandku. Lalu, wristband siapa ini?" Kuroko heran kenapa yang ada di sana bukan wristbandnya tapi justru wristband lain yang sepertinya masih baru.

Tak jauh dari wristband itu, Kuroko menemukan kertas dan peta lagi.

Follow the map and you will found your true wristband

Kira-kira begitulah pesan di kertas itu. Tak tahu siapa yang menulis pesan itu, yang jelas karena rasa penasaran Kuroko yang tinggi dan juga keinginannya untuk mendapatkan wristbandnya yang asli, maka tanpa berpikir panjang dia mengikuti kata-kata itu dan meneruskan perjalanan berdasarka peta baru yang dia dapatkan.


" Ah, apa-apaan ini? Ini tidak adil! Aku harus pergi ke kelima tempat dan mencari sesuatu yang tidak kuketahui. Ah, Akashicchi hidoi-ssu," gerutu Kise dalam hati.

" Lain kali, aku tak akan kalah bermain pocky! Aku tidak mau dihukum seperti ini lagi!" tekat Kise sembari sesekali melihat peta yang dia bawa.

Memang nasib Kise lagi buruk. Tak tahu bagaimana bisa terjadi, dia mendapat undian kertas kosong yang mengharuskannya untuk mendatangi kelima tempat yang ada. Selain itu adalah hukuman karena kalah bermain pocky, itu juga karena nasib sialnya yang mendapatkan kertas kosong dalam undian. Alhasil, dia harus menyusuri semuanya.

Setelah melihat peta di tangannya dan mengamati letak tempat-tempat itu, Kise memutuskan untuk pergi ke tempat sumur Sadako terlebih dahulu. Setelah itu, dia akan pergi ke tempat Midorima, lalu ke tempat Murasakibara yang merupakan tempat tinggal Kappa. Selanjutnya, dia akan pergi ke tempat Kuroko yang merupakan bangungan tua di hutan itu dan terakhir pergi ke tempat Aomine yang ada di sungai.

Kise sengaja menempatkan tempat Aomine di urutan terakhir, karena dia tak ingin cepat bertemu dengan Aomine. Mengingat apa yang baru saja terjadi ketika di sungai setelah makan tadi, juga bagaimana perasaannya, dia tak ingin terus menerus sakit hati dan melihat Aomine yang terus bersikap cuek dan dingin padanya.

Oke, sepertinya perjalanan Kise tak jauh berbeda dengan Kuroko. Hanya saja Kise baru dua kali salah jalan. Setelah berputar-putar, akhirnya dia sampailah di tempat pertama, di sumur Sadako yang seharusnya menjadi tempat Akashi. Tapi, anehnya di sana Kise tidak melihat Akashi.

" Apa Akashicchi belum sampai di sini, ya?"

Kise mulai mencari benda yang harus dia temukan. Namun, hasilnya NIHIL. Benda itu tak ada di sini. Dia lanjutkan perjalanan berikutnya ke tempat Midorima di kuburan Kubikajiri dan Chochinobake. Namun, sial. Di tengah jalan, Kise mendapat masalah.


Oh, umm… ano… mmm… karena author yang satu ini tidak begitu suka Kise, jadi umm… lebih baik kita lanjut saja ke scene yang lain. #KABUR!

Kuroko melanjutkan perjalanannya mencari kitab suci eh… umm… wristband maksudnya. Sambil sesekali melihat wristband asing yang saat ini digenggamnya Kuroko terus berjalan mengikuti petunjuk peta. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Kuroko tidak salah mengambil jalan hingga dia tiba lebih cepat ke tempat tujuan.

"Umm… aku tidak tahu ada sumur tua di tengah hutan begini." Gumam Kuroko saat melihat sebuah sumur yang ada di tengah hutan. Sumur itu terlihat menyeramkan. Berdiri sendiri di tengah hutan. Ditengah pepohonan rindang.

Kuroko mendekati sumur itu. Sumurnya terbuka, tapi tidak ada air di dalamnya. Kedalaman sumur sepertinya juga sudah berkurang oleh gundukan tanah. Tapi masih cukup dalam untuk ukuran sebuah sumur.

Melihat sumur itu Kuroko jadi teringat legenda Sadako. Si hantu perempuan yang tinggal di dalam sumur. Tapi bukannya ketakutan Kuroko malah semakin penasaran, apa benar ada hantu yang bisa tinggal di sumur seperti itu?

Dengan seksama Kuroko melihat kembali ke dalam sumur.

"Ah… itu wristbandku." Seru Kuroko saat melihat wristbandnya terikat di salah satu dinding di dalam sumur. Dengan cepat Kuroko mengulurkan tangannya ke dalam sumur, berusaha menggapai barang berharga miliknya itu. Tapi tidak sampai.

"Terlalu dalam. Mungkin harus menggunakan alat" Gumam Kuroko. Saat sedang asyik berfikir, tiba-tiba seseorang menyentuh pundak Kuroko.

KYAAAA…!

Ups maaf, yang tadi itu teriakan terkejut author. Kuroko? Tenang saja, dia tidak akan berteriak seheboh itu.

Kuroko merasa sedikit terkejut mendapati seseorang atau mungkin sesuatu yang menyentuh pundaknya. Secara dia kan berada di tengah hutan gelap sendirian pula.

"Ah… Akashi-ku. Kau mengagetkanku." Kata Kuroko lega, tapi dia masih menyentuh dadanya seolah takut jantungnya bakal copot dari tempatnya.

"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Akashi. Ah… Akashi-sama ini pura-pura tidak tahu aja, jelas-jelas dia kan yang menaruh wristband itu di dalam sumur.

"Aku mau mengambil wristband milikku." Jawab Kuroko sambil menunjuk ke arah wristbandnya.

"Kenapa harus diambil? Bukankah kau sudah punya yang baru?" kata Akashi menatap wristband yang masih di genggam Kuroko.

"Mmm… tapi ini bukan milikku." Sekali lagi, Kuroko melihat ke dalam sumur khawatir kalau wristband miliknya di ambil Sadako.

Terlihat sekali Kuroko sangat menginginkan wristband pemberian sahabatnya, Shigehiro Ogiwara. Dan tentu saja, melihat hal itu membuat Akashi sangat tidak senang.

"Apa kau tidak suka wristband pemberianku?" tanya Akashi tajam.

"Oh..umm… bukan begitu…" Kuroko bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Akashi. Mana dia tahu kalau itu wristband pemberian Akashi-sama. Oh, wait… jadi wristband asing itu pemberian Akashi-sama? Kyaa… Serahkan saja padaku Tetsu-kun jika memang kau tidak menginginkannya ,.

Umm… maaf. Back to the story line.

"Kau tidak bisa mengambilnya dengan tangan kosong. Mungkin kau membutuhkan alat." Kata Akashi mengganti topic pembicaraan.

"Mungkin ada sesuatu yang bisa aku gunakan…" kata Kuroko sambil mencari-cari keberadaan benda apapun yang mungkin bisa membantunya.

Sebuah ranting cukup berat terkapar di atas dedaunan kering. Dengan cepat Kuroko mengambil ranting itu. Mungkin dia bisa menggunakannya sebagai tongkat untuk mengambil wristband miliknya.

"mungkin ini bisa membantu." Guman Kuroko terlihat sedikit ragu, mengingat ranting itu cukup berat. Tapia pa boleh buat, hanya itu yang bisa dia temukan di sekitar sini. Kuroko pun mulai beraksi dengan tongkatnya. Akashi? Si tersangka utama itu malah diam saja melihat Kuroko sibuk sendiri.

Huhuhu… maafkan Kuroko, Sadako-chan. Perbolehkan dia menjamah rumahmu sebentar saja.

"Ugh…" Kuroko berusaha menggapai wristbandnya. Ranting yang cukup berat membuat Kuroko harus menggunakan kedua tangannya. Kuroko juga harus berhati-hati, jangan sampai dia salah langkah hingga membuat wristbandnya berakhir di dasar sumur.

"Hm… jangan terburu-buru. Jangan sampai wristband kesayanganmu itu justru terjatuh ke bawah sana." Bisikan Akashi di telinga Kuroko memberikan sensasi aneh di sekujur tubuhnya. Tidak hanya itu, Akashi dengan mulai menggannggu Kuroko yang sedang berusaha berkonsentrasi. Mulai dari memberi ciuman dan gigitan di leher Kuroko, hingga tangan yang dengan nakalnya mulai menelusup masuk ke dalam baju Kuroko.

"hnn… aah…Akashi-kun apa yang kau.. aah.." Kuroko merasakan tangan Akashi yang meraba di daerah sensitifnya. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Kedua tangannya kini sudah penuh untuk memegang ranting yang berat itu.

"Ada apa Tetsuya? Berkonsentrasilah. Jangan sampai tongkat itu terlepas dari tanganmu, karena hanya itu yang bisa kita temukan di sekitar sini kan?." Kata Akashi tanpa dosa.

"tapi…" Kuroko hendak melepaskan tangannya dari tongkat itu sebelum Akashi mencegahnya dengan memegang tangan Kuroko.

"Kau tahu kan tujuan dari Courage test ini? Kau harus mendapatkan kembali benda yang diambil darimu itu. Jika tidak maka kau dianggap gagal, dan tentu saja akan ada hukuman bagi yang gagal." Kata Akashi memperingatkan Kuroko.

GULP

Kuroko berfikir sejenak. Memang benar apa yang dikatakan oleh Akashi, dan lagi hukuman dari Akashi pasti bukan sesuatu yang bagus untuknya. Mau tidak mau Kuroko tidak boleh gagal dalam Courage test ini.

Kuroko akhirnya kembali berkonsentrasi pada wristbandnya. Tentu saja hal itu membuat sang Emperor tersenyum dengan penuh kemenangan.

Kuroko harus mengambil wristband miliknya secepat mungkin, karena dengan begitu dia juga bisa dengan cepat terlepas dari Akashi.

Kuroko semakin gigih menggapai Wristband miliknya. saat dia hampir berhasil menggapai wristbandnya tiba-tiba Akashi memberikan gigitan di leher Kuroko yang membuat tongkat meleset dari targetnya.

Note: tongkatnya meleset bukan karena Kuroko merasa kesakitan, tapi justru merasakan nikmat karena gigitan Akashi. Hey, bukan berarti Kuroko itu tipe M ya….

Kress…. Kress…. Kress… wah kali ini apa lagi?

Akashi yang sepertinya memang tipe S mulai memotong baju milik Kuroko dengan gunting hingga memperlihatkan kulit mulus sang Shadow. Duh, Akashi –sama ini kemana-mana kok bawa gunting sich.

"Akashi-kun!" kali ini Kuroko benar-benar terkejut. Tapi dia tidak punya waktu untuk itu. Kuroko harus segera mengambil wristbandnya sebelum Akashi berhasil melepas paksa pakaiannya. Yah, tapi apa mau dikata, sang emperor memang selalu menang. Gunting Akashi lebih cepat daripada Kuroko. Dalam hitungan detik baju atasan Kuroko sudah terlepas dari tempatnya.

Kyaa… good job Akashi-sama!

Udara dingin mulai menusuk kulit Kuroko yang lembut dan halus bak baby itu. Tapi dengan cepat Akashi menggantikannya dengan kehangatan tangan dan bibirnya.

"Mmm… you have nice skin Tetsuya."

Tidak cukup dengan hanya menikmati tubuh bagian atas Kuroko, kini Akashi mulai menjamah kebagian bawah.

Kyaa… let me try it too Akashi-sama. Ups sorry, but acctualy I am LITTLE BIT pervert Author hehe…

Let me explain this scene simply, step by step. And if you want to learn it, just follow the step.

Step one, you must unbutton Kuroko's pant. Step two, bring your arm lower. Step three, keep discovering…. And…. You got it!

Yay! You did it Akashi-sama!

Back to Story! Umm… I mean back to Akashi's arm.

Tapi apa Author harus benar-benar menjelaskannya secara detail. Maksudku ini adegan intim mereka berdua kan? Come on, give them some privacy… #author banyak omong, dilempar sandal para reader.

"Tetsuya, do you love me?" bisikan Akashi memberikan sengatan listrik di sekujur tubuh Koroko.

YES! I LOVE YOU AKASHI SAMA! #plak Akashi sama ga tanya sama Author.

Tidak perduli sebesar apa kenikmatan yang dia rasakan, Koroko masih berusaha menahan suaranya.


Karena author yg satu ini AoKise lover, mari kita lanjutkan scene yg tertunda ;)

Hari ini memang hari yang buruk untuk gemini. Senter yang digunakan Kise untuk menerangi jalan (menuju kebenaran) mati begitu saja.

"What ? Kenapa tiba-tiba mati-ssu?" bisik Kise mulai panik.

Akhirnya dengan terpaksa Kise melanjutkan perjalanan untuk menuju ke final battle dan menghadapi big boss yang terakhir(emang ini game?). Sekitar 5 menit kemudian, Kise sudah sampai di tempat Aomine. Tempat itu gelap dan tak ada penerangan sama sekali. Kise bersyukur karena tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan Aomine Daiki.

Lalu bagaimana cara Kise menemukan benda yang dimaksud Akashi? Yah, Akashi memang hebat dalam menyiksa model yang satu ini. Namun, beruntung Kise melihat secercah harapan yang tergantung di sebuah perlahan Kise mendekati sebuah pohon besar yang tumbuh di pinggir sungai. Ia melihat sesuatu yang tergantung di sana.

"Ah,,,itu benda yang dimaksud Akashicchi,"

Benda itu tergantung di dahan yang cukup tinggi. Meskipun Kise tidak memiliki super jump seperti Kagami, Kise berhasil melompat dan meraih tas kecil yang tergantung itu. Ia segera membukanya dan kaget mendapati apa yang ada di dalamnya.

Kumpulan foto sexy Mai-chan!

"Heh? Apa aku salah ambil benda punya Aominecchi ya?"

Kresek...kresek...

"Su-suara apa itu-ssu?"

Kresek...Kresek..Duakhh...Buaghh...Byurrr!

"Kyaaaaa...!"

"Hwaaaaaaaa !"

Wait?! Kenapa ada dua suara teriakan di sini? Suara yang seperti wanita pasti tak lain adalah suara si cerewet Kise. Lalu yang satu?

Kise memberanikan diri untuk melihat 'sesuatu' yang menabrknya. Samar-samar ia melihat sesosok bayangan hitam yang mengenakan kaus berwarnaa biru tua dan celana jeans. Sosok itu terlihat begitu ketakutan sama seperti Kise. Well, berarti dia bukan hantu kan? Kise memberanikan diri mendekati sosok itu, seorang pria yang warna kulitnya hampir menyatu dengan kegelapan, hanya kaos berwara biru tua dan juga rambut dark blue nya lah yang memperjelas keberadaannya.

"Eh? A-aominecchi?"

Yang dipanggil, perlahan mulai bangkit dari rasa takutnya dan merespon suara yang sangat dikenalnya."Kise?"

"Pftt...Hwahahaha..ternyata Aominecchi itu takut sama hantu-ssu!? Padahal kau itu kan mirip dengan hantu-ssu."

"What? Kau sendiri barusan berteriak seperti wanita?!" respon Ao kesal.

"Ha-habisnya Aominecchi yang bikin aku kaget-ssu," bantah Kise.

"Hah. Terserah. Aku sedang mencari benda yang dimaksud Akashi. Jangan mengganggu!" ujar Ao cuek. Ia mulai menyalakan senternya dan berdiri untuk menyelamatkan Mai-chan tersayangnya.

"Ah, kalau yang Aominecchi maksud adalah majalah Mai-chan..tadi aku nggak sengaja menemukannya ...tapi...sepertinya terlempar entah ke mana gara-gara Aominecchi tadi menabarakku-ssu."

"Apaaaa?!" seru Aomine lebay. "Kise! Pokoknya kau harus menemukan majalah itu! Itu edisi terbatas tahu?!"

"Haaa? Kenapa aku? Kan aominechhi ssendiri yang salah tiba-tiba nabrak aku seperti itu?!"

"Pokoknya harus ketemu ! kalau tidak..."

Aomine mengeluarkan selembar foto dari tas kecil berwarna kuning dan menunjukannya pada Kise. "Foto ini akan kusebar dan kujual untuk menggantikan majalah Mai-chan yang kau hilangkan!"

Kise blushing ketika melihat foto dirinya yang sangat memalukan. "Ke-kenapa kau bisa mendapatkan foto itu. Aominecchi?"

"Aku hanya menemukannya di dekat sungai. Sisanya tanya saja pada Akashi."

Ah..jadi yang sebenarnya begini, Kise justru menemukan benda berharga milik Aomine yaitu majalah Mai chan limited edition. Dan Aomine menemukan foto memalukan Kise yang entah didapat darimana oleh Akashi. Alhasil, dengan terpaksa Kise menuruti keinginan Ao dan mulai mencari tas biru yang entah terlempar ke hampir 15 menit tapi Kise tak menemukan apapun.

"Oi Kise, coba cari di sungai!" usul Aomine.

"What? Di sungai? Ini sudah malam dan gelap Aominecchi! Bagaimana jika tiba-tiba ada hantu atau hiu yang akan memakan diriku yang manis ini-ssu. Lagipula pasti dingin sekali!"

"Ah yasudah..besok pasti internet bakalan gempar." Respon Ao tanpa dosa.

"Ah mou~ baiklah. Akan kulakukan!" Kise akhirnya melepaskan t-shirt miliknya dan mulai mendekati sungai. Aomine bisa melihat dengan jelas punggung putih Kise yang terlihat begitu indah di bawah sinar bulan. Surai pirang sang model pun menambah aura menggoda yang menguar begitu kuat. Well, seperti madu yang sangat sadar, Aomine menelan ludahnya karena tegang melihat Kise yang..menggoda.

Hmm, pesona seorang Kise Ryouta memang cukup berbahaya. Bahkan untuk raja mesum pecinta dada besar seperti Aomine pun tergoda imannya. Akhirnya Ao memutuskan untuk mendekati sang model dan mencicipi betappa manisnya madu itu.

Kise tak sadar bahwa ada binatang buas yang tengah mengincarnya saat ini. Kise terkejut ketika menyadari dua buah tangan yang tiba-tiba memeluknya dari belakang dan mengelus perutnya yang terekspos bebas.

"A-aominecchi?Apa yang kau lakukan?" teriak Kise panik.

"Ssst.. Aku tidak ingat kau diperbolehkan untuk bicara," Respon Ao tenang sambil menggerakan tangannya menuju nipple Kise yang tak terlindungi. "Tapi untuk kali ini, akan kubuat kau menjerit bahagia, Kise." Kali ini bibir Ao mulai mencicipi leher Kise dan meninggalkan kissmark untuk menandai hak milik.

"Nn..Stop it.. Aominecchi," Kise berusaha melawan Ao yang mulai bermain dengan tubuhnya. Namun sensasi kenikmatan yang ia rasakan karena sentuhan Ao, hanya bisa melawan secara verbal.

Aomine yang melihat adanya kesempatan, melanjutkan aksinya ke tahap level 2. Ia mulai meraba bagian bawah Kise yang mulai menegang. Sambil tersenyum ia mulai menurunkan resleting yang menghalangi hidangan utamanya.

"Nghh...Wait? Jangan sentuh Ahhh..." Terlambat Kise. Aomine sudah terlanjur melakukan aksinya. Tangannya mulai bermain di bawah sementara bibirnya masih sibuk melakukan jilatan dan hisapan di tubuh yang seputih madu itu.

"Ngghh...Ao..minechi..please..its my first time..." desah Kise di sela-sela kenikmatannya. Tubuh keduanya semakin memanas karena sengatan listrik listrik portable(?) yang tercipta akibat hubungan arus pendekdari tubuh keduanya.

"Dont worry, I'll be gentle with you."

Ahh..keduanya bahkan hampir tak merasakan bahwa mereka sedang berada di tengah dinginnya sungai. Tubuh keduanya sudah terlanjur panas oleh nafsu yang membara.

"Kise...look at me..." panggil Aomine.

Kise memalingkan wajahnya untuk menjawab panggilah Aomine. Namun ia justru mendapat ciuman liar dari sang Ace. Kali ini Kise berusaha mengikuti permainan Aomine untuk bermain dengan lidahnya. Tanpa harus menunggu Aomine menggigit bibirnya seperti saat first kissnya. Kise mempersilahkan Ao memasuki rongga mulutnya dan mengabsen setiap deret giginya. Keduanya saling menghisap dan mengulum untuk saling melampiaskan nafsunya.

Oh sial. Bibir Kise benar-benar lembut dan manis. Membuat Aomine semakin hilang kendali. Kecupan-kecupan itu berubah menjadi semakin panas. Gigitan-gigitan kecil pun tak bisa terhindarkan. Membuat bibir lembut Kise menjadi sedikit membengkak dan memerah.

"Mmmnn..Ahhh...A..ominechii.."

Keduanya mengerang kesal ketika keduanya harus terpaksa melepas ciuman panas itu untuk mendapatkan pasokan oksigen.

"Kise... Please let me in..." bisik Ao dengan nada sensual yang membuat Kise bergetar. Tangan Ao tentu saja masih sibuk bermain di bawah untuk mengunci protes dari Kise.

"Noo...Aominecchii..Nnn..Im not ready...Ahhh..Im gonna come" bisik Kise tak berdaya. Akhirny Sang model pun mengeluarkan hasratnya setelah Ao berhasil membuatnya mendapatkan klimaks. Air mata yang keluar dari manikk madu itu membuat Ao blushing dan hampir nosebleed.

Crap ! Kise is so damn beautiful !

"Lalu kapan kau siap, Kise?" tanya Ao sambil memutar posisi Kise hingga keduanya saling berhadapan. Dark blue bertemu dengan golden yellow. " Will you say it again?"

Kise yang saat ini menatap Ao hanya bisa membeku. Sekali lagi, ia terpesona oleh aura misterius yang dimiliki Aomine. Ia berusaha mengalihkan pandangannya agar tak terjebak seperti saat dua tahun yang lalu. Ketika ia benar-benar jatuh ke dalam pesona Aomine Daiki.

"What do you mean, Aominecchi?"

"Say that you love me, again."

"I.. cant say it.. because...Hmphh.." Belum selesai Kise menyampaikan pendapatnya Ao sudah membungkamnya dengan ciuman ganas. Bahkan lebih ganas dan liar dari sebelumnya. Beberapa tetes darah pun sempat menetes dari bibir indah Kise akibat gigitan tak terkendali Aomine.

"Mmm Ahhh..stop it Aominechhi !" seru Kise kesal sambil mendorong Ao untuk mundur. Dengan sisa tenaga yang ada, ia berjalan menjauhi sungai. Ah, sialnya belum lama ia berjalan Ao sudah menangkapnya dan memepetnya ke pohon terdekat. Sepertinya klimaks barusan benar-benar menguras tenaga Kise.

Brakk !

Aomine meluruskan kedua tangannya di pohon terdekat untuk mengunci Kise agar tak bergerak, Ia menatap Kise dengan intens dan mengharapkan sebuah penjelasan.

"Kenapa? Kenapa kau tak bisa mengatakannya? Dont lie to yourself Kise!"

"I dont want to be hurt again," bisik Kise sambil menatap ke tanah, tak berani melihat manik dark blue yang terus menyerangnya. "Im sorry Aominecchi, I cant say it..Mmm"

Lagi-lagi Aomine membungkam Kise tanpa alasan. Kemudian ia turun ke leher sang model dan menjilatinya serta tak lupa kissmark untuk membuat Kise terus mengingat malam panas ini.

"Kise...I'll make you say that you love me again.." Ujar Ao sambil terus melanjutkan kegiatannya mencicipi sang model.

Kise hanya bisa pasrah dengan tindakan Aomine. Akal sehatnya terus memperingatkan agar Kise tak tenggelam oleh sentuhan memabukkan dari sang Ace, tapi tubuh,perasaan dan nafsu sudah menguasai seluruh pikiran Kise. Ia hampir tak bisa berpikir lagi, otaknya terlalu kosong dan tak terkendali.

"Nnn..Aominechhi..Im sorry."

"Tenanglah, setelah ini bukan kata maaf yang akan kau ucapkan Kise. Bersiaplah untuk klimaks kedua dan kali ini, aku...juga akan bergabung." Bisik Ao sambil memberikan sebuah senyuman menakutkan.

Gulp. Kise merasakan firasat buruk.

"Wait Aominecchi! You are not going to Fuck me, right?!" seru Kise panik.

"Well...Who knows?" respon Ao sambil melepas resleting celananya dan mulai mendekati Kise.

He's really in a bad luck today. Poor You, Kise...

-To be continued-

Wahaha... Lagi-lagi adegan lemon yang menggantung

Please dont kill me reader-tachi -A-

Thanks buat yang sudah me review, men follow dan men fav cerita absurd bin ngawur

Maaf ga bisa balas satu-satu ya~

Anyway, Review please ~

Regards

RYUKO