~This Is Love~

2PM's story...

ChanHo, KhunYoung, TaecKay

Happy Reading :)

woonha : Thanks for you review. enjoy read~


Pagi hari yang cerah di kota Seoul. Minjun bangun dan melihat sekelilingnya. Sinar matahari masuk melalui sebuah jendela kecil di salah satu sisi ruangan.

'kenapa aku ada di kamar Wooyoung?' Pikir Minjun.

'ah iya, kemaren kami minum bersama.' Minjun duduk di samping ranjang, mengucek matanya.

'sepertinya aku terlalu banyak minum.'

Minjun memegang kepalanya sambil berjalan keluar kamar. Di ruang tengah terlihat Wooyoung yang masih tertidur di samping sofa.

"dasar Wooyoung, kebiasaannya tidur dilantai masih saja belum hilang. Padahal disampingnya ada sofa. Harusnya kan ia bisa tidur di sofa." Minjun bergumam sendiri.

Minjun segera menuju dapur, mengambil segelas air dan meminumnya. Tadinya Minjun ingin membuat sarapan untuk dongsaeng-dongsaengnya, tapi ia tidak melihat ada bahan makanan baik di kulkas ataupun di lemari. Hanya ada sebungkus mie instan di lemari.

Minjun akhirnya memutuskan untuk berbelanja sendiri. Ia tidak tega membangunkan dongsaeng-donsaengnya yang masih tertidur lelap.

Minjun memasuki sebuah supermarket dekat apartement Wooyoung. Ia mengenakan jaket coklat, syal merah gelap, topi bertuliskan'NY' dan kacamata hitam. Resiko menjadi seorang idola. Minjun tidak bisa pergi tanpa menutupi mukanya. Ia tidak suka membuat kerusuhan.

Dari jauh, seorang namja berkalung kan sebuah kamera mengamati Minjun yang sedang memilih buah dan sayur. Namja yang bernama Taecyeon itu tanpa sadar memotret Minjun dengan kameranya. Minjun yang merasakan adanya blitz kamera mulai gelisah. Ia langsung mengambil semua yang ia butuhkan dan menuju ke cashier.

Taecyeon yang sadar bahwa dirinya telah memotret orang tanpa izin merasa malu. Apalagi sepertinya orang yang ia potret sadar. Taecyeon pun segera menuju cashier. Taecyeon berbaris tepat dibelakang Minjun.

"Maaf, anda Jun.K kan?" Wanita yang menjadi menjaga cashier bertanya pada Minjun.

"ehm… iya." Minjun menjawab dengan ragu.

"wah, beruntung sekali aku. Bisa kita berfoto bersama? Aku sangat mengagumi anda." Wanita itu memohon pada Minjun.

Minjun melihat sekelilingnya, masih sepi. Hanya ada ia, wanita yang menjaga cashier dan seorang namja yang berdiri di belakangnya. Ia pun tersenyum dan menggangguk pada wanita itu.

Wanita itu terlihat sangat senang. Ia langsung mengeluarkan handphonenya dan meminta tolong Taecyeon untuk memfotonya bersama Jun.K.

"maaf tuan, bisa tolong foto kami?"

"tentu." Ujar Taecyeon singkat. Ia langsung mengambil handphone wanita itu dan memfotonya.

"terima kasih."

Setelah berfoto, Minjun segera membayar belanjaannya dan pergi. Taecyeon yang kemudian membayar belanjaanya bertanya pada wanita yang menjaga cashier.

"siapa laki-laki itu? Apa dia artis?"

"ya. Dia penyanyi yang sangat terkenal di Korea. Namanya Lee Minjun, dikenal dengan nama Jun.K. Apa anda baru tinggal di Korea?" Tanya wanita itu sopan.

"ne." Jawab Taecyeon.

Di perjalanan pulang ke Apartementnya, Taecyeon mampir ke sebuah toko DVD. Ia mencari CD lagu Jun.K. Entah mengapa Taecyeon sangat penasaran dengan Jun.K. Ternyata ada cukup banyak CD lagu Jun.K, Taecyeon bingung harus membeli yang mana. Akhirnya Taecyeon mengambil sebuah CD secara acak dan membayarnya.

Sesampainya di Apartement, Taecyeon langsung memutar CD Jun.K di CD-playernya.

'suaranya sangat jernih.' Pikir Taecyeon.

Kyeoure taeeonan areumdaun dangsineun
Nuncheoreom kkaekkeuthan namanui dangsin

Gyeoure taeeonan sarangseureon dangsineun
Nuncheoreom malgeun namanui dangsin

Hajiman bom, yeoreumgwa gaeul, gyeoul

'ah lagu ini kan.' Taecyeon tersenyum dan langsung teringat anak kecil yang dulu ia temui di Lapangan.


"Junho-ya." Panggil Chansung sambil mengejar Junho yang berjalan di depannya. Mereka berdua baru saja pulang sekolah.

"ada apa Chan?" Tanya Junho setelah Chansung berhasil menyamai langkahnya dengan Junho.

"kamu mau kemana hari ini?" Chansung malah balik bertanya pada Junho.

"molla, nanti sore aku ada pemotretan. Lalu malamnya aku, Wooyoung dan Suzy harus menemani Minjun-hyung pergi ke pesta." Ucap Junho. Ia seperti melaporkan semua kegiatannya hari ini pada Chansung.

"kalau begitu sekarang temani aku yaa… ada café yang baru buka, semua teman sekelas pernah kesana. Hanya kita yang belum."

"aih, Chansung. Kenapa selalu hanya ada makanan di otakmu?"

"ayolah Junho. Temani aku. Aku yang traktir deh." Chansung berusaha membujuk Junho.

Sebenarnya Junho tergiur oleh tawaran Chansung, tapi ia pura-pura menjual mahal.

"andwae. Aku mau ke NEPA-store."

"nanti aku temani kamu ke NEPA-store juga deh." Chansung masih berusaha membujuk Junho.

"…" Junho hanya diam. Tiba-tiba Chansung mengerti maksud Junho. Ia langsung merangkul leher Junho dengan satu tangan dan cemberut.

"Junho-ya, gajiku belum turun. Tega sekali kau padaku."

"kalau tidak mau yasudah." Kata Junho ringan.

Chansung berpikir sejenak. Kemudian ia mempererat rangkulannya di leher Junho sehingga Junho sedikit tercekik.

"baiklah, ayo kita ke NEPA-store."

"sa…kit…. Channie! Ka…u… men…ce…kik…ku…" Junho meronta sambil memukul punggung Chansung agar ia melepaskan rangkulan mautnya. Sedangkan Chansung malah tersenyum geli melihat Junho memukulnya.

Sesampainya di NEPA-store, Junho langsung ke bagian sepatu. Sesuai dugaan Chansung, ia lah yang akan membayar sepatu yang dipilih Junho, sepatu sport berwarna merah dengan garis kuning. Setelah membayar sepatu pilihan Junho, mereka berdua menuju café yang letaknya tidak terlalu jauh dari NEPA-store.

"thank you Channie." Ucap Junho manja dengan aegyo-nya.

"kau bahkan tidak pernah membelikanku sesuatu." Sindir Chansung.

"hey! Ingat, aku yang membelikanmu jaket ini ketika kau ulang tahun." Ucap Junho sambil menarik-narik jaket yang dikenakan Chansung.

"tapi itu sudah lama sekali. Aku selalu membelikanmu sesuatu dengan gajiku." Ucap Chansung sambil berpura-pura sedih.

Junho tidak membalas perkataan Chansung karena mereka berdua sudah berada di depan café. Chansung memesan banyak kue-kue dan minuman untuk mereka berdua. Chansung bilang bahwa ia akan mencoba semua kue yang ada di café itu.

"Chan," Junho berusaha menarik perhatian Chansung dari makanan-makanan yang sudah ada di atas meja.

"hmm." Chansung menggigit sebuah roti pisang.

"kau mau kubelikan apa?" Tanya Junho.

"kau akan memberikan aku hadiah?" Kata Chansung setelah menelan makanan di mulutnya.

"tentu saja. Ulang-tahunmu kan 5 bulan lagi." Ucap Junho polos.

"itu masih lama Nuneo." Chansung merajuk.

"lagipula hadiah itu harus dari hatimu." Tambah Chansung.

Junho diam. Ia mulai memikirkan hadiah apa yang harus ia belikan untuk Chansung.

"Nuneo, kemarin kau pergi sama siapa?" Chansung bertanya dengan nada yang sedikit dingin.

"oh, aku pergi dengan jaebeom-hyung. Dia temanku."

"yakin hanya teman? Kemaren aku melihatnya mencium pipimu Nuneo.." Chansung menaikkan nadanya 1 oktaf.

"apfaah?" Junho kaget. Hampir saja ia tersedak.

"dia tidak menciumku Chan. Tapi, apa kau mengikutiku?" Selidik Junho.

"hm… iya…" Chansung mengakui dengan malu-malu.

"aish! Dasar pabbo!"

"kenapa kemaren kau ke rumah sakit? Apa kau sakit Junho-ya?" Chansung tidak bisa menahan rasa penasarannya.

"ani. Kemaren aku hanya melakukan tes kesehatan. Jaebeom-hyung memaksaku."

"oh, syukurlah. Kupikir kau kenapa-napa." Chansung merasa lega.

"dasar beruang pabbo!" Junho menggelengkan kepalanya. Sahabatnya yang satu ini sangat posesif.


"halo?"

"Khun-oppa! eomma bilang kau harus menghadiri pesta malam ini. Keluarga besar kita akan hadir, ada banyak kolega juga."
"ne, aku tahu suzy-ya, satu jam lagi aku akan tiba disana." Ucap Nichkhun malas.

Nichkhun tidak menunggu jawaban adiknya. Ia langsung mematikan handphonenya dan melanjutkan perkerjaannya. Nichkhun selalu memanfaatkan setiap waktu yang ada untuk mengerjakan pekerjaannya.

"hyung, kenapa kau belum siap-siap?" Suara seungho mengagetkan Nichkhun. Nichkhun bahkan tidak sadar Seungho sudah berada di sampingnya.

Seungho sudah memakai tuxedo hitam dengan dasi merah. Nichkhun meminta Seungho untuk menemaninya pergi ke pesta keluarganya.

"aku tinggal memakai jas kok." Ucap Nichkhun polos.

"lebih baik kita berangkat sekarang supaya kita tidak terlambat." Saran Seungho.

"ah kau benar, sudah jam 6 kurang. Kenapa waktu berjalan cepat sekali ya." Ucap Nichkhun sambil melihat jam tangan. Nichkhun langsung memakai jas hitam dan dasi berwarna coklat.

"ayo kita berangkat." Ajak Nichkhun.

Seungho menggeleng pelan. Hyung-nya ini sangat gila kerja.

"oppa," Suzy tersenyum lebar melihat kakaknya datang ke rumah. Sudah setahun lebih Nichkhun tidak pernah pulang ke rumah. Nichkhun lebih memilih tidur di rumah sakit.

"dimana eomma?" Tanya Nichkhun.

"bersama appa di ujung sana. Mereka sedang menyambut tamu undangan." Jawab Suzy.

"Seungho-oppa!" Suzy langsung berdiri disamping Seungho yang baru saja masuk kedalam. Tangan suzy langsung merangkul tangan Seungho.

"oh, hai Suzy. Kau cantik sekali." Puji Seungho.

"Suzy-yah, temani Seungho ya, oppa mau bertemu eomma."

Nichkhun pergi tanpa menunggu jawaban adiknya.

"eomma," Panggil Nichkhun. Ia langsung memeluk ibunya.

"Nichkhun-yah, ibu kangen sekali padamu." Ibu Nichkhun membalas pelukan Nichkhun.

"hai Nichkhun." Sapa seorang laki-laki yang berdiri disebelah ibunya.

"selamat malam paman." Nichkhun membungkuk singkat pada laki-laki tersebut.

"Nichkhun-ah, sudah ibu bilang panggil dia appa."

"eomma, maaf aku harus menemui kolega disana." Elak Nichkhun. Nichkhun langsung berjalan menjauh dari eomma dan ayah tirinya.

Nichkhun berdiri di salah satu sudut ruangan dengan segelas cola ditangannya. Matanya memandang keseluruh ruangan berusaha mencari seseorang yang ia kenal. Seungho yang diajaknya ke pesta ini untuk menemaninya malah disandera oleh adiknya. Mata Nichkhun tiba-tiba memperhatikan tiga orang namja dan seorang yeoja yang sedang mengobrol bersama. Salah satu dari mereka kelihatan tidak asing bagi Nichkhun.

'ah benar. Bukankah itu Jun.K. Kenapa dia bisa ada disini ya?' Pikir Nichkhun.

"Suzy, kenapa bisa ada Jun.K disana?" Tanya Nichkhun pada Suzy yang baru saja menghampirinya bersama Seungho.

"oppa, Jun.K itu manager dari model yang membintangi brand terbaru eomma. Kau lihat dua orang namja yang bersamanya bukan? Mereka adalah modelnya."

"ooh…"

"lebih baik kau menyapanya oppa. Mereka kan tamu kita."

"kenapa tidak kau saja?" Nichkhun protes.

"kau kan kakak tertua. Lagipula aku harus menemani Seungho-oppa."

"aishh…" Nichkhun menggelengkan kepalanya. Adiknya benar-benar tergila-gila pada Seungho. Nichkhun langsung pergi untuk menyapa Jun.K.

"selamat malam, apa kalian menikmati pestanya?" Tanya Nichkhun sopan pada 3 orang namja yang sedang mengobrol.

"n-ne," Ucap Jun.K bingung karena diajak bicara oleh seorang namja tampan yang tidak dikenalnya.

Nichkhun tersenyum melihat ketiga namja didepannya menatapnya bingung.

"kenalkan aku Nichkhun. Aku anak Park Gae In." Nichkhun bersalaman dengan Jun.K.

"ah, aku Kim Minjun. Ini dongsaengku Wooyoung, Junho dan IU." Jun.K menunjuk seorang yeoja yang sedang menelepon di ujung ruangan.

"Wooyoung."

"Junho."

Wooyoung dan Junho bersalaman dengan Nichkhun.

"Junho-ya…" Chansung menghampiri Junho.

"Chan? Kenapa kau bisa ada disini?" Junho terlihat kaget.

"managerku diundang ke pesta ini dan aku memaksa ikut karena ada kamu disini." Ucap Chansung polos.

"aah…" Junho baru ingat tadi siang ia melaporkan kegiatannya hari ini pada Chansung.

Dalam sekejap, Chansung dan Junho sudah pergi berdua. Chansung meminta Junho menemaninya mengambil makanan. Minjun juga pergi karena harus menemui kolega yang baru saja tiba. Tinggal Nichkhun dan Wooyoung yang masih berdiri dalam diam.

"yah, mereka pergi meninggalkanku sendirian." Ucap Wooyoung pelan.

"tenang saja, kan ada aku disini." Kata Nichkhun.

Wooyoung dan Nichkhun cepat sekali akrab. Dalam 10 menit mereka sudah bercerita banyak hal.

"wah kau hebat sekali, 21 tahun dan kau sudah menjadi dokter sekaligus pemilik rumah sakit." Wooyoung terpana.

"tidak juga, rumah sakit itu hasil kerja keras appa-ku." Nichkhun tersipu malu.

"ah iya, ini." Nichkhun menyerahkan kartu namanya pada Wooyoung.

"kalau kau sakit datang saja padaku." Nichkhun berkata bangga.

Wooyoung menerima kartu nama Nichkhun dan mengangguk.

"oh ya, bagaimana denganmu? Kata adikku, kau seorang model."

"aku dan saudara kembarku, Junho, mulai mengikuti audisi model tahun lalu. Minjun-hyung memberi pengaruh cukup besar pada kami. Ia sudah seperti orang tua kami sendiri. Ia mengasuh kami sejak aku berumur 15 tahun. Padahal saat itu ia tidak semapan saat ini." Wooyoung mulai bercerita.

Nichkhun bisa melihat dengan jelas betapa Wooyoung sangat menyayangi hyung-nya itu. Nichkhun sedikit iri dengan kedekatan Wooyoung dan keluarganya. Andai ia bisa seperti itu dengan keluarganya.


"IU-ah. Jangan marah." JB membujuk IU yang sedang merajuk padanya.

"…"

"mianhae, kemarin aku tidak bisa menemanimu di pesta. Café orangtuaku sedang ramai pengunjung."

"…."

"ayolah IU, aku akan menebusnya hari ini. Kita pergi ke Dreamland bagaimana?"

"benarkah?" Raut wajah IU langsung berubah.

"tentu saja."

"oh ya IU, hari ini ada murid baru dikelasku. Namanya Jr. Ia pindahan dari Amerika. Bukankah itu hebat?" JB tampak bersemangat.

"aigoo… JB-ah, itu biasa saja. Kenapa semua hal kau bilang hebat sih?" IU mulai jengkel. Jika JB sudah berkata sesuatu itu hebat, maka ia akan membiacarakannya seharian.


"Chansung! Kenapa kau mengikutiku terus sih? Pulanglah." Ucap Junho jengkel. Sejak bel sekolah berbunyi, Chansung terus mengikuti Junho dari belakang.

"Junho-yah, aku mau ikut." Ucap Chansung dengan tampang memelas.

"aish, Chansung-ssi, aku hanya akan mengambil hasil tes."

"tapi aku mau ikut." Chansung tetap ingin menemani Junho.

"terserah kau saja."

Junho berjalan tanpa memperdulikan Chansung dibelakangnya.

"tuan Lee Junho." Panggil seorang perawat.

"ne…" Kata Junho. Ia langsung berdiri.

"Chansung-ah, kau tunggu disini." Ucap Junho tajam. Chansung yang sudah berdiri karena hendak menemani Junho kembali duduk di depan ruangan dokter.

"tuan Junho-ssi, apa anda pernah mengalami sakit di bagian dada?" Tanya Dr. Seungho.

"apa ada sesuatu yang salah?"

"berdasarkan hasil tes, ada yang aneh pada jantung anda. Sepertinya kinerja jantung anda mengalami penurunan secara berkala. Kami masih mencoba mencari tahu penyebabnya. Ini adalah hal yang sangat langka di dunia kedokteran."

To Be Continued~