Author : ChaNara

Cast : All EXO's members, Chen and Shoo(OC) as the main cast, etc

Genre : fantasy, little romance, friendship, mystery, mixed genre detected :D

Length : Chaptered

Summary :

"Bahkan aku tak tahu harus menyebutmu apa. Kau bukan seekor hewan, tapi kau bisa berkomunikasi dengan Monggu. Kau bukan seorang manusia, tapi kau berhasil… membuatku tahu apa itu arti jatuh cinta, Shoo,"-Chen

A.N. : Sorry banget untuk apdet yang sangat lama Aku sibuk sama tugas sekolah yang seabrek sampai gak sempet nerusin. Ni sekalinya nerusin aku berasa feelnya agak beda T.T sebenernya draftnya untuk chap 3 udah ada, tinggal ngembangin, tapi karena ada salah satu temenku yang nebak jalan ceritanya dan sekitar 20% bener, jadi aku rombak habis-habisan *sok sok an banget ni author satu -,-* Pokoknya happy reading deh! xD

Disclaimer : Plot is mine

So just let the story continues…

"Kami pulang!"

Suara Dio terdengar nyaring saat rombongan kecil itu muncul di depan pekarangan rumah. Chen sedikit mengernyit heran melihat sosok Chanyeol yang murung ada di antara mereka.

Bukankah harusnya Chanyeol gembira? Mereka baru saja kembali dari rumah Nyonya Victoria kan?

Dan bukankah Luhan bilang hanya Dio dan Kris yang ke sana? Sejak kapan manusia tinggi itu ikut?

"Dia berhasil merepotkan Nyonya Hyuna," celetuk Kris datar sambil menunjuk 'sosok' yang tengah menunduk di belakangnya. 'Gadis' itu tak berani mengangkat kepalanya sampai Monggu berjalan mendekatinya.

"Woof! Woof! Woof!"

Ia berjongkok di depan Monggu dan mengelus kepala anjing itu pelan. Matanya berbinar senang melihat Monggu berputar-putar kegirangan. Giliran Kai yang mengernyit heran.

Monggu tak pernah bermanja-manja dengan orang lain –selain EXO.

"Eunnnngggg…" 'gadis' itu bergumam tak jelas sambil terus mengelus Monggu sampai akhirnya mereka berdua saling berkejaran.

"Huah! Tadi Tuan Onew dan Nyonya Victoria ke kota, jadi kita terpaksa ke rumah Tuan Joon. Untung tadi aku membawa daging panggang, jadi tak terlalu memalukan datang dengan tangan kosong," ujar Dio sambil mencomot sepotong daging dari piring Sehun.

"Hyung! Jatahku cuma dua potong! Kenapa kau ambil?!" pekiknya marah. Dio terkekeh pelan lalu mengambil potongan daging lain dari pemanggang dan memberikannya pada Sehun.

"Sepertinya dia tidak –jauhkan tanganmu dari dagingku, Kai!- merepotkan seperti katamu. Lihatlah, dia gembira sekali bermain bersama Monggu," Lay yang daritadi diam pun bersuara. Kris tersenyum tipis.

"Dia sedikit takut dengan air, jadi Nyonya Hyuna terpaksa menyandarkan lutut di punggungnya agar dia mau diam. Well, boleh dibilang Nyonya Hyuna terpaksa ganti baju lagi setelah memandikan 'gadis' itu," sahut Kris. "Hey! Kau belum makan kan?! Ini dagingmu!" tambah Kris sambil melambai ke arah dua makhluk yang tengah berlarian. Mereka pun menghampiri Kris dan lelaki tinggi itu memberikan piring berisi daging pada masing-masing.

Monggu terbiasa makan di piring –dan piring itu khusus miliknya.

Lama dua belas orang itu terdiam, memperhatikan dua makhluk itu menikmati makanan mereka. Sesekali mereka menyunggingkan senyum saat yang diperhatikan terlalu tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Oh, rasanya dunia begitu indah…

"Apa yang akan kita lakukan padanya?" tanya Xiumin memecah keheningan.

"Membawanya ke kantor polisi dan melaporkannya sebagai orang hilang?" usul Tao ragu.

"Aku tak pernah mendengar informasi orang hilang dengan ciri-ciri sepertinya sampai hari ini dan aku yakin akan hal itu," sahut Luhan yang bertugas sebagai penghubung antara EXO dengan berbagai lembaga Negara seperti kepolisian.

"Membawanya ke panti asuhan?" celetuk Baekhyun, sukses membuat Dio dan Chanyeol membulatkan matanya yang sudah bulat.

"Kau tega? No no no! Setidaknya tidak ada acara kirim ke panti asuhan!" kata Chanyeol tegas. Dio mengangguk setuju.

Beragam usulan terus muncul –sekalipun ada beberapa usul yang diulang- dan tak ada satu pun usulan yang mendapat respon positif. Sampai detik ini usul Kai paling kejam.

"Bawa dia ke gudang itu lagi dan biarkan dia mati di sana,"

Setelahnya sekitar 3 buah gelas plastik mendarat sempurna di kening Kai dan satu gelas gagal mendarat sempurna karena tergelincir ke pelipis. Sehun, Tao, Lay, dan Xiumin pelakunya.

Mungkin sekitar lima belas menit setelahnya, tiba-tiba Suho berdiri dan menatap 'gadis' itu dengan senyum terlebar yang ia miliki.

"Kita rawat Kkeungie sampai dia menceritakan semuanya pada kita. Aku yakin dia juga berguna untuk EXO," kata Suho tegas.

"Kkeungie? Kau menamainya 'Kkeungie'?! Suho-hyung, kau jenius! Aku setuju!" seru Lay sambil bertepuk tangan. Baru saja Kris ingin bersuara, tapi keburu terpotong perkataan Chen.

"Aku juga setuju,"

Faktanya sekalipun tak ada yang pernah berani membantah Kris dan Suho, dua orang itu lebih tak pernah lagi membantah keputusan Chen.

-ChaNara's Story-

"Hyung menungguku?" tanya Chen. Ia terkejut mendapati Ryeowook tengah duduk di depan rumahnya sambil memegang tali kekang yang mengikat seekor anjing yang menidurkan badannya di depan Ryeowook.

"Oh, kau sudah datang? Aku sudah setengah jam di sini…" sahut Ryeowook sambil berdiri. Anjing-yang sempat dikira Chen seekor serigala-itu ikut berdiri dan Chen baru sadar kalau hewan itu teramat besar.

"Eung! Mama tidak ada di rumah?"

"Aku tak berani mengetuk pintu. Aku takut Mamamu akan mengusirnya," jawab Ryeowook sambil menunjuk anjing tadi. Chen membuka pintu sambil melirik anjing itu heran.

"Maksudnya?" tanya Chen. Ryeowook menggaruk kepalanya.

"Tadi pagi ia tiba-tiba ada di depan rumahku. Ia cukup gagah dan aku menyukainya, jadi aku bilang pada Eomma untuk merawatnya. Tapi eommaku ketakutan, katanya matanya terlalu tajam. Jadi kukira kau mau merawatnya. Kau juga menyukai hewan kan?"

Chen tersenyum lebar (lagi). Ia menghampiri anjing itu, mengelusnya dan menyadari kalau anjing itu sudah jinak. Chen menyukai warna kelabunya. Chen menyukai mata tajamnya yang mengingatkannya pada seseorang.

Tiba-tiba seorang wanita paruh baya muncul dengan apron menempel sempurna dibadannya. Ryeowook buru-buru membungkuk hormat.

"Sore, Ahjumma…" sapanya. Wanita itu tersenyum manis.

"Sore, Wookie! Wah, kau punya anjing baru?" balas Mama Chen sambil menatap anjing kelabu itu.

Chen dan Ryeowook saling bertukar pandang. Mereka sedikit ragu untuk mengungkap niat Ryeowook sebenarnya. Takut-takut, Chen pun mengatakannya pada Mamanya.

"Ma, Ryeowook-hyung bermaksud memberikan anjing ini untuk kita karena Ahjumma takut dengannya," ucap Chen terbata-bata.

"Itu juga kalau Ahjumma mengizinkan. Saya tidak memaksa. Kalau tidak boleh nanti saya bawa anjing ini ke penampungan," Ryeowook buru-buru menambahkan.

Tapi Mama Chen justru berlutut di depan anjing kelabu itu. Tangannya mengelus kepala anjing itu pelan.

"Dia sangat tampan. Mama juga mau memeliharanya, Chennie, Wookie. Kalian tenang saja ya!" ujar wanita anggun itu. Dua remaja itu menarik napas lega. Chen langsung memeluk anjing itu.

"Aku akan memanggilmu 'Shoo'! Shoo, mulai hari ini namamu Shoo!"

Dan sore itu menjadi sore yang indah untuk Chen. Sangat indah.

-ChaNara's Story-

"Sekarang tanggal 3, Chen-hyung," ujar Dio sambil menyodorkan sepiring roti bakar selai kacang dan segelas susu hangat dalam nampan. Chen tak mengalihkan pandangannya pada lelaki bermata bulat itu. Ia malah melirik sudut kanan atas layar komputernya.

September 3rd 2013.

"Oh, sekarang hari milikku ya?" Chen meraih nampan tadi. Dio mengangguk singkat, lalu ikut-ikutan menatap layar computer Chen.

"Masih program yang itu?" tanya Dio.

"Aku masih belum yakin keefektifannya. Aku mencoba membaca pikiranku sendiri dan… failed," jawab Chen.

"Cuma kau programmer yang tidak tahu ada apa di otaknya sendiri,"

"Tepatnya cuma aku yang pernah memikirkan hal itu. Ini hariku, Dio. Kau boleh keluar dan terima kasih untuk sarapannya,"

Dio melangkah keluar ruang kerja Chen sambil bergumam kecil –menggerutu tepatnya. Secara tidak langsung Chen mengusirnya. Oh, ayolah! Tanpa disuruh pun Dio akan dengan sepenuh hati membiarkan Chen berada dalam ruangannya sendirian sampai 24 jam ke depan. Bahkan ia berani memastikan tak akan ada member lain yang menganggunya.

'Hari milik', itu julukan tanggal-tanggal khusus buatan Professor Yunho, founder EXO.

Sekalipun mereka telah hidup bersama bertahun-tahun, mereka yakin kalau ada saatnya setiap anggota butuh sehari untuk menyendiri. Entah untuk merenung, istirahat, atau apapun. Untuk itu, Prof. Yunho menentukan tanggal-tanggal khusus. Suho mendapat tanggal satu, Kris tanggal dua, Chen tanggal tiga, Lay tanggal empat, Luhan tanggal lima, dan berurutan selanjutnya Xiumin, Dio, Sehun, Tao, Chanyeol, Kai, dan Baekhyun. Tak ada yang boleh mengganggu anggota yang sedang menikmati hari'nya'.

Penerima pesan audio terdeteksi aktif. Tekan 'enter' untuk melanjutkan percakapan visual.

Klik!

"Pagi, adikku!" sapa seseorang yang muncul di layar computer. Chen memutar kepalanya ke arah pintu yang tertutup rapat –jelas, Dio menutupnya- lalu kembali menatap orang yang baru muncul tadi. Chen tersenyum tipis.

"Pagi, Hyung! Apa Amerika baik padamu?"

Tak ada yang tahu kalau Chen punya seorang kakak kecuali professor.

"Ayolah! Apa seperti ini caramu menyambut kakak yang tak pernah kau temui bertahun-ta…"

"Setiap bulan aku melihat wajahmu, Hyung. Oh, biar kuralat. Akan kubuat penyambutan yang hangat tahun depan andai kau berhasil menemukan Shoo, pembunuh Mama dan Papa, dan pemilik rambut yang waktu itu menempel di bantal juga pisau buahku," potong Chen dengan nada datar.

Lelaki berwajah mirip Chen –namun terlihat lebih dewasa- itu menarik napas panjang. Ia kebingungan menangani adik semata wayangnya.

"Kumohon Chen. Kau tahu aku sendiri berusaha keras menemukan jawaban dari semua permintaanmu. Bergabung dengan organisasi illegal ini, lalu masuk ke dalam kandang buronan, bertaruh nyawa tiap detik, kau kira aku melakukannya untuk sesuatu yang tak ada artinya?"

Perlahan tatap tajam Chen berubah melembut dan terlihat sayu. Tangannya menggapai layar, berusaha menyentuh jemari Hyungnya.

"Maafkan aku, Jongdeok-hyung… Aku selalu membuatmu repot…" ucapnya lirih. Hilang sudah karakter cool dan kuatnya yang selalu ia tunjukkan di depan EXO. Kini ia seperti seorang anak kecil yang terpojok dan tenggelam dalam ketakutan. Jongdeok tak bisa melakukan apapun.

Tak mungkin ia berlari dari jantung kota New York menuju tempat Chen demi menyapu tetesan air mata yang mengalir bebas di sana. Tak mungkin sekalipun ia menginginkannya.

Kim Jongdeok, kakak dari seorang adik yang selalu berakting kuat di balik riwayat hidup yang miris. Ia berpisah dengan Chen untuk bergabung dengan tim rahasia yang selalu membongkar rahasia-rahasia besar –baik milik pemerintah maupun buronan kelas kakap- nun jauh di New York. Ini semua ia lakukan juga demi keselamatan Chen dan dirinya sendiri.

Pembunuh orang tua mereka juga pasti mengincar nyawa mereka berdua.

"Tunggu Chen. Aku akan terus mencari jejak mereka. Kau cukup melanjutkan programmu bersama EXO. Oh, aku dengar dari Baekbeom kalian menemukan seseorang. Benarkah itu?" Jongdeok mencoba mengalihkan pembicaraan.

Byun Baekbeom, kakak dari Baekhyun, yang menjadi partner kerja Jongdeok. Entah siapa yang bodoh, yang jelas bahkan Baekbeom sendiri tak pernah sadar kalau adiknya dan adik Jongdeok berada dalam satu tim rahasia lain.

Sementara itu Chen mengangguk kecil. Ia terlihat sedikit tersenyum.

"Ia mengingatkanku pada Shoo. Satu bulan ini Kai ngambek karena Monggu terlalu akrab dengan Kkeungie," jawab Chen. Jongdeok tertawa.

"Hm, aku tahu. Aku sudah hafal tentang sikap adikku," goda Jongdeok. Chen tersenyum –lebih lebar kali ini- dan mengangguk –lebih antusias.

"Satu-satunya daya tarik lain selain computer ini!"

-ChaNara's Story-

"Kkeung-kkeung!"

Chen disambut dengan pekikan Kkeungie saat ia membuka pintu depan. Gadis itu bertepuk tangan riang melihat Chen muncul. Yang disambut hanya tersenyum manis.

"Ada apa, Kkeung?"

Dan tak ada yang memanggil gadis itu dengan panggilan 'Kkkeung' selain Chen. Itu nama istimewa.

"Kkeung!" seru Kkeungie keras sambil menunjuk mobil bak yang sedang dicuci Chanyeol. Tampak Xiumin berdiri dengan menenteng sebuah tas –yang jelas berisi alat-alat reparasi mesin. Sepertinya ahli mekanika dan elektronika baru saja berkolaborasi.

"Kau mau naik mobil?" tanya Chen. Kkeungie menggeleng.

"Rrrrmmmm…" gumam Kkeungie tak jelas lalu memutar-mutar tangannya seperti menyetir mobil. Lalu, Kkkeungie pun berlari memutari Chen.

"Pasti kau sering melihat Kris-hyung mengemudi…" batin Chen mencelos. Kkeungie tetap berputar riang tanpa kenal lelah.

Yang terjadi selanjutnya Chen berbalik ke dalam rumah lalu muncul dengan kunci mobil. Kkeungie menyambutnya dengan lebih riang dan mereka berdua melangkah menuju mobil lain yang terparkir rapi di antara kendaraan-kendaraan lain.

Cuma Suho, Kris, Xiumin, dan Chen yang mengemudi dengan benar-benar baik. Chanyeol, Lay, Dio, dan Sehun berada dalam level lumayan. Luhan, Tao, dan Baekhyun selevel di bawah lumayan, sementara Kai benar-benar buruk.

"Jadi kau lihat apa yang aku lakukan, lalu tiru sama persis. Mengerti?" ucap Chen. Kkeungie mengangguk. Mereka sudah duduk di kursi paling depan dan Chen mengemudi. Kkeungie benar-benar serius memperhatikan Chen.

Fakta lain adalah Kkeungie paham apapun yang diucapkan EXO sekalipun ia tak bisa bicara dengan lancar –Lay dengan senang hati membuktikannya seminggu lalu.

"Chen lebih hidup," celetuk Suho. Ia baru muncul dari rumah kiri bersama Kris.

"Sejak gadis itu tak pernah berhenti mengajaknya bicara kan? Komputer bukan lagi fokus utama Chen," sahut Kris yakin.

"Bukankah ini hari milik Chen? Ia hanya menghabiskan sepuluh jam pertama? Ini ajaib! Biasanya ia begitu setia mendekam dalam ruangannya sampai Dio mengingatkan jam makan,"

"Aku tahu, aku tahu! Chen juga tak begitu peduli lagi pada program baru. Ia lebih sering menyempurnakan…"

"Sesuatu yang sudah sempurna. Aku tahu itu, Hyung. anak itu tak pernah membuat sesuatu bernilai minus,"

"Leader Wu! Saatnya berangkat ke pasar!" seru Xiumin dan Dio dari dalam mobil bak. Chanyeol sudah duduk manis di bagian bak lalu melambai ala kontestan kontes kecantikan. Kris dan Suho saling berpandangan.

"Aku tak pernah didaulat jadi leader. Aku hanya sering menjadi juru bicara," ucap Kris datar.

"Kau lupa mereka tak pernah tahu siapa leader EXO?" sahut Suho. "Tunggu sebentar! Dia akan berganti pakaian!"

T.B.C

Balasan review

Raina94 : aku udah tanggung jawab walau telat :D silakan review lagi ya! ^^

Melody of Sky : aaaa…. Gomapta… *cipok sepenuh hati(?) aku sering dicuekin kalo nulis soalnya, jadi agak ragu gitu. Syukur deh ada yang suka sama styleku. Review lagi yaaaa! ^^

Kim Jong DaeBak : hoho, dia itu mirip peneliti pasif. Yang lain lari keluar dia ngedekem aja pacaran sama computer -_- apakah benar program itu untuk seorang Shoo? Mari kita lihat di chapter berikutnya /ayang entah apdet kapan #plakk/ review lagi yaaaa! ^^

Buat readers lain, tolong reviewnya dong… ini ff debutku di bidang chapter(?), jadi aku perlu banyak pendapat supaya bisa menghasilkan karya yang baik. Aku yakin kok semua author juga berharap hal yang sama. Aku kaget lho, ffku dapet banyak viewers tapi kok yang review masih mereka-mereka aja (yang udah review di chapter 1). Rasanya miris banget, sampai dikacangin kayak gitu. Tenang, ngeflame karya ku nggak apa-apa kok, asal yakin buat debat sama aku :D

Halah malah curhat. Ya pokoknya aku berharap ada review lah! Tapi gak maksa sih *author labil*

See ya! :*