Beautiful Voice

Cast: HunHan. Sehun x Luhan

Other Cast(s): other exo members

Rated: T

GS; semua uke jadi yeoja. OOC. Akan ada typo yang bertebaran. Tulisan bergaris miring dan bercetak tebal; itu tulisan Luhan di memonya. Tulisan bergaris miring; itu kata hati.


Luhan's POV

"Apa yang kamu lakukan di sini, deer?" tanya seorang yeoja, yang sudah aku tau jelas siapa. Aku mendongak. Saat Xiumin eonnie memelukku, air mataku semakin banyak mengalir.

"Hei, jangan nangis. Urusanmu sudah selesai?" tanya Xiumin eonnie sambil mengelus lembut puncak kepalaku. Aku mengangguk. Xiumin eonnie melepas pelukannya dan menempatkan dirinya duduk di sebelahku.

"Ceritalah," ujarnya lembut. "Aku bersedia mendengarkanmu, deer. Kamu tau itu."

Aku mulai menulis pada memoku. Xiumin eonnie bergeser mendekatiku. Ia sudah terbiasa membaca sambil aku menulis. Ia bilang agar bisa merespon kata-kataku lebih cepat. Aku juga tidak keberatan. Beberapa detik setelah aku selesai menulis, Xiumin eonnie menghela nafas.

"Sebenarnya ada banyak kemungkinan kenapa Sehun berbohong. Tapi yang terlintas di pikiranku, mungkin saja Sehun berbohong supaya kamu mau ikut. Yakin 100%, kalau Sehun awalnya bilang makan malam itu membicarakan perjodohan, kamu tidak akan ikut kan? Mungkin saja karena siangnya kamu baru bertemu dengan Sehun, jadinya kamu yang terpikirkan oleh Sehun untuk diajak."

Eonnie tersenyum penuh arti. "Dijodohkan itu tidak enak, deer. Aku yakin itu salah satu cara Sehun agar acara malam ini sedikit kacau. Mungkin ini terdengar egois. Ah, bukan. Ini memang egois. Seperti yang aku bilang, banyak kemungkinan. Kenapa tidak bicara baik-baik dengannya?" Aku menggeleng.

"Lagipula, bukankah ini artinya Sehun ingin bersamamu malam ini? Buktinya saja, ia datang ke sana sama sekali tidak berminat mengikuti perjodohan itu. Ia malah mengajakmu. Rusa kecil eonnie tidak sedang patah hati karena pujaan hatinya dijodohkan, kan?" goda Xiumin eonnie yang sukses membuat pipiku merona. Yah, mau bagaimana lagi? Perlu digarisbawahi, aku ini pemalu. Malu sedikit saja pipiku pasti merona, tidak peduli sedang dalam keadaan bagaimana.

Sehun bukan pujaan hatiku.

Aku mengerucutkan bibirku sambil mendorong pelan tangan Xiumin eonnie. Yang menerima perlakuanku hanya terkekeh.
"Aku hanya bercanda, deer. Mungkin ini semua karena kamu sendiri memang sensitif, kan? Sudahlah, jangan dibawa pusing. Eonnie yakin Sehun tidak bermaksud menyakitimu." Aku memeluk erat yeoja berpipi chubby di sampingku.

Gomawo eonnie. Eonnie the best, deh! Nanti kapan-kapan aku traktir bubble tea.

"Aku bukan anak kecil sepertimu," balas Xiumin eonnie kemudian menjulurkan lidahnya. Aku kembali mengerucutkan bibirku. Ugh, eonnie senang sekali menjahiliku.

Yak! Aku juga bukan anak kecil, tau! Eonnie, bagaimana dengan janji kita?

"Lain waktu saja, ya? Lebih baik sekarang kamu kembali ke restoran untuk menemui Sehun." Aku menggeleng.

Apa aku harus menemuinya sekarang?

"Tentu saja. Kapan lagi? Mau eonnie antarkan ke sana?" Lagi-lagi aku hanya menggeleng.
"Baiklah. Hati-hati, ya," kata Xiumin eonnie sambil menghapus air mataku. Aku beranjak pergi setelah memberikan pelukan hangat untuk Xiumin eonnie.

.

Saat aku sampai, aku melihat Sehun dengan yeoja yang tadi membahas perjodohan itu berdua di depan restoran. Aku membuang nafas kasar sebelum menghampiri Sehun yang sepertinya sudah menyadari kehadiranku. Namun, langkahku terhenti karena yeoja itu mencium bibir Sehun. Biar kuperjelas, yeoja itu mencium bibir Sehun di hadapanku. Air mataku hampir saja jatuh kalau Sehun tidak melepas ciuman itu. Namun, penolakan Sehun sama sekali tidak mengurangi rasa sakit yang menderaku. Aku mengatakan sesuatu tanpa bersuara pada Sehun. Ia yang sebelumnya terlihat akan menghampiriku, berhenti. Biar sajalah, aku lelah. Aku hanya ingin pulang dan beristirahat di atas tempat tidur dengan sprei bergambar bambi milikku. Setelah mengatakan hal itu, aku segera pergi dari tempat itu.

.

Sehun's POV
Aku membuka mataku perlahan, berusaha menyesuaikan pandanganku dengan cahaya di sekitarku. Hhh, alarm sialan. Mengganggu tidurku saja.
"Noona tau kamu sudah bangun. Cepat bersiap dan langsung ke bawah untuk sarapan. Kami menunggumu di bawah." Aku mengerang kesal mendengar perintah Kyungsoo noona. Noona selalu saja tepat waktu berada di depan kamarku dan dengan setia mengucapkan beberapa deret kalimat seperti tadi setiap pagi.
Sebelum beranjak ke kamar mandi, pikiranku terus mengarah pada Luhan noona. Aku bingung harus bagaimana. Kalian pikir aku bodoh? Tentu saja sudah terpikirkan olehku untuk menemui Luhan noona ke rumahnya. Aku akan melakukan itu kalau saja appa tidak melarangku. Dan sekali lagi, tentu saja aku akan membantah kalau appa tidak kembali mengeluarkan kalimat andalannya. Apalagi kalau bukan sesuatu yang berhubungan dengan musik? Aku mengingat pertama kalinya appa mulai memaksaku menuruti kemauannya, yang tentu saja disertai dengan... apa menurut kalian ini seperti sebuah ancaman? Kalau begitu, katakanlah disertai dengan ancaman.

"Mulai sekarang, kamu harus menuruti perkataan appa. Kalau tidak, appa tidak akan mengurusi keperluan sekolah musikmu."

Yap, sekarang aku sedang sekolah musik. Katakanlah aku tidak mandiri, tapi kenyataannya, biaya sekolah musikku memang masih ditanggung oleh appa. Appa sendiri sebenarnya sangat menentang kegemaranku di bidang musik. Inilah sebabnya appa terus berusaha agar aku berhenti sekolah musik dan memilih melanjutkan usaha appa. Bahkan, appa memaksaku untuk sambilan membantunya di kantor. Appa benar-benar tidak suka dengan hal-hal yang berhubungan dengan musik. Seperti kejadian beberapa waktu lalu. Dengan uang yang aku punya, aku membeli piano untuk mengisi waktu luangku di kantor. Awalnya aku pikir appa mau saja memberiku ruangan khusus untuk meletakkan piano hasil jerih payahku. Ternyata tidak.

"Appa tidak mau ruangan kosong di kantor ini dibuka hanya karena piano itu. Lebih baik appa buka untuk ruang meeting yang baru."

Aku pasrah saja saat menerima penolakan appa. Ya, aku sudah tau bagaimana bencinya appa terhadap hal-hal yang berhubungan dengan musik. Untungnya, atas bantuan Kyungsoo noona, appa melunak dan mengizinkanku meletakkan piano yang kubeli di ruang kerjaku. Itulah mengapa di ruang kerjaku ada piano.
"Tuan muda Oh Sehun, cepat selesaikan lamunanmu dan bersiap," kata Kyungsoo noona membuyarkan lamunanku. Aish, noonaku itu berisik sekali. Aku pikir ia sudah turun. Aku diam saja.
"Tidak perlu berpura-pura diam seakan-akan kamu sekarang ada di kamar mandi. Noona tau kamu sedang mendengarkan. Dan sayangnya, noona juga tau kamu belum beranjak dari tempat tidurmu, Hunnie," tegur Kyungsoo noona untuk yang kesekian kalinya. Oke, aku mulai merinding. Kalau noona sudah memanggilku seperti itu, artinya ia mulai emosi. Kyungsoo noona kalau sedang marah padaku akan memanggilku Hunnie. Aneh? Memang.
Aku mengacak rambutku frustasi sebelum beranjak dari tempat tidurku. "Jujur saja padaku kalau di kamarku memang ada CCTV."
"Tentu saja tidak. Periksa saja seluruh sudut kamarmu."
"Tidak. Terima kasih. Aku bersiap sekarang," jawabku malas sambil beranjak ke kamar mandi.

.

"Jangan kamu pikir perjodohan itu batal begitu saja," ucap appa ketika aku bergabung dengannya dan noona di meja makan. Aku diam saja. Memangnya aku harus menjawab apa? Aku bosan dipaksa menuruti kemuan appa terus. Rasanya aku ingin cari kerja yang gaji perbulannya cukup besar. Aku masih punya banyak waktu luang. Lagipula, aku di kantor hanya sekedar membantu appa. Aku ingin menanggung biaya sekolahku sendiri.
"Sebenarnya appa tidak ingin membicarakan hal seperti ini sekarang. Hanya saja, appa merasa harus mengingatkanmu untuk menjauhi yeoja yang kamu bawa tadi malam." Aku masih tetap diam walaupun sebenarnya aku mulai emosi. Memfokuskan diri dengan sarapanku sepertinya lebih baik.
"Appa sedang berbicara denganmu, Sehun," tegur appa lagi. Kurasakan pandangan Kyungsoo noona mengarah padaku, memaksaku untuk mendengarkan appa.
"Aku pergi dulu," pamitku tanpa menggubris satupun kalimat appa sebelumnya. Baru saja appa akan berbicara, aku memotong. "Aku tau jam 3 nanti akan ada rapat. Aku akan pulang tepat waktu."
Bukannya aku kurang ajar, aku hanya lelah. Tidak bisakah sehari saja aku bebas dari hal-hal semacam ini?

.

"Sepertinya mood tuan muda sedang berantakan," sambut laki-laki yang tinggi badannya melewati batas normal saat aku memasuki ruang kelasku.
"Diamlah, Yeol." balasku singkat.
"Chanyeol oppa!" Suara itu membuatku menoleh ke arah pintu kelas. Seorang yeoja berambut panjang dengan kacamata berframe merah itu tersenyum riang ke arah laki-laki di sebelahku. Imut. Tapi tetap saja tidak seimut dia.
"Park Chanyeol, sudah berapa kali aku katakan padamu? Berhenti mengencani gadis-gadis polos itu," tegurku dengan suara yang sengaja kupelankan. Yang kutegur hanya terkekeh.
"Yang kali ini..."
Belum sempat Chanyeol melanjutkan kalimatnya, aku menyela, "Tidak perlu katakan yang kali ini berbeda. Berani bertaruh, hubungan kalian tidak akan bertahan lebih dari dua minggu."
Chanyeol menghadap ke yeoja tadi yang sampai sekarang masih setia menunggu di depan pintu kelas kami. "Tunggu sebentar, chagi."
"Dengarkan aku tuan muda Oh Sehun, kurasa kamu harus secepatnya mencari yeoja. Aku tidak pernah melihatmu berkencan. Ayolah, yeoja mana yang tidak mengenal Oh Sehun? Putra dari pemilik perusahaan SY yang sangat terkenal di dunia. Wajahmu juga sama sekali tidak bisa dikatakan buruk. Singkat kata, kamu sempurna. Apa perlu aku mencarikan yeoja untukmu?"
"Sebelumnya, aku sangat berterimakasih padamu karena 2 hal. Pertama, memujiku. Kedua, berniat mencarikan yeoja untuk berkencan denganku. Tapi untuk kesekian kalinya, aku menolak," jawabku sambil menumpukan kepalaku di meja yang kutempati.
Chanyeol mendengus kesal. "Untuk kesekian kalinya juga, aku menyarankanmu untuk berhenti memikirkan yeoja pendek itu."
Aku memberi death glare pada namja jangkung di sebelahku. "Berhenti membahas tentangnya, Park Chanyeol."
"You have to move on, Oh Sehun. Just forget about that girl. You don't even know where she is," kata Chanyeol dengan nada serius.
"Shut up. Kamu bisa pergi sekarang. Yeojamu sudah menunggu," kataku berusaha mengenyahkan namja jangkung ini dari hadapanku.
Tanpa berkata apapun, ia berlalu dari hadapanku dan segera menghampiri yeoja yang entah siapa namanya. Terlalu banyak yeoja yang sudah ia kencani. Lagipula tidak penting aku tau nama mereka.

.

Luhan's POV
"Astaga, deer. Apalagi yang terjadi padamu? Kenapa penampilanmu berantakan seperti ini?" tanya Xiumin eonnie yang baru saja sampai di apartmentku. Ia langsung membawaku ke kamar.
"Aku akan membereskan apartmentmu dan membuat sarapan," kata Xiumin eonnie sambil membereskan meja riasku. "Tidak ada penolakan. Istirahatlah."
Aku hanya mengangguk. Seperti yang sudah kuperkirakan, eonnie pasti akan seperti ini jika aku memintanya datang ke apartment. Kejadian semalam kembali berputar-putar memenuhi pikiranku. Aku menggeleng, berusaha menepis bayangan kejadian semalam.

.

Setelah beberapa jam tertidur, aku mencari Xiumin eonnie yang ternyata sedang menonton di ruang tengah.
"Sudah bangun? Sini," ucap Xiumin eonnie sambil menepuk sofa kosong di sebelahnya, mengisyaratkanku untuk duduk.

Eonnie kenapa tidak membangunkanku?

"Tidurmu terlalu nyenyak. Aku jadi tidak tega membangunkanmu. Oh ya, tunggu sebentar. Aku akan memanaskan makanan yang tadi pagi kumasak. Atau kamu ingin makan yang lain?" Aku menggeleng.
Xiumin eonnie kembali sambil membawa sepiring nasi dengan lauk yang terlihat menggiurkan.

Masakan eonnie selalu enak. Gomawo eonnie. Maaf aku merepotkan eonnie. Padahal eonnie baru saja pulang berlibur.

"Sama sekali tidak merepotkan. Aku senang melakukan ini semua. Kalau kamu mau, aku bisa membawakan makanan untukmu setiap hari, deer," kata Xiumin eonnie yang membuatku tersenyum menatapnya.

Tidak perlu eonnie. Itu terlalu merepotkan. Aku juga bisa masak sendiri, eonnie.

"Ck, kamu ini. Masih saja sering sungkan denganku. Aku ini kan eonniemu. Tapi tidak apalah. Masakanmu juga sangat enak, deer. Sekali-sekali, eonnie harus mencoba masakanmu," jawabnya sambil mengacak lembut rambutku. Eonnieku? Bukan, bukan. Xiumin eonnie bukan eonnie kandungku. Hanya saja, aku sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Aku sudah bersahabat dengannya sejak aku berumur 7 tahun.

.

Sehun's POV
"Noona, hari ini bukannya jadwalku mengajar Luhan noona ya?" Aku masih mengamati jam di pergelangan tanganku.
"Aah, hampir saja noona lupa. Tadi eonnienya Luhan memberitahu noona, Luhan eonnie sedang sakit jadi tidak bisa datang hari ini."
"Sakit apa, noon? Sekarang ada di apartmentnya?" tanyaku sambil berusaha menyembunyikan rasa khawatirku. Yang ditanya hanya mengganguk.
"Kamu belum memberitahu noona apa yang terjadi malam itu," kata Kyungsoo noona menuntut penjelasan dariku. Aku membuang nafas kasar sebelum menceritakan semuanya pada noona.
"APA KAMU BODOH, OH SEHUN?" teriak Kyungsoo noona sambil memukul lenganku saat aku menyelesaikan ceritaku. Aku berusaha mengelak dari pukulannya. Astaga, noonaku tidak bisa tenang sedikit apa? Benar-benar tidak ada bedanya dengan Gorilla.
"Yak! Noona, berhenti memukulku!" seruku sambil berusaha menangkap kedua tangan Kyungsoo noona. Berhasil!
"Lepaskan, Oh Sehun," ucap noona sambil menatapku tajam. Aku melonggarkan cengkramanku pada lengan Kyungsoo noona.
"Kamu bodoh. Bagaimana bisa kamu menyakiti Luhan eonnie? Bodoh! Oh Sehun bodoh!" bentak noona dengan nafas tersenggal.
"Dengar ya. Luhan eonnie itu orang yang sensitif, Hun. Ia tidak pernah di sakiti namja manapun. Dan sekarang? Kamu yang baru saja sehari bertemu dengan Luhan eonnie langsung menyakitinya? Argh, noona merasa bersalah padanya. Seharusnya noona tidak mengizinkannya diajarkan olehmu. Lebih baik Luhan eonnie tidak mengenalmu, tau!"
Aku mendengarkan setiap kalimat Kyungsoo noona dengan baik. Namun, bukannya memberi jawaban yang berkaitan, aku malah menanyakan hal lain. "Bagaimana noona kenal dengan Luhan noona? Sepertinya noona sudah tau banyak ya tentang Luhan noona."
"Aku dan Luhan eonnie bekerja di tempat yang sama," jawab Kyungsoo noona yang membuatku terkejut.
"Aku tidak pernah melihat Luhan noona saat menjemputmu, noon."
"Ia bekerja di bagian dapur," balas noona yang membuatku mengangguk paham.
"Aku ingin seperti noona. Tidak dikekang appa. Bahkan untuk bekerja di cafe saja noona mendapat izin," lirihku yang membuat Kyungsoo noona mengernyitkan dahinya.
"Suatu saat kamu akan mengerti, Hun. Appa selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu."
"Tidak, noon. Kalau memang appa berniat memberikan yang terbaik untukku, appa tidak akan seperti ini. Lagipula kalau memang itu tujuan appa, kenapa noona tidak diperlakukan sepertiku juga?"
"Sudahlah, Hun. Noona mau bersiap ke cafe. Oh ya, jangan lupa nanti laporkan pada noona hasil rapat kemarin," balas noona yang kujawab dengan anggukan.
Kalian sedikit bingung ya? Noonaku membantu appa di kantor. Tapi noona juga kerja sampingan menjadi pelayan di cafe terkenal yang jaraknya cukup dekat dengan kantor appa.
"Noona," panggilku sebelum Kyungsoo noona keluar dari ruanganku. Noona menanggapi panggilanku dengan raut wajah bertanya.
"Ehm, apa... Luhan noona hari ini bekerja?" tanyaku ragu-ragu. Kulihat noona tersenyum jahil sebelum menjawab pertanyaanku.
"Yak! Jangan mulai menjahiliku, noona. Aku hanya bertanya."
"Ish, siapa juga yang mau menjahilimu. Tidak. Luhan eonnie kan sedang sakit," jawab noona sebelum menutup pintu ruanganku. Aku baru saja akan beranjak pergi jika tidak ada yang membuka pintu ruanganku.
"Lalu apa? Ini yang kamu maksud hanya bertanya? Noona tau kamu ingin pergi ke apartment Luhan eonnie. Apa kamu pikir noona tidak tau kamu mengkhawatirkan Luhan eonnie? Kamu daritadi berusaha mengalihkan pembicaraan kan? Mengaku sajalah, Hun." Sial, noona benar-benar seperti peramal.
"Jangan sibuk mengumpat. Noona hanya ingin mengingatkanmu untuk berhati-hati. Kamu tau appa tidak suka," ingat noona sebelum kembali menutup pintu ruanganku.

.

.

.

TBC

Annyeong! Chapter ini sedikit lebih panjang dari sebelumnya, makanya updatenya agak lama. Gimana, gimana? Membosankan kah panjang kayak gini? ._. maaf penggunaan kalimatnya mulai berantakan TT seperti sebelumnya, makasih buat yang udah baca, terlebih yang udah review ^^ reviewnya buat aku semangat nulis xD
Ah ya, boleh minta bantuannya? Aku baru aja jadi writter di sini. Aku agak bingung. Kenapa ya pas update chapter 2, ga ada tulisan "updated: Jun 1"? Seharunya pas update ada kan? Itu kenapa ya ._.

Sanshaini Hikari: gimana ya? nanti pertanyaanmu akan terjawab seiring berjalannya fanfic ini /? hehe. Di chapter 3 ini sudah ada Chanyeol kan? makasih /tersemangati xD/ makasih juga udah RnR /bow/

zoldyk: makasih udah ngikutin ceritanya ^^ makasih juga udah RnR /bow/

xihannin: syukurlah kalo dapat feelnya. sebenernya aku pas nulis juga agak ga rela Baekhyun cium Sehun xD makasih udah nunggu kelanjutan fanfic ini :D makasih juga udah RnR /bow/

lisnana1: kenapa ya? hehe, nanti pertanyaan "kenapa" itu terjawab semua kok. tunggu kelanjutan fanfic ini ya ^^ makasih /tersemangati xD/ makasih juga udah RnR /bow/