Thanx banget buat yang udah nge-review . Well, kalau mau jujur, sebenarnya aku udah berpikir mau membiarkan ceritanya berhenti sampai disitu aja, karena aku pikir nggak ada yang mau baca ceritaku *hiks hiks... abisnya, nggak banyak orang Indonesia yang baca fanfics. Aku aja tahu fanfics dari temen yang hobby banget baca fanfics (vocaloid!) dan sekarang jadi ikutan suka juga (thanx banget buat Aulia yang udah ngenalin aku dengan fanfics!). Masalahnya, aku nggak lancar-lancar banget untuk nulis pake bahasa inggris. Kalau baca sih bisa, tapi kalau nulisnya sendiri ? Wah, lebih baik nggak deh, daripada bikin malu kalau dikritik sama orang barat sana (wkwkwkwkk….). But, berkat review yang aku terima dari kalian, aku jadi semangat lagi deh ! Ok, aku bakal ngelanjutin ceritanya ya, dan aku udah berusaha! Keep R&R !

Chapter 3

So much for my happy ending
Oh oh, oh oh, oh oh...

Let's talk this over
It's not like we're dead
Was it something I did?
Was it something You said?
Don't leave me hanging
In a city so dead
Held up so high
On such a breakable thread

You were all the things I thought I knew
And I thought we could be

You were everything, everything that I wanted
We were meant to be, supposed to be, but we lost it
And all of the memories, so close to me, just fade away
All this time you were pretending
So much for my happy ending
Oh oh, oh oh, oh oh...

You've got your dumb friends
I know what they say
They tell you I'm difficult
But so are they
But they don't know me
Do they even know you?
All the things you hide from me
All the shit that you do [CD version]
All the stuff that you do [radio edited version]

You were all the things I thought I knew
And I thought we could be

You were everything, everything that I wanted
We were meant to be, supposed to be, but we lost it
And all of the memories, so close to me, just fade away
All this time you were pretending
So much for my happy ending
Oh oh, oh oh, oh oh...

It's nice to know that you were there
Thanks for acting like you cared
And making me feel like I was the only one
It's nice to know we had it all
Thanks for watching as I fall
And letting me know we were done

You were everything, everything that I wanted
We were meant to be, supposed to be, but we lost it
And all of the memories, so close to me, just fade away
All this time you were pretending
So much for my happy ending

You were everything, everything that I wanted
We were meant to be, supposed to be, but we lost it
And all of the memories, so close to me, just fade away
All this time you were pretending
So much for my happy ending
Oh oh, oh oh, oh oh...

Oh oh, oh oh, oh oh...
So much for my happy ending
Oh oh, oh oh, oh oh...

"Bagus Kat! Pertahankan kerja kerasmu! Konsernya tinggal 3 hari lagi!" kata Mike, manajer Kat sambil melemparkan sebotol air mineral yang langsung diterima Kat dan diminumnya samapai habis. Kat senang memiliki Mike sebagai manajernya, tapi Mike jika sudah menyangkut urusan pekerjaan, ia sangat perfeksionis dan ingin semuanya serba sempurna. Karena Kat masih sekolah dan tidak mau meninggalkan sekolah hanya untuk latihan-latihan menyanyinya (mereka sudah memperdebatkan itu selama berhari-hari, Mike menyuruh Kat untuk mengambil cuti sekolah 5 hari, tapi Kat bersikeras tidak mau latihan-latihannya mengganggu sekolah, akhirnya debat dimenangkan oleh Kat yang mengancam tidak mau melakukan konser hingga Mike menyerah), jadinya segera setelah Kat pulang sekolah dan juga di akhir minggu Mike memaksa Kat untuk latihan intensif. Saat ini, Kat sudah latihan menyanyi 4 jam terus-terusan dengan beberapa menit istirahat dan tenggorokannya sudah agak terasa sakit dan ia sangat lelah. Ia kurang tidur belakangan ini.

"Mike, aku lelah. Latihan hari ini udahan aja ya."

"Ok, kamu juga kelihatan agak pucat. Kamu harus cukup istirahat ya, dan makan teratur. Jangan sampai di hari H kamu malah sakit. Sia-sia semua kerja keras kita." Ucap Mike.

"Ok,ok." Kat memutar bola matanya diam-diam, tahu Mike tidak suka ketika ia melakukan itu.

"Hei, aku liat itu." Kata Mike main-main. Kat memukul lengan Mike, tidak keras dan pria itu pura-pura kesakitan. Kat semakin gemas dan mengacak-acak rambut Mike, yang juga tidak disukai Mike.

"Hei, lihat apa yang udah kamu lakukan, rambutku yang keren jadi berantakkan."

"Ha ha, lucu sekali. Padahal kamu tadi juga tidak menyisir rambut, Rambutmu dari tadi saja kelihatan seperti bangun tidur." Kat meleletkan lidahnya dan lari masuk ke mobilnya sebelum Mike sempat membalasnya. Kat mengacungkan jari tengahnya dengan main-main pada Mike.

"Sampai besok!" Kat menghidupkan mesin mobilnya dan melaju kencang sambil tertawa. Ia suka membuat Mike kesal. Sebenarnya dulu ia pernah berpikir ia menyukai Mike. What a crush. Mike masih berumur 22 tahun dan sangat keren. Tubuhnya tinggi, mungkin sampai 185 cm. Rambutnya berwarna gelap, nyaris hitam dengan mata hijau yang sangat indah. Dan juga playboy. Jangan pernah lupakan itu. Mike punya pacar dimana-mana. Ia bahkan punya pacar lebih dari satu orang di satu waktu. Tidak heran karena semua cewek mengejar-ngejar dia dan Mike sangat menikmati perhatian itu. Dia bahkan pernah bilang, sangat sayang jika ia hanya punya satu cewek jika ia bisa dapat tiga sekaligus. Cewek itu untuk dinikmati dan dipajang, bukan untuk disayangi. Yeah, he is a bastard and jerk. Tapi Mike tidak pernah memperlakukan Kat seperti ia memperlakukan cewek-cewek lainnya. Ia menyayangi Kat seperti adiknya sendiri dan Kat tahu itu. Ia juga sudah menganggap Mike sebagai abang yang tidak pernah dimilikinya. Kat punya adik, dari pernikahan-pernikahan ayah dan ibunya. Adik-adik tiri. Tapi Kat tidak pernah bertemu mereka dan mereka juga kelihatan tidak cukup peduli untuk menemuinya.

Kat melaju di jalanan tanpa terlalu memperhatikan jalan. Sial, ia lelah sekali. Tapi tiba-tiba matanya menangkap bayangan yang mencurigakan di taman. Kat didorong oleh perasaan aneh yang kuat untuk berhenti tidak jauh dari taman itu. Instingnya yang tidak pernah salah mengatakan ada yang tidak beres. Ia terus memperhatikan. Kelihatannya itu seorang pria dengan jubah panjang hitam, dan seorang wanita ? Apakah mereka sedang berciuman ? Sial, kenapa aku malah berhenti hanya untuk melihat orang pacaran ? Kat sudah bergerak untuk menghidupkan mesin mobilnya lagi ketika pria itu mengangkat kepalanya dan Kat melihat taring! Taring yang panjang dan berkilau di bawah sinar bulan. Jelas sekali, Kat tidak mungkin salah lihat. Dan dari taring itu juga menetes sesuatu yang berwarna gelap. Apa itu darah ? Gelap sekali di taman, tidak ada lampu-lampu jalan dan hanya diterangi sinar bulan. Kat berhenti agak jauh jadi tidak bisa melihat sangat jelas.

Kat membeku. Ia bahkan tidak menyadari bahwa ia menahan napasnya. Kemudian pria itu menjatuhkan wanita itu ke tanah dengan tidak sadarkan diri. Apakah ia mati? Kat tidak mampu bergerak. Ia hanya duduk tegak dengan mata membelalak dan wajah pucat. Lalu pria itu menghilang. Begitu saja. Kat dengan panik melihat ke kiri dan kanan. Kemana dia ? Tapi Kat tidak melihat ada siapapun di sana.

Kat duduk di mobil entah berapa lama, mungkin beberapa menit ato beberapa jam ? kat begitu terguncang. Apa sebenarnya yang ia lihat tadi ? Jelas itu bukan manusia. Pikirannya berputar-putar dan kembali ke beberapa bulan lalu ia membaca novel twilight saga. Bahkan bisa dibilang Kat tergila-gila dengan novel itu dan tidak bisa berhenti membacanya. Apa, apa pria itu vampire ? Kat semakin pucat ketika pikiran itu merasuk ke dalam otaknya. Tidak mungkin. Vampire itu hanya legenda. Khayalan. Tidak nyata. Atau apakah vampire benar-benar ada ?

Kat tanpa berpikir panjang langsung membuka pintu mobilnya dan berjalan ke arah wanita itu. Apakah ia sudah mati ? Kat melihat wanita itu, terlihat sangat pucat dibawah sinar bulan. Tapi Kat bisa melihat wanita itu sangat cantik dengan rambut pirang ikal yang panjang. Dia memakai gaun merah yang luar biasa pendek. Kat membungkuk dan mengecek denyut nadi di pergelangan tangannya dan menempelkan telinganya di dadanya, mengecek apakah dia masih bernapas. Tidak salah lagi, walaupun sangat lemah, masih ada denyut nadi dan dia juga masih bernapas. Kat mengeluarkan handphone untuk menelepon ambulans.

Tiba-tiba ada bayangan besar melintas di depannya dan handphone Kat terjatuh karena kaget. Dengan shock ia memandang bayangan benar di depannya yang tidak salah lagi adalah pria, atau bisa dibilang vampire yang sudah membunuh wanita malang itu.

Ia terbelalak ngeri. Vampire itu sangat pucat, seperti vampire-vampire pada umumnya (berdasarkan buku yang pernah dibacanya!) dan sangat tampan. Rambut hitamnya acak-acakkan dan ia juga memiliki mata biru yang tidak mungkin ia lupakan.

"Dylan…?" ucap Kat pelan.