Vocaloid high school

Len berjalan menuju kelasnya.Sambil berjalan Len melamun terus,pikiran Len masih melayang tentang kejadian kemarin.Len tidak bisa percaya kalau dia baru saja membunuh vampir dengan tangannya sendiri.Seumur hidupnya,dia tidak pernah menyakiti siapapun,Lily mengajari Len untuk tidak melukai orang orang,walau ini berbeda dengan ajaran Lily,Len membunuh bukan melukai dan yang dibunuh Len bukan manusia maupun hewan melainkan vampir,monster yang merenggut banyak nyawa manusia.

Duk

"Hei,hati hati kalau jalan."Tegur seorang siswa.

"Ah? Ma-maaf."

Gara gara melamun,Len tidak memperhatikan jalannya sampai sampai dia menabrak orang.Perasaan Len gelisah,seharian Len tidak tenang,Len selalu memikirkan dirinya yang membunuh vampir.Untuk orang orang mungkin perilaku Len adalah pahlawan karena dia berani melawan vampir tapi untuk Len,dia merasa dirinya menjadi seorang pembunuh! Seorang pembunuh yang mengerikan! Len menggeleng kan kepalanya, mengusir jauh jauh pikirannya.Len mengingat pesan Lily tadi pagi.

"Len,bersekolahlah seperti biasa.Jangan pikirkan kejadian kemarin.Kaa-san akan urus masalah ini."

Len menarik napas membuang rasa ketakutannya.Sesampainya di kelas,Len memberanikan diri masuk kedalam kelas.Dia harus bersikap seperti biasa seolah tidak terjadi apa apa.Tangan Len bergetar memegang kenop pintu,dia takut teman temannya akan membicarakan dirinya.Begitu pintu kelas digeser, keadaan kelas masih seperti biasa,belum ada kehebohan,teman teman Len belum memperbincangkan tentang vampir seperti biasa.Wajar saja,kelas masih sepi hanya beberapa teman Len yang sudah berangkat,hari ini Len memutuskan datang lebih awal,supaya dia tahu gosip apa saja yang dibicarakan teman temannya.Sambil menunggu mereka,Len membaca buku pelajaran.Setelah cukup lama menunggu,teman teman Len akhirnya datang,dari luar kelas sudah terdengar suara mereka yang asyik mengobrol,kelas Len memang kelas yang cukup ribut.Murid muridnya suka sekali bergosip dan berbuat onar terkecuali Len.

"Hei,kalian dengar tidak? Katanya ada vampir muncul di bawah jembatan lagi loh."

Seorang siswi memulai gosipnya.

"Hah!? Apa itu benar?!"

"Itu benar.Orang orang sudah banyak yang membicarakannya."

Len tersentak,ditajamkannya pendengarannya, mendengar percakapan teman temannya.

"Oh,kemarin aku melihat ambulan dan polisi.Sepertinya ada yang terluka."Kata salah satu siswa yang ikut pembicaraan siswi siswi.

"Benarkah?! Berarti orang yang terluka itu akan menjadi vampir!"

"Dasar bodoh! Para ilmuwan kan sudah bilang kalau terluka karena vampir tidak akan membuat korban menjadi vampir.Kau sudah tahukan pemberitahuan dari ilmuwan di TV?"

"Oh iya,kau benar.Hiii,aku tidak mau jadi vampir."Siswi itu bergedik ngeri.

Len menghela napas lega.Teman temannya tidak membicarakan dirinya,dia tidak mau jadi pusat perhatian.Sudah cukup Len mendapat perhatian berlebihan dari siswi perempuan karena ketampanannya,bisa bisa dia dijauhi dan menjadi buah bibir kelasnya.Sekarang Len bisa belajar dengan tenang seperti kata Lily.Tunggu,Len termenung mengingat ibunya.Lily selalu membantu Len dikala dia dalam masalah,tapi apa ini tidak mencurigakan? Berita tentang kejadian kemarin sudah masuk TV tapi tidak ada berita tentang Len sebagai korbannya,hanya petugas terluka saja yang masuk berita tapi tidak ada Len disana,padahal Len sudah menjelaskan kejadian kemarin kepada para polisi dan menjadi saksi penting.Len adalah korban utamanya,dia diserang vampir kelaparan sedangkan petugas itu menolongnya.Bukankah hal ini tentu akan masuk TV?

'Bagaimana cara kaa-san melakukannya? Apa dia menyuap polisi? Ah! Tidak mungkin! Kaa-san tidak mungkin melakukan itu,lagipula kaa-san hanya pekerja pabrik biasa,tidak mungkin kaa-san mampu menyuap mereka.'

Len kembali melamun.Kini Len memikirkan cara Lily menghilangkan 'kehadirannya' dari kejadian kemarin.

Saat Len sedang asyik melamun sedangkan teman temannya sibuk bergosip,guru mereka sudah masuk kedalam kelas.Mayu-sensei,Guru kelas Len mengurai keributan dengan memukul penggaris kayu ke papan tulis,sontak perhatian para murid teralih ke depan.Mayu-sensei tersenyum manis (mengerikan) melihat murid muridnya yang belum duduk,padahal jam pelajaran sudah mulai daritadi.

"Anak anak,cepat duduk.Pelajaran mau dimulai."Kata Mayu lembut(mengancam).

Tahu maksud tersembunyi dari kata kata Mayu,para murid cepat cepat duduk di bangku masing masing.

"Nah,semua sudah duduk? Baiklah kita mulai hari ini dengan ulangan ya~"

"Ehhh!!!!" Serempak murid murid kecuali Len berteriak,keberatan dengan keputusan guru mereka.

Belum sempat mereka meluncurkan kata kata protes,Mayu kembali mengembangkan senyum sadisnya.Murid murid tak jadi protes.Ulangan dadakan hari ini adalah pelajaran sejarah,pelajaran yang identik dengan hafalan,dari soal maupun jawaban pastilah panjang.Mayu membagikan kertas soal dan jawaban,beberapa murid berdiskusi sebelum ulangan dimulai, bahkan ada beberapa murid yang masih sempat gosip.

"Duuhh! Bagaimana ini? Aku kan belum belajar Kenapa sih Mayu-sensei selalu ulangan dadakan?!

"Iya.Huh! Menyebalkan! Kenapa tidak beritahu sih kalau ada ulangan supaya kita bisa belajar,minimal baca baca sedikit lah walau engga masuk ke kepala."

"Ehem.Anak anak,tolong jangan berisik selama ujian ya."

Murid murid yang sedang asyiknya ngobrol dikejutkan dengan kedatangan Mayu-sensei.Padahal tadi Mayu-sensei sedang sibuk membagikan kertas tapi tahu tahu dia muncul di samping mereka.Mereka menunduk takut takut sambil mengiyakan.Mayu-sensei kembali ke depan kelas.

"Baiklah anak- anak,silahkan dikerjakan."

Belum sempat murid murid mengerjakan ulangan, terdengar ketukan pintu.

"Permisi sensei,apa aku boleh masuk?" Seorang gadis mengintip dari balik pintu.

Mayu menepuk dahinya.

"Oh iya,aku lupa.Maaf ya,silahkan masuk." Kata Mayu sok imut.

Gadis itu masuk kedalam kelas, kehadirannya menjadi pusat perhatian seisi kelas.Gadis berambut madu itu tersenyum manis sebelum berbicara.Dia menghirup napas dalam dalam lalu mulai memperkenalkan diri

"Hai,namaku Rin Kagina.Aku murid baru disini,salam kenal."Gadis bernama Rin itu membungkuk hormat.

Murid murid serentak riuh.Mereka menanyakan berbagai macam pertanyaan pada Rin,lupa kalau sekarang sedang ulangan.Mayu memukulkan penggaris kayu ke meja,memberi isyarat untuk diam.

"Baiklah,Rin-chan.Maaf, tapi sekarang kelas kita sedang ulangan,tidak apa apa kan?"Tanya Mayu

"Tidak apa apa sensei."Rin terseyum lagi.

"Baiklah,Rin-chan.Silakan duduk di samping Len ya.Len-kun,tolong angkat tangan."Perintah Mayu.

Len mengangkat tangannya.Rin segera berjalan ke arah meja disamping Len.Sebelum duduk,Rin tersenyum menyapa Len yang dibalas anggukan pelan.Mayu mengambilkan kertas soal dan jawaban untuk Rin,tak lama kelas kembali ke keadaan hening.Kosentrasi dengan soal soal,begitu juga dengan Rin.Telinga Rin menangkap pembicaraan dua murid perempuan di belakang nya.

"Eh,anak baru itu mirip Mayu-sensei tidak sih? Selalu tersenyum tapi senyumannya punya maksud lain."

"Iya,mirip sekali.Apa jangan jangan mereka sekeluarga ya? Hihihi,Aneh sekali."

Mendengar obrolan mereka,Rin tersenyum tipis.

'Dasar manusia manusia rendahan! Baru pertama masuk saja digosipin.Padahal sekarang aku sedang badmood karena harus mengecat rambut hitam kesayangan ku,rambutku jadi seperti sarang lebah! Ditambah lagi aku harus memberi hormat dan tersenyum bodoh pada mangsa mangsaku.Awas saja nanti kalau kalian macam macam,aku akan menghisap darah kalian! Batin Rin dalam hati.

Hidung Rin mencium sesuatu.Suatu bau yang sangat lezat.Perut Rin bergemuruh lapar,padahal dia sudah minum darah tadi pagi.Nafsu akan darah menggelitik Rin untuk mencari asal wangi darah itu.Hidung Rin kembang kempis mencium bau darah yang semakin menggoda.

'Ada orang yang berdarah lezat disini,sangat lezat malah.Beruntung sekali.Ini akan jadi momen tak terlupakan,aku akan minum darah yang sangat lezat.'

Lidah Rin menjilat bibirnya yang tiba tiba kering.Bau darah itu benar benar menguji kesabaran Rin,Rin harus kuat menahan nafsunya.

'Darah itu benar benar nikmat.Dari baunya saja aku sudah tahu darah itu lebih lezat dari dugaanku.Aku benar benar tidak sabar untuk memangsa pemilik darah ini.Tahan Rin! Tahan! Setelah ini aku akan meminum darah lezat tiada tara.'

Waktu berjalan begitu lambat.Rin benar benar sedang diuji,bukan diuji pengetahuan tapi ujian kesabaran.Rin menekan nafsunya dengan menghirup napas pelan pelan,menikmati wangi darah.Setelah tiga puluh menit penyiksaan,akhirnya waktu ujian berakhir.Rin menghela napas senang,dicarinya pemilik darah itu.Tak perlu berlama lama,Rin sudah menemukannya,pemilik darah itu tepat berada disampingnya,Len!

'Jadi kau ya pemilik darah lezat itu.Jangan salahkan aku ya kalau kau akan mati,ini semua gara gara kamu sendiri.' Rin terkikik geli.

Rin sangat senang,akhirnya dia mendapatkan darah lezat tanpa bersusah payah mencarinya.Sebaris ide akan rencana Rin untuk mendapatkan darah Len muncul dikepalanya.Sekejap Rin lupa dengan misi awalnya,dia terlalu menginginkan darah Len.

'Aku harus menyiapkan rencana yang matang .'

Laboraturium Markas VAMKILL

"Profesor,ini semua berkas untuk senjata baru."Seorang wanita berkacamata memberikan setumpuk berkas di meja kerja Lily.

"Terima kasih,kau boleh pergi."Wanita itu menunduk hormat lalu pergi meninggalkan ruang kerja Lily.

Lily memilah berkas berkas itu,membacanya,memeriksanya,mencatat hal hal penting dari berkas,dan membuat laporan senjata baru.Setelah selesai,Lily merapikan kertas kertas itu dengan penjepit kertas, dimasukkan nya berkas itu kedalam map merah.Lily sekali lagi memeriksa supaya tidak ada yang salah,setelah yakin betul semua,dia keluar dari ruangannya menuju kantor Kepala organisasi VAMKILL.Sambil berjalan,Lily melihat jam tangan perak nya,sudah jam 13:00,waktunya Len pulang.Sekarang jam sekolah dipotong,Awalnya jam sekolah usai pukul 15:00 dipotong menjadi pukul 13:00 siang.Lily harus cepat pulang,dia harus membeli makan siang untuk Len.Lily belum sempat membeli bahan masakan untuk dirumah.

'Seharusnya Len sudah pulang.Semoga dia tidak kabur lagi.'

Lily mengambil handphone nya,dia membuka aplikasi pelacaknya.Len sedang naik bus,dia dalam perjalanan pulang.Lily menghela napas lega.Disimpannya handphone pintar itu ke dalam jas laboratnya saat sampai di kantor kepala.Pintu besi besar menghadang Lily,Lily harus dipindai terlebih dahulu sebelum masuk kedalam Kantor kepala,jika tidak dipindai pintu besi besar itu tidak akan membuka.Tentu saja hanya orang yang diberi izin khusus untuk masuk kedalamnya oleh kepala organisasi.Lily menempelkan telapak tangannya ke alat pendeteksi,setelah alat pendeteksi memindai tangan Lily,alat itu membuka pintu besi itu.Dibalik pintu besi terdapat pintu biasa,Lily melangkahkan kakinya kedalam.

Penerangan di dalam ruangan cukup gelap dan sunyi,seperti tak ada orang yang memakai ruangan itu.Ruang kepala organisasi itu sangat luas,lengkap dengan sistem keamanan dan teknologi modern.Di dinding ruangan terdapat papan besar,di papan itu tertempel banyak kertas dan tali yang saling menyambung,papan itu berguna untuk mengumpulkan informasi.Di tengah tengah ruangan ada sebuah meja besar,diatasnya berserakan kertas,buku buku dan dokumen,meja itu juga memiliki fungsi yang sama dengan papan informasi.Di belakang meja berantakan itu lah meja kepala organisasi.Lily berjalan ke arah meja itu berada,tapi kepala organisasi itu tidak ada ditempat nya.Lily mencari cari pemimpin organisasi.Orang yang dicari Lily berada di sudut ruangan,pria itu sedang asyik menonton TV sambil meminum secangkir kopi panas.Tanpa basa basi Lily menaruh map di atas meja kecil di samping pria itu duduk.

"Ini laporan perkembangan senjata baru.Aku sudah menambahkan daya kekuatan,dan mengurangi beban senjata ini."

Pria itu menaruh cangkir kopi nya lalu mengambil map antaran Lily.Dia membaca laporan itu dengan cermat.Tanpa banyak kata,pria itu menatuh lagi map itu ke meja.

"Sempurna."Kata pria itu

"Walaupun begitu,senjata ini belum bisa dipakai dan memerlukan waktu penyesuaian yang lama.Ditambah lagi tingkat bahayanya yang tinggi,pengguna senjata ini bisa meregang nyawa hanya sekali memakainya,dan juga-"

Omongan Lily terhenti.Pria itu mengangkat tangannya menyuruh Lily diam.

"Tak apa kalau pemakainya mati yang penting senjata ini berhasil."

"Tuan!"Seru Lily tak setuju.

Pria itu berdiri lalu memutar badannya menghadap Lily.Wajahnya terlihat bingung.

"Akhir akhir ini kau mulai berani meneriakiku,kau juga sering mengabaikan tugasmu dan lebih memilih pulang daripada bekerja,apa ini semua karena Leon mati?"

Menyebutkan nama suami Lily membuat Lily tersentak.Raut wajah Lily berubah marah,melihat itu pria itu mengerutkan kening.

"Ya ampun.Kau masih menyalahkan ku? Sudah kubilangkan kalau peristiwa itu terjadi karena kecelakaan.Hal ini sudah biasa terjadi dalam pekerjaan,tidak perlu sampai marah begi-"

"Jangan ingatkan aku tentang itu!!!"Teriak Lily.

Pria itu terdiam.Menuggu Lily tenang lebih dahulu.

"Jangan ingatkan aku tentang itu."Ulang Lily.

Lily tidak pernah menyukai watak pria itu,dia selalu membicarakan hal yang paling tidak ingin didengar nya.

"Baiklah,maaf,maaf.Oh iya,bukankah Len sudah pulang? Kau tidak mau menyiapkan makan siang untuknya?"

Lily diam saja.Tanpa permisi dia keluar dari ruangan pria itu lalu menutup pintu dengan keras.Memendam amarahnya.

"Hah... dasar perempuan."

Pria itu kembali duduk.Dia membuka laci meja kecil,diambilnya tape recorder kecil berwarna hitam.Barang itu sangat mencolok,dari sekian banyaknya barang diruangan itu hanya perekam suara itu yang kuno,barang barang lainnya lebih canggih dan modern tentunya.Entah kenapa pria itu masih menggunakan benda itu,padahal dia mempunyai alat perekam suara modern.Pria itu menekan tombol,terdengarlah sebuah suara.

"Anak itu menyelamatkan ku." Terdengar suara seorang pria.

"Apakah itu benar?"Kini suara kepala organisasi itu sendiri.

"Benar,tuan.Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.Anak itu yang membunuh vampir.Kami saja tidak pernah membunuh vampir."Seorang pria ikut menimpali.

"Dia bahkan bisa menembak tanpa meleset.Anehnya dia seperti sudah terbiasa menggunakan benda semacam itu.Anak yang berani dan hebat."Puji pria itu.

'Dia anak yang berani dan hebat.'

Kata terakhir pria di recorder itu mengingatkan kepala organisasi dengan perkataan seseorang, seseorang yang dikenal nya.Kepala organisasi menekan kembali tombol tape recorder,menghentikan rekamannya.Bibir pria itu menyunggingkan senyum.

"Anak Leon memang hebat."

Di jalan.

Mobil Lily mengebut di jalanan,dia baru saja pulang dari supermarket,membeli bahan bahan masakan.Berhubung jam aktivitas dipotong,toko toko tutup lebih cepat.Dia tak bisa berlama lama karena sekarang sudah lewat waktu makan siang.Lily mengemudikan mobilnya ke sebuah restoran ayam goreng,dia berniat membeli itu untuk makan siang.Lily tak akan sempat memasak karena dia harus mengejar pekerjaannya yang menumpuk.Sebenarnya pekerjaan Lily tak memungkinkan dirinya untuk pulang lebih awal,tapi Lily harus melakukan itu semua sebagai single mother.Dia harus bisa membagi waktu kerja dan mengurus Len.Sampai di restoran,Lily memesan makanan.Lily kembali menlihat jam tangannya,jam 14:28.

'Len pasti lapar...'

"Pesanan siap."

"Terima kasih banyak."

Lily mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar makanan.Setelah membayar,Lily buru buru pulang.Lily baru sampai rumah jam 15:00.Lily memarkirkan mobilnya di dalam teras,Lily menutup pintu rapat rapat.

"Len,aku pulang."

Srek.

Suara itu mengagetkan Lily.Lily melongok ke luar jendela.Tak ada siapa siapa diluar,jalanan pun sepi.

'Sepertinya aku mendengar sesuatu...'

Mata Lily mengawasi langit.Dia yakin kalau suara itu berasal dari langit.Suaranya seperti... kepakan sayap.

'Apa itu hanya burung ya? Ah sudahlah,aku harus menyiapkan makanan untuk Len.'

Lily masuk kedalam rumah,dilihatnya Len yang tertidur di sofa.Sepertinya Len sedang menonton TV tapi dia ketiduran,TV juga masih dalan keadaan menyala.Len tidak sadar kalau Lily sudah pulang,tidurnya lelap sekali.Lily duduk di samping Len,dia tersenyum lembut,dengan penuh kasih Lily mengelus rambut Len.Lily melihat kerah baju Len yang berantakan lalu merapikan nya.

'Tidak biasanya Len ketiduran,dia pasti lelah sekaligus lapar.'

Lily mengusap wajah Len.Wajah tidur Len begitu manis di mata Lily.Lily melihat wajah Len lebih teliti.

'Len punya mata sepertiku sedangkan bentuk wajahnya seperti...'

Lily terdiam.Dia kembali mengingat kenangan lama dengan Leon.Mengingat itu membuat hati Lily sesak,masih berat untuk merelakan kepergian Leon.Tanpa sadar,air mata menggenang di mata Lily.Cepat cepat Lily menghapus air matanya.

'Aku harus tegar! Aku tidak akan kehilangan keluargaku lagi! Aku akan menjaga mereka!' Janji Lily pada dirinya sendiri.

Lily melihat Len kedinginan,buru buru Len mengambil selimut dari kamar Len untuk menyelimutinya.Merasakan sesuatu,Len terbangun.

"Hmm? Eh? Ah! Kaa-san."

"Ah,maaf.Kaa-san membangunkanmu.Oh iya,kaa-san sudah beli makanan,maaf kaa-san terlambat."

Lily menepuk lembut kepala Len.

"Tidak apa." Jawab Len singkat.

Lily pergi ke dapur.Menyimpan bahan bahan makanan di kulkas lalu menyiapkan makan siang untuk Len.Lily dan Len mengobrol dengan santai menikmati waktu bersama,tanpa sadar ada yang mengintip mereka dari kejauhan.Mata merah Rin menyala nyala melihat mereka berdua,dia berdecih kesal.

"Cih,sial! Gara gara wanita itu pulang rencanaku jadi gagal.Padahal sedikit lagi aku bisa memangsanya."

Flashback on.

Ting Tong.

Bel tanda pulang sekolah berbunyi.Murid murid bersorak menyambut bel.Tanpa memerlukan waktu lama,mereka semua sudah siap untuk pulang.

"Sampai jumapa besok anak anak.Berhati hatilah."

Setelah mengucapkan salam.Mayu keluar kelas diikuti murid murid yang ingin cepat pulang.Bis sekolah telah menanti mereka didepan sekolah,siap mengantar murid murid.Kini di setiap sekolah ada bis sekolah yang mengantar hingga menjemput mereka.Murid murid tidak diperbolehkan lagi berangkat sekolah dengan berjalan kaki, bahaya mengintai mereka.Sekalipun hari masih siang mereka tetap harus waspada, tidak boleh lengah sedikit pun.Kelas Len mengantri,bis sekolah disesuaikan dengan kelas masing masing,kelas Len mendapat Bis yang ke sembilan,bis yang terakhir.Mereka harus bersabar menunggu murid murid kelas lain naik bis terlebih dahulu.

Diam diam Rin mengikuti Len.Rin ingin tahu dimana rumah Len supaya dia bisa menyusup masuk kerumahnya lalu memangsa Len.Rin sangat tidak sabar menunggu bis sekolah mereka datang,bis sekolah kelas lain belum berangkat berangkat karena banyak murid yang belum naik ke bis.

'Dasar manusia manusia lambat! Cepatlah!'

Ingin Rin meneriaki rombongan kelas lain yang berjalan lambat,tapi tidak mungkin dia mengatakan itu,orang orang akan mencurigai nya.Kalau sampai identitas Rin ketahuan,misinya untuk menguasai dunia akan batal dan tentu saja Rin tidak jadi mendapat kan darah lezat Len.Ah! Rin tidak mau itu terjadi.Rin tidak mau kehilangan darah lezat hanya karena kecerobohan nya.Rin terus mengawasi gerak gerik Len,dilihatnya Len yang sedang asyik mendengarkan lagu dengan headset di handphone nya.Len bersandar di tembok sekolah,jaraknya agak menjauh dari teman teman Len.Len tidak bersama teman temannya,beberapa teman Len sempat mengajaknya mengobrol tapi Len selalu menolak, dia lebih memilih sendirian daripada bersama teman temannya.

'Sepertinya dia penyendiri,Dia juga tidak banyak bicara,manusia pendiam dan penyendiri...Bagus! Kalau begini aku tidak perlu mengurus teman temannya yang mengganggu walau aku jadi tidak bisa menghisap darah mereka tapi aku masih bisa menikmati darah Len.' Batin Rin senang.

Akhirnya bis yang ditunggu tunggu datang.Murid murid berdesakan masuk ke dalam bis.Len duduk sendirian didekat jendela.Rin melihat kesempatan untuk mengenal lebih dekat dengan mangsa nya.Rin mendekati Len.

"Bolehkah aku duduk disini?" Tanya Rin.

Len menatap Rin sebantar,tanpa menjawab,Len hanya mengangguk pelan.

"Terima kasih."

Rin duduk disamping Len,wangi darahnya semakin kuat,Rin sebisa mungkin menahan nafsunya itu.Kalau dia menghisap darah Len Sekarang tentu Rin akan ketahuan.Rin berusaha mengendalikan dirinya.Mata Rin melirik Len,Len masih mendengar kan lagu sambil melihat keluar jendela.Beberapa saat kemudian satu persatu murid murid sudah diantar ke rumah,hanya tinggal beberapa orang saja.Rin dan Len juga belum turun,rumah Rin memang cukup jauh dari sekolah,ini kesempatan Rin untuk mengetahui rumah Len supaya Rin bisa memangsa Len saat di rumah.Tapi nasib sial menghampiri Rin,Rin turun terlebih dahulu sebelum Len itu artinya Rin tidak bisa tahu dimana rumah Len.Rin memutar otak mencari cara untuk tetap mengikuti Len.Rin memutuskan untuk terbang,bukankah akan ketahuan kalau ada vampir? Tenang saja,Rin sudah memakai jubah hitam menghilang pemberian Rei.Jubah itu bisa membuat Rin tidak terlihat walaupun dia terbang.Rin segera mengikuti bis sekolah hingga Len turun dari bis.Rin duduk diatas atap rumah tentangga depan Len, memastikan tidak ada orang selain Len.Setelah yakin tak ada orang lain Rin terbang ke atap rumah Len,lalu turun perlahan memasuki jendela terbuka.Jendela itu adalah jendela dapur yang terhubung dengan ruang TV,Rin bersembunyi dibalik meja makan.Len memasuki ruang TV,dia menaruh tasnya di sofa.Len merebahkan diri di sofa melepas lelah seharian belajar.

'Kesempatan untukku."

Rin pelan pelan mendekati Len.Lalu Len menyalakan TV sempat membuat Rin kaget.Rin kembali mengendap endap,tatapan Len mengarah ke TV tapi dia tidak benar benar menonton nya.Kini Rin tepat di belakang Len,Rin bersembunyi dibalik sofa Len duduk.Wangi darah semakin kuat,Rin ingin menghisapnya sekarang juga.Rin mengeluarkan kantong hitam dari saku roknya,kantong itu berisi bubuk bunga malam,bunga pembawa tidur.Rencana Rin ingin meniduri Len dengan bubuk bunga malam lalu menghisap darah Len tanpa perlawanan dari Len,Rin ingin menikmati darah Len tanpa harus susah payah melawan perlawanan Len.Rin menaburkan bubuk itu di kepala Len diam diam,berusaha tidak menimbulkan bunyi apa apa.Perlahan lahan bubuk itu mulai bekerja,Len mulai terkantuk,lalu tanpa sadar Len jatuh tertidur.

'Yes! Berhasil! Darah lezat aku datang!'

Rin memposisikan Len tiduran sofa.Disibaknya rambut Len yang menutupi lehernya(disini rambut Len tidak diikat).Bau darah semakin menggoda Rin,mulut Rin terbuka,taringnya menjulur keluar,matanya berubah menjadi merah.Darah lezat sudah di depan mata.Jantung Rin berdegup kencang,ini adalah sejarah baru dalam hidup Rin,Rin mendapat darah lezat yang sangat langka! Royal Blood.Rin menarik kerah baju Len dengan hati hati,memberi Rin ruang supaya lebih leluasa menghisap darah Len.Rin mendekatkan bibirnya ke leher Len,mulutnya terbuka memamerkan taring tajamnya,bersiap menancapkan taringnya di leher Len.

Ckiit.

Tap tap tap

Rin terkejut.Rin mengalihkan wajahnya dari Len,dia melihat keluar jendela.terlihat wanita berambut pirang panjang diikat.Langkah kakinya mendekati ruang TV.

"Len,aku pulang." Terdengar suara wanita.

'Suara wanita...sial! Ibunya pulang!'Batin Rin panik.

Rin kembali menatap Len.Ini adalah keajaiban terbesar dalam hidupnya,minum Royal Blood yang sangat langka! Tapi kesempatan ini hilang karena orang tua mangsanya datang.Rin menggeram marah,Rin bisa saja langsung membunuh ibu Len tapi dia tidak bisa melakukannya.Rin merasakan aura petarung yang kuat di dalam ibu Len,ditambah lagi tadi siang Rin sengaja tidak minum darah karena terlalu berharap mendapatkan darah Len.Kini kekuatan Rin berkurang setengahnya,dia bisa celaka.Dengan berat hati Rin meninggalkan Len,dia berlari ke arah jendela lalu melesat terbang keluar.

'Sial! Sial! Sial!'Umpat Rin.

Rin menggeram marah,dia terbang menjauh dari rumah Len.Rasanya berat sekali meninggalkan darah itu.Rin gagal mendapatkan darah dambaannya.Karena terlalu marah,Rin tidak sadar kepakan sayapnya membuat suara yang mengagetkan Lily.

'Awas saja kau wanita sialan! Aku jadi gagal mendapatkan Royal Blood gara gara kamu! Ini semua salahmu! Suatu saat aku akan menghisap habis darahmu!'

Flashback off

Rin meremas jubah hitam yang dipakainya.Dia benar benar ingin darah Len,Rin tidak sabar menikmati darah lezat itu.Tapi mau bagaimana lagi ibu Len sudah pulang,Rin harus memikirkan rencana lain.Rin pun terpaksa pulang kerumahnya.

Rumah Rin

Rin tinggal di sebuah apartemen besar di pusat kota.Apartemen mewah yang hanya bisa dipakai orang kaya saja.Banyak orang orang kaya menghabiskan waktu dengan menghamburkan uang uang mereka.Mereka berpesta siang dan malam membuat keributan.Untung rumah Rin jauh dari orang orang kaya itu,jangan sampai mereka membuat Rin marah karena Rin benar benar sedang badmood. kalau sampai membuat Rin marah dia pasti sudah menjadikan mereka semua 'manusia kering'.Rin melompat ke kasur queen sizenya,kasur empuknya tidak bisa membuat Rin tenang seperti biasa.Dijamin seratus persen Rin tidak akan bisa tidur nyenyak karena masih memikirkan kegagalan nya.Rin mengambil bantal labunya,membenamkan wajahnya lalu berteriak.

"GYAAAAAA!!!!!!! SIALAN! SIALAN! SIALAN! BRENGSEK!!!!!"

Rin berteriak sepuas puasnya, mengeluarkan semua amarah nya kedalam bantalnya.Rin memang seorang putri tapi sifatnya itu sama sekali tidak menggambarkan seorang putri,apalagi Rin kasar,manja,egois dan seenaknya sendiri.Setelah puas berteriak,Rin melepas bantal itu dari wajahnya.Rambut Rin jadi acak acakan.Rin mengambil cermin di meja riasnya,terlihat wajah Rin yang kusut,rambut berantakan dan mata merah yang penuh amarah.Rin bergegas mandi,dia cepat cepat ingin mengganti penampilan nya.Rin sangat benci menyamar menjadi manusia, menurut nya manusia hanyalah hewan ternak untuk disantap dan bodoh.Rin tidak mau seperti itu walaupun hanya menyamar.Selesai mandi,Rin memakai baju atasan hitam dengan bagian bahu yang terbuka dan hanya menutup dadanya,perutnya dibiarkan terbuka,sedangkan untuk celananya,Rin memakai hotpants.Rin duduk di kursi meja riasnya,dia memakai bedak, lipstik dan memakai anting anting kelelawar.Selesai berdandan,Rin mengambil sebuah buku tua di tasnya lalu membawanya tidur.Rin membuka buka itu dibagian bab yang membahas darah,salah satu bab itu tertulis Royal Blood.

Royal Blood.

Darah yang sangat lezat dan sangat langka.Banyak vampir yang mengira bahwa darah ini hanyalah dongeng belaka padahal ini benar adanya.Mereka tidak percaya cerita ini karena tidak pernah meminum Royal Blood sebelumnya.Bisa dijamin saat mereka meminumnya,mereka akan begitu tergila gila.Tapi darah ini sangat langka, kalau ada vampir yang meminumnya,dia akan terus menerus menginginkan Royal Blood dan menjadi liar akibat nafsu darah yang luar biasa.Dia akan terus memangsa manusia tanpa henti sampai dia mendapatkan kembali Royal Blood dan nafsu darahnya terpuaskan.Namun,Darah ini tidak akan pernah membuat vampir puas, mereka akan terus mencari nya hingga ketemu.

Rin terus mengulang ngulang bab itu.Nafsu darah Rin masih bersarang dan juga amarahnya.Rin mendapat kan buku ini dari Rui.Rui pernah cerita kalau dia juga pernah minum darah itu tapi Rin tidak memercayai nya sampai dia bertemu Len si pemilik Royal Blood.Rin ingin sekali mencobanya padahal rencana nya hampir berhasil tapi akhirnya gagal.Rin mendengus kesal, dilampiaskan amarahnya dengan memukul mukul bantal labunya.Lelah memukul,Rin berhenti.Rin kembali mengambil buku itu dan membacanya lagi.

'Kalau ada vampir yang meminum Royal Blood dia akan menjadi gila,apa itu benar? Okaa-sama bercerita pernah meminum nya tapi dia baik baik saja tidak seperti bayangan ku.Yahhh...sejak awal Okaa-sama memang sudah gila.'Tanpa sadar Rin menjelekkan ibunya.

'Tapi kalau itu benar aku tidak takut untuk minum darah ini.'

Rin menatap kosong langit kamar nya.Tangannya terangkat keatas srolah hendak mengambil sesuatu.

"Tunggulah,Royal Blood.Aku akan segera mendapatkan mu."