Disclaimer : Kazuki Takahashi yang memiliki YuGiOh!
Warning : Hint of Shonen Ai (mostly Puzzleshipping), beberapa penyertaan lirik requiem milik Mozart, Dark theme, beberapa Mitos, Mitologi dan Filosofis yang saya rangkai sendiri seluruh korelasinya secara fiktif demi kepentingan plot, tak bermaksud untuk menyalah kaprahkan asumsi. Fic ini hanyalah fiktif belaka.
XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX
Sirkulasi masa seakan beku. Semua ini terlalu cepat. Panca indera menjadi saksi. Sebuah realitas baru telah terlahir. Inilah permulaan. Yugi dapat merasakannya. Alur takdirnya yang baru akan dimulai. Sebuah alur takdir yang tak pernah terbersit dalam nalarnya. Yang tak pernah sedikitpun terukir nyata dalam benaknya. Inilah sebuah liku. Liku yang akan terus menukik tajam, menggetarkan seluruh subtansi hidup yang ada.
Sebuah enigma baru.
"Mulai sekarang, kau adalah prioritasku, Mutou Yugi..."
XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX
-Chapter 3-
Enigmatic Reasons
Yami Atem.
Seorang kepala pimpinan dalam agen kepolisian Domino. Agen paling handal dan lihai yang pernah ada dalam kota Domino. Seorang pimpinan agen kepolisian dengan pangkat tertinggi saat ini. Salah seorang anggota pihak berwajib yang sangat profesional dan berdedikasi tinggi. Tak pernah sedikitpun terlintas dibenak Yugi bahwa, orang sepenting ini akan menjadi sebuah aspek penting dalam hidupnya. Tak pernah sedikitpun terbersit dalam perkiraannya bahwa, ia akan dapat bertemu dengan agen nomor satu itu. Apalagi, nyawanya tertolong berkat orang itu. Sungguh tak pernah terlintas. Ia tak menyangka sama sekali. Tak pernah menyangka bahkan sulit untuk menyangka. Bahwa orang yang menyelamatkan nyawanya... adalah dia. Orang dengan pekerjaannya yang cukup penting itu. Sungguh tak terduga sekali.
Dan kini... berdirilah sang agen itu menghadap kakeknya.
Pria berwibawa tinggi itu cukup terlihat begitu tegas. Ia menutupi seragam kepolisiannya dengan balutan jaket berjubah hitam. Sebuah pistol terletak dengan begitu rapi pada kantung senapannya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya, menandakan rasa ketenangannya. Dan Yugi pun menyadari bahwa pria yang menyelamatkan dirinya itu sungguh serupa dengan dirinya.
Perbedaannya, hanyalah terletak dimata crimson-nya.
Mata crimson semerah darah yang seakan membuat Yugi takjub sesaat.
"Dialah calon penjaga yang akan mengawal Yugi, Tuan Sugoroku." perkataan Kaiba memecah keheningan yang ada. Hawa statis itu seakan berpendar dengan sendirinya. Sugoroku terlihat memperhatikan Yami dengan begitu intens. Sang agen masihlah tak menampakkan raut risih ataupun ekspresi. Tetap monoton, penuh dengan ambiguitas.
"Aku tak menyangka bahwa kau memiliki tali relasi dengan Yami Atem, Seto. Kau tak pernah memberi tahu padaku bahwa kalian berdua masihlah terikat dalam tali silsilah keluarga." Sugoroku skeptis untuk sesaat.
"Kami berdua jarang berkomunikasi, Tuan Sugoroku. Atem adalah sepupu jauhku. Silsilah keluarga kami memang sedikit rumit. Tapi jika ditelaah lebih mendalam, kami berdua masihlah terikat satu sama lain." jelas Kaiba. Sugoroku menganggukkan kepalanya secara perlahan. Kedua ametisnya kembali ia hadapkan pada Yami.
"Kalau tidak salah, anda adalah kepala dari agen rahasia kepolisian Domino, kan?"
Yami menganggukkan kepalanya, "Ya. Saya adalah kepala pimpinan agen rahasia dari kepolisian Domino." Ia pun membungkukkan badannya, "Merupakan suatu kehormatan bagi saya karena bisa bertemu dengan anda, Mutou-san, bangsawan besar di kota ini."
"Haha... Tak perlu bersikap formal seperti itu. Aku sangat menghargai etikamu, tapi aku lebih senang dengan suasana santai." Sugoroku menyimpulkan sebuah senyuman ringan. Pria berprofesi sebagai agen itu mengangguk tanda mengerti.
"Jadi, apa kau bersedia menyanggupi tawaran kami, untuk mengawal cucuku Yugi, saudara Atem?" Sugoroku menegaskan poinnya. Yami kembali mengangguk penuh keyakinan.
"Saya sudah pertimbangkan tawaran ini matang-matang. Dan sudah saya putuskan bahwa saya bersedia mengemban misi ini."
Sungguh tak ada keraguan dalam setiap perkataan Yami. Yugi dapat merasakannya. Sebuah tekad yang kuat telah terpancar dalam diri seorang pria yang serupa dengannya itu. Sebuah tekad kuat yang tak bisa diruntuhkan dengan mudahnya oleh hembusan angin konspirasi apapun. Determinasinya cukup tinggi. Ia memang benar-benar seorang pria berprinsip kuat. Pria bermata merah itupun lalu menatap ke arah Yugi. Ia tak menampakkan ekspresi dan tetap berada dalam keadaan ambigu. Pria itu terus memperhatikan Yugi. Seakan ada daya tarik yang membuatnya terus menatap Yugi. Dan Yugi mulai tak nyaman dengan hal itu. Dan lagi...
Buat apa kakeknya menyuruh seorang bodyguard pribadi untuk mengawalnya sampai seketat ini?
"Jii-chan, mengapa kau tak mengatakan hal ini sebelumnya? Bahwa kau akan menugaskan seseorang untuk menjadi pengawal pribadiku?" pria mungil itu tampak begitu skeptis pada kakek tirinya. Menghela napas sejenak pun dilakukan oleh Sugoroku.
"Maaf karena aku tak sempat memberitahukan hal ini padamu, Yugi. Tapi, setelah berbagai pertimbangan yang telah kudiskusikan bersama Seto dan Pegasus, alangkah baiknya jika dalam konteks saat ini, aku menyewa seorang bodyguard yang bisa terus mengawasi dan melindungimu dari para mafia dan beberapa orang yang memiliki konspirasi busuk untuk memanfaatkanmu. Ini semata-mata kulakukan untuk keselamatanmu, Yugi."
"Tapi, bukankah aku juga sudah dikawal oleh beberapa bodyguard dimanapun aku berada? Lalu, apa bedanya dengan saat ini? Untuk apa Jii-chan sampai menyuruh orang penting seperti Atem-san untuk menjadi bodyguardku? Apakah ini tidak terlalu... berlebihan?" dahi Yugi mulai berkerut serius. Pria mungil itu masihlah tak mengerti motif kakeknya. Dan mau tak mau, Sugoroku pun harus menjelaskan semuanya secara rinci.
"Aku sangat mengerti pemikiranmu, Yugi. Tapi, situasi saat ini sudah berbeda dari sebelumnya. Semakin banyak orang yang mengincarmu, Yugi. Aku mulai menerima laporan dari beberapa pengawal dan juga laporan analisa Seto. Banyak pihak lain yang mulai mengerti tentang kemampuanmu. Dan bahkan, beberapa dari mereka mulai mengancam kakek untuk menyerahkanmu pada mereka. Aku tak ingin kau sampai jatuh ke tangan mereka, Yugi. Kau adalah cucu kakek satu-satunya. Kau adalah orang yang sangat berharga untuk kakek." Yugi tertunduk mendengar itu. Ia sungguh tak ingin merepotkan semua orang. Terutama kakeknya. Ia sudah banyak berhutang budi pada pria tua renta itu. Dan kini, orang-orang di dekatnya seakan menanggung imbasnya. Imbas dari kemampuan uniknya. Sebuah kemampuan yang tak pernah ia tahu alasannya. Alasan mengapa hanya dia yang dapat mendengar requiem-requiem itu. Kemampuan yang seakan menjadi sebuah kutukan di mata Yugi. Ia sangat membenci kemampuannya. Terlalu membenci. Selamanya membenci. Dan akan tetap dan terus membenci.
Mengapa harus dia yang menjadi penampung kutukan itu?
Mengapa?
"Aku mengerti, Jii-chan. Jika memang ini yang menurutmu terbaik, Aku tak akan membantah." Yugi tak menunjukkan tanda-tanda untuk berkilah. Sugoroku sedikit tenang mengetahui hal itu. Ia pun kembali menatap Yami. Agen muda itu masihlah tak menampakkan ekspresi apapun. Sebuah senyum kembali tersungging di bibir Sugoroku.
"Walau kau tak menampakkan ekspresimu, Tapi aku tahu bahwa banyak sekali pertanyaan yang ada dalam benakmu."
Yami mulai tertawa kecil, tak merasa terkejut sedikitpun dengan pernyataan Sugoroku. Bangsawan yang ada dihadapannya itu memanglah seorang Game Magister. Yami yakin, membaca pikiran orang lain telah menjadi sebuah permainan yang mudah bagi Sugoroku. Dan segala macam bentuk permainan akan dengan gampangnya dikuasai oleh Sugoroku. Apapun permainan itu.
"Anda memang sangat luar biasa, Mutou-san. Saya harap, saya dapat memiliki kemampuan mastering gamer seperti anda. Terlebih lagi saya sangat suka dengan game." Yami pun kembali menatap serius ke arah Sugoroku. "Anda memang benar. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang tidak saya mengerti jawabannya."
Sugoroku terdiam sejenak sebelum pada akhirnya, ia kembali berkata, "Sudah seberapa jauh Seto memberitahumu tentang Yugi?"
Kaiba sedikit terbelalak. Ia bahkan tak memberitahu Sugoroku bahwa ia telah membeberkan kemampuan Yugi pada Yami. Ia mulai kebingungan dan sedikit panik. Sugoroku melambaikan tangannya perlahan, sebagai isyarat penenangan diri penasehatnya itu.
"Tak perlu khawatir, Seto. Aku tahu bahwa tak akan semudah itu menyuruh saudara Atem untuk menyanggupi tawaran ini. Pasti ada sesuatu yang harus kau berikan sebagai modal jaminan."
"Maafkan aku karena tak mengatakan hal ini sebelumnya, Tuan Sugoroku. Dan ya, benar. Aku mengatakan beberapa hal penting agar Atem mau mempertimbangkan lagi tawaranku. Aku sudah memberitahukan padanya mengenai kemampuan khusus yang dimiliki Tuan muda Yugi. Maafkan atas kelancanganku." jelas Kaiba, berterus terang.
"Apa benar begitu, saudara Atem?" Yami menganggukkan kepalanya sebagai respon atas pertanyaan Sugoroku.
"Itu benar, Mutou-san. Seto telah memberitahukan beberapa hal padaku. Mengenai kemampuan Yugi-san dalam mendengarkan alunan requiem. Dan ternyata... Angka kematian di kota Domino bertambah saat cucu anda mendengar requiem itu. Hanya itu informasi yang saya tahu dari Seto." jelas Yami. Yugi menatap pria bermata merah itu dengan cukup serius. Mendengar ada orang lain yang mengetahui kemampuan khususnya, sungguh merupakan hal yang tak mudah bagi Yugi sendiri. Ia selalu saja menjaga rahasia akan kemampuannya itu. Dan kini, ia harus merelakan kemampuannya diketahui oleh orang macam Yami. Ia hanya bisa berharap bahwa Yami adalah orang yang bisa dipercaya sepenuhnya.
Semoga saja.
"Oh, jadi hanya sebatas itu Seto memberitahumu?"
"Itu benar."
"Hmm... Baiklah." Sugoroku menyangga dagunya dan mulai berpikir sejenak. Pada akhirnya, setelah otaknya mencoba meracik beberapa pertanyaan untuk membaca motif, ia pun kembali bertanya kepada agen rahasia itu. "Apa kau tahu alasan mengapa kami menyewamu untuk mengawal Yugi, saudara Atem?"
"Saya memang tak tahu spesifikasi detail dari alasan anda. Tapi, saya yakin, anda tak akan menyewa saya sebagai pengawal Yugi-san hanya untuk sebuah alasan yang enteng. Pasti ada sesuatu yang cukup berat sehingga saya yang harus diterjunkan langsung untuk mengawal Yugi-san. Saya yakin, sesuatu yang berat ini juga merupakan sebuah akibat dari kemampuan khusus yang dimiliki oleh Yugi-san. Seperti... beberapa pihak luar yang mengincar Yugi-san. Bisakah anda jelaskan, mengapa banyak yang mengincar kemampuan Yugi-san?" Yami berbalik mengintrogasi. Sugoroku pun pada akhirnya menjelaskan semuanya.
"Seperti yang anda ketahui sendiri, saudara Atem-san. Cucuku Yugi, memiliki kemampuan khusus dalam mendengar alunan requiem semenjak setahun yang lalu. Setelah beberapa kejadian, fenomena peningkatan angka kematian di Domino pun mulai muncul dan semakin intens. Kami berpikir bahwa, jika sampai banyak sekali orang-orang yang tahu akan kemampuan Yugi, bisa-bisa, mereka semua akan melakukan sesuatu yang sangat tidak kami diinginkan terhadap cucuku. Terutama beberapa pihak ilmuan dan beberapa mafia dari berbagai negara. Mereka mengincar Yugi karena mereka ingin sekali meneliti kemampuan Yugi dalam mendengar requiem. Karena di dunia ini, tak ada satu orang pun yang memiliki kemampuan yang sama dengan Yugi. Dan bahkan, Seto pun berhasil menganalisa motif mereka."
"Motif mereka?" kedua alis Yami bertaut heran. Sugoroku menganggukkan kepalanya.
"Ya, benar. Beberapa pihak luar mulai percaya bahwa melalui kemampuan Yugi dalam mendengar requiem, mungkin saja mereka dapat memprediksi mengenai kapan datangnya... hari kiamat bagi manusia."
"Pre-prediksi... Hari kiamat?" Yami seakan tak percaya dengan hal itu. Sugoroku hanya memasang ekspresi miris.
"Sungguh memprihatinkan memang. Mereka percaya bahwa alunan requiem kematian yang didengar oleh Yugi adalah sebuah tanda bahwa hari akhir sudah dekat. Mereka ingin sekali memprediksi hari akhir melalui kemampuan Yugi. Untuk itulah banyak sekali pihak yang mengincar cucuku. Mereka hanya ingin menjadikan cucuku sebagai obyek penelitian! Obyek penelitian untuk kepentingan mereka sendiri. Tak akan kubiarkan hal itu terjadi pada Yugi." Sugoroku menampakkan determinasinya. Bangsawan itu bersungguh-sungguh. Ia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Yugi. Dan ia rela melakukan apa saja untuk hal itu.
Semua pun mulai jelas di pikiran Yami. Secara perlahan-lahan, ia pun dapat menemukan korelasinya. Sebuah korelasi yang ia cari dalam permasalahannya ini. Dan ia yakin, semakin mendalami aspek ini, akan semakin banyak korelasi yang ia akan ia dapatkan.
Masihlah banyak misteri yang belum terpecahkan.
"Saya mengerti sekarang. Anda tak salah memilih saya untuk menjalankan misi ini. Akan kulindungi Yugi sekuat tenaga saya. Bahkan kalau perlu, akan kulindungi cucu anda dengan nyawaku sendiri." Yami bertekad kuat, penuh dengan determinasi. Sugoroku menganggukkan kepala tanda mengerti. Yami pun mulai menatap kearah obyek prioritasnya. Dan pria mungil bermata ametis itu hanya berbalik menatapnya tanpa ekspresi.
"Baiklah. Mulai sekarang, kau harus terus berada di dekat Yugi. Kau tak boleh sedikitpun jauh dari cucuku. Kau harus mengawalnya kemanapun ia pergi. Kemanapun ia berada. Kau harus bisa mengawal dan memantau cucuku dengan baik. Apa sudah jelas?"
"Dimengerti." anggukan kepala kembali dilayangkan Yami pada Sugoroku. Bangsawan itupun lekas menatap ke arah Kaiba.
"Seto, suruh beberapa pelayan memindahkan barang-barang saudara Atem ke kamar Yugi."
"Aku mengerti, Tuan."
"Tu-tunggu dulu, Jii-chan! Bu-buat apa barang-barang Atem-san dipindahkan ke kamarku? Masih banyak kamar kosong di mansion ini kan?" Yugi sangat terkejut. Melihat raut tak percaya yang tergambar di paras cucunya itu membuat Sugoroku hampir tertawa.
"Haha... Yugi, apa kau tak mendengar apa yang kukatakan pada Atem tadi? Aku ingin dia mengawalmu secara ketat dan berada didekatmu setiap saat. Kemanapun kau berada, ia harus terus ada disisimu. Itu artinya, seluruh konteks permasalahan mulai berlaku. Bahkan soal tidur sekalipun. Sebaiknya kalian sekamar untuk berjaga-jaga."
"A-apa! ?" Yugi seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Mulut mungilnya itu mulai ia katup-katupkan karena kebingungan. Yami masih tak menampakkan ekspresi apapun. Berjalanlah ia menghampiri Yugi dan lalu menunduk lemah dihadapan pria mungil itu.
"Aku berharap akan kerja sama dari anda, Yugi-san. Percayalah, saya tak akan melakukan apapun. Motif saya, hanyalah ingin melindungi anda saja. Tak lebih dari itu."
"Uhh...O-oke." Yugi masihlah tergagap-gagap. Agen itu tersenyum padanya dan mulai berlalu mengikuti beberapa pelayan yang ingin menunjukkan letak kamar Yugi. Dan Yugi hanya bisa pasrah dengan hal ini. Ia sungguh tak menyangka bahwa ia akan sekamar dengan agen nomor satu di Domino itu. Entah apa yang akan terjadi nantinya. Pasti akan terjadi sebuah suasana yang cukup tegang dan canggung. Sebuah helaan napas panjang ia lakukan untuk menentramkan pikirannya yang berkecamuk itu. Sungguh, ia tak tahu harus menyikapi realitas ini dengan perspektif apa. Dan yang jelas, ia harus melalui semua ini.
'Ya Tuhan, Apalagi ini?'
XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX -
Dan benar saja spekulasi Yugi.
Malam itu, hawa canggung dan keheningan mulai mendominasi. Yugi masihlah tak bisa tidur dengan keberadaan seseorang di dalam kamarnya. Agen rahasia itu terlihat berbaring di lantai beralaskan tikar yang cukup tebal dan sebuah selimut yang menelungkupi tubuhnya. Kedua mata merahnya terus saja menatap langit-langit kamar Yugi yang bernuansa biru itu. Pria itupun mulai menatap ke arah clientnya yang saat ini berada diatas ranjang, berbalik membelakanginya. Ia bisa merasakan ketidaktenangan pria bertubuh mungil itu. Masih banyak sekali pertanyaan yang ada dibenaknya tentang, bagaimana bisa Yugi mendapatkan kemampuan itu? darimana asal requiem yang tiba-tiba muncul dibenak pria mungil itu? Dan... mengapa requiem itu bisa membawa dampak kematian di kota Domino? Apa alasannya? Dan mengapa harus Yugi yang mendapatkan kemampuan aneh itu? Memang, Yami sudah mulai sedikit menemukan korelasi mengapa banyak sekali orang yang mengincar Yugi diluar sana. Namun, akan tetapi, disaat yang sama, misteri ini semakin dan semakin bertambah rumit dan membingungkan. Ia sungguh tak tahu, apakah ia bisa memecahkan seluruh misteri ini?
Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
"A-anda belum tidur, Atem-san? A-apa ada sesuatu?" pernyataan itu membuyarkan lamunan Yami. Dalam sekejap, pria berparas malaikat bermata ametis itu kini telah menatapnya dari atas. Sebuah senyuman ringan terlayang padanya.
"Ah, anda sendiri juga belum tidur, Yugi-san?" Yugi hanya terkekeh kecil mendengar itu. Ia pun lekas menatap langit kamarnya.
"Aku selalu kesulitan untuk tertidur di malam hari, Atem-san. Karena terkadang, aku selalu bermimpi buruk mengenai requiem." nada sedih jelas terpancar dari pernyataan itu. Yami pun menatap ke arah pria kembarannya itu dengan pandangan simpati.
"Anda terlihat begitu tertekan sekali, Yugi-san. Saat anda terlihat menahan sakit ketika tengah menyeberang jalan waktu itu, apakah saat itu, anda mendengar... requiem?"
"Ya. Saat itu, secara tiba-tiba aku mendengarkan requiem. Setiap kali aku mendengarnya, aku selalu merasakan sakit. Alunannya, sajak dan bait liriknya, semuanya terasa menyakitkan sekali. Jiwaku seakan remuk saat mendengarnya. Aku bisa merasakan rasa keputusasaan yang begitu mendalam. Terlalu menyakitkan. Aku tak sanggup lagi menampung semua itu." Yugi memejamkan kedua matanya. Helaan napas telah ia lakukan untuk sesaat. Telapak tangan kanannya telah tersanggah dengan begitu lemah di atas dahinya. Ia pun melanjutkan penjelasannya.
"Aku bahkan tak tahu, mengapa aku bisa tiba-tiba dapat mendengar requiem di benakku sendiri. Pertama kalinya aku mendengar requiem itu, adalah setahun yang lalu saat aku selesai mengikuti sebuah kontes pianis dalam kota. Aku sungguh tak tahu, mengapa aku bisa mendengarnya, menyanyikannya dan bahkan memainkan nada-nadanya dalam sebuah alat musik. Aku sungguh tak mengerti. Requiem itu seakan menjadi bagian dari diriku..." kedua alis Yami bertaut mendengar itu. Kini semakin banyak saja pertanyaan yang berkumpul di benaknya.
"Jadi, anda sama sekali tak tahu alasan mengapa requiem itu tiba-tiba muncul di benak anda?"
Yugi menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu dan tak pernah bisa mengerti semua ini. Dan tak ada yang bisa mengerti alasan mengapa aku bisa memiliki kemampuan ini. Bahkan, Jii-chan saja shock saat tahu bahwa aku tiba-tiba bisa memiliki kemampuan ini. Aku sungguh tak ingin mendengar requiem aneh itu lagi. Tapi tetap saja requiem itu selalu menggema di hatiku. Aku selalu berpikir, apa salahku sampai-sampai semua hal buruk ini menimpaku? Aku harap, fenomena kematian di kota Domino segera berakhir meskipun hal itu terlalu utopis."
Yami pun dapat melihatnya. Yugi benar-benar tulus dengan ucapannya. Ia pun memahami perasaan Yugi. Karena sebagai kepala pimpinan kepolisian Domino, Ia juga memiliki tanggung jawab yang besar atas keselamatan dan keamanan para penduduk di kotanya itu. Dan walaupun ia bukanlah sumber dari seluruh fenomena ini, tetap saja ada rasa bersalah dalam diri Yami karena tak mampu mengemban tanggung jawabnya dengan baik.
Ia mengerti sakitnya menjadi orang yang memiliki cobaan rumit.
Karena ia hidup dalam sakitnya cobaan itu.
"Anda tak akan melewati semua ini sendirian lagi, Yugi-san..."
"Huh... ?" Yugi tak mengerti ucapan Yami. Ditatapnya sang agen yang saat ini membalikkan tubuhnya membelakangi Yugi. Dalam heningnya suasana itu, Yami melirihkan sesuatu.
"Saya akan selalu bersama anda dan... melindungi anda."
Yugi terdiam mendengar itu. Ia baru saja ingat akan peranan Yami disini. Agen itu akan menjaga dan melindunginya mulai sekarang. Yugi memang tak memiliki gambaran akan apa ujian yang menghadang laju hidupnya nanti. Namun, ia hanya bisa berharap...
Yami dapat melindunginya sampai akhir.
"Terima kasih, Atem-san. Sekali lagi, terima kasih..." bisiknya lirih seraya memejamkan kedua ametisnya untuk menyongsong dimensi mimpi. Dan Yami hanya terdiam dengan hal itu. Ia memang sudah bertekad dari awal. Bahwa ia pasti akan mengungkap misteri ini dan melindungi pria mungil itu. Ia sudah bertekad kuat dan tak akan mengingkari ikrarnya.
Tak akan pernah.
XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX
Pagi itu, kerumunan mahasiswa saling berbisik penuh tanya. Seorang mahasiswa pindahan baru telah berada dalam kelas Yugi. Ia duduk di bangku paling belakang. Kedua mata merahnya hanya tertuju pada Yugi. Sontak, realitas baru ini banyak menuai pertanyaan. Tak ada yang tahu bahwa mahasiswa baru itu adalah kepala pimpinan agen kepolisian nomor satu di Domino. Tak ada yang tahu hal itu. Yami selalu pandai menyembunyikan identitasnya. Tak terkecuali saat ini. Ia hanya memakai sebuah pakaian simple dan cukup sopan untuk dikenakan dalam lingkungan mahasiswa. Dan entah mengapa, banyak sekali mahasiswi yang mengerumuni dirinya saat ini. Banyak yang tertarik pada ketampanan yang dimiliki agen itu. Apalagi dengan sikap misterius dan pendiam yang menjadi sebuah persona yang ada dalam diri Yami. Jangan heran jika banyak sekali mahasiswa yang menggila dan ingin kenal lebih dekat dengan pria bermata crimson itu.
"Jadi dia bodyguard barumu, Yug? Aku tak menyangka bahwa orang berjabatan tinggi seperti dia, ternyata bersedia untuk menjadi pengawal pribadimu." Jou terlihat memperhatikan Yami dari kejahuan. Rasa heran masihlah hinggap dalam diri pria berambut pirang itu. Yugi menghela napasnya sejenak. Ia menyangga pipinya dengan telapak tangannya seraya berkata dengan cukup pasrah.
"Aku juga tidak tahu, Jou. Aku bahkan tak tahu bahwa Jii-chan berencana menyewa seorang agen untuk menjagaku. Lagipula, Atem-san mau mengawalku itu juga berkat campur tangan dari Seto-kun. Karena walau bagaimanapun juga, mereka berdua adalah sepupu."
"Hah? Jadi si jamur itu memiliki relasi keluarga dengan Yami Atem?" Jou terbelalak, tak percaya. Yugi hanya terkekeh perlahan melihat respon sahabat baiknya itu.
"Aku juga tak menyangka, Jou. Sama sekali tidak menyangka."
Jou menggelengkan kepalanya. "Cih! Si sombong itu ternyata bermanfaat juga. Kuakui tindakannya kali ini sangat menguntungkanmu, Yug. Asalkan ia lakukan ini demi keselamatanmu sih, aku tak keberatan." dengus Jou. Yugi mulai menatap kawannya itu dengan rasa kurositas tinggi.
"Kenapa kau terlihat begitu benci pada Seto-kun, Jou? Ayolah, masa semenjak kejadian itu, kau masih sakit hati hingga sekarang?" lagi-lagi Yugi tertawa kecil. Jou mulai cemberut melihat itu.
"Kejadian itu adalah kejadian paling memalukan dalam hidupku, Yugi! Aku sudah mengerti sekarang. Semenjak dia memanggilku anjing kampung ataupun mutt, aku sudah tahu bahwa dia akan menjadi musuhku suatu hari nanti." ketus Jou. Yugi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Err... apa kau tak sedikit berlebihan, Jou?"
"Tak ada yang berlebihan, Yug! Penasehat kakekmu itu benar-benar orang yang tidak sopan! Masih ingat saat pertama kali kami bertemu? Saat itu aku menemanimu menunggu jemputan? Dia tiba-tiba datang menghampiriku seraya memasang ekspresi jijik padaku dan lalu... mengataiku dengan sebutan 'anjing'? Orang macam apa yang mau dikatai anjing oleh seseorang, Yug? Hanya orang gila yang mau dikatai sebagai binatang!"
"Uhh... Jou-"
"Dan apa kau masih ingat kebiadabannya yang lain? Saat ada pesta dansa di kampus kita? Saat aku hendak mengantar Mai pulang, tiba-tiba si jamur keparat itu datang dan berkata 'Seleramu ternyata sampah, mutt.' Dan bayangkan saja perasaan Mai, Yug! Esoknya, ia pun meminta putus denganku! Kini aku masih bersusah payah untuk mengejar Mai, tapi sia-sia saja! Dia sudah bersama orang lain. Dasar si jamur itu! Ia menghancurkan hidupku!" Jou menggeram jengkel. Entah mengapa, sweat Yugi drop mendengar hal itu.
"Umm... Aku mengerti perasaanmu, Jou. Tapi menurutku, Seto-kun bukanlah orang yang jahat. Jika kau mengenal dia dengan baik, kau akan melihat sisi yang berbeda darinya." Jou melotot mendengar itu. Ia pun mendekat ke arah Yugi seraya melayangkan ekspresi horor.
"Sisi yang berbeda? Dia tak akan pernah menampakkan sisi itu dihadapanku. Ia hanya akan bersikap lembut pada Sugoroku-san dan dirimu saja, Yugi. Selebihnya, pelampiasan stressnya pasti dilimpahkan padaku. Dasar, orang stress..." maki Jou kesal. Yugi hanya dapat menepuk bahu kawannya itu untuk menenangkannya. Setelah dirasa cukup tenang, Jou menghela napasnya. Yugi mulai tersenyum melihat kawannya itu.
"Kau mengingatkan kondisiku saat mendengar requiem, Jou. Benar-benar penuh emosional." Jou tertawa kecil.
"Ahaha... Tapi keadaanmu benar-benar membuatku khawatir, Yug. Ngomong-ngomong, saat ini kau masih belum mendengarnya, kan?" tanya Jou skeptis. Yugi menggelengkan kepala.
"Saat ini aku belum mendengarnya, Jou. Aku harap, hari ini aku tak mendengar requiem itu sama sekali." Yugi mulai tertunduk. jou mulai menatap sedih.
"Iya, semoga saja, Yug."
"Yugi-san?"
Suara bariton itu membuat Jou dan Yugi menatap ke arah seseorang yang menghampiri mereka. Terlihatlah Yami yang menatap Yugi dengan cukup intens. Yugi sedikit gugup dengan perlakuan pengawal pribadinya itu. Semenjak pertama kali ia bertemu dengan Yami, sang agen itu selalu memperhatikan dirinya dengan begitu lekat. Entah apa yang dipikirkan Yami, Yugi tak pernah tahu akan hal itu.
"I-iya, ada apa, Atem-san?"
"Anda tidak apa-apa? Apa anda butuh sesuatu?" Yami bertanya dengan cukup formal. Clientnya itu terlihat menggelengkan kepalanya.
"Aku baik-baik saja, Atem-san. Kau tak perlu bersikap formal padaku. Walau kau hanya pengawalku, tapi kau sudah seperti sahabatku. Panggil saja aku Yugi." Yugi bersikap ramah. Setelah terdiam sejenak untuk menimbang-nimbang, Yami pun membuka suara.
"Baiklah, jika begitu, kau juga harus memanggilku... Yami. Aku tak ingin kau juga bersikap formal padaku sedangkan aku tidak." nada bicara Yami mulai berbeda. Yugi sudah tak merasakan rasa formal sebagai pengawal yang ada dalam diri Yami. Ia pun mulai tersenyum. Dengan ini, mungkin ia bisa mengurangi rasa canggung yang ada diantara mereka.
"Baiklah... Yami. Cukup adil bagiku. Oh ya, perkenalkan ini Jounouchi, teman baikku. Jou, perkenalkan ini Yami Atem." Yugi mulai memperkenalkan Jou pada Yami. Kedua pria itu mulai menyapa dan berjabat tangan satu sama lain.
"Halo salam kenal, aku Jou!"
"Salam kenal juga. Panggil saja aku Yami. Senang bisa berkenalan denganmu." mereka pun menghentikan jabat tangan masing-masing. Yami lalu kembali menatap ke arah Yugi.
"Uhh... Yugi, Apa kau masih belum mendengarnya?" raut khawatir mulai terlihat diparas Yami. Dahi Jou berkerut mendengar itu. Dan Yugi mulai menggelengkan kepalanya.
"Tenang saja. Untuk saat ini, aku belum mendengarnya sama sekali."
"Syukurlah jika begitu." Yami bernapas lega. Tak lama, sebuah getaran telah dirasakan Yami dari sebuah ponsel miliknya yang ada di dalam saku celananya itu. Ia pun mulai mengeluarkan ponselnya dan melihat nama pemanggil yang tertera pada layar ponselnya.
'Otogi?'
"Ada apa, Yami?" kedua alis Yugi bertaut heran. Pengawalnya itu pada akhirnya membuka suara.
"Maaf, aku pergi sebentar untuk menjawab panggilan ini. Aku tak akan lama, Yugi."
"Uhh... Baiklah." Yugi hanya dapat menganggukkan kepala. Yami tersenyum singkat pada Yugi sebelum pada akhirnya ia berlalu keluar dari kelas. Raut heran masih terlihat di paras Jou.
"Dia tahu soal kemampuanmu, Yug?"
"Ya. Dia tahu semuanya Jou. Tentang kemampuanku yang berkaitan erat dengan fenomena yang ada di kota kita." jelas Yugi. Jou menatap serius kearah Yugi.
"Apa dia sungguh-sungguh bisa dipercaya, Yug?" Jou benar-benar skeptis. Yang ia tahu, hanya beberapa orang kepercayaan Yugi saja yang mengetahui rahasia ini. Ia sungguh terkejut karena orang baru macam Yami pada akhirnya diberitahu mengenai rahasia Yugi. Kawannya itu hanya dapat menghela napasnya dengan singkat. Ia pun menatap Jou dengan pandangan statis.
"Semoga saja, Jou..."
XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX -
Yami mulai berjalan di dekat lorong. Disandarkanlah tubuhnya pada dinding lorong. Ia kembali mengeluarkan ponselnya dan menekan tombol penerima panggilan sebelum pada akhirnya, ia mendekatkan ponsel itu di telinganya.
"Ada apa, Otogi?"
"Kepala pimpinan, saya hanya ingin melaporkan bahwa personil kita sudah mampu mengatasi beberapa kekacauan yang terjadi di beberapa sektor bagian kota. Sekarang, keadaan sudah cukup aman dan terkendali." Otogi mengatakan dengan cukup yakin. Yami terlihat mengangguk tanda mengerti.
"Apa masih belum ada tanda-tanda meningkatnya angka kematian?"
"Untuk saat ini, masih belum ada. Sirkulasi aktifitas penduduk berjalan dengan normal."
Yami sempat bernapas lega mendengar hal itu. Jika memang teori kemampuan Yugi dengan korelasi fenomena di Domino memang sangat berkaitan erat, maka ia bisa mempersiapkan segala sesuatunya melalui peringatan Yugi. Kepala pimpinan agen itu sudah memikirkan sebuah rencana yang cukup matang.
Hanya tinggal menunggu saatnya tiba saja.
Sebuah masa yang cukup tepat.
"Baiklah, segera laporkan padaku setiap perkembangannya."
"Baik!"
Dengan itu, panggilan pun berakhir. Yami memasukkan ponselnya dan mulai berjalan menuju ke dalam kelas. Rasa tenang melebur kedalam hatinya. Setidaknya, ia tahu tanda-tandanya jika fenomena itu terjadi lagi. Kemampuan yang dimiliki oleh clientnya itu, ternyata bisa menguntungkannya. Namun sayangnya, disaat ia menyangka bahwa saat ini adalah masa-masa damai. Disaat ia menyangka ini adalah masa dimana ia dapat bernapas lega, bersantai sejenak atas bekunya fenomena itu. Tapi ternyata...
Spekulasinya salah.
Keadaan berubah. Dengan cepat, seluruh kedamaian dan ketenangan itu musnah. Raib secara mutlak tak berbekas. Ini buruk. Sebuah interupsi tak terduga pun datang bagai siluet hembusan angin. Interupsi itu mampu mengevolusikan keadaan di masa itu. Bersikap tenang menjadi sia-sia. Bernapas lega menjadi tak berguna. Mengucap syukur sungguh tak ada artinya. Seluruh ungkapan kegembiraan itu berganti menjadi distopia.
Cobaan kembali datang.
Semua diluar perhitungan.
"Ayo cepat, kita keluar dari sini! Lari!"
Secara mendadak, kedua mata merah Yami mulai menatap beberapa mahasiswa yang berlarian dan mulai berteriak histeris keluar gedung universitas. Kedua alis Yami mulai bertaut heran dengan realitas itu. Ada yang tak beres disini.
"Hei, kau! Sebenarnya ada apa ini? Kenapa banyak anak yang berlarian keluar dan beberapa ada yang menjerit histeris?" Yami mulai bertanya pada salah seorang Mahasiswa. Mahasiswa itu menjawab pertanyaan Yami dengan begitu serius.
"Di luar, mendadak telah terjadi kecelakaan. Beberapa mobil tiba-tiba seakan hilang kendali dan menabrak satu sama lain. La-lalu untuk para mahasiswa yang berteriak histeris, me-mereka tiba-tiba merasakan sakit di tubuh mereka. A-aku tak tahu dengan apa yang terjadi sekarang. Ya-yang jelas, a-aku hanya ingin pergi dari sini!"
"He-hei, tunggu!" Yami tak sempat bertanya lebih lanjut. Mahasiswa itu sudah berlari ketakutan meninggalkannya. Yami memiliki firasat buruk. Ia pun lekas menghubungi Otogi melalui ponselnya.
"Ha-halo? Otogi? Jawab aku, O-Otogi! Halo!" Yami berusaha mempertahankan koneksinya agar tetap tersambung. Suara ribut terus saja terdengar dari saluran Otogi. Yami pun panik mendengar itu dan pada akhirnya, terdengar juga suara Otogi.
"Ke-kepala pimpinan! Se-sesuatu yang tidak terduga telah terjadi! Saat ini, mendadak banyak kecelakaan dimana-mana! Beberapa sektor kota kembali kacau. Sa-saya berusaha menurunkan personil untuk terjun ke lapangan!"
"A-Apa! ? Tu-tunggu, Otogi! Halo! Otogi!" saluran pun terputus secara mendadak. Yami sungguh terkesiap dengan semua ini. Fenomena janggal ini terjadi secara tiba-tiba, Dan ia pun menjadi pucat dan panik. Ditengah-tengah kacaunya kinerja pemikiran miliknya, ia pun mulai teringat akan sesuatu. Sumber inti dari fenomena ini. Inti penting yang menjadi alegori dari fenomena ini.
Seseorang yang menjadi subtansi dasar ditengah-tengah realitas mengerikan ini.
"Yu-Yugi..."
Tanpa buang-buang waktu, Yami berlari secepat yang ia bisa dengan target bernama ruang kelas. Ia harus melawan arus beberapa mahasiswa yang berlarian dengan arah yang berlawanan dengannya. Rasa cemas kembali menenggelamkan Yami. Dengan cepat, Ia menerobos kerumunan sesak itu dan langsung masuk ke dalam kelas.
"YUGI!" Ia menjerit panik. Ditatapnya sang pria mungil yang harus ia lindungi itu. Namun terlambat. Disana sudah terlihat Jou yang terus menatap Yugi dengan pandangan sedih. Pria berambut pirang itu terlihat pasrah dan hanya menatap miris kearah kawan mungilnya itu. Disaat keadaan kelas mulai kosong tak berpenghuni, Jou tetap setia menemani Yugi disampingnya. Dari pemandangan itu, sudah terlihat jelas bahwa Jou sangat loyal terhadap Yugi. Ia tak akan meninggalkan kawannya itu walau apapun yang terjadi.
Lain halnya dengan Yami. Ia tak menyangka bahwa ia akan melihat kejadian ini dengan mata kepalanya sendiri. Sebuah puncak skenario yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Puncak dari seluruh kebimbangannya. Kebenaran ada didepan mata. Dengan wajah shock, Ia pun mulai berjalan mendekati pria berparas malaikat yang sedang terduduk di bangkunya itu. Ia hanya bisa terbelalak dan menganga. Yugi terus saja menatap ke depan dengan tatapan kosong. Bibir mungilnya itu mulai terbuka, mengalunkan sesuatu. Ditengah dimensi keheningan itu, Ia pun kembali bernyanyi dengan lirihnya. Bernyanyi dengan segenap rasa putus asa dan kesedihan jiwanya.
Menyanyikan... requiem baru.
"Kyrie, eleison. Christe eleison. Kyrie, eleison..."
To Be Continued
XXX - XXX - XXX - XXX - XXX - XXX
M/N : Yeah! Satu lagi sampah dari saya sebelum hiatus! XD *Plak* Wah, maaf banget jika chapter ini gaje poll. Sumpah, pikiranku ruwet kepikiran kerjaan. hehehe... mungkin setelah ini, saya akan hiatus lagi. Semoga saja saya bisa update di sela-sela kesibukan saya. ^^
Oh ya, requiem di chapter ini adalah requiem Mozart part 2 judulnya Kyrie. kalau ingin tahu artinya, tunggu di kedepannya nanti. atau jika tak sabaran, silahkan search saja di google. haha! :D *Plak*
Light-Sapphire-Chan : Hahaha! Sebenarnya si Kaiba juga udah lumayan stress kayaknya! XD *Plak* Hahaha, bener~ Tapi kayaknya suaranya Yami lebih serem ketimbang requiem O_o' *Digergaji Yami* Genre sebelumnya emang drama tapi setelah kupikir-pikir lagi, ternyata supernatural sangat menonjol disini. Arigato reviewnya, Light-chan! XD
101 hiru yorunita : Diksiku luwes? Makasih~ Aku juga lagi belajar nih biar diksiku bisa lentur elastis kayak pesenam akrobatik gitu~ X3 *plak* Sumber requiem masih menjadi mr. ius! XD Bahkan semuanya diisi oleh pak ius(?) deh. wakakakak! Iya, pengennya sih gak hiatus, tapi kerjaan udah teriak-teriak gaje dikupingku. Moga aja aku bisa apdet disela-sela kesibukanku. Arigato reviewnya hiru-chan! ^^
KitsuNeko : ah, maaf salah asumsi! Habisnya pertanyaannya kurang spesifik. hehehe... XD *Plak* arti terjemahan dari requiem sebelum akan kutunjukin di kedepannya nanti. Tapi kalo gak sabaran, silahkan aja search di google. eheheh! ^^ Makasih banyak reviewnya Kitsu + Neko-san! ^o^
Devil Heaven : Ahaha! Sorry aku salah tangkep. Terjemahan requiem yugi bakal kujelasin di kedepannya nanti. ^^ ahahaha! scene kemarin emang so sweet. Tapi benih cinta masih belum tumbuh. wakakakaka! *Plak* Semoga chapter ini bisa menghibur! Arigato reviewnya, Evil-san! Merdeka! XD
Chizu drarryo : Wah, aku juga waktu itu kena flu. sumpah, flu laknat gak enak parah... =_= Ahahah, kelebihan Yugi emang keren! Aku juga pengen tuh bisa denger requiem gitu secara aku suka banget dengerin requiem xD *gak ada yang nanya* Jou udah kenal kok sama Kaiba. bahkan terlalu kenal kayaknya XD *plak* serem banget tuh kalo kematian massal terjadi di dunia nyata. Arigato reviewnya, Chizu-chan! ^^
Rizu auxe09 : Indah-san! welcome to my trash!(?) XD *peluk-peluk gaje* ehehe, makasih pujiannya. Tiada hari tanpa angst buatku. muahahahaha! xDDD *plak* yang requiem di chapter sebelumnya, tuh lirik requiem Mozart part intro awal judulnya Requiem Aeternam. ntar bakal kuungkap semuanya di kedepannya nanti. Arigato review dan favenya! XD
Arsy yugi : Iya, gpp telat, yang penting review. heheh! XD *plak* Yami akhirnya jadi pengawalnya Yugi. ahahaha! aku emang hobi banget nyiksa mentalnya Yugi! XD *plak* Moga chapter ini tidak menjadi sampah dan bisa menghibur. arigato reviewnya, Arsy-san! XD
ArchXora : Ahahaha! Iya nih, mendadak, aku pengen buat puzzle dengan tema majikan-pengawal gitu. Kan di housemate, tema anak punk-mahasiswa teladan udah pernah. hehehe...XD *plak* wow, orang ketiga? hmm...kita lihat aja kedepannya nanti. Arigato reviewnya, Xora-chan! XD
Starlight Core : ahaha! Makasih pujiannya. Yup! Kekuatan Yugi muncul saat konser piano. Kematian massal emang serem. aku jadi inget film evangelion di bagian akhir yang mendadak semua manusia dibumi meletus jadi sebuah fluid. Arigato reviewnya! ^^
De-chan Aishiro : hah? Berat? Berat berapa ton, De? O.O *plak* arti dari penggalan requiem Yugi akan kutunjukkan di kedepannya nanti~ Makasih banyak buat reviewnya, De! ^o^
Yuuri Uchiha Namikaze : Ehehehe...untuk masalah Yugi diincar? alasannya udah jelas kan? ehehehe dan alasan kenapa Yugi bisa denger requiem, masihlah menjadi misteri. muahahahaha! XD *plak* Yeah! Yami merokok! Sekali-kali aku buat dia kayak gitu. Iseng aja sih sebenarnya. hahaha! *gaje* Oke, arigato reviewnya, ya! XD
Reddish Dragonoid : Ahahaha, Kuzu takut ama supranatural ya? :) padahal keren lho supranatural *plak* ahahaha! Requiem itu semacam doanya orang mati. mirip-mirip yasin gitu~ xD *Plak* Jou udah kenal kok ama Seto. di chapter ini udah kujelasin gimana cara mereka tahu satu sama lain. Yosh, makasih banyak reviewnya, Kuzu! ^^
Hera Zionism Breakers : Makasih! Moga aku bisa updet cepet lagi~ ^^
Y x Y : Iya, rencananya sih, semua requiem Mozart akan kucantumi disini. Ikuti terus ya! Arigato reviewnya! ^^
Chika Ai-chan : Akankah misteri yugi akan terungkap? saksikan di chapter selanjutnya XD *nada iklan* Arigato reviewnya~ ^o^
Metraton : Hahahaha! jawaban dari pertanyaan anda adalah inti penting dari plot fic ini. nantikan saja kejutannya. Arigato reviewnya! ^^
Devil xXx : Ehehehe... Kalo yang jadi pelindung Yugi si Ryou, ntar jadi heartshipping donk? XD *plak* Yo'i! Puzzle tuh beragam! Aku senang melakukan percobaan beda-beda profesi pada puzzle~ Arigato reviewnya! ^^
Ka Hime istrinya Itachi(?) : Wow? jadi photografer apa, Ka? O.o' Yugi indigonya bukan dari lahir kok. Ada alasan terselubung kenapa hanya dia yang bisa denger requiem itu. fuhuhuhu~ *tawa mistis* para polisi bantu para korban kecelakaaan, mengevakuasi korban pembunuhan dan mengatur sarana keselamatan masyarakat, jadinya super sibuk! ^^ Yami sok actions! Sengaja nyelametin yugi pas jaraknya udah deket banget ama Yugi *ngaco dot com* Arigati reviewnya, Ka~ ^o^
are. key. take. tour : IkerxVilla? Dunia fujoshi bola emang menjamur banget di twitter. haha! Iya, Waktu Yugi kontes itu, sebenarnya udah ada temanya. temanya musik klasik irama gembira gitu tapi pada akhirnya, yugi mendadak mainin requiemnya Mozart. Wah, aku dari dulu pengen banget sekolah di sekolah musik. Untuk Jeer mungkin cuman slight dan itu masih lama. Moga aja bisa mengalir di alur plotnya nanti. arigato reviewnya, Ta! ^^
Nouver Jeevas : Muahahahaha! Hidup brutaaaal! XDDD *plak* hmm...pair utamanya ada puzzle, slight puppy dan ada slight jeer di kedepannya nanti (masih rencana). ah, waktu itu ficmu bagus banget lho! Apalagi waktu POVnya yugi dan Jou! Bener-bener penuh penjiwaan! Ayo buat fic lagi! arigato reviewnya~ ^^
Sweet lolipop : Makasih pujiannya. dan Arigato reviewnya, Loli-chan! ^^
Wokeh, saya pamit dulu. Sampai jumpa di chapter depan. Jangan lupa please review ya! Arigato! ^^
