Huaahh.. Siang ini Ginger ada UTS, tapi Ginger sempet sempetin update Minzy-Kai ini. Entah kenapa, saya semakin gila akan duo Dancing Sexy Magnae ini. HAHAHAHA, kalo ada yang minat, silahkan dibaca!

.

.

Cast : Kai, Luhan, Chanyeol, Lay, Suho (EXO)

Support Cast : CL & Minzy (2NE1), YG traineer Master Hwang, Manajer EXO Lee.

Genre : Romance, Comedy, Drama,

Disclaimer : Tuhan. Tuhan. Semuanya punya Tuhan. Saya cuma pinjem.


that continue to be..

Ini sudah hampir 20 menit ia habiskan untuk menaiki bukit yang lumayan menanjak. Nafas Kai hampir habis tapi ia tidak akan menyerah, 10 menit cukup untuk turun dan berlari menuju lapangan dan menghabiskan energinya.

"Ayolah.. Ayolah.. Kau harus kuat, Kai."

Bruk!

Tubuh Kai sepertinya tidak bisa diajak kompromi. Ia tersungkur jatuh ditanah gara-gara tersandung akar pohon kecil yang harusnya tidak membuatnya tersungkur dan terseret beberapa senti. Mungkin ia terlalu lelah.

Kai duduk dan membersihkan pasir yang menempel di baju trainingnya, nafasnya tersengal sengal. Ia butuh air. Tenggorokannya kering minta diisi air meskipun sedari tadi Kai menelan ludahnya sendiri.

"Igo." ujar seseorang menyodorkan sebotol air mineral pada Kai, tanpa pikir panjang dengan mendesiskan 'gomawo' ia mengambil botol itu. Pikirnya, orang yang memberikan botol itu adalah Manajer Lee.

Tapi, ketika Kai mendongak.

"S-Suho hyung?"

.

.

.

"Whoaa.. Suho hyung datang ke YG building?" kata Chanyeol memandang Suho yang dengan tenang meminum air dari gelasnya.

"Aku tidak punya pilihan," ujar Suho mengelap bibir dengan jemarinya, "..Kai dan manajer hyung tidak mau jujur padaku. Jadi.. Yah..," Suho mengangkat pundaknya tidak bersalah.

Tampaknya, Kai belum bisa menerima alasan itu. Buktinya, ia masih menunduk memakan ramennya dalam diam. Kalau sudah begitu, itu artinya Kai masih kesal atas perlakukan Suho.

"Hei.. Hei.. Jangan kesal begitu, Kai." kata Lay yang menatap Kai dengan tatapan bersalah meskipun bukan dia yang membuat Kai seperti itu, ".. bagaimana kalau kau lanjutkan ceritanya?"

"Tidak, sebelum Suho hyung memberitahu alasan yang lebih daripada karena aku tidak mau jujur padanya." kata Kai kesal menatap Suho yang tersenyum seperti malaikat pada dongsaengnya tersebut. Ia tertawa pelan.

"Tentu aku khawatir padamu, Kai." kata Suho meminum airnya lagi, lalu menaruhnya di rak cuci piring. "Lebih baik kau lanjutkan ceritamu, aku mau istirahat."

Dan Suho melangkah pergi diikuti pandangan bertanya dari Chanyeol, Lay dan Luhan. Tapi tidak dengan Kai, pertama tama pandangannya memang kesal, lalu berubah menjadi berpikir dan... tersenyum.

"Kai? Kai? Halooo? Kau tidak berubah pikiran dengan menyukai Suho hyung kan?" tanya Luhan penasaran. Kai sadar dari melamunnya dan menggelengkan kepalanya.

"A-aku akan melanjutkan ceritaku.."

.

.

.

"Kau kelihatan lelah sekali, Kai?" kata Suho yang memakai jaket biru adidas dan celana olahraga bewarna senada. Tak lupa topi hitam menutupi wajahnya. Ia duduk bertumpu satu lutut di depan Kai.

Jelas jantung Kai berdegup kencang. Bagaimana bisa hyung sekaligus leadernya ini tahu keberadaan Kai sekarang? Apa manajer Lee tidak sengaja memberi tahu Suho? Ah.. Tapi, kok rasanya tidak mungkin sekali apalagi dengan manajer Lee yakin untuk membantu Kai sampai disini, tidak mungkinlah kalau manajer Lee berbuat hal seperti itu. Chanyeol hyung juga sepertinya tidak mungkin, pasalnya Kai tidak cerita soal tes kesehatan ini padanya sebelum sebelum ini.

Yang jelas, apa yang dilakukan Suho disini sekarang?

"A-apa yang kau lakukan disini, h-hyung?" tanya Kai gugup. Matanya memandang mata Suho yang memandangnya lembut tapi penuh dengan tuntutan.

"Harusnya aku yang bertanya untuk apa kau dan manajer Lee pergi pagi pagi sekali ke YG building dan aku menemukanmu berlari turun bukit?" tanya Suho. Ia tak ingin membuat dongsaengnya merasa terinterogasi, ia hanya ingin Kai jujur padanya meskipun kejujuran itu akan membuat Suho merasa terbebani.

"T-tidak.. A-aku hanya.. Berlari."

"Untuk apa? Gong Minzy?"

Deg.

Jantung Kai serasa berhenti berdetak meskipun aliran darahnya mengalir deras ke kakinya menandakan bahwa ia siap untuk melarikan diri dari sana. Nafas Kai mulai berjalan teratur, ia menatap tanah yang menjadi alasnya untuk duduk. Pikirannya mulai tidak karuan. Suho pasti akan memintanya untuk berhenti dan pulang ke dorm dan..

Dan dia harus merelakan Minzy.

"Lalu sekarang hyung mau apa? Apa yang akan hyung lakukan padaku?" tanyanya, kepalanya masih menunduk. Suho tersenyum tipis dan berdiri, memasukkan tangannya ke saku jaket.

"Sebagai leader, aku mau kau untuk pulang ke dorm dan menghentikan ini semua."

Benar.

Kai lalu berdiri, badannya gemetar. Sudah berapa menit ia habiskan untuk bicara dengan Suho hyung? Ia tidak punya waktu yang banyak. Mungkin benar ia membutuhkan 2 sampai 3 menit untuk turun ke lapangan. Tapi, dengan Suho ada disini? Tidak mungkin. Suho tidak akan membiarkannya.

"Kau tahu konsekuensinya, Kai. Kita terikat kontrak. Kau tidak boleh disini. Apa jadinya kalau orang orang di SM Entertainment mengetahui ini?" kata Suho, "mimpi yang sudah kau bangun dari awal. Akan hancur begitu saja. Dan demi apa? Seorang gadis?"

"CUKUP, HYUNG! AKU SUDAH TAHU! AKU SUDAH TAHU ITU SEMUA!"

Suho tersentak. Ini pertama kalinya Kai berteriak padanya. Biasanya kalau dia tidak ingin melakukan sesuatu, ia pasti bergumam dan menjauh darinya. Tidak, Kai tidak pernah berteriak padanya.

Saat Kai menengadahkan wajahnya menatap Suho, Suho tahu sesuatu dari kedua mata Kai.

Sesuatu yang tidak akan Kai lepaskan..

"Lalu kenapa kau tetap disini? Kai, perasaanmu itu mungkin hanya perasaan sebatas mengagumi_"

"T-tidak, hyung. K-kau tidak berada di posisiku. K-kau t-tidak boleh berkata begitu." kata Kai, nafasnya naik turun lagi. Bukan karena kelelahan seperti tadi, tapi lebih kepada emosinya yang tidak stabil sekarang.

Minzy dan mimpinya.

Ia sudah membangun mimpinya dari kecil, menempuh segala aturan berat yang sukses ia lewati juga bukan hal yang mudah. Ini mimpi terbesar yang bisa membuat dada Kai meledak karena obsesinya. Tapi..

Tapi Minzy juga bukan hal yang mudah untuknya. Ini masalah hatinya. Belum pernah ia segila ini, belum pernah Kai dengan mudahnya jatuh cinta dan tidak berpaling ke lain hati.

Belum pernah segila ini ia menempuh jalan untuk seorang gadis.

"Aku sudah sampai disini..," ucap Kai penuh ketegasan, "..Aku tidak mau berjalan mundur dan memutuskannya, hyung.. Tidak. Aku tidak mau. Sirrheo!" teriaknya. Membuat beberapa binatang bersayap kabur dari ketenangannya diantara rimbunan pohon.

"Katakan alsannya padaku, Kim Jongin." kata Suho, "katakan alasannya padaku hingga kau begini."

Aku menyukainya. Aku menyukai Gong Minzy. Aku sangat menyukainya. Dia seperti candu untukku. Aku tidak bisa berpaling ketika melihat video musiknya di layar Ipad atau laptop. Aku...

"Kim Jongin. Jawab aku." Suho berkata datar dan dingin.

Tapi bibir Kai tidak bergerak. Disisi lain, ia membenarkan semua alasan yang ia lontarkan hanyalah perasaannya belaka. Suho akan berkata bahwa ia akan melupakan perasaan itu. Suho akan berkata bahwa itu hanyalan perasaan sesaat yang..

"Aku menyukainya, hyung. Aku. Menyukainya."

Kai tidak peduli. Entah Suho mengatakan bahwa perasaan itu hanya perasaan sesaat atau apalah, Kai tidak peduli. Ia menyukai Gong Minzy dan hanya ingin membuat Gong Minzy bersanding di sebelahnya. Menggenggam tangannya dan kalau bisa melindunginya sekalian.

Kai tidak peduli kata orang apapun itu.

"Itu tidak cukup untukku, Kai. Kau harus merelakan sesuatu kalau kau ingin meraih mimpimu 'kan?" kata Suho.

Kai menggeleng lagi.

"Aku sudah merelakan apapun, hyung. Tapi aku tak mau merelakan yang ini."

.

.

.

.

.

"A-ah.. Kai.. Aku tidak tahu bahwa Suho akan bersikap sulit begitu padamu." kata Luhan dengan nada meminta maaf. Ia tidak tahu bahwa leader K akan sekeras itu padanya.

"Tidak apa ge. Itu bukan salahmu atau salah Suho hyung." kata Kai mengaduk kuah ramennya pelan, "Suho hyung hanya mencoba meyakinkanku. Ia melakukan tugasnya sebagai leader dengan benar."

Hening. Dentingan mangkuk dan gelas yang hanya terdengar menggema di dapur ini.

"Tapi kabar baiknya Suho hyung menerima keputusanmu, Kai! Berbahagialah!" kata Chanyeol tiba tiba menggebuk keras punggung Kai hingga ia memuntahkan kembali kuah yang sudah hampir ia telan.

"YA! CHANYEOL HYUNG!"

"E-eh.. M-maaf Kai! Sini! Sini! Biar kubersihkan!" teriak Chanyeol membalas Kai dengan membawa sebuah serbet putih dan melapnya ke wajah Kai.

"CHANYEOL HYUNG! YANG BUTUH DILAP ITU MULUTKU!"

"Aduuhh! Mianhe.. Mianhe.. Habisnya kau bermuka seram begitu sih!" kata Chanyeol diiringi tawa Luhan dan Lay melihat hebohnya si happy virus dan dancing machine satu ini.

"Sudah sudah. Lalu apa yang terjadi dengan Suho ge dan kau, Kai?" tanya Lay setelah berusaha sekuat tenaga meredakan tawanya.

Kai tersenyum lebar.

.

.

.

.

.

Tapi, Suho tidak segampang itu untuk menyerah. Masih ada harapan dongsaengnya tidak akan melakukan hal diluar batas seperti ini.

"Kau tidak bisa berbuat seenakmu, Kai. Kita ini masih rookie, pendatang baru! Selama kita dianggap junior, maka semua harus tunduk pada peraturan." ujar Suho.

Itu benar, Kai tahu itu. Taemin sudah memberitahunya beberapa bulan sebelum EXO debut. Tapi Kai tidak ingin mengingat ingat itu sekarang, sudah berapa kali ia katakan bahwa ia terlanjur sudah berada disini. Ia tidak mau mundur lagi.

"Aku tahu, hyung.. Aku tahu kalau kita harus tunduk pada peraturan..," kata Kai, wajahnya memanas, matanya juga.

Tiba tiba, semua memori masa lalunya datang.

"..Aku tidak pernah seperti ini hyung. Aku.. Tidak pernah merasakan hal seperti ini selain saat aku menerima kabar kalau aku akan debut bersama kau dan lainnya."

Deg.

"Aku tahu, kalau aku membuat kesalahan maka semuanya akan berakhir. Tidak hanya aku, kau, Chanyeol hyung, Baek hyung, Kyungsoo hyung bahkan Tao hyung pasti akan terancam mimpinya..,"

Deg. Deg.

"Tapi aku tidak bisa berhenti disini hyung! Aku tidak mau melepaskan yang ini! Aku bersungguh sungguh!"

"Kai..,"

Dan Kai jatuh menunduk di depan hyung sekaligus leadernya. Ia tidak pernah sekacau ini sebelumnya. Suho memalingkan wajahnya, bingung sekaligus tidak tega memperlakukan dongsaeng yang ia sayangin seperti ini. Niatnya sebenarnya simpel, tapi ia tidak akan pernah tahu perasaan Kai akan sekompleks ini.

"Tolong hyung.. Aku tahu kau mengerti aku. Ini mimpi yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Jadi.. Kumohon_"

"Bangun Kai. Aku tak mau kau terlihat memalukan seperti ini." kata Suho berlutut dan membawa Jongin untuk duduk dari tundukannya. Suho dapat melihat kesungguhan di mata Kai, seperti yang ia lihat saat bertemu dengan Kai 6 tahun yang lalu dan bicara soal mimpinya.

Mungkin kali ini, Suho harus mengerti. Insting leadernya mengatakan, kalau ia harus mengalah.

"Aku tidak punya jalan lain, hyung. Pikiranku kabur. Aku.. Aku tidak tahu kenapa aku begini di depanku.. Aku..,"

"Berlarilah kalau begitu."

Mata Kai terbelalak. Suho berdiri dan melihat jam tangan digital yang melingkar di tangannya.

"A-apa?"

"Kejar apa yang ingin kau gapai. Buktikan padaku bahwa kau tidak akan menyia-nyiakan yang ini. Kalau kau melindungi apapun yang ingin kau gapai sekarang.. Maka aku juga akan melindungimu, Kai."

Jantung Kai mendadak berdenyut sangat kencang hingga terasa sakit. Ia lalu berdiri dan memandang Suho, tidak tahu harus berkata apa lagi selain ucapan terimakasih yang sekarang meluncur dari mulutnya.

Suho lalu menepuk pundaknya dan mendorongnya maju.

"Kau tidak perlu berterimakasih. Katakan pada Minzy, dia yang harus berterimakasih padaku."

oooOOOoooOOOooo

Kai berlari terengah engah. Ia harus menempuh kurang lebih 8 meter lagi untuk mencapai master Hwang dan manajer Lee.

"..10!"

"Kerjar apa yang ingin kau gapai."

"..9!"

Kai tidak akan berhenti, meskipun kakinya berteriak kesakitan, ia tidak akan berhenti. Ia harus mencapainya.

"..8!"

Sedikit lagi. 5 meter lagi.

"..7!"

Kali ini, yang ada di depannya bukan hanya bayangan Minzy. Bayangan mimpinya, bayangan Suho hyung. Mungkin terlalu berlebihan...

"..6!"

..tapi ini yang Kai rasakan. Ia tidak pernah sekacau ini. Semua memorinya kembali terulang di kepala. Rasanya akan meledak. Jantung berpacu cepat.

"..5!"

Memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan, memikirkan yang telah lalu. Ugh! Semuanya bercampur. Kenapa tiba tiba?!

"..4!"

Apa Kai harus berhenti untuk menetralkan semua? Apa dia harus berhenti sejenak?

"..3!"

Jawabannya tidak. Dia tidak punya banyak waktu untuk melakukan hal konyol seperti itu. Dadanya bergemuruh, orang orang mungkin mengatainya gila karena ia seperti ini hanya untuk seorang gadis..

"..2!"

Tapi dia tidak peduli. Yang ia pedulikan sekarang adalah..

"..1!"

"KAI KAU BERHASIL!"

Gong Minzy.

Dan semua terasa ringan serta kegelapan menyerbu matanya.

.

.

.

.

.

"Kau pingsan?" tanya Lay dengan matanya yang terbelalak kaget.

"Yeah! Aku sudah menduganya!" kata Luhan sembari menepukkan kedua tangannya di udara, seperti baru memenangkan lotere minum bubble tea gratis seumur hidup.

"Ya! Hyung tega sekali sih bilang begitu padanya!" protes Chanyeol, Luhan tertawa kecil.

"Ahni.. Bukan seperti itu maksudku. Aku sudah menduga bahwa tes untuk menjadi kekasih member 2NE1 itu akan sangat sulit. Jadi, kalau Kkamjong pingsan begitu, itu artinya dia normal dan masih bisa menggunakan tubuhnya dengan baik!"

Chanyeol membuka mulutnya mengerti dan mengangguk pelan, sementara Lay menatap Kai dengan perasaan campur aduk seperti kasihan-ingintertawa-penasaran. Tapi, lalu tiba tiba Chanyeol membelah bibirnya menampakkan gigi giginya yang rapi dan berderet itu lebar lebar.

"Tapi, Kai.. Lanjutkan ceritamu. Sepertinya, kali ini akan lebih seru daripada kau bertemu dengan Suho hyung di bukit itu..,"

"MWO?!" teriak Lay dan Luhan. Kai menengadahkan kepalanya dan menunduk menatap ramennya lagi.

"T-tidak begitu juga sih..."

.

.

.

.

.

"D-dia mulai sadar!"

"Ssst... Jangan berisik. Kau nanti bisa mengganggunya."

"Kalau dia sadar, apa yang harus aku katakan?"

"Anneyong?"

Suara ribut ribut kecil itu masuk ke gendang telinga Kai. Ia menggerakkan jemarinya. Tidak terasa lagi pasir kasar yang menggesek kulit jemarinya, hembusan lembut AC dan bantal serta kasur empuk membuat tubuhnya sedikit rileks setelah tadi pagi ia berlari dan...

Apa? Tunggu? Kai? Pingsan?

"Umng...," Kai membuka matanya. Pandangannya langsung tertuju ke langit langit ruangan bercat abu abu muda dengan sinar lampu yang lembut. Mata Kai lalu turun ke sekitarnya, masih sedikit kabur. Meskipun ia bisa melihat ada bayangan kabur seorang gadis dengan rambut blonde tengah menunduk bersandar di kaki tempat tidurnya dan seorang gadis dengan rambut gelap pendek duduk menatapnya khawatir di samping tempat tidur.

Apakah mereka?

"Dimana.. Aku?" tanya Kai serak. Gadis yang ada disampingnya cepat cepat berdiri dan mengambilkan segelas air putih dengan sedotan. Membantu Kai minum dengan lembut. Setelah yakin air membersihkan tenggorokannya, gadis itu menjauhkan gelas itu lagi.

"Kau bisa mendengarku, Kai? Ini CL." kata gadis berambut blonde di kaki tempat tidur. CL?

"O-oh... CL noona..," ujarnya lemah. Sekarang ia bisa melihat CL dengan jelas, walaupun matanya menutup lagi karena lelah.

"Apa yang terjadi padaku?" tanyanya.

"Kau pingsan setelah tes fisik itu. Apa kau lupa sarapan tadi pagi?" tanya CL. Kai hanya mengangguk pelan. Setelah itu, tidak terdengar apa apa lagi. CL sepertinya berjalan menjauh, terbukti dengan langkah kakinya yang menjauh dan pintu yang terbuka-menutup.

"Ehm... A-apa ada yang kau butuhkan lagi?" tanya seseorang. Kai buru buru membuka matanya. Ia kenal suara ini, suara ini begitu dekat dengannya. Saking tidak percayanya, ia lalu segera duduk dan menoleh ke gadis yang ada di samping tempat tidurnya.

"M-Minzy?"

"Anneyong?" ucap gadis berpipi chubby itu tidak yakin ditambah dengan senyum malu malunya.

Astaga, degup jantung Kai mulai tidak normal lagi.

"T-tidak... Aku... Tidak membutuhkan apa apa lagi." kata Kai tidak memalingkan matanya dari Mingkki yang menunduk menatap tangan Kai. Kai mengikuti arah pandangan Minggki, dan baru sadar kalau punggung tangan kanannya sudah tertancap jarum infus.

Keheningan merajai mereka lagi. Kai maupun Minzy tidak tahu harus berkata apa. Minzy tiba tiba bergerak (mata Kai tidak lepas dari gerakan itu) dan mengulurkan tangannya ke meja di sebelah Kai, mengambil semangkuk bubur hangat yang tadi baru dibuatnya secara tergesa gesa... Untuk Kai.

"Ini.. Ini untukmu.. Tadi, katanya kau belum sarapan 'kan? J-jadi.. Ini kubuatkan.. ahni.. Maksudku, aku mengambil.. Eh, aniyo.. membelinya di kafetaria YG.." kata Minzy gugup dan berbelit belit.

Pada akhirnya pandangan mereka bertemu dan mereka tertawa pelan.

"Gomawo." kata Kai pelan. Minzy mengangguk dan membuka plastik penutup mangkuk bubur tersebut, tangannya cekatan mengambil sendok dan ia menggeret kursinya mendekati Kai yang bersandar di punggung tempat tidurnya.

Tanpa aba aba, tiba tiba Minzy mengambil sesendok bubur dan menyurungkannya ke mulut Kai. Minzy menatap Kai dan sendok itu bergantian, tidak merasa ada hal yang aneh sebelum..

"Oh! Apa.. Kau ingin aku membantumu makan atau.. bagaimana?" kata Minzy dengan pandangan terkejutnya soal apa yang barusan ia akan lakukan, buru buru menarik tangannya dan menjatuhkan sendok itu ke dalam mangkuk. Wajahnya yang putih itu sempurna merah padam hingga ke telinganya. Kai menahan tawa melihat wajah cantik itu malu.

"T-terserah kau saja."

Blush..

Tidak di wajah Kai, tidak diwajah Mingkki.

Merah padam adalah warna dasar untuk wajah mereka.

.

.

.

.

.

"Aigoooo.. AIGOOO.."

"Woaaah.. Jeongmal!..."

"Sudah kukatakan, ini lebih seru daripada saat Kai bertemu Suho hyung!"

"Aah.. Sudahlah.. hyung kalian membuatku malu!" kata Kai menutup wajahnya. Meskipun tidak dipungkiri ia sangat bahagia mengingat momen itu.

"Apa Minzy menyuapimu?" tanya Lay bingung. Kai membuka tangannya dan mengatur nafas.

"I-iya..."

"WHOAAA!" Teriak Luhan dan Lay. Chanyeol memutar matanya malas sementara Kai tidak bisa menahan rasa panas yang menjalar ke wajahnya.

"Lalu?" tanya Luhan.

"T-tidak ada yang terjadi sih. Sebelum bubur itu habis, CL noona masuk dan tergesa gesa bilang kalau master Hwang akan datang ke kamar itu. Jadi, Mingkki harus buru buru pergi. Karena dalam perjanjian, dia tidak boleh menjenguk atau bertemu denganku." kata Kai pelan.

"Aishh.. Kalian ini.. Membuatku iri saja!" kata Luhan dengan wajah melasnya. Kai hanya tersenyum kecil. Ponselnya tiba tiba berdering tanda ada telefon masuk.

My Mingkki. Calling.

"Ups, hyung. Aku harus pergi." kata Kai buru buru meninggalkan mereka dan mengangkat telfonnya.

"Yeoboseyo?"

To be continued...


Yaaahh... Kayaknya di Chapter kemaren nggak ada yang komen ya? Ya udahlah.. Nggak papa. Oh iya, ini kebetulan karena belum ada komen jadinya Mingkki lagi pacaran sama Kai di belakang YG building. Hehehe. Terimakasih! Silahkan tinggalkan review dan read ya!