Cha-chapter 3... *ngesot-ngesot berdarah(?)*
Author Al aseli cafek mikir/? Dan author ngetik ini di sela-sela kegiatan yang bejibun(?) ;w;
Huhuhu, kalau ada typo yang bertaburan itu harap dimaklumi, ya/? *kedip-kedip seksi* /ditendang
Thanks to:
Hakusa neechan: Hee, dirimu masih belom menyerah soal Koumei, ya u.u
Ayame-chan: Aku berusaha sebaik mungkin untuk bisa memunculkan babang Kouen tersayang(?) ;w;)b
Scorpio-san: Makasih penjelasannya, itu sukses membuatku langsung baca ke bawah/? /slap. Permintaanmu kebanyakan dan aku bukan jin gosok(?), jadi kupenuhi salah satu permintaannya aja, ya ;u;
All readers: Makasih karena masih setia menunggu chapter 3 ini, ya ^^/
Rating: Teen
Genre: Friendship, Romance
Warning: OOC, Typo, tidak sesuai kaedah bahasa indonesia, ancur, gaje, garing, gosong(?), TBC, de el el~
Disclaimer: Magi ya bikinan Shinobu Ohtaka, fanfictnya yang buatan saya, Al-chii NekoNyan .-.
"Uh, jalannya becek!" gumam Kouha, menggoyang-goyangkan kakinya dan sepatunya yang basah.
Kouha kemudian diam sejenak, menatap halaman rumahnya yang diguyur hujan.
"Aku jadi penasaran siapa orang kurang kerjaan yang hujan-hujan begini malah garuk-garukin tanah," Kouha mendengus keras.
.
.
.
.
Kembali ke 2 jam yang lalu...
Hakuryuu dan Hakuei berkunjung ke kediaman Kou bersaudara.
"Kouha, tolong belikan bahan makanan," perintah Kouen, menyodorkan beberapa lebar seribuan pada Kouha.
"En-nii, jaman sekarang seribuan dapet apaan?!" sahut Kouha dengan nada anak gawl(?).
"Plislah, Kouha," Koumei menyipitkan matanya.
"...baiklah," Kouen menyodorkan uang beberapa lembar seratus ribuan pada Kouha. "Tapi jangan gunakan untuk belanja selain untuk bahan makanan, Kouha," sambung Kouen, mengeluarkan tatapan matanya yang berkilat-kilat itu.
"Tu-tunggu! Sekarang, 'kan, hujan!" sergah Kouha. "En-nii, kau tidak berniat membuatku demam, 'kan?!"
Kouen hanya membalas dengan tatapan datar tanpa bicara apa-apa.
Kouha menghela nafas. Daripada mendapat masalah karena melawan perintah Kouen, sebaiknya ia segera pergi.
Kouha mengambil payungnya dan segera berjalan ke supermarket.
Saat ia melewati taman, ia melihat seseorang berjongkok sambil menggaruki tanah di dekat pohon-pohon taman. Tapi, akibat hujan, Kouha tak dapat melihat dengan jelas sosok itu.
"Siapa, sih? Kurang kerjaan banget," gumam Kouha, kembali melanjutkan langkahnya menuju supermarket.
Saat ia kembali, orang itu masih di sana, dan masih melakukan hal yang sama.
"Kasian. Kubantu, ah," pikir Kouha.
Baru saja ia akan melangkah kesana, orang itu kabur dan bersembunyi di balik pohon.
"Ah, tidak mau di bantu, ya?" gumam Kouha pelan.
Iapun pergi dan pulang.
.
.
.
.
Kouha memakan makanannya dengan ganas.
Orang-orang disana mulai saling pandang.
"Kouha oniisama kelaparan?" tanya Kougyoku.
"Hakuryuu! Masak lagi! Tampaknya kita akan kekurangan lauk!" perintah Hakuei pada Hakuryuu.
"Kouha... Kalau kelaparan, kau boleh ambil jatahku, kok," ujar Koumei pelan—yang tampaknya khawatir Kouha akan memakan lengannya(?)—.
Kouha menelan potongan daging terakhirnya, "Terima kasih makanannya."
Melihat Kouha yang langsung pergi sehabis makan, semua orang syok.
"KO-KOUHA-DONO KENAPA?!" teriak Hakuryuu syok.
"Apa ini salahku?" tanya Koumei panik.
"...salah Koumei," gumam Kouen pelan dengan wajah datar.
Beberapa saat kemudian, Kouha yang sudah berganti baju lewat kembali sambil membawa tas selempang besar.
Ia melambai pada orang-orang yang masih duduk di meja makan, "En-nii, semuanya, aku pergi dulu! Daaah!"
Yang lain hanya bisa mengangguk kebingungan.
.
.
.
.
.
.
Kouha berlari cepat menuju taman.
"Kuharap orang itu masih ada disana," batin Kouha sambil masih tetap berlari.
Akan tetapi, sesampainya di sana, tak ada seorangpun.
"Ah, dia sudah pulang, ya," gumam Kouha, bersandar pada pohon dimana ia membangun rumah pohonnya.
Kouha menatap ke atas, memandangi pintu masuk rumah pohonnya.
Ia saat ini masih bingung, bagaimana bisa rumah pohonnya itu masih berdiri kokoh di atas dahan-dahan pohon apabila tak ada yang mengurusnya? Seharusnya paling tidak sudah lapuk, tapi ini tampak masih bagus dan terawat.
"Oh, kau? Anak yang sering bermain di sini dahulu, 'kan?"
Seorang kakek tua muncul, tersenyum lebar pada Kouha.
"A-anu... Siapa, ya?" Kouha balik bertanya pada si kakek.
Si kakek justru tak menjawab dan menatap kearah taman itu dengan pandangan menerawang, "Dahulu ini adalah halaman rumahku. Kau dan si gadis kecil itu sering bermain disini. Hahaha, bahkan gadis itu masih sering datang kemari."
Kouha sontak menoleh pada si kakek, "Ga-gadis itu?!"
Si kakek mengangguk. "Rambut yang indah itu... Mana mungkin aku melupakannya. Meskipun aku tak tahu nama si gadis kecil."
Kouha menghela nafas kecewa. Ternyata si kakek tak mengetahui nama gadis yang merupakan teman masa lalunya itu.
Tapi, beberapa saat kemudian, Kouha menyadari sesuatu, "Kakek, kalau dahulu ini adalah halaman rumahmu, kenapa sekarang menjadi taman?"
Kakek itu menoleh pada Kouha dan tersenyum tipis, iapun menjawab pertanyaan Kouha, "Karena rumahku saat itu terbakar. BEGITU PULA DENGANKU. Akan tetapi halaman belakangku berjarak sedikit jauh, sehingga rumah pohon kalian itu tak terbakar."
Kouha mengangguk mengerti.
Kemudian, terjadi keheningan panjang...
Hening.
Masih hening...
Dan kemudian angin berhembus kencang.
Ia menoleh ke arah si kakek, tapi... SUDAH TAK ADA SEORANGPUN DI SANA.
"A-apa...?"
Beberapa saat kemudian Kouha menyadari bahwa kakek itu tadi mengatakan 'BEGITU PULA DENGANKU', yang dalam kata lain adalah... KAKEK ITU MATI TERBAKAR DI DALAM RUMAHNYA.
Kouha pucat.
Ia barusan berbicara dengan hantu.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, Kouha memasuki ruang OSIS.
Kougyoku dan Hakuryuu sudah ada disana, juga pengurus OSIS yang baru, Alibaba Saluja—yang sekarang bertugas sebagai bendahara OSIS—. Tapi ada satu orang yang kurang.
"Dimana Aladdin?" tanya Kouha pada Hakuryuu.
Hakuryuu mengangkat bahu.
Kouha menoleh pada Kougyoku, tapi Kougyoku hanya menggeleng.
"Kouha-san, ini," tiba-tiba Alibaba menyodorkan selembar surat.
Kouha mengerenyit.
"Ini bukan surat cinta darimu, 'kan, Alibaba?" tanya Kouha tajam—mengingat ia sering mendapat surat cinta dari murid laki-laki—.
Alibaba terlihat kebingungan, tapi ia kemudian berkata, "Ini surat dari Aladdin, ia menitipkannya padaku."
Kouha mengambil surat itu dan membacanya. Dan beberapa saat kemudian ia tampak tercengang.
"Apaan, sih?" Kougyoku mengambil surat itu dari tangan Kouha yang masih kaku.
Begitu Kougyoku membaca surat itu, ia hanya bergumam, "Oh, Aladdin-chan demam."
Hakuryuu menghela nafas lega, "Kukira ada apa."
Tapi Kouha masih tetap diam. Ia duduk di kursinya.
"Kougyoku, bukannya hari sebelumnya Aladdin sehat-sehat saja?" tanya Kouha.
Kougyoku berpikir sesaat. "Kau benar, oniisama."
"Katanya ia kehujanan, sehingga iapun demam," jelas Alibaba.
Kouha memegangi dagunya, berpikir panjang.
"Alibaba, rumahmu dekat dengan rumah Aladdin?" tanya Kouha pada Alibaba.
Alibaba mengangguk, tampak keheranan.
"Kougyoku, Hakuryuu, kalian mau ikut?" Kouha kembali bertanya, menoleh pada Kougyoku dan Hakuryuu yang keheranan.
"Kemana?" mereka berdua balik bertanya.
Kouha tersenyum.
"Menjenguk Aladdin."
.
.
.
.
.
.
"Kalian teman-teman Aladdin? Terima kasih sudah datang, ya," ibunya Aladdin, bu Sheba, tersenyum lembut pada kami semua sembari menunjukkan jalan ke kamar Aladdin pada Kouha dan yang lainnya.
"Bibi, apa kami bisa tahu kenapa Aladdin-chan sakit?" tanya Kougyoku.
Bu Sheba menghela nafas, "Kemarin ia kabur dari rumah—sebenarnya belakangan ini ia sering kabur dari rumah, sih—ditengah hujan deras. Dan ia pulang dalam keadaan basah kuyup dan hampir pingsan."
"Kabur dari rumah?" gumam Kouha pelan.
Sesampainya di depan kamar Aladdin, bu Sheba mengetuk pintunya, "Aladdin, ada temanmu datang menjengukmu."
Hening.
Tak ada jawaban dari dalam.
Bu Sheba membuka pintu.
"A-ALADDIN!" jerit bu Sheba histeris.
Kouha, Alibaba, Hakuryuu, dan Kougyoku terkejut, berusaha melihat kedalam kamar Aladdin.
Tak ada seorangpun disana, bahkan Aladdin. Akan tetapi, jendela kamarnya terbuka.
"SO-SOLOMON! ALADDIN HILANG LAGI!" Bu Sheba semakin panik, menjerit-jerit memanggil suaminya—atau lebih tepatnya, ayah Aladdin—.
Pak Solomon langsung menelepon polisi.
Bu Sheba meminta Kouha, Alibaba, Hakuryuu, dan Kougyoku duduk di ruang tamu dan menunggu.
"Apa Aladdin baik-baik saja?" gumam Alibaba khawatir.
"Aku merasa tidak enak hanya menunggu saja," Hakuryuu menghela nafas, mulai merasa bosan.
Kouha hanya diam dengan tatapan mata menerawang.
"Kouha oniisama, apa yang kau pikirkan? Sejak tadi kau terus melamun," ujar Kougyoku, menggoyang-goyangkan pundak Kouha.
"Kougyoku, aku harus menemui Aladdin dan bicara padanya," ujar Kouha tiba-tiba.
Kougyoku melongo. "Tapi, oniisama, Aladdin sekarang hilang!"
Kouha menggeleng. "Tidak. Kurasa aku tahu Aladdin dimana."
.
.
.
.
.
.
"Uhh... Dimana, ya?"
"Mencari sesuatu?"
Aladdin menoleh.
Kouha berdiri di belakangnya, tersenyum lebar.
"Tidak. Aku tak mencari apapun," Aladdin menggeleng, berdiri dan menepuk-nepuk pelan gaun tidurnya yang kotor.
"...mana mungkin kau disini kalau yang kau cari itu tak ada hubungannya dengan masa lalu kita."
Aladdin tersentak. "A-apa...?"
"Aku akan membantumu..."
Bruk!
Aladdin pingsan.
.
.
.
.
.
.
Aladdin terbangun dengan kepala di atas paha Kouha.
"E-EEEH?! KOUHA-SAN!" Aladdin langsung tersentak bangun, bergerak mundur, menempel pada dinding.
Kouha nyengir. "Suhu tubuhmu tadi panas sekali, lho, Aladdin."
Beberapa saat kemudian, Aladdin menyadari sesuatu. Ia menlihat sekeliling.
"Disini..."
"Rumah pohon kita," jawab Kouha singkat.
Wajah Aladdin memerah.
"Aku tak akan ingat, kalau kakek itu tak menceritakannya lagi padaku," ujar Kouha, menunjuk kearah sosok si kakek yang melayang di sudut ruangan, tersenyum pada Kouha dan Aladdin.
Mata Aladdin berkaca-kaca menatap si kakek, sementara kakek itu mendekati mereka berdua, dan mengelus pelan kepala Aladdin.
"Karena itu, Aladdin," Kouha menoleh pada Aladdin. "Izinkan aku membantumu menemukan apapun yang kau cari itu."
"Eh?"
-To be continued-
Tadinya niat author mau nyelesaiin semuanya di chapter 3 ini, tapi setelah dibikin ternyata kalau sampai selesai bisa panjang buangeeeet~
Dan akhirnya authorpun memutuskan untuk bikin sampai chapter 4 ;w;
Akhirnya author bisa memunculkan bang Kouen yang flat itu meskipun cuma sekilas. Yah, biar memenuhi syarat aja sih sebenernya/? -_-v /slap
Aku berusaha biar Kouen dan Alibaba bisa banyak muncul, tapi ternyata emang nggak bisa T-T
Pokoknya, sampai jumpa di chapter 4, ya! u/
