Mendengar langkah-langkah kaki dan obrolan-obrolan yang menyelingi, Youngjae sadar jam makan siang telah usai dan kini para rekan kerjanya sudah mulai kembali ke kantor. Sementara ia, masih saja duduk kursi kerjanya, dan fokus menghadap komputernya.
"Youngjae-ya, ini kubawakan untukmu."
Sebuah kantong kertas coklat bercap McD diletakkan di atas mejanya, membuat Youngjae segera menoleh sambil tersenyum. "Gomawo Jinyoung-ah, maaf merepotkanmu."
Teman kantornya itu balas tersenyum sambil duduk di kursinya yang tepat berada disebelah Youngjae. "Perkerjaanmu masih banyak ?"
Youngjae mengangguk, "Aku hanya tidak masuk dua hari, tapi rasanya ini semua baru bisa kuselesaikan seminggu." guraunya, yang ia tahu sama sekali tak lucu. Membuat Jinyoung menepuk pundaknya pelan untuk menunjukkan simpatinya, namun tentu saja membuat Youngjae berjengit.
"Ada apa ? Apa pundakmu sedang terluka ? Ma—"
"Aku tidak apa-apa, Jinyoung-ah." Ujar Youngjae memotong racauan panik Jinyoung. "Aku sendiri tidak tahu, tapi badanku memang sering terasa nyeri akhir-akhir ini, dan muncul lebam di beberapa tempat. Daehyun bilang aku kelelahan."
"Kau sudah ke rumah sakit ? Waktu Yongguk hyung kemari, dia bilang kau demam tinggi."
"Daehyun memintaku ke rumah sakit nanti sore setelah pulang kerja, tapi entahlah…" Youngjae memandangi tumpukan map dan kertas-kertas dimejanya.
"Kesehatanmu lebih penting, Yoo."
"I know, Park."
Jinyoung tertawa kecil, "Makanlah burger yang kubelikan sambil kau menyelesaikan perkerjaanmu."
"Apa yang sedang kau sembunyikan, hyung ?"
Daehyun menatap Jongup penuh kebingungan, ia bahkan nyaris tersedak caramel macchiato yang sedang diminumnya. Cafe milik Jongup hanya berjarak dua blok dari rumah sakit, dan karena siang ini ia sedang sedikit santai, makanya ia memutuskan untuk kemari.
"Huh ? Memangnya aku menyembunyikan apa ?"
"Kita sudah saling mengenal belasan tahun hyung." Ujar Jongup, "Malam saat kau dan Yongguk hyung datang ke rumah Youngjae hyung, kalian terlihat…mencurigakan ? Kalian berdua terus-menerus mengamati Youngjae hyung, dan juga memperlakukannya dengan berbeda. Himchan hyung juga menyadarinya, kau tahu ? Mungkin kalau kemarin pagi ia tak harus buru-buru ke bandara, dia sudah mengkonfrontasi kalian berdua. Dan Junhong, well, kau tahu sendiri dia terus-menerus menempel pada Youngjae hyung dan fokus padanya. Jadi, ada apa ? Apa yang kalian rahasiakan ?"
"Aku—tidak—"
"Hyung." Jongup mengamati Daehyun dengan mata tajamnya, "Sejak Youngjae hyung sakit, kau terlihat begitu berbeda, kau terlihat tegang dan juga penuh pikiran. Dan itu juga yang terjadi dengan Yongguk hyung setelah ia menemuimu. Kalian aktor yang sangat buruk."
Daehyun mencoba berpikir, mencoba menghindari tatapan mata Jongup, mencoba mencari jalan keluar, apapun, tapi otaknya tak mau berkompromi. Jongup benar, ia sedang penuh pikiran sekarang, didalam kepalanya ini hanya ada Youngjae dan Youngjae. Ia bahkan nyaris salah saat akan mengganti jarum suntik tadi pagi, mungkin itu juga yang membuat seniornya memberi ia waktu luang siang ini.
"Hyung." Jongup bersuara lagi, "Apa ini ada hubungannya dengan Youngjae hyung ? Apa sesuatu terjadi padanya ?"
Hening. Daehyun memilih memandangi fish and chips yang tadi dipesannya dan masih tersisa setengah piring. Mendengar nama Youngjae berulang-ulang membuat nafsu makannya menghilang. Beberapa jam lagi hasil tes darah Youngjae sudah bisa diambil, dan sungguh demi Tuhan, demi apapun, Daehyun sudah berdoa terus-menerus sejak kemarin, ia benar-benar berharap dugaannya salah, berharap ketakutannya takkan menjadi nyata, berharap Youngjae hanyalah demam tinggi dan kelelahan seperti yang ia katakan sendiri pada sahabatnya itu.
"Hyung !"
Sentakan Jongup membuat Daehyun membalas tatapan namja berambut silver tersebut. "Nanti sore, jemput Youngjae dari kantornya, dan paksa dia untuk pergi ke rumah sakit. Dia sudah berjanji padaku, tapi sejak tadi dia tidak membalas pesan-pesanku, dan kita sama-sama tahu, Youngjae jadi seperti apa saat ia sudah bertemu dengan perkerjaannya. Aku akan menjelaskan semuanya di rumah sakit, Yongguk hyung mungkin juga akan datang."
Mungkin raut Daehyun yang terlalu mudah terbaca, atau mungkin karena persahabatan mereka sudah selama ini, apapun jadi terlalu mudah untuk dilihat. Yang jelas, pupil mata Jongup semakin membesar seiring kata yang Daehyun ucapkan, dan sorot khawatir jelas muncul tanpa diminta.
"A—apakah Youngjae hyung sakit parah ?"
"Jong—"
"Katakan padaku, hyung !" Jongup nyaris berteriak, setengah frustasi dengan sikap Daehyun, setengah takut dengan kenyataan yang seolah terlukis jelas dari cara Daehyun mengutarakan segalanya. Dan Daehyun hanya dapat menghela nafasnya perlahan, menghembuskan yang tak nampak namun terasa begitu memberatkan. Ia berdiri dari kursinya, berjalan ke sisi Jongup, dan segera menarik dongsaengnya itu dalam sebuah pelukan. Untuk saling menenangkan.
"Aku harap tidak, Jongup-ah, semoga tidak. Berdoalah, kumohon."
Youngjae merapikan berkas-berkas yang ada di hadapannya, bibirnya membentuk senyuman yang tak mampu ia sembunyikan. Ia baru saja selesai rapat dengan klien yang sangat puas dengan hasil kerjanya, dan bagi Youngjae itu merupakan sebuah kepuasan tersendiri, kebanggaan yang membuatnya terus-menerus berusaha untuk lebih baik lagi.
"Kerjamu sangat bagus, Youngjae-ssi."
Youngjae mengangkat kepalanya, sedikit kaget melihat salah satu atasannya masih ada di dalam ruang rapat ini.
"Ah iya, terimakasih sajangnim." Sahut Youngjae sambil menganggukkan kepalanya sopan.
"Pertahankan terus kinerja dan prestasimu, aku rasa tidak sampai dua atau tiga tahun lagi kau sudah bisa sejajar dengan sunbaemu, atau mungkin sepuluh tahun lagi kau malah mungkin bisa mendirikan perusahaan akuntan sendiri."
"Sekali lagi terimakasih atas pujiannya, sajangnim, Tapi kurasa itu terlalu berlebihan, masih banyak yang harus ku pelajari, aku juga berencana untuk sekolah lagi, mungkin tahun depan."
"Hasil kerjamu selalu rapi, detail dan tepat waktu. Saat kau tidak masukpun, perkerjaanmu tetap lancar. Kau selalu bersemangat dan bertanggung jawab dengan baik, kau memiliki masa depan yang cerah Youngjae-ssi." Atasannya yang Youngjae rasa nyaris seumur dengan appa-nya itu tersenyum ramah padanya, menimbulkan kehangatan tersendiri dihati Youngjae. "Pulang dan istirahatlah, lagipula ini sudah lewat jam kantor, kau juga masih terlihat pucat."
Youngjae kembali mengucapkan terimakasih seraya membungkukkan badannya. Setelah sajangnimnya itu pergi, Youngjae segera melanjutkan kegiatan rapi-rapinya, dan memeriksa kembali peralatan-peralatan yang baru saja digunakan telah tersimpan di tempatnya dengan baik. Ia segera melangkah ke bilik kerjanya setelah keluar dari ruang rapat, dan segera memeriksa ponselnya yang sedang ia charge.
Melihat puluhan pesan dari Daehyun, tentu saja Youngjae tidak kaget, namun ada lima missed call dari Jongup beberapa menit lalu, membuat Youngjae sedikit mengerutkan keningnya bingung, berniat ingin menghubunginya balik saat handphone layar sentuhnya itu kembali memunculkan tanda bahwa Jongup menelponnya. Lagi.
"Yobo—"
"Hyung ! Kau kemana saja ? Kenapa tidak mengangkat telponmu ? Apakah terjadi sesuatu ?"
"Jongup-ah, calm down man." Youngjae mengernyit heran mendengar rentetan pertanyaan Jongup yang tak biasa. "Aku baru saja selesai rapat. Ada apa ? Kenapa menelponku sampai lima kali ?"
Hela nafas lega Jongup terdengar jelas oleh Youngjae yang tentu saja semakin membuatnya bingung. "Oh, oke. Uhm, hyung aku ada di bawah, di lobby gedung kantormu. Ini sudah waktunya kau pulang, iyakan ? Daehyun hyung memintaku menjemputmu, dia bilang kau sudah janji akan ke rumah sakit."
"Kau pulang saja Jongup-ah, perkerjaanku masih banyak, aku akan menghubungi Daehyun dan bilang sendiri padanya nanti."
"Tidak bisa, hyung ! Kau harus ke rumah sakit."
"Eh ? Kenapa ?"
"Pokoknya harus !"
"Tapi—"
"Aku akan terus menunggumu disini sampai kau turun !" Jongup yang keras kepala adalah Jongup yang susah untuk dilawan, dan Youngjae bahkan tidak mengerti kenapa urusan dirinya ke rumah sakit menjadi melibatkan Jongup untuk memaksanya seperti ini.
"Jongup—"
"Kau sudah janji untuk peduli pada kesehatanmu, hyung. Beberapa jam saja, ani—satu jam saja, kita periksakan tubuhmu, habis itu aku akan mengantarkanmu kembali kesini, kalau perlu aku akan menemanimu menyelesaikan perkerjaanmu. Oke, hyung ?"
Jongup sangat jarang menggunakan nada meminta sekaligus memelas seperti barusan, dan tentu saja hal tersebut mau tak mau meluluhkan Youngjae. "Baiklah. Beri aku waktu, lima belas menit, aku akan segera menemuimu dibawah."
"Got it, hyung. Bye."
Daehyun melepaskan jas dokternya dan menggantungkannya secara asal ke sandaran kursi yang ia duduki. Ini jelas bukan hari yang baik baginya, ia melakukan banyak kesalahan, dan pikirannya semakin tak terkendali setelah ia kembali dari cafe Jongup tadi siang. Satu-satunya harapan Daehyun saat inilah adalah ia dapat mengakhiri hari ini dengan kabar baik tentang Youngjae, itu saja sudah cukup baginya.
"Dae.."
"Kim sunbae." Daehyun buru-buru berdiri, dan segera menganggukkan kepalanya reflek.
"Kata para perawat hari ini kau kehilangan banyak konsentrasi, eh ?"
"Well—yeah, mian.." Ujar Daehyun sambil mengusap tengkuknya dan memberikan cengiran kikuk. "Sunbae, bagaimana dengan hasil tes temanku, yang dua hari lalu kuberikan padamu."
"Itu yang membuatku menemuimu, hasilnya sudah ada di mejaku sejak tadi sore, tapi aku baru selesai melakukan operasi beberapa saat lalu jadi belum membukanya. Kajja, kita lihat sama-sama hasilnya dikantorku, sekalian aku ingin mengetes kemampuanmu."
Dan Daehyun segera saja mengekori sunbae yang juga mentornya tersebut, ia meraih ponselnya, mengetikkan pesan singkat untuk Yongguk kilat, dan kembali fokus mengikuti langkah sunbaenya tersebut sembari menenangkan degup jantungnya yang entah kenapa terasa berdetak tak terkendali.
Ini sudah lewat lima belas menit, dan Youngjae belum juga menampakkan dirinya di hadapan Jongup. Kalau saja ia tak butuh kartu pass untuk mengakses lift di gedung ini, pasti Jongup sudah menyusulnya sejak tadi dan membawa paksa hyung nya itu untuk turun dan mengikutinya ke rumah sakit.
Gelisah menjadi kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Jongup saat ini. Daehyun memang tidak memberinya jawaban pasti, tapi Jongup tidak bodoh, ia dapat menyimpulkan sendiri, dan Jongup tidak pernah menyangka, mengetahui sesuatu yang belum pasti akan membuatnya seperti ini.
Ponsel yang ada dalam genggamannya bergetar tiba-tiba, membuatnya kaget dan nyaris menjatuhkan benda itu, dan melihat siapa yang menelponnya, membuat Jongup segera saja mengangkatnya.
"Hyung kau ad—"
"Jong..to..tolong..aku…"
"Youngjae hyung ?! Kau kenapa ?! Kau dimana ?!"
Jongup dapat mendengar jelas suara rintihan Youngjae yang membuatnya panik dan mengedarkan matanya ke segala arah, seolah-olah itu akan membuatnya menemukan Youngjae, dan menyelamatkan hyungnya dari apapun.
"To..ilet…lan..tai..bawah…de..kat..lif..t…"
Setelah Youngjae berhasil menyelesaikan kalimatnya, dan Jongup mampu memahaminya, ia segera berlari. Hanya dalam hitungan detik, Jongup sudah tiba di depan toilet, membuka pintunya dengan kasar, dan…
"Hyung !" Jongup berlutut di samping Youngjae yang meringkuk di dekat wastafel, dengan tangan kanan menutupi hidung, ada aliran darah dari sela-sela jarinya, dan tangan kiri mencengkram kepala erat, terlihat sangat kesakitan. Ponsel hyungnya masih menyala, tergeletak tak jauh dari tubuh yang terlihat ringkih itu.
Tidak seperti dua hari lalu, kini Yongguk berjalan setengah berlari di lorong-lorong rumah sakit tanpa tersenyum pada siapapun yang berpapasan dengannya. Daehyun mengiriminya pesan yang sangat singkat, hanya terdiri dari dua kata, 'sudah keluar', dan ia tahu pasti maksud dari pesan tersebut.
Yongguk meninggalkan studio rekamannya, mengabaikan deadline lagu yang harusnya sudah ia selesaikan sejak kemarin, ia tahu ia tidak profesional saat ini, namun Daehyun yang tidak mau membalas puluhan chatnya dan mengangkat telponnya membuat Yongguk bertindak seperti ini.
Daehyun menunggunya di tempat yang sama, terlihat sedang menerima telepon, entah dari siapa, yang jelas wajah pemuda itu terlihat panik.
"Ada ap—"
Belum selesai Yongguk bersuara, Daehyun sudah menarik tangannya dan segera saja mengajaknya berlari. Alih-alih menunggu lift, Daehyun bahkan memilih untuk lewat tangga darurat, seolah satu detik menjadi begitu berharga baginya.
"Dae—"
"Hyung…Youngjae…ambulans…"
Diantara sengal nafas keduanya, diantara riuh derap langkah sepatu boots Yongguk dan sepatu keds Daehyun, diantara kecepatan Daehyun yang luar biasa dan Yongguk yang berusaha mengikutinya, tiga kata itu menjadi yang paling jelas terdengar, namun itu cukup. Tanpa bertanya lagi, kini Yongguk menyamakan langkahnya dengan Daehyun, berlari menuju lobby utama rumah sakit.
TBC
Terimakasih ya untuk yang udah RnR, maaf enggak bisa balas satu-satu. Untuk masalah pairing, walaupun enggak terlalu menonjol tapi nanti tetap ada. Cerita ini genrenya memang angst, tapi untuk yang tanya akhirnya sad atau happy, aku juga belum tahu, hehe, ceritanya baru mau masuk ke konflik kan, masih panjang, semoga pada sabar ya bacanya.
Ditunggu ya RnRnya, makasihhh!
