Kaga: minna, ohayou… continue The Ice Roses Prince xD
Degel: maka itu, kenapa harus Rose sedangkan tokoh utamanya kan ayahmu ini! Bukan Albafica kan?
Kaga: ah iya, Rose itu… R.A.H.A.S.I.A kalau kukasih tahu ga asyik dong ayah
Degel: *glares* haaah terserah
Here we go
The Ice Roses Prince
Setahun berlalu semenjak lulus-lulusan Kardia dari sekolahnya, kini ia bekerja sambilan di café milik temannya, Sisyphus. Harapan untuk bertemu dengan 'dia' sekali lagi hampir pupus, sudah dua tahun semenjak 'dia' pergi begitu saja.
"Kardia, pulang nanti ikut aku makan-makan ya," Sisyphu sang pemilik café mengajak Kardia makan-makan.
"Waah, Sisyphus. Kau terlalu menghamburkan uang! Tapi tidak masalah, kau kan mentraktirku, hahaha," Kardia menepuk pundak Sisyphus yang sedang berdiri dihadapannya.
"Hahaha, kau ini… ada café baru diseberang stasiun. Menurut berita katanya enak, aku ingin membandingkan," ia tersenyum.
"Dibandingkan? Heh! Berarti makanan yang kajual ini semua hasil perbandingan ya?" tanya Kardia sedikit mengejek.
"Enak saja kau bilang!"
"Hahaha." Kardia tertawa puas, bosnya yang satu ini memang benar-benar baik sekali.
…
Café seberang stasiun memang terlihat lebih ramai, "namanya Café Aqua? Namanya sedikit jadi pertanyaan. Memang kita makan didalam akuarium ya?" tanya Kardia datar.
"Aqua itu bukan berarti akuarium doing kan? Masih ada banyak artinya, mungkin pemiliknya suka sama hewan air tawar atau sebagainya," Sisyphus sedikit sweatdrop.
"Ah, kau benar. Ayo masuk," Kardia dan Sisyphus segera masuk ke dalam café.
Memilih untuk duduk dekat jendela, suasananya lebih klasik daripada café lainnya, juga beberapa keunikan yang tergambar jelas di café ini. Sebagian dindingnya terlihat seperti dibuat dari es balok yang dipahat, tapi tidak mencair.
Tak lama kemudian, "selamat datang di café Aqua. Mau pesan apa tuan?" seorang pelayan mendekati kedua orang yang baru masuk itu.
Kardia membelalakkan matanya saat melihat pelayan itu. "Degel?" ia langsung terbangun kaget seperti melihat setan, sosok pelayan dengan rambut hijau toska panjang dan lurus. Sosok yang sudah lama tak dilihatnya, sosok yang ia rindukan.
Pelayan itu pun terlihat kaget, "maaf tuan… nama saya memang Degel. Tapi apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Degel, kelihatannya sama sekali tak mengenali Kardia.
"Kau lupa padaku? Kita pernah satu sekolah! Degel ini aku Kardia, kau lupa?" tanya Kardia.
Degel yang ini terlihat bingung, sepertinya ia memang tidak mengenal Kardia sama sekali, "Kardia? Siapa?" tanya Degel semakin terlihat bingung.
Kardia tertunduk dan menghela napas, "tidak apa-apa… maaf ya, sepertinya aku salah orang," ia menyerah dan kembali duduk.
Degel pun terdiam, menyerahkan buku menu pada Sisyphus dan Kardia, setelah mencatat peasanan kedua orang itu, Degel bergegas pergi.
"Degel? Orang yang kau ceritakan dulu ya?" tanya Sisyphus menatap Kardia yang sedaritadi memandangi sosok Degel.
"Iya, orang yang aneh dan misterius… datang dan menghilang bagai angin, aku tak pernah tahu siapa dia. Padahal aku menganggapnya sahabatku, tapi akupun sama sekali tak tahu dirinya," mata Kardia terus menatap sosok Degel yang mondar mandir mangantarkan pesanan.
"Itu cerita dua tahun lalu kan? Mungkin saja pelayan itu memang bukan dia kan?" Sisyphus bertopang dagu, matanya memandang keluar jendela.
"Itu… itu memang dia, pelayan itu memang Degel. Salah pemilik toko ini memang Degel yang itu," jawabnya, matanya tak lepas dari sosok Degel yang terus mondar mandir.
"Kau tahu darimana? Degel itu pemilik toko ini dan orang yang sama yang kau ceritakan itu?" tanya Sisyphus.
"Aku juga tidak terlalu mengerti, tapi dinding-dinding yang seolah terbuat dari balok-balok es yang dipahat itu, juga auranya. Sama dengan miliknya, milik Degel yang kukenal," jawab Kardia ia lalu terdiam saat Degel mengantarkan pesanan mereka.
"Silahkan," Degel meletakkan sepiring penuh pancake untuk Sisyphus, juga segelas jus apel untuk Kardia dan segelas kopi untuk Sisyphus, juga sepotong pie apple dihadapan Kardia.
"Pie Apple?" tanya Sisyphus bingung.
"Pie Apple itu gratis, karena anda memesan jus apel," jawab Degel dengan senyum. (enak bgt, cuma beli jus apel dapet pie apel. Mau!) *dilemparpake diamonddust
"Terima kasih," ujar Kardia tersenyum.
Setelah Degel pergi, "benar dugaanku. Dia ingat padaku, dia tahu aku, pie apple memang kesukaanku. Tapi ini tempat yang baru aku datangi bersamamu kan, tak mungkin mereka tahu aku menyukai pie apple, apalagi ini gratis. Siapapun bisa memakannya, seakan pie ini akan langsung diambil olehku," Kardia memandangi pie apple dihadapannya.
Sisyphus terdiam, "hanya perasaanmu mungkin, kita masih tak bisa berasumsi bahwa orang itu orang yang pernah kau kenal dua tahun yang lalu," Sisyphus menggigit pancakenya.
"Mungkin, semoga saja perasaanku benar," ia mengambil pie apple yang ada dihadapannya dan menggigitnya sedikit.
…
Semenjak hari itu, kadang Kardia mengajak Sisyphus ke café seberang stasiun atau ia yang pergi kesana hanya untuk melihat sosok Degel. Lama kelamaan ia dan Degel di café itu menjadi akrab.
"Degel… pie apple lagi," ini sudah kelima kalinya Kardia memesan pie apple di café Degel.
"Kau ini sangat suka apel ya?" tanya Degel membawakan sepiring besar pie apple, "memang kau bisa menghabiskan ini?" ia meletakkan piring pie apple itu di meja Kardia.
"Kau menghina ya? Pie segini bisa aku habiskan dalam sekejap, hahaha" jawab Kardia tertawa.
Degel tersenyum kecil, "lakukan sesukamu," ia lalu bergegas menuju meja yang lain untuk menanyakan pesanan mereka.
Mata Kardia tak lepas memandangi Degel yang lalu lalang dari meja ke meja menanyakan pesanan mereka, kadang Kardia tersenyum tapi juga sedih. Ia senang dapat bertemu kembali dengan Degel, tapi sedih sahabatnya itu melupakannya.
Setiap hari, setiap pulang bekerja Kardia pasti menyempatkan dirinya untuk mampir di café milik Degel.
Café kecil seberang stasiun yang interiornya seakan terbuat dari es, membuat kesan klasik bawah laut.
"Oh iya, Degel… besok aku libur, kau bagaimana? Keberatan jika aku mengajakmu jalan? Temani aku jalan ya?" Kardia memohon pada Degel yang masih asyik dengan pekerjaannya.
"Eh? Besok?" tanya Degel, ia terlihat sedang berpikir. Tak lama kemudian ia tersenyum mengangguk pelan, "baiklah… mungkin besok aku akan buka café setengah hari," ia menerima ajakan Kardia.
"Benarkah? Terima kasih ya, Degel," dengan tiba-tiba Kardia mengecup pipi Degel yang sontak membuat pemuda pemilik rambut hijau toska panjang dan lurus ini memerah padam.
…
Keesokkan paginya, Kardia sudah bergegas menuju café milik Degel yang terletak di seberang stasiun untuk menjemput Degel.
"Sepagi ini kau jemput aku? Kupikir kau akan pergi jika sudah agak siang," Degel masih berberes siap membuka café miliknya.
"Tidak, kita jalan agak siangan. Sekarang biar aku membantumu ya," Kardia menata bangku dan meja yang masih berantakan.
Degel memiringkan kepalanya, lalu tersenyum kecil, "ternyata kau baik juga ya…" Degel sedikit mengejek Kardia, lalu terkekeh. "Memang kau mau mengajakku kemana?" tanya Degel, menata tumpukan piring-piring dan yang kemudian diisi dengan beberapa pancake.
Kardia terdiam sejenak, ia menatap sosok Degel yang masih asyik dengan tugasnya, "tempat kesukaanku. Tempatku pertama kali bertemu dengannya," jawab Kardia lalu terkekeh. Sehingga Degel tak akan menganggapnya yang macam-macam.
Degel sedikit mengangkat bahu saat mendengar Kardia terkekeh, lalu kembali asyik dengan tugas dan pekerjaannya.
…
Sore hari.
Degel menutup cafenya lebih cepat dari biasanya, karena ia janji pada sahabat 'baru'nya. "Nah, jadi kita kemana? Tuan Kardia," ia tolak pinggang menatap Kardia setelah mengunci pintu café dengan benar.
"Ketempat kesukaanku. Tadi aku bilang begitu kan?" tanpa basa-basi Kardia segera menyambar tangan Degel dan menyeretnya kemana pun Kardia inginkan.
Kemanakah mereka pergi? Tempat seperti apa yang ingin dikunjungi Kardia?
T.B.C
Gomennasai alur serita ini agak berantakan. *bows
Kaga: maaf yang sebesar-besarnya
Degel: saya juga minta maaf atas kesalahan yang tidak saya perbuat tapi diperbuat oleh Kaga.
Kaga: kalo ga niat minta maaf jgn minta maaf ayah! *dilemparsepatuFGDegel
Degel: sudah kau diam saja, Kaga! *deathglare
Kaga: nuu… v.v okelah mohon dibaca dan review ya, onegaishimasu
