Disclaimer
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning(s)
AU, OOC-maybe, typo(s), gaje.
.
.
.
Found You
.
.
.
Langit sudah menampakan kegelapan, yang tersinari oleh sinar rembulan. Kediaman Haruno, lebih tepatnya apartemen yang ditempati oleh Haruno mulai terang karna lampu telah dinyalakan. Sakura yang sehabis pulang sekolah sudah membersihkan diri terlebih dahulu lalu bersantai. Biasanya kaa-san nya sudah sampai rumah jam 4 sore tadi, karna pekerjaan nya di sebuah toko roti tak jauh dari tempat mereka tinggal.
Sakura saat ini sedang berada di kamar nya yang tidak terlalu luas. Merebahkan dirinya setelah merasa lelah sudah menjalani aktivitas seperti biasa, dan beruntungnya gadis itu bahkan tadi ia tidak mengikuti- atau bisa dibilang izin untuk tidak mengikuti olahraga lari. Bisa dibayangkan merasakan kaki keram merupakan suatu hal yang paling ia hindari karna sangat annoying, pikirnya.
Tidak lama kemudian, ponsel miliknya berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Dilihatnya pesan tersebut dari grup LINE yang kemarin ia buat bersama Ino, Hinata dan Tenten.
Ino: apa kabar yang tadi habis diberi kejutan dari pangeran sekolah?
Ino: _^
'Kuso. Pasti Ino sedang menyindir ku.' Batin Sakura.
Tenten: biar kutebak! Pasti dia sedang memikirkannya sembari gelisah. HAHAHA.
Ino: wah wah memang sangat amat tidak disangka, sih.
Hinata: hmm, aku juga tidak menyangka 'o'
Tenten: ayo lah sang nona tidak muncul.
Urusai.
Bahkan aku sudah melupakan kejadian itu.
Ino: tidak mungkin, pasti kau juga penasaran, kan?
Ino: *smirk*
Tenten: *smirk*
Hinata: …..
Nice, Sakura bohong jika ia sudah melupakan kejadian itu. Tapi apa salahnya ia mencoba tidak terlalu memikirkannya. Toh, ia yakin, Sasuke hanya ingin berterima kasih dengan caranya sendiri. Karna Sakura sudah mengembalikan barang milik Sasuke yang hilang. Ponsel nya pun masih berbunyi menandakan mereka masih berusaha keras menggoda Sakura.
Sampai ia mendengar suara pintu kamar yang terbuka, dan melihat ibu nya yang berdiri, "Sakura, bisakah kau membeli nori untuk makan malam? Ternyata persediaan di dapur habis." Ujar sang ibu sembari menatap anak gadisnya tersebut.
"Um, baiklah kaa-san." Balas Sakura.
Lalu ia beranjak dari tempat tidur setelah ibu nya menutup pintu kembali dan meninggalkan kamar. Sakura yang kini memakai celana pendek berwarna pink dengan segera menggantinya dengan celana jogger hitam miliknya, dan memakai sweater berwarna biru muda. tak lupa menguncir rambut merah muda nya lalu segera keluar dari kamar menuju pintu keluar.
Mebuki yang terlihat dari pintu kamar utama terlihat bingung kenapa Sakura langsung melenggang pergi tanpa meminta uang terlebih dahulu, padahal ia baru saja megambil uang di kamarnya tersebut, "Atau mungkin dia membawa uang di kantungnya?" Gumamnya berpikiran positif.
.
.
.
Malam ini Sakura berjalan santai menuju minimarket yang berada di sekitar daerah apartemen nya, butuh waktu 5 menit untuk sampai disana. Saat di rumah, ia sempat melihat ke jam dinding yang menunjukan tepat pukul 7:35. Setidaknya waktu awal ia pindah kesini, Sakura sedikit berjalan jalan untuk melihat suasana di daerah barunya, jadi ia hafal betul dimana letak minimarket terdekat.
Setibanya di minimarket, ia melangkahkan kakinya menuju rak yang terdapat bahan dapur dan mencari nori. Setelah dapat lalu segera membayarnya di kasir. Sang penjaga kasir pun mengecek harganya lalu memasukannya ke dalam plastik putih dan memberitahukannya pada Sakura. Sakura mengangguk sedikit dan merogoh saku sweaternya. Tangannya terus merogoh, bahkan sampai ke saku celana.
'Shannaro..! Aku lupa meminta uang pada kaa-san!' batinnya berteriak kencang, disaat seperti ini Sakura merasa bodoh kenapa sampai melupakan hal terkecil.
Sang penjaga kasir tetap bersedia menunggu sembari menatap bingung saat melihat ekspresi Sakura yang terlihat panik. "A-ano maaf, uangnya tertinggal di rumah. Aku lupa membawanya" Ujar Sakura dengan cengengesan, "Tapi simpan saja dulu, aku akan kembali lagi." Lanjutnya.
Saat dirinya akan bergegas, karna merasakan ada orang yang mengantri selain dirinya seketika terkejut.
"Satukan saja dengan punya ku." Terdengar suara baritone yang Sakura sepertinya ia kenali.
Sakura refleks menoleh dan melihat Uchiha Sasuke yang memakai kaos hitam polos dan celana jeans berdiri dekat dirinya sambil memberikan coca cola kepada sang penjaga kasir. Dirasa mengerti, akhirnya kedua barang itu dijadikan satu plastik lalu Sasuke membayarnya. Tidak lupa penjaga kasir mengucapkan terima kasih kepada Sasuke.
Dengan cuek, Sasuke berjalan keluar meninggalkan Sakura yang berdiri seperti orang linglung di dalam minimarket. Setelah kesadarannya kembali penuh, Sakura pun sontak mengejar Sasuke yang sudah berada di luar.
"Anu, Uchiha-san? Nori milik ku apa bisa aku ambil?" Tanya Sakura terdengar seperti bercicit.
Sasuke pun mendelik ke arah Sakura tanpa menjawabnya. Sakura yang sadar akan satu hal kemudian kembali membuka mulutnya, "Tenang saja, besok uangnya akan ku ganti di kelas."
Tidak lama Sasuke kembali melangkahkan kaki nya entah kemana- atau mungkin menuju jalan rumahnya. Sakura pun sweatdrop dengan sikap dingin dari teman sekelasnya itu. Bahkan jujur saja ia merasa terkacangi, dan Sakura benci dikacangi. Camkan itu.
"H-hei! Kau dengar tidak, sih?" Tanya Sakura saat menyusul langkah Sasuke dan berusaha menjajarkan dirinya di samping Uchiha tersebut. Sampai akhirnya Sasuke berhenti dan menoleh ke Sakura dan memberikan kantong plastik berisikan nori. "Ini." Ucap Sasuke kalem.
Sakura menatap tangan kanan Sasuke yang terjulur ke arahnya memberikan kantong plastik itu, dan tangan kirinya yang sudah menggenggam coca cola miliknya yang siap diminum. Tanpa pikir panjang Sakura langsung mengambilnya dari tangan Sasuke.
"Terima kasih banyak. Besok aku berjanji akan menggantinya."
Sasuke memandangnya datar, "Tidak usah."
"Hah? Mana mungkin, aku akan merasa berhutang padamu Uchiha-san." Ujar Sakura dengan raut wajah bingung.
"Terima saja atau nori mu itu aku ambil kembali."
Ucapan Sasuke barusan penuh dengan penekanan. Dan betul saja, Sakura langsung diam seribu bahasa setelah menerima ancaman dari sang Uchiha. Sasuke yang tadi agak menakutkan, pikir Sakura. Entah kenapa dia harus bertemu dengan Sasuke malam ini padahal dirinya baru saja digoda oleh temen pirang dan cepolnya saat tadi. Kebetulan yang sangat tidak terduga. Mereka pun kembali berjalan.
"Sekali lagi, terima kasih, Uchi-"
"Sasuke."
Kalimat Sakura terpotong oleh perkataan Sasuke, "Sasuke saja." Tambahnya dengan suara khas, "Dan kau terlalu banyak berterima kasih."
Sakura membulatkan matanya, padahal dirinya menyebut marga milik Sasuke karena dirasa mereka tidak terlalu dekat. Bahkan baru saja kenal. Ya, Sakura ingin bersikap sopan. Tetapi malah Sasuke yang menyuruhnya untuk tidak memanggil nama marga nya. Baiklah tanpa Sakura sadari pipinya mulai sedikit memerah. Lalu ia mendongakan kepalanya lagi menatap Sasuke yang lebih tinggi darinya.
"A-aku berterima kasih lagi bukan karna ini, t-tapi karna suatu hal saat pulang sekolah tadi." Ucap Sakura.
Berhembus angin malam membuat kulit kedua insan ini merasa sedikit kedinginan, dalam hati Sakura ia sempat memuji ketampanan pria di sebelahnya itu. Wajahnya yang minim ekspresi bahkan tidak mengurangi tingkat ketampanan sang Uchiha. Lalu Sakura merutuki dirinya sendiri kenapa tiba tiba menjadi sok dramatis.
"Hn. Itu juga sebagai tanda terima kasih ku." Balas Sasuke sembari menatap Sakura.
Onyx dan emerald pun bertemu. Sakura bahkan bisa menatap Sasuke dalam jarak yang dekat. Jantungnya seketika berdebar kencang. Karna tidak tahan akhirnya Sakura memutuskan menyudahi kontak mata mereka duluan. Saat disuatu persimpangan gang, Sasuke bilang ia harus berbelok menuju rumahnya, sedangkan apartemen Sakura masih lurus. Mereka pun lalu berpisah, tak lupa Sakura sedikit membungkukan badan nya sebagai salam perpisahan.
Sakura melangkahkan kaki nya menuju apartemen sembari menghembuskan nafasnya berat.
"Tadaima.."
"Okaeri. Ah, Sakura, tadi kaa-san lupa memberi mu uang ya?" Teriak ibu Sakura yang berada di dapur.
Sakura langsung memberikan bungkusan itu kepada ibu nya yang ada di dapur dan meletakannya di atas meja dapur, "Hm, tidak apa kaa-san. Aku menyimpan uang cadangan kok di saku." Balas Sakura sembari tertawa ringan.
'kamisama, ampuni lah dosa ku yang telah berbohong.' Batin gadis tersebut.
Lagipula Sakura malu jika ia mengaku lupa meminta uang dan tidak sama sekali membawa uang sepeser pun. Dan dengan keberuntungannya, Sakura malah mendapatkan nori itu secara gratis. Tidak lama kemudian hidangan makan malam pun telah selesai. Sakura dan ibu nya pun mulai menyantap makan malamnya.
Setelah sudah merasa kenyang, Sakura sedikit membantu ibu nya untuk mencuci piring kotor. Tetapi ibu nya malah menyuruhnya untuk tidak mencuci semua lalu menyuruhnya untuk segera ke kamar nya dan beristirahat.
Beruntungnya tidak ada tugas apa pun, jadi Sakura bisa bersantai atau memilih untuk langsung bergulat dengan guling di atas kasurnya. Sebelum itu, Sakura mengecek ponsel nya yang ia taruh di atas meja dan melihat banyak pesan yang masuk. Siapalagi kalau bukan pesan dari grup gossip nya itu.
Sakura hanya membaca sekilas lalu kembali menaruh ponsel nya di meja dan langsung melompat pelan ke atas kasurnya untuk memejamkan mata nya.
.
.
.
Pagi hari ini diawali dengan langit yang sangat cerah. Kelas 2-B pun diawali dengan mata pelajaran biologi. Yang menurut sebagian murid perempuan, guru mata pelajaran ini akan membuat mereka 'cuci mata' dengan menggunakan diterjen- oh tentu bukan, melainkan karna akan melihat wajah tampan dari guru tersebut.
Sakura yang diberi tahu oleh Ino sebenarnya tidak terlalu memerdulikannya. Karna menurutnya pelajaran biologi pasti akan sungguh membosankan. Kini Sakura duduk di bangku sambil menopang dagunya dengan tangan kanan sembari menatap ke luar jendela. Entah melihat apa.
Jam pelajaran sudah dimulai dan sebentar lagi pasti guru mereka akan masuk ke kelas.
Srekk..
Suara pintu terdengar terbuka, tidak lama kemudian muncul sosok yang diyakini adalah guru mata pelajaran biologi. Sakura langsung menolehkan kepalanya dan menatap ke arah guru tersebut. Mata emerald nya sedikit memicing. Ia melihat seorang pria tinggi dengan rambut raven panjang yang dikuncir bawah, kerutan halus di bagian bawah mata.
Wajahnya nampak tegas namun auranya terkesan hangat. Sakura akui memang guru nya ini cukup tampan, ralat, bahkan sangat tampan. Bisa ia lihat para murid perempuan mulai terbengong bahkan ada yang merona merona manja. Entah kenapa wajah nya mengingatkan nya pada seseorang. Tapi Sakura sendiri tidak menyadarinya.
Sekarang sang guru sedang menjelaskan beberapa materi kepada murid nya. Ino iseng menolehkan badannya ke belakang untuk melihat ekspresi teman pink nya itu, "Hei Sakura, bagaimana? Tampan bukan?" bisik Ino pelan.
"Aku akui memang tampan. Tapi sepertinya aku pernah melihat orang itu." Balas Sakura dengan wajah penasarannya.
Ino menahan tawanya karna mendengar pernyataan polos dari temannya tersebut.
"Tentu saja, bodoh. Dia kan kakaknya Sasuke. Uchiha Itachi." Teman pirangnya itu masih berbisik.
"Uchiha?!"
Dan bodohnya, Sakura malah meninggikan suaranya yang cukup terdengar sampai ke telinga sang Uchiha yang sedang mengajarnya di depan.
"Ada yang butuh bantuan?" Ujar Itachi yang membalikan badannya dan berkata dengan tenang tetapi penuh sindiran.
Ino pun segera menghadap ke depan membetulkan posisi duduk yang sebenarnya. Lain halnya dengan Sakura membeku, menyadari suaranya keluar begitu saja dari mulutnya langsung diam seribu bahasa. Demi alis tebal Guy-Sensei, ia ingin bisa menembus lantai bawah lalu segera menghilang dari kelas ini. Sungguh kejadian yang memalukan dan tidak tahu diri.
"T-t-tidak, sensei.." Cicit Sakura. Setidaknya ia bertanggung jawab sedikit.
Sebagian murid menahan tawanya karena kelakuan Sakura yang tidak diduga duga. Naruto bahkan menahan tawanya sehingga memperlihatkan wajah koyolnya. Ia tidak tahan ingin tertawa sekencang kencangnya saat ini juga. "Pffftt!" Naruto kurang ajar memang.
Tenten pun menundukan wajahnya untuk menahan tawanya, sedangkan Hinata menatap maklum pada Sakura yang kini sedang memasang wajah panik. Lalu Ino jangan ditanya, dia dengan wajah tanpa dosa nya tetap menatap lurus kedepan sambil tersenyum penuh arti.
Itachi melihat ke arah Sakura dengan wajah datarnya. 'Anak baru, huh?' batinnya.
Walaupun gurunya tersebut tidak terlalu mempermasalahkannya tetapi Sakura sungguh tidak enak hati. Lalu matanya melirik ke bangku pojok kanan dekat dinding, ia melihat Sasuke seperti biasa menatap ke depan sembari menopang dagunya dengan sebelah tangannya, seolah tidak terjadi apa apa. Tetap dingin seperti biasa.
Hei, tentu saja Sakura tidak bisa melihat lengkungan tipis dari sebelah kanan bibir Sasuke.
.
.
.
Bel istirahat terdengar menandakan waktu mata pelajaran yang habis. Itachi-Sensei pun segera meninggalkan kelas 2-B. sakura menghela nafas kasar dan menundukan kepalanya di atas meja miliknya.
"BWAHAHAH, Sakura-chan kenapa kau berani sekali memanggil Itachi-Sensei seperti itu." Naruto tiba tiba menghampiri meja Sakura dengan tertawa geli.
"Diam kau Naruto!" Balas Sakura dengan garang.
"N-naruto-kun, Sakura-chan pasti juga tidak sengaja.." Ucap Hinata yang kasihan melihat Sakura yang sungguh sweatdrop.
"Kau juga Ino, sudah tahu Sakura sedang sensitif dengan yang namanya Uchiha." Tenten menimpali.
"Astaga, aku kan hanya memberi tahu Sakura saja." Balas Ino.
Telinga Sakura mulai panas ketika sadar dirinya sedang diomongi. Sakura menggerutu dalam hati, ketika hal seperti ini terjadi bukannya teman temannya itu menenangi dirinya, malah mulai memojokkannya. Terkecuali Hinata. Hah, untung Sakura dapat menahan sabar, kalau tidak, mungkin amarahnya akan menggonjang ganjing ke seluruh Konoha Gakuen.
Tidak lama kemudian, Sakura berdiri dari bangku nya dan melangkahkan kakinya ke luar kelas.
"Sakura, kau mau kemana?"
"Tentu saja ingin minta maaf." Ujar Sakura.
Teman temannya hanya terdiam dan berpikir apa yang akan Sensei nya lakukan jika mendengar perkataan maaf secara langsung dari bibir Sakura sendiri. Semoga kamisama melindunginya.
Dengan hati yang mantap, gadis pink ini jalan menuju ruang guru dan masuk ke dalam. Awalnya saat sampai di depan pintu ia ragu, tetapi inner nya mengatakan dirinya harus melakukan hal ini. Lalu Sakura pun mencari meja milik gurunya, Itachi-sensei. Kaki nya melangkah lurus dan melihat seseorang yang duduk santai dibangkunya sambil membaca sesuatu.
Sakura perlahan mendekatinya, "Ano.. permisi, Itachi-Sensei." Ucap Sakura dengan nada sopan.
Pria itu pun menoleh dan sedikit terkejut melihat Sakura berdiri di sampingnya. Alisnya terangkat sebelah seolah bertanya untuk apa ia kesini.
"Saya sungguh minta maaf atas ketidaksopanan saya di kelas tadi, sensei." Sakura membungkukan badannya dengan lama.
"Aa, tidak apa apa. Sepertinya kau juga murid baru. Aku memakluminya." Balas Itachi dengan senyum tipisnya.
Tidak disangka akan segampang itu dimaafkan oleh Itachi, Sakura pikir ia akan mendapat tatapan tajam, hukuman dan ucapan ketus yang keluar dari bibir sang Uchiha tersebut. Ternyata sikap gurunya sungguh berbeda dari sikap adiknya yaitu Sasuke. Setidaknya Itachi mempunyai sisi hangat walaupun tidak terlihat dari wajahnya.
"Terima kasih banyak, sensei. Kalau begitu saya pamit." Ucap Sakura tak lupa membungkukan badannya dan berbalik.
"Tunggu,"
Namun, terdengar suara berat nan tegas terdengar di telinga Sakura sehingga ia kembali menolehkan badannya ke belakang, "Ha'i, sensei?"
"Siapa namamu?" Tanya Itachi.
"Namaku Haruno Sakura."
Lalu akhirnya Sakura benar benar meninggalkan ruang guru setelah berpamitan kepada gurunya tersebut.
"Hm, jadi dia yang kulihat tadi malam bersama Sasuke.." gumam Itachi pelan.
.
.
.
Tbc
.
.
.
Kayanya fic ku berdebu :'3 fyuuuh..
Read n Review, please?
