RnR please.

o(o)

1 minggu telah berlalu dan Minami belum mendapatkan tugas dari atasannya hingga membuatnya terlampau bosan. Tak jarang ia meminta pada Kaito agar di berikan tugas tapi pemuda itu tetap tak memberikannya dengan alasan bahwa ini adalah hukuman, meski dia bingung ini hukuman soal apa. Yah, tapi itu semua belum apa- apa di banding sekarang dia memiliki penguntit tak jelas dan sang stalker mengatakan bahwa ia akan membongkar jati diri Minami. Meski terancam ketahuan tapi, Minami tak mau ambil pusing karna menurutnya itu akan menjadi hal seru dan ia pun tak perlu susah- susah memanipulasi ingatan pemuda itu.

Klik!

Minami mematikan layar laptopnya karna memang tak ada yang harus ia lakukan lagi, bahkan tak ada email basa- basi dari sang ketua. Minami melepas kacamata yang bertengger di hidungnya sejak tadi lalu menaruh benda itu di atas meja di samping laptop hitam milik gadis itu. Tanpa gadis itu sadari kini seseorang tengah berdiri di belakangnya dan bersiap mengejutkannya namun, belum sampai ia mengejutkan gadis itu, Minami pun memutar arah kursinya hingga gadis itu sedikit tersentak dengan sosok di belakangnya yang tengah bersiap mengejutkan dirinya.

"Apa yang kau lakukan bodoh!"

"Tak ada." Jawab Rinto dengan santai seraya melipat kedua tangannya di depan dada.

"Bisakah kau tidak menggangguku atau jika bisa carilah apartemen lain yang cukup jauh agar aku tidak melihat wajahmu yang menyebalkan itu." Kata Minami dengan kesal.

"Lalu aku mendapatkan hukuman dari ketuamu itu? Kurasa aku tidak mau." Kata Rinto seraya tersenyum mengejek.

"Cih!"

Minami memutar kembali kursinya menghadap laptop lalu menyalakan lagi untuk mencoba mengabaikan pemuda menyebalkan di belakangnya ini. "Pergilah! Lebih baik kau mencari wanita murahan di luar sana untuk kau ajak bersenang- senang dan jangan menggangguku." Kata Minami dengan sinis.

Rinto yang mendengar pun hanya tersenyum miris. Sebegitu hinanya kah dia di mata gadis itu? Rinto mencondongkan tubuhnya lalu mendekatkan wajah ke arah leher jenjang Minami yang kini terekspose karna gadis itu mengikat rambutnya dengan tinggi. Dengan senyum jahil ia pun meniup sisi leher Minami hingga membuat gadis itu terkejut dan reflek mendorong pemuda itu lalu memberikan tatapan tak suka akan kegiatannya barusan.

"Apa?" tanya pemuda itu seolah tak terjadi apa pun.

"Bisakah kau berhenti melakukan hal seperti itu padaku?!" bentak Minami pada Rinto.

"Jika yang melakukannya Kaito, apa kau tetap menolak?" kata Rinto datar.

Minami terdiam sebentar

mendengar perkataan Rinto. "Meskipun ketua menyebalkan itu yang meminta, takkan ku berikan!" Jawab Minami tegas.

"Benarkah? Atau jangan- jangan kau memberikan cuma-cuma tubuhmu padanya?" kata Rinto.

Minami menatap Rinto dengan kesal. "Jangan pernah membandingkanku dengan wanita- wanitamu di luar sana! Seujung jari pun aku tak sudi memberikan tubuhku pada siapa pun termasuk orang bodoh seperti dia!"

"Benarkah? Aku tak yakin."

"Sudahlah! Kau hanya membuatku kesal saja!" Minami memutar kembali kursinya namun di tahan oleh Rinto.

"Apa yang kau lakukan jika 'dia' ternyata masih hidup dan menemui ketua?"

Deg!

Meski tak terlalu jelas namun ekspresi wajah Minami sedikit berubah dan dalam seperkian detik kembali wajah datar yang menjadi ciri khasnya. Ya, Minami memang mencintai Kaito tapi ia tak pernah ingin berlaku egois dan meski 'dia' kembali maka gadis itu pun rela melepas pemuda yang jabatannya lebih tinggi darinya itu.

"Jika dia masih hidup pun, lalu apa hubungannya denganmu?"

Rinto memejamkan matanya sesaat lalu membukanya kembali. "Berhentilah mengejarnya. Semakin kau mengejarnya maka itu akan semakin menyakiti dirimu."

Hembusan angin yang cukup kuat terasa begitu pekat di dalam ruang itu. Angin kencang yang bercampur air itu menerpa Rinto dari balik jendela yang terbuka disana. Tak perlu banyak berpikir untuk mengetahui asal muasal badai kali ini karna Rinto tahu. Ya, pemuda itu tahu bahwa badai ini akibat kekuatan Minami yang tak terkontrol akibat letupan emosi yang memucak. Dan ini semua salahnya.

"Harus berapa kali ku katakan?! Urus masalahmu sendiri!" kata Minami.

"Dan kau adalah masalahku satu-satunya!"

"Pergi dari sini!"

Badai terasa semakin kencang secara bertahap dan kali ini, kaki Rinto mulai merasakan getaran pada bangunan yang di tempatinya. Sepertinya fenomena itu belum mau berhenti dan malah akan semakin parah. Gawat jika terus seperti ini dan maka dari itu ia harus menenangkan gadis itu. Rinto memegang kedua bahu Minami dengan erat dan menatapnya dengab pandangan serius.

"Kembalilah seperti Hikari yang ku kenal. Dan aku akan membuatnya seperti dulu kembali" kata Rinto mencoba menenangkan. Meski itu bukan perkataan untuk menenangkan seseorang.

"Jika aku seperti dulu kau pikir semua yang hilang bisa ku dapatkan?! Kau yang hanya bisa bersenang- senang di luar sana takkan pernah mengerti! Dan jangan samakan aku dengan wanita jalang di luar sana yang dapat kau bujuk semudah mengambil nyawa mereka! Kau pikir ak-"

Cup!

Minami membelakkan matanya terkejut atas tindakan Rinto sekarang. Pemuda itu mengecup Minami tepat pada bibirnya dengan tiba-tiba. Dan setelah agak tenang Rinto mundur sejenak untuk memberikan ruang bagi mereka. "Jika kau tak mau diam, maka aku akan melakukan lebih dari ini, mengerti?!" kata Rinto.

Minami menyentuh bibirnya dalam diam sebelum melayangkan death glare pada Rinto. "Apa yang kau lakukan, huh?!"

"Aku hanya berusaha mendiamkanmu saja." Jawab Rinto enteng yang membuat Minami semakin kesal dengan pemuda di hadapannya itu.

Minami bangkit dari kursinya lalu menarik lengan Rinto dengan kasar dan membawanya keluar dari apartemen. Setelah berada di luar gadis itu melepaskannya dengan kasar dan memberikan sebuah senyum yang entah tulus atau tidak pada pemuda di hadapannya ini.

"Baik aku sudah diam dan trima kasih atas apa yang kau katakan dan lakukan tadi." Dan tak berapa lama raut wajah gadis itu mulai kembali berubah. "Jadi, Pergilah dan kau urus semua roh di luar sana. Jika kau kembali tanpa membawa hasil, maka aku akan membunuhmu."

Brak!

Rinto terbengong sendiri saat Minami meninggalkannya di luar dan memberikan printah merepotkan, ya mau bagaimana pun jabatan gadis itu lebih tinggi darinya jadi apa pun perintahnya maka ia harus pasrah. Rinto berbalik untuk menatap badai yang sekarang mulai reda itu, sepertinya Minami sudah lebih baik sekarang. Senyum simpul terlihat di wajah Rinto saat mengingat apa yang di lakukan pada Minami lalu ia pun mengusap perlahan bibirnya dengan ibu jari milik nya.

"Manis."

Minami melangkah dengan malas menelusuri jalanan menuju ke sekolahnya, dia semakin malas saat beberapa rumah dan fasilitas kota yang rusak parah bahkan hancur karna kejadian semalam. Kau tau, itu semua terjadi karna dia, terlebih karna kejadian itu pula gadis itu mendapat ceramah besar dari beberapa tetua Shinigami. Minami kembali menghela malas karna seorang gadis berambut blonde pony tail kini memanggil seraya berlari menghampirinya.

"Ohayou" sapanya yang meski ia tau takkan ada tanggapan dari gadis di sampingnya itu.

"Tadi malam badainya mengerikan ya belum lagi gempa bumi juga terasa sampai kyoto lho. Bahkan rumahku harus di perbaiki karna ada beberapa bagian yang rusak." Tanpa memerdulikan Minami yang terlihat muak dengan percakapan itu, Lenka terus saja berbicara tanpa henti.

"Bisakah kau diam sebentar?! Badai, gempa bumi, kalau bukan karna pemuda bodoh itu membuatku kesal, hal itu pun takkan terjadi!" Minami menutup mulutnya yang tidak ia sadari akan membongkar identitasnya sendiri.

Lenka berhenti melangkah lalu menatap Minami dengan wajah bingungnya. "Badai? Gempa bumi? Pemuda? Kamu bicara apa sih, Minami-san." tanya Lenka.

"Tidak penting." Jawab Minami seraya terus melangkah.

Lenka tersenyum menanggapi jawaban Minami lalu mengejarnya untuk kembali berjalan beriringan bersama gadis itu.

"Ku rasa hari ini tidak terlalu buruk meski rumahku rusak." Kata Lenka.

Minami terus melangkah tak menanggapi perkataan bodoh Lenka saat ini. dan hanya gumaman berupa, "Hmm." sajalah yang menjadi tanggapan tak bergunanya.

"Kurasa kita sudah ada kemajuan. Buktinya kau sudah mau berbicara denganku kan?" Kata Lenka seraya tersenyum.

Minami memutar bola mata malas menanggapi pembicaraan tentang bermain pertemanan dengan gadis di sebelahnya. "Berhentilah mengharapkan sesuatu dariku."

"Biar saja."

o(o)

"Rinto, Kagami Rinto. Salam Kenal."

Seorang anak baru di kelas Minami mebuat seluruh siswi di kelas itu berteriak histeris kecuali Lenka yang sepertinya tak perduli dan Minami yang menatap pemuda di depan kelas dengan nyalang. Dan kini beribu umpatan dalam hati, Minami berikan pada pemuda di depan kelas itu. Lagi pula apa yang dia pikirkan dengan masuk ke dalam sekolah ini. Meski sangat jelas Minami memberikan rasa yang sama sekali tak menyukai kehadiran pemuda itu, tapi Rinto malah mengedipkan matanya pada Minami yang membuat gadis itu semakin kesal.

"Ah! Sebelum aku melupakannya. Ada informasi yang perlu ku tekankan." Rinto mengalihkan pandangannya pada Minami yang memberikannya death glare. "Aku adalah tunangan dari Minami Hikari. Jadi aku berharap kalian berlaku baik padanya."

"HAH?!" Teriak seluruh murid di dalam kelas tak terkecuali Minami yang kini menatapnya dengan pandangan terkejut karna perkataan Rinto yang sama sekali dia tak tahu. Lagi pula siapa yang mau bertunangan dengan pemuda Half Vampire sepertinya lebih baik Minami terus menjadi perawan seumur hidup dari pada bertunangan dengannya.

"Apa yang kau rencanakan, bodoh!" Sebuah suara terdengar di dalam pikiran Rinto begitu saja. Sepertinya Minami memberikan telepati.

"Kau ikuti alurnya saja." Jawab Rinto.

Minami menatap tajam Rinto sampai ia melihat sedikit keanehan pada pemuda itu yang terlihat agak pucat yang membuat gadis itu sedikit khawatir. Melihat wajah khawatir Minami padanya membuat Rinto tersenyum senang sebelum, namun tak berapa lama tubuh pucat itu sedikit limbung ke arah meja guru meski bisa di tahan oleh Rinto. Tapi, tubuhnya seakan mati rasa hingga pandangannya mengabur dan terjatuh ke atas lantai.

Bruk!

Seluruh kelas pun terkejut karna Rinto yang tiba- tiba ambruk hingga tak bisa merespon cepat. Dan dari sekian banyak murid, Minamilah yang pertama berlari ke arah Rinto yang terlihat tak mau bangun meski Kiyoteru mencoba menepuk nepuk pipinya pelan.

"Rinto jangan bercanda! Ayo bangun!" Minami pun ikut memukul- mukul pelan pipi pemuda itu agar terbangun namun hal itu tak membuat perubahan. Minami menatap Kiyoteru di depannya.

"Sepertinya kita harus membawanya ke UKS, Sensei." kata Minami.

"Kau benar." Jawab Kiyoteru.

"Hey Kau! Bantu Kiyoteru-Sensei!"

"Ha-Ha'i!"

"Nghh.."

"Kau sudah bangun bodoh?" Rinto mengarahkan pandangannya pada objek yang mengatainya bodoh itu dan kini matanya menatap Minami yang tengah melipat kedua tangannya seraya memandang bosan kearahnya.

"Pingsan di hari pertama sekolah, heh? Kau pikir itu bisa memikat wanita?" Kata Minami dengan nada meremehkan.

Rinto mengubah posisinya menjadi duduk dengan perlahan lalu ia kembali memegang kepalanya yang terasa mulai pusing. Melihat keadaan Rinto yang kurang fit Minami pun menghela nafas dan menutup ceramah gratis yang akan niatnya akan dia berikan pada pemuda itu.

"Kau itu seorang half jadi seharusnya kau mengetahui bahwa daya tahan tubuhmu pun seperti manusia biasa, bodoh. Sampai jam brapa kau mencari roh di tengah hujan kemarin?" tanya Minami yang membuat Rinto tersenyum, sepertinya sudah lama sekali ia tak melihat gadis itu bisa memasang wajah khawatir seperti itu.

"Aku hanya butuh sedikit 'makanan', sudah hampir satu bulan aku tidak makan" jawab Rinto.

"Kenapa kau tidak mencari buruanmu kemarin?"

"Kenapa aku aku harus mencari? Bukankah makananku sudah berada tepat di depanku?" Rinto menatap Minami dengan lapar.

"Tidak lucu." Tanggap Minami malas. "Tunggulah sebentar, aku akan meminta stock darah untukmu pada Kaito." Minami mengeluarkan handphonenya lalu mencari kontak yang harus ia hubungi namun alat komukasinya itu di rebut oleh Rinto dan di lemparnya entah kemana.

"Apa yang kau lakukan?!" bentak Minami melihat handphone mikiknya hancur.

Rinto memegang tangan Minami lalu menarik gadis itu agar lebih mendekat padanya. "Aku tidak membutuhkan darah dengan kualitas buruk yang selalu Kaito berikan, aku hanya ingin darah langka sepertimu"

"Jangan macam-macam, Rinto! Cepat lepaskan tanganku!" Minami mencoba melepaskan cengkraman tangan Rinto namun pemuda itu semakin mengeratkan genggamannya.

Tanpa memerdulikan perkataan dan berontraknya Minami, Rinto melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu lalu menariknya mendekat. Bibir Rinto terbuka hingga kedua taring runcing miliknya pun terlihat. Ia mendekat ke arah leher Minami dan tanpa mendapat persetujuan Rinto menancapkan kedua taring di bahunya.

"Ugh!" Minami meringis tatkala gigi tajam itu merobek lapisan kulitnya dan menarik keluar darah segar dari dalam tubuhnya.

Rinto yang sejak tadi terlihat pucat kini mulai terlihat lebih segar namun berbeda dengan gadis di pelukannya yang terlihat semakin lemas selama pemuda itu masih meminum darahnya secara bertahap.

Srekk!

"Apa yang kalian berdua lakukan?!"

TBC